cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Pengaruh Konseling Apoteker terhadap Kepatuhan dan Kualitas Hidup Pasien Hipertensi Program Rujuk Balik di Apotek Nur Aini Budiyanti; Chairun Wiedyaningsih; Tri Murti Andayani
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i3.68586

Abstract

Peran apoteker berupa konseling penting untuk meningkatkan kepatuhan dan kualitas hidup pasien, sehingga tujuan dari Program Rujuk Balik (PRB) dapat tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling apoteker terhadap kepatuhan dan kualitas hidup pasien hipertensi Program Rujuk Balik di Apotek Kimia Farma Palagan. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental pretest-postest control group. Data diperoleh dari kuesioner Medication Adherence Report Scale (MARS) dan WHOQOL-BREF pasien hipertensi program rujuk balik di Apotek Kimia Farma Palagan periode Februari 2021 sampai Mei 2021. Jumlah sampel yang digunakan yaitu 23 responden untuk kelompok kontrol dan 22 responden untuk kelompok konseling. Metode konseling yang digunakan berupa konseling obat oleh apoteker. Analisis data dilakukan secara univariat untuk mendapatkan gambaran karakteristik pasien. Analisis perbandingan selisih skor pretest dan posttest konseling terhadap kepatuhan dan kualitas hidup menggunakan uji nonparametrik Wlicoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah dilakukan konseling oleh apoteker, terjadi peningkatan skor yang bermakna pada kepatuhan serta kualitas hidup pasien pada domain kesehatan fisik dan domain lingkungan, masing-masing meningkat sebesar 1,1; 8,5; dan 4,5. Kualitas hidup pasien pada domain psikologis dan sosial tidak mengalami peningkatan skor yang bermakna (p>0,05). Konseling yang dilakukan oleh apoteker meningkatkan kepatuhan dan kualitas hidup pada domain kesehatan fisik dan lingkungan, namun tidak meningkatkan kualitas hidup pasien pada domain psikologis dan sosial.
Pengaruh Edukasi Apoteker Pada Swamedikasi Nyeri Terhadap Hasil Terapi dan Kepuasan Terapi Chairun Wiedyaningsih
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 4 (2022): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i4.68707

Abstract

Apoteker sebagai fasilitator dalam praktik swamedikasi, harus memiliki kompetensi terhadap pemilihan obat, dan pemberian informasi obat yang sesuai dengan kondisi nyeri pasien untuk mencapai tujuan terapi yang diinginkan dan mengurangi kesalahan penggunaan obat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh edukasi oleh apoteker pada pasien swamedikasi nyeri terhadap hasil terapi dan kepuasan terapi.Penelitian menggunakan rancangan eksperimental posttest control group. Data diperoleh dari kuesioner Visual Analogue Scale (VAS) dan Treatment Satisfaction Questionnaire for Medication (TSQM) untuk menilai hasil terapi dan kepuasan terapi pasien swamedikasi nyeri di salah satu apotek di Yogyakarta periode Agustus 2021. Edukasi yang diberikan berupa edukasi terkait obat oleh Apoteker. Analisis data univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran karakteristik responden. Analisis perbandingan hasil terapi dan kepuasan terapi menggunakan uji Chi-Square.Jumlah sampel yang digunakan yaitu masing-masing 20 responden untuk kelompok edukasi dan kontrol. Responden penelitian ini rata-rata berusia < 60 tahun dan berjenis kelamin perempuan. Nyeri yang paling banyak dirasakan adalah nyeri otot. Analisis hasil terapi berdasarkan tercapainya penurunan nilai VAS sebelum dan sesudah pemberian edukasi, menunjukkan perbedaan bermakna antara kelompok edukasi dan kontrol (p=0,044). Analisis kepuasan terapi TSQM dilakukan dengan membandingkan kelompok edukasi dan kontrol. Analisis perbandingan kepuasan terapi berbeda bermakna pada domain kenyamanan terapi (p=0,047). Edukasi yang diberikan apoteker secara bermakna meningkatkan hasil terapi dan kepuasan terapi domain kenyamanan terapi, namun tidak meningkatkan kepuasan terapi domain efektivitas terapi dan kepuasan global
DETERMINATION OF TOTAL FLAVONOID OF n-HEXANE, ETHYL ACETATE, AND WATER FRACTION FORM CLOVE FLOWER ETHANOL EXTRACT (Syzygium aromaticum) USING UV-VIS SPECTROPHOTOMETRY METHOD Kurnia Rahayu Purnomo Sari
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 4 (2022): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i4.69757

