cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ma.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sungai Musi Km. 09 Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Akuakultur
ISSN : 19076762     EISSN : 25029460     DOI : 10.15578/ma
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 328 Documents
PELUANG DAN TANTANGAN BUDIDAYA IKAN DI DANAU MANINJAU PROVINSI SUMATERA BARAT Adang Saputra
Media Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (Juni 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.154 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.1.2010.18-21

Abstract

Implementasi pelaksanaan program pembangunan perikanan secara nasional telah tercermin dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam visinya yang menyatakan: Indonesia penghasil produk perikanan terbesar tahun 2015. Salah satu lokasi yang potensial untuk pengembangan kegiatan budidaya perikanan air tawar adalah Danau Maninjau. Kegiatan budidaya ikan di Danau Maninjau dengan keramba jaring apung (KJA) mulai berkembang pada tahun 1990. Tingkat pencemaran perairan Danau Maninjau sudah cukup kritis untuk air minum (kelas I dan II), tetapi untuk perikanan masih termasuk dalam ketegori tercemar ringan. Komoditas yang menjadi unggulan di Danau Maninjau adalah ikan mas dan ikan nila yang baru mulai berkembang. Peluang usaha budidaya ikan di Danau Maninjau masih terbuka luas, baik pada segmen budidaya, distribusi pakan, perbenihan, transportasi, maupun pemasaran hasil. Kendala adalah penyediaan benih unggul khususnya ikan mas masih harus didatangkan dari luar Kabupaten Agam Provinsi Sumetera Barat, untuk ikan nila sampai saat ini belum ada kendala.
BUDIDAYA UDANG VANAME DENGAN PADAT PENEBARAN TINGGI Rachman Syah; Makmur Makmur; Mat Fahrur
Media Akuakultur Vol 12, No 1 (2017): (Juni, 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.653 KB) | DOI: 10.15578/ma.12.1.2017.19-26

Abstract

Upaya meningkatkan produktivitas lahan tambak dapat dilakukan dengan meningkatkan padat penebaran disertai dengan pemberian akuinput yang prima serta dukungan teknologi yang memadai. Tiga padat penebaran yaitu 750; 1.000; dan 1.250 ekor/m2, diaplikasikan pada tambak dengan luasan 1.000 m2 dengan kedalaman air 1,8 m dilengkapi dengan sistem aerasi berupa kincir dan root blower, pompa submersible, automatic feeder, central drain dan collector drain serta Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL). Kapasitas sistem aerasi adalah 500 kg biomassa udang/HP. Udang dipelihara selama 105 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat penebaran yang diaplikasikan menghasilkan bobot akhir udang yang relatif sama berkisar 15,48-16,30 (15,78±0,45) g/ekor dengan nilai pertumbuhan harian 0,16-0,18 (0,17±0,01) g/hari. Produksi yang diperoleh adalah 7.862; 10.699; dan 12.163 kg/petak, masing-masing pada padat penebaran 750; 1.000 dan 1.250 ekor/m2. Nilai rasio konversi pakan 1,4; 1,36; 1,55 dan kebutuhan listrik 3,2; 2,5; 2,4 kw/kg udang serta kebutuhan air 2,24; 1,66; 1,60 m3/kg udang. Biaya produksi udang terendah adalah Rp. 30.526/ kg udang pada padat penebaran 1.000 ekor/m2 dengan laba operasional sebesar Rp. 630.687.094/th. Padat penebaran 1.000 ekor/m2 menghasilkan kinerja lebih baik sehingga disarankan menjadi acuan padat penebaran untuk budidaya udang vaname superintensif. Teknologi ini memiliki potensi dampak terhadap lingkungan perairan, sehingga perlu dilengkapi sarana Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) untuk pengolah air buangan tambak.In order to increase of brackishwater pond’s productivity, an effort can be reached through high stocking density of shrimp accompanied by application of high quality inputs and supported by an appropriate technology. Three different stocking densities, were applied i.e., 750; 1,000; and 1,250 ind/m2. The shrimp were reared for 105 days in three ponds with sizing of 1,000 m2 each and the water depth of 1.8 m facilitated with aeration systems consisted of paddlewheels, root blower, submersible water pump, automatic feeder, central drainage, collector drainage and waste water treatment plan. The capacity aeration systems was 500 kg of shrimp biomass/HP. The results showed that all stocking densities produced the similar final body weight of shrimp which ranged between 15.48 to 16.30 (15.78±0.45) g/shrimp with daily growth rates were 0.16-0.18 (0.17±0.01) g/day. The total harvested shrimps from each stocking density were 7,862; 10,699, 12,163 kg/pond, respectively. The feed conversion ratio was 1.4, 1.36, and 1.55, whereas consumed electricities were 3.2, 2.5, and 2.4 kw/kg shrimp and water demands were 2.24, 1.66, and 1.60 m3/kg harvested shrimp. The lowest production cost was IDR 30,526/kg harvested shrimp which was spent for stocking density of 1,000 ind/m2, whereas the annual profit was IDR 630,687,094. The stocking density of 1,000 ind/m2 showed high performances, and then eventually is recommended for the L. vannamei super-intensive aquaculture. This technology is potential in affecting the adjacent environment, however the impacts might be minimized through the application of deploying wastewater treatment plan.
METODE DETEKSI CEPAT WHITE SPOT SYNDROME VIRUS (WSSV) DAN INFECTIUOS MYONECROSIS VIRUS (IMNV) MENGGUNAKAN PORTABEL/MOBILE POLYMERASE CHAIN REACTION Isti Koesharyani; Lila Gardenia
Media Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Juni 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.365 KB) | DOI: 10.15578/ma.10.1.2015.43-49

