cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kajian Wilayah
ISSN : 20872119     EISSN : 2502566x     DOI : -
Core Subject : Social,
Submit Manuscript Journal Help User Username Password Remember me Notifications View Subscribe Information For Readers For Authors For Librarians Current Issue Atom logo RSS2 logo RSS1 logo Visitor Statistics Web Analytics View My Stats ID 4723 US 925 MY 192 PH 103 AU 59 SG 56 GB 51 JP 50 DE 47 EU 45 Newest: DJ You: ID Today: 16 Month: 341 Total: 7264 Supercounters.com Home / Vol 9, No 1 (2018) Jurnal Kajian Wilayah Jurnal Kajian Wilayah (JKW) is an authoritative source of information and discussion on area studies, particularly Southeast Asian studies, Asia Pacific studies, as well as European and African studies. It publishes original research papers, review articles, book reviews and research summary on various perspectives and disciplines (history, anthropology, sociology, literature, politics, international relation, economics, philosophy and religion). JKW is an open access and peer reviewed journal published by Research Center for Regional Resources, the Indonesian Institute of Sciences, twice in a year (July and December).
Arjuna Subject : -
Articles 158 Documents
Emerging Pulp and Paper Industry in Thailand Herman Hidayat; KONO Yasuyuki
Jurnal Kajian Wilayah Vol 3, No 1 (2012): Jurnal Kajian Wilayah
Publisher : Research Center for Regional Resources-Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (836.154 KB) | DOI: 10.14203/jkw.v3i1.315

Abstract

Tulisan ini menggarisbawahi diskusi singkat mengenai reformasi ekonomi pada tahun 1970-an hingga 1990-an yang mengubah hubungan ekonomi luar negeri Thailand melalui implementasi strategi ekonomi yang membuka kesempatan bagi para investor untuk menanamkan modalnya. Upaya ini memengaruhi peningkatan Foreign Direct Investment (FDI) yang merupakan hasil kerjasama antar investor domestik, bahkan ada perusahaan seratus persen kepemilikan dimiliki oleh perusahaan asing. Implikasi dari reformasi ekonomi ini menunjukkan suatu yang positif. Para investor menanamkan modalnya dalam berbagai sektor, seperti minyak, pertambangan, petrokimia, otomotif, perbankan, infrastruktur perumahan, industri perhutanan, dan sebagainya. Tulisan ini berfokus pada pulp dan industri kertas. Pada dua dekade terakhir (1980-an sampai 2000-an), terlihat peningkatan jumlah pulp dan industri kertas di Thailand. Tulisan ini bertujuan untuk menelaah kebijakan pemerintah Thailand terhadap perkembangan ekonomi, implikasi dari kebijakan pulp dan industri kertas, dengan mengambil dua perusahaan pulp dan industri kertas, yaitu Advance Agro dan Siam Cement Groups sebagai contoh kasus bagaimana mereka mengelola industri tersebut, masalah kepemimpinan di dalamnya, dan bagaimana mereka merevitalisasi perusahaan agar terus berkembang.Kata kunci: Kebijakan reformasi ekonomi, Royal Forest Department (RFD), pulp dan industri kertas, Advance Agro, Siam Cement Group, manajemen.
THE DEVELOPMENT OF ORGANIC FARMING IN VIETNAM Mayasuri Presilla
Jurnal Kajian Wilayah Vol 9, No 1 (2018): Jurnal Kajian Wilayah
Publisher : Research Center for Regional Resources-Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.929 KB) | DOI: 10.14203/jkw.v9i1.783

