cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan
ISSN : 25988573     EISSN : 25991388     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 130 Documents
Hubungan Keseimbangan Postural Terhadap Fungsi Kognitif Pada Anak dengan Berat Badan Lebih di SDN Percontohan Guntur 03 dan 04 Pagi Jakarta Zahra Sativani; Riza Pahlawi; Ganesa Puput Dinda Kurniawan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan List Just Accepted Manuscript and Article In Press 2020
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v0i0.3211

Abstract

Pendahuluan: Berat badan lebih dan obesitas telah menjadi permasalahan umum di setiap jenjang usia dan strata sosial ekonomi. Prevalensi obesitas pada anak usia 6-15 tahun di Indonesia cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya. Berat badan berlebih dan obesitas merupakan faktor risiko penyakit metabolik ketika dewasa. Perubahan postur yang terjadi akibat berat badan lebih dan obesitas dapat menyebabkan penurunan lingkup gerak sendi (LGS) berkurangnya elastisitas pada ligamen dan otot, serta berubahnya center of gravity (CoG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keseimbangan postural terhadap fungsi kognitif pada anak usia 6-12 tahun dengan berat badan lebih di SDN Percontohan Guntur 03 dan 04 Pagi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan metode consecutive sampling. Jenis penelitian ini adalah eksperimental. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kepada 69 siswa terpilih untuk mengetahui fungsi kognitif menggunakan kuesioner Vineland Social Maturity Scale (VSMS), pemeriksaan keseimbangan postural melalui pengukuran keseimbangan statis menggunakan Functional Reach Test (FRT) dan keseimbangan dinamis dengan Unterberger Test. Hasil: Hasil penelitian dari 69 siswa menunjukkan bahwa terdapat 60,9% siswa obesitas sedangkan 39,1% berat badan berlebih. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara keseimbangan dinamis dan fungsi kognitif (p=0,676). Namun, terdapat hubungan signifikan antara keseimbangan statis dengan fungsi kognitif (p=0,003). Semakin tinggi nilai keseimbangan statis maka fungsi kognitif juga cenderung meningkat.
Efektivitas Rendam Kaki Air Hangat Rebusan Jahe dan Senam Kaki Diabetik Terhadap Nilai Ankle Brachial Index (ABI) pada Pasien Diabetes Melitus Gusti Ayu Saraswati; Tia Amestiasih; Adi Sucipto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan List Just Accepted Manuscript and Article In Press 2020
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v0i0.3568

Abstract

Terapi non farmakologi merupakan terapi yang telah banyak diterapkan dalam bidang kesehatan. Contohnya yaitu terapi rendam kaki air hangat rebusan jahe dan senam kaki diabetik. Rendam kaki air hangat rebusan jahe dan senam kaki diabetik efektif untuk meningkatkan nilai ABI pada pasien diabetes melitus. Metode penelitian quasi-experiment, pre-post test without control dengan teknik consecutive sampling. Penelitian dilakukan pada 14–22 Mei 2020 dengan 16 responden kelompok rendam kaki dan 16 responden kelompok senam kaki yang diberikan intervensi selama 10 menit dalam 3 hari berturut-turut. Instrumen yang digunakan yaitu sphygmomanometer air raksa dan doppler vascular untuk mengukur nilai ABI. Pada kelompok rendam kaki, ABI kiri dianalisis dengan Wilcoxon dan T-Test Paired untuk ABI kanan, dan pada kelompok senam kaki, ABI kiri dianalisis dengan T-Test Paired dan Wilcoxon untuk ABI kanan. Hasil uji statistik kelompok rendam kaki didapatkan nilai p-value 0,008 pada ABI kiri dan 0,017 pada ABI kanan, sedangkan kelompok senam kaki didapatkan nilai p-value 0,032 pada ABI kiri dan 0,01 pada ABI kanan. Sehingga disimpulkan ada pengaruh rendam kaki air hangat rebusan jahe dan senam kaki diabetik terhadap nilai ABI pada pasien diabetes melitus. Hasil uji statistik pada kedua kelompok didapatkan nilai p-value 0,943 pada ABI kiri, dan 0,661 pada ABI kanan. Sehingga disimpulkan, tidak ada perbedaan efektivitas rendam kaki air hangat rebusan jahe dan senam kaki diabetik terhadap nilai ABI pada pasien diabetes melitus di puskesmas Toili 3 Banggai Sulawesi Tengah.
Hubungan Elemen-Elemen Administrasi dan Manajemen dengan Pelayanan Petugas Puskesmas Armaji Kamaludi Syarif; Agus Dwi Harso; Hadjar Siswantoro; Armedy Ronny Hasugian
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan List Just Accepted Manuscript and Article In Press 2020
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v0i0.3673

