cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Reproduksi
ISSN : 2302836X     EISSN : 2621461X     DOI : -
Core Subject : Health,
urnal Kesehatan Reproduksi is a scientific journal published by Association of Women and Children Reproductive Health Enthusiasts and Experts/Ikatan Pemerhati Anak dan Kesehatan Reproduksi/IPAKESPRO) who works closely with the Department of Obstetrics and Gynaecology, Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, Universitas Gadjah Mada. Jurnal Kesehatan Reproduksi first printed version was published in 2014 with ISSN 2302-836X. In 2016, we also have an online journal version with ISSN 2621-461X. Currently, we already use the Online Journal System, requiring all authors to submit their papers online. Afterwards, authors, editors and reviewers will be able to monitor the manuscript processing. This journal is published annually every April, August and December.
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
Luaran Maternal pada Ibu Hamil dengan Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta Studi Kohort Retrospektif Kartika Wahyuningtyas Utami; Irwan Taufiqur Rachman; Detty Siti Nurdiati
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 9, No 3 (2022): In Process
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.77933

Abstract

Latar Belakang: Coronavirus merupakan penyakit yang muncul pada akhir tahun 2019 disebabkan oleh  Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang kini telah ditetapkan sebagai pandemic oleh WHO sejak 11 Maret 2020. Indonesia melaporkan kasus pertama COVID-19 pada tanggal 2 Maret 2020 dan jumlahnya terus bertambah hingga sekarang. Sampai saat ini penelitian tentang infeksi SARS-CoV-2 pada kehamilan dan luaran maternalnya masih terbatas. Dikatakan ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadinya morbiditas dan mortalitas dibandingkan pada populasi umum.Tujuan: Mengetahui apakah terdapat hubungan antara ibu hamil konfirmasi COVID-19 dengan luaran maternal di Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode: Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif. Subjek penelitian adalah   pasien hamil dengan konfirmasi COVID-19. Subjek penelitian diambil di RSUP Dr. Sardjito dan RS Akademik UGM sejak periode Maret 2020 sampai dengan Agustus 2021Hasil: Dari 436 subjek penelitian didapatkan 340 sampel yang memenuhi kriteria untuk dilakukan analisis. Karakteristik subjek penelitian menunjukkan 58,24% pasien berusia >35 tahun dengan mayoritas usia kehamilan ≥ 37 minggu sebanyak 79,41%. Terdapat hubungan yang signifikan (p<0.05) antara ibu hamil dengan COVID-19 simptomatik terhadap luaran persalinan prematur (RR 2,42, CI 95% 1,44–4.04), kebutuhan ICU (RR 53.89, CI 95% 3.33–870.45), lama rawat inap (RR 1.97, CI 95% 1,05–3,68) dan kematian maternal (RR 38.08, CI 95% 2,34–619,83) dibandingkan dengan ibu hamil COVID-19 asimptomatik. Tidak terdapat hubungan bermakna (p>0.05) antara ibu hamil COVID-19 dengan luaran metode persalinan. Usia, obesitas, hipertensi dan diabetus melitus tidak memiliki hubungan signifikan terhadap luaran maternalKesimpulan: Kehamilan merupakan faktor risiko independent COVID-19 simptomatik yang tidak bergantung pada komorbiditas lain. Ibu hamil dengan COVID-19 simptomatik memberikan luaran maternal yang lebih buruk dibandingkan dengan ibu hamil COVID-19 asimptomatik. Metode persalinandiputuskan berdasarkan indikasi medis dan kebidanan.Kata Kunci: COVID-19, kehamilan, komorbid, luaran maternal
Perbandingan Kadar Vitamin D antara Wanita dengan Surgical Menopause Post Kemoterapi dan Wanita Menopause Alami di Yogyakarta Rosinta Pratiwi; Agung Dewanto; Ardhanu Kusumanto
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 9, No 3 (2022): In Process
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.78013

