cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 18584748     EISSN : 25490885     DOI : -
Core Subject : Education,
SAINTEK PERIKANAN (p-ISSN: 1858-4748 dan e-ISSN: 2549-0885) adalah jurnal ilmiah perikanan yang diterbitkan oleh Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Februari dan Agustus).
Arjuna Subject : -
Articles 492 Documents
DETERMINASI FAKTOR PENTING BERDASARKAN AKTIVITAS MASYARAKAT UNTUK PENGEMBANGAN KAWASAN REHABILITASI HUTAN MANGROVE DI PANTAI KARANGSONG, KABUPATEN INDRAMAYU (Determination of Important Factorson Society Activity for The Development of The Mangrove Forests Rehabilitation Area on The Beach of Karangsong, District of Indramayu) Halimatus Sa’diyah; Boedi Hendrarto; Siti Rudiyanti
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 13, No 1 (2017): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (843.242 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.13.1.12-18

Abstract

 Hutan mangrove di Pantai Karangsong, Kabupaten Indramayu merupakan salah satu hutan mangrove di Pantai Utara Jawa yang telah direhabilitasi. Kawasan rehabilitasi mangrove telah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lokasi wisata (ekowisata) dan lokasi mata pencaharian. Agar pengembangan selanjutnya dapat berjalan secara tepat, diperlukan perencanaan berdasarkan faktor-faktor penting yang berkaitan dengan pengelolaan hutan tersebut dalam kategori masyarakat yang berbeda, yaitu masyarakat yang berada dalam kawasan hutan mangrove, pengelola kawasan hutan mangrove dan pelaku perikanan. Tujuan dari penelitian ini adalah adalah untuk mengetahui faktor penting untuk pengembangan di kawasan rehabilitasi mangrove berdasarkan aktivitas masyarakat. Penelitian ini dilakukan di kawasan rehabilitasi hutan mangrove Pantai Karangsong, Kabupaten Indramayu pada bulan Agustus – September 2016. Metode yang digunakan adalah studi kasus yang bersifat deskriptif. Variabel penelitian terdiri dari kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yaitu pendidikan, umur, pekerjaan dan pendapatan. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuisioner tertutup dan observasi untuk melakukan pengamatan terhadap sumberdaya manusia. Analisis data menggunakan analisis multivariat, yaitu analisis faktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor penting yang didapatkan untuk kategori masyarakat terdiri dari (1) wisata alam, (2) faktor fungsi dan manfaat, (3) faktor partisipasi masyarakat dalam pengelolaan serta frekuensi pemanfaatan dan faktor (4) pengetahuan. Faktor penting untuk kategori pengelola terdiri dari (1) faktor upaya pengelolaan dan (2) faktor pengaruhnya serta respon masyarakat terhadap pengelolaan. Faktor penting untuk kategori pelaku perikanan terdiri dari (1) faktor pengetahuan, (2) faktor frekuensi pemanfaatan serta fungsi dan (3) faktor perusak ekosistem.    The mangrove forest of Karangsong, Indramayu Regency is one of the mangrove forests on the northern coast of Java that has been rehabilitated. Mangrove rehabilitation area had been utilized by the public as a tourist site (ecotourism) and location of livelihood. In order for future development can be run properly, required planning based on important factors related to the forest management in different communities, i.e., communities that are in the area of mangrove forests, mangrove forest area manager and performer fisheries. The purpose of this research was to know the important factors for development of mangrove rehabilitation area based on the activity of the society. This research was conducted in the mangrove forests rehabilitation area on the beach of Karangsong, District of Indramayu in August – September 2016.This research was a case study. The variables consisted of research social and economic conditions, namely education, ages, employment and income.. Data were collected through interviews using the enclosed questionnaire and observations. Data analysis using multivariate analysis of factors. The results showed that the important factors obtained for category community consisted of (1) nature tourism factors, (2) the factors of function and benefits, (3) the factors of community participation in management as well as the frequency of utilization and (4) factors of knowledge. An important factor for the category manager consisted of (1) factors and management efforts (2) factors influence as well as the response of the community towards the management. An important factor for the category of perpetrators of fisheries consisted of (1) the factors of knowledge, (2) the frequency utilization factor as well as the functions and (3) factors of damaging the ecosystem.  
DAYA TANGKAP BUBU LIPAT YANG DIOPERASIKAN OLEH NELAYAN TRADISIONAL DI DESA MAYANGAN KABUPATEN SUBANG (Catchability of Collapsible Pot Operated by Traditional Fishermen in Mayangan Village, Subang Regency) Dahri Iskandar
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 8, No 2 (2013): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.388 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.8.2.1-5