Abstract

Research related to clove plants in Indonesia mostly only uses the leaves. There are still few who research phytochemical compounds in clove flowers. This study aims to determine the effect of solvent properties on the flavonoid content properties and to identify the total flavonoid content of each fraction. The three solvent fractions used include water, ethyl acetate, and n-hexane.Clove flower (Syzygium aromaticum) extraction was carried out by the maceration method using 70% ethanol. The separation of compounds based on the level of polarity was done by Liquid-liquid extraction. Determination of the flavonoid compounds was carried out qualitatively by Thin Layer Chromatography (TLC) using chloroform: methanol: glacial acetic acid (9: 1: 0.5) as mobile phase and silica gel F254 as a stationary phase with quercetin as a comparison. Quantitative analysis was performed by the UV-Vis spectrophotometry method.The results show that total flavonoid levels in the ethanolic extract of Clove flower (EEBC) were 7.818% ± 0.270, in the ethyl acetate fraction was 10.458% ± 0.516, in the water fraction was 6.137% ± 0.427, and in the n-hexane fraction was 2.251% ± 0.239. Based on these results, it can be concluded that there is a significant effect between the solvent properties of the ethanol extract and the three clove flower fractions (Syzygium aromaticum) on the total flavonoid content. The highest total flavonoid content respectively was ethyl acetate fraction, clove flower ethanol extract (EEBC), water fraction; and the n-hexane fraction. 
Determination of the potential antioxidant activity of isolated piperine from white pepper using DPPH, ABTS, and FRAP methods Akhmad Kharis Nugroho; Nindya - Kusumorini; Suwijiyo - Pramono; Ronny - Martien
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 4 (2022): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i4.70246

Abstract

White pepper (Piper nigrum L) is a native plant of Indonesia that has been used for generations as a spice and traditional medicine. White pepper contains the main alkaloid compound, namely piperine which has antioxidant activity as shown in the previous studies. The purpose of this study was to determine the potential antioxidant activity of isolated piperine compared with n-hexane extract of white pepper using DPPH, ABTS, and FRAP test methods. The isolated piperine was obtained from extraction using Soxhlet with n-hexane as a solvent, followed by purification with cyclohexane. The evaluation of antioxidant activity was carried out using the DPPH method to see free radicals, while the ABTS and FRAP methods evaluated antioxidant activity. Antioxidant activity was expressed as IC50 value and Trolox compound was used as a positive control of antioxidant activity. The analysis results show isolated piperine had antioxidant activity in the ABTS test with the results of 4.35 ± 0.004 mg/mL and 2.53 ± 0.08 mg/mL, respectively  and FRAP test was 10.53 mol TE/g sample and 6.86 mol TE/g sample, respectively. Isolated piperine and n-hexane extract of white pepper did not show their activity as free radical scavengers. The antioxidant activity of isolated piperine was lower than that of n-hexane extract of white pepper. The presence of other compounds in white pepper shows a synergistic interaction in increasing the antioxidant activity of white pepper extract.
Cost Consequence Analysis Analysis Penggunaan Antibiotik pada Penyakit Apendisitis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Farah Widya Kautsari; Dyah A Perwitasari; Endang Yuniarti
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i3.70312

