cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 775 Documents
PENINGKATAN KEKEBALAN SPESIFIK ANTI STREPTOCOCCUS PADA BUDI DAYA IKAN NILA Hambali Supriyadi; Desy Sugiani; Uni Purwaningsih
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 1 (2007): (April 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.923 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.1.2007.87-92

Abstract

Uji lapang vaksin Streptococcus telah dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas vaksin dan respon kebal pada ikan nila (Oreochromis niloticus) terhadap rangsangan yang diberikan. Penelitian dilakukan pada keramba jaring apung (KJA). Vaksin yang digunakan adalah vaksin S1N8 dan GM2.4 berupa vaksin yang diinaktivasi dengan formalin 0,3%. Aplikasi vaksin dilakukan secara bertahap yaitu vaksin awal (priming) diberikan melalui rendaman, sedangkan vaksin ulang diberikan melalui suntikan. Dosis vaksin awal yaitu 10 mL vaksin/100 L air untuk 1.000 ekor ikan direndam selama 15 menit, sedangkan booster diberikan melalui suntikan 0,2 mL/ ekor ikan. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi pemberian vaksin priming melalui rendaman dan booster dengan suntikan untuk vaksin S1N8 menghasilkan sintasan paling tinggi (70,3%—72,5%), apabila dibandingkan dengan vaksin GM2.4 (59,3%— 62,5%) dan kontrol (35,5%—42,0%).Field study of vaccines S1N8 and GM2.4 with the aims to evaluate the effectiveness of vaccine and the immune response of nile tilapia ( Oreochromis niloticus ) against the vaccines. The research have been conducted in floating net cage. Vaccine tested were produced from Streptococcus iniae isolates S1N8 and GM2.4 which was prepared by formalin killed of 0.3%(v/v). Vaccine delivery were given in two steps i.e. priming with immersion, and booster through injection. The dose of vaccine for priming was 10 mL of vaccine/100 L water immersed for 1,000 fish for 15 minutes. Booster were delivered by injection as much as 0.2 mL/fish. The results indicated that combination of vaccine delivering of immersion (priming) and injection (booster) especially for S1N8 vaccine were the highest percent of survival rate (70.3%—72.5%) as compared with GM2.4 vaccine (59.3%—62.5%) and control (35.5%—42.0%).
PENGARUH SUPLEMENTASI ASKORBIL FOSFAT MAGNESIUM SEBAGAI SUMBER VITAMIN C DALAM PAKAN TERHADAP REPRODUKSI INDUK IKAN GURAME, (Osphronemus gouramy Lac) Lies Setijaningsih; Zafril Imran Azwar; Estu Nugroho; Muhammad Sulhi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (754.131 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.3.2006.437-445

Abstract

Penelitan yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi askorbil fosfat magnesium sebagai sumber vitamin c terhadap reproduksi induk ikan gurame
KORELASI PADAT TEBAR DAN DEBIT AIR DALAM TEKNIK PENDEDERAN BENIH UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) SECARA INTENSIF Wartono Hadie; Lies Emmawati Hadie
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.212 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.323-328