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan daya tangkap bubu lipat yang dioperasikan oleh nelayan  tradisional di perairan Desa Mayangan Kabupaten Subang. Pengoperasian bubu lipat dilakukan sebanyak 10 trip penangkapan. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa rata-rata hasil tangkapan yang diperoleh pada setiap trip penangkapan adalah 27 ekor. Total hasil tangkapan terendah terjadi pada stasiun ke 4 yaitu sebanyak 33 ekor atau setara dengan 12.64 % dari total hasil tangkapan. Adapun jumlah hasil tangkapan tertinggi terjadi pada stasiun ke 5 dengan  jumlah  sebanyak 56 ekor atau setara dengan 21.46 % dari total hasil tangkapan.  Jumlah hasil tangkapan kepiting bakau tertinggi terjadi pada stasiun ke 5 dengan jumlah sebanyak 28 ekor atau setara dengan 29.79 % dari total hasil tangkapan kepiting bakau. Rata-rata hasil tangkapan kepiting bakau  yang diperoleh pada setiap stasiun adalah 16 ekor. Kata Kunci : Bubu lipat, daya tangkap, kepiting bakau, hasil tangkapan, nelayan The objective of this research was to determine catchability of collapsible pot operated by traditional fishermen in Mayangan village waters, Subang regency. Fishing operation of collapsible pot was carried out in 10 times of fishing trips.  Result of research indicated that average of catch pot each fishing was 27 fishes.  The lowest of  total catch was obtained in the 4th station with total catch of 33 fishes or similar with 12.64% of total catch while the highest of total catch  was obtained in the 5th station with total catch of 56 fishes or similar with 21.46% of total catch. The highest catch of mud crabs was obtained in 5th station with total number of 28 crabs or similar with 29.79% of total catch of mud crabs. Average catch of  mud crab each station was 16 crabs Key words: Collapsible pot, catch, mud crab,catchability
PEMANFAATAN UMPAN ALTERNATIF LIMBAH KEPALA UDANG DAN WAKTU IMMERSING BUBU LIPAT TERHADAP HASIL TANGKPAAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN KARIMUNJAWA KABUPATEN JEPARA (Utilization of Alternative Shrimp Head Waste Feed and Immersing Time of Pot on the Catch of Swimming Crab (Portunus Pelagicus) in Karimunjawa Waters of Jepara District) Martiana Neilirrohmah; Aristi Dian Purnama Fitri; Sardiyatmo Sardiyatmo
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 14, No 2 (2019): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.767 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.14.2.91-95