Abstract

Dalam upaya untuk memastikan bahwa puskesmas menjalankan fungsinya dengan baik, pemerintah menyelenggarakan akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Kegiatan tersebut secara berkala diselenggarakan setiap tiga tahun oleh para profesional yang terlatih untuk menggunakan instrumen akreditasi yang mengandung elemen-elemen penilaian terkait administrasi dan manajemen, upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan. Potensi dari kegiatan administrasi dan manajemen di puskesmas dalam memperbaiki kualitas pelayanan sangat menarik untuk ditelaah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan elemen penilaian akreditasi puskesmas terkait administrasi dan manajemen dengan terlaksananya pelayanan petugas kesehatan yang efisien, ramah dan responsif terhadap kebutuhan pelanggan. Penelitian ini menggunakan data dari penelitian Pengembangan Indeks Mutu Pelayanan Kesehatan Puskesmas tahun 2017 dengan disain potong lintang. Sampel adalah 200 puskesmas, terdiri dari 103 puskesmas terakreditasi dan 97 puskesmas belum terakreditasi. Analisis hubungan elemen-elemen administrasi dan manajemen dengan pelayanan petugas puskesmas dilakukan dengan uji Chi-square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa elemen penilaian administrasi dan manajemen terkait kompetensi dari kepala puskesmas, pola ketenagaan yang sesuai, kompetensi tenaga yang diperlukan, perizinan dari tenaga yang ada, serta monitoring dan evaluasi terhadap hasil pelatihan pengelola dan pelaksana pelayanan berhubungan secara signifikan terhadap pelayanan petugas yang bekerja dengan efisien, ramah, dan responsif terhadap kebutuhan pelanggan. Dari semua elemen penilaian, nilai odds ratio tertinggi ditunjukkan oleh elemen penilaian tentang perizinan dari tenaga yang ada di puskesmas (OR=4.977).
Gambaran Upaya Pencarian Pengobatan Diare di Wilayah Kerja Puskesmas yang Mendapat Nusantara Sehat berbasis Tim Batch I dan II Aris Yulianto; Ida Diana Sari; Rini Sasanti Handayani
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan List Just Accepted Manuscript and Article In Press 2020
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v0i0.3685

Abstract

Diarrhea still becomes major public health problem, especially in remote and underdeveloped areas, borderland and outlying islands (DTPK) where most Nusantara Sehat health workers have been distributed to each primary healthcare center. The aim of this research is to investigate the habit of community seeks diarrhea medication pattern in the working area of primary healthcare centers where Team-based Nusantara Sehat health workers Batch I and II placed. The research was a descriptive cross sectional study and involved 12,381 families in 27 districts, 15 provinces, interventional and control primary healthcare centers, 30 each. Result showed that the prevalence of diarrhea cases based on diagnosis and recognition of respondents which had experienced liquid defecation 3 or more times a day were 1.9% and 0.6%, respectively. Oral rehydration salts (ORS) is the most dominant for diarrhea medication (31.1%). When seeking medication, 19.3% of respondents treated self-medication and 19.1% utilized health facility. This research concludes that there is still low self-medication care in treating diarrhea so that it needs to optimization using medicinal plants for the community with limited access to healthcare facilities.
Peran dan Sinergitas Puskesmas Campakamulya Cianjur dalam Upaya Mengatasi Stunting di Wilayah Kerja Nova Sri Hartati; Made Dewi Susilawati; Laurentia Mihardja
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan List Just Accepted Manuscript and Article In Press 2020
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v0i0.3712