Abstract

Riset ini dilaksanakan untuk mengetahui korelasi antara padat tebar dan debit air dalam teknik pendederan udang galah. Riset dilakukan dengan menggunakan bak ukuran 4 m x 2 m x 0,75 m yang mempunyai sistem air mengalir. Perlakuan yang diaplikasikan adalah padat tebar dalam tiga tingkatan yaitu 250, 500, dan 750 ekor/m2 yang dikombinasikan dengan tiga tingkat debit air yaitu 0,010; 0,020; dan 0,030 liter/detik/m2. Setiap perlakuan dilakukan dengan 3 ulangan. Udang galah dalam penelitian ini adalah PL-44 dengan ukuran 0,04 g. Pendederan udang galah dilaksanakan selama 40 hari. Hasil riset menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara variabel padat tebar dan debit air. Variabel debit air memberikan kontribusi sebesar 57% dan variabel padat tebar mempunyai kontribusi 18% dalam mendukung sintasan benih udang galah. Hasil terbaik dicapai oleh perlakuan padat tebar 500 ekor/m2 dan debit air 0,030 liter/detik/m2 dengan laju pertumbuhan harian udang mencapai rata-rata 2,84% dan sintasan sebesar 89,6% selama 40 hari masa pemeliharaan.The research aim was to evaluate the correlation between fry density and water flow rate in the nursery of giant prawn. The experiment was conducted in concrete tanks. The treatment consisted of three levels, 250, 500, and 750 fry/m2 and combination of three levels of water flow, i.e. 0.010, 0.020, and 0.030 litre/second/m2. Three replications were used in each treatments. The prawn fry were PL-14 with 0.04 g of average weight. The research was conducted for 40 days of post-larvae rearing. Result of this experiment showed that there was interaction between density and water flow. The data analysis indicated that there were 57% contribution of water flow and 18% of fry density to survival rate of giant prawn. The best result was showed by the density of 500 fry/m2 and water flow of 0.030 litre/second/m2. The specimen have specific growth rate of 2.84% and survival rate of 89.6% for 40 days of rearing.
KERAGAAN PERTUMBUHAN DAN REPRODUKSI ABALON Haliotis squamata Reeve (1846) TURUNAN KETIGA Gusti Ngurah Permana; Fitriyah Khusnul Khotimah; Bambang Susanto; Ibnu Rusdi; Haryanti Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 3 (2017): (September 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.433 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.3.2017.197-202

Abstract

Pengamatan pertumbuhan dan reproduksi abalon Haliotis squamata dilakukan di hatcheri Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP) Gondol, Bali. Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh informasi tentang keragaan pertumbuhan dan performansi reproduksi abalon turunan ketiga. Induk H. squamata turunan kedua hasil seleksi yang digunakan untuk menghasilkan benih turunan ketiga mempunyai ukuran panjang cangkang 6,5-7,0 cm. Benih dipelihara dalam bak beton berukuran 2,5 m x 1,2 m x 1,0 m yang diberikan feeding plate sebagai substrat penempelan dan dilengkapi dengan sistem aerasi dan sistem air mengalir. Pakan yang diberikan pada awal pemeliharaan adalah diatom jenis Nitzschia sp. dan Melosira sp. yang telah ditumbuhkan terlebih dahulu pada feeding plate sebelum penebaran benih. Benih F-3 dipelihara sampai menjadi calon induk untuk diamati perkembangan reproduksinya. Pengambilan sampel pertumbuhan dilakukan setiap 10 hari. Pengamatan reproduksi dilakukan pada saat abalon mulai tumbuh gonad sampai matang gonad stadia-III. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan abalon sangat dipengaruhi ketersediaan pakan pada plate terutama pada hari ke-50. Proporsi jantan-betina abalon F-3 (3,3:1) meningkat dibandingkan dengan F-0 dari alam (2,5:1) menunjukkan ketidakseimbangan jumlah individu yang dapat disebabkan oleh tekanan seleksi. Abalon turunan ketiga pada umur 16 bulan mulai matang gonad dan dapat digunakan sebagai induk untuk pemijahan.Observation on the growth and reproduction development of Haliotis squamata had been undertaken in the hatchery of the Institute for Mariculture Research and Development (IMRAD) Gondol, Bali. The research was aimed to study of the growth and reproduction performance of filial-3 abalone in supporting seed production in hatchery. Larvae were obtained from natural spawning of filial-2 abalone broodstock with the length shell of 6.5-7.0 cm in the hatchery. Larvae were reared in 2.5 m x 1.2 m x 1.0 m concrete tank with aeration and water circulation system. Larval samples were taken every 10 days. Larvae were fed with diatom Nitzschia sp. and Melosira sp. Diatom were grown in the feeding plate before the stocking of abalone larvae. Gonadal development of F-3 abalone was observed from the beginning of the study until the mature gonad of stage-III. The result showed that the abalone growth was greatly influenced by the availability of feed in the plate especially at day 50. Abalone F-3 of sixteen months old reached maturity stage earlier compared to the control. The proportion of male-female of F-3 generation (3.3:1) was higher compared to F-0 (2.5:1), indicated the imbalance in the number of individuals that could be caused by selection pressures. These results suggest that sixteen months old abalones could be used as broodstocks for seed production in hatchery.
PERFORMANSI PERTUMBUHAN IKAN BANDENG DENGAN PEMBERIAN PAKAN TEPUNG BIOFLOK YANG DISUPLEMENTASI ASAM AMINO ESENSIAL Usman Usman; Enang Harris; Dedi Jusadi; Eddy Supriyono; Munti Yuhana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.513 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.2.2014.271-282