Abstract

Organic products nowadays are very potential to be developed because of the increasing demand from consumers around the world on safe food which are free from agrochemicals, such as fertilizers and chemical. Demand for organic products mainly comes from countries in the western of Europe, in the northern America, in the East Asia. Besides promoting health for human and the environment, organic farming can also increase income for farmers due to the higher price of organic products compared to ordinary agricultural products. The growing market share of organic products in the world is a great opportunity for agricultural producers to shift its agriculture from conventional to organic systems. This article is written based on the PSDR-LIPI research about sustainable agriculture in Vietnam in 2013, coupled with current news on Vietnam's organic farming today. The research result shows that the opportunity to reach a large organic market has not been caught by the agricultural producer countries, such as Vietnam. Until now, organic agriculture in Vietnam has not developed rapidly, although it has spread in some provinces. The slow growth of organic agriculture is as the consequence of several things, such as the orientation of agricultural development which emphasize more on quantity and not quality, lack of legal framework, and complicated and high investment costs for developing organic farming.Keywords:organic farming, organic market, legal framework, high investment, agriculture AbstrakProduk-produk organik saat ini sangat potensial untuk dikembangkan karena semakin besarnya minat konsumen dunia akan produk makanan yang bebas dari penggunaan bahan-bahan kimia, seperti pupuk dan pestisida kimia, sehingga aman untuk dikonsumsi.  Permintaan produk-produk organik terutama datang dari negara-negara Eropa Barat, Amerika Utara, serta Asia Timur.  Berbagai keuntungan yang bisa didapatkan dari pertanian organik adalah peningkatan kesehatan tubuh, kesehatan ekosistem (tanah, air, hewan, dan tumbuhan), serta peningkatan penghasilan bagi para petani karena harga produk organik yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk-produk pertanian pada umumnya. Semakin besarnya pangsa pasar produk organik di dunia merupakan kesempatan besar bagi para produsen pertanian untuk beralih dari sistem konvensional ke sistem organik. Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis bersama dengan tim peneliti PSDR-LIPI lainnya tentang pertanian berkelanjutan di Vietnam pada tahun 2013, dan ditambah dengan berita-berita terkini tentang pertanian organik Vietnam. Hasil penelitian dan penelusuran menunjukkan bahwa kesempatan untuk meraih pasar organik yang besar belum banyak ditangkap oleh negara-negara produsen dan pengekspor hasil pertanian, misalnya Vietnam. Hingga saat ini, pertanian organik di Vietnam belum berkembang pesat, walaupun keberadaannya telah tersebar di beberapa daerah. Lambatnya perkembangan pertanian organik ini disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya pembangunan pertanian yang masih berorientasi pada masalah kuantitas dan bukan kualitas, belum ada tuntutan yang besar dari pasar domestik untuk masalah keamanan pangan, dan besarnya biaya investasi untuk sebuah pertanian organik.Kata kunci: pertanian organik, pasar produk organik, kerangka hukum, investasi besar, dan pertanian
WANITA ASIA DALAM IMAJINASI DIGITAL: KAJIAN LITERATUR ATAS ORIENTALISME Iman Zanatul Haeri
Jurnal Kajian Wilayah Vol 7, No 2 (2016): Jurnal Kajian Wilayah
Publisher : Research Center for Regional Resources-Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1243.168 KB) | DOI: 10.14203/jkw.v7i2.746