Abstract

Latar Belakang: Menopause merupakan periode berhentinya haid akibat penurunan produksi hormone[H1] [H2]   pada wanita. Menopause dapat terjadi secara alami maupun karena prosedur medis pengangkatan kedua ovarium mau [H3] sebab lainnya seperti obat-obatan. Wanita yang mengalami menopause dini karena surgical menopause akan mengeluhkan gejala menopause yang lebih berat karena perubahan hormon secara mendadak.  Pasien dengan surgical menopause akibat kanker seringkali mendapatkan kemoterapi adjuvant yang akan menyebabkan penurunan kadar vitamin D, dimana vitamin D diketahui berperan penting dalam mengurangi keluhan menopause. Tujuan: Mengetahui perbandingan kadar vitamin D pada pasien surgical menopause post kemoterapi dan wanita menopause alami. Metode: Penelitian analitik dengan desain kohort retrospektif [H4] untuk membandingkan kadar vitamin D antara 2 kelompok, yaitu kelompok wanita dengan surgical menopause yang sudah dikemoterapi dan wanita post menopause alami. Penilaian kadar vitamin D dilakukan pada satu sampai dua tahun pada kelompok pasca ooforektomi bilateral dan satu sampai dua tahun pasca haid terakhir pada kelompok menopause alami. Perbandingan rerata kadar vitamin D antar 2 kelompok dilakukan dengan uji statistika komparatif menggunakan Independent T-Test. Hasil:  Rerata dan standar deviasi kadar vitamin D pada kelompok surgical menopause post kemoterapi adalah 14,07 + 5,49 ng/mL sedangkan kelompok menopause alami adalah 17,30 ± 6,92 ng/mL dengan nilai p=0,167. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan signifikan pada rerata kadar vitamin D antara kelompok surgical menopause post kemoterapi dan post menopause alami.Kata Kunci: surgical menopause, menopause alami, ooforektomi bilateral, vitamin D. 
Upaya Pencegahan Disfungsi Dasar Panggul Pasca Persalinan Vaginal oleh Kelompok Bidan Berbasis Aplikasi KIPPas Jogja (Kartu Instrumen Prediktor Pangastuti Jogja) di Desa Pandowoharjo, Kabupaten Sleman, DIY Nuring Pangastuti; Murwantoro Panghargiyo; Chentia Misse Issabella; Pramudita Putri Dyatmika Mandegani; Fauzan Achmad Maliki; RM Wiskara Jatipradresthya
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 9, No 3 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.78132

Abstract

Latar belakang: disfungsi atau terganggunya fungsi dasar panggul terdiri dari beberapa macam gambaran klinis, antara lain prolaps organ panggul, inkontinensia urin atau fekal, maupun gangguan fungsi seksual. Disfungsi dasar panggul pada perempuan sering dikaitkan dengan kejadian persalinan vaginal yang dialami sebelumnya. Pertolongan persalinan vaginal dapat dilakukan oleh berbagai profesi tenaga kesehatan, termasuk para bidan. Meskipun pertolongan persalinan normal telah dilakukan secara rutin, masih dijumpai beberapa permasalahan terkait pencegahan disfungsi dasar panggul pasca persalinan vaginal. Salah satu cara untuk membantu upaya pencegahan tersebut adalah dengan menggunakan KIPPas Jogja (Kartu Instrumen Prediktor Pangastuti Jogja), suatu instrumen atau alat bantu sebagai prediktor terjadinya disfungsi dasar panggul pasca persalinan vaginal.Tujuan: melakukan sosialisasi penggunaan KIPPas Jogja pada kelompok mitra bidan di wilayah Pandowoharjo Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangka upaya pencegahan disfungsi dasar panggul pasca persalinan vaginal. Metode: kegiatan dilakukan dalam bentuk pengabdian masyarakat pada bulan Agustus 2022. Bentuk aktifitas berupa pertemuan kelompok, ceramah, diskusi interaksi, praktikum, penyampaian buklet panduan dan buku pengetahuan tentang faktor risiko disfungsi dasar panggul perempuan, serta video panduan penggunaan KIPPas Jogja, kepada mitra bidan di wilayah Pandowoharjo Sleman, Kabupaten Sleman, DIY.Hasil dan diskusi: terdapat beberapa permasalahan bidan dalam pengelolaan kehamilan dan persalinan yang masih perlu mendapat perhatian. KIPPas Jogja merupakan suatu alat bantu atau instrumen dalam bidang kesehatan yang digunakan untuk membantu melakukan prediksi terjadinya disfungsi dasar panggul khususnya prolaps organ panggul pada perempuan pasca persalinan vaginal. KIPPas Jogja memiliki bentuk kartu, program aplikasi android, serta aplikasi berbasis web, yang dapat berperan pada upaya pencegahan disfungsi dasar panggul perempuan pasca persalinan vaginal. Mitra bidan diharapkan dapat mengenali kasus-kasus disfungsi dasar panggul serta melakukan upaya tindak lanjut pencegahan terjadinya atau memberatnya disfungsi dasar panggul, sehingga akan mengurangi risiko penurunan kualitas hidup perempuan.Kesimpulan: terdapat peningkatan pemahaman mitra bidan tentang disfungsi dasar panggul serta kemampuan melakukan deteksi faktor risiko, tercapai pemahaman baru mengenai instrumen KIPPas Jogja. Selanjutnya dengan pemahaman yang telah ada akan bermanfaat dalam upaya pencegahan disfungsi dasar panggul perempuan, khususnya pasca persalinan vaginal. Kata Kunci: KIPPas Jogja; aplikasi; instrumen; disfungsi; panggul
Premenstrual Syndrome pada Remaja Selama Pandemi Covid-19 Tahun 2021 Nadia Ramadhanty; Terry Y.R. Pristya; Ulya Qoulan Karima
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.67998

