cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 775 Documents
PROFIL PROTEIN VAKSIN Aeromonas hydrophila DAN Streptococcus agalactiae HASIL INAKTIVASI DENGAN FORMALIN: DIUJI MENGGUNAKAN Sodium Dodecyl Sulphate-Polyacrylamide Gel Electrophoresis Desy Sugiani; Angela Mariana Lusiastuti; Sukenda Sukenda; Enang Harris
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.177 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.3.2014.449-461

Abstract

Vaksin bakterin dalam bentuk protein merupakan salah satu tipe vaksin yang telah banyak dikembangkan. Protein digunakan sebagai vaksin biasanya dibuat dengan teknik inaktivasi formalin-killed. Vaksin ini biasanya lebih mudah dibuat, lebih murah, lebih stabil, dan mampu disimpan dalam waktu lama. Akan tetapi masih sedikit informasi mengenai efek perlakuan tersebut terhadap profil protein. Pada penelitian ini, untuk mengevaluasi profil protein, dilakukan inaktivasi sediaan vaksin dari isolat bakteri Aeromonas hydrophila AHL0905-2 dan Streptococcus agalactiae N14G dengan menambahkan 0,5% formalin dan 3% neutral buffer formalin (NBF) ke dalam biakan plasebo bakterin dan diinkubasi selama 24 jam. Kualitas produk vaksin ditentukan berdasarkan uji karakterisasi protein menggunakan metode Bradford dan SDS-PAGE. Hasil uji menunjukkan bahwa sediaan vaksin A. hydrophila dan S. agalactiae yang diinaktivasi dengan 3% NBF memiliki profil protein lebih variatif dibandingkan dengan sediaan vaksin yang diinaktivasi dengan 0,5% formalin. Akan tetapi, inaktivasi vaksin A. hydrophila dan S. agalactiae dengan 3% NBF menghasilkan berat total protein yang lebih rendah jika dibandingkan dengan dengan sediaan vaksin yang diinaktivasi dengan 0,5% formalin.
PEMISAHAN BAHAN AKTIF IMUNOSTIMULAN DARI DINDING SEL BAKTERIVibrio harveyiiDAN UJI EFEKTIVITASNYA PADA BENIH IKAN KERAPU BEBEK,Cromileptes altivelis Fris Johnny; Zafran Zafran; Des Roza
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.447 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.1.2008.19-26

