cover
Contact Name
Archana Universa
Contact Email
Archana Universa
Phone
-
Journal Mail Official
archanauniversa@an1mage.net
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
An1mage Jurnal Studi Kultural
Published by An1mage
ISSN : 24773492     EISSN : -     DOI : -
An1mage Jurnal Studi Kultural (AJSK ISSN: 2477-3492) menerima karya yang kritis, menguak mitos, membantu yang lemah dan terpinggirkan (termarginalkan) dalam melawan balik dari ketertindasan. Mayoritas belum tentu kuat, minoritas belum tentu lemah dan terpinggirkan. Mari membangun bangsa dengan pikiran kritis, pikiran kreatif, pikiran dengan analisis yang kuat dan membangun mental kita semua agar menjadi sepadan apa pun gendernya (gender equality). AJSK tidak hanya untuk sains sosial namun juga sains eksakta, sebab di sains eksakta juga muncul konstruksi mitos-mitos yang harus dibongkar (dekonstruksi) lebih kritis. Ilmu eksakta bukanlah dogma dan bukan pula agama, ilmu eksakta terus berkembang menuju penemuan-penemuan baru. Terobosan baru dalam teknik di bidang apa pun juga AJSK menerimanya.
Arjuna Subject : -
Articles 74 Documents
Pemarginalan Terstruktur: Implikasi Sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” dari Pancasila Terhadap Sila Lainnya Gumelar, Michael Sega
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 1 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1245.684 KB)

Abstract

Pemarginalan adalah pengucilan dalam segala bentuk yang merugikan kepada seseorang dan atau kepada suatu komunitas yang dilakukan oleh seseorang dan atau oleh komunitas lainnya dalam skala relatif besar dan atau kecil secara terstruktur ataupun tidak. Sedangkan Implikasi adalah konsekuensi logis yang dipastikan terjadi sebagai impak, akibat, dan memiliki efek samping berikutnya yang tidak dapat terelakkan dari suatu keputusan tertentu. Sila kesatu dari Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa” memiliki implikasi pemarginalan secara terstruktur terhadap sila lainnya, secara terstruktur karena ditempatkan sebagai dasar negara dengan urutan nomor satu, penempatan dalam urutan tersebut secara mental mempunyai kekuatan terkuat untuk menggerakkan pikiran dan aksi seseorang dan atau aksi suatu komunitas yang menerapkan sila tersebut. Penulis dalam studi ini memberikan bukti-bukti secara nyata sebagai hasil implikasi sila pertama dari Pancasila tersebut dalam kehidupan bernegara yang dilakukan oleh pemerintah dan rakyat di Indonesia dari waktu ke waktu serta usulan solusi dari penulis agar pemarginalan terstruktur tidak terjadi lagi di masa depan.  
Ketidaksetaraan Gender dalam Dalihan na Tolu Siregar, Mangihut
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 1 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.298 KB)

Abstract

Suku Batak dikenal sebagai masyarakat yang sangat taat pada adat istiadat. Orang Batak tidak merasa tersinggung apabila disebut orang yang kurang taat beragama, namun sangat marah apabila disebut orang yang tidak taat akan adat istiadatnya. Adat menjadi hal yang sangat pokok dalam kehidupan keseharian Orang Batak. Pelaksanaan adat istiadat diatur dalam sistem dalihan na tolu. Setiap individu Orang Batak akan masuk dalam sistem dalihan na tolu. Selain berfungsi dalam upacara adat, sistem dalihan na tolu juga mengatur hubungan pergaulan masyarakat sehari-hari. Praktik dalihan na tolu tidak mengenal kasta (golongan atas dan bawah) karena masing-masing hula-hula, dongan tubu dan boru akan dimiliki setiap Orang Batak secara bergantian. Dengan demikian kesetaraan kedudukan Orang Batak akan terlihat dalam sistem dalihan na tolu. Namun demikian ditinjau dari sudut gender, sistem dalihan na tolu mengalami ketidakadilan gender. Gender berbeda dengan seks. Seks merupakan biologis antara laki-laki dan perempuan dan bersifat alamiah. Gender bukan bersifat alamiah tetapi hasil pengaturan perilaku atau hasil konstruksi sosial. Perempuan dilihat dari kacamata gender sebagai mahluk yang lemah dan perlu mendapat perlindungan. Laki-laki dipandang sebagai mahluk yang kuat sehingga perlu melakukan perlindungan terhadap perempuan. Konstruksi ini dibentuk oleh ideologi patriarki. Para laki-laki Orang Batak sangat nyaman akan ideologi patriarki yang terdapat dalam dalihan na tolu sehingga mereka tetap melestarikannya.
Tatabahasa: Inkonsistensi Bahasa Indonesia Gumelar, Michael Sega
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 1 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.452 KB)