Abstract

Latar Belakang: Premenstrual syndrome (PMS) adalah kumpulan gejala fisik, psikologis, perilaku dan bisa terjadi seminggu atau beberapa hari sebelum menstruasi. Kondisi pandemi covid-19 berpengaruh pada PMS.Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan PMS pada remaja di DKI Jakarta selama pandemi Covid-19 tahun 2021Metode: Penelitian observasional ini menggunakan desain studi cross sectional dengan  jumlah sampel 294 remaja. Analisis bivariat menggunakan uji chi square. Analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda.Hasil dan Pembahasan: Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan signifikans antara stres berat (p= 0.000 POR = 6.667 95% CI 3.393-13.097) dan pola olahraga (p=0.015 POR = 2.442 95% CI 1.224-4.872) terhadap PMS. Hasil analisis multivariat menunjukkan stres berat paling berpengaruh terhadap PMS (nilai p=0,000 POR=6,483 95% CI 3,268-12,861) setelah dikontrol variabel pola olahraga dan IMT. Kesimpulan: Stres berat dan pola olahraga berhubungan dengan PMS selama pandemi covid-19. Stres  berat paling berpengaruh terhadap PMS setelah dikontrol variabel pola olahraga dan IMT.
Pengaruh Pemberian Buah Kurma Ajwa (Phoenix dactilyfera L) terhadap Kadar Hormon Anti-Mullerian (AMH) dan Gambaran Klinis Perempuan Perimenopause Farah Ekawati Mulyadi; Rosdiana Natsir; Nasrudin Andi Mappaware; Suryani As&#039;ad; Andi Wardihan Sinrang; Liong Boy Kurniawan
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.72298

Abstract

Background: Perimenopause is clinically characterized by the appearance of various complaints such as disturbed menstrual cycles, vasomotor symptoms, and mood changes that have an impact on reduced quality of life. The decline in ovarian reserve is thought to be the beginning of this transition which eventually triggers hormonal changes. AMH is used as a marker of ovarian reserve and clinically as a predictive biomarker of menopause. Ajwa dates contain various phytochemicals that have potential to be used to protect primordial follicles from various damage while reducing perimenopause complaints.Objective: This study aimed to analyze the effect of consumption of ajwa dates on AMH levels and clinical features of perimenopausal women.Methods: This quasi-experimental study with a pre-post control design was carried out at RSIA Sitti Khadijah I Muhammadiyah Makassar, South Sulawesi, Indonesia, from May to October 2021. This study involved 44 perimenopausal subjects aged 42-48 years who were divided into 2 groups randomly (28 intervention groups, 16 control groups). AMH levels were checked by ELISA method while the clinical features was assessed by clinical examination.Results and Discussion: AMH levels in the intervention group decreased more slowly than the control group (0.37 ± 0.36 ng/ml vs 0.55 ± 0.19 ng/ml, p<0.05). Complaints of sleep disturbances, vaginal dryness, and mood changes were better in the intervention group (p<0.05), while complaints of irregular menstrual cycles and hot flushes were not significantly different in either control and intervention groups.Conclusion: AMH levels in the intervention group decreased more slowly than in the control group. The clinical features in the intervention group were better than the control group. Ajwa dates can be a good nutrition in improving the quality of life of perimenopausal women.Keywords: Anti-Mullerian Hormone (AMH); Clinical Features; Ajwa Dates; Perimenopause.
Hubungan Onset Preeklamsia dengan Luaran Neonatus di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta Harya Bayu Surawijaya; Eugenius Phyowai Ganap; Ahsanudin Attamimi
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.75113