Abstract

Globalization is marked with the spread of Western culture technology products. One of the Western cultural products that are very influential was Hollywood movies. Fictitious narratives produced the some imaginative ideas that apply also on social media communicative as dating site, video porn sites, until advertising. The awareness of imaginative west of geopolitics outside himself or Other revealed by Edward Said in Orientalism. Said that initially examine the practice of West imaginative through Literature opens up the possibility of resumption of studies on other media with the idea that the West has distortion of the knowledge of the East, one considers that the exotic East. Exotic ideas still present in western digital imagination when respect women Asia as the representation of the women of the east. Some Hollywood movies, dating site, video porn sites until the advertisements still presents stereotypes Asian women foreign, mysterious, strange and sensual display. Asian women trapped in exotic role in the Digital imagination space. They exoticiziation and exoticted themselves before the digital public. Globalisation and the development of communications technology in digital imagination proved does not stop the stereotypes against Asian women that they exotic. Thus through digital imagination and the will of the global capitalism, representation Asian women shown, celebrated, promoted and taken advantage of it.Keywords: digital imagination, women Asia, post-Orientalism, exoticAbstrakGlobalisasi ditandai dengan tersebarnya produk teknologi budaya Barat. Salah satu produk budaya Barat yang sangat berpengaruh adalah film Hollywood. Narasi fiktif tersebut menghasilkan beberapa gagasan imajinatif yang berlaku juga pada media sosial komunikatif seperti situs kencan, video porno, hingga iklan. Kesadaran imajinatif barat terhadap geopolitik di luar dirinya atau other diungkap oleh Edward Said dalam Orientalisme. Said yang pada awalnya mengkaji praktik imajinatif Barat melalui Sastra membuka peluang terbukanya kajian pada media lainnya dengan gagasan bahwa Barat memiliki distorsi pengetahuan tentang Timur, salah satunya menganggap bahwa Timur Eksotis. Gagasan eksotis tetap hadir dalam imajinasi digital Barat ketika memandang Wanita Asia sebagai representasi wanita timur. Beberapa film Hollywood, situs kencan, video porno hingga iklan masih menghadirkan stereotip Wanita Asia yang asing, misterius, aneh dan sensual. Wanita Asia terjebak pada peran eksotisnya dalam ruang imajinasi digital tersebut. Mereka dieksotiskan dan mengeksotiskan diri di hadapan publik digital. Globalisasi dan perkembangan teknologi komunikasi dalam imajinasi digital terbukti tidak menghentikan stereotip terhadap wanita asia bahwa mereka eksotis. Justru melalui imajinasi digital dan kehendak kapitalisme global, representasi wanita asia dipertontonkan, dirayakan, dipromosikan dan diambil keuntungan darinya.Kata kunci: imajinasi digital, wanita Asia, pasca-Orientalisme, eksotis
The Human Trafficking of Cambodian Women and Children for Sex Industry: Internal end External Case Study Betti Rosita Sari
Jurnal Kajian Wilayah Vol 1, No 2 (2010): Jurnal Kajian Wilayah
Publisher : Research Center for Regional Resources-Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1165.898 KB) | DOI: 10.14203/jkw.v1i2.285

Abstract

Perdagangan manusia atau human trafficking menjadi isu yang penting di kawasan Asia Tenggara, bahkan global seiring dengan meningkatnya jumlah korban dan perubahan pola-pola perdagangan manusia yang sangat cepat. Konflik dan perkembangan teknologi, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat turut mempercepat angka perdagangan manusia, tak terkecuali di Kamboja dimana banyak yang menjadi korban perdagangan manusia ke Thailand dan Vietnam. Paper ini akan menjawab pertanyaan apa sebenarnya penyebab utama perdagangan manusia di Kamboja, bagaimana pola-pola perdagangan manusia, serta bagaimana respon dari pemerintah Kamboja untuk memberantas perdagangan manusia.
Proses Munculnya Euro-Islam sebagai Transnational Norms di kalangan Muslim Eropa Mochamad Faisal Karim
Jurnal Kajian Wilayah Vol 1, No 1 (2010): Jurnal Kajian Wilayah
Publisher : Research Center for Regional Resources-Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.651 KB) | DOI: 10.14203/jkw.v1i1.129

Abstract

The study focuses on the formation process of Euro-Islam as a transnational norm among European Muslim to integrate Muslim into European society. There is a growing norm among the European Muslim society called as Euro-Islam norm. In this research, I use norm life cycle theory, brought by Martha Finnemore and Kathryn Sikkink to assess the process of formation of Euro-Islam norm. Although Euro-Islam has not yet entered the stage of internalization norm, I argue that Euro-Islam gradually forms a norm which theoretically will become a base for the formation of future Euro-Islam identity among European Muslim.Keywords: Euro-Islam, Norm, integration, identity
Cover Jurnal Kajian Wilayah Vol.9 No.1 (2018) Ahmad Helmy Fuady
Jurnal Kajian Wilayah Vol 9, No 1 (2018): Jurnal Kajian Wilayah
Publisher : Research Center for Regional Resources-Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1848.998 KB) | DOI: 10.14203/jkw.v9i1.798

