cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal
ISSN : 08531629     EISSN : 08531629     DOI : -
Majalah Ilmiah Biologi Biosfera : A Scientific Journal merupakan peer reviewed jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman. Media ini mewadahi hasil-hasil penelitian di bidang biologi tropika yang terbit tiga kali setahun (Januari, Mei, September).
Arjuna Subject : -
Articles 342 Documents
PREFERENSI LEBAH Tetragonula laeviceps TERHADAP TANAMAN SUMBER PAKAN PADA LAHAN PERTANIAN Tionti Hapsari Wahyuningtias
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 39, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2022.39.1.1366

Abstract

Pengetahuan tentang aspek tanaman penyedia makanan (bee forage) diperlukan dalam budidaya lebah Tetragonula laeviceps untuk memperoleh hasil yang maksimal, salah satunya adalah apakah bunga di sekitar sarang merupakan pilihan utama bagi lebah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui (1) preferensi lebah T. laeviceps terhadap tanaman pertanian yang menjadi sumber pakan; (2) morfologi bunga dan polen tanaman pertanian yang menjadi sumber pakan; (3) pengaruh faktor lingkungan (suhu, kelembaban, intensitas cahaya) terhadap frekuensi kunjungan lebah T. laeviceps pada tanaman sumber pakan. Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik scan sampling untuk menentukan sampel dan continuous recording dalam melakukan pencatatan data. Data frekuensi kunjungan T. laeviceps dianalisis secara deskriptif kuantitatif, data karakteristik morfologi serbuk sari dianalisis secara deskriptif kualitatif, dan data pengaruh faktor lingkungan terhadap frekuensi kunjungan lebah dianalisis dengan uji regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebah T. laeviceps lebih menyukai tanaman sawi (360 kali kunjungan) dari pada tanaman buncis (tidak ada kunjungan) sebagai sumber pakan. Tanaman sawi (Brassica rapa) memiliki tipe bunga aktinomorf berukuran 15,9mm, berwarna kuning terang, dengan putik dan benang sari yang terbuka. Serbuk sarinya berukuran 7μm. Tanaman buncis (Phaseolus vulgaris) memiliki tipe bunga zigomorf berukuran 1,3cm, berwarna ungu pucat dengan putik dan benang sari yang tertutup. Serbuk sarinya berukuran 35μm. Faktor lingkungan tidak menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan terhadap frekuensi kunjungan lebah T. laeviceps pada tanaman sawi baik secara simultan (0,511) maupun terpisah (suhu=0,535; intensitas cahaya=0,217, dan kelembaban=0,581).
Kajian Fitofarmaka Kulit Pisang Kepok sebagai Bahan Baku Awal Imunostimulan Ikan Rika Wulandari; Raja Marwita Sari Putri
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 38, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2021.38.2.1138

Abstract

Upaya meningkatkan kesehatan ikan bisa dimulai dengan pemberian imunostimulan secara oral. Bahan herbal imunostimulan dapat diperoleh dari beberapa jenis tumbuhan, salah satunya ialah Pisang kepok (Musa balbisiana x Musa acuminata) . Dengan tingkat konsumsi buah Pisang Kepok di pulau Bintan yang cukup tinggi, tentunya akan menyumbang limbah seperti kulit ke lingkungan. Limbah kulit pisang kepok kuning inilah yang dimanfaatkan sebagai bahan baku imunostimulan untuk ikan budidaya sekaligus turut serta menjaga daya dukung lingkungan.Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai probit logaritma dosis secara absis ekstrak kulit pisang kepok kuning agar layak dikonsumsi ikan budidaya. Penelitian ini meliputi pembuatan ekstrak menggunakan pelarut etanol, karakterisasi dan skrining fitokimia simplisia secara kualitatif, serta analisis probit ekstrak terhadap hewan uji Artemia salina. Konsentrasi ekstrak bertingkat yang digunakan yaitu 20 ppm, 40 ppm dan 60 ppm, 80 ppm, 100 ppm dan 120 ppm. Data mortalitas hewan uji dianalisis dengan metode grafik probit log konsentrasi yang menempatkan persentasi respons dari tiap kelompok hewan pada ordinat dan logaritma dosis secara absis, dimana mortalitas pada konsentrasi ekstrak dengan LC50-24 jam lebih dari 50% bersifat toksik.Hasil penelitian mendapatkan persentase total rendemen dengan pengikat etanol 70% adalah 3,64% dan etanol 96% adalah 3,42%. Hasil uji fitokimia mendapatkan etanol 70% berhasil menarik senyawa bioaktif jenis flavonoid dan tanin, sedangkan etanol 96% berhasil menarik flavonoid, steroid dan triterpenoid. Nilai LC50-24 jam menunjukkan konsentrasi ekstrak yang mampu menyebabkan 50% kematian hewan uji pada fraksi etanol 70% sebesar 1,300 ppm dan etanol 96% sebesar 2,767 ppm. 
PENGARUH BEBERAPA MEDIA KULTUR TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI SIMBION LARVA Oryctes rhinoceros L. Ameilia Zuliyanti Siregar
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 38, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2021.38.3.1240

Abstract

Bacillus sp. Dan Achromobachter sp. merupakan salah satu bakteri yang dapat ditemukan diusus larva dari O. rhinoceros, enzim selulase yang dihasilkan bakteri simbion pada serangga herbivor bekerja dalan mendegadasi bahan organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa media kultur terhadap pertumbuhan bakteri simbion larva O. rhinoceros. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial yang terdiri dari 10 perlakuan dan 3 ulangan. Jenis media yang digunakan yaitu ekstrak dari daging sapi lokal, ayam kampung, ayam broiler dan kambing gibas. Hasil penelitian menunjukan bahwa media buatan yang terbaik yaitu media dari ekstrak daging sapi lokal dengan rataan populasi sebesar 9,4 x 107 Cfu/ml kemudian ekstak daging ayam kampung dengan rataan 8,5 x 107, lalu ekstrak daging ayam broiler dengan rataan 7,5 x 107 dan populasi bakteri terendah terdapat pada media dari ekstrak daging kambing gibas dengan rataan sebesar 5,8 x 107 Cfu/ml. Media buatan dengan bahan dari ekstrak daging sapi lokal merupakan media yang paling efektif untuk digunakan sebagai media pertumbuhan bakteri simbion larva O. rhinoceros.  
Pertumbuhan Lamun Enhalus acoroides pada Berbagai Kondisi Lingkungan di Perairan Pulau Penyengat, Kepulauan Riau Rani Fitmadiniyah; Tri Apriadi; Winny Retna Melani
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 38, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2021.38.2.1091

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas perairan serta tingkat kerapatan dan laju pertumbuhan daun lamun Enhalus acoroides di perairan Pulau Penyengat Provinsi Kepulauan Riau. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari–Maret 2019 di perairan Pulau Penyengat. Penentuan stasiun penelitian berdasarkan metode purposive sampling. Sebanyak 5 stasiun pengambilan sampel yaitu: wilayah yang dekat dengan pelabuhan, pemukiman penduduk, pembangunan taman di wilayah pesisir (reklamasi), ekosistem mangrove dan tempat pembuangan sampah sementara (TPSS). Pengamatan laju pertumbuhan daun lamun melalui  metode penandaan pada daun yang muda dan tidak rusak menggunakan kabel ties disetiap titik pada tiap stasiun. Pengamatan pertumbuhan daun selama 30 hari dengan interval waktu 15 hari sekali. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu kualitas perairan di Pulau Penyengat memenuhi baku mutu kecuali pada nitrat dan fosfat. Nilai kerapatan lamun E. acoroides tertinggi berada pada tempat pembuangan sampah sementara (TPSS) sebesar 50,33 ind/m². Laju pertumbuhan tertinggi setelah 30 hari pada daun lamun E. acoroides yaitu pada wilayah yang dekat dengan pelabuhan sebesar 5,74 mm/hari. 
Karakterisasi dan Produksi Biosurfaktan oleh Bakteri Diazotrof Indigenous Riau pada Substrat Crude Palm Oil Nani Anggraini; Tetty Marta Linda; Mira Rianda
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 38, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2021.38.3.1193

Abstract

Tumpahan Crude Palm Oil (CPO) di perairan menimbulkan dampak negatif seperti turunnya kualitas perairan dan membunuh beberapa organisme. Salah satu alternatif proses penanggulangannya dengan penanganan secara biologi melalui metode bioremediasi menggunakan mikroorganisme penghasil biosurfaktan yang tidak bersifat toksik serta ramah lingkun gan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan isolat bakteri diazotof indigenous Riau NR22, NR28 dan NR30 dalam menghasilkan biosurfaktan dan mengetahui aktivitas emulsifikasinya. Uji kualitatif bakteri penghasil biosurfaktan menggunakan oil spreading technique dan aktivitas emulsifikasi. Uji kuantitatif dilakukan dengan mengukur tegangan permukaan pada Minimal Salt Medium (MSM) inkubasi 5 hari. Hasil dari ketiga isolat bakteri NR22, NR28 dan NR30 dalam uji oil spreading technique diperoleh zona bening berturut-turut serbesar 4,39 cm, 3,14 cm dan 4,15 cm dan dapat mengemulsi sebesar 90,78%, 91,75%, dan 93,33%. Isolat bakteri NR 22, NR 28 dan NR 30 dapat menurunkan tegangan permukaan sebesar 11.2 dyne/cm, 9.6 dyne/cm, 10 dyne/cm. Tiga isolat bakteri diazotrof indigenous Riau dapat dikembangkan untuk produksi biosurfaktan yang dapat dimanfaatkan untuk bioremediasi, oil recovery, industri makanan dan farmasi.
Keanekaragaman dan Morfologi Semut Yang Berasosiasi Dengan Kutu Tempurung Pada Karet di Pembibitan siska chiko efendi; elza dwi pertiwi; Nalwida Rozen
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 38, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2021.38.3.1275

Abstract

Tanaman karet merupakan sumber utama bahan karet alam dan komoditas perkebunan yang mempunyai peran penting di Indonesia. Hampir 20.000 Ha perkebunan karet di Indonesia sudah berumur lebih dari 30 tahun. Proses replanting perkebunan tua dengan menggunakan beberapa klon unggul yang diharapkan dapat meningkatkan produksi karet, disisi lain menimbulkan permasalahan baru yakni tingginya serangan hama dan penyakit. Salah satu hama yang menyerang adalah hama kutu tempurung. Kutu tempurung merupakan hama dari golongan serangga ordo Hemiptera dan famili Coccidae. Kutu tempurung menjadi hama yang lebih berbahaya dengan kehadiran semut. Beberapa spesies semut memiliki hubungan simbiosis dengan kutu tempurung. Untuk mengetahui spesies semut maka dilakukan penelitian keanekaragaman dan morfologi semut yang berasosiasi dengan kutu tempurung pada tanaman karet di pembibitan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan april sampai bulan Juni 2018 di Nagari Sungai Dareh dan Kurnia Selatan. Lokasi pengamatan berupa pembibitan karet dengan klon PB 260 yang berumur 5 bulan. Pada hamparan pembibitan dipilih 3 blok dengan jumlah bibit 300 batang. Pada blok yang sudah ditentukan dipilih tanamn sampel secara langsung. Penentuan tanaman sampel digunakan untuk mengoleksi semut yang berasosiasi dengan kutu tempurung. Berdasarkan pengamatan semut yang terkoleksi sebaanyak 5 subfamili dan 13 spesies. Kelimpahan semut yang paling banyak berasosiasi dengan kutu tempurung yakni D. affinis (1018) dengan indeks keanekaragaman (0.18), indeks kemerataan (0.07) dan indeks nilai penting (0.98). Selain itu diketahui terdapat hubungan antara kelimpahan semut dengan kelimpahan kutu tempurung pada tanaman karet di pembibitan.
Hubungan Panjang-Bobot dan Sebaran Kelompok Umur Osteochilus vittatus (Valenciennes, 1842) dan Rasbora spp. di Sungai Banjaran, Banyumas Monik Sriwijayanti; Suwarno Hadisusanto; W Lestari
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 38, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2021.38.2.1103

Abstract

Sungai Banjaran mendapat masukan limbah organik dari berbagai aktifitas penduduk di sekitarnya yang akan mengakibatkan terjadinya perubahan populasi ikan, khususnya ikan Osteochilus vittatus (Valenciennes, 1842) dan Rasbora spp. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan panjang dan bobot, struktur umur, serta mengevaluasi kualitas air yang mempengaruhi kemelimpahan ikan nilem dan lunjar hasil tangkapan pada tahun 2013 dan 2018 di Sungai Banjaran. Hasil penelitian menunjukan pada tahun 2013 diperoleh ikan Nilem sebanyak 81 individu dan ikan Lunjar sebanyak 79 individu, sedangkan pada tahun 2018 didapatkan Ikan Nilem sebanyak 55 individu dan Ikan Lunjar sebanyak 24 individu. Kemelimpahan Ikan paling banyak pada tahun 2013, Ikan Nilem ditemukan pada stasiun 3 (22 individu) dan 4 (35 individu) dan tahun 2018 pada stasiun 3 (21 individu), sedangkan Ikan Lunjar pada tahun 2013 stasiun 1 (32 individu), stasiun 2 (22 individu), dan stasiu 4 (22 individu) dan tahun 2018 kelimpahan paling banyak pada stasiun 2 (10 individu). Ikan Nilem pada kedua tahun tersebut memiliki pola pertumbuhan yang sama yaitu Allometrik negatif. Namun Ikan Lunjar tahun 2013 dengan pola pertumbuhan Allometrik negatif dan pada tahun 2018 dengan pola pertumbuhan Allometrik positif. Populasi Ikan Nilem dan Ikan Lunjar pada tahun 2013 dan 2018 di dominasi oleh ikan berumur remaja. Ikan Nilem sebanyak 21 dan 20 individu sementara Ikan Lunjar 46 dan 10 individu. Hasil analisis komponen PCA menunjukan bahwa DO, BOD, dan COD merupakan faktor penentu kemelimapahan Ikan Nilem dan Ikan.
TOTAL MIKROBA DAN BAKTERI ASAM LAKTAT TEH FERMENTASI KOMBUCHA Diannita Harahap
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 38, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2021.38.3.1198

Abstract

Teh kombucha merupakan minuman fermentasi dengan bahan dasar teh dan gula. Dalam proses pembuatannya melibatkan konsorsium mikroorganisme (mikroba) bakteri dan khamir. Disamping itu, keberadaan Bakteri Asam Laktat (BAL) menjadi salah satu kriteria  pangan dikategorikan mengandung probiotik. Tujuan penelitian ini untuk menghitung total mikroba, total BAL dan melihat kesesuaian dengan syarat angka probiotik yang diterima di Indonesia. Adapun parameter yang diujikan yaitu total mikroba, total BAL dan pH selama waktu fermentasi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Metode yang digunakan untuk menghitung total mikroba dan total BAL yaitu Angka Lempeng Total (ALT). Pengujian terhadap sampel dilakukan pada rentang waktu fermentasi 0, 8, 11 dan 14 hari selama empat kali masa produksi berulang. Hasil penelitian menunjukkan total mikroba tertinggi pada hari ke-14 yaitu 3.8 x 106 koloni/mL dan total BAL sebesar 3.4 x 106 koloni/mL. Teh kombucha yang diujikan memenuhi syarat menjadi minuman probiotik dengan syarat total BAL > 106 koloni/mL yang diterima di Indonesia dan total mikroba dengan nilai total > 106 koloni/mL.
Distribusi Kandungan Ion dan Klorofil Kedelai Kultivar Mahameru (Glycine max (L.) Merr.) yang Ditanam di Pantai Sodong Cilacap Juwarno Juwarno; Siti Samiyarsih; Muachiroh Abbas
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 38, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2021.38.3.1333

Abstract

Penelitian  dilakukan untuk mengetahui distribusi kandungan ion dan klorofil pada kedelai kultivar Mahameru. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana distribusi dari ion-ion Na+, Cl-, K+, Ca2+ dan Mg2+ pada akar, batang dan daun kedelai kultivar Mahameru yang ditanam dipantai Sodong Cilacap. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan rancangan RCBD (Randomized Completely Block Design) dengan tiga ulangan. Data dianalisis menggunakan DMRT (Duncan Multiple Range Test). Kedelai ditanam pada lahan pesisir pantai dengan jarak lima puluh meter dari tepi pantai, dibuat blok-blok ukuran  satu meter panjang dan dua meter lebar. Pengamatan dilakukan setelah tanaman berumur 30 hari setelah tanam. Kandungan ion  diamati  menggunakan AAS dan kandungan klorofil diamati menggunakan spektrofotometer. Variabel  yang diamati adalah kandungan klorofil a, b dan klorofil total; kandungan ion Na+, Cl-, K+, Ca2+ dan Mg2+ pada akar, batang dan daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan kandungan klorofil a, b dan klorofil total. Terjadi peningkatan kandungan ion Na+ pada bagian daun dan peningkatan ion Cl- pada bagian batang. Ketiga ion yang lain K+, Ca2+ dan Mg2+ terjadi penurunan. Kandungan ion yang paling rendah pada akar, batang dan daun adalah ion Mg2+
Distribution Of Eel Fish (Anguilla bicolor) In Cibeureum River, Cilacap District Sutirno Sutirno; Purnama Sukardi; Agatha Sih Piranti
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 38, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2021.38.2.1128

Abstract

Fish resources in the waters are very dependent on fish larvae resources. Catching eel from the size of the seed (glass eel) to the size of the adult eel has decreased in nature indicating that in the management of eel the economic aspect is more dominant than its conservation aspects. The purpose of this study was to design the management pattern of eel fish in Cibeureum River, Sidareja District, Cilacap Regency based on their ecology, water quality, and rate of exploitation. The research method used is explanatory research and sampling techniques using purposive sampling method in five sampling stations from upstream to downstream of the Cibeureum River. The research data were analyzed using descriptive analysis. The results of the study of the water quality of the Cibeureum River meet the water quality requirements as eel living areas in accordance with GR No.82 of 2001. The abundance of eel species has an Abundance Index (KR) 72.73 - 93.75%, Yellow Eel types have KR = 6,25 - 27.27%, Glass Eel and Silver Eel have abundance, KR = 0%. The distribution pattern of eel fish species of Elver and Yellow Eel has a random distribution pattern (Id = 0.95 and Id = 0.99). Glass Eel and Silver Eel do not have a distribution pattern (Id = 0). Growth rate of eel fish = 120.23 (1-. Total mortality rate (Z) of 2.88 per year that eel fish mortality in the Cibeureum River, mostly caused by fishing activities with exploitation rate (E) of 0.84 per year and it is thought to have exceeded the optimum value (overfishing) The management pattern of eel fish (Anguila bicolor) by limiting the time and area of capture as well as the important role of TPI, cooperatives and Pokmaswas (Community Watch Group) in the eel catchment area.