cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan
ISSN : 19799187     EISSN : 25282751     DOI : -
Core Subject : Economy,
First published in 2007, Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan (BILP) is a scientific journal published by the Trade Analysis dan Development Agency (Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan - BPPP), Ministry of Trade, Republic of Indonesia. This bulletin is expected to be a media of dissemination and analysis of research results to be used as references for academics, practitioners, policy-makers, and the general public. In collaboration with professional associations, The Indonesian Society of Agricultural Economics (Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia - PERHEPI), BILP publishes research reports and analysis of trade sector and/or sector-related trade which have not been published in any other journals/scholarly publications, either in Bahasa Indonesia or English. Publishing twice a year in July and December, this Bulletin is directly disseminated to stakeholders both in print and online.
Arjuna Subject : -
Articles 209 Documents
DAYA SAING EKSPOR PRODUK MAKANAN OLAHAN INDONESIA KE TIMUR TENGAH . Hasni
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12 No 2 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (969.493 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v12i2.325

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing ekspor produk makanan olahan Indonesia di sepuluh negara Timur Tengah dan rekomendasi kebijakannya. Data yang digunakan adalah data sekunder dan diolah dengan metode RCA dinamis. Hasil penghitungan RCA dinamis menunjukkan bahwa posisi daya saing produk makanan olahan dengan kategori Lagging Opportunity dan Lost Opportunity berpotensi untuk ditingkatkan ekspornya ke Timur Tengah. Produk makanan olahan yang perlu ditingkatkan ekspornya adalah minuman ringan, snack/camilan dan makanan olahan lainnya. Peningkatan ekspor produk makanan olahan ke Timur Tengah dapat dilakukan dengan cara a) meningkatkan peran Atase Perdagangan dan ITPC untuk memperoleh informasi pasar, serta melakukan promosi ekspor, b) melakukan koordinasi di dalam dan luar negeri untuk memperoleh sertifikasi keamanan produk makanan olahan yang berorientasi ekspor, c) mempercepat perjanjian perdagangan untuk memperluas akses pasar melalui penurunan tarif impor makanan olahan dari Indonesia, d) memberikan pelatihan dan pendampingan kepada eksportir UKM termasuk desain dan pengemasan, dan e) merundingkan penyederhanaan dokumen ekspor dengan biaya yang terjangkau.                                                                                  AbstractThe objectives of this study are to analyze the competitiveness of Indonesian processed food exports in the ten Middle East countries and formulate recommendations to increase Indonesia's processed food exports to those countries. The data used in this study was secondary data and estimated by using dynamic RCA method. By using the dynamic RCA method, it was found that the position of the competitiveness of processed food products in the Lagging Opportunity and Lost Opportunity categories have potential to be increased as exports products to the Middle East. These processed products are soft drinks, snacks and other processed foods. The processed food products export to the Middle East can be increased by: a) encouraging Indonesia’s Trade Representatives (Trade Attaches and ITPC) to facilitate doing business between Indonesia and Middle East, b) coordinating domestic and foreign stakeholders to obtain export-oriented food safety certification, c) accelerating the establishment of trade agreements to expand market access through reduced tariffs on imported processed foods from Indonesia, d) increasing competitiveness of export products by providing training and assistance to SME exporters including design and packaging, and e) Negotiating to simplify export documents process at affordable costs.
PENGEMBANGAN PASAR EKSPOR LADA INDONESIA Ely Nurhayati; Sri Hartoyo; Sri Mulatsih
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12 No 2 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.849 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v12i2.335

Abstract

AbstrakSalah satu komoditas yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja ekspor Indonesia sebagai negara agraris adalah lada. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pasar potensial untuk ekspor lada yang bisa dikembangkan, serta mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi ekspor komoditas lada. Penelitian ini menggunakan metode RCA, EPD, X-Model, dan Gravity Model. Hasil analisis dengan menggunakan model RCA, EPD, dan X-model menunjukkan bahwa ‘pasar optimis’ untuk dikembangkan adalah Belanda. Sedangkan ‘pasar potensial’ untuk dikembangkan adalah Malaysia, Vietnam, Korea Selatan, Rusia, Prancis, Belgia, Jerman, dan Amerika Serikat. Sementara itu hasil analisis dengan menggunakan model Gravity menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi ekspor adalah domestik bruto per kapita, populasi, harga ekspor, jarak ekonomi dan tarif. Oleh karena itu, pemerintah perlu mempertimbangkan faktor-faktor yang memengaruhi ekspor lada untuk mengembangkan pasar ekspor. Faktor tersebut diantaranya menjaga stabilitas harga ekspor, memilih pasar dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita yang tinggi, populasi yang besar dan cenderung meningkat, serta memiliki jarak ekonomi dan tarif yang kecil dan cenderung menurun. AbstractPepper is one of agricultural commodities that has significant export value for Indonesia. The study aims to analyze the potential market for pepper exports that can be developed, and the factors that influence pepper commodity exports. This research used RCA, EPD, X-Model, and Gravity Model methods. Using the RCA, EPD, and X-model the study indicated that ‘the optimistic market’ to be developed was the Netherlands. While ‘the potential markets’ to be developed were Malaysia, Vietnam, South Korea, Russia, France, Belgium, Germany and the United States. Using the Gravity model, it was confirmed factors affected export were gross domestic product per capita, population, export prices, economic distance and tariffs. This study recommends that the Government needs to consider the following factors including the stability of export prices, a market with high Dross Domestic Product (GDP) per capita and a large population which tends to increase, and a small economic distance and tariff that tends to decline.
PEMANFAATAN KERJA SAMA INDONESIA-JEPANG ECONOMIC PARTNERSHIP AGREEMENT (IJEPA) DAN INDONESIA – PAKISTAN PREFERENTIAL TRADE AGREEMENT (IPPTA) Endah Ayu Ningsih; Telisa Aulia Falianty; Fitri Tri Budiarti
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12 No 2 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (933.281 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v12i2.313

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengevaluasi tingkat pemanfaatan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) dan Indonesia-Pakistan Preferential Trade Agreement (IPPTA) dalam ekspor dan impor Indonesia ke Jepang dan Pakistan. Tingkat pemanfaatan FTA untuk ekspor menggunakan rasio nilai perdagangan yang termuat dalam Surat Keterangan Asal (SKA) terhadap nilai ekspor ke negara mitra. Sedangkan tingkat pemanfaatan impor menggunakan rasio nilai impor produk yang memenuhi syarat terhadap total impor Indonesia dari negara mitra. Studi ini menemukan bahwa pemanfaatan IJEPA (2012-2016) cenderung menurun. Pada tahun 2016 tingkat pemanfaatan ekspor sebesar 47,2%. Sementara pemanfaatan IPPTA untuk ekspor ke Pakistan mengalami peningkatan yang signifikan sejak diimplementasi tahun 2013 dengan tingkat pemanfaatan ekspor sebesar 72,0% pada tahun 2016. Di sisi impor pemanfaatan IJEPA mencapai 67,7% sementara IPPTA hanya 18,8% (2016). Pemanfaatan impor IJEPA dan IPPTA relatif stagnan, jumlah perusahaan yang menggunakan SKA IJEPA sudah pada level jenuh, sementara pengguna SKA IPPTA masih tumbuh 18,2% per tahun. Bentuk PTA lebih memberikan dampak positif bagi peningkatan ekspor Indonesia ke negara mitra dibandingkan FTA yang komprehensif. Kebijakan melakukan FTA dalam bentuk Economic Partnership perlu disertai dengan kerja sama yang menjamin peningkatan perdagangan yang seimbang antar negara anggota. AbstractThis study aims to address the utilization level of The Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) and Indonesia-Pakistan Preferential Trade Agreement (IPPTA). The level of FTA utilization for exports was measured by the ratio of trade value recorded in the Certificate of Origin (CoO) to Indonesia’s export value to the related country. While the level of utilization of imports was defined by the ratio of the import value of eligible products to Indonesia's total imports from the related country. The study found IJEPA’s utilization during 2012-2016 tended to decrease. In 2016, the level of utilization was about 47.2%. While IPPTA utilization for exports to Pakistan experienced a significant increase since it was implemented in 2013 with a rate of export utilization was 72.0% in 2016. On the import side, the level of utilization under IJEPA reached 67.7% while IPPTA was only 18.8% at the same period. In terms of the imports utilization level of both IJEPA and IPPTA, it was relatively stagnant, while the number of companies utilize IJEPA’s CoO was saturated. In contrast, IPPTA’s CoO users still grew at 18.2% per year. This study concluded PTA provides more positive impact on increasing Indonesia's exports to related countries than comprehensive FTAs. Thus, establishing an FTA in the form of an Economic Partnership needs to be followed with the cooperation that guarantees trade balance within the parties.
POTENSI PENINGKATAN AKSES PASAR PRODUK INDONESIA KE PEREKONOMIAN APEC UNTUK MENGANTISIPASI REALISASI FTAAP Rino Adi Nugroho; Kumara Jati
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12 No 2 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (769.29 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v12i2.324

Abstract

Abstrak Tulisan ini mengkaji potensi peningkatan akses pasar produk Indonesia ke kawasan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) untuk mengantisipasi realisasi Free Trade Area of The Asia-Pacific (FTAAP). Penelitian ini menggunakan Export Product Dynamic (EPD), Intra-Industry Trade (IIT), dan analisis Inter-Regional Input-Output (IRIO). Hasil analisis EPD dengan menggunakan klasifikasi 21 sektor diperoleh 15 sektor ekspor Indonesia ke pasar Asia-Pasifik berada pada posisi retreat dan enam sektor lainnya berada pada posisi falling star. Berdasarkan hasil IIT diperoleh lima sektor ekspor Indonesia yang memiliki integrasi dalam kategori integrasi sangat kuat yaitu sektor hasil panen dan hewan, industri pengolahan makanan dan tembakau, industri farmasi, industri karet dan plastik, serta industri perakitan komputer. Sementara itu berdasarkan analisis Inter-Regional Input-Output (IRIO) terhadap 10 ekonomi Asia-Pasifik terlihat bahwa proporsi perdagangan bilateral terhadap total ekspor terbesar yaitu Indonesia terhadap Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Jepang dengan persentase masing-masing sebesar 1,22% diikuti oleh Korea Selatan dan Jepang masing-masing sebesar 0,4% dan 0,32%. Ekspor Indonesia ke  Australia, RRT, Jepang, Korea Selatan, Meksiko, Rusia dan Taiwan  didominasi oleh barang antara dan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat dan Kanada didominasi oleh barang konsumsi langsung. Untuk memperoleh nilai tambah, Indonesia perlu meningkatkan daya saing melalui transfer teknologi dan akses pasar yang fokus pada permintaan akhir. AbstractThis paper examines the potential improvement of market access of Indonesian products to the Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) region to anticipate the possibility of the Free Trade Area of The Asia-Pacific (FTAAP) realization. The methods used in this research are Export Product Dynamic (EPD), Intra-Industry Trade (IIT), and Inter-Regional Input-Output (IRIO) analysis. Based on the analysis of EPD using  21 sectors classification, it was obtained 15 export sectors of Indonesia to Asia-Pacific market are in retreat position and other six sectors are in falling  star position. While using the IIT method, there are five Indonesian export sectors that have very strong integration, namely and animal sector, food and tobacco processing industry, pharmaceutical industry, rubber and plastics industry, and computer docking industry. In addition, by using IRIO analysis on 10 Asia-Pacific economies, it showed that the largest share of Indonesia bilateral trade was to China and Japan at about 1.22% respectively. This was followed by South Korea and Taiwan with percentage of 0.4% and 0.32%. The exports of Indonesia to Australia, China, Japan, South Korea, Mexico, Russia and Taiwan were dominated by the intermediate goods, while to the United States and Canada are dominated by final goods. Therefore, to obtain added value,  Indonesia’s has to improve competitiveness with technology transfer and market access increase which focuses on the final demand.
DAYA SAING EKSPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL INDONESIA DAN VIETNAM KE AMERIKA SERIKAT DAN REPUBLIK RAKYAT TIONGKOK . Ragimun
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12 No 2 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1774.781 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v12i2.194

Abstract

AbstrakTekstil dan Produk Tekstil (TPT) adalah produk ekspor utama Indonesia dan Vietnam. Penelitian ini  bertujuan menganalisis daya saing ekspor TPT Indonesia dan Vietnam di pasar AS dan RRT. Metode yang digunakan adalah Constant Market Share Analysis (CMSA), Revealed Comparative Advantage (RCA), dan Model Ekonometrika (Fixed Effect Model). Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk TPT Indonesia dan Vietnam tidak mempunyai daya saing kuat di pasar RRT, tetapi keduanya memiliki daya saing kuat di pasar AS. Pengembangan ekspor TPT Vietnam lebih terkonsentrasi di pasar RRT, sedangkan Indonesia lebih terkonsentrasi di pasar AS. TPT Indonesia mampu beradaptasi di pasar RRT dan AS, sedangkan TPT Vietnam hanya mampu beradaptasi di pasar RRT. Daya saing TPT Indonesia dan Vietnam di pasar AS dan RRT sangat dipengaruhi oleh Penanaman Modal Asing (PMA) manufaktur negara asal. Daya saing TPT Indonesia sangat dipengaruhi Produk Domestik Bruto (PDB) negara tujuan, sedangkan Vietnam sangat dipengaruhi oleh faktor nilai tukar riil, tarif, PDB negara tujuan dan PMA manufaktur Vietnam. Untuk meningkatkan daya saing ekspor TPT, Indonesia perlu memperhatikan PMA manufaktur negara asal dan PDB negara tujuan. AbstractTextile and Textile Product (TPT) are the main export products of Indonesia and Vietnam. This study examined the competitiveness of Indonesian and Vietnamese TPT in the US and PRC markets by using the CMSA, RCA methods and the Fixed Effect Model. The result showed TPT products from Indonesia and Vietnam do not have strong competitiveness in the PRC market, but they are highly competitive in the US market. The TPT export from Vietnam is mostly concentrated in the PRC market, while TPT from Indonesia was in the US market. Indonesian TPT is able to adapt in both PRC and US markets, while the Vietnamese TPT is only able to adapt in the PRC market. The competitiveness of Indonesian and Vietnamese TPT in the US and PRC markets is strongly influenced by the home country's FDI manufacturing. Indonesia's TPT competitiveness is strongly influenced by the GDP of the destination country, while Vietnam is strongly influenced by the factors of real exchange rates, tarrif, GDP of destination countries and Vietnam's FDI manufacturing. To improve the competitiveness of TPT export, Indonesia needs to give a great concern toward FDI manufacture and GDP of US and PRC.
Dampak Penghapusan Subsidi Ekspor Produk Pertanian Terhadap Harga dan Perdagangan Produk Pangan Indonesia Steven Raja Ingot; Rahayu Ningsih
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 13 No 1 (2019)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30908/bilp.v13i1.312

Abstract

Abstrak Salah satu komitmen terpenting hasil pertemuan Konferensi Tingkat Menteri World Trade Organisation (WTO) di Nairobi tahun 2015 adalah diberlakukannya penghapusan subsidi ekspor produk pertanian negara anggota WTO, baik oleh negara maju (pada 2015) maupun negara berkembang (pada 2018). Studi ini bertujuan untuk melihat dampak penghapusan subsidi ekspor produk pertanian oleh negara asal terhadap harga dan perdagangan produk pangan Indonesia. Dengan menggunakan model Global Trade Analysis Project (GTAP) disimpulkan bahwa penghapusan subsidi ekspor produk pertanian akan mengakibatkan kenaikan harga beberapa produk pangan impor Indonesia terutama susu. Selain itu, penghapusan subsidi ekspor juga akan berdampak pada menurunnya impor Indonesia untuk produk hortikultura, susu, dan makanan olahan sedangkan ekspor Indonesia untuk daging sapi, gula, susu dan makanan olahan akan naik. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia berpotensi untuk swasembada produk pangan sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor. Dengan demikian komitmen penghapusan subsidi ekspor oleh negara mitra dagang akan berdampak positif bagi Indonesia jika didukung dengan peningkatan produktivitas produk pangan. Kata Kunci: Subsidi Ekspor, Produk Pertanian, Produk Pangan, GTAP, WTO Abstract One of the most important commitments of the meeting of the World Trade Organization (WTO) Ministerial Conference in Nairobi 2015 is the abolition of export subsidies for agricultural products of WTO member countries, both developed countries (in 2015) and developing countries (in 2018). This study aims to examine the impact of the elimination of export subsidy on agricultural products by trading partners toward the price and trade pattern of Indonesian food products. Using the Global Trade Analysis Project (GTAP) model, the analysis shows that the elimination of export subsidies for agricultural products would lead to higher prices of Indonesian imported food products particularly for milk products. In addition, the abolition of export subsidy would reduce Indonesian imports of horticultural commodities, milk, and processed food while exports of beef, sugar, milk and processed foods would rise. This shows that Indonesia has the potential for self-sufficiency in some food products, thereby reducing dependence on imports, therefore the abolition of export subsidy will given a more positive impact on Indonesia if supported by increasing productivity of food products. Keywords: Export Subsidy, Agricultural Products, Food Products, GTAP, WTO JEL Classification: D58, F13, Q17, Q18
ASEAN-Kanada Free Trade Agreement (FTA): Peluang Bagi Indonesia Steven Raja Ingot; Dian Dwi Laksani
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 13 No 1 (2019)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1481.923 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v13i1.316

Abstract

Abstrak Senior Economic Officials Meetings (SEOM) ke-8 di Laos menghasilkan komitmen bersama ASEAN dan Kanada untuk melakukan feasibility study dalam kerangka kerja sama ASEAN-Kanada FTA. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung dampak perjanjian perdagangan barang Indonesia pada ASEAN-Kanada FTA dengan model analisis Computable General Equilibrium (CGE) - Global Trade Analysis Project (GTAP) dengan Data Base versi 9. Penelitian ini menggunakan tiga simulasi yaitu (1) Indonesia bergabung ASEAN-Kanada FTA dengan penurunan tarif untuk semua komoditi sebesar 90% mengadopsi proposal modalitas ASEAN dalam Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), (2) penurunan tarif sebesar 90% tanpa Indonesia bergabung dalam ASEAN-Kanada FTA, (3) serta peningkatan fasilitasi perdagangan dan penurunan hambatan non tarif sebesar 20%. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dari sisi Makroekonomi Indonesia akan mendapat dampak positif peningkatan GDP sebesar 0,03% jika bergabung dalam ASEAN-Kanada FTA dibandingkan jika tidak bergabung. Indonesia akan mendapat dampak positif lebih besar jika terdapat peningkatan fasilitasi perdagangan dan penurunan NTM sebesar 3,35% serta peningkatan investasi sebesar 8,53%. Berdasarkan hasil simulasi, penurunan output dan peningkatan impor didominasi oleh impor bahan baku dan barang modal yang digunakan untuk input industri, sehingga keberadaan impor bahan baku tetap diperlukan. Kajian ini merekomendasikan penurunan tarif, peningkatan fasilitasi perdagangan dan penurunan NTM merupakan kebijakan yang sangat diperlukan. Kata Kunci: ASEAN-Kanada FTA, Pertumbuhan Ekonomi, Perdagangan, Investasi Abstract At the 8th ASEAN Economic Senior Review Official Meetings (SEOM) in Laos, ASEAN and Canada committed to conduct a feasibility study within the framework of ASEAN-Canada FTA. This study aims to measures the impact of ASEAN-Canada FTA implementation to Indonesia using Computable General Equilibrium (CGE) model – the 9th version of Global Trade Analysis Project (GTAP). The study run three different simulations (1) Indonesia joining the ASEAN-Canada with a 90% tariff reduction applied to all goods adopting ASEAN modality in Regional Comprehensice Economic Partnership (RCEP); (2) 90% Tariff reduction without Indonesia joining the ASEAN-Canada FTA, (3) improving trade facilitation and decreasing 20% non-tariff measures. Simulation result shown that from Macroeconomic perspective, Indonesia will get positive impact of increasing 0.03% GDP by joining the FTA instead of not joining. Indonesia will get higher impact by increasing trade facilitation and 8.53% investment and reducing 3.35% of NTM. Based on the results, the declining output and increasing import is dominated by import of raw materials and capital goods, therefore import of raw material remain important. This study recommended reducing tariff and NTM as well as improving trade facilitation are necessary for Indonesia. Keywords: ASEAN-Canada FTA, Economic Growth, Trade, Investment JEL Classification: F12, F13, F15
Isu Standar Pada Perdagangan Indonesia-Australia Dalam Kerja Sama IACEPA Danar Agus Susanto
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 13 No 1 (2019)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1059.624 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v13i1.334

Abstract

Abstrak Salah satu isu penting terkait kerja sama perdagangan Indonesia - Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IACEPA) adalah ‘standar’. Isu standar berhubungan dengan kepentingan konsumen, kesehatan dan keamanan, perlindungan lingkungan dan manajemen, sehingga berkaitan dengan hubungan perdagangan dan internasionalisasi produk. Isu standar pada IACEPA perlu diperhatikan dan dianalisis karena dapat menjadi kendala atau hambatan dalam hubungan perdagangan Indonesia dan Australia. Penelitian bertujuan untuk menganalisis pola perdagangan Indonesia-Australia termasuk membahas isu standar yang mungkin akan menjadi hambatan dan kendala dalam IACEPA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Australia merupakan rekan perdagangan yang penting bagi Indonesia dan begitu juga sebaliknya. Antara kedua negara, proses perdagangan bersifat saling melengkapi atau komplementer. Keterlibatan dan partisipasi Australia dalam forum pengembangan standar internasional lebih besar daripada Indonesia. Australia juga memiliki posisi tawar dan pengaturan yang lebih kompleks, baik dari segi kuantitas maupun kualitas dalam perdagangan bilateral pada sektor electrotechnology, energy, manufacturing, processing, building dan construction. Semua sektor ini memiliki 64% dari 1743 standar di Australia yang dapat berpotensi menjadi hambatan perdagangan bagi Indonesia. Penelitian ini merekomendasikan bahwa Indonesia dan Australia perlu melakukan kesepakatan terkait penerapan standar terhadap suatu produk dan perjanjian saling pengakuan dan saling keberterimaan atas hasil sertifikasi. Kata Kunci: IACEPA, Standar, Regulasi Teknis, Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian Abstract One of the important issues on the Indonesia - Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IACEPA) is a standard. Standard relates to consumer interests, health and safety, environmental protection and management, therefore its relates to trade and product internationalization. The standard issue is important to be considered and analysed as it can be an obstacle in trade relations between Indonesia and Australia. The purpose of the study was to analyze Indonesia-Australia trade patterns and to discuss the standardization issue that might become constraints in IACEPA. The results showed that Australia is an important trading partner for Indonesia and vice versa. Between the two countries, the trade process is complementary. Australia's involvement and participation in the forum for developing international standards is greater than that of Indonesia. Australia also has a more complex bargaining position and arrangements, both in terms of quantity and quality in bilateral trade in the sector of electrotechnology, energy, manufacturing, processing, building and construction. All of these sectors have 64% of the 1743 standards-based technical regulations in Australia that could potentially be a trade barrier for Indonesia. The study recommended Indonesia and Australia need to agree the implementations of standards on particular products and mutual recognition arrangements on certifications. Keywords: IACEPA, Standard, Technical Regulation, Standardization and Conformity Assessment JEL Classification: F12, F13, F63, G18, L15
Dampak Penurunan Tarif Impor, Investasi dan Relokasi Industri Ban Terhadap Perdagangan Karet Alam dan Ban Indonesia di Pasar Dunia Zainuddin .; Bonar Marulitua Sinaga; Sri Hartoyo; Erwidodo
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 13 No 1 (2019)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1330.882 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v13i1.341

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak penurunan tarif impor karet alam dan ban, peningkatan investasi dan relokasi industri ban dari USA, Jepang, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) ke Indonesia terhadap perdagangan karet alam dan ban Indonesia. Kajian ini menggunakan model sistem persamaan simultan. Deregulasi perdagangan melalui penurunan tarif impor ban telah meningkatkan ekspor karet alam Indonesia ke pasar Jepang dan RRT yang mendorong peningkatan produksi dan ekspor ban Indonesia. Kebijakan tersebut telah memberikan dampak tidak menguntungkan bagi ekspor karet alam Thailand dan Malaysia. Kombinasi antara penurunan tarif impor ban dengan tarif impor karet alam RRT memberikan dampak tidak menguntungkan terhadap produksi dan ekspor karet alam Indonesia ke pasar RRT dan tidak berdampak signifikan terhadap harga karet alam tingkat petani domestik. Selanjutnya peningkatan investasi dan relokasi industri ban dari USA, Jepang, RRT ke domestik memberikan dampak terhadap peningkatan produksi dan ekspor ban Indonesia, konsumsi karet alam domestik, peningkatan produksi dan harga karet alam di tingkat petani domestik. Perubahan positif neraca perdagangan juga terjadi ketika semakin besarnya peningkatan investasi dan relokasi industri ban ke domestik. Penelitian ini merekomendasikan agar pemerintah dan asosiasi industri melakukan industrial lobbying ke negara-negara besar pelaku industri ban dunia khususnya Asia Timur dan USA dalam kerangka kerja sama PTA atau FTA. Kata Kunci: Karet Alam, Ban, Perdagangan, Sistem Persamaan Simultan Abstract This study aims to analyze the impact of the reduction in import tariff on natural rubber and tires, increase investment and relocate of tire industry from the USA, Japan, China to Indonesia to trade in natural rubber and Indonesian tires. The analysis of the Indonesian natural rubber and tires trade used simultaneous equation system models. Trade deregulation through a reduction in tire import tariff had increased Indonesia's natural rubber exports to Japanese and Chinese markets, which has encouraged to increase Indonesian tire production. However, this policy had unfavorable impact on Thailand and Malaysia's natural rubber exports. The combination of the reduction in tire import tariff and the tariff for importing Chinese natural rubber had an unfavorable impact on the production and export of Indonesian natural rubber to the Chinese market and had a weak impact on the natural rubber prices of domestic farmers.Furthermore, increased investment and relocation of the tire industry from the USA, Japan, China to Indonesia had increased Indonesian tire production and exports, domestic consumption of natural rubber, production and prices of natural rubber at the level of domestic farmers. A positive change in the trade balance also occurred when the increasing investment and relocation of the tire industry to the domestic market grew. This study recommended the government and industrial association to conduct industrial lobbying to big tire-industry players particularly in East Asia and USA under PTA and FTA Framework. Keywords: Natural Rubber, Tire, Trade and Simultaneous Equations System JEL Classification: F13, F17, Q17
Dampak Penerapan Harga Acuan Pembelian (HAP) Gula di Tingkat Eceran Terhadap Harga Gula Petani dan Stabilitas Harga Gula Yati nuryati; Bagus wicaksena; Dwi Wahyuniarti Prabowo
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 13 No 1 (2019)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2086.673 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v13i1.354

Abstract

Abstrak Pemerintah berupaya menjaga stabilitas harga bahan pangan pokok melalui berbagai kebijakan penetapan harga. Salah satunya adalah kebijakan penetapan Harga Acuan Pembelian (HAP) pada komoditas gula. Dalam implementasinya, penerapan HAP Gula di tingkat eceran dinilai berdampak pada penurunan harga gula di tingkat petani/produsen. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan HAP Gula terhadap harga lelang gula petani dan stabilitas harga gula, dan merumuskan rekomendasi kebijakan HAP Gula yang efektif. Dengan menggunakan pendekatan analisis ekonometrik melalui Error Correction Model (ECM), hasil analisis menunjukkan bahwa kebijakan HET berpengaruh terhadap harga lelang gula petani dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, harga lelang gula petani lebih ditentukan oleh harga gula impor, stok gula nasional, dan harga lelang gula pada periode sebelumnya. Kebijakan yang berpengaruh signifikan terhadap harga lelang gula yaitu penerapan PPN Gula. Kajian ini merekomendasikan bahwa penetapan kebijakan HAP pada komoditi gula dapat terus dilakukan dalam rangka stabilisasi harga dengan melakukan evaluasi secara berkala. Pemerintah dapat mempertahankan HAP gula sebesar Rp 12.500/kg yang didukung oleh beberapa hal yaitu: menangguhkan penerapan PPN gula petani; mengawasi keberadaan satgas pangan; menerapkan pengawasan pasar gula yang memberikan kepastian pada petani, pabrik gula, dan konsumen. Kata Kunci: Kebijakan HAP, Error Correction Model (ECM), Stabilisasi Harga Gula Abstract The Government strives to keep price stability of staple food through price policy, the so-called “Harga Acuan Pembelian (HAP) for sugar”. During its implementation, the policy has given negative impact on farm gate price. This study aims to analyze the effect of HAP for sugar to farm gate price which is reflected in auction price as well as its impact to price stabilization, and formulate effective policy recommendations on HAP for sugar. Using Error Correction Model (ECM), the study shown that HAP for sugar significantly impacted the auction price yet in the short term. While for the long term, the auction price of sugar was more affected by import sugar price, national sugar stock, and sugar auction price in previous period. Moreover, the implementation of value added tax (VAT) on sugar affected significantly to the auction price. The study recommended the HAP for sugar can be consistently implemented with periodic evaluation. Accordingly, the Government can maintain the prevailing HAP at Rp 12.500/kg which has to be supported by forgoing the VAT policy on sugar; monitoring the role of task force; and strongly supervising the domestic sugar market that is favourable to farmers, sugar millers, and consumers. Keywords: Price Policy, Error Correction Model (ECM), Sugar Price Stabilization JEL Classification: E31, Q13,Q18