Abstract

Bioflok merupakan campuran heterogen dari mikroba, partikel, koloid, polimer organik, kation yang saling berintegrasi dan memiliki kandungan nutrisi yang dapat dimanfaatkan oleh ikan bagi pertumbuhannya. Namun beberapa kandungan asam amino esensial (AAE) tepung bioflok seperti histidine, lysine, dan methionine masih defisiensi untuk ikan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan tepung bioflok yang disuplementasi beberapa asam amino esensial sebagai pakan ikan bandeng. Ikan uji yang digunakan adalah yuwana bandeng berukuran rata-rata 18,4 g yang dipelihara dalam bak serat kaca bervolume 250 L dengan kepadatan awal 15 ekor/bak, selama 60 hari. Perlakuan yang dicobakan adalah jenis pakan berupa: (A) tepung bioflok + asam amino esensial (histidine, lysine, dan methionine), (B) tepung bioflok, dan (C) pakan komersil, masing-masing 3 ulangan yang didisain dengan rancangan acak lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kecernaan dan konsumsi pakan harian kedua pakan uji bioflok lebih rendah daripada pakan komersil. Laju pertumbuhan ikan, efisiensi pakan, efisiensi protein, retensi protein, retensi lemak, dan retensi methionine berbeda nyata (P<0,05) di antara perlakuan dan tertinggi terjadi pada ikan yang diberi pakan komersil diikuti berturut-turut pakan tepung bioflok + AAE dan terendah pakan tepung bioflok. Laju eskresi total ammonia nitrogen pada ikan yang diberi pakan tepung bioflok + AAE cenderung memiliki nilai yang lebih rendah daripada ikan yang diberi pakan tepung bioflok saja dan pakan komersil. Penambahan asam amino esensial (histidine, lysine, dan methionine) dalam tepung bioflok mampu memperbaiki pemanfaatan protein bioflok untuk pertumbuhan ikan bandeng.
ISOLASI DAN SKRINING BAKTERI NITRIFIKASI SERTA APLIKASINYA PADA BIOFILTRASI MEDIA PEMELIHARAAN LARVA UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii de Man) Ikhsan Khasani
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1283.453 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.401-412