Abstract

Bubu lipat adalah alat tangkap yang digunakan untuk menangkap rajungan di Perairan Karimunjawa. Umpan yang biasa digunakan yaitu ikan segar (Damselfish), namun memiliki kendala sehingga peneliti memberikan solusi menggunakan umpan limbah kepala udang (Paneus merguensis) karena murah, bisa didapat dari limbah rumah tangga, serta mengandung protein yang dapat merangsang indera penciuman Rajungan (Portunus pelagicus). Tujuan penelitian adalah menganalisis hasil tangkapan Rajungan (Portunus pelagicus) dengan bubu lipat umpan limbah kepala udang (Penaeus merguensis) dan umpan ikan segar (Damselfish), serta perbedaan waktu immersing (6 jam dan 12 jam). Metode penelitian yang digunakan adalah experimental fishing dengan 8 kali pengulangan. Penelitian dilakukan di Perairan Karimunjawa, Kabupaten Jepara pada bulan Februari 2018. Analisis data menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji-t. Hasil tangkapan Rajungan (Portunus pelagicus) dengan umpan limbah kepala udang lebih sedikit dibandingkan dengan umpan ikan segar (Sig. 0,538). Hasil tangkapan Rajungan (Portunus pelagicus) pada waktu immersing 6 jam lebih banyak dibandingan waktu immersing 12 jam (Sig. 0,512). Tidak terdapat interaksi antara umpan dan waktu immersing terhadap hasil tangkapan Rajungan (Portunus pelagicus) pada penangkapan bubu lipat di Karimunjawa. Trap is one of the fishing gear used to catch a swimming crabs in Karimunjawa. Usually the bait is used fresh baits (Damselfish), but have constraints so the researcher giving a solution to use shrimp head waste (Penaeus merguensis) because cheap, can get from household waste, and contains protein that can stimulate the sense of swimming crabs’s smell. The research purposes to analyze the ratio of the catches between pot using shrimp head waste (Penaeus merguensis) with fresh baits (Damselfish) and immersing time difference (6 hours and 12 hours). The research method used in this study was the experimental fishing with 8 times repetition. The research held at Karimunjawa waters of Jepara District on February 2018. The data analysis used were the normality test, the homogenity test and t-test. The resulted of swimming crabs on the pot with shrimp head waste is less more than fresh baits (Sig. 0,538) . The resulted of swimming crabs on pot with 6 hours of immersing time is in the largest number of catch (Sig. 0,512). Fresh fish baits and shrimp head waste feed and immersing time between 6 hours and 12 hours no interaction the catch of swimming crabs in Karimunjawa 
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI LARVA IKAN PELAGIS DI ESTUARIA PELAWANGAN TIMUR, SEGARA ANAKAN, CILACAP Subiyanto, Subiyanto; Ruswahyuni, Ruswahyuni; Gondo Cahyono, Dwi
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 4, No 1 (2008): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.607 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.4.1.62-68

Abstract

Penelitian mengenai komposisi dan distribusi larva ikan di estuaria Pelawangan Timur, Segara Anakan, Cilacap telah dilakukan dua minggu sekali selama bulan Juli-Oktober 2003. Pengambilan sampel larva dilakukan di muara dan sungai Donan, Sapuregel, dan Kembangkuning dengan menggunakan Plankton net mesh size 0,2 mm yang ditarik perahu dengan kecepatan rata-rata 2 knot selama 10 menit. Selama penelitian larva yang tertangkap di Pelawangan Timur sebanyak 1688 individu terdiri dari 15 famili yang didominasi oleh Pomacentridae (29,84%), Atherinidae (28,66%), Gobiidae (20,31%), Clupeidae (11,19%), sedangkan untuk jenis larva lainnya hanya ditemukan dalam jumlah yang sedikit, yaitu kurang dari 2%. Famili Pomacentridae, Atherinidae, dan Gobiidae mempunyai distribusi yang sama yaitu tersebar merata di semua stasiun penelitian dengan jumlah individu terbanyak pada sungai Donan dan Sapuregel. Distribusi famili Clupeidae mempunyai jumlah individu terbesar pada Muara sungai Donan. Sebagian besar larva merupakan ikan laut yang melakukan ruaya ke perairan Pelawangan Timur. Sedangkan pola distribusi larva ikan mempunyai kecenderungan mengadakan migrasi ke daerah mangrove yang terdapat di sepanjang pinggiran sungai Donan dan Sapuregel. Kelimpahan larva terbanyak di daerah muara sungai Donan dan sungai Sapuregel.
PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DENGAN METODE BUDIDAYA CLEANER PRODUCTION (The Growth of Nile Tilapia (Oreochromis niloticus) in Cleaner Production Culture Method) Haeruddin Haeruddin; Supriharyono Supriharyono; Niniek Widyorini
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 15, No 2 (2019): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.288 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.15.2.112-118

