cover
Contact Name
adya arsita
Contact Email
adya0258@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
spectajournal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
specta: Journal of Photography, Arts, and Media
ISSN : 26143477     EISSN : 26150433     DOI : -
Jurnal spect? merupakan sebuah jurnal untuk menampung hasil penelitian dan penciptaan seni para akademisi dan praktisi fotografi yang kian hari semakin bertambah banyak dan beragam. Seni dan teknik Fotografi yang semakin maju dan berkembang menimbulkan ide, gagasan, wacana, dan kritik yang bernuansa akademik dan harus mendapatkan wadah yang sesuai untuk memuat semua artikel ilmiah yang dihasilkan. Fotografi yang merupakan perluasan dan pengembangan teknologi lukis, erat hubungannya dengan dunia seni pada umumnya dan lekat juga dengan ranah media. Jurnal ini akan menjadi sarana tampung yang tepat, sesuai dalam kajian dan penciptaan seni fotografi, pembacaan kajian seni serta media. Jurnal spect? diterbitkan dua kali dalam setahun, yaitu Mei dan November, dan dikelola oleh Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta bekerja sama dengan Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia (ADSMRI) dan Asosiasi Program Studi Fotografi Indonesia (SOFIA).
Arjuna Subject : -
Articles 114 Documents
FOTOGRAFI DOKUMENTER PERUBAHAN KEHIDUPAN MASYARAKAT PETANI DI PANTAI SADENG, KABUPATEN GUNUNGKIDUL, PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA . Dyna; Pamungkas Wahyu Setiyanto; . Kusrini
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 5, No 1 (2021): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v5i1.4298

Abstract

Documentary Photography of the Changes in Farming Community Life at Sadeng Beach, Gunungkidul Regency, Special Region of Yogyakarta. This photographic creation is about the farmers at Sadeng Beach, Gunungkidul who turned professions into fishermen since the port of Sadeng Beach was built. The different life from the two professions raises the idea to realize it into the medium of photography. The lives of farmers around Sadeng Beach are visualized in the form of documentary photography. This project used the EDFAT methods (entire, detail, frame, angle, time). This method was chosen in order to obtain varied visualizations, and the photos were in black and white to make the objects stand out. This photographic creation shows the activities of farmers who also become fishermen. The photos visualized the life of farming community at Sadeng Beach when they either work as a farmer or a fisherman, along with their interaction with natures and people around them.   ABSTRAKPenciptaan tugas akhir ini membahas tentang petani di Pantai Sadeng, Gunungkidul yang beralih profesi menjadi nelayan sejak dibangun pelabuhan Pantai Sadeng. Pola kehidupan yang berbeda dari kedua profesi tersebut memunculkan gagasan untuk menceritakannya melalui media fotografi. Kehidupan petani sekitar Pantai Sadeng divisualkan dalam bentuk karya fotografi dokumenter. Metode yang digunakan dalam penciptaan ini adalah metode EDFAT. Metode ini dipilih agar memperoleh visualisasi yang bervariasi. Karya fotografi yang diciptakan ditampilkan dalam karya hitam putih agar perhatian fokus ke objek. Karya fotografi dokumenter ini menampilkan aktivitas petani di kebun, alat bertani, hasil pertanian, pada bidang maritim divisualkan aktivitas mencari ikan, peralatan yang digunakan, menjual hasil tangkapan ke tengkulak, serta interaksi dengan nelayan lainnya. 
FOTO POTRET "COMFORT WOMEN" KARYA JAN BANNING: ANALISIS TATAPAN MATA MENGGUNAKAN METODE GRAMATIKA VISUAL Zulfa Mufidah Rahmayati; Irwandi Irwandi
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 5, No 1 (2021): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v5i1.3758

