cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Buletin Anatomi dan Fisiologi (Bulletin of Anatomy and Physiology)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 25276751     EISSN : 25410083     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 254 Documents
Efek Serbuk Kunyit dan Kurkumin pada Spermatogenesis Mencit (Mus musculus) yang Diberi Minuman Beralkohol Helena Chika Valencia Hanisa; Tyas Rini Saraswati; Silvana Tana
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 6, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.6.2.2021.154-160

Abstract

Kunyit mengandung senyawa kurkumin yang dapat digunakan sebagai zat antiinflamasi dan membantu memperbaiki sel-sel yang rusak. Tujuan dari penelitian ini menganalisis pengaruh serbuk kunyit dan kurkumin pada jumlah dan ukuran sel spermatogonium; spermatosit primer; dan spermatosit sekunder; bobot testis serta diameter tubulus seminiferus Mus musculus yang diberi minuman beralkohol. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), menggunakan 12 ekor Mus musculus jantan yang dibagi kedalam 4 kelompok perlakuan dan 3 kali ulangan. R0 merupakan kontrol, R1 kontrol alkohol, R2 pemberian serbuk kunyit sebanyak 0,1 mg/hari, R3 pemberian kurkumin sebanyak 0,01 mg/hari. Perlakuan diberikan selama 30 hari. Data penelitian dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA) pada taraf kepercayaan 95%. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna (p>0.05) pada jumlah spermatogonium dan ukuran sel (spermatogonium, spermatosit primer, dan spermatosit sekunder), namun terdapat perbedaan bermakna pada (P<0,05) pada bobot testis, diameter tubulus seminiferus dan jumlah sel (spermatosit primer, dan spermatosit sekunder). Turmeric contains curcumin compounds that can be used as anti-inflammatory substances and help repair damaged cells. The purpose of this study was to analyze the effect of turmeric powder and curcumin on the number and size of spermatogonia cells; primary spermatocytes; and secondary spermatocytes; testicular weight and diameter of the seminiferous tubules of Mus musculus given alcoholic beverages. This study is an experimental study with a completely randomized design (CRD), using 12 male Mus musculus which were divided into 4 treatment groups and 3 replications. R0 is control, R1 is alcohol control, R2 is 0.1 mg/day of turmeric powder, R3 is 0.01 mg/day of curcumin. The treatment was given for 30 days. The research data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) at the 95% confidence level. Based on the results obtained, it can be concluded that there is no significant difference (p>0.05) in the number of spermatogonia and cell size (spermatogonia, primary spermatocytes, and secondary spermatocytes), but there is a significant difference (P<0.05) in testicular weight, diameter of the seminiferous tubules and the number of cells (primary spermatocytes, and secondary spermatocytes).
Efek Pemberian Ekstrak Etanol Daun Mimba (Azadirachta indica A. Juss) terhadap Struktur Histologis Pankreas Tikus Putih (Rattus norvegicus L.) Hiperglikemia Nunuk Shofiati; Siti Muflichatun Mardiati; Agung Janika Sitasiwi; Sri Isdadiyanto
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 6, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.6.2.2021.115-123

