cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Reproduksi
ISSN : 2302836X     EISSN : 2621461X     DOI : -
Core Subject : Health,
urnal Kesehatan Reproduksi is a scientific journal published by Association of Women and Children Reproductive Health Enthusiasts and Experts/Ikatan Pemerhati Anak dan Kesehatan Reproduksi/IPAKESPRO) who works closely with the Department of Obstetrics and Gynaecology, Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, Universitas Gadjah Mada. Jurnal Kesehatan Reproduksi first printed version was published in 2014 with ISSN 2302-836X. In 2016, we also have an online journal version with ISSN 2621-461X. Currently, we already use the Online Journal System, requiring all authors to submit their papers online. Afterwards, authors, editors and reviewers will be able to monitor the manuscript processing. This journal is published annually every April, August and December.
Arjuna Subject : -
Articles 254 Documents
Perbandingan Kualitas Hidup Pasien Endometriosis Pascaoperasi sebelum Dan Sesudah Pemberian Terapi Hormonal Dian Novitasari; Agung Dewanto; Ahsanudin Attamimi
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 9, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.75116

Abstract

Latar belakang: Endometriosis merupakan penyakit yang ditandai adanya jaringan endometrium di luar cavum uterus, yang menimbulkan reaksi peradangan kronis. Gejala endometriosis paling sering adalah nyeri pelvis dan infertilitas. Endometriosis berpengaruh terhadap kualitas hidup penderitanya, terutama karena rasa nyeri yang ditimbulkannya, bisa menghambat dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Kombinasi dari terapi operatif dan medikamentosa efektif untuk menurunkan rekurensi, mengurangi nyeri dan meningkatkan fertilitas pada pasien dengan endometriosisTujuan: Membandingkan kualitas hidup dan skor nyeri pasien pasca operasi endometriosis sebelum dan sesudah pemberian terapi hormonalMetode: Kualitas hidup pada pasien endometriosis yang telah menjalani laparoskopi ataupun laparotomi dievaluasi dengan metode kohort prospektif menggunakan kuesioner Endometriosis Health Profile-30 (EHP-30). Kuesioner diberikan sebelum terapi hormonal dan diulang lagi setelah selesai terapi hormonal. Analisis dilakukan dengan membandingkan nilai masing-masing domain dari kuesioner inti dan kuesioner moduler sebelum dan sesudah terapi hormonal.Hasil: Total responden adalah 73 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Terapi hormonal pada pasien endometriosis dapat memperbaiki kualitas hidup secara keseluruhan dengan rerata skor 29,89 (SD ± 17,80) menjadi 16,5 (SD ± 16,7) (p <0,001) sebelum mendapatkan terapi hormonal. Terdapat perbaikan pada semua domain kuesioner inti, dengan nilai yang bermakna secara statistik pada domain nyeri dengan rerata 41,73 (SD ± 27,08) menjadi 13,70 (SD ± 22,39) (p <0,001), domain kendali & ketidakberdayaan; rerata 34.21 (SD ± 25,63) menjadi 16,66 (SD ± 19,58) (p <0,001), domain kesehatan emosional rerata 29,84 (SD ± 21,18) menjadi 19,11 (SD ± 19,22) (p <0,001); dan domain dukungan sosial rerata 26,97 (SD ± 20,70) menjadi 20,30 (SD ± 22,37) (p=0,006), sedangkan pada domain citra diri tidak terdapat perbaikan secara signifikan. Pada kuesioner modular terdapat perbaikan signifikan pada domain pekerjaan dengan rerata 30,37 (SD ± 24,99) menjadi 13,57 (SD ± 18,62) p <0,001, domain hubungan dengan anak rerata 13,82 (SD ± 20,13) menjadi 9,58 (SD ± 17,08) dan nilai p=0,017; dan domain perasaan terhadap infertilitas rerata 45,96 (SD ± 29,80) menjadi 36,67 (SD ± 29,77) p=0,001, sedangkan pada domain hubungan seksual, hubungan dengan tenaga kesehatan dan perasaan terhadap terapi tidak terdapat perubahan yang signifikan.Kesimpulan: Kualitas hidup setelah pemberian terapi hormonal lebih baik bila dibandingkan sebelum pemberian terapi hormonal pada pasien endometriosis pascaoperasi
Malformasi Genital Perempuan: Kasus di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2019 Anis Widyasari; Muhammad Nurhadi Rahman; Akbar Novan Dwi Saputra; Nuring Pangastuti
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 9, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.75774

Abstract

BackgroundReproductive tract malformations are rare in general population but are commonly encountered in women with infertility and recurrent pregnancy loss. Their true prevalence in the general population is not absolutely known mainly owing to methodological bias. Common uterine anomalies are important owing to their impact on fertility, and certain Mullerian malformations are particularly important because they cause serious clinical symptoms and affect woman’s quality of life. Identification of symptoms and timely diagnosis are an important key to the management of these defects. Although MRI being gold standard in delineating uterine anatomy, recent advances in imaging technology, specifically 3-dimensional ultrasound, achieve accurate diagnosis. Surgical management depend on the type of anomaly and its complexity and also involves multiple specialties; thus, patients should be referred to centres with experience in the treatment of complex genital malformationsObjectiveDetermined the description of cases of female genital malformation at Dr. Sardjito Hospital in 2019.MethodThis is descriptive study. The subject in this study were all new patient with female genital malformation at Obgyn Polyclinic Dr. Sardjito Hospital January-December 2019. Obtained  30 cases of female genital malformation.ResultThere is 30 cases of genital malformation in 2019. They were 4-44 years with mode at group 16-20 years. They consist of vaginal and cervicovaginal agenesis 14 cases, Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser (MRKH) Syndrom 6 cases, hematometra of hemiuterine 4 cases, Herlyn-Werner-Wunderlich (HWW) syndrome 3 cases, imperforate hymen, didelphys uterus and genital ambiguous each 1 case. Five cases of cervicovaginal agenesis have been done sigmoid vaginoplasty, all of them have good sexual function after procedure. One case MRKH syndrome has been done sigmoid vaginoplasty with good sexual function after that. Two cases HWW syndrome have been surgical treatment that are vaginal septectomy and vaginal septectomy with laparascopic cystectomy.ConclusionThe correct knowledge of embryology of the genitourinary is essential for the understanding, study, diagnosis and management of genital malformations, especially complex ones and those that lead to reproductive problems. Surgical techniques for correcting genital malformations depend on the type of anomaly and complexity.
Gambaran Kriteria Robson pada Ibu Bersalin dengan Preeklampsia Dewi Nurlaelasari; Andriana Kumala Dewi
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 9, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.76694

Abstract

AbstractPreeclampsia is hypertension in pregnancy which is associated with 2-8% of pregnancy-related complications worldwide. It causes 9-26% of maternal deaths in low-income countries and 16% in high-income countries. This study aims to determine the prevalence and characteristics of pregnant women with preeclampsia who underwent cesarean section based on Robson's criteria at Sumber Waras Hospital, West Jakarta. This research methodology uses a descriptive method with a cross-sectional design with a total sample of 55 women with preeclampsia who underwent caesarean section in 2020 at Sumber Waras Hospital, West Jakarta. The results of this study were the highest group 4 on the Robson criteria with 41.81%, while the lowest were groups 3, 6 and 9 with 1.81%. The conclusion of this study is that the prevalence of women giving birth with preeclampsia who undergo cesarean section at Sumber Waras Hospital, West Jakarta is 78.57% and shows that group 4 on Robson's criteria has the highest number.Keywords: Cesarean section; Preeclampsia; Robson's criteriaAbstrakPreeklampsia adalah hipertensi pada kehamilan yang berhubungan dengan 2-8% komplikasi terkait kehamilan di seluruh dunia. Ini menyebabkan 9-26% kematian ibu di negara-negara berpenghasilan rendah dan 16% di negara-negara berpenghasilan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi serta karakteristik ibu bersalin dengan preeklampsia yang menjalani seksio sesarea berdasarkan kriteria Robson di RS Sumber Waras Jakarta Barat. Metodologi penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan desain penelitian potong lintang dengan jumlah sampel sebanyak 55 ibu bersalin dengan preeklampsia yang menjalani seksio sesarea pada tahun 2020 di RS Sumber Waras Jakarta Barat. Hasil penelitian ini yang tertinggi adalah kelompok 4 pada kriteria Robson dengan 41,81%, sedangkan yang terendah yaitu kelompok 3, 6 serta 9 dengan 1,81%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah prevalensi ibu bersalin dengan preeklampsia yang menjalani seksio sesarea di RS Sumber Waras Jakarta Barat adalah 78,57% serta menunjukan bahwa kelompok 4 pada kriteria Robson memiliki jumlah yang paling tinggi.Kata kunci: Kriteria Robson; Preeklampsia; Seksio sesarea
Evaluasi KIPPas (Kartu Instrumen Prediktor Pangastuti) Jogja sebagai Instrumen Prediktor Disfungsi Dasar Panggul Pasca Persalinan Vaginal Fauzan Achmad Maliki; Nuring Pangastuti; Rukmono Siswishanto
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 9, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.77584

Abstract

Background: Postpartum pelvic floor dysfunction is pelvic floor disorder, which can be in the form of pelvic organ prolapse, urinary problem, defecation problem or sexual dysfunction. The incidence of postpartum pelvic floor dysfunction occurs in 46% of postpartum women. Until now, there is no standard instrument used to estimate the incidence of postpartum pelvic floor dysfunction. In previous studies, an instrument was obtained, namely KIPPas Jogja, to estimate the incidence of pelvic floor dysfunction after delivery, but it was still not sufficient for the number of research samples needed.Objective: To evaluate the Pangastuti Jogja Predictor Instrument Card (KIPPas Jogja) as a predictor of pelvic floor dysfunction in the form of pelvic organ prolapse after vaginal delivery.Method: This study was a prospective cohort study. Subjects who gave vaginal delivery were examined according to the KIPPas Jogja instrument and then evaluated for the diagnosis of pelvic floor dysfunction in the form of pelvic organ prolapse with POPQ examination and complaints of pelvic floor dysfunction using the PFDI and FSFI instruments at 3 months postpartum.Results and Discussion: From 133 research subjects, the results of the KIPPas Jogja assessment are high risk in 42.9% of subjects and low risk in 57.1% of subjects. The incidence of pelvic floor dysfunction in the form of pelvic organ prolapse was found in 69.17% subjects. Complaints of pelvic floor dysfunction were present in 20.31% subjects and complaints of sexual dysfunction in 11.3% subjects. The sensitivity of KIPPas Jogja is 80% and specificity is 95% with a positive predictive value of 97% and a negative predictive value of 68% to detect pelvic dysfunction in the form of pelvic organ prolapse. Meanwhile, to predict complaints of pelvic floor dysfunction, measured with PFDI-20, the sensitivity was 93% and specificity was 52%, and the positive predictive value was 33% and the negative predictive value was 96%. To predict sexual dysfunction, KIPPas obtained sensitivity of 64%, specificity of 42% with a positive predictive value of 10% and a negative predictive value of 92%.Conclusion: KIPPas Jogja can be used as a predictor of postpartum pelvic floor dysfunction. Keywords: postpartum pelvic floor dysfunction, KIPPas Jogja, POPQ, PFDI-20, FSFI
Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Berhenti Pakai (Drop Out) Kontrasepsi Di Kalimantan Barat (Analisis Data SDKI Tahun 2017) Elma Marsita; Lydia Febri Kurniatin; Septi Nur
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 9, No 3 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.68540

Abstract

Latar Belakang: Berhenti pakai (drop out) kontrasepsi merupakan kejadian berhentinya PUS menjadi akseptor KB. Angka kejadian drop out KB di Indonesia mengalami peningkatan, dari 11,46% pada tahun 2008 menjadi 15,09% pada tahun 2012. Hasil SDKI 2017 di Kalimantan Barat menunjukkan 34% wanita usia 15-49 tahun yang sudah menikah dan mulai memakai alat/cara KB dalam 5 tahun sebelum survey, berhenti memakai alat/cara KB dalam waktu 12 bulan setelah mulai memakai. Peningkatan angka drop out KB akan sejalan dengan angka peningkatan jumlah penduduk. Hal ini akan berdampak pada tingkat kesejahteraan, kualitas pendidikan, pembangunan, dan kesehatan sehingga akan menurunkan kualitas penduduk setempat.Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian berhenti pakai (drop out) kontrasepsi di Kalimantan Barat berdasarkan hasil analisis data SDKI 2017.Metode: Penelitian ini dirancang menggunakan desain kuantitatif. Responden adalah wanita usia subur dengan status kawin berusia 15-49 tahun yang pernah menggunakan kontrasepsi atau masih menggunakan kontrasepsi saat pengambilan data SDKI tahun 2017 di provinsi Kalimantan Barat. Besar sampel yaitu 490 orang berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dianalisis secara univariat, bivariat (chi square), dan multivariat (regresi logistik).Hasil dan Pembahasan: Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis metode kontrasepsi (OR=2.2|CI95%;1,412-3,565), usia (OR=1.7|CI95%;1,180-2,562),  status pekerjaan (OR = 1.5|CI95%;1,024-2,218), paritas (OR = 1.6|CI95%; 1,124-2,427), tempat tinggal (OR = 1.7|CI95%; 1,153-2,623), dukungan pasangan (OR = 14|CI95%; 5,708-34,42), efek samping (OR = 2.3|CI95%; 1,354-3,990), masalah kesehatan (OR = 3.2|CI95%;1,640-6,255), kebersamaan dengan suami (OR = 3.2|CI95%; 1,449-7,223), frekuensi melakukan hubungan seksual (OR = 3.5| CI95%; 2,179-5,618), serta penkes KB dari petugas kesehatan (OR = 2.4|CI95%; 1,448-4,083) terhadap perilaku drop out kontrasepsi. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa apabila variabel secara bersama-sama dalam kategori baik, maka probabilitas untuk tidak melakukan drop out KB adalah sebesar 94%, sedangkan 6% dipengaruhi oleh variabel lain. Sedangkan tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan (OR=0.8|CI95%;0,354-1,708), keterjangkauan jarak pelayanan kesehatan (OR=1.5|CI95%;0,889-2,364), pengetahuan metode KB (OR = 0.9|CI95%;0,519-1,414)  dan kunjungan petugas KB ke rumah (OR = 2|CI95%; 0,728-5,319). Kata kunci : Berhenti Pakai; Drop out; Kontrasepsi; SDKI 2017; Kalimantan Barat 
Kompres Hangat Sebagai Strategi Perawatan Diri untuk Meredakan Dismenore Primer pada Remaja Siti Sholihat; Intan Rosmita Dewi; Benny Novico Zani
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 9, No 3 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.70726

Abstract

Background: Primary dysmenorrhea is a problem that often occurs in adolescents, the incidence of dysmenorrhea is high so it is necessary for adolescents to understand how to deal with dysmenorrhea pain problems independently.Objectives: This study aims to determine the impact of warm compresses in reducing dysmenorrhea in adolescentsMethods: Pre-experimental research design with one group pretest-posttest type, on 30 female students based on inclusion and exclusion criteria. The application of warm compresses was carried out independently, previously given training on SOPs for warm compresses, paying attention to pain using the Verbal Descriptor Scale (VDS) instrument, data analysis using Wilcoxon with a significant level of 0.05.Results and Discussion: The results of the characteristic study found that respondents were at the age of 21 years, the median body mass index (BMI) was 22.2, some respondents had a menstrual period of 27.5 days with regular menstrual cycles and dysmenorrhea that occurred on the first day. The median score before intervention was 5.5 with an interquartile range (IQR) of 1.75 while the median after intervention was 0 with an IQR value of 2. The Wilcoxon test results found a significant reduction in pain before and before warm compresses with a level of 0.000 Conclusion: Compresses have a positive impact in reducing dysmenorrhea pain and can be an alternative to self-care that teenagers can do Keywords: dysmenorrhea; pain; warm compress 
Penerapan Robert Buckman's Six-step Protocol pada Kehamilan dengan Kanker Ovarium I Made Darmayasa; Amelia Dwi Nurulita Sugiharta; Sarah Endang S Siahaan
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 9, No 3 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.73772

Abstract

Latar Belakang: Penyampaian berita buruk merupakan salah satu materi penting dalam ketrampilan komunikasi medis. Diperlukan pendekatan khusus dalam penyampaian informasi medis yang dapat menimbulkan respon buruk. Diagnosis kanker ovarium sendiri disertai kehamilan yang tidak direncanakan merupakan berita buruk yang sangat stress full, apalagi akan dilakukan terminasi kehamilan. Diperlukan protokol yang bisa dijadikan panduan untuk menyampaikannya kepada pasien.Tujuan: Untuk mempelajari dan menerapkan Robert Buckman's Six-step Protocol dalam menyampaikan satu laporan kasus berita medis yang buruk (medical breaking bad news) yang dialami seorang perempuan yang menderita kanker ovarium dan hamil, serta akan dilakukan terminasi kehamilan.Metode: Sebuah laporan kasus tentang penderita Kanker Ovarium, hamil tanpa perencanaan dan akan dilakukan terminasi.Hasil dan Pembahasan: Pada saat dilakukan pendekatan klinik dengan diagnosis multiaxial, pada axis I didapatkan penderita dengan Gangguan Penyesuaian dengan Reaksi Campuran Cemas (F32.2), pada axis II dtemukan adanya ciri kepribadian cemas, MPE acting out, dan displacement. Pada axis III pasien hamil ketiga usia kehamilan 16 Minggu + Kista Ovarium curiga Ganas. Pada axis IV, pasien harus menghadapi masalah dengan penyakitnya disertai adanya kehamilan. Serta pada avis V Global Assessment of Functioning didapatkan 61-50 sedangakan Global Assessment of Functioning 1 tahun terakhir 90-81. Diterapkan Robert Buckman's Six-step Protocol sebagai panduan dalam menyampaikan informasi buruk tersebut.Kesimpulan: Pasien-pasien kanker ovarium dengan kehamilan yang tidak direncanakan dan akan dilakukan terminasi kehamilan merupakan kelainan medis yang berat dapat diikuti dengan kecemasan dan depresi. Perlu pendekatan khusus mulai dari penyampaian informasi/diagnosis, rencana tindakan dan menghadapi risiko maupun komplikasi yang mungkin dapat terjadi. Terhadap kecemasan dan depresi yang tetap muncul, dilakukan terapi farmakologis dan dikombinasikan dengan non-farmakologi seperti Mindfulness-based cognitive behavioral therapy, dan cognitive behavior therapy. Kata kunci: Robert Buckman's Six-step Protocol; kehamilan tidak direncanakan; kanker ovarium 
Hubungan Kejadian Disfungsi Dasar Panggul dan Kualitas Hidup Perempuan Usia Menopause di Daerah Istimewa Yogyakarta Ratih Kumalasari; Nuring Pangastuti; Ova Emilia
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 9, No 3 (2022): In Process
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.75089

Abstract

Latar Belakang: Disfungsi dasar panggul paling banyak terjadi pada perempuan usia lanjut, dengan insidensi sekitar 39,8%. Hal ini erat hubungannya dengan kejadian menopause. Menopause akan menyebabkan penurunan hormon estrogen, yang berkontribusi terhadap kelemahan dan atrofi otot dasar panggul. Jarangnya perempuan dengan disfungsi dasar penggul memeriksakan dirinya, mengakibatkan tidak adanya data yang tepat mengenai angka kejadian disfungsi dasar panggul pada perempuan menopause. Keadaan disfungsi dasar panggul pada perempuan menopause akan berpengaruh terhadap kualitas hidupnya, terutama dalam hal fisik, seksual, dan psikososial. Berdasarkan hal tersebut, penilaian kualitas hidup perempuan dengan disfungsi dasar panggul dilakukan dengan instrumen MENQOL yang dapat menilai kualitas hidup perempuan menopause secara umum.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kejadian disfungsi dasar panggul dengan kualitas hidup perempuan usia menopause di Daerah Istimewa Yogyakarta.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik cross sectional yang dilakukan di beberapa daerah di DIY. Subjek dilakukan penilaian disfungsi dasar panggul berupa prolaps organ panggul dengan pemeriksaan POPQ, sedangkan kualitas hidup perempuan menopause dinilai berdasarkan instrumen MENQOL.Hasil: Dari 192 subjek, didapatkan 140 subjek (72,92%) mengalami prolaps organ panggul, dengan kejadian sistokel 69,79%, rektokel 67,71%, dan prolaps uteri 46,35%. Gambaran kualitas hidup perempuan usia menopause menunjukkan variasi dalam tingkat keluhan dari subjek. Terdapat perbedaan yang bermakna dari median skor pada domain fisik MENQOL antara kelompok disfungsi dasar panggul dan tidak (p=0,000). Usia, paritas, riwayat obstetri, penyakit kronis, dan lamanya menopause, memiliki hubungan yang bermakna secara signifikan terhadap kejadian disfungsi dasar panggul (p < 0,05). Kualitas hidup perempuan usia menopause juga dipengaruhi oleh faktor usia, pekerjaan, riwayat penyakit kronis, dan lamanya menopause (p < 0,05).Kesimpulan: Kualitas hidup berdasarkan domain fisik MENQOL lebih rendah pada  perempuan usia menopause dengan disfungsi dasar panggul (p<0,05).
Penatalaksanaan Dismenore Primer pada Remaja dengan Pemberian Jus Wortel dan Air Kelapa Hijau Ratna Dewi; Widia Petasari; Sri Yanniarti
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 9, No 3 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.76888

Abstract

 ABSTRAKBackground: Menurut WHO tahun 2018 bahwa angka kejadian dismenore di dunia ini sangat besar. Dismenore dapat dikurangi dengan tindakan farmakologi dan non-farmakologi. Salah satu pengobatan non-farmakologi untuk mengurangi dismenore  menggunakan jus wortel dan air kelapa hijau. Objective: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pemberian jus wortel dan air kelapa hijau terhadap penurunan skala nyeri dismenore primer pada remaja putri di SMPN 02 Kota Bengkulu. Method: Desain penelitian quasi eksperiment dengan rancangan penelitian two group pretest-posttest. Pengambilan sampel dilakukan secara proportional random sampling dengan jumlah masing-masing kelompok sebanyak 13 responden. Penelitian ini menggunakan instrument penelitian berupa lembar pengukuran skala nyeri NRS (numeric rating scale). Analisis data berupa analisis univariat dan bivariat. Results and Discussion: Hasil Penelitian menunjukan terdapat penurunan skala nyeri setelah diberikan jur wortel dan air kelapa hijau. Tidak ada perbedan antara pemerian jus wortel  dan  air kelapa hijau terhadap penurunan skala  nyeri  dengan p value 0.740 >0,05. Conclusion: Penatalaksanaan dismenore pada remaja yang mengalami dismenore dapat mengkonsumsi jus wortel atau air kepala hijau secara rutin pada saat mulai mentsruasi.Keyword: Jus wortel; air kelapa hijau; dismenore  
Manfaat Maternal Early Obstetric Warning Score (MEOWS) dalam Memprediksi Lama Perawatan pada Pasien Preeklamsia Berat di RSUP Dr. Sardjito Sulistianto Sulistianto; Rukmono Siswishanto; Ahsanudin Attamimi
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 9, No 3 (2022): In Process
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.77590

Abstract

Latar Belakang: skor MEOW sangat penting untuk menilai kondisi klinis pasien dengan adanya perubahan tanda vital selama pasien dirawat. Adanya perubahan ini akan berpengaruh terhadap lama perawatan pasien preeklamsia berat. Namun saat ini belum ada penelitian mengenai hubungan skor MEOW dengan lama perawatan pasien preeklamsia berat yang dirawat di rumah sakit.Tujuan: Mengetahui apakah terdapat hubungan antara skor MEOW dan lama perawatan pasien preeklamsia berat.Metode: Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif. Subjek penelitian adalah pasien hamil dengan diagnosis preeklamsia berat sesuai dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi di RSUP Dr. Sardjito sejak Juli 2020 sampai dengan Juni 2021 dengan mengambil data dari rekam medis.Hasil dan Pembahasan: Dari 86 subjek penelitian didapatkan 78 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Berdasarkan karakteristik subjek penelitian didapatkan paritas primigravida (69,2%), obesitas (51,3%) dan riwayat hipertensi (53,8%). Hal ini sesuai referensi bahwa faktor resiko preeklamsia berat yaitu primigravida, obesitas dan riwayat hipertensi. Hasil dari ROC yaitu nilai AUC 0,878 dengan p = 0,001 dan CI 95% (0,745 – 1). Penentuan nilai cut off point skor MEOW yaitu 8,5 atau 9 dengan sensitivitas 92%, spesifisitas 71% dan Youden Index tertinggi = 0,631. Lama perawatan antara pasien dengan skor MEOW ≥9 dan pasien dengan skor MEOW <9 berbeda secara signifikan (p <0,05). Skor MEOW ≥9 memiliki lama perawatan lebih lama dibandingkan skor MEOW <9. Tidak ada perbedaan bermakna antara variabel luar dan skor MEOW (p >0,05). Tidak ada perbedaan bermakna antara variabel luar dan lama perawatan (p >0,05).Kesimpulan: Pasien preeklamsia berat yang mengalami persalinan di RSUP dr. Sarjito dengan skor MEOW tinggi memiliki lama perawatan yang lebih lama dibandingkan dengan skor MEOW rendah.Kata Kunci: MEOWS, preeklamsia berat, lama perawatan.