Abstract

Budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan industri budidaya yang cukup penting saat ini.  Ikan nila merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya.  Penerapan cleaner production dalam budidaya ikan dilakukan untuk mengatasi permasalahan pencemaran lingkungan dari limbah budidaya ikan.  Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pertumbuhan ikan nila (panjang dan berat) pada metode budidaya ikan cleaner production dengan mengaplikasikan enzim EZplus ke dalam pakan untuk menekan limbah padat dan cair yang dihasilkan ikan.  Peubah yang diamati meliputi laju pertambahan panjang harian ikan, laju pertumbuhan berat harian ikan nila atau Specific Growth Rate (SGR), dan rasio konversi pakan atau Food Conversion Ratio (FCR).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode budidaya cleaner production pada ikan nila mampu meningkatkan laju pertumbuhan panjang dan bobot ikan serta memperbaiki rasio konversi pakan dan memperbaiki mutu media pemeliharaan ikan. Nowadays the tilapia (Oreochromis niloticus) culture is one of the important aquaculture industry.  Tilapia is one of the best commodity in fish culture.  Implementation of cleaner production in fish farming is carried out to overcome the problem of environmental pollution from fish farming waste.  This research was conducted to examine the growth of tilapia (length and weight) in the Cleaner Production cultivation method by applying the EZplus enzyme to the feed to suppress the solid and liquid waste produced by fish.  The variables observed included the daily growth rate of fish length, Specific Growth Rate (SGR), and feed conversion ratio (FCR).  The results showed that the application of the Cleaner Production cultivation method in tilapia was able to increase the daily growth rate of fish length and weight as well as improve feed conversion ratio and improve the quality of fish culture media.    
Bycatch Analyses of Pot Operated In Coral Reef Waters of Seribu Islands Dahri Iskandar
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 6, No 2 (2011): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.302 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.6.2.31-36

Abstract

The objective of this research was to investigate bycatch of pot operated by fishermen in Seribu Island waters.  The research was carried out by common pot using by fishermen for catching  reef fishes. Pots used in this experiment was made from bamboo with size of length x width x depth : 66 cm x 51 cm x 20 cm. During experiment bamboo pots were operated in single pot setting in depth range of 0,5 m to 3 m. Result of the experiment indicated that catch of pot per trip ranged from 3,7 to 8,9 fishes per pot. Dominant bycatch came from Famili Pomacentridae with total amount 201 fishes or 30, 78% of total catch.  Proportion of bycatch was relatively higher than target species with proportion 58% : 42%. Keywords: bycatch, pot, reef, reef fishes, Seribu island
KEMUNDURAN MUTU DAN UMUR SIMPAN IKAN TERI NASI SETENGAH KERING (Stolephorus spp) SELAMA PENYIMPANAN DINGIN Deterioratiom Rate and Shelf life of Semi-dried Anchovy (Stolephorus spp) during Chilled Storage A Suhaeli Fahmi
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 11, No 1 (2015): JURNAL SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.934 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.11.1.41-46

Abstract

ABSTRAK   Ikan teri nasi, selain banyak diolah menjadi produk kering, juga dapat ditemukan dalam bentuk setengah kering. Produk setengah kering dari ikan teri nasi ini juga sudah distandarisasi oleh BSN dengan SNI 1.3461.1:2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses kemunduran mutu organoleptik dan oksidasi lemak yang terjadi pada ikan teri nasi setengah kering selama penyimpanan dingin. Pada penelitian ini ikan teri nasi dikeringkan dengan sinar matahari selama 1,5 dan 2 jam. Penyimpanan dingin dilakukan pada suhu 6,40⁰C dan pengujian mutu produk dilaksanakan pada hari ke-0, 7, 14, 21 dan 28 penyimpanan dingin. Data hasil uji mutu yang berupa nilai Aw, PV, nilai proksimat dan nilai organoleptik dianalisis secara deskriptif untuk menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  kadar air dan nilai Aw produk setelah proses pengeringan selama 1,5 jam dan 2 jam tercatat masing-masing sebesar 63,7% dan  59,6% serta 0,92 dan 0,90. Sedangkan nilai PV masing-masing sebesar 3,84 mEq/kg lipid dan 6,04 mEq/kg lipid. Selama penyimpanan dingin nilai Aw semua produk menunjukkan nilai yang meningkat sampai akhir masa penyimpanan, sedangkan nilai PV menunjukkan pola yang fluktuatif. Ikan teri nasi yang dikeringkan selama 2 jam ditolak panelis pada hari penyimpanan dingin ke-28 sementara ikan teri nasi yang dikeringkan selama 1,5 jam sudah ditolak lebih dahulu oleh panelis yaitu pada hari ke-14 karena adanya kapang.   Kata kunci : ikan teri nasi setengah kering, Aw, kadar air, kemunduran mutu, oksidasi lemak   ABSTRACT   Dried anchovy can be found as semi-dried product with relative mild textural properties. Semi-dried anchovy have been standardized with SNI 1.3461.1:2013. This research is aimed to analyze the organoleptic value and lipid oxidation rate in semi-dried anchovy during chilled storage. The result showed that after sun drying process in 1,5 and 2 hours, moisture content of the products were 63,7% and  59,6% respectively. Aw of the products were 0,92 and 0,90 respectively. PV recorded 3,84 mEq/kg lipid dan 6,04 mEq/kg lipid respectively. During chilled storage in refrigerator (6,40⁰C), Aw were increased otherwise the PV showed fluctuative pattern. 2 hours dried anchovy was rejected on 28 days storage while 1,5 hours dried anchovy was rejected in 14 days storage due to mold  existance. Keywords : semi-dried anchovy, Aw, moisture content, quality deterioration, lipid oxidation 
PENGGUNAAN MEDIA KULTUR YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN Chlorella sp Diana Chilmawati; Suminto Suminto
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 4, No 1 (2008): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.456 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.4.1.42-49

Abstract

Usaha budidaya ikan di perairan payau dan laut semakin berkembang dan tidak dapat terlepas dari tahap pembenihan. Diperlukan budidaya benih dengan pemberian pakan alami yang cukup dan berkualitas. Pakan alami belum dapat digantikan oleh pakan buatan terutama pada saat awal pemeliharaan larva. Salah satu jenis pakan alami adalah Chlorella sp. yang diberikan kepada jenis zooplankton maupun langsung kepada kultivan ikan atau udang. Media kultur Walne, Gullard’s f/2 dan Erdschreiber merupakan media yang cocok digunakan untuk mengkultur phytoplankton. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh penggunaan media Walne, Gullard’s f/2 dan media Erdschreiber terhadap pertumbuhan Chlorella sp dan mengetahui media terbaik dari ketiga media tersebut terhadap pertumbuhan Chorella sp. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu perlakuan A menggunakan Media Walne, perlakuan B menggunakan Media Guillard’s f/2, dan perlakuan C menggunakan Media Erdschreiber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media kultur yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap waktu lag phase dan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konstanta pertumbuhan spesifik, puncak populasi dan kepadatan akhir Chlorella sp. Media Guillard f/2 memberikan pertumbuhan Chlorella sp terbaik dengan waktu lag phase tercepat (0,290 hari), konstanta pertumbuhan spesifik terbaik (0,655), puncak populasi tertinggi (8,53 x 107  sel/ml) dan kepadatan akhir tertinggi (2,77 x 106 sel/ml)   Kata Kunci : media, kultur, pertumbuhan, Chlorella sp
SKRINING SENYAWA FITOKIMIA RUMPUT LAUT Sargassum sp. DAN AKTIVITASNYA SEBAGAI ANTIBAKTERI TERHADAP Staphylococcus aureus dan Eschericia coli (Phytochemical Compound Screening of Sargassum sp. and It’s Activity as Antibacterial Against Staphylococcus aureus and Escherichia coli) Indria Eka Pangestuti; Sumardianto Sumardianto; Ulfah Amalia
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 12, No 2 (2017): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.354 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.12.2.98-102