Abstract

Suatu percobaan untuk memisahkan bahan aktif imunostimulan dari dinding sel bakteri Vibrio harveyii dan uji efektivitasnya dalam upaya meningkatkan imunitas benih ikan kerapu bebek, Cromileptes altivelis telah dilakukan di Laboratorium Patologi Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol-Bali. Dari dinding sel bakteri Vibrio harveyii telah berhasil dipisahkan dan dikoleksi lipopolisakarida (LPS) setengah murni dan murni. Koleksi LPS selanjutnya dilakukan untuk uji efektivitas pada benih ikan kerapu bebek dengan ukuran panjang total 6—8 cm. Benih ikan kerapu bebek sebanyak 360 ekor dipelihara dalam bak polikarbonat volume 100 L sebanyak 12 bak dengan kepadatan 30 ekor/bak, diinjeksikan secara intra peritoneal imunostimulan hasil pemisahan dengan  dosis sebesar 0,1 mL bakterin/ekor (A); dosis 0,1 mL LPS setengah murni/ekor (B); dosis 0,1 mL LPS murni /ekor (C); dan tanpa perlakuan imunostimulan sebagai kontrol (D). Imunostimulan diberikan setiap 5 hari, dan pada hari ke-10, 20, dan 30 dilakukan koleksi darah untuk pengamatan aktivitas fagositik (PA) dan aktivitas lisozim (LA) dari masing-masing perlakuan. Pada hari ke-30 dilakukan uji tantang dengan menggunakan inokulum VNN. Percobaan dirancang dengan rancangan acak lengkap (RAL) menggunakan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PA, LA, dan sintasan ikan yang diberi perlakuan imunostimulan lebih tinggi dibanding kontrol. Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa imunostimulan yang berasal dari dinding sel bakteri Vibrio harveyii efektif meningkatkan imunitas non-spesifik benih ikan kerapu bebek.A serial of experiments to extract immunostimulant from cell walls of Vibrio harveyii and its effectiveness to stimulate non-specific immunity of juvenile humback grouper Cromileptes altivelis have been conducted in pathology Laboratory of Research Institute for Mariculture, Gondol-Bali. Lipopolysaccaride (LPS) both in pure and crude forms were collected. Formalin-killed Vibrio harveyii (bacterin) was also prepared as an immunostimulant. Thirty juvenile humback groupers 6—8 cm (total length) were intraperitoneally-injected with 0.1 mL/pc of bacterin (treatment A), 0.1 mL crude LPS/pc (treatment B), 0.1 mL pure LPS/pc (treatment C), and without immunostimulant as a control (D). The fish were then reared in 100 L circular polycarbonate tank equipped with aeration system. The immunostimulant were administered every five days, the experiment was arranged in completely randomized design with three replicates. The blood of fish from each group were collected on day 10, 20, and 30 to measure non-specific immune parameters, including phagocytic activity (PA) and lyozyme activity (LA). Result showed that both PA, LA, and survival rate of fish treated with immunostimulants were higher than that of control. It is suggested that bacterin and LPS are potential materials to use as immunostimulants.
KARAKTERISASI MERISTIK DAN MORFOMETRIK TIGA GENERASI IKAN TENGADAK Barbonymus schwanenfeldii ASAL KALIMANTAN BARAT, INDONESIA Deni Radona; Irin Iriana Kusmini; Muhammad Hunaina Fariduddin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.634 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.1.2017.1-8

Abstract

Dalam mendukung program domestikasi ikan tengadak asal Kalimantan Barat perlu dilakukan karakterisasi fenotipe untuk mengevaluasi perubahan tingkat keragaman dari tiga generasi ikan tengadak dan antisipasi keberhasilan domestikasi yang dilakukan. Analisis keragaman fenotipe dilakukan secara biometri berdasarkan meristik dan morfometrik terhadap 30 ekor sampel dari masing-masing generasi. Hasil karakterisasi menunjukkan pada tiga generasi ikan tengadak terdapat kesamaan ciri-ciri meristik. Hasil truss morfometrik berdasarkan analisis fungsi kanonikal terhadap 21 karakter, generasi yang berbeda tersebar pada kuadran yang berbeda, G-0 berada di bagian bawah diagram kanonikal (kuadran 3 dan 4), G-1 berada di bagian kiri diagram (kuadran 1 dan 4), sedangkan G-2 sebagian besar di bagian atas diagram (kuadran 1, 2, dan 3). Berdasarkan truss morfometrik, kesamaan karakter terdapat pada garis yang menghubungkan ujung mulut dan ujung operculum bawah (A-1), garis yang menghubungkan awal sirip dorsal dan awal sirip anal (B6), garis yang menghubungkan awal sirip dorsal dan akhir sirip anal (C3), garis yang menghubungkan awal sirip anal dan akhir sirip anal (C5), garis yang menghubungkan akhir sirip dorsal dan akhir sirip anal (C6), garis yang menghubungkan akhir sirip dorsal dan awal sirip ekor atas (D1), garis yang menghubungkan akhir sirip dorsal dan akhir sirip ekor bawah (D3), dan garis yang menghubungkan akhir sirip anal dan awal sirip ekor bawah (D5). Analisis indeks keseragaman intrapopulasi (sharing component) menunjukkan keseragaman genetik tertinggi terdapat pada ikan tengadak generasi pertama (G-1) dan kedua (G-2) sebesar 76,7%; dan indeks keseragaman interpopulasi sebesar 3,3%-30% antara populasi ikan tengadak G-0 dan G-2. Ketersediaan jumlah induk yang dipijahkan dapat memengaruhi indeks keseragaman populasi.To support the domestication programs of tinfoil barb from West Kalimantan, it is important to undertake phenotypic charaterization in order to evaluate the changes in diversity of three generations of tinfoil barb and to anticipate the successfull domestication programs performed. Phenotype diversity was analyzed biometrically based on meristic and morphometric on 30 samples from each generation. The results showed that the three generations of tinfoil barbs have similar characteristic of meristic. The results of the canonical function of truss morphometric analysis on 21 characteristics showed the measurement distribution of three generation are in different quadrants. G-0 were located at the bottom of the diagram canonical (quadrant 3 and 4), G-1 was in the left side of the diagram (quadran 1 and 4), while G-2 mostly at the top of the diagram (quadran 1, 2, and 3). Based on truss morphometric, the similarity characters were in the line connecting the end of mouth and the lower end of operculum (A1), the line connecting the beginning of dorsal fin and beginning of anal fin (B6), the line connecting the beginning of dorsal fin and end of anal fin (C3), the line connecting the beginning of anal fin and end of anal fin (C5), the line connecting the end of dorsal fin and end of anal fin (C6), the line connecting the end of dorsal fin and beginning of upper part of caudal fin (D1), the line connecting the end of dorsal fin and beginning of lower part of caudal fin (D3), and the line connecting the end of anal fin and beginning of lower part of caudal fin (D5). The analysis of intrapopulation similarity index showed the highest index of genetic similarity was in G-1 and G-2 (76.7%) while, interpopulation similarity index of 3.3%-30.0%, was found G-0 and G-2 of tinfoil barb. The availability of broodstock can influence population similarity index.
PENURUNAN KERAGAMAN GENETIK PADA F-4 IKAN NILA MERAH “CANGKRINGAN” HASIL PEMULIAAN DIDETEKSI DENGAN MARKER GENETIK Estu Nugroho; Rustadi Rustadi; Dwijo Priyanto; Hery Sulistyo; Susila Susila; Sunaryo Sunaryo; Bagus Wasito
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 1 (2014): (April 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.077 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.1.2014.25-30

Abstract

Variasi genetik ikan nila merah “Cangkringan” hasil pemuliaan dimonitor denganmenggunakan marker d-Loop DNA untuk mengetahui pembawa keragaman genetik yang dihasilkan karena kegiatan seleksi. DNA diekstraksi dari sirip ikan nila generasi 1 (F-0) hingga generasi ke-5 (F-4) dan diamplifikasi daerah d-Loop pada mitokondria menggunakan primer LH 1509 dan FH 1202. Secara statistik tidak terdapat perbedaan genotipe yang nyata antara ke-5 generasi ikan nila yang diuji. Terdapat penurunan variasi genetik dan kehilangan haplotipe sebesar 25% dari generasi pertama ke generasi 5 akibat seleksi berdasarkan komposite haplotipe dengan empat enzim restriksi Mbo-I, Hae-III, Rsa-I, dan Alu-I.
PENGEMBANGAN METODE ELISA DAN TEKNIK DETEKSI CEPAT DENGAN IMUNOSTIK TERHADAP ANTIBODI ANTI Aeromonas hydrophila PADA IKAN MAS (Cyprinid carpio) Tatik Mufidah; Heri Wibowo; Didik T. Subekti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.457 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.4.2015.553-565

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode ELISA untuk deteksi antibodi anti Aeromonas hydrophila dan membuat alat deteksi cepat terhadap antibodi anti A. hydrophila dengan menggunakan imunostik. Sebanyak enam ekor ikan mas digunakan sebagai hewan uji untuk memproduksi serum seronegatif (baseline) dan seropositif. Hewan uji tersebut divaksinasi dengan antigen A. hydrophila dan dikoleksi serumnya tiap minggu. Optimasi metode ELISA dilakukan hingga mendapatkan rasio serum seronegatif dan seropositif yang terbaik. Hasil optimasi metode ELISA kemudian digunakan untuk merakit imunostik dan kemudian mengaplikasikannya pada serum ikan mas. Hasil uji optimasi metode ELISA didapatkan hasil bahwa metode ELISA yang dikembangkan dapat mendeteksi antibodi anti A. hydrophila pada semua serum positif dan menyatakan negatif pada serum seronegatif. Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh uji imunostik yang telah dirakit.
DIAGNOSA KOI HERPES VIRUS (KHV) DENGAN TEKNIK POLYMERASE CHAIN REACTION PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio) DENGAN NESTED TIMIDINE KINASE Hessy Novita; Isti Koesharyani
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.876 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.2.2009.233-240