Abstract

Background: Preeclampsia is one of the leading causes of death for both mother and fetus. Preeclampsia is divided into two categories of onset, for preeclampsia that begins at gestational age below 34 weeks is called early onset preeclampsia and late onset preeclampsia begins after gestational age above 34 weeks. In early-onset preeclampsia, there is an imperfect remodeling of the maternal spiral arteries, resulting in abnormal uteroplacental perfusion, causing hypoxia and acidosis in neonates which can increase incidence of IUGR, incidence of neonatal sepsis, neonatal mortality, low APGAR scores and longer hospital length of stay.Objectives: To determine the relationship between maternal and neonatal outcomes with early-onset preeclampsia and late-onset preeclampsia.Methods: This study was a retrospective cohort design and the sampling method used consecutive sampling. The research subjects were divided into two groups, the early-onset preeclampsia group and the late-onset preeclampsia group who were treated and gave birth at the RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta in 2019-2020.Results and Discussion: This study had a total sample of 235 subjects consisting of 146 subjects in the EO-PE group and 89 subjects in the LO-PE group. The two groups had a significant difference in the incidence of neonatal death, the incidence of neonatal sepsis and length of stay (p<0.05), but there was no significant difference in the incidence of IUGR (p=0.527) and the incidence of low Apgar score (p=0.771).Conclusion: There was no difference in the incidence of IUGR and low Apgar score between mothers with EO-PE and mothers with LO-PE. The incidence of neonatal sepsis and the incidence of neonatal death in mothers with EO-PE is higher than in mothers with LO-PE which was influenced by gestational age and history of preeclampsia. The length of neonatal hospital stay in mothers with EO-PE is longer than that of mothers with LO-PE, it was influenced by the onset of preeclampsia and gestational age. Keywords: Early onset preeclampsia; late onset preeclampsia; neonatal outcome; neonatal sepsis; IUGR. 
Laparotomi Miomektomi Mioma Uteri Wanita Usia 48 Tahun: Laporan Kasus Cindy Marcellina; Cipta Pramana
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.81854

Abstract

ABSTRACTBackground: Uterine myoma is a benign neoplasm originating from uterine muscle and connective tissue, which often occurs at reproductive age. It is suspected that the most common cause of uterine myomas is the stimulation of the hormone estrogen. Complaints caused by uterine fibroids are very dependent on the location, direction of growth, type, size and number of myomas. Only found in 20-50% of uterine myomas cause complaints, while the rest do not complain about anything.Objective: To find out the diagnosis and management of uterine myoma cases with complaints of lower right abdominal pain.Results and Discussion: A 48-year-old woman with lower right abdominal pain. Physical examination revealed tenderness in the abdomen. On ultrasound examination, it was found that there was a uterine myoma with a size of 7.88 x 7.39 cm. Next, a laparotomy myomectomy was performed.Conclusion: There are several options for managing uterine myoma cases. Intervention in the form of myomectomy is an invasive surgical procedure that can maintain fertility, but this also depends on the size of the myoma and the need for reproductive function.   ABSTRAKLatar Belakang: Mioma uteri merupakan  neoplasma  jinak  ini  berasal  dari  otot  uterus dan  jaringan  ikat, yang sering terjadi pada usia reproduksi. Diduga penyebab timbulnya mioma uteri paling banyak oleh stimulasi hormon estrogen. Keluhan yang diakibatkan oleh mioma uteri sangat tergantung pada lokasi, arah pertumbuhan, jenis, besar dan jumlah mioma. Hanya dijumpai pada 20 – 50 % saja mioma uteri menimbulkan keluhan, sedangkan sisanya tidak mengeluh apapun.Tujuan: Untuk mengetahui penegakan diagnosis dan penatalaksanaan kasus mioma uteri dengan keluhan nyeri perut kanan bawah.Hasil dan Pembahasan: Perempuan 48 tahun  dengan nyeri perut kanan bawah. Pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan pada abdomen. Pada pemeriksaan USG didapatkan kesan adanya mioma uteri dengan ukuran 7,88 x 7,39 cm. Selanjutnya dilakukan tindakan operatif laparatomi miomektomi.Kesimpulan: Tata-laksana kasus mioma uteri ada beberapa pilihan. Intervensi berupa miomektomi merupakan tindakan bedah invasif yang dapat mempertahankan fertilitas, namun hal ini juga bergantung terhadap, ukuran mioma dan kebutuhan fungsi reproduksi.
Luaran Maternal dan Perinatal Kehamilan dengan HIV di RSUP dr. Kariadi Semarang Tahun 2019-2021 Christian Agustin Tapa; M.Besari Adi Parmono; Setyo Gundi Pramudi; Ratnasari Dwi Cahyanti
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.82517