Abstract

Indikator klinis penyakit Diabetes Melitus adalah hiperglikemia. Mimba (Azadirachta indica A. Juss) merupakan salah satu tumbuhan yang berpotensi sebagai alternatif obat herbal hiperglikemia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ekstrak etanol daun mimba terhadap struktur histologis pankreas pada tikus hiperglikemia. Penelitian ini mengunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan jumlah tikus 24 ekor yang dibagi menjadi 6 kelompok perlakuan dan 4 kali ulangan. P0 (kontrol normal) adalah kelompok tikus normal yang diberi akuades, P1 (kontrol negatif) adalah tikus hiperglikemia yang diberi akuades. P2 (kontrol positif) adalah kelompok tikus hiperglikemia yang diberi glibenklamid dosis 2,25 mg/kg BB. P3, P4, dan P5 adalah kelompok tikus yang diberi ekstrak etanol daun mimba dosis 100, 200, dan 400 mg/kg BB. Data dianalisis dengan ANOVA pada signifikansi 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak etanol daun mimba dosis 100, 200, dan 400 mg/kg BB tidak memberikan pengaruh nyata terhadap bobot pankreas, diameter, luas, dan densitas pulau Langerhans (P>0,05). Skoring struktur pulau Langerhans berdasarkan uji Mann-Whitneymenunjukkan hasil beda nyata pada kelompok  tikus yang diberi daun mimba (P≤0,05). Kesimpulan dari penelitian ini, pemberian ekstrak daun mimba dosis 400mg/kg BB menunjukkan adanya perbaikan morfologi pulau Langerhans. The clinical indicator of Diabetes mellitus was hyperglycemia. Azadirachta indica A. Juss was a plant has the potential to alternative medicine for hyperglycemia. The study was to analyze the ethanol neem leaf extract effect on histological structure of hyperglycemic rat pancreas. This study used a completely randomized design (CRD) with 24 rats were divided into 6 treatment groups and 4 replications. P0 (control) was a normal rats group were given distilled water, P1 (negative control) was a hyperglycemic rats group were given distilled water. P2 (positive control) was a hyperglycemic rats were given 2.25 mg/kg BW of glibenclamide. P3, P4, and P5 were rats were given 100, 200, and 400 mg/kg BW of ethanolic neem leaf extract.The data analyzed by ANOVA at 95% significance showed the treatment of 100, 200, and 400 mg/kg BW ethanolic neem leaf extract had no significant effect on the pancreatic weight, diameter, area, and density of Langerhans islet (P> 0.05). The score of Langerhans islet structure based on the Mann-Whitney test showed significant differences in the groups of mice given neem leaves (P≤0.05). Treatment of 400mg/Kg BW neem leaf extract showed an improvement in the morphology of the islets of Langerhans. 
Bobot Karkas dan Morfometri Serabut Muskulus Pektoralis Itik Pengging Periode Layer Setelah Pemberian Tepung Daun Kelor Dalam Pakan Muhammad Alvin Gibran; Muhammad Anwar Djaelani; Kasiyati Kasiyati; Sunarno Sunarno
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 6, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.6.2.2021.167-174

Abstract

Kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman fungsional yang mengandung nutrisi dan antioksidan. Daun tanaman ini digunakan sebagai bahan pakan karena nutriennya yang lengkap. Tujuan penelitian adalah mengkaji pengaruh substitusi tepung daun kelor dalam pakan itik pengging periode layer pada bobot karkas dan ukuran serabut muskulus pektoralis. Rancangan penelitian menggunakan 60 ekor itik dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 5 perlakuan. Pengulangan tiap perlakuan dilakukan 3 kali dengan 4 ekor itik setiap ulangan. Kelompok perlakuan terdiri atas kontrol (K0) menggunakan pakan standar; K1 menggunakan 97,5% pakan standar dan 2,5% tepung daun kelor; K2 menggunakan 95% pakan standar dan 5% tepung daun kelor; K3 menggunakan 92,5% pakan standar dan 7,5% tepung daun kelor; K4 menggunakan 90% pakan standar dan 10% tepung daun kelor. Analisis data menggunakan one-way Analysis of Variance (ANOVA). Hasil penelitian didapatkan bahwa substitusi pakan dengan tepung daun kelor tidak memberikan pengaruh yang signifikan (P>0,05) terhadap bobot karkas, bobot muskuli pektoralis, dan ukuran serabut. Kesimpulan penelitian ini adalah substitusi tepung daun kelor pada pakan itik pengging periode bertelur tidak memberikan dampak pada bobot karkas, muskulus pektoralis, dan diameter serabut otot. Nutrien lebih banyak diarahkan untuk produksi telur daripada sintesis karkas.Moringa (Moringa oleifera) is a functional plant that contains lots of nutrients and antioxidants. The leaves on this plant are often used as a feed ingredient because of their potential to increase growth and cells development. The objective of the study is to examine moringa leaf inclusion meal on carcass weight and size of pectoral musculus fibrils of sexually mature laying ducks. The study used a completely randomized design (CRD) consisting of 5 treatments. Treatment was repeated 3 times. Feeding were carried out at 07.00 WIB and 16.00 WIB. Treatment Control (K0) used standard feed; treatment 1 (K1) used 97.5% standard feed and 2.5% moringa leaf meal; treatment 2 (K2) used 95% standard feed and 5% Moringa leaf meal; treatment 3 (K3) used 92.5% standard feed and 7.5% Moringa leaf meal; treatment 4 (K4) used 90% standard feed and 10% moringa leaf meal. Data analysis used Analysis of Variance (ANOVA) and regression test using SPSS version 25. The results showed that feed substitution on Moringa leaves did not have a significant effect on carcass weight and fibril size of treated and control ducks. In conclusion, substitution of Moringa leaf meal in pengging ducks feed on layer period had no impact of carcass and pectoral muscles weight, and could not change the diameter of pectoral muscles fibril. Nutrient and energy leads to egg production than carcass synthesis.
Pertambahan Biomassa dan Produksi Minyak Atsiri Tanaman Selasih (Ocimum basilicum L.) pada Usia Panen yang Berbeda Rasyid Abdulaziz; Sri Widodo Agung Suedy; Munifatul Izzati
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 6, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.6.2.2021.124-130