Abstract

Apendisitis merupakan salah satu penyakit tidak menular tertinggi di Indonesia pada rawat inap di rumah sakit. Sehingga pengobatan apendisitis perlu dikontrol, salah satunya dengan penggunaan Clinical Pathway (CP). Clinical pathway (CP) merupakan salah satu strategi untuk meminimalkan pemakaian sumberdaya. Untuk itu, diperlukan penelitian untuk menganalisis biaya penggunaan antibiotik pada pasien apendisitis yang sesuai clinical pathway pada pasien apendisitis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Rancangan penelitian ini adalah cohort retrospektif dengan metode penelitian Cost Consequence Analysis (CCA) pada pasien rawat inap apendisitis dengan perspektif Rumah Sakit. Sampel pada penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu sesuai clinical pathway dan tidak sesuai dengan clinical pathway. Data yang diambil adalah data biaya medis langsung pasien apendisitis, kesesuaian clinical pathway dan LOS pada periode Januari-Desember 2019. Data tersebut dianalisis kesesuaian penerapan clinical pathway-nya kemudian dilihat konsekuensinya berupa LOS dan biaya medis langsung. Hasil penelitian akan ditampilkan dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif. Terdapat 73 pasien yang masuk dalam subyek penelitian. Jumlah pasien yang sesuai clinical pathway 55 pasien (75,3 %) dan yang tidak sesuai clinical pathway 18 pasien (24,7 %). Kesesuaian peresepan antibiotik sesuai CP sebesar 73,97%. 2. Biaya medis langsung total kelompok sesuai CP (ceftriaxone) adalah Rp 7.681.672 dengan rincian biaya obat sebesar 2.528.560 dan biaya jasa Rp 5.153.112. Sedangkan kelompok tidak sesuai CP adalah Rp 8.489.481 dengan rincian biaya obat sebesar Rp 3.016.539 biaya jasa Rp 5.603.342. LOS kelompok sesuai CP adalah 3,18 hari sedangkan kelompok tidak sesuai CP adalah 4,33 hari. Perbedaan biaya medis langsung dari kelompok sesuai CP dan tidak sesuai CP dengan INA-CBG’s adalah Rp 431.304 dan Rp 985.227. Berdasarkan uji chi square terdapat hubungan yang signifikan antara kesesuaian CP dengan lama rawat inap dengan RR 1,517 dan p value 0,03. Kesimpulan bahwa penerapan clinical pathway pasien apendisitis di Rumah Sakit dapat memperpendek LOS dan menghemat biaya medis langsung.
Potensi Tanaman Rambutan (Nephelium lappaceum L.) sebagai Antibakteri Yohana Maria Bina; Yoanes Fransiskus Regis Widyo Utomo; Anandha Nabila Prjanaparamita; Jullius Ivan Mahadhika; Maria Theresia Mawarni; Dewi Setyaningsih; Florentinus Dika Octa Riswanto
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 4 (2022): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i4.70337

Abstract

Tingginya curah hujan dan rendahnya sanitasi dapat mengakibatkan munculnya berbagai infeksi oleh bakteri. Untuk mengatasi hal tersebut, agen antibakteri yang sesuai dapat digunakan. Resistensi antibiotik merupakan masalah global yang mendesak menyebabkan berkurangnya efektivitas antibiotik dalam mengatasi infeksi bakteri. Permasalahan ini perlu diatasi dengan pencarian alternatif senyawa dengan aktivitas antimikroba, termasuk yang berasal dari bahan alam. Rambutan (Nephelium lappaceum L.) merupakan tanaman yang berasal dari Indonesia dan Malaysia, serta tersebar di Asia Tenggara. Tanaman rambutan telah terbukti memiliki khasiat dalam pengobatan, seperti antelmintik dan antidiare. Beberapa penelitian ilmiah telah menunjukkan bahwa daun, biji, dan kulit buah rambutan memiliki aktivitas antibakteri. Aktivitas tersebut ditunjukkan oleh ekstrak atau fraksi yang diperoleh melalui berbagai metode dan pelarut yang berbeda. Aktivitas antibakteri ini dapat timbul karena adanya kandungan berbagai senyawa, termasuk senyawa-senyawa fenolik, seperti geraniin, ellagic acid, quercetin, dan corilagin. Beberapa penelitian telah menunjukkan adanya aktivitas antibakteri dari tanaman rambutan terhadap bakteri yang resisten. Artikel review ini disusun menggunakan metode studi pustaka melalui penelusuran artikel penelitian, artikel ilmiah, dan review jurnal pada database elektronik seperti internet, Google Scholar, Pubmed, ScienceDirect, dan Elsevier. Artikel review ini bertujuan untuk merangkum informasi hasil penelitian terbaru terkait aktivitas antibakteri tanaman rambutan yang diharapkan dapat menjadi sumber informasi para peneliti di masa depan. 
IDENTIIFIKASI KANDUNGAN PARASETAMOL PADA JAMU DENGAN DENSITOMETRI DI KECAMATAN KUBUTAMBAHAN Lestari Nugrahini; Ari Permana Putra; Ni Komang Virginia Pradini
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 4 (2022): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i4.70927

Abstract

Jamu adalah salah satu obat tradisional yang banyak digunakan oleh masyarakat untuk mencegah dan atau membantu menyembuhkan penyakit, jamu juga sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Peningkatan minat masyarakat serta kebutuhan untuk mengkonsumsi jamu telah disalahgunakan oleh produsen dengan menambahkan Bahan Kimia Obat (BKO) salah satunya senyawa parasetamol untuk mendapatkan khasiat cepat serta keuntungan yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa jumlah kadar senyawa parasetamol yang ditambahkan dalam jamu di kecamatan kubutambahan. Penelitian ini menggunakan sampel yang diambil dari berbagai toko jamu yang tersebar di kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng dan dianalisis di Laboratorium Farmasi STIKes Buleleng. Pada penelitian metode analisis pada penelitian ini menggunakan desnitometri, hasil dari analisis kuantitatif menggunakan densitometri diketahui terdapat 3 sampel yang mengandung BKO parasetamol yang memiliki kadar sebagai berikut: sampel nomor 3 sebesar 0,045 %; sampel nomor 7 sebedar 0,350 %; dan sampel nomor 10 sebesar 0,148 %.
Profil Luaran Klinis pada Pasien Ulkus Kornea Bakteri di Indonesia Berdasarkan Profil Terapi: Case Series Maya Ramadhani Indarto; Ika Puspitasari; Suharjo Suharjo
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 4 (2022): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i4.71430

Abstract

Ulkus kornea merupakan kondisi kegawatdaruratan mata yang dikarakterisasi adanya supuratif infiltrate, defek atau hilangnya jarngan kornea yang melibatkan stroma, dimana hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya kebutaan. Penyebab yang paling sering dari ulkus kornea di negara berkembang adalah adanya trauma mata. Case series ini bertujuan untuk mempelajari profil luaran klinik yang berpengaruh dalam perbaikan ulkus kornea. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif observasional dengan parameter luaran klinik berupa ukuran defek kornea, derajat hiperemia, spasme, hipopion, dan visus. Terdapat 2 kasus ulkus kornea dengan derajat sedang-berat. Kasus 1 merupakan pasien usia 14 tahun dengan ulkus kornea bakteri derajat sedang, karakteristik defek epitel yang dimiliki luas, secara klinis menyerupai ulkus kornea bakteri namun secara gambaran defek epitel menyerupai ulkus kornea akibat virus. Kasus 2 merupakan pasien usia 32 tahun dengan ulkus kornea derajat berat, memiliki progresivitas penyakit yang cepat (defek meluas hanya dalam 1 hari). Secara keseluruhan kedua pasien mengalami perbaikan luaran klinik dengan pemberian antibiotik empirik. Luaran klinik yang mengalami perbaikan dengan cepat yaitu  penurunan defek epitel, derajat blefarospasme, dan peningkatan visus.
Gambaran Pengetahuan Masyarakat Tentang Swamedikasi Demam: Kajian Literatur Melansia Susanti Wolla; Aris Widayati
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i3.71851

Abstract

Swamedikasi untuk mengatasi demam merupakan tindakan yang lazim di kalangan masyarakat Indonesia. Namun demikian, swamedikasi yang dilakukan oleh masyarakat dapat menimbulkan masalah terkait penggunaan obat, karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit yang diderita dan obat yang digunakan, serta bagaimana menggunakannya dengan tepat. Oleh karena itu, kajian literatur ini bertujuan untuk menggambarkan pengetahuan masyarakat tentang swamedikasi untuk demam. Penelusuran literatur dilakukan pada data-base Google Scholardan portal Garuda. Kriteria inklusi literatur yang dicari adalah artikel yang tercapai lima tahun terakhir dan yang membahas pengetahuan masyarakat tentang swamedikasi demam. Terdapat empat literatur yang ditemukan dari pencarian dan kriteria kriteria inklusi. Hasil kajian terhadap empat literatur menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat tentang swamedikasi demam termasuk dalam kategori baik dan cukup
Relation between Body Mass Index and Severity and Mortality of COVID-19 Patients at RSU Haji Surabaya uswatun hasanah
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 4 (2022): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i4.72748

Abstract

COVID-19 is a new disease that emerged and was recognized in December 2019. This disease causes massive deaths in countries around the world, so the WHO has declared it a global pandemic. The increase in death cases due to COVID-19 is also felt in Indonesia. Until February 2022, the number of deaths was recorded at 3.30%, higher than the world's cases of death at 2.3% and the WHO 1.50%. The increase in body mass index can affect the clinical condition of the patient, including the severity of the case to death in the patient. Patients with an increased BMI were identified as a risk factor for the severity and death of COVID-19 patients. The purpose of this study was to determine the relation between BMI and the severity and mortality of COVID-19 patients. The research method used a retrospective cohort conducted on COVID-19 in patients at RSU Haji Surabaya for the period March 2020 to March 2021. Data analysis in assessing the relation between variables was calculated using the Chi-square test with a significance value (p<0.05). The results of research conducted at RSU Haji Surabaya showed that there was no relation between body mass index and case severity (p=0.065) and there was a significant relation between BMI and patient mortality (p=0.014). The conclusion is that COVID-19 patients with less or more BMI can increase the severity and mortality.