Abstract

 Bakteri S. aureus dan E. coli merupakan bakteri patogen yang sering menjadi masalah pada produk makanan terutama pada produk perikanan, sehingga diperlukan senyawa antibakteri yang efektif untuk menghambat pertumbuhannya. Rumput laut Sargassum sp. memiliki senyawa bioaktif yang dapat berfungsi sebagai senyawa antibakteri, seperti flavonoid, saponin, tannin, dan fenol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan fitokimia pada ekstrak rumput laut Sargassum sp. dan mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus dan E. coli. metode yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan menggunakan model Rancangan Acak Lengkap (RAL). Parameter pengujian yang dilakukan adalah uji fitokimia kuantitatif ekstrak rumput laut Sargassum sp. dan zona hambat ekstrak rumput laut Sargassum sp. menggunakan metode difusi sumur dengan penambahan konsentrasi 0%, 5%, 10%, 15% dan dilakukan 3 kali ulangan. Data hasil uji zona hambat dianalisis menggunakan uji ANOVA (Analysis Of Varians) dan Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil uji fitokimia kuantitatif ekstrak rumput laut terbaik diperoleh pada senyawa saponin yaitu sebesar 3,50±0,06 % sedangkan hasil terendah yaitu fenol 0,09±0,05 %. Hasil penelitian zona hambat menggunakan metode difusi sumur menghasilkan diameter pada bakteri S. aureus berkisar 1,527±0,326 mm sampai 6,323±0,27 mm, sedangkan diameter pada bakteri E.coli berkisar 0±0 mm sampai 3,58±0,33 mm. Berdasarkan hasil tersebut, penambahan konsentrasi ekstrak rumput laut Sargassum sp. memberikan pengaruh terhadap diameter zona hambat bakteri S. aureus dan E. coli.Kata kunci: Rumput Laut Sargassum sp., Fitokimia, Antibakteri, Staphylococcus aureus, dan Eschericia coli S. aureus and E. coli bacteria is a pathogenic bacteria that often cause problems in food products especially in fishery products, so that an effective antibacterial compound is needed to inhibit their growth. Sargassum sp. seaweed has a bioactive compound that can be functioned as antibacterial compound, such as flavonoid, saponin, tannin, and phenol. The aim of this research was to know the phytochemical content in Sargassum sp. seaweed extract and to know the effect of concentration added to the S. aureus and E. coli bacteria growth. This research was using experimental laboratories method with Completely Randomized research Design (CRD). The conducted testing parameter were Quantitative Phytochemical Analysis and Inhibition Zone on Sargassum sp. seaweed extract using diffusion well method with 0%, 5%, 10%, and 15% added concentration for triplicates. The inhibition zone’s data were analyzed using ANOVA (Analysis of Variance) and Honestly SignificaNt Difference (HSD). The best quantitative phytochemical results of seaweed extract was found in the saponin compound which was 3,50 ± 0,06 %while the lowest was found in phenol which was 0,09±0.05 %. The inhibition zone research results using diffusion well method resulted on the S. aureus bacteria’s diameter which was about 1,527±0,326 mm until 6,323 ± 0,27 mm, while E.coli bacteria has about 0±0 mm until 3,58±0,33 mm diameter. Based on the research results above, the concentration addition of Sargassum sp. seaweed extract gave effect to the inhibition zone’s diameter of S. aureus and E. coli bacteria. 
The Populations of Macrobenthos Organisms in The Peat Soil in Rawapening Reservoir Ruswahyuni Ruswahyuni; William Nata
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 5, No 2 (2010): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.459 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.5.2.40-46