Abstract

Jan Banning’s “Comfort Women” Portraits: the Analysis of Gaze using Visual Grammar Methods. Jan Banning is a Dutch photographer who created works of Indonesian Comfort Women portraits. The term of Comfort Women that leads to victim who were experienced sexual violence during the Japanese colonialism. This term is better known in Indonesia as jugun ianfu. Jan, as the creator of the works, describes the women by focusing on their faces. 4 out of 18 photos were recorded and chosen for further analysis – especially on the eyes gaze. This research aims to analyze further on the meaning of their eyes gaze and the surroundings as the form of people’s expressions. This expression can be analyzed by using visual grammatical methods therefore it will reveal a meaning which wants to be conveyed by the subject-’comfort women’. In using this method, interpersonal metafunction is used as an effort to show the interpersonal relationship. Interpersonal metafunction is then divided into two discussions which are representation-interaction and modality aspects. The discussion of these aspects have a similar pattern between one photo and another. Even so, the similarity of existing patterns cannot influence the meaning from the subject themself, because those meanings can also be generated from the visual signs that are created. The results of the study showed the interaction, proximity of the subject to the observer.   ABSTRAKJan Banning adalah seorang fotografer asal Belanda yang menciptakan karya berupa foto potret dengan tema comfort women di Indonesia. Comfortwomen memiliki pengertian yang mengarah kepada istilah perempuan yang mengalami kekerasan seksual pada masa penjajahan Jepang, istilah ini di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan jugun ianfu. Adapun pengertian fotografi potret merupakan sebuah bentuk visual yang mendeskripsikan potret seseorang. Jan selaku pencipta karya mendeskripsikan potret jugun ianfu tersebut dengan memfokuskannya pada area wajah. Sebanyak 4 dari 18 foto yang dibukukan oleh Jan telah dipilih untuk dianalisis lebih lanjut mengenai wajah khususnya tatapan mata. Di mana tatapan mata dan sekelilingnya adalah bentuk pengekspresian dari diri seseorang. Ekspresi ini dapat dianalisis dengan menggunakan metode gramatika visual sehingga terungkapnya sebuah makna atau pesan interaktif yang ingin disampaikan oleh subjek jugun ianfu. Dalam penggunaan metode gramatika visual tersebut, metafungsi interpersonal pun digunakan sebagai bentuk upaya untuk menunjukkan hubungan interpersonal. Metafungsi interpersonal kemudian dibagi menjadi dua bahasan, yaitu aspek representasi-interaksi dan aspek modalitas. Bahasan di dalamnya memiliki pola yang serupa antara foto satu dengan foto yang lainnya. Meski begitu, kesamaan pola yang ada tidak dapat mempengaruhi makna atau pesan dari subjek itu sendiri, karena makna atau pesan juga dapat dihasilkan dari adanya tanda-tanda visual yang tercipta.
PRODUK KULIT DECRAFTSMAN DALAM FOTOGRAFI KOMERSIAL Dodi Wahyu Pranoto; Muhammad Fajar Apriyanto; Oscar Samaratungga
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 5, No 2 (2021): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v5i2.4296

Abstract

Decraftsman Leather Product in Commercial Photography. Commercial photography is a genre of photography that aims to promote a product or service. This genre of photography can be- come means of promotion especially those unknown to the public, like Decrafstman products. Craft industry Decrafstman is in Trenggalek District, East Java produces various genuine leather based products. However, it is unfortunate that the Decraftsman production house does not have a visual form of a photo that is adequate for promotional purposes or to attract people to work together. The creation of this work aims to help Decraftsman advertise their local brand products with interest- ing visual by creating stil life photography works using the Decraftsman’s production room as the background for the creation. The methods employed were observation and exploration, while in the experiment stage, the focus was more on the stages of photographing the products. The results of this creation can be used as a medium for promotion through social media such as Instagram so that the public is more familiar with Decraftsman products. ABSTRAKFotografi komersial merupakan salah satu jenis fotografi yang bertujuan untuk mempromosikan suatu produk atau jasa. Saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui keuntungan pembuatan produk berbahan dasar kulit asli. Kulit adalah lapisan luar tubuh binatang yang merupakan suatu kerangka luar, tempat bulu binatang tumbuh. Produk Decraftsman memiliki kelebihan yaitu dapat memproduksi berbagai macam produk berbahan dasar kulit asli. Namun sangat disayangkan rumah produksi Decraftsman tidak memiliki bentuk visual sebuah foto yang memadai untuk tujuan promosi maupun menjadi daya tarik masyarakat untuk bekerja sama. Penciptaan karya ini menampilkan produk Decraftsman yang dikemas dalam sebuah karya fotografi stil life dengan menggunakan ruang produksi dari Decraftsman sebagai latar belakang pembuatan. Selain itu dalam proses pembuatan karya juga menggunakan elemen pendukung yang berupa alat produksi kulit. Hasil dari penciptaan ini dapat digunakan sebagai media untuk promosi melalui media sosial seperti Instagram agar masyarakat lebih mengenal produk Decraftsman 
YOGYAKARTA DALAM FOTOGRAFI IMPRESIONISME Wiwid Widya Apriyadi; Arti Wulandari; Oscar Samaratungga
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 5, No 1 (2021): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v5i1.5007