Abstract

Budidaya udang Penaeus monodon dan Litopenaeus vannamei di Indonesia merupakan komoditas primadona untuk ekspor dan merupakan salah satu spesies unggulan dalam program budidaya pada Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kendala pada budidaya udang tersebut adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus, terutama white spot syndrome virus (WSSV) dan infectiuos myonecrosis virus (IMNV). Deteksi secara molekuler yang berbasis DNA merupakan metode deteksi sangat akurat dan tepat. Saat ini sudah ada metode deteksi PCR sederhana yang dapat diaplikasi langsung di lapangan, yaitu dengan menggunakan alat Portable Polymerase Chain Reaction Pockit (iiPCR). Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan deteksi cepat WSSV dan IMNV pada udang P. monodon dan L. vannamei dengan menggunakan portabel-PCR. Aplikasi deteksi ini diujicobakan pada sampel udang yang diawetkan dan sudah diketahui kondisinya. Hasil analisis memperlihatkan hasil yang sesuai dengan hasil analisis sebelumnya dengan menggunakan PCR konvensional. Metode ini relatif lebih sederhana, cepat (hanya memerlukan waktu kurang dari 90 menit) dan dapat diketahui hasilnya tanpa adanya proses elektroforesis. Metode deteksi ini sangat membantu pembudidaya dalam monitoring penyakit di lapangan secara on the spot, serta cepat dan tepat.
METODE EFEKTIF PEMBENTUKAN UDANG GALAH TUNGGAL KELAMIN JANTAN Ikhsan Khasani; Eni Kusrini
Media Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1207.328 KB) | DOI: 10.15578/ma.1.1.2006.1-5

Abstract

METODE EFEKTIF PEMBENTUKAN UDANG GALAH TUNGGAL KELAMIN JANTAN
KEBERADAAN EKTOPARASIT PADA IKAN MAS (Cypprinus carpio) YANG DIPELIHARA DENGAN PERBEDAAN PERSENTASE PERGANTIAN AIR Septyan Andriyanto; Muhammad Fachri
Media Akuakultur Vol 9, No 2 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1095.763 KB) | DOI: 10.15578/ma.9.2.2014.111-118

Abstract

Abstrak lengkap dapat di download di file PDF
MODEL PENERAPAN IPTEK PENGEMBANGAN KEBUN BIBIT RUMPUT LAUT, Kappaphycus alvarezii, DI KABUPATEN MINAHASA UTARA, SULAWESI UTARA I Nyoman Radiarta
Media Akuakultur Vol 8, No 1 (2013): (Juni 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.683 KB) | DOI: 10.15578/ma.8.1.2013.49-56