Abstract

POTENSI DAN TANTANGAN ONE BELT ONE ROAD (OBOR) BAGI KEPENTINGAN NASIONAL INDONESIA DI BIDANG MARITIM Samti Wira Wibawati; Marina Ika Sari; Yuli Ari Sulistyani
Jurnal Kajian Wilayah Vol 9, No 2 (2018): Jurnal Kajian Wilayah
Publisher : Research Center for Regional Resources-Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1725.537 KB) | DOI: 10.14203/jkw.v9i2.801

Abstract

OBOR is one of the globalization phenomena which causes borderless effect for every country passed by it. OBOR is China’s ambitious connectivity project through infrastructure development and also sea and land transportation route which connect China with Asia, Europe, and Africa. Global connectivity as a goal of OBOR has created opportunities and challenges for Indonesia because it intersects with Indonesia’s national interests. In analyzing the opportunities and challenges of OBOR for Indonesia, the researchers used qualitative method with the concept of national interest and maritime security. The results of this study show that the challenges of OBOR for Indonesia are that OBOR is in line with the Global Maritime Fulcrum related to maritime connectivity and development. On the other hand, OBOR has become a challenge for Indonesia such as in economic sector, in which there are competition between local product and China’s product, and also competition between domestic labors and China’s labors; in defense sector especially in maritime, the challenges are in Malacca Strait, Natuna Islands, South China Sea, and transnational crimes which becomes threats for maritime security.Keywords: Opportunity, Challenge, One Belt One Road, National Interest, MaritimeAbstrakOBOR adalah salah  satu bentuk dari fenomena globalisasi yang menciptakan efek borderless bagi setiap negara yang dilaluinya. OBOR merupakan proyek konektivitas ambisius Tiongkok melalui pembangunan infrastruktur dan jalur transportasi darat dan laut yang menghubungkan negaranya dengan kawasan Asia, Eropa, dan Afrika. Konektivitas global sebagai tujuan OBOR telah menciptakan potensi dan tantangan tersendiri bagi Indonesia karena bersinggungan dengan kepentingan nasional. Untuk menganalisis potensi dan tantangan OBOR bagi Indonesia, peneliti menggunakan metode kualitatif dengan konsep kepentingan nasional dan keamanan maritim. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa potensi OBOR bagi Indonesia yaitu OBOR dapat sejalan dengan kebijakan Poros Maritim Dunia terkait dengan konektivitas dan pembangunan infrastruktur maritim. Namun, di sisi lain, OBOR juga menjadi tantangan bagi Indonesia antara lain; di bidang ekonomi yakni persaingan produk lokal dengan produk asal Tiongkok dan tenaga kerja domestik dengan tenaga kerja asal Tiongkok; di bidang pertahanan maritim yaitu di Selat Malaka, Kepulauan Natuna, Laut Tiongkok Selatan, ancaman transnasional crimebagi keamanan maritim.  Kata kunci: Potensi, Tantangan, One Belt One Road, Kepentingan Nasional, Maritim
ANALISIS WACANA DIASPORA INDONESIA: TINJAUAN KONSEPTUAL DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL Hana Naufanita; Raden Maisa Yudono; Ani Soetjipto
Jurnal Kajian Wilayah Vol 9, No 2 (2018): Jurnal Kajian Wilayah
Publisher : Research Center for Regional Resources-Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.301 KB) | DOI: 10.14203/jkw.v9i2.796

