cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Reproduksi
ISSN : 2302836X     EISSN : 2621461X     DOI : -
Core Subject : Health,
urnal Kesehatan Reproduksi is a scientific journal published by Association of Women and Children Reproductive Health Enthusiasts and Experts/Ikatan Pemerhati Anak dan Kesehatan Reproduksi/IPAKESPRO) who works closely with the Department of Obstetrics and Gynaecology, Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, Universitas Gadjah Mada. Jurnal Kesehatan Reproduksi first printed version was published in 2014 with ISSN 2302-836X. In 2016, we also have an online journal version with ISSN 2621-461X. Currently, we already use the Online Journal System, requiring all authors to submit their papers online. Afterwards, authors, editors and reviewers will be able to monitor the manuscript processing. This journal is published annually every April, August and December.
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
ANALISIS INDIKASI OPERASI SESAR ULANG PADA KLASIFIKASI ROBSON GRUP V DI RSUP SARDJITO TAHUN 2020-2022 Wulandari, Andhyta Ratih; Rachman, Irwan Taufiqur; Nurdiati, Detty Siti
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.98639

Abstract

Latar Belakang: Operasi sesar meningkat di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir, yang turut meningkatkan angka operasi sesar ulang. Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan bahwa rasio operasi sesar ulang yang optimal adalah 50-60%, namun demikian angka operasi sesar ulang melebihi angka yang ditetapkan oleh WHO. Pada tahun 2015, WHO menetapkan standar sistem Klasifikasi Robson untuk memantau tingkat operasi sesar.Tujuan: Memahami dinamika operasi sesar di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta selama periode 2020-2022, dengan fokus pada karakteristik obstetri dari ibu yang menjalani operasi sesar ulang serta menilai kesesuaian angka operasi sesar berdasarkan analisis tipe populasi dan penilaian kualitas data menggunakan Klasifikasi Robson.Metode: Penelitian kuantitatif retrospektif menggunakan data sekunder. Penelitian melibatkan 336 subjek yang memenuhi kriteria inklusi dalam klasifikasi Robson grup V. Pengumpulan data dilakukan dari data sekunder rekam medis menggunakan instrumen Case Report Form (CRF) lalu dilakukan analisis data, yang mencakup analisis univariat, bivariat dan multivariat.Hasil dan Pembahasan: Didapatkan sebanyak 336 subyek penelitian, dengan 302 subyek melakukan persalinan operasi sesar ulang (89.9%) dan 34 subyek melakukan persalinan vaginal birth after Caesarean (VBAC) (10.1%). Karakteristik pasien yang berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian operasi sesar ulang yaitu IMT pasien, onset persalinan dan taksiran berat janin (TBJ), sedangkan indikasi yang secara statistik signifikan berhubungan dengan persalinan operasi sesar ulang adalah jumlah riwayat operasi sesar, PAS/PPT, partus tak maju, PEB dan covid-19.Kesimpulan: Kejadian persalinan operasi sesar ulang lebih tinggi pada pasien dengan onset persalinan rencana operasi dan induksi. Pasien dengan riwayat operasi sesar >1 kali mengalami kejadian persalinan operasi sesar ulang yang lebih tinggi walau tanpa indikasi operasi sesar lainnya. Karakteristik subyek yang secara statistik memiliki hubungan yang signifikan dengan persalinan operasi sesar ulang yaitu IMT, onset persalinan dan TBJ.
Informed Consent Tindakan Seksio Sesarea: Studi Metode Campur Penerapan Prinsip Bioetika pada Obstetri dan Ginekologi Saimin, Juminten; Prabandari, Yayi Suryo; Dewanto, Agung; Padmawati, Retna Siwi; Hakimi, Mohammad
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.100529

Abstract

Latar belakang: Seksio sesarea dilakukan atas indikasi medis dan persetujuan pasien. Proses pengambilan keputusan terkadang menghadapi kendala dan dilemma.Tujuan: Menganalisis kelengkapan dan kepatuhan pengisian lembar informed consent dan aspek bioetika pemberian informed consent pada SC elektif.Metode: Menggunakan metode campur dengan pendekatan explanatory sequential design. Data kuantitatif untuk menilai kelengkapan dan kepatuhan pengisian lembar informed consent diperoleh dari rekam medik. Data kualitatif untuk menilai penerapan aspek bioetik diperoleh dari wawancara terstruktur dengan dokter Obgin, dokter umum jaga, bidan, dan pasien pasca SC.Hasil dan Pembahasan: Kelengkapan dan kepatuhan pengisian lembar informed consent adalah 72,5% dan 71,8%. Kedisiplinan dan perubahan rekam medik elektronik menjadi kendala pengisian formulir informed consent. Pemberian informed consent terkendala ketidakhadiran orang terpenting yang akan mengambil keputusan, kurangnya pemahaman dan pengetahuan pasien, dan pasien peserta asuransi kesehatan sehingga memunculkan dilema. Implementasi informed consent berdasarkan prinsip bioetika, otonomi, beneficence, non- maleficence, dan justice, digunakan untuk menyelesaikan dilema etik dalam pengambilan keputusan.Kesimpulan: Kelengkapan dan kepatuhan pengisian lembar informed consent belum mencapai 100%. Memilih prinsip bioetika yang lebih dominan nilai dan prioritasnya dengan analisis prima facie menjadi solusi untuk menyelesaikan dilema etik dalam pengambilan keputusan pada SC elektif.
Extirpation of a Pedunculated Submucouse Leiomyoma: Case Report Pramana, Cipta; Gaofman, Brian Albert; Azizatusolekhah, Eka Aprilya; Yudhoyono, Parindra Wira
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.104275

Abstract

Background: Uterine leiomyomas are non-malignant neoplasms originating from endometrial tissue. They represent the most prevalent tumor seen in females of reproductive stages. Abnormal uterine bleeding is one of the most common symptoms of leiomyoma. There are several types of myoma, including pedunculated submucous uterine leiomyoma.Objective: To report the case of a pedunculated submucouse leiomyoma extirpation.Method: A 38-year-old woman with complaints of abnormal bleeding without pain. Physical examination showed good general condition. Anemic conjunctiva was found. A gynecological examination found a mass in the external uterine ostium as big as a big toe. Ultrasonography examination showed a mass in the vagina that was stalked towards the uterine cavity. The diagnosis was pedunculated submucous uterine leiomyoma. Leiomyoma extirpation therapy was performed.Results and Discussion: Leiomyomas of the uterus, even when large or numerous, may be asymptomatic. Common signs and symptoms include abnormal bleeding, urinary frequency due to  compression of the bladder, sudden pain from infarction of a large or pedunculated tumor, and impaired fertility. The management of pedunculated uterine leiomyoma if the tumor is small is sufficient to do extirpation but if the tumor is large with a thick stalk, laparotomy must be performed.Conclusion: Extirpation is a surgical intervention prefered therapy for prolapsed pedunculated submucous leiomyoma. It has been seen that small nascent myomas that protrude through the ostium uterine internum can be effectively removed just using extirpation.
The Relationship Between Stress Level During Covid-19 Pandemic with The Intensity Of Dysmenorrhea Junitha, Euginia; Ganap, Eugenius Phyowai; Wirasto, Ronny Tri; Kusumanto, Ardhanu
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.111116

Abstract

Background: One of the modifiable risk factors of dysmenorrhea is stress. The stress level has a bidirectional relationship with dysmenorrhea and can interfere with the student’s quality of life. Due to the COVID-19 pandemic, many abrupt changes happened in the psychosocial and socioeconomic sectors might affect the psychological well-being of students, hence exacerbating the menstrual pain.Objective: The study aims to observe whether there is a positive relationship between stress level and dysmenorrhea intensity among college students in Universitas Gadjah Mada from batch 2019-2021.Method: Descriptive study with a cross-sectional approach. The sampling was done with simple random sampling with 155 participants in total. This study uses WaLIDD score and PSS-10 questionnaire in an online questionnaire form. Data analysis is done in univariate, bivariate, and multivariate.Results and Discussion: There is a positive relationship between stress level and dysmenorrhea intensity among female UGM students with a p-value of 0.031 (<0.05).Conclusion: Higher stress levels are significantly associated with increased dysmenorrhea intensity, indicating that psychological stress during the COVID-19 pandemic may play a pivotal role in exacerbating menstrual pain among female university students.