cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Ergonomi dan K3
ISSN : 26157732     EISSN : 26157732     DOI : -
Core Subject : Health, Engineering,
Jurnal Ergonomi dan K3 diterbikan 2 kali setahun, bulan Maret dan September. Topik makalah untuk jurnal Ergonomi dan K3 meliputi namun tidak terbatas pada: antropometri, biomekanika, fisiologi, lingkungan kerja, ergonomi kognitif, ergonomi budaya, keselamatan dan kesehatan kerja.
Arjuna Subject : -
Articles 71 Documents
Analisis Potensi Human Error Karyawan pada Industri Otomotif Berdasarkan Klasifikasi Human Error Identification Remba Yanuar Efranto; Anita Galih Saputri
Jurnal Ergonomi dan K3 Vol 3, No 2 (2018): September 2018
Publisher : Perhimpunan Ergonomi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (831.735 KB) | DOI: 10.5614/j.ergo.2018.3.2.5

Abstract

Peluang terjadinya human error dapat meningkat apabila perusahaan tidak memberikan respon yang tegas pada karyawan dalam bekerja. Keadaan ini dapat memberikan dampak negatif bagi perusahaan karena human error dapat memberikan potensi kecelakaan kerja. Dalam perusahaan penghasil alloy, potensi unsafe action dapat memberikan pengaruh terhadap kinerja perusahaan. Hal ini perlu mendapat perhatian lebih lanjut. Dalam penelitan ini potensi human error pada proses produksi dianalisis berdasarkan Taxonomy of Credible Errors. Hasil menunjukkan bahwa mode error masih banyak dijumpai pada setiap aktivitas kerja karyawan. Kategori mode error tersebut yaitu Operation Incomplete, Check omitted, Check Incomplete.
Analisis Beban Kerja Mental pada Pekerja di PT XYZ dengan Menggunakan NASA TLX Chalis Fajri Hasibuan; M Banjarnahor
Jurnal Ergonomi dan K3 Vol 4, No 1 (2019): MARET 2019
Publisher : Perhimpunan Ergonomi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.96 KB) | DOI: 10.5614/j.ergo.2019.4.1.4

Abstract

Pekerja adalah ujung tombak berjalannya sebuah usah, tuntutan tugas dan target produksi membuat operator mengalami tekanan mental yang tinggi sehingga apabila terjadi terus menerus akan mengakibatkan tingkat stress yang meningkat dan menurunnya tingkat performansi, efesiensi, dan produkstivitas pekerja. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi beban kerja mental pada pekerja di PT XYZ yang bergerak dibidang perkebunan. Dari hasil pengukuran beban mental dengan menggunakan NASA TLX diperoleh, menunjukkan bahwa beban kerja tertinggi terjadi pada reception station (whinch rope whinch operator) 82,33% dan indikator physical demand merupakan indikator yang dominan mempengaruhi beban kerja mental operator. Perlu diberikan suatu usulan perbaikan yaitu pemberian waktu isirahat tambahan di sela-sela waktu kerja, rotasi operator, pengaturan shift kerja dan perbaikan kebiasaan individual operator ketika bekerja.
Implementasi perbaikan Perilaku Kerja aman menggunakan pendekatan Behavior-Based Safety pada Industri batik di Kota Semarang Novie Susanto; Wiwik Budiawan; Ratna Purwaningsih; Dea Rahma Sabrina
Jurnal Ergonomi dan K3 Vol 4, No 1 (2019): MARET 2019
Publisher : Perhimpunan Ergonomi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.ergo.2019.4.1.3