Abstract

Selasih (Ocimum basilicum L.) memiliki kandungan minyak atsiri yang dapat digunakan dalam industri kosmetik, parfum, dan medis. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan usia panen dengan biomassa dan produksi minyak atsiri pada organ daun serta batang selasih. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial, dengan faktor pertama usia panen (1; 1,5; dan 2 bulan), dan faktor kedua organ tanaman (daun dan batang). Media tanam menggunakan tanah dan kompos (1:1) yang dimasukkan dalam polibag ukuran 30cm x 30cm, dan diberi naungan paranet 25%. Parameter yang diamati: data pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun dan cabang primer), biomassa, dan produksi minyak atsiri. Analisis data menggunakan Anaylysis of Variance (ANOVA) dan Duncan's Multiple Range Test(DMRT) pada taraf kepercayaan 95 %. Penelitian menunjukkan hasil bahwa tanaman yang dipanen pada umur lebih tua menunjukkan pertumbuhan, biomassa dan produksi minyak atsiri yang lebih tinggi. Pada usia 1,5 bulan, biomassa meningkat 114,485% dibanding usia 1 bulan, sedangkan pada usia 2 bulan, peningkatan biomasa 91,410%  dibanding usia1,5 bulan. Produksi minyak atsiri tertinggi dihasilkan oleh organ daun pada usia panen 2 bulan sebesar 0,273g, dan 0,023g pada organ batang. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa usia panen berbeda berpengaruh nyata terhadap biomassa dan produksi minyak atsiri tanaman selasih. Basil (Ocimum basilicum L.) contains essential oils that can be used in the cosmetic, perfume, medical industries. This study aims to determine the relationship between harvest age and biomass and essential oil production in basil leaves and stems. The study used a completely randomized design (CRD) with a factorial pattern, with the first factor being harvest age (1; 1.5; and 2 months), and the second factor being plant organs (leaves and stems). The planting medium used soil and compost (1:1) which was put in 30cm x 30cm polybags and was given a 25% para net shade. Parameters observed: growth data (plant height, number of leaves, and primary branches), biomass, and essential oil production. Data analysis used Analysis of Variance (ANOVA) and Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at a 95% confidence level. Research shows that plants harvested at an older age show higher growth, biomass, and essential oil production. At the age of 1.5 months, biomass increased by 114.485% compared to the age of 1 month, while at the age of 2 months, the increase in biomass was 91.410% compared to the age of 1.5 months. The highest essential oil production was produced by leaf organs at 2 months of harvesting at 0.273g, and 0.023g in stem organs. The conclusion of this study showed that different harvest ages had a significant effect on the biomass and essential oil production of basil plants.
Kandungan Pigmen Fotosintetik dan Total Fenol Daun Mangrove Api-Api [Avicennia marina (Forsk.) Vierh] pada Tambak dan Pantai Mangunharjo Semarang Tia Bela Aprilliana; Munifatul Izzati; Sri Darmanti; Endah Dwi Hastuti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 6, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.6.2.2021.175-182

Abstract

Avicennia marina merupakan mangrove mayor yang mampu bertahan hidup di kondisi ekstrim seperti intensitas cahaya, suhu dan kadar garam tinggi. Kondisi ekstrim berpengaruh terhadap sintesis dan reduksi pigmen fotosintetik. Cekaman intensitas cahaya dan salinitas memicu A. marina membentuk fenol sebagai senyawa pertahanan pada kondisi kurang menguntungkan. A. marina pada kawasan Mangunharjo tumbuh baik pada lingkungan pantai dan tambak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh lingkungan pantai dan tambak terhadap kandungan pigmen fotosintetik dan total fenol daun A. marina. Penelitian dilakukan dengan metode observasi dengan melibatkan lokasi pantai dan tambak. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor organ daun A. marina yang hidup di lingkungan pantai dan tambak. Daerah pengamatan dibagi menjadi 6 titik pengambilan sampel. Parameter penelitian yang diamati adalah intensitas cahaya, suhu, salinitas, pigmen fotosintetik (klorofil a, klorofil b, karotenoid) dan total fenol daun A. marina. Analisis data menggunakan Uji T dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun A. marina di pantai memiliki kandungan pigmen fotosintetik dan total fenol lebih rendah dibanding tambak.  Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan pantai dan tambak berpengaruh nyata terhadap kandungan pigmen fotosintetik dan fenol. Intensitas cahaya dan salinitas tinggi di pantai mengganggu pembentukan klorofil dan Phenylalanine Ammonia Lyase(PAL). Avicennia marina is a major mangrove that is able to survive in extreme conditions such as light intensity, temperature and high salt content. Extreme conditions affect the synthesis and reduction of photosynthetic pigments. The stress of light intensity and salinity triggered A. marina to form phenol as a defense compound under unfavorable conditions. A. marina in the Mangunharjo area grows well in coastal and pond environments. The purpose of this study was to determine the effect of the coastal and pond environment on the content of photosynthetic pigments and total phenol in the leaves of A. marina. The study was conducted using the observation method involving the location of the beach and ponds. The study used a Completely Randomized Design (CRD) with one factor of A. marina leaf organ that lives in the coastal and pond environment. The observation area are divided into 6 sampling points. Parameters observed were light intensity, temperature, salinity, photosynthetic pigments (chlorophyll a, chlorophyll b, carotenoids) and total phenol of A. marina leaves. Data analysis used T test with 95% confidence level. The results showed that the leaves of A. marina on the beach had lower photosynthetic pigments and total phenol content than those in ponds. This shows that the coastal environment and ponds have a significant effect on the content of photosynthetic pigments and phenols. Light intensity and high salinity on the beach interfere with the formation of chlorophyll and Phenylalanine Ammonia Lyase (PAL).
Pengaruh Arah dan Tebal Irisan Rimpang Terhadap Rendemen Flavonoid, Berat Kering dan Performa Simplisia Umbi Garut (Maranta arundinacea L.) Setelah Pengeringan Devi Ermawati; Erma Prihastanti; Endah Dwi Hastuti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 6, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.6.2.2021.131-137

Abstract

Simplisia merupakan bahan alami sebagai bahan pembuatan obat yang belum mengalami pengolahan. Pengirisan merupakan salah satu tahap penting dalam pembuatan bahan simplisia untuk mempermudah dalam proses pengepakan, penyimpanan dan penggilingan. Pengirisan dapat dilakukan secara melintang atau membujur. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh arah dan tebal irisan rimpang terhadap rendemen flavonoid, berat kering dan performa simplisia umbi garut (Maranta arundinaceaL.) setelah pengeringan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium BSF Tumbuhan UNDIP. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2X2 dengan perlakuan kombinasi ketebalan (3 mm dan 5 mm) dan arah irisan (membujur dan melintang). Parameter penelitian meliputi berat kering dan performa simplisia yang meliputi warna, kekerasan, dan aroma pada simplisia kering. Analisis data menggunakan Anova dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan arah irisan berpengaruh terhadap berat kering simplisia, sedangkan interaksi antara tebal dan arah irisan tidak berpengaruh terhadap berat kering simplisia umbi garut. Arah irisan berpengaruh terhadap berat kering dan performa simplisia umbi garut, tebal irisan berpengaruh terhadap rendemen flavonoid. Crude simplisia is natural material for making medicine, which has not undergo processing, packing, drying and saving. Slicing is an important step in making medicine because in this process the loss of some parts could ease the process of packing and milling. Slicing could be done diagonally or longitudinally. A Different way of slicing could affect this simplisia. This study aimed to examine the influence of slicing direction, the thickness of slices, and its combination on the dry weight and the performance of arrowroot. This research was conducted in the Laboratory of BSF Tumbuhan UNIDIP. The design used was Completely Randomized Design with combination treatment of thickness (3mm and 5mm) and slice direction (diagonally and longitudinally). The parameter of this research used dry weight by weighing after the drying process and the performance (by measuring color, hardness, and the aroma of dried simplisia). The data analysis used Analysis of Variance. The findings showed that slice direction influenced the weight loss on simplisia, but the interaction did not influence on the dry weight of arrowroot simplisia. Slice direction affects dry weight and performance of arrowroot simplicia, slice thickness affects flavonoid yield. 
Peran Serbuk Kunyit dan Kurkumin Terhadap Diferensial Leukosit Tikus Putih (Rattus norvegicus) yang Diberi Pakan Hiperlipid Nuryanti Nuryanti; Teguh Suprihatin; Tyas Rini Saraswati
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 7, Nomor 1, Tahun 2022
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.7.1.2022.42-50