Abstract

Kabupaten Minahasa Utara dengan luas laut sekitar 295.000 km² dan panjang garis pantai sekitar 229,2 km memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar. Kabupaten ini telah ditetapkan sebagai kawasan minapolitan rumput laut sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.39/MEN/2011. Kebutuhan bibit merupakan faktor utama dalam pengembangan rumput laut. Ketersediaan bibit yang memadai, berkualitas, dan berkesinambung merupakan faktor penentu keberhasilan budidaya rumput laut. Model penerapan IPTEK dari program IPTEKMAS (ilmu pengetahuan dan teknologi untuk masyarakat), merupakan langkah efektif yang ditempuh oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya dengan tujuan penyebar luasan hasil penelitian dan pengembangan berupa teknologi pengembangan kebun bibit di Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara. Pelaksanaan IPTEKMAS di kabupaten ini melibatkan lima kelompok pembudidaya rumput laut dari dua desa yang berdampingan yaitu Desa Kema II dan Desa Kema III Kecamatan Kema. Pengembangan kebun bibit model IPTEKMAS ini diterapkan dengan sistem rawai (long line) berukuran 50 m x 35 m. Hasil kegiatan menunjukkan pertumbuhan rumput laut yang dibudidayakan di lokasi kegiatan sangat baik dengan rata-rata pertumbuhan setiap siklus pemeliharaan bibit adalah 200 g (bibit awal 50 g). Model penerapan IPTEK ini mendapat respons positif dari masyarakat pembudidaya.
PERBAIKAN PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DENGAN SELEKSI FAMILI Rudhy Gustiano; Otong Zenal Arifin; Estu Nugroho
Media Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (814.625 KB) | DOI: 10.15578/ma.3.2.2008.98-106

Abstract

Dewasa ini ikan nila merupakan salah satu ikan ekonomis penting di dunia yang dikenal sebagai freshwater chicken. Di Indonesia ikan nila telah dibudidayakan secara luas. Namun demikian kesediaan benih unggul dengan pertumbuhan cepat yang menguntungkan usaha budidaya nila masih merupakan kendala utama. Berdasarkan latar belakang ini, perbaikan mutu genetik nila untuk meningkatkan produksi dan produktivitas di masa mendatang sangat dibutuhkan. Dalam makalah ini akan diuraikan status, upaya, hasil riset pemuliaan, dan selective breeding yang telah dan sedang dilakukan di Indonesia dalam rangka untuk meningkatkan produksi dan produktivitas ikan nila nasional. Hasil yang diperoleh dari kegiatan selective breeding ikan nila “Balitkanwar” melalui seleksi famili diperoleh jenis unggulan yang baik keragaannya dari berbagai aspek yang diuji. Keragaan ikan nila “Balitkanwar” secara mendetail akan disampaikan dalam makalah ini.
MENGENAL KARANG HIAS BERNILAI EKONOMIS PENTING DI INDONESIA Ofri Johan
Media Akuakultur Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.001 KB) | DOI: 10.15578/ma.1.3.2006.87-90

Abstract

liat selengkapnya di File PDF
MANAJEMEN PEMELIHARAAN INDUK ABALON (Haliotis asinina) HASIL TANGKAPAN DARI ALAM Septyan Andriyanto; Nurbakti Listyanto
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2548.168 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.162-168

Abstract

Abalon merupakan satu jenis kekerangan yang mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi serta kelezatan rasanya. Usaha budidaya abalon memiliki nilai ekonomis yang tinggi, namun untuk produksinya sebagian masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam. Dalam rangka menghasilkan induk dengan tingkat produksi yang tinggi diperlukan pengetahuan terkait manajemen pemeliharaan induk terutama yang berasal dari alam. Manajemen pemeliharaan induk yang sesuai prosedur meliputi pengumpulan induk, seleksi induk, penanganan induk, pengelolaan pakan dan penyakit, serta pengelolaan air media pemeliharaan. Apabila seluruh aspek tersebut dijalankan sesuai standar dan prosedur yang ditetapkan, diharapkan akan diperoleh induk dengan tingkat produksi yang tinggi serta benih yang berkualitas, sehingga produksi tidak selalu mengandalkan dari alam.
DAMPAK PEMBANGUNAN WADUK TERHADAP KELESTARIAN BIODIVERSITY Ani Widiyati; Tri Heru Prihadi
Media Akuakultur Vol 2, No 2 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9897.55 KB) | DOI: 10.15578/ma.2.2.2007.113-117

Abstract

Keberadaan waduk di suatu negara/wilayah diperlukan, mengingat waduk mempunyai banyak fungsi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Keberadaan waduk mempunyai dampak positif dan dampak negatif terhadap lingkungannya. Salah satu dampak negatif keberadaan waduk adalah terganggunya kelestarian keanekaragaman hayati lingkungannya, seperti hilangnya hamparan hutan sumber plasma nutfah tumbuhan maupun hewan. Pada daerah aliran sungainya dapat berakibat berkurangnya jenis ikan tertentu, plankton, bentos, dan tumbuhan air yang hidup pada perairan. Degradasi keanekaragaman hayati secara umum di perairan waduk, akan berpengaruh terhadap skala lokal, bank genetik alami akan hilang. Sedangkan pengaruhnya secara global akan berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan sekarang dan yang akan datang.