Abstract

Kematian massal yang terjadi pada ikan mas dan koi telah dikonfirmasi disebabkan oleh serangan virus. Hasil analisis morfologi menunjukkan virus ini termasuk ke dalam kelompok Herpesviridae sehingga disebut Koi herpes virus (KHV). Deteksi KHV dengan teknik PCR sampai saat ini masih belum ada standarisasi, telah banyak protokol PCR yang dikembangkan dalam mendeteksi KHV. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi KHV dengan menggunakan metode nested PCR Timidine Kinase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan nested PCR 10 kali lebih sensitif dari metode improve Gray Sph dan 100 kali lebih sensitif dari metode Gilad et al. Dengan nested Timidine Kinase dapat dikembangkan dalam peningkatan deteksi awal pada diagnosa KHV.Some cases of mass mortality of common carp have been confirmed to be caused by virus infection. Morphological analysis revealed that this virus belongs to Herpesviridae and thus named as Koi Hervesvirus (KHV). KHV detection by PCR technique has not been standardized yet. However, some PCR have been developed for detection of KHV. The aim of this research was to study the sensitiveness of nested PCR Timidine Kinase for KHV detection. The result of the research showed that nested PCR was 10 times more sensitive than improved Gray Sph method and 100 times more sensitive than Gilad method. Nested Timidine Kinase method can be developed for the improvement of KHV early detection.
FRONT MATTER-BACK MATTER Suyatno Suyatno
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.693 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.2.2010.i-v

Abstract

KONDISI METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN PERIKANAN DI KAWASAN WADUK CIRATA, JAWA BARAT: Analisis Awal Kemungkinan Dampak Pemanasan Global terhadap Perikanan Budidaya I Nyoman Radiarta; Anang Hari Kristanto; Adang Saputra
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1485.685 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.3.2011.495-506

Abstract

Pemanasan global adalah perubahan iklim yang dapat teridentifikasi melalui perubahan rata-rata yang terjadi pada jangka waktu yang relatif panjang. Perubahan ini disebabkan baik karena variasi kondisi alam maupun akibat dari aktivitas manusia (antropogenic). Pemanasan global diproyeksikan akan berpengaruh terhadap kondisi ekosistem, kondisi sosial dan ekonomi, dan meningkatnya tekanan terhadap sumber mata pencaharian yang berimplikasi pada penyediaan pangan. Bagi perikanan budidaya, pemanasan global dapat berpengaruh pada perubahan tingkat produktivitas, distribusi, komposisi spesies, dan lingkungan perairan sehingga dapat menyebabkan perubahan dalam operasional perikanan budidaya. Berdasarkan perkembangan isu tentang pemanasan global ini, penelitian dampak pemanasan global terhadap perikanan budidaya dirasakan sangat penting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat kemungkinan adanya dampak pemanasan global terhadap aktivitas perikanan budidaya (ikan air tawar) di kawasan Waduk Cirata, Jawa Barat. Data utama yang dikumpulkan dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai sumber meliputi data klimatologi, meteorologi, tutupan lahan dan karakteristik waduk. Analisis data yang ditampilkan dalam tulisan ini masih merupakan analisis awal yang lebih banyak diuraikan secara deskriptif melalui tampilan grafik. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran umum mengenai kemungkinan adanya dampak pemanasan global bagi perikanan budidaya air tawar khususnya di Waduk Cirata, sehingga nantinya dapat membantu dalam pengelolaan waduk yang lebih baik.
PEMAPARAN INSEKTISIDA ENDOSULFAN PADA KONSENTRASI SUBLETAL TERHADAP KONDISI HEMATOLOGIS DAN HISTOLOGIS IKAN MAS (Cyprinus carpio) Imam Taufik; Eri Setiadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.392 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.109-115