Abstract

Kunyit termasuk dalam suku zingiberaceae yang mempunyai banyak manfaat dalam kesehatan. Kunyit mengandung senyawa kurkumin yang berfungsi sebagai antioksidan dan anti-inflamasi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pemberian serbuk kunyit dan kurkumin terhadap diferensial leukosit tikus putih yang diberi pakan hiperlipid yang diamati melalui jumlah granulosit, jumlah limfosit, dan jumlah monosit. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), menggunakan 25 ekor Rattus norvegicus jantan berumur 21 hari yang dibagi dalam 5 kelompok perlakuan dengan 5 kali ulangan. Kelompok perlakuan meliputi: kontrol (C0), tikus diberi pakan hiperlipid (C1), tikus diberi pakan hiperlipid dan kurkumin 1,35 mg/200g BB/hari (C2), tikus diberi pakan hiperlipid dan serbuk kunyit 200 mg/200g BB/hari (C3), tikus diberi pakan hiperlipid dan simvastatin 0,18 mg/200g BB/hari (C4). Perlakuan diberikan selama 56 hari. Pengambilan sampel darah secara intrakardial, kemudian dilanjutkan dengan pengukuran jumlah granulosit, jumlah limfosit, dan jumlah monosit menggunakan hematology analyzer. Data penelitian dianalisis dengan uji Anova. Hasil menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna (p>0,05) pada jumlah monosit, namun terdapat perbedaan bermakna pada jumlah granulosit dan jumlah limfosit. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian kurkumin dan serbuk kunyit pada tikus yang diberi pakan hiperlipid tidak menyebabkan perubahan pada diferensial leukosit dan masih berada pada keadaan normal.Turmeric is included in the zingiberaceae family which has many benefits in health. Turmeric contains curcumin compounds as antioxidants and anti-inflamatory. The purpose of this study was to analyze the effect of giving turmeric powder and curcumin on differential leukocytes of white rats given hyperlipid feeds which were observed through the number of granulocytes, the number of lymphocytes, and the number of monocytes. This study was an experimental study with a completely randomized design (CRD), using 25 male Rattus norvegicus 21 days old, divided into 5 treatment groups with 5 replications. The treatment group included control (C0), rats fed hyperlipid (C1), rats given hyperlipid feed and curcumin 1,35 mg/200g wb/day (C2), rats given hyperlipid feed and turmeric powder 200 mg/200g wb/day (C3), rats given hyperlipid feed and simvastatin 0,18 mg/ 200g wb/day (C4). Intracardial blood sampling, then followed by measuring the number of segmented leukocyte, lymphocyte count, and monocyte count used hematology analyzer. The research data were analyzed using Anova test. The results showed that there was no significant difference (p> 0,05) in monocyte count, but there were significant differences in granulocyte count and lymphocyte count. The conclusion of this study is that presenting curcumin and turmeric powder to rats fed hyperlipid diet did not cause changes in the leukocyte differential and were still in normal conditions.
Histomorfometri Hepar Itik Peking (Anas platyrhynchos) setelah Penambahan Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) dalam Pakan yang Dikombinasikan dengan Paparan Cahaya Arif Nur Latifah; Kasiyati Kasiyati; Muhammad Anwar Djaelani
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 7, Nomor 1, Tahun 2022
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.7.1.2022.1-10

