cover
Contact Name
Argyo Demartoto
Contact Email
jas@mail.uns.ac.id
Phone
+62271637277
Journal Mail Official
jas@mail.uns.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.uns.ac.id/jas/about/editorialTeam
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Analisa Sosiologi
ISSN : 23387572     EISSN : 26150778     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Analisa Sosiologi (JAS) diterbitkan per semester pada bulan April dan Oktober oleh Program Studi Magister Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan ISSN : 2338 - 7572 (Print) dan ISSN: 2615-0778 (Online). JAS berdasarkan kutipan dan keputusan Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor: 21/E/KPT/2018, tanggal 9 Juli 2018 tentang hasil akreditasi jurnal ilmiah periode 1 tahun 2018, telah terakreditasi Peringkat 4 yang berlaku 5 Tahun, yaitu Volume 5 Nomor 1 tahun 2016 sampai Volume 9 Nomor 2 Tahun 2020. JAS memfokuskan diri pada hasil penelitian terkait isu-isu sosial-kontemporer di Indonesia, khususnya yang berkenaan dengan perkembangan masyarakat dari berbagai aspek. Selain itu, JAS juga menerima artikel yang bersumber pada telaah pustaka terkait dengan upaya pengembangan teori-teori sosiologi. Informasi mengenai JAS juga bisa diperoleh melalui media sosial.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "vol 12, no 4 (2023)" : 9 Documents clear
TREN KECANTIKAN DAN IDENTITAS SOSIAL: ANALISIS KONSUMSI KOSMETIK DAN OBJEKTIFIKASI DIRI DI KALANGAN PEREMPUAN KOTA PALOPO Hasrin, Awaluddin; Sidik, Sangputri
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 4 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i4.71618

Abstract

Beauty is a fundamental aspect of women's existence. They have aspirations to fulfill society's beauty norms. This research seeks to examine the complexity of the idea of beauty among Palopo City and emphasize its impact on women's consumer behavior. Data was collected using qualitative methodology by conducting in-depth interviews and observations of women from various age groups in Palopo City. Research findings show that women in the city of Palopo conceptualize beauty as a combination of physical aspects that can be measured and non-physical aspects, such as self-confidence and self-perception. Beauty is partly formed by advertisements in the mass media, which align with the goals of capital owners in the beauty business, giving rise to the concept of the beauty myth. Apart from that, this concept is also formed by self-objectification that arises from the social environment. The use of cosmetics has become a basic need for women and increases self-confidence. However, this consumptive behavior also has a negative impact, encouraging a wasteful lifestyle and forming a false consciousness because someone feels valued in society only when they have made an effort to look beautiful.   Keywords: Women, Beauty, Consumerism, Palopo City AbstrakKecantikan merupakan aspek mendasar dari eksistensi perempuan. Mereka memiliki cita-cita untuk memenuhi norma kecantikan dalam masyarakat. Penelitian ini berupaya untuk mengkaji kompleksitas gagasan kecantikan di kalangan warga Kota Palopo dan menekankan dampaknya terhadap perilaku konsumtif perempuan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metodologi kualitatif, yaitu dengan melakukan wawancara mendalam dan observasi terhadap perempuan dari berbagai kelompok umur di Kota Palopo. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perempuan di kota Palopo mengonseptualisasikan kecantikan sebagai perpaduan pada aspek fisik yang dapat diukur dan aspek nonfisik, seperti kepercayaan diri dan persepsi diri. Konsep kecantikan sebagian dibentuk oleh iklan-iklan di media massa yang sejalan dengan tujuan pemilik modal dalam bisnis kecantikan sehingga memunculkan konsep mitos kecantikan. Selain itu, konsep ini juga dibentuk oleh objektifikasi diri yang muncul dari lingkungan sosialnya. Penggunaan kosmetik telah menjadi kebutuhan mendasar bagi perempuan, dan meningkatkan rasa percaya diri. Namun demikian, perilaku konsumtif ini juga menimbulkan dampak buruk, mendorong gaya hidup boros dan membentuk suatu kesadaran palsu bagi mereka karena seseorang merasa dihargai dalam suatu masyarakat hanya ketika mereka telah berupaya untuk tampil cantik Kata Kunci: Perempuan, Kecantikan, Konsumerisme, Kota Palopo
DINAMIKA SOSIAL PENGUASAAN LAHAN DI DESA BISSOLORO (STUDI KASUS DATARAN SEDANG KABUPATEN GOWA) Mappa, Nurdin; Molla, Saleh
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 4 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i4.72088

Abstract

Land control for farmers is very important, without land farming cannot be carried out, however, this condition is increasingly worrying because of the large amount of land being converted into non-agricultural land. Every year the land converted into non-agricultural land reaches 110,000 hectares per year (Ayun et al., 2020). This condition is getting more and more uncontrollable so that it is very worrying about the sustainability of agriculture as well as threatening national food security at the same time it can affect human life itself because food is a primary human need, therefore research is very important to carry out as academic study material to be able to make all parties aware. This research aims to analyze the social dynamics of farmers' agricultural land control in the temperate plains in Bissoloro Village, Bongaya District, Gowa Regency. The data collection technique is through interviews using question sheets, while the data analysis technique is a qualitative analysis using a case study approach. The analysis steps are carrying out data verification, data display, and conclusion. The results of the analysis show that there are social dynamics of land tenure in Bissoloro Village, where the average area of land controlled by farmers is 1.1 Ha with land tenure status in the form of ownership of 80.5% and land rental of 18.5%. Land ownership was obtained from inheritance 76.2% or 15.9 Ha and through purchase 9.52% or 1.6 Ha. When compared with the national average land tenure of 0.5 Ha, farmers' control of agricultural land in Bisssoloro is still wider so it can still be sustainable.Keywords:  Farmers, Land,  Mastery, Medium, Plains AbstrakPenguasaan lahan bagi petani sangat penting, tanpa lahan usahatani tidak dapat dijalankan, akan tetapi kondisi ini semakin memprihatinkan oleh karena banyaknya lahan yang dikonversi menjadi lahan non pertanian. Setiap tahun lahan yang terkonversi menjadi lahan non pertanian mencapai 110.000 hektar pertahun (Ayun et al., 2020).  Kondisi ini  semakin lama semakin tak terkendali sehingga sangat mengkhawatirkan akan keberlanjutan pertanian sekaligus mengancam ketahanan pangan secara nasional dan sekaligus dapat mempengaruhi kehidupan manusia sendiri oleh karena pangan merupakan kebutuhan primer manusia, oleh karena itu penelitian sangat penting dilakukan sebagai bahan kajian akademik untuk dapat menyadarkan semua pihak. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dinamika sosial  penguasaan lahan pertanian petani pada dataran sedang di Desa Bissoloro Kecamatan  Bongaya Kabupaten Gowa.  Teknik pengumpulan data melalui wawancara dengan menggunakan lembar pertayaan,  sedangkan tehniks analisis data dengan analisis kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Adapun langkah analisis yaitu melakukan previkasi data, displai data,  dan penarikan kesimpulan. Hasil analisis menunjukkan  bahwa ada dinamika sosial  penguasaan lahan di Desa Bissoloro,  dimana rata-rata luas lahan  yang dikuasai perpetani adalah 1,1 Ha  dengan status penguasaan lahan berupa kepemilikan 80,5% dan sewa lahan 18,5%.  Kepemilikan lahan diperoleh dari warisan 76,2% atau 15,9 Ha, dan melalui pembelian  9,52%  atau 1,6 Ha.  Jika dibandingkan dengan rata-rata   penguasaan lahan   nasional  yaitu 0,5 Ha maka penguasaan petani terhadap lahan pertanian di Bisssoloro masih lebih luas sehingga masih dapat  berkelanjutan.Kata kunci: dinamika,  penguasaan, lahan, petani, sosial
RELASI SOSIAL DAN KEPERCAYAAN DALAM INDUSTRI JAMU MADURA: STUDI KASUS PERAMU JAMU DAN POLA KONSUMSI MASYARAKAT Muarif, Samsul; Satriyati, Ekna
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 4 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i4.72452

Abstract

This study aims to examine more deeply Juduh as a from of trust and the relationship between herbalists and Madurese herbal users. Juduh is term of belief in Madurese society. This research is motivated by the fact that the use of herbal medicine in Madurese society is believed to have many benefits. The method in this research is descriptive qualitative with a case study approach. Meanwhile, the data collection techniques are interviews, observations, and documentation. The results of this study found that Juduh is a from of consumer relations and trust in this case it becomes social capital for herbalists so that they can survive in marketing their herbal products. People who are Juduh by drinking herbal medicine will give recommendations to their relatives or people closest to them. The coming of trust in this case is obtained from consumes who are grateful after drinking herbal medicine so that herbalists will gain trust and social relations that can expand the herbal medicine industry. Keywords: Herbal Concoction, Juduh, Madura, Social Capital AbstrakStudi ini memiliki tujuan untuk menelaah lebih dalam terkait Juduh sebagai bentuk kepercayaan dan relasi antara peramu jamu dengan pengguna jamu Madura. Juduh merupakan istilah kepercayaan masyarakat Madura. Penelitian ini dilatarbelakangi atas fakta bahwasannya penggunaan jamu di masyarakat Madura yang dipercaya memiliki banyak manfaat. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Sementara itu, teknik pengambilan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa Juduh adalah bentuk dari relasi dan kepercayaan konsumen dalam hal ini menjadi modal sosial bagi peramu jamu sehingga bisa bertahan dalam memasarkan produk jamunya. Masyarakat yang Juduh dengan meminum jamu akan memberikan rekomendasi pada saudaranya atau orang terdekatnya. Datangnya kepercayaan dalam hal ini didapatkan dari konsumen yang Juduh setelah meminum jamu, sehingga peramu jamu akan mendapatkan kepercayaan dan relasi sosial yang mampu melebarkan industri jamu. Kata Kunci: Juduh, Modal Sosial, Madura, Peramu Jamu 
DUALITAS STRUKTUR PERTANIAN DAN PEMBANGUNAN PARIWISATA (STUDI KASUS DI DESA ORO-ORO OMBO KECAMATAN BATU KOTA BATU) Winarsih, Siti Nurul Fitriyah; Susilo, Rachmad K. Dwi; Hayat, Muhammad
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 4 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i4.64934

Abstract

Batu City was originally famous for its branding as the City of Apples which lifted from the structure, but with the change of the Mayor of Batu, Batu City has changed the direction of the development of Batu City into an agricultural-based tourism city. The actors have used the traditional structure of agriculture into a new structure for tourism development. This study aims to explain the duality of agricultural structures and tourism development in Oro-oro Ombo Village, Batu District, Batu City. The researcher uses a qualitative research approach with the type of case study research. Determination of the selected subjects using snowball sampling technique. Collecting data using observation, interview, and documentation techniques. The data analysis technique uses time series analysis. Anthony Giddens’ structuration theory is used as a supporting equipment for research analysis. The results of the research are as follows: (1) The presence of a new structure in the form of development and encouraging farmers in Oro-oro Ombo Village to sell agricultural land to investors. (2) Actors who used to play an active role in the agricultural structure are now shifting to become actors in the tourism structure. (3) The duality of the agency-structure relationship which is characterized by the bargaining conditions that occur, the structure of agriculture and tourism in Oro-oro Ombo Village attracts each other (constrains), actually can help each other but the actors involved in the two structures still do not know how.Keywords: Actor, Agriculture, Duality of Structure, and Tourism AbstrakKota Batu semula terkenal dengan branding Kota Apel yang mengangkat eksistensi dari struktur pertanian, namun dengan bergantinya periode pemerintahan Wali Kota Batu telah mengubah arah pembangunan Kota Batu menjadi kota pariwisata berbasis pertanian. Para aktor telah menggeser struktur tradisional berupa pertanian menjadi struktur baru pembangunan pariwisata. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bentuk dualitas struktur pertanian dan pembangunan pariwisata di Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu. Peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Penentuan subjek dipilih menggunakan teknik snowball sampling. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deret waktu. Teori Strukturasi Anthony Giddens digunakan sebagai alat pendukung analisis penelitian. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) Hadirnya struktur baru berupa pembangunan pariwisata mendorong petani di Desa Oro-oro Ombo untuk menjual lahan pertanian kepada para investor. (2) Aktor yang dulu aktif berperan dalam struktur pertanian kini bergeser peran menjadi aktor dalam struktur pariwisata. (3) Dualitas hubungan struktur-agensi ditandai dengan kondisi tawar menawar yang terjadi, struktur pertanian dan struktur pariwisata di Desa Oro-oro Ombo saling tarik menarik (constrain), sebenarnya bisa saling menunjang namun aktor yang terlibat di kedua struktur tersebut masih belum tahu harus bagaimana.Kata Kunci : Aktor, Dualitas Struktur, Pariwisata, dan Pertanian
SMART CITY DAN (RE)PRODUKSI RUANG: ANALISIS IMPLEMENTASI SMART CITY DI BALI DAN YOGYAKARTA Dewi, Ambar Sari; Saputro, Agus
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 4 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i4.78848

Abstract

Smart city is the is the integration of technology infrastructure, development strategies for social/human capital, and a network of stakeholders to ensure the city’s interest. It is implemented to help government overcome urbanisation problems. However, the massive use of ICT in smart city raises questions on production of space in urban areas. Thus, this research aims to examine how production of space occurs in smart cities in Indonesia, namely in Badung (Bali), Sleman, and Bantul Regencies (Yogyakarta). Using qualitative multiple-case studies, this research characterised smart cities studied as proposed by Giffinger and Gudrun and analyzes them in the Lefebvrian’s concept of production of space. Data was collected in two stages: observation of smart city services on the official website and semi-structured interviews with smart city users in the three cities studied. The results show that the three official websites provide smart city services, although further development is required. Although, informants in this study knew about the program, their use of the services is limited due to technical obstacles, lack of interest, and lack of socialization of the services. As conclusion, the implementation of smart cities in three cities is still at the normative and top-down policy level. Hence, citizen might not understand or need these services. Regarding the production of space in smart cities, this research concludes that it occurs in spatial space and representational space. Therefore, the right to the city in the production of space to live and solve the city's social and economic problems is crucial.Keywords: Production of Space, City, Smart city, Yogyakarta, Bali AbstrakSmart city adalah tata kelola kota yang mengintegrasikan infrastruktur teknologi, strategi pengembangan modal sosial/manusia, dan jaringan pemangku kepentingan untuk menjamin kepentingan kota. Smart city diterapkan untuk membantu pemerintah mengatasi permasalahan urbanisasi. Namun, masifnya penggunaan TIK di kota pintar menimbulkan pertanyaan mengenai produksi ruang di kawasan perkotaan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana produksi ruang terjadi di smart city di Indonesia, yaitu di Kabupaten Badung (Bali), Sleman, dan Bantul (Yogyakarta). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus ganda, penelitian ini mengelompokkan kota pintar berdasarkan karakteristik smart city yang ditawarkan oleh Giffinger dan Gudrun, kemudian menganalisisnya dalam konsep produksi ruang Lefebvrian. Pengumpulan data dilakukan melalui dua tahap yaitu observasi layanan smart city di website resmi dan wawancara semi terstruktur terhadap pengguna smart city di tiga kota yang diteliti. Hasilnya menunjukkan bahwa ketiga situs resmi tersebut telah menyediakan layanan smart city, meskipun masih diperlukan pengembangan lebih lanjut. Meskipun informan dalam penelitian ini mengetahui tentang program ini, namun penggunaan layanan tersebut masih terbatas karena kendala teknis, kurangnya minat pengguna, dan kurangnya sosialisasi mengenai layanan tersebut. Berdasarkan temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan smart city di tiga kota tersebut masih berada pada level kebijakan normatif dan bersifat top-down. Oleh karena itu, masyarakat mungkin tidak memahami atau bahkan membutuhkan layanan ini. Terkait produksi ruang di smart city, penelitian ini menyimpulkan hal ini terjadi pada ruang spasial dan ruang representasional. Oleh karena itu, hak atas kota dalam produksi ruang bagi warga kota untuk hidup dan menyelesaikan permasalahan sosial dan ekonomi kota menjadi sangat penting.Kata Kunci: Produksi Ruang, Kota, Kota Pintar, Yogyakarta, Bali
TRANSFORMASI PENGETAHUAN DAN REALITAS SOSIAL PELAKU UMK TENTANG LABEL HALAL Purnama, Muhammad Yuga; Ulinnuha, Roma
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 4 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i4.71327

Abstract

This article discusses the challenges of Small Micro Enterprises (MSEs) in handling halal disruption. In the modern halal era, it is not only a matter of a stable taxonomy between what is permissible (halal) and what is not permissible (haram), but more broadly it has become a form of standardization to manage production, trade and consumption. This system can be a profitable innovation opportunity as well as a disruption for business actors, especially MSEs. The method used is a case study with interviews, observation, and documentation of the MSEs of traditional food and beverages in Sleman. The results show that MSEs experience problems with adaptation to halal certification due to existing social realities such as barriers to information, finance, infrastructure and technology. Efforts are needed to form a social reality that supports the adaptation of MSEs to halal certification such as optimizing socialization, mentoring, and other supporting facilities. Keywords: Disruption, Halal Sertification, MSEs AbstrakArtikel ini membahas tantangan Usaha Mikro Kecil (UMK) dalam menghadapi desrupsi halal. Di era modern halal bukan hanya perkara stable taxonomy antara yang  boleh (halal) dan tidak boleh (haram), tetapi lebih luas menjadi sebuah bentuk standarisasi untuk mengatur produksi, perdagangan, dan konsumsi. Sistem tersebut dapat menjadi peluang inovasi yang menguntungkan juga sebagai gangguan terhadap pelaku usaha, utamanya UMK. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap UMK makanan dan minuman tradisional di Sleman. Hasil menunjukkan bahwa  bahwa UMK mengalami problem adaptasi terhadap sertifikasi halal akibat realitas sosial yang ada seperti hambatan pada informasi, keuangan, infrastruktur dan teknologi. Perlu usaha untuk membentuk realitas sosial yang mendukung adaptasi UMK terhadap sertifikasi halal seperti optimalisasi sosialisasi, pendampingan, dan sarana pendukung lainnya.. Kata Kunci: Disrupsi, Sertifikasi Halal, UMK
INTEGRASI SOSIAL DALAM PENGURANGAN RISIKO BENCANA: STUDI TENTANG MASYARAKAT MULTIKULTURAL DI DESA PEMENANG BARAT DAN DESA PEMENANG TIMUR KABUPATEN LOMBOK UTARA Saputra, Hendra Puji; Nursalim, Isnan; Rizkiandi, Rizwan
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 4 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i4.73160

Abstract

The communities in two villages, namely West Pemenang Village and East Pemenang Village, Pemenang District, North Lombok Regency, are unique because they have diversity which becomes their social strength in facing disasters. This form of diversity is represented through 3 religious communities, namely Islam, Hinduism and Buddhism, which live side by side in harmony and tolerance. This research aims to analyze the process of social integration of multicultural communities in Disaster Risk Reduction (DRR) in two villages in Pemenang District using Anthony Giddens structuration theory. This research uses a qualitative method with a multiple case study approach because more than one focus of attention is studied, namely aspects of social integration of multicultural society and disaster aspects. The data collection process was carried out through: observation, in-depth interviews, and documentation. The results of this research show that the process of social integration of multicultural communities in DRR in two villages in Pemenang District is influenced by 3 (three) factors, namely: First, the existence of shared history and collective experiences in the past which are represented philosophically through the concept of "mempolong merenten". This shared history and collective experience has helped them in living their social lives, including when disasters occur. Second, there is awareness among agents in the 3 religious communities who transform human and brotherly values into DRR actions. In this context, religious differences are not seen as a social barrier when a disaster occurs. Third, there are local institutions (formal and informal) which become a forum for agents to maintain and strengthen the values of diversity in the 3 religious communities that contribute to DRR efforts. Keywords: Social Integration, Multiculturalism, Disaster Risk Reduction AbstrakMasyarakat yang  berada di dua desa yaitu Desa Pemenang Barat dan Desa Pemenang Timur Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara tergolong unik karena memiliki keberagaman yang menjadi kekuatan sosial mereka dalam menghadapi bencana. Bentuk keragaman tersebut direpresentasikan melalui 3 komunitas agama yaitu Islam, Hindu, dan Budha yang hidup berdampingan secara rukun dan toleran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses integrasi sosial masyarakat multikultural dalam Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di dua desa di Kecamatan Pemenang dengan teori strukturasi Anthony Giddens. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus jamak karena fokus perhatian yang dikaji lebih dari satu yaitu aspek integrasi sosial masyarakat multikultural dan aspek kebencanaan. Proses pengumpulan data dilakukan melalui: observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses integrasi sosial masyarakat multikultural dalam PRB di dua desa di Kecamatan Pemenang dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor yaitu: Pertama, adanya kesamaan sejarah dan pengalaman kolektif di masa lampau yang direpresentasikan secara filosofis melalui konsep “mempolong merenten”. Kesamaan sejarah dan pengalaman kolektif ini telah membantu mereka dalam menjalani kehidupan sosial, termasuk ketika terjadi bencana. Kedua, adanya kesadaran para agen di 3 komunitas agama yang mentransformasikan nilai-nilai kemanusiaan dan persaudaraan dalam aksi PRB. Pada konteks ini, perbedaan agama bukan dipandang sebagai pembatas sosial ketika terjadi bencana. Ketiga, adanya lembaga lokal (formal maupun informal) yang menjadi wadah bagi agen untuk menjaga dan menguatkan nilai-nilai keberagaman di 3 komunitas agama yang berkontribusi pada upaya PRB. Kata Kunci: Integrasi Sosial, Multikulturalisme, Pengurangan Risiko Bencana
PERAN BARUGA SEBAGAI RUANG PUBLIK SOSIAL DAN POLITIK DALAM MASYARAKAT SUKU PAMONA: STUDI KASUS DI DESA PANDIRI KECAMATAN LAGE, KABUPATEN POSO Karatu, Chrysti Yessika; Tampake, Tony; Lattu, Izak Y.M
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 4 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i4.73401

Abstract

This research aims to analyze the function of baruga as a social public sphere for traditional communities in Poso. Baruga is used as a sphere for social meetings and also a sphere for settlements by the community in the Poso, the implementation of which is led by the traditional council. Social space is understood as a sphere where people gather and carry out social interactions. This research also looks at the function of baruga as a space for the reconciliation of conflicts that occur between communities in a certain area. The community uses baruga as a gathering place and also holds meetings related to the community's social life. This research used qualitative case study approach. Primary data was collected through interviews with several traditional leaders, village leaders, and local communities, other data was obtained through observations and written documents owned by village officials and traditional councils. The findings from this research are that the baruga, as a traditional house for the local community of the Pamona tribe, is useful as a public sphere for the village of the Pandiri community in Poso Regency. In baruga, the community often holds meetings related to the interests of the village community. Apart from that, Baruga also functions as a social and political space for the Pandiri village community. Keywords: Baruga, Public Sphere, Social Space, Poso Community Abstrak          Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fungsi baruga sebagai ruang public sosial masyarakat tradisional di kabupaten Poso. Baruga digunakan sebagai ruang untuk pertemuan-pertemuan sosial dan juga ruang untuk penyelesaian oleh masyarakat yang ada di kabupaten Poso, yang mana pelaksanaannya dipimpin oleh dewan adat. Ruang sosial dipahami sebagai ruang di mana masyarakat berkumpul dan melakukan interaksi sosial. Penelitian ini juga melihat fungsi baruga sebagai ruang rekonsiliasi konflik yang terjadi antarmasyarakat di suatu wilayah tertentu. Masyarakat menggunakan baruga sebagai tempat untuk berkumpul dan juga melakukan pertemuan-pertemuan berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data primer dikumpulkan melalui wawancara beberapa tokoh adat, pimpinan desa dan juga masyarakat setempat, data lainnya didapatkan melalui hasil observasi dan dokument-dokumen tertulis yang dimiliki oleh perangkat desa maupun dewan adat. Temuan dari penelitian ini adalah baruga sebagai rumah adat masyarakat lokal suku Pamona berguna sebagai ruang publik masyarakat desa Pandiri di Kecamatan Lage Kabupaten Poso, di baruga ini masyarakat kerap kali melakukan pertemuan berkaitan dengan kepentingan masyarakat desa. Selain itu, baruga juga berfungsi sebagai ruang sosial dan politik masyarakat desa Pandiri.  Kata kunci: Baruga, Ruang Publik, Ruang Sosial, Masyarakat Poso
PRAKTIK SOSIAL: MENUMBUHKAN MINAT BACA MASYARAKAT MELALUI TAMAN BACAAN MASYARAKAT (TBM) DI KELURAHAN KUTOWINANGUN LOR Hutagaol, Sekar Rachelita; Susanti, Antik Tri; Utomo, Alvianto Wahyudi
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 4 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i4.73321

Abstract

The problem of low interest in reading is one of the fundamental problems that occur in Indonesia. The government is trying to overcome these problems through community reading premises or TBM. In Kutowinangun Lor Village there are six TBMs. TBM is sourced from government programs and community wishes. This study aims to describe the role of TBM in Kutowinangun Lor Village in fostering the interest of the reading community in Kutowinangun Lor Village. The results of the data in this study will be analyzed using the Social Practice Theory put forward by Pierre Bourdieu. This study uses a descriptive qualitative method, namely the collection of primary data and secondary data. Data collection techniques were carried out by observation, interview, and documentation methods. The data analysis technique used is data reduction, data presentation and conclusion. The results of this study indicate that: (1) According to Bourdieu's perspective, growing interest in reading is influenced by habitus, capital and strategy. (2) According to Bourdieu's perspective, TBM in Kutowinangun Village belongs to three characteristics, namely, having habitus and capital, not having habitus but having capital, and not having habitus and capital. (3) Bottom-up TBM has a role in fostering reading interest, while top-down TBM has not played an optimal role in fostering reading interest. (4) TBMs that have implemented a strategy to foster interest in reading are TBM Garuda, TBM Melati and TBM Semar. Keywords: Reading Interest, Social Practice, Community Reading Park (TBM) AbstrakPermasalahan rendahnya minat baca merupakan salah satu masalah mendasar yang terjadi di Indonesia. Pemerintah berupaya mengatasi permasalahan tersebut melalui taman bacaan masyarakat atau TBM. Di Kelurahan Kutowinangun Lor terdapat enam TBM. TBM tersebut bersumber dari program pemerintah dan keinginan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan peran TBM yang ada di Kelurahan Kutowinangun Lor dalam menumbuhkan minat baca masyarakat Kelurahan Kutowinangun Lor. Hasil data dalam penelitian ini akan dianalisis menggunakan Teori Praktik Sosial yang dikemukakan oleh Pierre Bourdieu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yaitu pengumpulan data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) Menurut perspektif Bourdieu dalam menumbuhkan minat membaca dipengaruhi habitus, modal dan strategi. (2) Menurut perspektif Bourdieu TBM di Kelurahan Kutowinangun tergolong atas tiga karakteristik yakni, memiliki habitus dan modal, belummemiliki habitus tetapi memiliki modal, dan tidak memiliki habitus dan modal. (3) TBM bottom up memiliki peran dalam menumbuhkan minat baca, sementara TBM top down tidak berperan optimal dalam menumbuhkan minat baca. (4) TBM yang telah melakukan strategi menumbuhkan minat baca adalah TBM Garuda, TBM Melati dan TBM Semar. Kata Kunci: Minat Baca, Praktik Sosial, Taman Bacaan Masyarakat (TBM)

Page 1 of 1 | Total Record : 9