Abstract

Ada banyak kebingungan dalam tata bahasa di Bahasa Indonesia. Pertama acuan tatabahasa ini dulu disebut dengan nama EjaanYang Disempurnakan (EYD) kemudian pada tahun 2017 diperbarui dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang dirangkum dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Pemilihan kata ejaan pada panduan baku Ejaan Bahasa Indonesia dan tetap menggunakan kata Ejaan Bahasa Indonesia menjadi tidak mengena pada inti permasalahan yaitu tentang tatabahasa (grammar) Indonesia. Selain tidak tepat memberikan tatabahasa dengan istilah ejaan. Tatabahasa Indonesia juga memiliki banyak kekurangan secara logika dan struktur bila dibandingkan dengan Bahasa Inggris yang menjadi acuan bahasa internasional untuk keperluan memudahkan translasi dan interpretasi makna (interpreting). Terlebih lagi ada banyaknya istilah-istilah (idioms) yang memerlukan pemahaman khusus tentang budaya suatu negara dalam menginterpretasikan ke Bahasa Indonesia dan atau sebaliknya ke dalam Bahasa Inggris dan atau ke bahasa asing lainnya. Studi ini memberikan usulan perbaikan pada tatabahasa (grammar), logika, makna, dan penyebutan nama baku untuk “Tatabahasa Indonesia” menggantikan “Ejaan Bahasa Indonesia”.  
Shared Heritage; A Balinese Gift in A Dutch Museum Westerlaken, Rodney
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 1 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1387.485 KB)

Abstract

Indonesia and The Netherlands share heritage. Collections of Dutch museums consist of looted items, specifically the Lombok treasure and the collections gathered after the puputan Badung and Klungkung. Those collections are officially marked as war booty. Other parts of the collections are gifts towards the colonial ruler, a token of appreciation and respect. Dewa Gede Raka, the King of Gianyar, requested his Kingdom to become a protectorate of the Dutch. He was installed as stedehouder in 1900 and with that cooperated close with the Dutch. He gave a gift to the Governor General, Resident and Controleur of the Dutch Indies. Parts of this gift are nowadays in Museum Nasional, and parts are in Museum Volkenkunde. A perfect example of shared heritage. This article zooms in on the historical context of this collection (RV1436) in Museum Volkenkunde, Leiden, The Netherlands.
Kapitalisme: Pengaburan Batas Akhir Kontrak Jalan Toll di Jabodetabek Hana, Lidwina
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 1 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.663 KB)

Abstract

Kemajuan suatu negara kerap dikaitkan dengan pembangunan. Di Indonesia sendiri dikenal pembangunan nasional. Salah satunya melalui pembangunan infrastruktur jalan tol untuk mendukung gerak pertumbuhan ekonomi. Namun benarkah pembangunan jalan tol diperlukan untuk menunjang dan meningkatkan aktivitas ekonomi demi menggapai cita-cita Masyarakat Indonesia yang sejahtera atau malah memperdalam jurang kesenjangan antara si miskin dan kaya karena adanya kerjasama antara investor dan oknum pemerintahan yang korup untuk dapat lebih banyak meraup keuntungan? Penelitian ini mengkritisi pembangunan jalan tol di Indonesia yang memiliki masa konsesi lama dan sulit untuk menjadi jalan nontol yang gratis sehingga muncul pertanyaan benarkah pembangunan jalan tol demi kepentingan rakyat?  
Perkawinan Adat Dayak Ma'anyan sebagai Ujud Pendidikan Masyarakat Sintani, Sana
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 1 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.208 KB)