Abstract

Hepar merupakan salah satu organ vital pada metabolisme aves. Penelitian ini bertujuan menganalisis penambahan tepung daun kelor dalam pakan yang dikombinasikan dengan paparan cahaya terhadap histomorfometri hepar itik pekin. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 4×2. Faktor utama berupa konsentrasi tepung daun kelor (0, 2, 4, dan 6%) dan  warna lampu (putih dan hijau). Itik pekin yang digunakan berjumlah 48 ekor. Variabel pengukuran antara lain bobot hepar, bobot badan, indek hepatosomatik, dan diameter hepatosit. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Analysis of Variance (ANOVA) dua arah. Hasil menunjukkan bahwa paparan cahaya dengan kombinasi tepung daun kelor tidak berpengaruh signifikan (P>0,05) pada bobot hepar, bobot badan, dan indek hepatosomatik, namun berpengaruh signifikan (P<0,05) pada diameter hepatosit. Masing-masing faktor utama warna cahaya atau tepung daun kelor tidak berpengaruh signifikan pada semua variabel. Kesimpulan penelitian ini adalah penambahan tepung daun kelor dalam pakan yang dikombinasikan dengan paparan cahaya dapat meningkatkan ukuran diameter hepatosit dan memicu proliferasi sel–sel hepatosit. Proliferasi hepatosit mengarah pada regenerasi hepatosit terdapat pada kelompok 6% tepung daun kelor yang dikombinasikan dengan cahaya putih ataupun cahaya hijau. The liver is one of the vital organs in avian metabolism. This research aimed to analyzed the inclusion of Moringa leaf flour in feed with light exposure on the liver histomorphometry of Pekin ducks. This study used a completely Randomized Design in 2×4 arrangement, with main factors, the first factor was concentrations of Moringa flour and the second factor was color of light. Forty-eight Pekin ducks were used in this research. The variables measured in this research were liver weight, body weight, hepatosomatic index, and hepatocyte diameter. The data obtained were analyze using two-way Analysis of Variance. The light exposure with a combination of Moringa leaf flour had no significant effect on liver weight, body weight, and hepatosomatic index, but had a significant effect (P<0.05) on hepatocyte diameter. Meanwhile, the main factor, either light color or Moringa leaf flour had no significant effect on all variables. The conclusion of this study is Moringa leaf powder in the diet combined with light exposure could affect the histomorphometry of the liver which is characterized by an increase in hepatocyte cell diameter and the proliferation of hepatocyte cells. Liver cell proliferation leading to hepatocyte regeneration was found in the 6% group of Moringa leaf flour combined with white or green light.  
Kajian Struktur Histologi Hati, Insang dan Lambung Ikan Nila (Oreochromis niloticus) di Danau Batur, Bangli Ida Ayu Putu Sugiantari; A. A. S. A. Sukmaningsih; I Made Sara Wijana
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 7, Nomor 1, Tahun 2022
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.7.1.2022.51-59

Abstract

Danau Batur saat ini sudah mulai tercemar akibat tingginya beban pencemaran yang masuk ke perairan disebabkan oleh aktivitas masyarakat di sekitar danau. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kerusaka struktur histologi hati, insang, dan lambung, ikan nila serta mengetahui jenis logam berat yang terdapat di perairan Danau Batur. Penelitian ini menggunakan 5 titik lokasi pengambilan sampel ikan nila. Sampel dibuat sayatan histologi organ dengan metode embedding dan analisis logam berat dengan Atomic Absorption Spectrophotometer. Hasil skoring pada insang luar, diperoleh kejadian patologi berturut-turut hiperplasia, edema lamela sekunder, dan fusi lamela paling berat 25% pada 4 lokasi, 18,7% pada lokasi 5, dan 25,00% pada lokasi 2. Pada insang dalam menunjukkan berturut-turut hiperplasia, edema lamela sekunder dan fusi lamela paling berat dengan frekuensi masing-masing 25,00% pada 4 lokasi, 25,00% pada lokasi 5, dan 25,00% pada lokasi 4. Lambung ditemukan kerusakan berupasel kariolisis, infiltrasi sel radang, dan desquamasi epitel. Histologi hati menunjukkan adanya kariolisis, karioreksis, dan degenerasi melemak. Konsentrasi logam berat di organ hati terdeteksi Fe dengan konsentrasi paling besar 3,96 ppm pada lokasi 2 dan Cu dengan konsentrasi paling besar 0,7 ppm pada lokasi 5. Ditemukannya kerusakan organ serta adanya logam berat, menandakan bahwa perairan Danau Batur mengalami pencemaran oleh aktivitas manusia di sekitar danau. Lake Batur is currently starting to be polluted due to the high pollution load enters into waters which caused of the people activities around the lake. This study aims to observe the histological structure damage of the liver, gills, and stomach, on the tilapia fishes, as well as to determine heavy metal types found in the Batur Lake water. This study was carried out 5 points of Batur Lake. The fish samples were prepared histological section by using the embedding method. Heavy metals were determined by using the Atomic Absorption Spectrophotometer. The scoring on the external gills showed there were pathological occurrences of hyperplasia, secondary lamellae edema, and lamellae fusion with most severe frequency of 25% at 4 locations, 18.7% at location 5, and 20% at location 2 respectively. Internal gills showed hyperplasia, secondary lamellae edema and most severe lamella fusion with most severe frequency of 25% at 4 sites, 25% at location 5, 25% at location 4 respectively. The stomach damaged were karyolytic cells, inflammatory cell infiltration, and epithelial desquamation. Liver histology showed karyolysis, karyorrhexis, and fatty degeneration. The heavy metals Fe and Cu were detected in the liver with Fe with the highest concentration of 3.96 ppm (Fe) at location 2 and 0.7 ppm (Cu) at location 5. The discovery of organ damages and the presence of heavy metals on the tilapia fish body indicated that Batur Lake water has been polluted by human activity around the lake. 
Karakteristik Perkecambahan Biji Lamtoro [Leucaena leucocephala (Lam.)de Wit] pada Perlakuan Skarifikasi serta Perubahan Nilai Gizi Setelah Perkecambahan Yasmin Aulia Rachma; Retno Indrati; Supriyadi Supriyadi
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 7, Nomor 1, Tahun 2022
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.7.1.2022.11-19