Abstract

Diaspora is commonly used term. Its discursive nature makes diaspora means everything, adjusted to whoever articulates it. The idea of Indonesian diaspora has been spread since 2012. Diaspora is articulated by non-state actors, the expatriate group. This group change the perception of the state against expatriates from traitors to state assets. State and non-state actors aim to maximize capital through skills, remittance and investment. This is confirmed in The Presidential Decree No. 76 Year 2017 on Facilities for Indonesian Society Abroad. We argue that the Indonesian diaspora is a discourse articulated by interest groups and supported by the state to maximize capital. Whereas diaspora is a continuously created, transformed and maintained metaphor to redefine identity of a nation. This article analyzes power relations within Indonesian diaspora discourse and also review the concept of national identity in IR which commonly use state-centric perspective that seen state as unitary and sovereign entity.Keywords: constructivism, discourse analysis, diaspora Indonesia, nation-state, national identityAbstrakDiaspora merupakan istilah yang umum digunakan. Sifatnya yang diskursif membuat diaspora dapat bermakna apa saja disesuaikan dengan siapa yang mengartikulasikan. Gagasan diaspora Indonesia marak diperbincangkan sejak 2012. Diaspora diartikulasikan oleh aktor non negara yang umumnya adalah ekspatriat. Kelompok ini mengubah persepsi negara terhadap ekspatriat yang awalnya pengkhianat menjadi aset negara. Aktor negara dan non negara memiliki motif memaksimalkan kapital melalui keahlian, remitansi dan investasi. Hal ini dikukuhkan dalam Peraturan Presiden No. 76 Tahun 2017 tentang Fasilitas Masyarakat Indonesia di Luar Negeri. Peneliti berargumen bahwa diaspora Indonesia merupakan wacana yang diartikulasikan oleh kelompok kepentingan dan didukung negara untuk meraup kapital. Padahal diaspora adalah metafora yang secara kontinu diciptakan, ditransformasikan dan dipertahankan untuk mendefinisikan kembali identitas suatu bangsa. Tulisan ini menganalisis relasi power dalam wacana diaspora Indonesia, serta meninjau konsep identitas nasional dalam HI yang umumnya berbasis negara sebagai aktor tunggal dan berdaulat.Kata kunci: analisis wacana, diaspora Indonesia, identitas nasional, konstruktivisme, negara-bangsa
AKTIVITAS MENGISI WAKTU LUANG UNTUK LANSIA DI TIONGKOK : STUDI KASUS HONG KONG Wabilia Husnah
Jurnal Kajian Wilayah Vol 9, No 2 (2018): Jurnal Kajian Wilayah
Publisher : Research Center for Regional Resources-Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.566 KB) | DOI: 10.14203/jkw.v9i2.799

Abstract

Ageing society has become a serious issue for many countries in the world, and China is no exception. Hong Kong is one of the regions that has the most elderly population in China. The elderly’s preference of leisure activities is affected by the local culture. Through a qualitative approach, this study will discuss the cultural influences on the type of activities prefered by senior citizens of Hong Kong. This paper ends by concluding that Hong Kong has a unique culture. This region is a melting pot of Chinese and western cultures. The distinctive culture of Hong Kong leads to a unique preference of acivities performed by the elderly. There is a mixture of Chinese tranquility and western pleasure in every activity. All of these activities have something in common, a mixture of Chinese and western cultures.Keywords: ageing society, culture, ederly, leisure activity, leisure time AbstrakMasyarakat menua sedang menjadi masalah penting bagi berbagai negara di dunia, termasuk Tiongkok. Di Tiongkok sendiri, Hong Kong menjadi salah satu region yang jumlah penduduk lansianya paling banyak. Aktivitas mengisi waktu luang dibutuhkan oleh lansia untuk meningkatkan kualitas hidup dan kepuasan hidup, serta menjaga kesehatan fisik dan mental. Aktivitas yang dipilih untuk mengisi waktu luang ini dipengaruhi oleh budaya suatu daerah. Penelitian ini akan melihat pengaruh budaya terhadap jenis aktivitas yang dilakukan lansia Hong Kong dalam mengisi waktu luang. Di akhir, tulisan ini menyimpulkan bahwa Hong Kong memiliki budaya yang unik. Merupakan Special Administrative Region di Tiongkok dan pernah dikuasai Inggris telah membuatnya memiliki budaya dengan perpaduan budaya Tiongkok dan budaya Barat. Kekhasan budaya Hong Kong membuat aktivitas yang dipilih oleh lansia dalam mengisi waktu luang pun sangat unik. Ada nuansa ketenangan ala Tiongkok dan kesenangan ala Barat dalam setiap aktivitas yang dipilih oleh lansia Hong Kong untuk mengisi waktu luang. Semua kegiatan tersebut selalu memiliki ciri khas yang sama: perpaduan antara budaya Tiongkok dan Barat.Kata Kunci: aktivitas mengisi waktu luang, budaya, lansia, masyarakat menua, waktu luang
LANJUT USIA (LANSIA) DALAM KEBIJAKAN PARIWISATA DI HONG KONG (TIONGKOK): TAHUN 1978-2016 Erlita Tantri
Jurnal Kajian Wilayah Vol 9, No 2 (2018): Jurnal Kajian Wilayah
Publisher : Research Center for Regional Resources-Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.237 KB) | DOI: 10.14203/jkw.v9i2.797

Abstract

Hong Kong is one of the special administrative regions of China which is very well known as a tourist destination. The increasing number of elderly in someregions ofChinaand the growth of elderly’s interest in tourismhaveencouraged the development of tourism in Hong Kong asthe populartourist destinations for any ages including the elderly. Then, What wasthe tourism policy that had been taken by China, especially the Hong Kong administrationin order to attract tourists from various ages, regions, ethnicities and cultures? What weretourism offers that suppliedby Hong Kongadministrationto tourists including the elderly? Through literature studies and in-depth interviews, this study tries to lookthe tourism policies in China, especially Hong Kong for elderly tourists. China, especially Hong Kongwerevery concerned regarding totourism policiessince the beginning of China's reform or when Hong Kong washeld by the British government. These were related to the role of tourism as one of the money machines for state or regional income. Hong Kong has offereda variety of interesting entertainment for tourists, both young and old. Various offers of tourist entertainment have spoiled visitors, including the elderly. In addition, there are many facilities, tourist infrastructures, and the convenience forgetting any kindsof entertainmentthatintended for elderly tourists. These are that haveled to the increasing number of elderly people to visit Hong Kong tourism.Keywords: elderly, tourism, policy, historyAbstrakHong Kong merupakan salah satu wilayah administrasi khusus Tiongkok yang sangat terkenal sebagai tujuan wisata. Seiring dengan meningkatnya jumlah lansia di sejumlah wilayah di Tiongkok serta berkembangnya minat lansia dalam beriwisata, telah mendorong perkembangan pariwisata di Hong Kong yang menjadi salah satu destinasi wisata favorit bukan hanya bagi kaum muda, anak-anak dan dewasa, namun juga bagi lansia. Lalu, Bagaimana kebijakan pariwisata yang diambil oleh pemerintah Hong Kong dalam rangka menarik wisatawan dari berbagai segmen usia, wilayah, etnis, dan budaya? Bagaimana dengan pariwisata yang ditawarkan Hong Kong kepada wisatawan termasuk lansia? Melalui studi literatur dan wawancara mendalam, studi ini berusaha melihat kebijakan pariwisata di Tiongkok khususnya Hong Kong bagi wisatawan lansia. Tiongkok, khususnya Hong Kong memperlihatkan bahwa pemerintah sangat peduli dengan kebijakan pariwisatanyasejak awal reformasi Tiongkok bahkan sejak di pegang oleh pemerintahan Inggris. Hal ini terkait dengan peran pariwisata sebagai salah satu mesin uang bagi pendapatan negara atau wilayah. Hong Kong sendiri menawarkan beragam hiburan menarik bagi wisatawan, baik muda maupun tua. Berbagai tawaran hiburan wisata telah memanjakan pengunjung termasuk lansia. Selain itu, telah banyak fasilitas, infrastruktur wisata, dan kemudahan untuk mendapatkan jenis hiburan yang ditujukan bagi wisatawan lansia. Hal ini yang mendorong bagi meningkatnya jumlah lansia mengunjungi pariwisata Hong Kong. Kata kunci: lansia, pariwisata, kebijakan, sejarah