Abstract

Abstrak Gizi stunting saat ini menjadi salah satu masalah yang masih dihadapi. Sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang percepatan penanggulangan stunting, penanganan masalah stunting masih sangat lambat. Puskesmas menjadi ujung tombak dalam penanganan stunting melalui intervensi spesifik. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran puskesmas dalam penanganan stunting. Metodologi penelitian ini menggunakan rancangan studi mix method dengan menggali informasi dari pihak puskesmas, tokoh masyarakat dan masyarakat sehingga didapatkan gambaran mendalam tentang peranan puskesmas dalam usaha mengatasi stunting di wilayah kerja Puskesmas Campakamulya, Kabupaten Cianjur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puskesmas Campakamulya dalam keterbatasan geografis, SDM, berupaya dalam menangani stunting, namun belum maksimal dikarenakan tidak ada pedoman juknis penatalaksanaan stunting yang dapat diterapkan di puskesmas. Sementara ini penanganan masih berdasarkan pengalaman penanggulangan gizi buruk. Dukungan dari aparat desa dan masyarakat sudah mulai terlihat dalam menurunkan kasus stunting. Puskesmas perlu membuat inovasi yang dapat mengubah perilaku masyarakat dalam pencegahan stunting dengan memperhatikan penanganan perbaikan nutrisi pada anak sejak 1000 hari pertama kehidupan (HPK). Kata kunci: puskesmas, penanganan stunting Abstract Stunting nutrition is currently one of the problems that are still being faced. Since the government issued a policy on accelerating stunting reduction, the handling of stunting problems has been very slow. Primary health center are at the forefront of stunting management through specific interventions. The purpose of writing this article is to find out how the role of primary health center in handling stunting. Methodology this research used mix method study design by extracting information from the health center, community leaders and the community so that an in-depth picture of the role of the community health center in the effort to overcome stunting in the working area of ​​the Campakamulya primary health center, Cianjur Regency was obtained. The results showed that the Campakamulya primary health center in terms of geographic limitations, human resources, tried to deal with stunting, but it was not optimal because there were no technical guidelines for stunting management that could be applied in the primary health center. Meanwhile, the treatment is based on experience in overcoming malnutrition. Support from village officials and the community has begun to appear in reducing stunting cases. Primary health center need to make innovations that can change people's behavior in preventing stunting by paying attention to the handling of improved nutrition in children since the first 1000 days of life. Key words: primary health center, handling stunting
Pemeriksaan Virologi SARS CoV-2 Untuk Pemantauan Kondisi Keparahan Penderita COVID-19 Heni Kismayawati; Yenni Risniati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan List Just Accepted Manuscript and Article In Press 2020
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v0i0.3946