Abstract

Lamtoro [Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit] merupakan komoditas pangan lokal Indonesia yang berpotensi sebagai pangan sumber protein, namun biji lamtoro tua kurang diminati. Proses pengolahan yang dapat diaplikasikan pada biji lamtoro tua adalah perkecambahan, yang kemudian hasilnya biasa diolah menjadi berbagai makanan khas Indonesia. Lamtoro tua memiliki kulit biji yang tebal dan keras, sehingga perlu proses skarifikasi untuk memudahkan perkecambahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik perkecambahan biji lamtoro pada perlakuan skarifikasi dengan variasi suhu dan durasi perendaman serta perubahan nilai gizi biji lamtoro setelah perkecambahan. Skarifikasi dilakukan dengan cara perendaman dalam air dengan suhu 50, 70, dan 90°C selama 5, 10, dan 15 menit kemudian dianalisis karakteristik perkecambahan berupa persen imbibisi, persen perkecambahan, dan kecepatan berkecambahnya. Kecambah dengan karakteristik perkecambahan terbaik dianalisis perubahan kandungan gizinya. Data diambil dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola imbibisi yang terjadi pada biji lamtoro bersifat trifase. Perlakuan skarifikasi dengan air pada suhu 70°C selama 15 menit menghasilkan persen imbibisi, persen perkecambahan, dan kecepatan berkecambah tertinggi, sehingga uji perubahan kandungan gizi dilakukan pada perkecambahan dengan skarifikasi pada suhu 70°C selama 15 menit. Setelah perkecambahan selama 72 jam terjadi peningkatan kadar air dan kadar protein, serta penurunan kadar lemak, abu, dan karbohidrat. Lamtoro [Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit] is a local Indonesian food commodity that can be a food source of protein, but old lamtoro seeds are less attractive. The processing process that can be applied to old lamtoro seeds is germination, which is then usually processed into various Indonesian specialities. Old lamtoro has a thick and hard seed coat, so it needs a scarification process to facilitate germination. The purpose of this study was to determine the germination characteristics of lamtoro seeds in scarification treatment with variations in temperature and soaking duration, as well as changes in the nutritional value of lamtoro seeds after germination. Scarification was carried out by immersion in water at a temperature of 50, 70, and 90°C for 5, 10, and 15 minutes and then analyzed for germination characteristics in the form of percent imbibition, germination percentage, and germination speed. Sprouts with the best germination characteristics were analyzed for changes in nutritional content. Data were taken using a completely randomized design (CRD) pattern at a 95% confidence level. The results showed that the imbibition pattern that occurred in lamtoro seeds was triphase. Scarification treatment with water at 70°C for 15 minutes resulted in the highest percent imbibition, germination percentage, and germination speed, so the test for changes in nutrient content was carried out on germination by scarification at a temperature of 70°C for 15 minutes. After germination for 72 hours, there was an increase in water content and protein content and a decrease in fat, ash, and carbohydrate content.