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan isolat bakteri nitrifikasi yang memiliki potensi mengoksidasi amonia dan nitrit pada media pemeliharaan larva udang galah. Bakteri diisolasi dari bak pengolahan air bekas pemeliharaan larva udang galah di Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar, Sukamandi. Sebanyak 52 isolat bakteri berhasil diisolasi, yang terdiri atas 25 isolat tumbuh pada medium nitrifikasi-1 dan 27 isolat tumbuh pada medium nitrifikasi-2. Di antara isolat bakteri yang tumbuh pada medium nitrifikasi-1 hanya tiga isolat yang mampu mengoksidasi amonia, yaitu Acinetobacter ligniersii A10, Chromobacterium violaceum C2, dan Acinetobacter anitratus C1. Uji oksidasi amonia terhadap tiga isolat yang diperoleh dan satu strain kontrol, Pseudomonas stutzeri ASLT2, menunjukkan bahwa P. stutzeri mempunyai kemampuan oksidasi amonia lebih tinggi dibanding A. ligniersii A10, C. violaceum C2, dan A. anitratus. Uji kemampuan 27 isolat bakteri yang tumbuh pada medium nitrifikasi-2 menunjukkan bahwa semua isolat tersebut tidak dapat mengoksidasi nitrit. Inokulasi bakteri nitrifikasi (P. stutzeri) dan bakteri denitrifikasi (Alcaligenes sp.) pada bak filter tidak berpengaruh terhadap perbaikan kualitas air dan pertumbuhan larva udang galah.The aim of this study was to obtain nitrifying bacteria which have high potency to oxidize ammonium and nitrite and to know the effectiveness of application of bioremediation bacteria in giant freshwater larvae rearing. The bacteria were isolated from waste water treatment tank of freshwater prawn hatchery of Research Institute for Breeding and Freshwater Aquaculture, Sukamandi. Fifty two isolates, i.e. 25 isolates grew on nitrification-1 medium and 27 isolates grew on nitrification-2 medium. The ammonium oxidation test showed that only three of 25 isolates were capable to oxidize ammonium, i.e. Acinetobacter ligniersii A10, Chromobacterium violaceum C1, and Acinetobacter anitratus C2 and one control strain, Pseudomonas stutzeri ASLT2. Further test or screening, showed that P. stutzeri oxidized ammonium more effective than either A. ligniersii A10, C. violaceum C2, or A. anitratus C1. The nitrite oxidation test showed that all isolates could not oxidized nitrite. The result on bacteria Inoculation, i.e. nitrifying bacteria (P. stutzeri) and denitrifying bacteria (Alcaligenes sp.), on filter tank indicated that the bacteria was not able to either reduce ammonium and nitrite concentration or stimulate prawn larvae growth.
KETAHANAN IKAN TAMBAKAN (Helostoma temminkii) TERHADAP BEBERAPA PARAMETER KUALITAS AIR DALAM LINGKUNGAN BUDIDAYA Otong Zenal Arifin; Vitas Atmadi Prakoso; Brata Pantjara
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 3 (2017): (September 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.3.2017.241-251

Abstract

Ikan tambakan (Helostoma temminkii) adalah satu dari beberapa jenis spesies ikan air tawar yang ekonomis di Indonesia. Komoditas ini cukup digemari di beberapa wilayah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Oleh karena itu, prospek pengembangan budidaya ikan tambakan merupakan hal yang penting. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui respons ketahanan ikan tambakan terhadap paparan beberapa parameter kualitas air. Seluruh kegiatan pengujian dilakukan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan, Bogor. Ikan yang digunakan pada percobaan ini adalah ikan tambakan generasi kedua hasil domestikasi (panjang standar: 7,5 ± 0,28 cm; bobot: 15,2 ± 2,11 g). Uji toleransi yang dilakukan meliputi ketahanan terhadap salinitas, pH, suhu, dan oksigen terlarut. Jumlah ikan yang diuji untuk masing-masing parameter kualitas air yaitu 30 ekor pada perlakuan salinitas, pH, dan suhu, serta 40 ekor untuk pengujian toleransi terhadap oksigen terlarut dengan tiga kali ulangan pada masing-masing perlakuan. Berdasarkan data penelitian, ikan tambakan dapat bertahan hidup dan beraktivitas secara normal pada kisaran salinitas £ 10 ppt, pH 5-9, suhu 20-35oC, dan kandungan oksigen terlarut > 3 mg/L. Kisaran nilai pada parameter kualitas air di luar batas toleransi dapat berpengaruh negatif pada pertumbuhan dan sintasan ikan tambakan.Kissing gouramy (Helostoma temminkii) is one of valued freshwater fish in Indonesia. This species is quite popular in some areas of Java, Sumatra, and Kalimantan. Therefore, the development of aquaculture for this species is essential. This paper was intended to determine the response of fish resistance to the exposure of several water quality parameters. All of the experiments were carried out at the Institute for Freshwater Aquaculture Research and Fisheries Extension, Bogor. The experimental fish used in the experiment were domesticated kissing gouramy (2nd generation) with standard length of 7.5 ± 0.28 cm and total weight of 15.2 ± 2.11 g. The tests, on the resistance to salinity, pH, temperature, and dissolved oxygen. For each treatment, 30 fish were challenged with salinity, pH, and temperature treatments, and 40 fish for oxygen tolerance treatment. All treatments were conducted with three replications. Based on the results, kissing gouramy could survive and behave normally in the range of £ 10 ppt salinity, pH 5-9, temperature 20-35°C, and dissolved oxygen content of more than 3 mg/L. The range of values on water quality parameters which exceeded the tolerance limit could result in the negative effect on the growth and survival of kissing gouramy.
STUDI AKTIVITAS ENZIM PENCERNAAN LARVA IKAN KUWE, Gnathanodon speciosus YANG DIPELIHARA DENGAN JENIS PAKAN AWAL BERBEDA Titiek Aslianti; Afifah Afifah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 1 (2012): (April 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.385 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.1.2012.49-59