Abstract

Background: Human Immunodeficiency Virus (HIV) remains a global health crisis. HIV infection during pregnancy is associated with an increased risk of adverse maternal and perinatal outcomes.Objective: To determine the maternal and perinatal outcomes of HIV in pregnant women.Method: The descriptive study of pregnant women with HIV infection was done at Central General Hospital dr. Kariadi Semarang January 2019 – December 2021.Results and Discussion: From 122 cases of pregnancy with HIV infection, the majority of cases were found in 20-34 years old group (75,4%), finished high school education (51.6%), working as a housewife (55.7%), 37-41 weeks pregnancy (84.4%), primiparity (35.2%), mean frequency of antenatal care 5 (0-10), was diagnosed with HIV during the third trimester of pregnancy (27.9%), received ARV therapy during the third trimester (30.3%), history of drug withdrawal 13 cases, CD4 cell count 200-500 cells/mm3 (41.8%), hospital referral (47.5%), emergency referral (94.9%), cesarean section (95.9%), opportunistic infections (19.7%), and co-morbidities (56.6%). Maternal outcomes included preterm delivery (15.6%), premature rupture of membranes (PROM) (11.5%), and postpartum hemorrhage (0.8%), and there was no maternal mortality case. Perinatal outcomes included small gestational age (SGA) (30.3%), low birth weight (LBW) (21.3%), asphyxia (19.7%), and prematurity (15.6%). There were no perinatal deaths and fetal growth restrictions.Conclusion: The incidences of pregnancies with HIV infection in 2019-2021 were found in 122 cases. The most common maternal outcome was preterm delivery and PROM. The most common perinatal outcome was SGA, LBW, asphyxia, and prematurity. Keywords: HIV; maternal; outcomes; perinatal; pregnancy Abstrak Latar Belakang: Human Immunodeficiency Virus (HIV) masih menjadi krisis kesehatan global. Infeksi HIV pada ibu hamil memiliki hubungan dengan peningkatan risiko luaran maternal dan perinatal yang buruk.Tujuan: Mengetahui luaran maternal dan perinatal kehamilan dengan HIV.Metode: Penelitian deskriptif pada seluruh ibu hamil dengan HIV yang bersalin di RSUP dr. Kariadi Semarang Januari 2019 – Desember 2021.Hasil dan Pembahasan: Dari 122 kasus kehamilan dengan HIV, ibu hamil mayoritas berusia 20-34 tahun (75,4%), pendidikan terakhir SMA (51,6%), pekerjaan sebagai ibu rumah tangga (55,7%), usia kehamilan 37-41 minggu (84,4%), paritas primipara (35,2%), rata-rata frekuensi ANC yaitu 5(0-10), waktu terdiagnosis HIV pada trimester 3 (27,9%), terapi ARV dimulai pada trimester 3 (30,3%), riwayat putus obat 13 ibu, jumlah sel CD4 200-500 sel/mm3 (41,8%), asal rujukan rumah sakit (47,5%), rujukan kegawatdaruratan (94,9%), bedah sesar (95,9%), infeksi oportunistik (19,7%), dan penyakit penyerta (56,6%).  Luaran maternal meliputi persalinan prematur (15,6%), ketuban pecah dini (11,5%), perdarahan postpartum (0,8%) dan tidak ada kematian maternal.  Luaran perinatal meliputi kecil massa kehamilan (30,3%), berat badan lahir rendah (BBLR) (21,3%), asfiksia (19,7%), dan prematuritas (15,6%). Tidak ditemukan kematian perinatal dan pertumbuhan janin terhambat (PJT).Kesimpulan: Kejadian kehamilan dengan HIV tahun 2019-2021 adalah sebanyak 122 kasus. Luaran maternal terbanyak adalah persalinan prematur dan KPD, sedangkan luaran perinatal terbanyak adalah KMK, BBLR, asfiksia dan prematuritas. Kata kunci: HIV; kehamilan; luaran; maternal; perinatal
Hubungan antara Status Gizi Ibu dengan Berat Lahir Bayi pada Kehamilan Remaja Syafril Fahmi Hidayat; Rina Pratiwi; Putri Sekar Wiyati
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.83433

Abstract

Background: Teenage pregnancy is prone to cause problems on maternal nutritional status. If nutritional status during pregnancy is not monitored properly, the chance for the mother to experience complications in the birth weight of the newborn can be increased.Objective: To find out the relationship between maternal nutritional status and other risk factors with neonatal birth weight in teenage pregnancy.Methods: This research is an observational analytic study with cross-sectional approach. The samples of this study were collected by consecutive sampling from 2019 to December 2021 using secondary data of RSUP Dr. Kariadi Semarang. The data were analyzed by using chi-square, fisher’s exact and mann-whitney test.Result: The results showed that there were significant relationships between maternal nutritional status (p=0.001), gestational age (p<0.001), abortion history (p=0.045), anemia status (p=0.019), and multiple pregnancy (p=0,035) with neonatal birth weight. Meanwhile, the variables of maternal age, education, occupation, gravidity, diabetes melitus, hypertension, preeclampsia, prelabor rupture of the membranes, and antepartum haemorrhage did not have a significant relationship with neonatal birth weight.Conclusion: There is significant relationships between maternal nutritional status, gestational age, abortion history, anemia status, and multiple pregnancy with neonatal birthweight  Keywords:  maternal nutritional status, birth weight, teenage pregnancy
Ogilvie’s Syndrome Post Elective Caesarean Section Eugenius Phyowai Ganap; Annisa Fitriani; Andhyta Ratih Wulandari
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.85194

Abstract

Background: Ogilvie's syndrome is an acute abdominal condition characterized by massive colonic distension without any evidence of mechanical obstruction. In female patients this syndrome was associated with caesarean section and the use of spinal anaesthetics.Case: We report a case of Ogilvie's syndrome that occurred after elective caesarean section. On the first day postoperative care the patient complained of lower abdominal pain accompanied by abdominal bloating. Physical examination reveals a distended abdomen without clinical evidence of peritonitis. Vital signs were normal and laboratory results showed an increase in leukocytes. An abdomen radiology was taken and shows gas distention in the large intestine which did not decrease even after given muscle relaxants. The patient then underwent emergency surgery by digestive surgeon followed by decompression measures for intestinal distention. The patient got a good postoperative care and continued control through the outpatient clinic.Discussion: The exact mechanism that causes colonic dilatation in Ogilvie's syndrome is not known clearly, but many of these cases are associated with trauma, spinal anaesthesia, and pharmacological agents in which the autonomic nervous system (ANS) function is impaired. Diagnosis can be made by abdominal imaging which will show dilation of the large intestine. The main goal of treatment is to decompress the colon and thereby minimize the risk of colonic ischemia, perforation, and death. Pharmacological therapy should be considered in patients who fail conservative management within 24-48 hours, with the last resort being colonic decompression up to laparotomy with or without stoma creation.Conclusion: Although it has a rare incidence, Ogilvie's syndrome has a high morbidity and mortality rate. Proper management of Ogilvie's Syndrome is carried out according to an algorithm starting from conservative management, pharmacology, to surgical management in resistant cases.Key words: Ogilvie syndrome; acute abdomen; caesarean section complication.