Abstract

Yogyakarta in The Impressionism Photography. The creation of photographic works with the title “Yogyakarta in Impressionism Photography” aims to present the scenery of Yogyakarta area using photographic techniques that look like an impressionist painting. The main objects in these photographic works are historical and natural tourist attractions in Yogyakarta area. The intensity of experience and feeling conveyed in this creation of photographic work are the feeling of boredom of the routines that are carried out in photographing, especially taking landscape photography. The method implemented for the photo creation was to have exploration and experimentation in photographing landscapes. Exploration and experimentation are conducted by moving the camera around the object or moving the camera during the image recording process. The result of the creation of this artwork is that photographic works resemble the impressionist paintings. ABSTRAKPenciptaan karya fotografi dengan judul "Yogyakarta dalam Fotografi Impresionisme" bertujuan untuk menampilkan objek pemandangan Yogyakarta yang dikemas dengan teknik fotografi dengan visualisasi berbentuk seperti lukisan impresionisme. Objek utama dalam penciptaan karya fotografi ini adalah tempat wisata bersejarah dan wisata alam di kawasan Yogyakarta. Intensitas pengalaman dan perasaan yang dituangkan dalam penciptaan karya fotografi ini adalah rasa jenuh terhadap rutinitas yang dilakukan dalam memotret, terutama memotret fotografi panorama. Rasa jenuh ini mendorong untuk melakukan eksplorasi dan eksperimentasi dalam memotret panorama. Eksplorasi dan eksperimentasi dilakukan dengan cara melakukan pemotretan memutari objek dan menggerakkan kamera pada saat proses perekaman gambar.Hasil dari penciptaan karya seni ini adalah karya fotografi dengan kesan lukisan impresionisme.
PENGARUH PENGGUNAAN FOTOGRAFI DALAM POSTER FILM 5 CM TERHADAP MINAT PENONTON Muhammad Rafii Fediansyah
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 5, No 1 (2021): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v5i1.5495

Abstract

Dewasa ini, poster merupakan salah satu media informasi yang banyak digunakan sebagai media promosi, pemberi pesan, dan alat propaganda. Berkaca pada sejarahnya, poster juga menjadi media komunikatif terhadap masyarakat. Tak terkecuali bagi para seniman dan insan perfileman yang menggunakan media poster sebagai alat untuk mempromosikan karya filmnya. Penggunaan fotografi di dalamnya pun menjadi suatu elemen penting yang tak dapat dilewatkan. Dimana hal ini dapat menjadi faktor kunci dalam keberhasilan penyampaian pesan suatu poster, khususnya poster promosi film. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimana pengaruh penggunaan fotografi dalam poster film 5 cm terhadap minat menonton dan rasa ingin tahu masyarakat dengan menggunakan metode likert dan mendapatkan hasil bahwa penggunaan fotografi dalam poster film 5 cm berpengaruh positif terhadap minat penonton.
SENI FOTOGRAFI SEBAGAI EKSPRESI BARU BUDAYA Malik Fathur Fathurrohman; Maya Purnama Sari
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 5, No 2 (2021): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v5i2.5493

Abstract

Art of Photography as a New Expression in Culture. Photography at the beginning of its history had a function as a painting aid, with a prototype called the ‘camera obscura’ which then contin- ued to develop along with the emergence of new discoveries about lenses, cameras, light-sensitive chemicals that developed from glass plates into films and photo paper. Now, photography not only has a function as a medium to perpetuate an event, but also functions as a medium for recording objects, so as to produce works of art that can be viewed over and over again even though the ob- ject being photographed is in the form of performing arts. This study aims to find out how perform- ing arts are presented through the documentary technique of photography along with its analysis. The methods employed in this research were data selection and sampling techniques in choosing the photographs. The findings result in the insights that photography is able to express the artisticvisual of the performer while at the same time it improves the value of the culture because of the realistic trait embedded in photography. ABSTRAKFotografi pada awal sejarah ditemukan memiliki fungsi sebagai alat bantu melukis, dengan prototipenya yang disebut sebagai ‘camera obscura’. Kemudian fotografi terus berkembang seiring dengan munculnya penemuan baru tentang lensa, kamera, bahan kimia peka cahaya yang berkembang dari plat kaca menjadi film, dan kertas foto. Kini fotografi tidak hanya memiliki fungsi sebagai media untuk mengabadikan sebuah peristiwa, tetapi lebih ke dalam fungsi sebagai sebuah media perekam objek, sehingga menghasilkan karya seni rupa yang dapat dilihat berulang-ulang meskipun objek yang diambil gambarnya berupa seni pertunjukan. Tujuan penelitian adalah untuk mencari tahu bagaimana seni pertunjukan ditampilkan melalui teknik dokumentasi fotografi beserta pengkajiannya. Metode yang digunakan yaitu melalui seleksi data dan teknik sampling dalam memilih karya. Penemuan yang didapat dari penelitian ini adalah bahwa fotografi mampu mengungkapkan visual artistik para pelakunya dan juga dapat memberikan nilai yang lebih tinggi dalam hal kebudayaan dikarenakan sifat foto yang realis.
MEMBACA FOTO JENAZAH COVID-19 KARYA JOSHUA IRWANDI DENGAN PERSPEKTIF LITERASI VISUAL Radityo Widiatmojo; Awan Setia Dharmawan
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 5, No 1 (2021): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v5i1.5174

Abstract

Reading Photograph of the Covid-19 Body by Joshua Irwandi using Visual Literacy.  The photo of Joshua Irwandi's Covid-19 body went viral when influencer Anji posted Joshua's photo and gave negative comments. Various negative comments, interpretations and justifications from netizens actually represent challenges in the development of visual literacy in Indonesia, more specifically there is no literacy in terms of "reading" a photo. The purpose of this research is to find out how the method of reading a photographic with perspective of visual literacy. Researchers used Maria Avgerinou's visual literacy competency, namely understanding Visual vocabulary, Visual Convention, Visual Thinking, Visualization, Visual Reasoning, Critical Viewing, Visual Discrimination, Visual Reconstruction, Visual Association, Reconstructing meaning and Constructing meaning. By using the concept of visual literacy from Maria Avgerinou, Joshua Irwandi photo’s brings out the meaning that Covid-19 changes the cultural and social roots of the Indonesian people, especially the dialectic between death and the meaning of life at the same time. ABSTRAKFoto jenazah Covid-19 karya Joshua Irwandi menjadi viral saat influencer Anji memposting foto Joshua dan memberi komentar bernada negatif. Beragam komentar, tafsir dan justifikasi yang negatif dari netizen sebenarnya adalah representasi tantangan dalam pengembangan literasi visual di Indonesia, lebih spesifik terdapat nirliterasi dalam hal “membaca” sebuah foto. Maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana metode baca sebuah karya fotografi dalam perspektif literasi visual. Peneliti menggunakan kompetensi literasi visual Maria Avgerinou, yaitu pemahaman kosakata visual (Visual vocabulary), memahami kesepakatan visual dari simbol yang ada (Visual Convention), kemampuan berpikir secara visual saat produksi dan saat membaca imaji (Visual Thinking), kemampuan menyajikan sebuah visual (Visualization), alasan visual pada saat produksi visual (Visual Reasoning), pembacaan visual dengan perspektif kritis (Critical Viewing), kemampuan membedakan stimulus visual (Visual Discrimination), kemampuan melakukan konstruksi ulang atas sajian visual yang ada  (Visual Reconstruction), pemahaman makna asosiatif yang ada dalam semua objek (Visual Association), kemampuan merekonstruksi makna saat produksi visual (Reconstructing meaning) dan kemampuan membaca bangunan makna dari sajian visual atau disebut Constructing meaning. Dengan menggunakan konsep literasi visual dari Maria Avgerinou, foto karya Joshua Irwandi ini memunculkan makna bahwasanya Covid-19 mengubah akar kultural dan sosial masyakarat Indonesia, khususnya dialektika antara kematian dan makna kehidupan sekaligus.
REPRESENTASI ‘KEKERASAN SIMBOLIK’ DALAM FOTO IKLAN: STUDI KASUS FOTO IKLAN CETAK PRODUK KECANTIKAN PEREMPUAN DALAM MAJALAH FEMINA TAHUN 2000 Fitriana Fitriana; Soeprapto Soedjono; Kusrini Kusrini
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 5, No 2 (2021): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v5i2.6122

Abstract

Representation of ‘Symbolic Violence’ in Printed Advertisement Photo of Beauty Product in Femina Magazine Issue 2000. This study examines the representation of ‘symbolic violence’ in several advertisement photos in Femina magazine in 2000. The research used qualitative methods that focus on the discourse and value of advertised beauty products. Purposive sampling technique was used to choose the samples of the study. There are three advertisement photos that were re- viewed. The theories used in this study such as ‘symbolic violence’, representation, advertisement photography, and gender ideology were used in this study. Meanwhile, overall, the perspective of the research applied the gender approach. This is about the limitation of the research object that used female photo subjects associated with ‘symbolic violence’ represented in the verbal aspects such as headline, body copy, slogan, etc.. The results of the study were the discovery of forms of ‘symbolic violence’ in advertisement photo samples, such as the ideal construction of beauty, the culture of consumerism, the imposition of product information on consumers, and the domestication of women. ABSTRAKPenelitian ini membahas representasi ‘kekerasan simbolik’ dalam beberapa foto iklan di majalah Femina tahun 2000. Penelitian menggunakan metode kualitatif yang berfokus pada wacana maupun nilai dari produk kecantikan yang diiklankan. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Terdapat tiga buah foto iklan yang dikaji. Teori yang digunakan adalah teori ‘kekerasan simbolik’, representasi, fotografi periklanan, dan ideologi gender.Secara keseluruhan, perspektif penelitian lebih berorientasi pada pendekatan gender. Hal ini tidak lepas dari pembatasan objek penelitian terkait ‘kekerasan simbolik’ yang terepresentasi pada subjek foto perempuan, termasuk aspek verbal seperti  head line, body copy, dan slogan. Hasil penelitian berupa ditemukannya bentuk-bentuk ‘kekerasan simbolik’ dalam sampel foto, seperti konstruksi ideal kecantikan, budaya konsumerisme, ‘pemaksaan’ informasi produk kepada konsumen, hingga domestikasi perempuan.
DAMPAK SAMPAH PLASTIK TERHADAP HEWAN YANG DIREPRESENTASIKAN PADA TUBUH MANUSIA Maria Paragita Puspita; Arti Wulandari; Syaifudin Iskandar
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 5, No 2 (2021): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v5i2.3756

Abstract

The Impact of Plastic Waste on Animals Represented on the Human Body. Expression refers to an artist’s inner feelings, or ideas. In addition to being a medium of expression, photos can be a medium of messaging. The easiest way to describe the intent or message of a photo is making the addition of properties related to the object as a supporting element. The creation of this photo work shows the impact of plastic waste on animal life through visual language on the human body. Plas- tic waste and the human body become very important objects in creation process. Plastic waste is a lightweight and durable object that is no longer used. The human body was chosen to express and represent how harmed and injured animals feel from the impact of plastic waste. Representation is the act of representing, describing or symbolizing objects and/or processes. The result of this photo creation is expected to represent the embodiment of the idea of what if humans feel the same way animals feel because of the impact of plastic waste.ABSTRAKEkspresi merupakan ungkapan batin, perasaan, atau gagasan seorang seniman. Selain menjadi media ekspresi, foto bisa menjadi media penyampaian pesan. Cara yang paling mudah untuk menggambarkan maksud atau pesan dari sebuah foto dengan penambahan properti yang berhubungan dengan objek sebagai elemen pendukung. Artikel ini bertujuan menjabarkan penciptaan karya fotografi yang menampilkan dampak sampah plastik terhadap kehidupan hewan dengan objek tubuh manusia. Sampah plastik dan tubuh manusia menjadi objek penelitian dalam pembuatan karya ini. Metode perwujudan karya yang dilakukan adalah pencarian ide, pemotretan, editing, kurasi foto, penyajian karya foto. Hasil karya memperlihatkan bagaimana tubuh manusia mengekspresikan dan merepresentasikan perasaan hewan-hewan yang mati dan terluka karena dampak sampah plastik.
PRAKTIK INDUNG BEURANG DI KASEPUHAN CIPTAGELAR DALAM FOTOGRAFI DOKUMENTER Razan Putra Satriadi; Pitri Ermawati; Syaifudin Iskandar
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 5, No 1 (2021): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v5i1.5062

Abstract

This photo creation is entitled "Indung Beurang practice in Kasepuhan Ciptagelar in Documentary Photography" aims to visualize the Indung Beurang Practice in the Kasepuhan Ciptagelar community procession after childbirth. The existence of traditional midwives may disappear if there is no successor, or its existence gone unnoticed. In other words, their existence begins to erode with the presence of modern Midwives.          The method applied in this undergraduate thesis is the theory of journalistic photography in the form of serial photos that are composed into a serial documentary photography so that a story from this practice can be conveyed precisely and clearly. It can also becomes a cultural archive in a visual form. The embodiment processes such as observation, exploration, and experimentation are applied in order to obtain accurate data.          Through the visualization of the Indung Beurang practice, it is hoped that its existence can be known by the community and would be continued to be existed. If the presence of modern Midwives is needed, it would be better if the two of them go together so this practice becomes a cultural archive to be known by the modern world.

Page 7 of 12 | Total Record : 114