Abstract

Penelitian pendahuluan terhadap 25 pekerja menunjukkan bahwa potensi bahaya yang dapat terjadi pada industri pembuatan batik. Bahaya tersebut meliputi gangguan pernapasan akibat mencium bau rebusan pewarna kain, kulit melepuh atau terbakar terkena malam yang panas, hingga iritasi mata akibat percikan panas pada saat merebus kain. Kondisi tersebut mendorong untuk dilakukan penelitian untuk menciptakan keselamatan dan kesehatan kerja di industri batik Kota Semarang. Metode yang digunakan adalah metode DO IT (Define, Observe, Intervene, and Test) sesuai pendekatan Behavior Based Safety (BBS). Penelitian ini menguji hubungan faktor pengetahuan, persepsi, komunikasi, dan alat pelindung diri terhadap perilaku kerja aman. Hasil yang diperoleh adalah 3 faktor, yaitu pengetahuan, komunikasi, dan alat pelindung diri mampu menjelaskan variabel perilaku kerja aman sebesar 69,1%. Implementasi perbaikan yang disarankan adalah dilakukannya sosialisasi untuk pekerja dan pemilik usaha, pengadaan alat pelindung diri, pemberian instruksi keselamatan dan kesehatan kerja, pembuatan safety sign dan safety poster, serta pembuatan SOP keselamatan dan kesehatan kerja. Kata kunci: keselamatan kerja, kesehatan kerja, bahaya, risiko, batik
Analisa Postur Tubuh Kegiatan Input Data pada PT. ABC Benedikta Anna Haulian Siboro
Jurnal Ergonomi dan K3 Vol 4, No 1 (2019): MARET 2019
Publisher : Perhimpunan Ergonomi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.097 KB) | DOI: 10.5614/j.ergo.2019.4.1.1

Abstract

Salah satu aktivitas berulang-ulang yang ada di perusahaan manufacturing adalah proses penginputan data yang dilakukan oleh Production Engineering (PE). Tugas yang dilakukan Production Engineering (PE) tersebut yaitu menganalisa produk yang bermasalah, kemudian menginput data tersebut secara langsung dari server database menggunakan computer serta merelease produk tersebut tanpa harus turun langsung ke area produksi untuk melakukan aktifitas analisa. Masalah yang dihadapi adalah produk yang harusnya ter-release ke area produksi sering terhambat dan cenderung lambat dikarenakan seringnya Production Engineering (PE) yang sering tidak masuk. Dari data kehadiran menunjukkan dalam 3 bulan terakhir sebesar 48 % ketidakhadiran dikarenakan sakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi resiko musculoskeletal disorders yang dialami oleh operator dan memberikan usulan perbaikan guna mengurangi resiko tersebut. Metode yang digunakan adalah ROSA (Rapid Office Strain Assessment). Hasil penelitian menunjukkan dengan metode ROSA kegiatan penginputan tersebut termasuk dalam level resiko tinggi yaitu 6 dengan ditemukannya sandaran tangan dan punggung pada kursi serta posisi monitor yang tidak ergonomis. Penggunaan sandaran tangan dapat mempengaruhi tingginya keluhan pada bahu dan penggunaan monitor dapat mempengaruhi tingginya keluhan pada leher. Kata kunci: input data, ROSA, resiko musculoskeletal disorders, keluhan
Usulan Perancangan Alternatif Material Handling Untuk Mengurangi Resiko Keluhan Sakit Dan Penentuan Waktu Istirahat Operator Pengangkat Galon (Studi Kasus Distribusi Galon Air Ke Toko Distributor “X”) Elty Sarvia; Willy Willy
Jurnal Ergonomi dan K3 Vol 4, No 1 (2019): MARET 2019
Publisher : Perhimpunan Ergonomi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (956.303 KB) | DOI: 10.5614/j.ergo.2019.4.1.2

Abstract

Distributor X merupakan perusahaan yang bergerak dibidang distribusi air ke distributor yang tersebar di Bandung dan sekitarnya. Pekerja pengantar air galon sering mengalami keluhan sakit di beberapa bagian tubuh dan waktu istirahat yang sangat sedikit. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis keluhan pekerja tentang rasa sakit yang dialami dengan menggunakan Kuesioner Nordic Body Map, menganalisis postur tubuh pekerja dengan metode REBA (Rapid Entire Body Assessment), menganalisis resiko cedera tulang belakang yang mungkin dialami oleh pekerja ditinjau dari metode RWL (Recommended Weight Limit) dan MPL (Maximum Permissible Limit) dan mengetahui waktu istirahat yang dibutuhkan pekerja. Hasil REBA menunjukkan bahwa aktivitas 1 dan 2 beresiko menengah, sedangkan aktivitas 3 beresiko tinggi , hasil RWL dengan nilai LI menyatakan bahwa aktivitas tersebut mungkin beresiko, dan hasil MPL dengan berat beban aktual berada diantara AL dan MPL didapatkan hasil bahwa pekerjaan mengangkat galon saat ini mempunyai resiko cedera tulang belakang apabila tidak dilakukan perbaikan. Dari hasil di atas maka diperlukan adanya alat bantu berupa troli konveyor untuk memperbaiki postur tubuh pekerja saat bekerja dan mengurangi energi yang dikeluarkan pekerja sehingga pekerja dapat terhindar dari resiko cedera tulang belakang. Energi yang dikeluarkan berkurang berarti waktu istirahat yang diperlukan oleh pekerja juga tidak selama waktu istirahat secara teoritis yaitu 10 menit.
ANALISIS RISIKO KECELAKAAN KERJA PADA STASIUN KLARIFIKASI DENGAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) PT MOPOLI RAYA Buchari Buchari; Mutia Irani
Jurnal Ergonomi dan K3 Vol 4, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Perhimpunan Ergonomi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.ergo.2019.4.2.5

Abstract

Permasalahan yang dihadapi oleh PT Mopoli Raya adalah dari data dan observasi lapangan kasus kecelakaan pada stasiun klarifikasi yang paling besar terjadi pada tahun 2017 di mana terdapat enam kasus kecelakaan kerja. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengidentifikasi risiko kecelakaan kerja pada stasiun klarifikasi PT Mopoli Raya yang menyebabkan besarnya angka kecelakaan kerja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini untuk menentukan faktor penyebab kecelakaan kerja paling berpengaruh yaitu menggunakan Analytic Hierachy Process (AHP) kemudian dilakukan pengendalian risiko keecelakaan kerja. Berdasarkan hasil perhitungan AHP, pengukuran faktor kecelakaan kerja yang memiliki total bobot tertinggi yaitu faktor manusia dengan bobot 0,2143, urutan kedua yaitu faktor peralalatan dengan bobot 0,2081, urutan ketiga yaitu faktor lingkungan dengan bobot 0,1960, urutan keempat yaitu peraturan perusahaan dengan bobot 0,1914, urutan kelima yaitu Standard Operating Procedure (SOP) dengan bobot 0,1901. Setelah itu, dilakukan analisis pengendalian risiko terhadap faktor manusia yang memilki bobot tertinggi sebagai faktor yang paling berpengaruh terhadap angka kecelakaan kerja, rekomendasi perbaikan yang dapat diberikan untuk mengendalikan tingkat kecelakaan kerja yang disebabkan oleh faktor manusia yaitu membuat peraturan yang mewajibkan pengguanaan APD yang menyesuaikan pada penyakit akbiat kerja yang sesuai potensi bahaya, membuat worksheet sebagai bahan inspeksi manajemen, membuat visual display pengunaan APD, membuat jadwal pelatihan K3 tentang pengunaan APD, manajemen melakukan pemeriksaan kesehatan pekerja secara prakarya dan berkala, perusahaan menyediakan fasilitas kesehatan untuk pekerja yang dilengkapi dengan dokter spesialis okupasi, membuat SOP disiplin sikap dalam bekerja, dan melakukan sosialisasi SOP disiplin sikap dalam bekerja. Kata kunci: Pengendalian risiko kecalakaan kerja, analytic hierachy process (AHP)
PERANCANGAN SUHU TERMAL RUANG KULIAH DENGAN MEMPERHATIKAN BEBAN AKTIVITAS, SENSASI TERMAL DAN TERMAL ACCEPTABILITY: STUDI KASUS PADA UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA Parama Kartika Dewa; Novenda Kartika Putrianto
Jurnal Ergonomi dan K3 Vol 4, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Perhimpunan Ergonomi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.726 KB) | DOI: 10.5614/j.ergo.2019.4.2.1

Abstract

Riset perancangan suhu termal selama ini berfokus kepada desain dan evaluasi ruang pada gedung yang diperuntukkan untuk kegiatan perkantoran, tempat tinggal dan kegiatan manufaktur. Faktor yang dominan diperhatikan adalah jumlah pengguna dalam ruang, temperatur dalam ruang, dan kelembaban udara dalam ruang. Perancangan suhu termal untuk ruang kelas tidak banyak ditemukan dalam literatur, terutama dengan memperhatikan beban aktivitas, sensasi termal dan termal acceptability. Penelitian ini bertujuan untuk merancang suhu termal yang ideal pada ruang kelas di Universitas Atma Jaya Yogyakarta dengan memperhatikan beban aktivitas, sensasi termal dan termal acceptability. Proses untuk mengidentifikasi suhu kenyamanan termal pada saat mahasiswa melakukan aktivitas kuliah menjadi penting untuk dilaksanakan. Hasil ini diharapkan menjadi masukan bagi tahapan penelitian berikutnya terkait dengan pengukuran energi yang diperlukan untuk menjadikan kondisi termal tersebut terwujud di ruang kuliah UAJY. Lokasi penelitian dilakukan di ruang kuliah Fakultas Teknologi Industri UAJY. Subjek penelitian adalah 120 mahasiswa. Periode waktu pengambilan data dilakukan sebanyak 2 periode setiap pengambilan data. Proses pengukuran data dan hasil dilakukan secara langsung di ruang kuliah. Suhu ruang diatur pada alternative suhu 19°C, 23°C, 27°C dan 30°C. Hasil penelitian berdasarkan analisis sensasi termal dan analisis thermal acceptability merekomendasikan suhu ruang kuliah dikondisikan 23°C yang akan menjamin kenyamanan mahasiswa saat mengikuti kuliah dalam kondisi baik. Kata kunci: kenyamanan, suhu, termal, aktivitas kuliah
Evaluasi Ergonomi dan Perancangan Fasilitas pada Institut Teknologi Bandung Herman R. Soetisna; Wida Rahmasari; Putra A. R. Yamin
Jurnal Ergonomi dan K3 Vol 3, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Perhimpunan Ergonomi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.868 KB) | DOI: 10.5614/j.ergo.2018.3.1.5

Abstract

Institut Teknologi Bandung merupakan salah satu isntitusi pendidikan tinggi di Indonesia yang bertujuan untuk menjadi universitas kelas dunia, dengan menetapkan tiga pilar strategis: peran institusi, infrastruktur, dan pengembangan institusi. Evaluasi ergonomi dilakukan di Institut Teknologi Bandung untuk mengidentifikasi sarana dan prasarana pendukung pendidikan yang sudah baik dilihat dari sudut pandang ergonomi dan memberikan rekomendasi pada sarana dan prasarana yang belum memperhatikan aspek ergonomi dalam perancangannya. Penelitian ini dibantu dengan diskusi bersama UPT K3L ITB dan Direktorat Sarana dan Prasarana ITB. Dalam penelitian ini, ditemukan 60 kasus dengan 57 jenis permasalahan yang dikelompokkan menjadi tiga prioritas, yaitu prioritas satu, dua dan tiga. Pengelompokan ini menggunakan Risk Assessment Matrix yang didasarkan pada frekuensi kejadian dan dampak yang ditimbulkan. Masing-masing rekomendasi perbaikan dilengkapi dengan estimasi biaya menggunakan analisis SNI sebagai salah satu aspek pertimbangan dalam pengelompokkan permasalahan. Setelah dikelompokkan, 43 permasalahan masuk ke dalam prioritas satu, 10 permasalahan masuk ke dalam prioritas dua, dan 4 permasalahan masuk ke dalam prioritas tiga. Total estimasi biaya untuk untuk mengimplementasi rekomendasi penyelesaian permasalahan prioritas satu adalah sebesar Rp 3.423.346.841 hingga Rp 4.312.211.240, prioritas dua sebesar Rp 6.350.001 hingga Rp 16.501.000, dan prioritas tiga sebesar Rp 11.005.800 dengan mempertimbangkan alternatif rekomendasi yang dipilih pada setiap masalah. Kata kunci: Ergonomi, ITB, Rekomendasi, Asesmen, Sarana dan Prasarana
STUDI KECELAKAAN KERJA OPERATOR MESIN DI INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA SAWIT: INVESTIGASI DAN ANALISIS PENYEBAB DENGAN METODE 5 WHYS DAN SCAT Luciana Triani Dewi; Lucy Versyanti Pangaribuan
Jurnal Ergonomi dan K3 Vol 4, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Perhimpunan Ergonomi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.146 KB) | DOI: 10.5614/j.ergo.2019.4.2.2

Abstract

Kecelakaan kerja akibat mesin merupakan kejadian yang seringkali terjadi pada industri, termasuk industri pengolahan kelapa sawit. Pencegahan kecelakaan akibat permesinan dapat dilakukan melalui pendekatan antisipasi bahaya dengan belajar dari kasus yang telah terjadi sebelumnya dan melakukan tindakan pengendalian. Penelitian terdahulu terkait kecelakaan kerja di industri pengolahan kelapa sawit lebih bersifat umum untuk menemukan penyebab dan pengendaliannya. Metode yang umum digunakan adalah analisis postur kerja, evaluasi ergonomi dan identifikasi bahaya. Penelitian ini fokus menganalisis kasus kejadian kecelakaan kerja pada operator mesin kapstan di industri pengolahan kelapa sawit yang berakibat fatal yaitu kematian. Sejauh ini belum ditemukan publikasi penelitian tentang kecelakaan akibat mesin ini. Studi yang dilakukan bersifat deskriptif analitis dengan menelaah kasus kejadian kecelakaan kerja mesin kapstan untuk menemukan akar masalah dan memberikan solusi. Teknik yang digunakan adalah 5whys dan Sytematic Cause Analysis Technique (SCAT). Analisis menghasilkan sepuluh jenis tindakan pengendalian yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan, terdiri dari 50% tindakan teknis (desain) dan 50% tindakan non teknis. Sebagai tindakan kunci adalah penyediaan tenaga ahli keselamatan kerja untuk menginduksi tindakan pengendalian lainnya. Evaluasi manajemen menilai tindakan pengendalian kunci dapat diimplementasikan dalam jangka pendek. Kata kunci: bahaya permesinan, investigasi, analisis penyebab, SCAT
Peningkatan produktifitas UKM Produk Sugarwax melalui Intervensi Ergonomi di Stasiun Kerja Lamto Widodo; Silvi Ariyanti; Jesselyn Octavia
Jurnal Ergonomi dan K3 Vol 4, No 1 (2019): MARET 2019
Publisher : Perhimpunan Ergonomi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.482 KB) | DOI: 10.5614/j.ergo.2019.4.1.5

Abstract

UKM sugarwax merupakan Usaha Kecil dan Menengah yang bergerak di bidang usaha perawatan kecantikan. Produksi industri ini adalah gel waxing untuk wanita dengan menggunakan bahan dasar gula yang dicairkan sebagai media mencabut bulu. Penelitian awal menemukan ketidaknaturalan postur tubuh pekerja. Kondisi ini menyebabkan keluhan pekerja, khusunya keluhan muskuloskeletal. Tujuan penelitian adalah mengetahui faktor penyebab keluhan musculoskeletal, tingkat risiko ergonomi, serta untuk mendapatkan rancangan stasiun kerja dan alat bantu kerja yang ergonomis. Dari kuesioner NBM (Nordic Body Map) ditemukan keluhan sakit pada leher, bahu atas, pinggang dan kaki. Aktivitas pada proses pengemasan memiliki level risiko WERA (Workplace Ergonomic Risk Assessment) dan REBA (Rapid Entire Body Assessment) tertinggi. Tahap selanjutnya, dilakukan perancangan alat bantu dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Rancangan ini diimplementasikan, dan menunjukkan skor WERA tertinggi menurun dari 47 (risiko tinggi) menjadi 27 (risiko rendah). Demikian juga skor REBA tertinggi menurun dari 11 (sangat tinggi) menjadi 5 (medium). Terjadi penurunan keluhan sakit sebesar 54%. Waktu baku aktivitas mengalami penurunan sebesar 40,85% (dari 49,249 detik menjadi 29,131 detik). Produktifitas seorang pekerja meningkat 24,2% (dari 33 menjadi 41 buah ) yang telah siap kirim per jamnya. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui faktor-faktor ergonomi lain yang mempengaruhi sistem kerja, misalnya factor lingkungan kerja dan faktor sosial. Kata Kunci: Ergonomi, Alat Bantu Kerja, WERA, REBA, produktifitas