Abstract

Rawapening a reservoir in Semarang district, which holds the potential fisheries resources. Water in Rawapening comes from eighteen rivers, and there is only one outflow, i.e. Tuntang river. Peat soil in Rawapening has a high organic matter content. In terms of ecology, the presence of organic material is able to enrich the aquatic environment. The waters which has high content of organic material needs more oxygen to dicompose, so that the waters contain less oxygen. This condition can be harmful to aquatic organisms, especially benthic animals that are not active or have a limited movement. A discriptive field research was conducted in July 2008. The objectives of this research was to determine the populations of macrobenthos organisms in the peat soil which has different organic matter content The results show that the structure of macrobenthos populaion found in of 4 classes, consisting of: Oligochaeta, Gastropoda, bivalves and larvae of Insects. Of these 4 classes, there are 10 genera composed of 5 genera Oligochaeta, 1 genus of Bivalves, 3 genera of Gastropods and 1 genus of Cironomid. Chi-Square statistical analysis, showed that there are differences in macrobenthos population in the peat soils with different organic matter content in the waters Rawapening. Key Words: Macrobenthos. Peat Soil, Rawapening

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 21, No 4 (2025): SAINTEK PERIKANAN Vol 21, No 3 (2025): SAINTEK PERIKANAN Vol 21, No 2 (2025): SAINTEK PERIKANAN Vol 21, No 1 (2025): SAINTEK PERIKANAN Vol 20, No 4 (2024): SAINTEK PERIKANAN Vol 20, No 3 (2024): SAINTEK PERIKANAN Vol 20, No 2 (2024): SAINTEK PERIKANAN Vol 20, No 1 (2024): SAINTEK PERIKANAN Vol 19, No 4 (2023): SAINTEK PERIKANAN Vol 19, No 3 (2023): SAINTEK PERIKANAN Vol 19, No 2 (2023): SAINTEK PERIKANAN Vol 19, No 1 (2023): SAINTEK PERIKANAN Vol 18, No 4 (2022): SAINTEK PERIKANAN Vol 18, No 3 (2022): SAINTEK PERIKANAN Vol 18, No 2 (2022): SAINTEK PERIKANAN Vol 18, No 1 (2022): SAINTEK PERIKANAN Vol 17, No 4 (2021): SAINTEK PERIKANAN Vol 17, No 3 (2021): SAINTEK PERIKANAN Vol 17, No 2 (2021): SAINTEK PERIKANAN Vol 17, No 1 (2021): SAINTEK PERIKANAN Vol 16, No 4 (2020): SAINTEK PERIKANAN Vol 16, No 3 (2020): SAINTEK PERIKANAN Vol 16, No 2 (2020): SAINTEK PERIKANAN Vol 16, No 1 (2020): SAINTEK PERIKANAN Vol 15, No 2 (2019): SAINTEK PERIKANAN Vol 15, No 1 (2019): SAINTEK PERIKANAN Vol 14, No 2 (2019): SAINTEK PERIKANAN Vol 14, No 1 (2018): SAINTEK PERIKANAN Vol 13, No 2 (2018): SAINTEK PERIKANAN Vol 13, No 1 (2017): SAINTEK PERIKANAN Vol 12, No 2 (2017): SAINTEK PERIKANAN Vol 12, No 1 (2016): SAINTEK PERIKANAN Vol 11, No 2 (2016): SAINTEK PERIKANAN Vol 11, No 1 (2015): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 10, No 2 (2015): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 10, No 1 (2014): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 9, No 2 (2014): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 9, No 1 (2013): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 8, No 2 (2013): Jurnal Saintek Perikanan Vol 8, No 1 (2012): Jurnal Saintek Perikanan Vol 7, No 1 (2011): Jurnal Saintek Perikanan Vol 6, No 2 (2011): Jurnal Saintek Perikanan Vol 6, No 1 (2010): Jurnal Saintek Perikanan Vol 5, No 2 (2010): Jurnal Saintek Perikanan Vol 5, No 1 (2009): Jurnal Saintek Perikanan Vol 4, No 2 (2009): Jurnal Saintek Perikanan Vol 4, No 1 (2008): Jurnal Saintek Perikanan Vol 3, No 2 (2008): Jurnal Saintek Perikanan Vol 2, No 1 (2006): Jurnal Saintek Perikanan More Issue