Abstract

Upaya kontinuitas produksi benih ikan kuwe, Gnathanodon speciosus telah dilakukan namun sintasan yang diperoleh belum stabil. Jenis dan ukuran pakan pada larva stadia awal seringkali menjadi penyebab utama kegagalan produksi benih. Aktivitas enzim pencernaan diketahui sangat terkait dengan jenis pakan yang dikonsumsi larva sehingga berdampak terhadap pertumbuhan dan sintasannya. Enzim protease, amilase, dan lipase merupakan indikator biologis yang dapat menunjukkan kesesuaian jenis pakan yang dikonsumsi larva melalui kemampuannya untuk mencerna. Penelitian bertujuan untuk mengetahui aktivitas enzim pencernaan larva ikan kuwe yang diberi ransum pakan awal berbeda yaitu rotifer, gonad kerang, dan kuning telur ayam. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap 3 perlakuan dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas enzim protease, amilase, dan lipase pada ketiga perlakuan mempunyai korelasi positif terhadap pertumbuhan. Aktivitas enzim pencernaan cenderung meningkat pada saat larva mulai menerima pakan eksogen (D-2), kemudian menurun pada D-3–D-7 selanjutnya relatif stabil hingga akhir penelitian (D-30). Pakan awal kuning telur menghasilkan pertumbuhan (TL = 13,3±1,77 mm) dan sintasan benih (55,42%) paling tinggi daripada rotifer (TL = 10,6±1,51 mm; SR 52,42%) maupun gonad kerang (TL = 12,7±2,67 mm; 52,45%). Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan produksi benih sebagai pasok yang kontinu dalam mendukung pengembangan budidaya.
PEMBERIAN PROBIOTIK LACTOBACILLUS BREVIS DAN PREBIOTIK OLIGOSAKARIDA PADA BENIH PATIN SIAM (Pangasionodon hypophthalmus) YANG DIINFEKSI Aeromonas hydrophila Yuke Eliyani; Widanarni Widanarni; Dinamella Wahjuningrum
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.506 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.2.2013.241-251

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian probiotikLactobacillus brevis, prebiotik oligosakarida dan sinbiotiknya terhadap jumlah bakteri Lactobacillus sp. dan total bakteri dalam usus, total eritrosit, total leukosit, diferensial leukosit, aktivitas fagositik, sintasan, tingkat pertumbuhan, serta FCR benih ikan patin siam yang diinfeksi Aeromonas hydrophila. Hasil uji karakteristik menunjukkan bahwa jenis probiotik dan patogen adalah Lactobacillus sp. dan Aeromonas hydrophila. Pada uji in vivo digunakan lima perlakuan yang terdiri atas K(+), K(-), probiotik (pro), prebiotik (pre) serta sinbiotik (sin). Bakteri Lactobacillus sp. ditemukan di usus pada perlakuan probiotik dan sinbiotik dengan kisaran jumlah sekitar 101 sampai 106 (CFU/g). Total eritrosit, total leukosit, aktivitas fagositik berbeda nyata (P<0,05) dengan kontrol pada beberapa waktu pengamatan. Tingkat sintasan terendah diperoleh pada perlakuan K(+) sebesar 43,33±11,55; sedangkan empat perlakuan lainnya memperoleh nilai 100%. Tingkat pertumbuhan harian berbeda nyata antar perlakuan, nilai terbaik dicapai pada perlakuan pemberian sinbiotik sebesar 3,370±0,14. Nilai FCR perlakuan probiotik, prebiotik dan sinbiotik menunjukkan beda nyata dengan kontrol. Perlakuan sin, pre, pro memberikan nilai yang lebih baik pada total eritrosit, total leukosit, aktivitas fagositik, sintasan, pertumbuhan, dan FCR dibandingkan kontrol.
LAJU PENYERAPAN INSEKTISIDA TRIKLORFON PADA UDANG WINDU (Penaeus monodon) Petrus Rani Pong-Masak; Eddy Supriyono; Kukuh Nirmala; Santosa Koesoemadinata
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.52 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.1.2006.105-113

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju penyerapan dan rasio biokonsentrasi insektisida triklorfon dalam tubuh udang windu pada tingkat konsentrasi pemaparan yang berbeda. Penelitian dilakukan dalam skala laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap menggunakan akuarium. Bahan uji yang digunakan adalah formulasi insektisida triklorfon serta hewan uji adalah pasca larva udang windu. Perlakuan adalah tingkatan pemaparan insektisida triklorfon, yaitu 0,0037 mg/L; 0,0110 mg/L; dan 0,0183 mg/L dalam air laut bersalinitas 20 ppt. Analisis residu triklorfon dalam sampel udang windu dan air diekstraksi, kemudian diidentifikasi menggunakan kromatografi gas cairan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju penyerapan insektisida triklorfon oleh udang windu pada perlakuan 0,0110 mg/L dan 0,0183 mg/L tidak berbeda nyata tetapi keduanya berbeda dengan perlakuan 0,0037 mg/L. Laju penyerapan secara berurutan sebesar 0,0049 mg/kg/jam; 0,0088 mg/kg/jam, dan 0,0086 mg/kg/jam masing-masing pada perlakuan 0,0037 mg/L; 0,0110 mg/L, dan 0,0183 mg/L. Rasio biokonsentrasi triklorfon dalam tubuh udang windu semakin kecil dengan meningkatnya konsentrasi triklorfon, yaitu dengan nilai 2,4545; 1,6132; dan 1,3373 masing-masing pada perlakuan 0,0037 mg/L: 0,0110 mg/L, dan 0,0183 mg/L.The experiment aimed to study the uptake and bioconcentration ratio of trichlorfon insecticide in tiger prawn at different exposure concentration. The study was conducted using the aquarium in the laboratory condition. Test material is trichlorfon insecticide and test animal is post larvae of tiger prawn. Treatments were 0.0037 mg/L, 0.0110 mg/L, and 0.0183 mg/L of trichlorfon insecticide by dissolved in water on 20 ppt. Shrimp and water sample were extracted then identified liquid gas chromatography. The results of the experiment shohwed that uptake of trichlorfon insecticide is not different at 0.0110 mg/L and 0.0183 mg/L and both are different with 0.0037 mg/L with the uptake rate are 0.0049, 0.0088 and 0.0086 mg/kg/h at 0.0037 mg/L, 0.0110 mg/L, and 0.0183 mg/L, respectively. Bioconcentration ratio of trichlorfon in tiger prawn were decreasing while treatment concentration was increasing, that are 2.4545, 1.6132, and 1.3373 at the treatment 0.0037 mg/L, 0.0110 mg/L, 0.0183 mg/L, respectively.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 4 (2025): Desember (2025) Vol 20, No 3 (2025): September (2025) Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue