cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 136 Documents
NON-LINEAR ANALYSIS OF HOLLOW REINFORCED CONCRETE COLUMN QUARE CROSS-SECTION WITH VARIOUS LOAD ECCENTRICITY AND CONCRETE STRENGTH Nuryanti, Pingkan; Sulityo, Djoko; Suhendro, Bambang
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 5, No 1 (2018): June
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.931 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v5i1.24083

Abstract

Hollow due to plumbing system has an effect to the building's visual and the aesthetic quality in terms of architecture. To overcome this, the pipe is planted in a construction structure such as a column. However, this will affect on the strength degradation and modes of failure of structural elements such as a column. The objective of this research is to study the strength, stiffness, ductility, cracking patterns, and modes of failure of hollow RC columns with square cross-section with various load eccentricity and concrete strength. In this research, 13 reinforced concrete columns with square cross section were made. Two of them were massive columns (C1E1, C1E2) with cross-sectional dimension of 150 x 150 mm2 and 800 mm long, six of them were hollow with the same size (C2E1, C3E1, C4E1, C2E2, C3E2, C4E2). Concrete strength fc'=34.52 MPa with eccentricity=60mm  and fc'=35.72 MPa with eccentricity 100 mm. Models were analyzed by nonlinear finite element method using ATENA v.2.1.10 software. The FE model is calibrated against recent experimental results from Zacoeb (2003). Once validated, the model is used to examine stiffness, ductility, cracking patterns, and modes of failure of hollow RC columns with a square cross-section with various load eccentricity. The numerical results show that the different ultimate load strength of C1E1, C2E1, C3E1, C4E1, C1E2, C2E2, C3E2, C4E2 are  0,32%, 2,22%, 1,61%, 7,74%, 1,25%, 0,65%, 2,63%, 1,94%, while the differents stiffnes are 18,30%, 21,30%, 23,79%, 31,57%, 15,22%, 22,67%, 21,39%, 14,41%, and the differents ductility are 48,71%, 33,64%, 3,39%, 41,04%, 52,30%, 22,99%, 18,11%, 7,76%. Crack pattern occurred in C1E1, C2E1, C3E1, C4E1, C1E2, C2E2, C3E2, C4E2 are flexural crack and shear cracks. Exhibit modes of failure of C1E1, C2E1, C3E1, C4E1 are compression failure and C1E2, C2E2, C3E2, C4E2 are tension failure.Keywords: ATENA, columns, eccentricity, failure, hollow, nonlinearANALISIS NON-LINEAR KOLOM BETON BERTULANG PENAMPANG SEGIEMPAT BERONGGA DENGAN VARIASI EKSENTRISITAS BEBAN DAN MUTU BETONLubang akibat pemasangan pipa pada konstruksi untuk keperluan instalasi (air hujan, sanitasi, listrik dan lain-lain) dapat berpengaruh pada visualitas bangunan dan akan mempengaruhi kualitas estetika dari segi arsitektur. Untuk mengatasi hal tersebut pipa ditanam didalam struktur konstruksi seperti kolom. Akan tetapi hal ini akan  menyebabkan  degradasi kekuatan beton dan  pola keruntuhan struktur pada kolom. Selain secara eksperimental, penelitian  ini dapat juga dilakukan secara numeris menggunakan  metode elemen hingga nonlinier. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan, kekakuan, daktilitas, pola retak dan model keruntuhan kolom beton bertulang penampang persegi berongga dengan variasi eksentrisitas beban dan variasi mutu beton. Dalam penelitian ini dimodelkan 8 jenis kolom beton bertulang penampang segiempat yang terdiri dari 2 kolom masif (C1E1 dan C1E2) dan 6 kolom berongga (C2E1, C3E1, C4E1, C2E2, C3E2, C4E2) dengan ukuran 150 x 150 mm2, panjang 800 mm. Mutu beton fc'=34.52 MPa dengan eksentrisitas =60mm dan mtu beton fc'=35.72 MPa dengan eksentrisitas =100mm. Kolom dianalisis menggunakan software elemen hingga nonlinier ATENA V.2.1.10 dan hasilnya dibandingkan dengan hasil eksperimen sebelumnya  dari Zacoeb (2003). Setelah  model divalidasi, dilakukan perhitungan kekakuan, daktilitas, pengamatan pola retak dan jenis keruntuhan yang terjadi pada kolom penampang segiempat berongga dengan variasi eksentrisitas beban . Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolom beton bertulang  berongga yang dimodelkan dengan ATENA yaitu untuk model kolom validasi C1E1, C2E1, C3E1, C4E1, C1E2, C2E2, C3E2, C4E2 mempunyai perbedaan beban maksimum dengan hasil eksperimen secara berturut-turut sebesar 0,32%, 2,22%, 1,61%, 7,74%, 1,25%, 0,65%, 2,63% dan 1,94%, dengan perbedaan kekakuan secara berturut-turut sebesar 18,30%, 21,30%, 23,79%, 31,57%, 15,22%, 22,67%, 21,39% dan 14,41%, dan perbedaan daktilitas  secara berturut-turut sebesar 48,71%, 33,64%, 3,39%, 41,04%, 52,30%, 22,99%, 18,11% dan 7,76%. Pola retak yang terjadi adalah pola retak lentur dan retak geser.  Pola keruntuhan pada C1E1, C2E1, C3E1, C4E1 merupakan keruntuhan tekan, sedangkan C1E2, C2E2, C3E2, C4E2  merupakan keruntuhan tarik.Kata-Kata kunci: ATENA, berlubang, eksentrisitas, keruntuhan, kolom, nonlinear.REFERENCESCervenka et al. (2007). Superior Material Models for Numerical Simulation of Concrete Cracking under Severe Conditions. Cervenka Consulting. Czech Republic.Public Work Ministry. (2007). SNI 03-2847-2007, Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Bertulang untuk Bangunan Gedung. Bandung.Poston et al. (1985). Numerical Models for Non-prismatic Solid Cross-Section Behavior and Rectangular Cross-Section on Biaxially-Bred ColumnsSuprabowo, S. (1996). Analysis of Reinforced Concrete Column Capacity Perforated. Thesis. Department of Civil Engineering, Gadjah Mada University. Yogyakarta.Supriyadi. (1997). The Effect of Holes on Strongly Reinforced Concrete Column Boundaries. Thesis. Graduate Program. Gadjah Mada University. Yogyakarta.Zacoeb. A. (2003). Flexural Capacity of Reinforced Concrete Short Column with Variations Hole, Thesis. Graduate Program. Gadjah Mada University. Yogyakarta.
POLA PEMANFAATAN RUANG PADA SELAMATAN DESA DI PERMUKIMAN PERKOTAAN, STUDI KASUS: SELAMATAN DESA RW IV KELURAHAN JAJAR TUNGGAL SURABAYA Astari, Dahlia; Nugroho, Agung Murti
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (931.827 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v2i1.13839

Abstract

Selamatan desa adalah ritual yang bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur atas panen yang melimpah dan menghindarkan diri dari mara bahaya. Di beberapa daerah di Kota Surabaya masih melaksanakan tradisi tersebut terutama di daerah pertanian. Meskipun demikian, RW IV Kelurahan Jajar Tunggal masih mempertahankan tradisi tersebut meskipun kondisi permukiman berada di wilayah padat perkotaan dengan penduduk yang mayoritas beragama Islam dan bekerja di sektor swasta dan bekerja sebagai tukang. Oleh karena itu, penelitian ini ingin mengetahui pola pemanfaatan ruang yang terjadi pada pelaksanaan selamatan desa dengan memanfaatkan jalan utama untuk melaksanakan tradisi tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan behavior mapping dengan pemetaan perilaku yaitu place centered maps. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa pola pemanfaatan ruang di jalan utama kampung berbentuk menyebar dan mengelompok di daerah yang rindang dan dekat dengan warung/toko. Sedangkan pada saat selamatan desa, pusat aktivitas terjadi hampir di sepanjang jalan utama kampung Selamatan desa is a ritual that aims to create a sense of gratitude for a bountiful harvest and refrain from danger. In some areas in the city of Surabaya still  performs  this tradition, especially in the areas that still have agricultural land. However, RW IV Kelurahan Jajar Tunggal still performs this tradition even though the conditions in the settlements located in the dense urban area with a  Muslim  majority society and livelihood as private sector employees and craftmans. Therefore, this study wants to know the pattern of utilization of space that occurs in Selamatan desa that using the main street for the tradition. The Method used is descriptive qualitative with environment behavior study approach with behavior mapping by place centered maps. The results of this study indicate that the pattern of use of the street in everyday activities shaped with spread and clustered form in an area close to stall or shady areas. While at Selamatan desa, the concentration of activity spread all along the main streetREFERENCESHaryadi & Bobby Setiawan. 1995. Arsitektur Lingkungan dan Perilaku: Teori, Metodologi dan Aplikasi. Yogyakarta: Proyek Pengembangan Pusat Studi Lingkungan: Departemen Pendidikan dan KebudayaanLang, John. 1987. Creating Architectural Theory. Van Nostrand Reinhold Co. New York.Laurens, Joyce.2004. Arsitektur dan Perilaku Manusia. PT. Grasindo. JakartaRapoport, Amos. 1977. Human Aspects of Urban Form: Towards A Man-Enviromental Approach to Urban Form And Design. Pergamon Press, New York.Wahid, Julaihi & Bhakti Alamsyah. 2013. Teori Arsitektur: Suatu Kajian Perbedaan Pemahaman Teori Barat dan Timur. Graha Ilmu. YogyakartaZeisel, John. 1981. Inquiry by Design: Environment/Behavior/Neuroscience in Architecture, Interiors, Landscape and Planning. Wadsworth Inc, Belmont. California 
IDENTIFIKASI POLA STRUKTUR RUMAH TINGGAL, STUDI KASUS: ARSITEKTUR TRADISIONAL MELAYU DI KOTA PONTIANAK Zain, Zairin; Shafa Alam, Rinada
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 4, No 1 (2017): June
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2006.525 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v4i1.20394

Abstract

Bangunan – bangunan tradisional yang berbeda secara etnis menjadi saksi fisik atas pembangunan pada masa lampau yang berlandaskan adat istiadat sehingga menjadikan bangunan tradisional etnis Melayu di Kelurahan Bansir Laut Kecamatan Pontianak Tenggara memiliki ciri dan pola struktur tersendiri. Oleh karena itu, perlu dilakukan identifikasi pola struktur yang menjadi dasar konstruksi pada bangunan rumah tradisional etnis Melayu ini untuk mendapatkan perkembangan jenis karya arsitektur tanpa arsitek ini. Pengamatan penelitian ini difokuskan pada sebuah bangunan tradisional Melayu di Kelurahan Bansir Laut dengan tujuan melakukan identifikasi pola struktur. Analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan struktur per segmen berdasarkan grid-grid yang ditemukan pada obyek penelitian. Grid tersebut dianalisis dengan pembagian struktur bawah, tengah dan atas. Grid-grid tersebut dihitung dan dianalisis terhadap volume material struktur dan volume ruang strukturnya. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa struktur bawah menopang 7/5 dari total konstruksi struktur bawah dan struktur atas. Dengan komparasi antarastruktur tengah, bawah dan atas maka disimpulkan bahwa volume material pada grid struktur bawah di studi kasus harus lebih besar dari volume material struktur tengah. Penggunaan material struktur bawah yang terlalu besar menyebabkan keborosan struktur jika dibandingan dengan volume ruang yang dinaungi.Hal ini sebagai konsekuensi grid struktur bawah menjadi elemen yang menopang struktur tengah dan atas bangunan rumah tradisional. Kata-kata kunci: pola struktur, rumah tradisional, komposisi  IDENTIFICATION OF HOUSE STRUCTURAL PATTERN, CASE STUDY: MALAY TRADITIONAL ARCHITECTURE IN PONTIANAK CITYTraditional buildings which different ethnically were physical witnesses of past development, which was based customed so this made the Malays traditional building in the Village of Sea Bansir District of Pontianak Southeast has the characteristics and the pattern of its own structure. Therefore, it is necessary to identify the pattern of the structure as base of the construction on the houses of traditional Malays to get the development of this architecture without architects. This study focused on a traditional Malay building in the Village Bansir Sea with the aim to identify the structural pattern. The analysis was performed by describing the structure per segment based on grids that were found on the object of study. The grid structure was analyzed by divide it into lower, middle and upper structure. Grids were calculated and analyzed in relation to the volume of structural material and volume of space structure. From this study it could be concluded that the structure under construction prop up 7/5 of the total bottom structure and the upper structure. By comparison between lower, middle and upper structure, it was concluded that the volume of material at the bottom of the structure grid in the case study should be greater than the volume of the structural material of the center. The use of massive lower structural materials caused structure dissipation when compared with the volume of shaded space. This was the consequence of lower grid structure element that sustained the structure of the middle and top of traditional houses. Keywords: Structural pattern, traditional house, composition REFERENCESKhaliesh, Hamdil. (2014). Arsitektur Tradisional Tionghoa: Tinjauan Terhadap Identitas, Karakter Budaya Dan Eksistensinya. Langkau Betang; Jurnal Arsitektur Universitas Tanjungpura (LANTANG UNTAN),Vol 1 No 1 (2014). Program Studi Arsitektur Universitas Tanjungpura. Pontianak Lestari; Zairin Zain; Rudiyono; Irwin. (2016). Mengenal Arsitektur Lokal : Konstruksi Rumah Kayu Di Tepian Sungai Kapuas. Langkau Betang; Jurnal Arsitektur Universitas Tanjungpura (LANTANG UNTAN), VOL 3 NO 2 (2016). Program Studi Arsitektur Universitas Tanjungpura. Pontianak Manurung, Parmonangan. (2014). Arsitektur Berkelanjutan, Belajar Dari Kearifan Arsitektur Nusantara. Prosiding pada Simposium Nasional RAPI XIII - 2014 FT Universitas Muhammadiyah Surakarta A75-81. ISSN 1412-9612. Mayasari, Maria Sicilia; Lintu Tulistyantoro; M Taufan Rizqy. (2014). Kajian Semiotik Ornamen Interior Pada Lamin Dayak Kenyah ( Studi Kasus Interior Lamin Di Desa Budaya Pampang). JURNAL INTRA Vol. 2, No. 2, (2014) 288-293 Rahmansah; Bakhrani Rauf. (2014). Arsitektur Tradisional Bugis Makassar (Survei Pada Atap Bangunan Kantor Di Kota Makassar). Jurnal Forum Bangunan : Volume 12 Nomor 2, Juli 2014 Suharjanto, Gatot. (2011). Membandingkan Istilah Arsitektur Tradisional Versus Arsitektur Vernakular: Studi Kasus Bangunan Minangkabau Dan Bangunan Bali. ComTech Vol.2 No. 2 Desember 2011: 592-602 Usop, Tari Budayanti. (2011). Kearifan Lokal Dalam Arsitektur Kalimantan Tengah Yang Berkesinambungan. Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 6 Nomor 1 Juli 2011
KARAKTERISTIK FASAD BANGUNAN RUMAH KOMPAK Apriyanti, Rahmatika; Alhamdani, Muhammad Ridha
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.795 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v3i1.16722

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sumber informasi yang sangat kurang mengenaikarakteristik fasad rumah kompak yang ada di Indonesia. Sehingga tujuan dari penelitian iniadalah menganalisa karakteristik fasad pada beberapa rumah kompak yang ada di Indonesia.Rumah kompak merupakan rumah yang memiliki keselarasan antara desain rumah danfurnitur. Konsep pemanfaatan ruang pada rumah kompak adalah pemanfaatan furnitur secaramaksimal karena furnitur adalah bagian dari ruang. Rumah kompak memiliki karakter khususterutama pada tata ruang dan fasad. Fasad rumah kompak terbentuk karena pada umumnyakonsep rumah kompak adalah simple dan juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. This research is motivated by the lack of resources about the chacarteristics of compact house facade. This research is aimed to analyze the characteristics of several facades of the compact house in Indonesia. Compact house is a house which have a balance between  the house and its funiture. The space allocation concept  inside the compact house applied by maximazing by the furniture because it is considered as a part of the space. The compact house have a specific characteristic especially in the space arrangement and the facade. The compact house facade formed in the simple concept and influenced by the surrounding.REFERENCESAdmadjaja, Jolanda Srisusana., Meydian Sartika Dewi (1999). Bab 4 Unsur Rupa Sebagai Elemen Komposisi. Gunadarma. JakartaAkmal, Imelda (2012). Compact House. Imaji. JakartaAkmal, Imelda (2012). Small & Budget House. Imaji. JakartaAkmal, Imelda (2013). Tropical Modern. Imaji. JakartaChing, Francis D.K (2008). Arsitektur:Bentuk,Ruang,danTatanan(EdisiKetiga). Erlangga.JakartaDewi, Ni Made Emmi Nutrisia. (2014). Kajian Interior Elemen Pembentuk  Dan  Pelengkap Pembentuk  Ruang. Program Studi Desain Interior, Sekolah Tinggi Desain BaliFauzy, Bachtiar., Purnama Salura., Agnes Kurnia (2013).  Sintesis Langgam Arsitektur Kolonial  Pada  Gedung  Restauran ‘Hallo Surabaya’ Di Surabaya . Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Katolik ParahyanganFitriyanin (….). Metode Penelitian. Universitas Komunikasi Indonesia. BandungKrier, Rob (2001). Komposisi Arsitektur. Erlangga. JakartaPujantara, Ruly (2010). Karakteristik  Fasade  Bangunan Peninggalan  Kolonialisme  Dan Sebaran Spasialnya Di Kota MakassarSaraswati, A.A.Ayu Oka. (2006). Bale Kulkur Sebagai Bangunan Penanda Pendukung Karakter Kota Budaya. Dosen Sejarah Arsitektur, Universitas Udayana BaliUtami., Mario Wibowo., Abdul Jabbar Faruk (2014). Kajian Bentuk dan Fasad Hotel Gino Feruci Bandung. Jurusan Teknik Aristektur, Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan, Institut Teknologi Nasional BandungWidaningsih, Lilis (2004). Karakteristik Fasade Bangunan Factory  Outlet Di  Jalan Ir. H. Djuanda Bandung. Jurusan Teknik Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung
TAHAPAN KONSTRUKSI RUMAH TRADISIONAL SUKU MELAYU DI KOTA SAMBAS KALIMANTAN BARAT Zain, Zairin; Fajar, Indra Wahyu
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.656 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i1.18805

Abstract

Arsitektur tradisional sebagai hasil karya suku bangsa di Indonesia telah membentuk dan mengembangkan adat tradisi sesuai dengan kebutuhan mereka. Adat tradisi merupakan bagian budaya yang mereka ciptakan untuk memfasilitasi aktivitas keseharian. Arsitektur rumah Melayu tradisional di kota Sambas sebagai bagian dari  kebudayaan nusantara mempunyai struktur dan tahapan konstruksi yang memberikan karakteristik sendiri. Penelitian ini dilakukan terhadap sebuah rumah tradisional suku Melayu di  kota Sambas yang berada di Kampung Dagang Timur. Tulisan ini melakukan eksplorasi pada tahapan Konstruksi pada obyek penelitian ini dan juga memberikan pengamatan yang intensif pada sambungan balok dan kolom. Pengamatan ini sebagai penguatan tahapan konstruksi untuk memberikan stabilitas struktur pada rumah tradisional tersebut. Bangunan dengan stabilitas yang tinggi di rumah tradisional Suku Melayu di Kota Sambas dapat tercipta dengan sistem konstruksi yang bai dan  mengacu  pada  kaidah-kaidah  normatif pelaksanaan  tahap  konstruksi yang  secara  alamiah  dipahami  turun  temurun  oleh masyarakat  tradisional Suku  Melayu  di  Kota  Sambas. Penentuan sistem struktur  dan tahapan konstruksi  pada  rumah Tradisional  Suku Melayu di kota  Sambas mampu memberikan keseimbangan bangunan baik secara melintang maupun memanjang bangunan  sehingga  struktur  menjadi  stabil dan  juga memudahkan dalam  keseluruhan tahapan konstruksi rumah Tradisional Suku Melayu di kota Sambas. Traditional architecture as the works of national ethics in Indonesia has formed and developed the traditional customs to fit their needs. Indigenous traditions are part of the cultural behavior as they created to facilitate the daily activities. The architecture of traditional houses of the Malay in the town of Sambas, as part of culture of the archipelago, has structures and  a construction phase that gives its own characteristics. This research was carried out on a traditional house of Malays in the town of Sambas residing in Kampung Dagang Timur. This paper conducted an exploration on the stages of construction to the research object and also provide the intensive observation on the beam and column connections. This observation as the strengthen for the construction phase to provide explanations of the structure stability  on the traditional house. Buildings with high stability found in a traditional house of Malays of the town of Sambas can be created with the construction in a good system and refers to the normative rules of the construction phase that are naturally understood by a hereditary of the traditional Malay society in the city of Sambas . Determination of structural systems and construction phases of the traditional house of Malays in the town of Sambas is able to provide the balance of the building both transverse and longitudinal views so that structure of the building becomes stable and also facilitate the overall construction phase of Traditional house of Malays in the town of SambasREFERENCESAhmad, Abdullah Sani; Jamil Abu Bakar; Fawazul Khair Ibrahim. 2006. Investigation On The Elements Of Malay Landscape Design. Fakulti Alam Bina Universiti Teknologi Malaysia. MalaysiaKuncoro, Wahyu Tri. 2010 Perubahan Nilai Simpang Horisontal Bangunan Bertingkat Setelah Pemasangan Dinding Geser Pada Tiap Sudutnya. Universitas Sebelas Maret. SurakartaKwantes, J. 1985. Mekanika Bangunan Jilid 2. Erlangga. JakartaWahl, Iver. 2007. Building Anatomy : An Illustrated Guide to How Structures Work. Mc.Graw Hill Company Inc. New YorkZain, Zairin. 2003. Sistem Struktur Rumah Tradisional Suku Melayu Di Kota Sambas Kalimantan Barat. Tesis Program Magister Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada.  YogyakartaZain, Zairin. (2012a). Pengaruh Aspek Eksternal Pada Rumah Melayu Tradisional di Kota Sambas. Jurnal NALARs, Vol 11 No 2 Juli 2012. Universitas Muhammadiyah Jakarta. JakartaZairin Zain. 2012b. Analisis Bentuk dan Ruang pada Rumah Melayu Tradisional di Kota Sambas, Kalimantan Barat. Jurnal NALARs Volume 11 No. 2 Universitas Muhammadiyah Jakarta. JakartaZain, Zairin. 2012c. The Structural System of Traditional Malay Dwellings in Sambas Town West Kalimantan Indonesia. International Journal of the Malay World and Civilization, Volume 30 no. 1 June 2012,  Published by the institute of the Malay world and Civilization Universiti Kebangsaan Malaysia. JohorBahruZain, Zairin; Erich Lehner. 2012. Space: Identifications and Definitions, Study Case on Traditional Malay Dwellings of West Kalimantan, Indonesia. Proceeding of the 1st Biennale International Conference on Indonesian Architecture and Planning (ICIAP) July 10-11, 2012. Yogyakarta. Indonesia, UGM YogyakartaZain, Zairin. 2013.The Anatomy of Traditional Dwellings: Comparative Study between Malay and Dayak Indigenous Architecture in West Kalimantan. LAP Lambert Academic Publishing/ AV Akademikerverlag GmbH & Co. KG. Saarbrücken. Germany
IDENTIFIKASI PEMANFAATAN AIR BERSIH DI PERMUKIMAN PERKOTAAN (STUDI KASUS KELURAHAN SUNGAI BANGKONG KOTA PONTIANAK) Kalsum, Emilya; Purnomo, Yudi; Caesariadi, Tri Wibowo
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 4, No 2 (2017): December
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.467 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v4i2.23250

Abstract

Hujan merupakan salah satu sumber air bersih yang sangat potensial di wilayah tropis basah. Kelurahan Sungai Bangkong Kota Pontianak merupakan wilayah yang memiliki curah hujan dalam kategori menengah-tinggi. Di wilayah ini, hujan memiliki potensi sebagai sumber air bersih dan juga sekaligus sebagai penyebab genangan. Wilayah ini juga merupakan kawasan permukiman dengan kepadatan yang tinggi yang membutuhkan cukup besar suplai air. Penelitian ini mencoba memberikan gambaran tentang pemanfaatan air bersih di wilayah permukiman perkotaan.Penelitian ini menggunakan pendekatan statistika deskriptif. Beberapa variabel yang akan dijelaskan adalah sumber air, penampungan air, sistem aliran, tinggi, durasi dan penyebab genangan. Penelitian memberikan gambaran tentang perlunya peningkatan penampungan dan pemanfaatan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di kawasan permukiman. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah air hujan tetap menjadi sumber air bersih warga, namun pemanfaatannya relatif lebih rendah dibandingkan penggunaan air yang berasal dari PDAM dan air tanah.Kata-kata Kunci: Air hujan,  permukiman, perkotaan, Kota Pontianak IDENTIFICATION OF USE OF CLEAN WATER IN URBAN SETTLEMENT AREA (A CASE STUDY OF KELURAHAN SUNGAI BANGKONG KOTA PONTIANAK)Rain is one of the potential clean water sources in the wet tropics area. Kelurahan Sungai Bangkong, Kota Pontianak, is an area that has rainfall in the middle-high category. In this region, rain has the potential as a source of clean water and also as a cause of runoff. It is also a high density settlement area that requires a substantial supply of water. This research tries to describe the utilization of clean water in urban settlement area.This research uses descriptive statistical approach. Some of the variables to be explained are water source, water reservoir, flow system, height, duration and cause of runoff. The study provides an overview of the need to increase rainwater storage and utilization to meet clean water needs in residential areas. The results obtained in this study is that rainwater remains the main source of clean water for residents, but its utilization is relatively lower than the use of water coming from PDAM and other sources.Keywords: precipitation, rainwater, urban settlement, Kota PontianaREFERENCESBPS Kota Pontianak. (2017). Kota Pontianak dalam Angka 2017. Pontianak: Badan Pusat Statistik Kota Pontianak.Lippsmeier, G. (1997). Bangunan Tropis. Jakarta: Penerbit Erlangga.Nazir, M. (2003). Metode Penelitian. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia.Noerbambang, S. M., & Morimura, T. (2000). Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plambing. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.Purnomo, Y., & Wulandari, A. (2015). Infiltrasi sebagai Pendekatan Pengendalian Intensitas Pemanfaatan Ruang di Kota Pontianak. Prosiding Seminar Nasional Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 2015 (hal. 259-272). Pontianak: Universitas Tanjungpura.Purnomo, Y., & Wulandari, A. (2017). Presipitasi dalam Perencanaan Arsitektur di Kota Pontianak. Prosiding Seminar Nasional Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 2017. Pontianak: Universitas Tanjungpura.Purnomo, Y., Kalsum, E., & Caesariadi, T. W. (2017). Strategi Perencanaan Perumahan terhadap Presipitasi di Kota Pontianak. Pontianak: Tidak dipublikasikan.Santoso, S. (2015). Menguasai Statistik Parametrik : Konsep dan Aplikasi dengan SPSS. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.Sujarweni, V. (2015). Statistik untuk Bisnis dan Ekonomi. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.Tangoro, D. (2006). Utilitas Bangunan. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia
TIPOLOGI ARSITEKTUR TRADISIONAL MAMASA, SULAWESI BARAT Mithen, ,
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.118 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v2i1.13835

Abstract

Mamasa merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat yang mempunyai budaya lokal tersendiri, dan permukimannya masih ada yang mempertahankan iklim tradisional. Hingga saat ini, populasi arsitektur tradisional Mamasa masih terdapat di 7 kecamatan, terdiri atas 30 situs kampung tradisional dengan kondisi yang semakin berkurang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tipologi rumah tradisional Mamasa sebagai upaya inventarisasi dan dokumentasi arsitektur tradisional Mamasa. Metode penelitian dilakukan secara kualitatif-eksploratif melalui survei dan observasi ke situs-situs populasi arsitektur tradisional yang masih ada di beberapa perkampungan, serta melakukan wawancara kepada orang-orang tua yang masih mengetahui seluk-beluk rumah tradisional. Teknik analisis data dilakukan secara tipologi dengan cara membandingkan hasil wawancara dengan responden serta penelitian sebelumnya. Produk pengumpulan data berupa hasil wawancara serta foto-foto lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada lima jenis tipologi rumah tradisional Mamasa, terdiri atas: 1) banua longkarrin (rumah sederhana), 2) banua rapa’ (rumah yang berwarna alami), 3) banua disussuk (rumah yang diukir khusus), 4) banua bolong (rumah yang berwarna hitam), dan 5) banua sura’ (rumah ukir). Mamasa is one of a regency in West Sulawesi Province, which has a special local culture and part of the settlements were still maintain their traditional scene. Presently, the number of Mamasa traditional buildings is still exist in 7 districts, consist of 30 traditional village sites, but continue decreasing. This research aimed to find out the tipology of Mamasa traditional houses for inventory and documentation of Mamasa traditional architecture. This research was performed by qualitative-explorative technique through survey and observation at the site. Subsequently, this research carried out interview to the respondents which still have information about Mamasa traditional houses. Analysis was performed by making building typology, by comparing interview result and previous research. Product of data collection are interview transcripts  and  site images.  Findings  indicates  that there are five tipology  of Mamasa traditional houses, which are: 1) banua longkarrin (Simple house);  (natural colour house) 3) banua disussuk (Special carving house) 4) banua bolong; (black house); banua sura (Carving house) REFERENCESAnonim,1998. Pengantar Arsitektur. Bahan penataran dosen arsitektur. Cisarua BogorBarliana, Syaom M. 2004. Tradisionalitas dan Modernitas Tipologi Arsitektur Masjid. Dimensi Teknik Arsitektur Vol.32 No.2 Hal. 110 - 118  Bonggalangi (Umur 70 tahun). Komunikasi Pribadi, Oktober 2013Hellman, Louis. 1988. Architecture For Beginners. Amazon, Co.UkMandadung, Arianus. 1999. Mamasa Dalam Lintasan Sejarah, Budaya, dan Pariwisata. MakassarMangunwijaya, Y.B. 1992. Wastu Citra. Gramedia, JakartaMattulada. 1992. Penerapan Unsur Tradisional Kedalam Bangunan Baru. Seminar Nasional Kebudayaan dan Arsitektur, UGM, YogyakartaPai’pinan (Umur 68 tahun). Komunikasi Pribadi, Juli 2013PH Pualillin (Umur 70 tahun).  Komunikasi Pribadi, Desember 2012Poerwadarminta, W.J.R. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. PN. Balai Pustaka, JakartaPresiden Republik Indonesia. 2002. Undang-Undang No. 11 Tahun 2002 Tentang Pembentukan Kabupaten Mamasa dan Kota Palopo di Provinsi Sulewesi SelatanRebong (Umur 85 tahun). Komunikasi Pribadi, Maret 2012Ruskin, J. 1992. Tradition and Architecture. University  Press, Manchester Siegel, Curt. 1962. Structure and Form in Modern Architecture. Vand Nostrad Reinholf, New York Tandirandan (Umur 82 tahun). Komunikasi Pribadi, Oktober 2013
PERUBAHAN BENTUK RUMAH TRADISIONAL BANUA SULU’ DI MASAMBA KABUPATEN LUWU’ UTARA PROPINSI SULAWESI SELATAN ., Mithen; Puteri Rinal, Karina
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 4, No 1 (2017): June
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.272 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v4i1.20391

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat dan menelusuri perubahan bentuk rumah tradisional Banua Sulu’ di Masamba Kabupaten Luwu’ Utara. Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi eksploratif untuk mencari dokumen-dokumen masa lampau dan menelusuri  perubahan bentuk Banua Sulu’ Variabel penelitian, terdiri atas: Tata letak, tata ruang, Fasade, Struktur/material struktur, dan ornamen. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriftif kualitatif, yaitu menganalisis setiap  variabel secara deskriptif, memaknai setiap perubahan yang terjadi, yang terdiri atas empat alur kegiatan, yaitu  pemilihan data, penyajian data, analisis dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  telah terjadi perubahan bentuk secara signifikan  terutama dalam hal penggunaan material struktur. Hal ini  digunakan ketika adanya renovasi, dan elemen wujud fisik yang paling banyak berubah adalah  bagian Atap (Botting langi) terutama  coppo’ atau timpa’ laja’ yang awalnya bersusun dua, telah berubah  menjadi bersusun tiga, material atap juga berubah dari atap daun rumbia menjadi atap seng.  Pada bagian badan rumah ( Ale bola ) utamanya lantai dan dinding hampir keseluruhan diganti yang mengakibatkan  hilangnya identitas pada bentuk ornamen dinding, jumlah tiang juga bertambah dari 36 menjadi 43 buah, serta adanya penambahan ruang yang disebabkan oleh  kebutuhan ruang untuk mewadahi aktivitas penghuni, yang telah berubah menjadi masyarakat modern. Kata-kata kunci: perubahan, bentuk, rumah tradisional, Banua Sulu’  THE TRANSFORMATION OF TRADITIONAL HOUSE OF BANUA SULU’ IN MASAMBA LUWU’ UTARA REGENCY SOUTH SULAWESI PROVINCEThis study aimed to see and track changes in the traditional house form of Banua Sulu' in North Masamba Luwu' Regency. This type of research is qualitative research. Data was collected by observation, interview, and exploratory documentation search for past documents and do track changes of Banua Sulu' shape. Variables of research consist of zone layout, spatial layout, facade, structure/material of structures, and ornaments. The data analysis technique used was descriptive qualitative analysis, which analyzed every variable descriptive and interpret the meaning of any changes that occurred, four-flow of activities, namely the selection of data, presentation of data, analysis, and conclusion. The results showed that there has been a significant change in shape, especially in terms of the use of structural materials. It is used when they did renovation and the most changing physical form elements was the roof (Botting langi) mainly coppo' or overwrite timpa’ laja', which was originally duplex, has turned into a three-tiered, roof material was also changed from the roof of sago palm leaves into tin roof. In the main shape of the house (Ale bola), main floor and walls were almost entirely replaced, resulting in a loss of identity in the form of wall ornaments, the number of poles also increased from 36 to 43 pieces, and the additional rooms caused by the need for space to accommodate the occupants, who has transformed into a modern society. Keywords: transformation, forms, traditional house, Banua Sulu’ REFERENCESAlbert, Grubauer. 1911. Foto-foto dokumentasi Keluarga. Altman, Irwin and Werner, Coral M. (1985). Volume 8. Home Environments Human Behavior and Environments. New York and London: Plenum Press. Depdikbud.  (2007). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: PN Balai Pustaka Le Corbusier.1923. Toward A New Architecture (Vers Une Architecture, Paris: G. Crès et Cie), Frederick Etchells (trans.), New York: Praeger, 1960; John Goodman (trans.) Santa Monica, CA: Getty Publications, 2007. Lullulangi, Mithen dan Sampebua’, Onesimus. (2007). Arsitektur Tradisional Toraja. Makassar : Badan Penerbit UNM. Machmud. (2006). Architecture Articles. Antariksa. diposting 8 Januari 2011. (http://antariksaarticle./, diakses 20 juli 2014) Mangunwijaya, Y.B. (1992). Wastu Citra. Jakarta: Gramedia. Miles, M.B  and  Huberman, A.M. (1992). Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI Press. Robinson. (1983). Rumah Adat, Tradisi Menre Bola, dan Dapur Orang Bugis Makassar. diposting 2008. Farid. (http://www.rappang.com, diakses 10 Desember 2013). Ronny Sondakh, Julianus Anthon. (2003). Arsitektur Vernaculer. Proposal Disertasi Pascasarjana UGM Yogyakarta. (online) (repository.unhas.ac.id, diakses 29 September 2014) Runa, I Wayan. (1993). Arsitektur Vernaculer. Proposal Disertasi Pascasarjana UGM Yogyakarta. (online) (repository.unhas.ac.id, diakses 29 September 2014). Ruskin, John.1849. The Seven Lamps of Architecture (London: Smith, Elder, and Co.), New York: Dover Publications, 1989. Said. (2004). Kearifan Lokal Masyarakat Kudus Kulon dalam Tradisi Perawatan Rumah. (http://www.arupadhatu.or.id/artikel/budaya/124-.html, diakses 07 Juni 2014) Soeroto, Myrtha. (2003). Sejarang dan Budaya Kebudayaan Toraja. Jakarta : Myrtle Publishing.
KARAKTERISTIK MEKANIS DAN PERILAKU LENTUR BALOK KAYU LAMINASI MEKANIK Putri, Ratna Prasetyowati; Yoresta, Fengky Satria
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.07 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v3i1.16717

Abstract

Penggunaan paku atau baut maupun kombinasinya dengan perekat sebagai penghubungantar lamina pada balok kayu laminasi akan mempengaruhi karakteristik mekanis danperilaku keruntuhan balok tersebut. Penelitian ini bertujuan menentukan karakteristikmekanis dan menganalisa perilaku lentur balok kayu laminasi mekanik. Tiga tipe baloklaminasi digunakan dalam penelitian ini, ditambah balok glulam sebagai kontrol. Balok tipe 1menggunakan baut/paku di sepanjang bentang sebagai penghubung antar lamina. Balok tipe 2hanya menggunakan paku/baut pada sepertiga bentang di kedua ujung balok, sedangkan padasepertiga bentang lainnya menggunakan perekat. Paku atau baut pada balok tipe 3ditempatkan pada sepertiga bentang di tengah balok dan sisanya menggunakan perekat.Pengujian lentur dilakukan dengan metode one point centre loading dengan jarak antartumpuan 90cm. Hasil penelitian menyimpulkan balok tipe 3 memiliki nilai ModulusElastisitas (MOE) tertinggi dibandingkan balok tipe 1 dan tipe 2. MOE balok laminasitertinggi terdapat pada balok laminasi-paku diameter 0.3 cm tipe 3 (52162.95 kg/cm2)sedangkan terendah pada balok laminasi-paku diameter 0.3 cm tipe 1 (11077.41 kg/cm2).Modulus of Rupture (MOR) tertinggi terdapat pada balok laminasi-paku diameter 0.3 tipe 3(368.16 kg/cm2) dan terendah pada balok laminasi-baut diameter 0.5 cm tipe 3 (207.36kg/cm2). Balok kontrol memiliki nilai MOE dan MOR tertinggi dibandingkan semua baloklaminasi mekanik. Posisi penempatan baut, paku, dan perekat pada balok laminasi hanyaberpengaruh terhadap nilai MOE. Semua kerusakan yang ditemukan pada balok laminasimekanik adalah berupa kerusakan lentur dan geser antar lamina The use of nails or bolts or its combination with adhesive as connector between lamina on laminated wood beams will affect the mechanical characteristics and collapse behavior of the beam. This study aims to determine the mechanical characteristics and analyze the flexural behavior of mechanical-laminated wood beams. Three types of the mechanical-laminated beams used in this study beside glulam beams as control. The type 1 using bolts/nails along the span as a connector between laminas. Beam type 2 only using nails/bolts on the one-third span at both ends of the beam, while adhesive on the other space of span. Nails or bolts on beam type 3 is placed on the one-third span at the middle of the beam, and the other space using adhesive. Bending test was conducted by using one-point centre loading method with 90 cm of span. The study concluded that beam type 3 has the highest value of Modulus of Elasticity (MOE) compared to beam type 1 and type 2. The highest MOE for laminated beams is found on nail-laminated beam with diameter of 0.3 cm type 3 (52162.95 kg/cm2) while the lowest one is on nail-laminated beam with diameter of 0.3 cm type 1 (11077.41 kg/cm2). The highest Modulus of Rupture (MOR) is found on nail-laminated beam with diameter of 0.3 cm type 3 (368.16 kg/cm2), and the lowest one is on bolt-laminated beam with diameter of 0.5 cm type 3 (207.36 kg/cm2). The control beam has the highest value of MOE and MOR compared to all mechanical-laminated wood beams. Position of bolts, nails, and adhesive on the laminated beams is only affects to MOE. All damage found on the mechanical-laminated beams is in form of flexural collapse and shear failure among laminas.REFERENCESAnshari, B (2006). Pengaruh variasi tekanan kempa terhadap kuat lentur kayu laminasi dari kayu meranti dan keruing. Civil Engineering Dimension. 1(8):25-33.Gere, JM dan Timoshenko, SP (2000). Mekanika Bahan. Suryoatmono B, penerjemah; Hardani W, editor. Jakarta (ID): Penerbit Erlangga. Terjemahan dari: Mechanics of Material Fourth Edition.[JAS] Japanese Agricultural Standard (2003). Glued Laminated Timber. JAS 234:2003.Mardikanto, TR., Karlinasari, L., Bahtiar, ET (2011). Sifat Mekanis Kayu. Bogor (ID): IPB Press.Moody RC., Hernandez, R., Liu, JY (1999). Glued structural members. Di dalam: Wood and Handbook, Wood as Engineering Material. Madison, WI: USDA Forest Service, Forest Product Laboratory.P3HH (2008). Petunjuk Praktis Sifat-Sifat Dasar Jenis Kayu Indonesia. Indonesia (ID): Indonesian Sawmill and Woodworking Association (ISWA) ITTO Project Pd 286/04.Sadiyo, S., Wahyudi, I., Yeyet (2011). Pengaruh diameter dan jumlah paku terhadap kekuatan sambungan geser ganda tiga jenis kayu. Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan. 4(1): 26-32.Widiati, KY (2001). Pengaruh Tekanan dan Waktu Tekan  terhadap Keteguhan Rekat dan Penetrasi Perekat pada Kayu Lamina Prosiding Seminar Nasional IV MAPEKI; 6-9 Agustus 2001; Samarinda (ID).Yap KHF (1999). Konstruksi Kayu. Bandung (ID): Trimitra Mandiri
ARSITEKTUR TRADISIONAL TIONGHOA: TINJAUAN TERHADAP IDENTITAS, KARAKTER BUDAYA DAN EKSISTENSINYA Khaliesh, Hamdil
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.569 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i1.18811

Abstract

Budaya merupakan sebuah proses perkembangan pola pikir yang terjadi secara bertahap dalam waktu yang lama. Proses ini terjadi selama manusia ada dan terus  berkembang sesuai dengan  pengembangan wawasan keilmuan. Setting lingkungan merupakan salah satu faktor yang berperan kuat dalam pembentukan karakter budaya. Tionghoa merupakan etnis yang  banyak melakukan perpindahan ke daerah lain termasuk diantaranya daerah barat dan asia, baik dengan hubungan perdagangan maupun ekspedisi. Saat ini, banyak ditemukan daerah  Permukiman Tionghoa di beberapa tempat, sebut saja  Pecinan atau China town. Namun yang menarik adalah perbedaan tempat dan lingkungan tersebut tidak membuat eksistensi Budaya Tionghoa memudar. Dari sekian banyak karakter budaya Tionghoa, yang paling menonjol adalah bentuk arsitekturnya. Hal ini terjadi karena bentuk budaya yang paling mudah dilihat adalah bentuk fisiknya dalam hal ini  arsitektur bangunannya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bagaimana Budaya Tionghoa dapat bertahan dengan eksistensi nilai arsitektur bangunannya. Pemahaman terhadap karakteristik Arsitektur Tionghoa menjadi sangat penting dalam  memahami perkembangan budayanya. Penelitian ini dibatasi pada ruang lingkup arsitektur tradisional. Pemilihan wilayah studi juga berkaitan dengan  perbandingan Arsitektur  Tionghoa pada budaya barat dan timur. Interpretasi deskriptif berdasarkan persamaan dan perbedaan arsitektur  bangunan  akan menjelaskan bagaimana Etnis Tionghoa mampu meminimalisir pengaruh budaya lain terhadap karakter arsitekturnya. Hasil penelitian menunjukan identitas arsitektur tradisional Tionghoa  terbentuk  dengan konsistensi terhadap  nilai kepercayaanya. Sementara  kepercayaan adalah landasan utama yang membentuk Kebudayaan Tionghoa. Oleh karena itu,  refleksi eksistensi Budaya Tionghoa akan berimplikasi terhadap eksistensi identitas arsitekturnya Culture is a process of mindset development that occur gradually over a long time. This process occurs during human life on earth and continue to evolve in accordance with the development of scientific knowledge. The environment setting is one of the factors that play a strong role in shaping the cultural character. Chinese is ethnic which has a lot of migration to other areas such as western and asian regions, either by trading or expedition. Currently,  many Chinese settlement areas are found in several places, called Pechinan or China town. The interesting one is the difference of environment where they live does not make the existence of their culture are fade. From several characters of Chinese culture, the most prominent is the architecture. This happens because of cultural forms is most easily seen in form of physical or architecture of the building. This study aims to identify how the Chinese culture can survive with the existence of architectural value. Understanding about Chinese architecture characteristic is very important to understand the development of the culture. This study limited only to the scope of traditional architecture. The selection of study area is also related to the comparation of Chinese architecture in western and eastern culture. Descriptive interpretation based on similarities and differences in the architecture of the building were able to explained how the Chinese ethnic minimize other cultural influences on the character of the architecture. The results showed that the traditional Chinese architectural identity is formed by the consistency of the religious value. While religion is the major base in the Chinese cultural forming. Therefore, the reflection of existence of Chinese culture have implications for the existence of their architectural identityREFERENCESBanks, J.A., Banks, & McGee, C. A. 1989. Multicultural education. Needham Heights, MA: Allyn & Bacon.Carey, Peter.  1985. Masyarakat Jawa dan Masyarakat China. Jakarta: Pustaka AzetCatanese, A. J. & Snyder, J. C. (1991). Pengantar Arsitektur. Jakarta: Penerbit ErlanggaChen, Joyce. 2011. Chinese Immigration to the United States:History, Selectivity and Human Capital. The Ohio State University.Damen, L. 1987. Culture Learning: The Fifth Dimension on the Language Classroom. Reading, MA: Addison-Wesley.García. J. F. Culture. Ashland University, Ohio. http://personal.ashland.edu/jgarcia/culture1.html, didownload pada 15 okteober 2011.Guo, Shibao &  Don J. DeVoretz. 2006. Chinese Immigrants in Vancouver: Quo Vadis? Discussion Paper No. 2340. Simon Fraser University. Burnaby, BC V5A 1S6. CanadaHandinoto. 2008. Perkembangan Bangunan Etnis Tionghoa di Indonesia (Akhir Abad ke 19 sampai tahun 1960-an). (Prosiding Simposium Nasional Arsitektur Vernakular 2. Petra Christian University – SurabayaKhol, David G. 1984. Chinese Architecture in The Straits Settlements and Western Malaya: Temples Kongsis and Houses, Heineman Asia, Kuala Lumpur. Archipel. Volume 33, 1987. p. 185Kupier, Kathleem. 2011.  The Culture Of Tionghoa. Britannica Educational Publishing. New YorkMaspero, Henri. Translated by Frank A. Kierman, Jr. 1981. Taoism and Chinese Religion. University of MassachusettsO’Gorman, J. F. 1997. ABC of Architecture. Philadelphia: University of Pennsylvania PressPratiwo. 2010. Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. Penerbit Ombak. YogyakartaRummens,  Joanna. 2001. An Interdisciplinary Overview of canadian Research on Identity. Department of Canadian Heritage for the Ethnocultural, Racial, Religious, and Linguistic Diversity and Identity Seminar Halifax, Nova ScotiaSalem, MA.  A Teacher’s Sourcebook for Chinese Art & Culture. Peabody Essex Museum.Guo, Shibao  and Don J. DeVoretz. 2006. Chinese Immigrants in Vancouver:Quo Vadis? IZA Discussion Paper. GermanyTaylor, Rodney L. 1982.  "Proposition and Praxis: The Dilemma of Neo-Confucian Syncretism". Philosophy of East and West, Vol. 32, No. 2 pg. 187Wade, Geoff. 2007. The “Liu/Menzies”World Map: A Critique. e-Perimetron, Vol. 2, No. 4, Autumn 2007 [273-280]Widayati, Naniek. 2004. Telaah Arsitektur Berlanggam China di Jalan Pejagalan Raya Nomor 62 Jakarta Barat. Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 32, No. 1, Juli 2004: 42 - 56Wigglesworth, S. & Till, J. 1998. The Everyday and Architecture. Architectural Design. New York: Princeton Architectural PressWong, Bernard. 1998. Ethnicity and Entrepreneurship: The New Chinese Immigrants in  the San Francisco Bay Area. Allyn &Bacon A Simon & Schuster Company. San Francisco State University. United States of America

Page 5 of 14 | Total Record : 136