Abstract

Perkawinan merupakan hal yang kodrati baik dari aspek kebutuhan biologis maupun sosial. Dilihat dari kebutuhan biologis, perkawinan mengarah kepada upaya untuk meneruskan keturunan; sedangkan dari struktur sosial mengarah kepada kelembagaan tradisi atau adat yang ada di masyarakat.  Perkawinan di kalangan suku dan adat istiadat. Budaya prosesi perkawinan dipertahankan sebagai norma kebersamaan oleh masing-masing suku. Setiap pelaksanaan perkawinan adat, acara adat yang dilakukan yang dapat dilihat sebagai ujud pendidikan masyarakat. Adat merupakan bagian dai kebudayaan yang menentukan nilai-nilai mengenai manusia. Tradisi perkawinan di Suku Dayak Ma’anyan merupakan kebiasaan turun-temurun yang diwariskan sehingga melekat dalam Masyarakat Dayak Ma’anyan. Acara perkawinan adat tidak dipisahkan satu dengan lainnya karena adat melekat dan menyatu dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Tradisi perkawinan adat di Dayak Ma’anyan sudah ada sebelum kekristenan masuk ke area tempat tinggal mereka. Sejalan dengan perkawinan adat di Dayak Ma’anyan ada acara adat yang masih dilestarikan yaitu turus tajak yakni bagian dari rangkaian kegiatan acara perkawinan menurut adat di Dayak Ma’anyan. Turus tajak yaitu acara kumpul kerabat kedua belah pihak dari mempelai, para undangan memberikan bantuan berupa uang secara sukarela. Turus tajak selalu dilakukan dalam perkawinan adat di Dayak Ma’anyan, jika tidak dilakukan maka tidak lengkap.
Upside down Building: Suatu Karya Dekonstruksi Desain Arsitektur Yusa, I Made Marthana
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 1 No 2 (2016): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (966.656 KB)

Abstract

Pengoreksian International Style yang diprakarsai oleh Wolfgang Weingart (1960-an) disebabkan oleh prinsip desain modern dengan universalisme dan singularitas kebenarannya telah membatasi paradigma berpikir seorang desainer sehingga karya yang dihasilkan para desainer pada periode tersebut terlihat identik dan tipikal. Dekonstruksi hadir dengan latar-belakang posmodernisme yang berdasarkan pemikiran filsafat bahwa susunan pemikiran yang begitu terpadu, yang tersusun rapi, kini dipilah-pilah sampai ke dasar-dasarnya. Kehadiran dekonstruksi dilihat sebagai bagian dari posmodernisme yang secara epistemologi atau filsafat pengetahuan, harus menerima suatu kenyataan bahwa manusia tidak boleh terpaku pada suatu sistim pemikiran yang begitu ketat dan kaku. Dekonstruksi Derrida menawarkan perbedaan dan penangguhan kebenaran makna atau disebut différance. Menghasilkan karya desain yang aneh, ganjil, maupun modern yang keluar dari aturan baku hendaknya bukan tujuan utama bagi para desainer. Lebih dari itu, para desainer wajib untuk bisa melihat dan merasakan perubahan budaya sehingga karya yang dihasilkan bisa adaptif terhadap dialektika sosial yang terjadi. Tulisan ini membaca teks penerapan dekonstruksi pada karya Desain, pada bahasan khusus menghadirkan upside down building atau "gedung yang terbalik" (literraly) sebagai studi kasus.
Napak Tilas Marginalisasi Berbagai Etnis di Indonesia dalam Hubungannya dengan Bhinneka Tunggal Ika Gumelar, Michael Sega
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 1 No 2 (2016): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2027.9 KB)

Abstract

Marginalisasi salah satu Etnis Indonesia yang telah terjadi tidak hanya sekali, tetapi sering terjadi, sala h satunya muncul dan menguat sampai terjadinya perkosaan massal dikerusuhan Mei 1998. Studi ini menitikberatkan pada upaya eliminasi marginalisasi etnis dan bagaimana cara memahaminya, dan tidak membahas secara khusus apa penyebab terjadinya beberapa kerusuhan pada beberapa etnis tersebut di masa lalu, namun studi berupa napak tilas melihat pada fakta sejarah secara umum pendekatan studi kultural ini diharapkan dapat memberi impak, dampak, dan efek samping agar meminimalkan bahkan mengeliminasi terjadinya marginalisasi etnis tersebut serta menegaskan untuk mencari solusi sebagai awal untuk memulai diskusi agar tidak terulang lagi di masa depan dengan pemahaman  “Bhinneka Tunggal Ika”.
Teori “Gado-gado” Pierre-Felix Bourdieu Siregar, Mangihut
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 1 No 2 (2016): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.252 KB)

Abstract

Bourdieu merupakan salah satu tokoh yang masuk ke dalam postmodernism. Pemikirannya dilatarbelakangi pertentangan yang tajam antara dua kubu yang berseteru yaitu strukturalisme dan eksistensialisme. Bertitik tolak dari pemikiran kedua aliran ini, Bourdieu membuat teori campuran atau teori “gado-gado” yaitu struktural konstruktif atau sering juga disebut teori praktik sosial. Konsep penting dalam teori praktik Bourdieu yaitu, habitus, arena/ranah/medan (field), kekerasan simbolik (symbolic violence), modal (capital), dan strategi (strategy). Teori “gado-gado” Bourdieu mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam ilmu-ilmu sosial umumnya terlebih dalam Ilmu Kajian Budaya. Menurut Bourdieu, subjek atau agen bertindak dalam kehidupannya sehari-hari dipengaruhi oleh struktur atau aturan yang ada dalam masyarakat. Namun agen dalam tindakannya bukan seperti boneka yang bergerak sesuai dengan aturan yang menggerakkan. Sebaliknya, agen dalam tindakannya bukan bertindak sesuka hatinya tanpa diatur oleh rambu-rambu dalam hal ini aturan atau budaya. Agen dalam tindakannya sangat dipengaruhi oleh aturan yang berlaku dalam masyarakat. Individu sebagai agen dipengaruhi oleh habitus, di sisi yang lain individu adalah agen yang aktif untuk membentuk habitus. Agen dibentuk dan membentuk habitus melalui modal yang dipertaruhkan di dalam ranah. Praktik merupakan suatu produk dari relasi antara habitus dan ranah dengan melibatkan modal di dalamnya.
The Use of Green Turtles in Bali, When Conservation Meets Culture Westerlaken, Rodney
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 1 No 2 (2016): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1335.507 KB)

Abstract

The use of green turtles in ceremonies, as delicacy or for the use of the shell has been a vast problem in history and recent years on Bali. The number of turtles living in the waters surrounding Bali is decreasing and the illegal trade is vivid.   Several projects are fighting for conservation of turtles and the Parisada Hindu Dharma Indonesia (the highest Hindu council) issued a decree against the use of turtles in ceremonies, but illegal trade remains. On April 7, 2016 40 green seaturtles (Chelonia mydas) were captured by KAPOLDA (kepolisian daerah, regional police). They were on a ship for 7 days without any water, there flippers tied together prohibiting them to move. On April 14, 2016 31 turtles were released on Kuta beach after given medical care. Four turtles died, three are currently still under medical care and three are kept as evidence. The green turtle is listed as an endangered species on the IUCN red list [1] and should be protected. Conservation and culture meet eachother at the struggle for the green turtle.