Abstract

Endosulfan merupakan insektisida golongan organoklorin non-sistemik yang banyak digunakan di bidang pertanian, khususnya di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. Insektisida ini bersifat sangat toksik terhadap organisme akuatik termasuk ikan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kondisi hematologis dan histologis insang dan hati ikan mas (Cyprinus carpio) yang terpapar insektisida endosulfan. Sebagai perlakuan digunakan konsentrasi subletal endosulfan, yaitu: A) 0,00 μg/L; B) 0,24 μg/L; C) 0,73 μg/L; dan D) 1,21 μg/L. Hewan uji adalah ikan mas dengan bobot rata-rata 0,81±0,098 g/ekor. Wadah uji berupa akuarium kaca 70 cm x 50 cm x 60 cm berisi 150 liter air. Waktu pemaparan selama 12 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa endosulfan berpengaruh nyata terhadap kondisi hematologis seperti hematokrit, hemoglobin, eritrosit, dan leukosit pada setiap perlakuan (P<0,05). Hematokrit dan hemoglobin semakin meningkat sejalan dengan peningkatan konsentrasi endosulfan, sedangkan eritrosit dan leukosit mengalami penurunan. Hasil histologi insang menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi endosulfanmaka kerusakan insang semakin meningkat, seperti hiperflasia lamella epithelium, degenerasi sel epithelium, pendarahan, vakuolasi, nekrosis, dan ploriferasi sel tulang rawan. Kerusakan pada hati yang dijumpai, yaitu dilatasi sinusoid, vakuolasi, degenerasi hepatosit, piknosis, ploriferasi hepatosit, dan nekrosis. Kerusakan jaringan hati semakin meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi endosulfan dalam air. Berdasarkan hasil penelitian sekarang insektisida endosulfan menyebabkan kerusakan jaringan organ filamen insang dan hati, serta ikan menjadi tidak sehat dengan aktivitas berenang menjadi abnormal dan kehilangan keseimbangan.
KESESUAIAN LAHAN UNTUK BUDIDAYA UDANG WINDU (Penaeus monodon) DI TAMBAK KABUPATEN BREBES, JAWA TENGAH Rezki Antoni Suhaimi; Hasnawi Hasnawi; Erna Ratnawati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1293.432 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.3.2013.465-477

Abstract

Wilayah Kabupaten Brebes terletak di bagian paling Barat dari Provinsi Jawa Tengah dengan batas sebelah Utara Laut Jawa, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Tegal dan Kota Tegal, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Banyumas dan sebelah Barat dengan Wilayah Cirebon. Evaluasi kesesuaian lahan sangat penting dilakukan karena lahan memiliki sifat fisik, sosial, ekonomi, dan geografi yang bervariasi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik lahan sebagai upaya untuk menentukan kesesuaian dan pengelolaan lahan untuk budidaya udang windu di tambak Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah. Faktor yang dipertimbangkan dalam mengetahui karakteristik lahan adalah: topografi dan elevasi, tanah, hidrologi, dan iklim. Analisis spasial dalam sistem informasi geografis (SIG) digunakan untuk menentukan kesesuaian lahan budidaya udang. Hasil evaluasi kesesuaian lahan yang dilakukan di dalam penelitian ini merupakan kesesuaian aktual atau kesesuaian lahan pada saat dilaksanakan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari hasil analisis kesesuaian lahan tambak di Kabupaten Brebes, didapat nilai kesesuaian untuk budidaya udang windu, sangat sesuai (S1) seluas 134,7 ha; cukup sesuai (S2) seluas 4.290,05 ha; sesuai bersyarat (S3) seluas 6.414,73 ha; dan tidak sesuai (N) seluas 469,34 ha.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 4 (2025): Desember (2025) Vol 20, No 3 (2025): September (2025) Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue