cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pertanian Agros
Published by Universitas Janabadra
ISSN : 14110172     EISSN : 25281488     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Pertanian Agros (JPA) is published by Faculty of Agriculture, Janabadra University and the Agribusiness Association of Indonesia (AAI). It available online supported by Directorate General of Higher Education - Ministry of Research, Technology, and Higher Education- Republic of Indonesia JPA is a peer-reviewed and open access journal that publishes significant and important research from all area of agriculture science fields such as crops, horticulture, fisheries, animal husbandary, and forestry.
Arjuna Subject : -
Articles 1,386 Documents
ANALISIS DETERMINAN PRODUKTIVITAS TEBU DI KEBUN KEMITRAAN PT. MADUBARU (PG MADUKISMO) Arzha Penta Aryatama; Pantja Siwi V R Ingesti
Agros Journal of Agriculture Science Vol 22, No 1 (2020): edisi Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v22i1.1107

Abstract

Tinggi rendahnya produktivitas tebu (Saccharum Officanirum L.)  dipengaruhi oleh berbagai faktor, dinantaranya pupuk dan varietas tanaman tebu. Tujuan penelitian: mengetahui hubungan jumlah pupuk dan varietas terhadap produktivitas tebu. Penelitian merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif  kuantitatif. Analisis data dilakukan dengan Uji-T untuk melihat hubungan antara variabel jumlah pupuk dan produktivitas dan ANOVA untuk melihat perbedaan varietas tebu dengan produktivitas. Hasil: penambahan jumlah pupuk tidak memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap produktivitas tebu. Pemberian pupuk seharusnya optimal, yaitu tepat dosis, tidak terlalu sedikit ataupun banyak. Ttidak terdapat perbedaan nyata antara produksi kelima jenis bibit. Hal ini menunjukkan bahwa varietas yang dipilih memiliki kualitas tidak jauh berbeda, namun tidak disarankan menggunakan jenis varietas PS 851 karena total produksi yang dihasilkan paling rendah
APLIKASI PUPUK HAYATI DAN CUKA KAYU TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG DI LAHAN GAMBUT Dewi, Dina Omayani; Masitoh, Siti
Agros Journal of Agriculture Science Vol 22, No 1 (2020): edisi Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v22i1.1113

Abstract

Produksi jagung di Kabupaten Kuburaya  menurun setiap tahun karena alih fungsi lahan dan peraturan larangan pembersihan lahan dengan pembakaran. Budidaya  jagung di lahan gambut memiliki kendala: kemasaman tanah tinggi, ketersediaan hara makro dan mikro sangat rendah. Pemberian pupuk hayati mampu membantu proses dekomposisi sehingga unsur hara dalam tanah tersedia bagi tanaman. Pemberian cuka kayu dapat meningkatkan kualitas tanah, mencegah hama serta  sebagai zat pengatur tumbuh. Tujuan: mengetahui pengaruh pemberian pupuk hayati dan cuka kayu  terhadap pertumbuhan dan produksi jagung di lahan gambut. Kajian dilakukan di sentra pengembangan jagung di Kalimantan Barat di Desa Rasau Jaya 3,  Kecamatan Rasau Jaya, Kuburaya. Terdapat tiga perlakuan: (Pukan+Urea+NPK), (Urea+NPK+Cuka Kayu), (Urea+NPK+Pupuk Hayati), (Urea+NPK+Pupuk Hayati+Cuka Kayu). Hasil: pemberian pupuk hayati dan cuka kayu tidak memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi  dan jumlah daun jagung. Kombinasi perlakuan pemupukan Urea 200 kg per ha, NPK 300 kg per ha, cuka kayu tiga liter per ha berpengaruh terhadap parameter  panjang tongkol (17,58 cm), hasil per plot (enam kg per plot), dan produktivitas (9,60 ton per ha)
PREFERENSI PETANI TERHADAP BEBERAPA VARIETAS PADI INPARA DI LAHAN RAWA PASANG SURUT KALIMANTAN SELATAN Koesrini Koesrini; Hendri Sosiawan; Yanti Rina Darsani
Agros Journal of Agriculture Science Vol 22, No 1 (2020): edisi Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v22i1.1108

Abstract

Inpara atau Inbrida Padi Rawa adalah varietas adaptif untuk lahan rawa. Varietas Inpara 2 dan Inpara 3 paling banyak ditanam di lahan rawa pasang surut di Kalimantan Selatan. Varietas Inpara lainnya, terutama Inpara 6, 7, 8, dan 9, relatif belum banyak dikenal petani. Perlu upaya mendiseminasikan keempat varietas tersebut melalui demplot varietas.Tujuan penelitian: mengetahui preferensi petani terhadap karakteristik tanaman, mutu beras, dan rasa nasi beberapa varietas Inpara di lahan rawa pasang surut Kalimantan Selatan.Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balandean Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan tahun 2018. Jumlah sampel 30 orang dipilih secara acak sederhana. Hasil: petani menyukai varietas Inpara 2, cukup suka terhadap varietas Inpara 7, 8, dan 9, tidak suka varietas Inpara 6 berdasarkan morfologi tanaman dan ketahanan terhadap OPT. Petani menyukai varietas Inpara 2, 6, 8, dan 9 serta cukup suka terhadap varietas Inpara 7 berdasar mutu gabah atau beras dan uji rasa nasi. Secara umum petani lebih menyukai varietas Inpara 2 dibanding empat varietas lainnya yang diuji, baik dari segi morfologi tanaman, ketahanan terhadap OPT, mutu gabah atau beras dan rasa nasi. Kriteria umur panen, jumlah anakan produktif, tipe tanaman dan mutu nasi (warna, rasa, kepulenan) menjadi karakter penting dalam pemilihan varietas yang disukai petani
RESPON TANAMAN BAWANG MERAH TERHADAP RHIZO BAKTERIA DI TANAH ENTISOL Gumelar, Rima MR; Maryani, Yekti
Agros Journal of Agriculture Science Vol 22, No 1 (2020): edisi Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.741 KB) | DOI: 10.37159/jpa.v22i1.1103

Abstract

Penelitian ini mempelajari reaksi bawang merah (Allium ascalonicum L.) terhadap rhizobacteria. Penelitian ini dilakukan di Jetis, Bantul, D.I. Yogyakarta. Memiliki jenis tanah entisol, pH tanah 6.0 hingga 7.0, kurang lebih 50 meter di atas permukaan laut. Curah hujan tahunan rata-rata adalah 143.39 mm per tahun. Desain eksperimental menggunakan Randomized Complete Block Deign (RCBD) dari tiga ulangan. Konsentrasi rhizobakteria terdiri atas empat tingkatan, yaitu dua persen, empat persen, enam persen, dan delapan persen. Variabel pengamatan meliputi: berat kering tajuk per rumpun, berat segar umbi per rumpun, berat umbi kering per rumpun, dan hasil per hektar. Analisis varians (ANOVA) dan uji lanjut Duncan (DMRT) uji pada p <0,05 dilakukan untuk data yang dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi rizobakteri enam persen dan delapan memberikan pertumbuhan dan menghasilkan bawang merah lebih tinggi daripada konsentrasi empat persen dan delapan persen. Konsentrasi rhizobacteria enam persen dan delapan persen memberikan indeks toleransi lebih tinggi daripada konsentrasi empat persen dan delapan persen.
PENERAPAN MODEL REGRESI LOGISTIK DALAM MENGANALISIS ADOPSI TEKNOLOGI TRAP BARRIER SYSTEM (TBS) DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Rahima Kaliky; Subejo Subejo; Nur Hidayat
Agros Journal of Agriculture Science Vol 22, No 1 (2020): edisi Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v22i1.1109

Abstract

Regresi logistik adalah model regresi yang mendeskripsikan hubungan variabel dependen dengan independen dan data kategorikal. Tujuan: menganalisis sebaran adopsi dan  faktor adopsi TBS di  DIY dengan analisis fungsi regresi logistik. Penelitian menggunakan metode survei di Sleman dan Bantul. Penentuan lokasi secara sengaja dengan pertimbangan lokasi endemik tikus dan telah didiseminasikan TBS. Sampel diambil secara acak sederhana. Hasil: nilai signifiansi model faktor yang berpengaruh secara simultan terhadap adopsi TBS adalah 0,002 (< 0,05). Hasil uji parsial menunjukkan variabel persepsi terhadap keuntungan relatif berpengaruh signifikan terhadap adopsi TBS. Odds ratio variabel keuntungan relatif  mencapai 2,644  artinya bila keuntungan relatif yang diperoleh dengan menerapkan TBS bertambah satu unit maka peluang adopsi TBS  meningkat hampir tiga kali lipat
PENGARUH PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SAWI HIJAU PADA SISTEM HIDROPONIK Subeni Subeni
Agros Journal of Agriculture Science Vol 22, No 1 (2020): edisi Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.505 KB) | DOI: 10.37159/jpa.v22i1.1104

Abstract

Hidroponik adalah suatu metode bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah, melainkan dengan menggunakan larutan mineral bernutrisi atau bahan lainnya yang mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang tepat dan mudah diserap tanaman. Penambahan pupuk organik cair pada sistem hidroponik perlu dikaji, karena yang umum diberikan adalah pupuk anorganik. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui pengaruh pupuk organik cair dan pemberian AB-Mix terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawi hijau pada sistem hidroponik. Percobaan faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan, disusun dalam rancangan acak lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1), Pada awal pertumbuhan sampai umur minggu ke empat, pupuk organik cair berpengaruh lebih lambat dari pada penggunaan nutrisi AB Mix, baik pada pertumbuhan akar maupun bagian tanaman diatas tanah (tunas); (2), Pada umur minggu ke lima atau saat panen, penggunaan pupuk organik cair dapat menunjukkan pertumbuhan yang tidak berbeda nyata dengan penggunaan nutris AB Mix; dan (3), Dosis pupuk organik cair 30 cc/liter air memberikan hasil tertinggi pada tanaman sawi hijau sistem hidroponik.
KARAKTERISTIK DAN UJI ORGANOLEPTIK SELAI LABU KUNING Liem, Jennifer Larisa; Sugiarti, Shinta; Faisalma, Mohamad Wega; Handoko, Yoga Aji
Agros Journal of Agriculture Science Vol 22, No 1 (2020): edisi Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v22i1.1110

Abstract

Produksi labu kuning (Cucurbita moshata) Indonesia tahun 2010 adalah 369,846 ton dan tahun 2011 menjadi 428,197 ton, konsumsi masih di bawah lima kilogram per kapita per tahun. Salah satu olahan labu kuning adalah selai. Varietas yang dianjurkan untuk selai adalah cemre atau bokor karena tekstur daging buah halus, manis, warna orange. Proses pembuatan selai: pemilihan buah, pencucian, pemotongan, penghancuran, pengolahan, penambahan bahan penunjang, pasteurisasi, pegemasan. Takaran gula: 60 : 40 persen (labu kuning: gula), pektin komersial 1,5 persen dalam 98,5 persen bubur labu, selain itu dari tepung pisang takaran dua persen pada 90 persen labu kuning dan 10 persen gula, pH 3,10 hingga 3,46. Selai labu kuning diterima masyarakat, nilai rata-rata di atas 80 persen dengan pengujian organoleptik. Pengemasan disarankan menggunakan gelas jar atau plastik polypropilen. Tekanan tinggi, yaitu 4000 hingga 6000 kg per cm2 dapat menghasilkan selai dengan kualitas superior, dilihat dari warna, rasa, dan kadar vitamin C. Pada tekanan tinggi, populasi Zygosaccharomyces rouxii, Saccharomyces cervisiae, Staphylococcus, dan Salmonella berkurang, dihasilkan rasa, aroma, dan warna yang disukai oleh panelis
TINGKAT PARTISIPASI WARGA DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN PERKOTAAN BERBASIS MASYARAKAT Sulistiya Sulistiya
Agros Journal of Agriculture Science Vol 22, No 1 (2020): edisi Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.504 KB) | DOI: 10.37159/jpa.v22i1.1105

Abstract

Tujuan penelitian mengetahui: (1) faktor yang memengaruhi partisipasi dalam pelaksanaan pertanian perkotaan, (2) tingkat partisipasi warga dalam pelaksanaan pertanian perkotaan. Penelitian menggunakan metode kualitatif untuk mengkaji perspektif partisipant dengan strategi yang bersifat interaktif dan fleksibel. Penentuan lokasi secara purposive. Teknik pengambilan sampel secara simple random sampling. Data hubungan antar-peubah dianalisis menggunakan uji: (1) interval kelas. (2) secara statistik untuk melihat pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas warga memiliki pengalaman berkelompok rendah dan sebagian besar tinggal di perumahan selama kurang dari 30 tahun. Mayoritas berpendapat bahwa dalam pelaksanaan pertanian perkotaan, metode yang digunakan adalah dua arah dan pelayanan kegiatan baik. Tingkat partisipasi warga sudah tergolong tinggi. Dalam tahapan partisipasi, pengambilan keputusan merupakan tahap yang paling rendah sedangkan tahap pelaksanaan, menikmati hasil, dan evaluasi tergolong tinggi. Umur, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan beban keluarga tidak berhubungan nyata dengan tingkat partisipasi warga. Faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan tingkat partisipasi adalah pengalaman berkelompok, lama tinggal, metode kegiatan, dan pelayanan kegiatan.
KAJIAN OPTIMALISASI PENGGUNAAN BAHAN PAKAN LOKAL UNTUK PEMBIBITAN AYAM KAMPUNG DI KABUPATEN GORONTALO Anas, Serli; Rohmadi, Dwi; Palobo, Fransiskus; Djaya, Ernawaty
Agros Journal of Agriculture Science Vol 22, No 1 (2020): edisi Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v22i1.1111

Abstract

Biaya pakan suatu usaha peternakan mencapai 70 hingga 80 persen dari biaya operasional usaha.  Dengan dukungan bahan pakan lokal, diharapkan usaha perbibitan ayam kampung dapat berkembang di Gorontalo. Tujuan kajian: menganalisis pendapatan usahatani ayam kampung dengan mengoptimalkan penggunaan bahan pakan lokal dalam pembibitan ayam kampung. Kajian dilaksanakan di Gorontalo bekerjasama dengan stakeholder dan kelompok ternak ayam, Februari hingga Desember 2015. Data meliputi produksi telur, bobot telur, jumlah telur yang ditetaskan, fertilitas, daya tetas, dan bobot tetas. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil: nilai HDP dan HHP mengalami kenaikan mulai dari produksi bulan ke-2 sampai ke-3. Fertilitas meningkat seiring umur bulan produksi, mengikuti tingkat kedewasaan ternak atau umur fisiologis ternak. Semakin meningkat umur ayam maka fertilitas akan meningkat sampai batas puncak produktivitas dan menurun lagi. Daya tetas telur setiap bulan meningkat seiring meningkatnya fertilitas telur.  Nutrisi pakan yang cukup meningkatkan nilai HDP, HHP, fertilitas, dan daya tetas. Usahatani layak dikembangkan
KAJIAN DINAMIKA BOBOT BADAN SAPI POTONG DAN POTENSI PAKAN DI KABUPATEN MERAUKE, PAPUA Tiro, Batseba M.W.; Palobo, Fransiskus; Beding, Petrus A.; Thamrin, Muhammad
Agros Journal of Agriculture Science Vol 22, No 2 (2020): edisi Juli
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.495 KB) | DOI: 10.37159/jpa.v22i2.1120

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengkaji dan mengevaluasi dinamika bobot badan sapi potong serta potensi ketersediaan pakan pada musim kemarau di Kabupaten Merauke. Lokasi yang dipilih adalah tiga distrik yang mewakili pusat pengembangan sapi potong di Merauke dan distrik tersebut memiliki kepadatan ternak atau populasi yang tinggi dan dibandingkan antar-luas wilayah, sehingga yang mewakili populasi tinggi (Distrik Merauke), sedang (Distrik Tanah Miring), dan rendah (Distrik Kurik). Metoda menggunakan survei melalui penimbangan ternak sapi yang dipelihara petani/peternak dengan jumlah ternak 50 hingga 100 ekor, terdiri jantan dewasa, induk, muda, dan anak. Untuk mengukur produksi hijauan pakan dibuat kurungan terbuat dari kayu ukuran 1,5 x 1,5 meter sebanyak 15 buah terbagi dalam tiga lokasi, masing-masing lokasi terdapat lima kurungan. Hasil: rataan bobot badan ternak sapi di ketiga Distrik (Merauke, Kurik dan Tanah Miring), sangat rendah baik itu pedet (< 0,3 kg/ekor), ternak muda maupun dewasa (< 0,2 kg/ekor); variasi spesies hijauan dan legum di lokasi pengamatan relatif sama dan didominasi oleh spesies rumput (93,30 – 94,85 persen), dan produksi hijauan pada awal musim kemarau (bulan Juli) masih relatif tinggi, dan terus menurun sampai puncaknya pada bulan September dan Oktober

Page 24 of 139 | Total Record : 1386