Abstract

Abstrak Penanganan COVID-19 saat ini secara simtomatik dan suportif berdasarkan pemantauan klinis karena pencegahan ataupun pengobatan COVID-19 yang efektif masih dalam proses pengembangan. Karena itu perlu dilakukan pemantauan terhadap faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keparahan infeksi COVID-19 dalam upaya tatalaksana penderita dengan tepat untuk mengurangi kemungkinan perburukan klinis yang lebih parah. Beberapa kondisi klinis, kelainan pemeriksaan laboratorium maupun radiologi yang dapat meningkatkan risiko keparahan COVID-19 telah diobservasi. Pemeriksaan virologi SARS CoV-2 sebagai patogen kausal terus ditelusuri, terutama dalam korelasinya dengan keparahan infeksi COVID-19. Studi virologi SARS CoV-2 sebelumnya dari tinjauan literatur menunjukkan bahwa mutasi G614 pada protein Spike dan viral load tergantung dari lokasi pengambilan sampel, didukung dengan uji kultur, berkorelasi signifikan untuk pemantauan kondisi keparahan COVID-19. Hasil pemeriksaan virologi mengenai durasi dan clearance time SARS CoV-2 yang lebih lama secara bermakna pada kasus berat, dapat memberi masukan awal bahwa pada tahap infeksi COVID-19 yang parah diperlukan penguatan manajemen yang mendukung pencegahan penyebaran virus, sehubungan dengan pemantauan dan pengendalian infeksi penyakit yang dapat berlangsung lebih lama. Kata kunci : virologi, mutasi, viral load, durasi, clearance time, SARS CoV-2,COVID-19 parah, berat. Abstract The treatment of COVID-19 presently evolves around symptomatic and supportive management based on clinical monitoring because effective prevention or therapy of COVID-19 is still under development. Therefore it is necessary to monitor the factors that can affect the severity of the COVID-19 infection in attempting to manage it appropriately and keep the patients from going through more severe clinical deterioration. Several clinical conditions, laboratory and radiological abnormalities that can increase the risk of COVID-19 severity have been observed. The virological examination of SARS CoV-2 as the causal pathogen continues to be investigated, especially in its relation with the severity of COVID-19 infection. Previous SARS CoV-2 virological studies from the literature review showed that G614 mutation in spike protein and viral load depend on sampling location, supported by culture tests have a significant correlation for monitoring of COVID-19 severity. The results of virological examinations regarding the duration and clearance time of SARS CoV-2 which is significantly longer in severe cases can provide initial suggestion that it is necessary to strengthen management that supports the prevention of the spread of the virus at the stage of severe COVID-19 infection, corresponding with monitoring and control of disease infections that may last longer. Keywords: virology, mutation, viral load, duration, clearance time, SARS CoV-2, severe, COVID-19.
Implementasi Permenkes Nomor 812 Tahun 2010 tentang Tata Laksana Penyelenggaraan Pelayanan Hemodialisis di Indonesia Desi Fitria Neti; Ayurisya Dominata
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v5i1.4325

Abstract

Abstrak Implementasi Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI No. 812 tahun 2010 tentang penyelenggaraan pelayanan dialisis pada fasilitas pelayanan kesehatan (yankes) di Indonesia menimbulkan masalah bagi penderita gagal ginjal kronis. Kajian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data melalui tinjauan pustaka pada sejumlah artikel, laporan penelitian, dan jurnal serta diskusi/konsultasi melalui daring. Data yang diperoleh dianalisis dengan teori Miles & Hubermans. Kajian dilakukan dari bulan Desember 2020 s.d. Maret 2021. Hasil menunjukkan bahwa implementasi Permenkes No. 812/2010 tentang penyelenggaraan pelayanan dialisis pada fasilitas yankes (fasyankes) belum optimal. Ketersediaan sarana dan prasarana, sumber daya manusia (SDM), alat, mesin, cairan dialisat, dan obat belum terbagi merata di seluruh Indonesia. Banyak pasien belum mendapatkan pelayanan hemodialisis (HD) 2 kali seminggu. Jumlah pasien dialisis terus meningkat, sekitar 20 ribu pasien belum mendapatkan akses pengobatan, pemilihan jenis terapi HD dan continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) yang dilaksanakan sesuai rekomendasi dokter. Pasien belum mendapat dosis obat dan waktu HD yang cukup karena berbagai kendala. RS/Klinik belum melakukan kunjungan rumah dalam rangka edukasi dan pemantauan, pasien dialisis berpotensi mengalami komplikasi/infeksi/kematian (drop out). Monev belum berjalan optimal, pembiayaan HD lebih mahal dari CAPD membebani keuangan negara, pelatihan dialisis masih minim di RS/Klinik. Kebijakan pelayanan dialisis saat ini belum terpadu. Belum ada pencerahan rohani dan kewajiban pencabutan/pemotongan alat dialisis bagi pasien muslim ketika sudah meninggal di rumah. Kajian ini merekomendasikan perlu melakukan perubahan Permenkes No. 812 tahun 2010 pasal 15 ayat 1 dan 2, seiring dengan upaya yang bisa dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit dalam memperkuat sistem kesehatan dan mutu pelayanan bagi pasien dialisis. Kata kunci: Kebijakan Kesehatan, Pelayanan Dialisis, Penyakit Gagal Ginjal Abstract Implementation of Permenkes No. 812 of 2010 concerning the implementation of dialysis services in health facilities in Indonesia causing problems for people with cordic kidney failure. This study uses qualitative descriptive methods, data collection techniques through literature reviews in a number of articles, research reports, and journals and discussions / consultations through online. The data was obtained in the analysis with miles hubermans theory. Conducted from December 2020 to March 2021. The results concluded that the implementation of Permenkes No. 812/2010 on The Implementation of Dialysis Services in Health Care Facilities has not been optimal. The availability of facilities and infrastructure, human resources, tools, machinery, dialysis fluids, and drugs has not been evenly divided throughout Indonesia. Many patients do not get hemodialysis therapy (HD) services twice a week. Dialysis patients continue to increase, about 20 thousand patients have not received access to treatment, the selection of types of hemodialysis therapy HD and continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) implemented according to the recommendations of doctors. Patients have not received enough HD doses drugs and time due to various obstacles. Hospitals /Clinics have not made home visits in the framework of education and monitoring, dialysis patients have the potential to experience complications / infections / deaths (droup out). Monev has not run optimally, HD financing is more expensive than CAPD burdening the country’s finances, dialysis training is still minimal in hospitals / clinics. The current dialysis service policy is not yet integrated. There has been no spiritual revocation and obligation to revocation/cut dialysis equipment for Muslim patients when they have died at home. This study of authors recommends policy solutions that need changes to Permenkes No. 812 of 2010 article 15 paragraphs 1 and 2. And concrete efforts that can be done by the Ministry of Health, Hospitals, and Health Services. Keywords: Health Policy, Dialysis Services, Kidney Failure.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keikutsertaan Kelas Ibu Hamil (KIH) Secara Daring di Masa Pandemi Covid-19 Ni Gusti Ayu Pramita Aswitami; Ni Nyoman Ayu Desy Sekarini
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan List Just Accepted Manuscript and Article In Press 2020
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v0i0.4625

Abstract

Abstrak Kelas ibu hamil adalah sarana untuk belajar tentang kesehatan bagi ibu hamil. Kelas ibu hamil (KIH) secara daring adalah salah satu alternatif pelayanan kesehatan pada ibu hamil di masa pandemi Covid-19 saat ini. Berdasarkan beberapa penelitian pelaksanaan kelas ibu hamil yang dilaksanakan sebelum masa pandemi Covid-19 masih belum optimal. Berbagai faktor sosiodemografi memengaruhi keikutsertaan kelas ibu hamil. Dengan adanya alternatif pelaksanaan kelas ibu hamil (KIH) secara daring ini masih ada ibu hamil yang tidak mengikuti dengan optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi keikutsertaan ibu hamil dalam kelas ibu hamil (KIH) secara daring. Desain penelitian ini deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini ibu hamil diwilayah Puskesmas Kota Denpasar sebanyak 128 orang ibu hamil. Alat pengambilan data yang digunakan kuesioner dalam bentuk google form. Analisis data yang digunakan distribusi frekuensi dan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan paritas (p value 0,000), umur (p value 0,000), pendidikan (p value 0,000) dan dukungan keluarga (p value 0,000) terhadap keikutsertaan ibu hamil dalam kelas ibu hamil (KIH) secara daring. Disarankan kepada tenaga kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan dengan optimal untuk melaksanakan kelas ibu hamil secara daring dengan memperhatikan faktor-faktor yang memengaruhinya. Kata kunci: kelas ibu hamil daring, paritas,dukungan keluarga, umur ibu hamil, pendidikan Abstract Pregnant mother class is a means to learn about health for pregnant women. Daring pregnant women class (KIH) is an alternative health service for pregnant women during the current Covid-19 pandemic. Based on several studies, the implementation of classes for pregnant women conducted before the Covid-19 pandemic was still not optimal. Various sociodemographic factors influence the class participation of pregnant women. With the alternative implementation of daring pregnancy classes (KIH), there are still pregnant women who do not follow optimally. The purpose of this study was to determine the factors that influence the participation of pregnant women in the daring class of pregnant women (KIH). This research design is descriptive observational with cross sectional approach. The population of this research is that 128 pregnant women in Denpasar City Health Centre are pregnant women. The data collection tool used was a questionnaire in the form of a google form. Data analysis used frequency distribution and chi square test. The results showed that there was a relationship between parity (p value 0.000), age (p value 0.000), education (p value 0.000) and family support (p value 0.000) on the participation of pregnant women in the daring class of pregnant women (KIH). It is recommended for health workers to provide optimal health services to carry out daring classes for pregnant women by paying attention to the factors that influence it. Keywords: daring pregnancy class, parity, family support, age of pregnant women, education
Apakah Apakah Aksesibilitas Terhadap Prasarana Kesehatan Dapat Meningkatkan Pemanfaatan Persalinan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Indonesia? Dian Ayu Puspitasari
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan List Just Accepted Manuscript and Article In Press 2020
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v0i0.4693

Abstract

Abstrak Persalinan yang tidak dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai merupakan salah satu faktor penyebab tingginya angka kematian ibu. Pemanfaatan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan oleh wanita di Indonesia menunjukkan variasi antarprovinsi yang diduga dipengaruhi oleh faktor kontekstual regional yang melekat pada tiap-tiap provinsi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan antara aksesibilitas terhadap prasarana kesehatan di suatu wilayah dengan pemanfaatan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan oleh wanita di Indonesia. Metode regresi logistik multilevel digunakan untuk menguji apakah faktor aksesibililitas terhadap prasarana kesehatan yang pada penelitian ini diukur dengan rata-rata jarak untuk mencapai puskesmas dengan fasilitas rawat inap terdekat dan rasio puskesmas terakreditasi per 100.000 penduduk, berasosiasi dengan pemanfaatan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh wanita. Hasil penelitian ini menunjukkan pengaruh nyata karakteristik daerah tempat dimana wanita tinggal dengan pemilihan tempat persalinan di fasilitas kesehatan. Rata-rata jarak untuk mencapai puskesmas dengan fasilitas rawat inap terdekat terbukti berhubungan negatif dengan keputusan wanita untuk melahirkan di fasilitas pelayanan kesehatan. Artinya, kecenderungan wanita untuk melahirkan di fasilitas pelayanan kesehatan akan menurun seiring dengan meningkatnya jarak untuk mencapai puskesmas terdekat di wilayahnya. Sementara variabel rasio puskesmas per 100.000 penduduk yang merepresentasikan ketersediaan dan aksesibilitas masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan primer di suatu wilayah, bukanlah faktor yang signifikan memengaruhi keputusan wanita untuk melahirkan di fasilitas pelayanan kesehatan. Oleh karenanya, untuk mengurangi kesenjangan antardaerah dalam pemanfaatan persalinan di fasilitas kesehatan, intervensi kebijakan pemerintah perlu lebih diprioritaskan pada peningkatan aksesibilitas, terutama aksesibilitas secara fisik terhadap prasarana kesehatan. Abstract Delivery that has not taken place in healthcare facilities is one of the factors causing high maternal mortality rate. The institutional delivery service utilization by women in Indonesia shows variations between provinces which is allegedly influenced by contextual factors inherent in each province. This study aims to investigate the relationship between accessibility to healthcare facilities and institutional delivery service utilization by women in Indonesia. The multilevel logistic regression method was used to test whether the accessibility to healthcare facilities factors, which in this study was measured by the average distance to the nearest primary healthcare center (PHC) with inpatient facility and the ratio of accredited PHC per 100,000 population, were associated with the institutional delivery service utilization. The results of this study indicate that the characteristics of the area where women live have significant effect on woman’s choice of place of delivery. The average distance to the nearest PHC has been shown to be negatively associated with the institutional delivery service utilization. This means that the likelihood for women to give birth in healthcare facilities will decrease as the distance to the nearest PHC increases. Meanwhile, the ratio of PHC per 100,000 population, which represents the availability and accessibility of the community to primary healthcare facilities in a region, is not a significant factor in influencing women's choice of place of delivery. Therefore, to reduce disparities between regions in the institutional delivery service utilization, policy interventions need to be prioritized on increasing accessibility, especially physical accessibility to healthcare facilities.
Hubungan Prematuritas dan Berat Badan Lahir Rendah dengan Derajat Gangguan Pendengaran pada Anak muyassaroh -; Dwi Marliyawati; Peny Handayani
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v5i1.4784

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Gangguan pendengaran sering ditemukan pada anak - anak yang lahir prematur dan berat badan lahir rendah (BBLR). Kejadian gangguan pendengaran pada anak di Indonesia dengan prematur dan BBLR adalah 19,3% dan 36,1%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara prematuritas dan BBLR dengan derajat kurang dengar pada anak. Metode: Penelitian deskriptif analitik menggunakan data rekam medik anak dengan kurang dengar di RSUP Dr. Kariadi Semarang tahun 2019 – 2020. Diagnosis gangguan dengar berdasarkan hasil BERA variabel yang diteliti derajat gangguan pendengaran, prematuritas, BBLR. Analisis data dengan uji korelasi. Hasil: Subjek penelitian sebanyak 466 anak. Jenis kelamin didominasi oleh laki – laki 237 (50,9%) dan subyek yang berusia kurang dari 5 tahun sebanyak 406 (87,1%). Faktor risiko kelahiran prematur 23 (4,9%), BBLR 33 (7,1%), prematur disertai BBLR sebanyak 18 (3,9%). Gangguan pendengaran derajat ringan – sedang 111 (23,8%), gangguan pendengaran derajat berat – sangat berat 355(76,2%). Tidak terdapat hubungan antara prematuritas dengan derajat kurang dengar (p = 0,059). Tidak terdapat hubungan antara BBLR dengan derajat kurang dengar (p = 0,158). Terdapat hubungan yang signifikan antara prematuritas dan berat badan lahir rendah dengan derajat kurang dengar (p= 0,046). Kesimpulan:Terdapat hubungan antara prematuritas dan berat badan lahir rendah dengan derajat kurang dengar. Kata Kunci: Gangguan Pendengaran, Prematuritas, Berat Badan Lahir Rendah Abstrac Background: Hearing loss is often found in children born prematurely and with low birth weight (LBW). The incidence of hearing loss in children in Indonesia with preterm and LBW was 19.3% and 36.1%. The purpose of this study was to determine the relationship between prematurity and LBW with the degree of hearing loss in children. Methods: A descriptive analytic study using medical record data of children with hearing impairment at Dr. Kariadi Semarang in 2019 - 2020. Diagnostic hearing loss is based on BERA. The variables studied were the degree of hearing loss, prematurity, LBW. Data analysis was performed by using correlation test. Result : The subjects were 466 children, 237 men (50.9%) and less than 5 years old 406 (87.1%).Risk factors for preterm birth were 23 (4.9%), LBW 33 (7.1%), premature accompanied by LBW was 18 (3.9%). Mild to moderate degree of hearing loss were 111 (23.8%),hearing loss with a degree of severity - very severe 355 ( 76.2%). There was no relationship between prematurity and degree of hearing loss (p = 0.059). There was no relationship between LBW and the degree of hearing loss (p = 0.158). There was a significant relationship between prematurity and low birth weight and the degree of hearing loss (p = 0.046). Conclusion: There is a relationship between prematurity and low birth weight and the degree of hearing loss. Keyword: Hearing Loss, Premature, Low Birth Weight

Page 12 of 13 | Total Record : 130