cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Reproduksi
ISSN : 2302836X     EISSN : 2621461X     DOI : -
Core Subject : Health,
urnal Kesehatan Reproduksi is a scientific journal published by Association of Women and Children Reproductive Health Enthusiasts and Experts/Ikatan Pemerhati Anak dan Kesehatan Reproduksi/IPAKESPRO) who works closely with the Department of Obstetrics and Gynaecology, Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, Universitas Gadjah Mada. Jurnal Kesehatan Reproduksi first printed version was published in 2014 with ISSN 2302-836X. In 2016, we also have an online journal version with ISSN 2621-461X. Currently, we already use the Online Journal System, requiring all authors to submit their papers online. Afterwards, authors, editors and reviewers will be able to monitor the manuscript processing. This journal is published annually every April, August and December.
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
Hubungan Nilai Rasio Neutrofil-Limfosit Pra Pembedahan dengan Prognosis Kanker Ovarium Jenis Epitelial di RSUP Dr. Sardjito Rifqi, Rifqi; Alkaff, Muhammad Lutfi; Pradjatmo, Heru
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.65530

Abstract

LATAR BELAKANG: Kanker ovarium merupakan salah satu keganasan pada perempuan yang paling sering dan mematikan. Angka kejadian kanker ovarium di Indonesia mencapai 15 per 100.000 dan menempati urutan kelima penyebab kematian terbanyak akibat kanker pada wanita di Indonesia. Lebih dari 75% pasien kanker ovarium terdiagnosis pada stadium lanjut. Setelah menjalani tatalaksana primer, 50% pasien akan mengalami rekurensi dalam waktu 1 tahun, dan angka 5 years survival rate kurang dari 50%. Secara umum, prognosis kanker ovarium epitelial secara independen dipengaruhi oleh stadium, tipe dan derajat histologis, serta diameter residu maksimum setelah operasi sitoreduktif. Rasio neutrofil-limfosit (RNL), suatu prediktor status inflamasi, telah terbukti menjadi penanda prognostik yang efektif untuk sebagian keganasan, termasuk keganasan ovarium. Nilai RNL yang tinggi menggambarkan kecenderungan peningkatan inflamasi pro-tumor dan penurunan kapasitas imun anti-tumor.TUJUAN: Mengetahui hubungan antara Rasio Neutrofil-Limfosit (RNL) pra pembedahan primer dengan prognosis kanker ovarium epitelial pada pasien kanker ovarium di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.METODE: Penelitian ini merupakan penelitian uji prognosis dengan rancangan kohort retrospektif yang melibatkan 106 penderita kanker ovarium di RSUP Sardjito yang memenuhi kriteria inklusi. Sumber data berasal dari data sekunder yang diambil dari Instalasi Catatan Medik (ICM) dalam kurun waktu Januari 2016 sampai dengan Maret 2019.HASIL: Dari 106 subjek, didapatkan rerata usia pasien adalah 48.58 dengan 69.8% subjek merupakan multipara. Sebanyak 50.94% subyek didapatkan dalam stadium lanjut (III dan IV) dan 71.7% merupakan tumor high grade. Risiko relatif subyek dengan RNL ≥ 3,1 yang mengalami Progression Free Survival (PFS) < 12 bulan adalah sebesar 9.896 (CI 95% = 1.646-101.413, p = 0.003). Analisis hubungan antara umur, indeks massa tubuh, paritas, kadar CA-125 pre operatif, stadium, dan tumor grade dengan RNL menunjukkan bahwa secara statistik maupun klinis hanya stadium yang memiliki hubungan yang bermakna dengan RNL (RR = 1.618, CI 95% = 1.179-2.220, p = 0.002). Analisis hubungan antara umur, indeks massa tubuh, paritas, kadar CA-125 pre operatif, stadium, dan tumor grade dengan PFS menunjukkan bahwa secara statistik maupun klinis hanya stadium yang memiliki hubungan yang bermakna dengan PFS (RR = 3.370, CI 95% = 1.187-9.573, p = 0. 012). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa secara bersamaan RNL > 3.1 dan stadium lanjut berhubungan dengan PFS secara klinis maupun statistik. KESIMPULAN: RNL pra pembedahan > 3.1 berhubungan dengan kejadian PFS <12 bulan pada pasien kanker ovarium epitelial di RSUP Dr. Sardjito. Pasien kanker ovarium epitelial dengan RNL > 3.1 dan stadium lanjut mengalami PFS < 12 bulan.KATA KUNCI: Kanker ovarium epitelial, Rasio Neutrofil-Limfosit, progression free survival.
Gangguan Stres Pasca Trauma pada Kasus Pelecehan Seksual: Case Report Darmayasa, I Made; Natanael, Raymond Josafat Major
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.78372

Abstract

AbstrakLatar belakang: Tindakan kekerasan atau pelecehan seksual semakin banyak dilaporkan pada beberapa tahun belakangan ini, terutama pada perempuan. Bukan saja pada tingkat global, tetapi juga nasional maupun lokal. Tindakan kekerasan atau pelecehan seksual berpotensi menimbulkan trauma yang mendalam bagi korban, depresi maupun gangguan kejiwaan yang lain.Metode: Studi kasus tentang pelecehan seksual yang menimbulkan gangguan stress pasca trauma.Hasil dan Pembahasan: Seorang perempuan 18 tahun, masih sekolah ditingkat SMA mengeluh ketakutan setelah mengalami beberapa kali kekerasan atau pelecehan seksual baik oleh orang terdekat maupun orang yang tidak dikenal. Dengan pendekatan multiaksial korban diagnosis dengan Gangguan Stress Pasca-Trauma. Terkonfirmasi korban mengalami Depresi berat menggunakan Hamilton Depression Rating Scale dan Depresi ekstrim dengan menggunakan Beck Depression Inventory. Teridentifikasi beberapa faktor seperti: Adanya konflik dan kekerasan dalam keluarga, pernah menjadi korban atau perbuatan seksual sebelumnya, lingkungan keluarga yang tidak mendukung secara emosional, hubungan orang tua-anak yang buruk, dan kemiskinan. Dilakukan tatalaksana secara komprehensif menggunakan pendekatan multidisilin. Secara Farmakologi diberikan Risperidon 1 miligram tablet tiap 24 jam per-oral pagi, dan Sertraline 25 miligram tablet tiap 24 jam per-oral malam. Korban juga mendapatkan psikoterapi, edukasi, dan dukungan sosial. Selanjutnya terhadap korban dilakukan pemantauan secara berkala.Kesimpulan: Kekerasan atau pelecehan seksual rentan menimbulkan Gangguan Stress Pasca-Trauma sehingga memerlukan pendekatan multidisiplin dan tatalaksana komprehensif. Mulai dari melakukan anamnesis untuk konfirmasi diagnosis, tatalaksana dan pemantauan.Kata kunci: pelecehan seksual pada perempuan, Gangguan stress Pasca-Trauma, Depresi.  
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Cakupan Skrining Kanker Serviks dan Loss to Follow Up pada Wanita dengan IVA Positif yang Menjalani Krioterapi di Negara Berkembang: Scoping Review Adistyatama, Rizkha; Ganap, Eugenius Phyowai; Trirahmanto, Addin
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.85571

Abstract

Background: Cervical cancer is one of the main health problems in developing country and the second most common cancer in Indonesian women. For a better outcome, it is necessary to pay attention for discovery of the disease at an early stage. Single visit approach with visual inspection of acetic acid (VIA) followed by cryotherapy considered efficient and cost effective. However, low uptake of screening and loss to follow up after cryotherapy remain the biggest challenge.Objective: We aimed to identify factors affecting low uptake of cervical cancer screening and loss to follow up women with VIA positive undergone cryotherapy in developing countries.Method: This study is a literature review with scoping review design. Systematic search were conducted from databases PubMed, ScienceDirect, SAGE journals, Scopus and Google Scholar. Total 42 articles were selected for analysis, 35 articles discussed factors affecting cervical cancer screening uptake in developing countries and 7 articles discussed loss to follow-up women with VIA positive undergone cryotherapy.Results and Discussion: Factors identified affecting cervical cancer screening uptake and loss to follow up from demand side included lack of knowledge, perception and awareness, access constrain, fear or shame feeling and cost related problem. From supply side or healthcare system, these factors included lack of trained providers, lack of infrastructure, lack of information, coordination and communication, as well as ineffective administrative processes.Conclusion: Problems of cervical cancer screening uptake and loss to follow up after cryotherapy were identified from demand side and health service provider side. Recommendation of service improvement must consider influencing factors and limitations encountered on the field. Keywords: cervical cancer, screening, visual inspection of acetic acid, loss to follow-up, cryotherapy
Perbandingan Karakteristik dan Luaran Maternal pada Unexpected Spektrum Placenta Akreta saat Pandemi Covid -19 Cahyanti, Ratnasari Dwi; Dewantiningrum, Julian; Pramono, Besari Adi; Larasati, Irene Astrid; Wiyati, Putri Sekar
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.87601

Abstract

Latar belakang: Pandemi COVID-19 mempengaruhi sistem pelayanan kesehatan di dunia. Kegawatan maternal yang diakibatkan oleh Spektrum Placenta Akreta (SPA) menjadi tantangan di bidang obstetri, khususnya dalam kinerja multidisplin tim dan dukungan sumber daya fasilitas kesehatan.Tujuan: Membandingkan karakteristik dan luaran dari pasien dengan unexpected dan expected SPA saat pandemi COVID-19.Metode: Desain penelitian secara cross-sectional. Pengambilan sampel kasus SPA secara consecutive sampling dari data rekam medis RSUP Dr. Kariadi, Semarang, pada periode 2020 – 2021.Hasil dan Pembahasan: Limapuluh tiga dari 154 kasus (34,42%) merupakan unexpected SPA. Tidak terdapat perbedaan karakteristik yang meliputi umur, indeks massa tubuh, jumlah riwayat sectio cesarea, jumlah riwayat placenta previa, cara persalinan dan kerjasama tim. Jumlah perdarahan dan kebutuhan transfusi darah yang diberikan tidak terdapat perbedaan pada kedua kelompok. Terdapat risiko untuk Cesarean histerektomi pada unexpected SPA (adjusted OR 4,13 (1,31-55,02)). Case Fatality Rate (CFR) pada unexpeted 5,67%, sedangkan pada expected 0,9%. Pada kasus unexpexted SPA didapatkan 3 kasus dengan terkonfirmasi COVID-19 dan meninggal.Kesimpulan: Tata kelola spektrum placenta akreta di RSUP Dr. Kariadi selama pandemi COVID-19 tidak terdapat perbedaan luaran maternal pada kasus unxpected dan expected dan didapatkan kualitas pelayanan optimal dengan CFR yang rendah.Kata kunci: Spektrum Placenta Akreta (SPA), unxpected dan expected, pandemi COVID-19, luaran maternal
Analisis Pengambilan Keputusan Dokter dan Pasien Terhadap Tindakan Seksio atas Permintaan Sendiri Berdasarkan Kaidah Autonomi Mappaware, Nasrudin Andi; Dewanto, Agung; Hakimi, Mohammad; Sastrowijoto, Soenarto; Kusmaryanto, Kusmaryanto
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.71678

Abstract

Latar belakang: Operasi sesar atas permintaan sendiri telah banyak dilakukan di masyarakat Indonesia. Kebebasan untuk menentukan keputusan sendiri termasuk keputusan untuk melakukan operasi sesar ini dapat menimbulkan berbagai dampak bagi pasien. Dokter spesialis obstetrik dan ginekologi adalah dokter yang melakukan operasi sesar bisa ikut terdampak tindakan yang dilakukan jika hasil akhir operasi tidak sesuai harapan pasien.Objektif: Menganalisis pengambilan keputusan pasien dan dokter terhadap tindakan seksio sesarea atas permintaan yang dapat dipertanggungjawabkan secara etik berdasarkan kaidah autonomy.Metode: multi methods dengan pendekatan explanatory sequential design.Hasil dan Pembahasan: Indikasi medis adalah landasan utama dokter dalam mengambil keputusan. Selain itu ditemukan pertimbangan lain diluar indikasi medis yang diterima oleh informan untuk dilakukan tindakan seksio sesaria atas permintaan.Kesimpulan: Seksio sesarea atas permintaan bersifat dilematis antara indikasi medis yang jelas dengan tuntutan untuk secara etis menghargai hak autonomy. Kata kunci:Seksio sesarea; autonomy; indikasi medis
Stres, Kecemasan dan Kadar Kortisol Serum Wanita dengan Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) Kurniawati, Erna Yovi; Hadisaputro, Suharyo; Suwandono, Agus
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 10, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.72468

Abstract

Latar Belakang: SOPK dikaitkan dengan risiko kesehatan mental jangka panjang seperti disfungsi seksual, gangguan kesehatan, gangguan mood, kecemasan, dan depresi. Kadar kortisol mempengaruhi fungsi endokrin lain dalam tubuh dan dapat mempengaruhi resistensi insulin dan anovulasi.Tujuan: Mengetahui tingkat stress, tingkat kecemasan dan kadar kortisol serum wanita dengan sindrom ovarium polikistik (SOPK)Metode: Penelitian deskriptif, metode sampel pusposive sampling dengan jumlah responden 30 wanita dengan sindrom ovarium polikistik di Yogyakarta. Instrumentasi menggunakan Kuesioner State Anxiety dan Trait Anxiety (STAI), Perceived Stress Scale-10 (PSS-10), dan Kadar kortisol serum dengan ELISA di LPPT UGM.Hasil dan Pembahasan: Seluruh responden mengalami kecemasan, sebesar 53% responden mengalami kecemasan berat, dan seluruh responden mengalami tingkat stress berat. Rerata kadar kortisol serum 124.98 mcg/dl.Kesimpulan: Faktor psikologis sebagai indikator psikologis yang perlu dicegah atau dikelola saat merawat SOPK. Kombinasi terapi fisik dan psikoterapi atau mindfulness diperlukan untuk efektivitas terapi yang optimal.
Analisis Presumed Consent pada Penanganan Kasus Kegawatdaruratan Obstetri dari Persepsi Dokter dan Pasien Mursyid, Muhammad; Dewanto, Agung; Hakimi, Mohammad; Prabandari, Yayi Suryo; Mappaware, Nasrudin Andi
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.72541

Abstract

Latar Belakang: Kondisi kegawatdaruratan obstetri, etika kedokteran dan hukum kesehatan memberikan tantangan tersendiri dalam pengambilan keputusan dokter. Pengambilan keputusan dalam kondisi kegawatdaruratan obstetri bervariasi tergantung kondisi medis pasien, dilema etik yang muncul ataupun aliran berpikir bioetika. Tujuan: Menganalisis presumed consent pada penanganan kasus kegawatdaruratan obstetri dari persepsi dokter dan pasien melalui aspek Kaidah Dasar Bioetika, Etika Klinik dan aliran berpikir bioetika.Metode: Metode kualitatif dengan pendekatan case study. Penelitian ini menggunakan desain holistic single case study design melalui wawancara mendalam kepada informan dokter dan pasien.Hasil dan Pembahasan: Dalam menyelesaikan suatu dilema etik, analisis prima facie menjadi solusi dalam pengambilan keputusan terhadap dilema etik bagi dokter dengan cara memilih prinsip yang lebih diprioritaskan berdasarkan kaidah dasar bioetika, etika klinik dan aliran berpikir bioetika.Kesimpulan: Implementasi metode presumed consent menjadi pilihan yang tepat dalam penanganan kondisi kegawatdaruratan obstetri berdasarkan aspek kaidah dasar bioetika, etika klinik dan aliran berpikir bioetika. Kata kunci: presumed consent; kegawatdaruratan obstetri; aliran berpikir bioetika; kaidah dasar bioetika; etika klinik
Premenstrual Syndrome Based On Physical Activity, Body Mass Index And Blood Pressure In Adolescent Girls Nisa, Juhrotun; Hidayah, Seventina Nurul; Izzah, Nur Syifa Karomatul
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 10, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.77308

Abstract

Background: One of the risk factors for PMS is physical activity, where during the COVID-19 pandemic there was a decrease in physical activity with PPKM. The impact of this decrease in physical activity is an increase in BMI. Obese women are more than twice as likely to have PMS, and obesity can also increase blood pressureObjective: to determine the relationship between physical activity, BMI and blood pressure with the incidence of PMS in adolescent girls.Method: This research is a cross sectional study. The population is young women in SMA N 1 Pagerbarang. With a total sample 212 people and the sampling technique uses quota sampling. Data collection by questionnaire and atropometric measurements of weight and height. Data analysis using chi square.Results and Discussion: A total of 45.8% of respondents experienced PMS. 46.7% had light physical activity, 54.7% had normal BMI and 87.3% had normal blood pressure 87.3%. Test the relationship between PMS with physical activity obtained P = 0.001, PMS with BMI with P = 0.005, and PMS with Blood Pressure with P value = 0.524.Conclusion: there is a relationship between physical activity and BMI with PMS, but there is no relationship between PMS with blood pressure. Keywords: PMS; Physical Activity; BMI; Blood Pressure.
Pengaruh Kualitas Sperma terhadap Kualitas Embrio pada Pasangan yang Menjalani IVF di RSUP Dr. Sardjito Noor, Rahman; Ganap, Eugenius Phyowai; Dewanto, Agung
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 10, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.78031

Abstract

Latar belakang: Kualitas sperma pria pada beberapa dekade terakhir berdasarkan studi mengalami penurunan. Penurunan kualitas sperma merupakan penyebab infertilitas pada laki-laki. Kualitas sperma yang menurun mempengaruhi kualitas embrio yang akan didapakan pada program IVF. Kualitas sperma dapat menjadi faktor prediktor kualitas embrio yang akan didapatkan pada program IVF. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas sperma dengan kualitas embrio pada pasangan yang menjalani IVF di RSUP Dr. Sardjito. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kohort retrospektif. Pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Subjek penelitian dibagi menjadi 3, yaitu kualitas sperma normal, perubahan ringan sperma dan perubahan berat sperma pada pasangan suami istri yang menjalani program bayi tabung (IVF/ICSI) di klinik infertilitas Permata Hati, RSUP Dr. Sardjito, antara 1 Januari 2019-31 Desember 2020. Hasil: Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 319. Sampel tersebut terbagi menjadi 93 pada sperma normal, 144 pada perubahan sperma ringan, 82 pada perubahan sperma berat. Hasil penelitian ini terdapat hubungan yang bermakna antara kualitas sperma dengan  kualitas embrio (p<0,001). Perubahan sperma berat secara statistik memiliki hubungan yang bermakna dengan embrio kualitas buruk (p<0,001). Pada perubahan sperma berat memiliki risiko 2,7 kali terhadap embrio kualitas buruk dibandingkan dengan sperma normal (OR=2,706; CI 95% 1,677-4,365). Kesimpulan: Kualitas sperma secara statistik memiliki hubungan yang bermakna dengan kualitas embrio pada pasangan yang menjalani IVF. Perubahan sperma berat memiliki risiko 2,7 kali terhadap embrio kualitas buruk dibandingkan dengan sperma yang normal
Changes in CA 125 Level Pre and Post Ovarian Cancer Surgery Aprivinta, Sherlyana Mega; Pradjatmo, Heru; Hadiati, Diah Rumekti
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 10, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.79928

Abstract

Background: Ovarian cancer is one of the gynecological cancers that has a fairly high mortality rate and has a poor prognosis. Ovarian cancer management includes optimal operation followed by chemotherapy, which at follow up will have an effect on decreasing CA 125 levels. But in fact there are several studies showing increased CA 125. Given these differences in findings, this study attempted to evaluate the pre and post operation changes in CA 125 levels in ovarian cancer patients.Objective: This study aims to determine the changes in pre and post operation CA 125 levels in ovarian cancer patients. And to find out the optimal relationship between CA 125 level post operation and post operation.Methods: The type of research is an analytic study with a prospective cohort design. The source comes from secondary data taken from Simetris dr. Sardjito Hospital within 6 months.Results: The distribution of the age < 40 years was 11 and 19 were 40 years old. There was a significant change in pre operation log CA 125 levels (mean = 2,53 or 902,03U/ml) and post operation log CA 125 levels (mean = 1,92 or 406,23 U/ml). With a difference or delta mean of 0,61 or 495,80 U/ml and p value = 0.001. There was a significant difference in post operation log CA 125 levels between optimal and non optimal operation. Based on risk factors, there was a significant change or decrease in log CA 125 levels pre and post operation, but there was no significant difference in log CA 125 levels pre and post operation.Conclusion: There was a significant decrease in log CA 125 levels pre and post operation in patients with ovarian cancer who underwent operation. The post operation log CA 125 level in optimal operation is lower than in non-optimal operation.Keywords: CA 125, Ovarian Cancer, Operation, Optimal