cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ma.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sungai Musi Km. 09 Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Akuakultur
ISSN : 19076762     EISSN : 25029460     DOI : 10.15578/ma
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 333 Documents
TEKNOLOGI FERMENTASI, ALTERNATIF SOLUSI DALAM UPAYA PEMANFAATAN BAHAN PAKAN LOKAL Wahyu Pamungkas
Media Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (Desember 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.604 KB) | DOI: 10.15578/ma.6.1.2011.43-48

Abstract

Upaya pemanfaatan bahan baku pakan alternatif banyak dilakukan dengan menggunakan bahan baku pakan lokal yang mudah didapat dan biasanyaberupa limbah yang belum termanfaatkan secara optimal. Akan tetapi, upaya pemanfaatan bahan baku pakan lokal tersebut masih mengalami kendala yaitu tingginya kandungan serat kasar, rendahnya kandungan protein kasar bahan baku, keseimbangan asam amino yang rendah, dan adanya zat anti nutrisi. Hal ini menyebabkan perlunya pengolahan bahan baku pakan lokal tersebut sebelum digunakan sebagai bahan pakan. Salah satu cara pengolahan yang dapat dilakukan adalah dengan melalui fermentasi. Secara umum, fermentasi menghasilkan produk yang lebih sederhana dan lebih mudah dicerna dari bahanasalnya. Melalui teknologi fermentasi, dapat dihasilkan perbaikan dan peningkatan nilai nutrisi bahan baku pakan lokal sehingga dapat dimanfaatkansecara optimal untuk bahan baku pakan ikan.
PENGARUH PERGILIRAN JENIS BAKTERI PROBIOTIK BERBEDA TERHADAP SINTASAN DAN PRODUKSI UDANG WINDU DI TAMBAK INTENSIF Muharijadi Atmomarsono; Nurbaya Nurbaya
Media Akuakultur Vol 9, No 1 (2014): (Juni 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.406 KB) | DOI: 10.15578/ma.9.1.2014.37-42

Abstract

Abstrak lengkap dapat dilihat pada Full PDF Penelitian pergiliran jenis bakteri probiotik RICA berbeda ditujukan untuk mengetahui pergiliran jenis bakteri probiotik yang terbaik dalam peningkatan sintasan dan produksi udang windu di tambak ekstensif.
BUDI DAYA UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) POLA TRADISIONAL PLUS DI KABUPATEN MAROS, SULAWESI SELATAN Erfan A. Hendarajat; Markus Mangampa; Hidayat Suryanto
Media Akuakultur Vol 2, No 2 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1472.277 KB) | DOI: 10.15578/ma.2.2.2007.67-70

Abstract

Udang merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan dalam program revitalisasi perikanan, di samping rumput laut dan tuna. Pada awalnya, jenis udang yang dibudidayakan di air payau adalah udang windu, namun setelah mewabahnya penyakit terutama WSSV yang mengakibatkan menurunnya usaha budi daya udang windu, pemerintah kemudian mengintroduksi udang vannamei pada tahun 2001 untuk membangkitkan kembali usaha perudangan di Indonesia dan dalam rangka diversifikasi komoditas perikanan. Untuk mengembangkan budi daya udang kedepan, upaya-upaya yang dilakukan pemerintah antara lain: (i) Revitalisasi tambak intensif dengan udang vannamei seluas 7.000 ha dengan produktivitas 30 ton/ha/tahun, (ii) revitalisasi tambak tradisional seluas 140.000 ha (40% dari tambak tradisional) dengan produktivitas 600--700 kg/ha/tahun, (iii) impor vannamei SPF/SPR, (iv) pengembangan induk SPF vannamei dalam negeri, (v) revitalisasi backyard hatchery  (HSRT), (vi) penerapan sertifikasi, (vii) pengembangan laboratorium, dan (viii) pengembangan sarana/prasarana (Nurjana, 2005). Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam usaha budi daya udang vannamei pola tradisional plus antara lain: persiapan tambak, kualitas benih, teknik penebaran, padat penebaran, manajemen pakan, pemeliharaan kualitas air, dan teknik panen. Tulisan ini menjelaskan secara ringkas mengenai teknologi budi daya udang vannamei pola tradisional plus di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan yang dapat dilakukan oleh pembudi daya udang.
PRESENT STATUS PRODUKSI DAN BUDIDAYA TERIPANG DI SULAWESI SELATAN Abdul Malik Tangko
Media Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.194 KB) | DOI: 10.15578/ma.4.1.2009.32-39

Abstract

Di Sulawesi Selatan teripang diperdagangkan dan diekspor ke Cina sejak abad ke-17 dan pada tahun 1824 berhasil mengekspor teripang sebanyak 300 ton dengan nilai 350.000 gulden atau setara 7.500.000 US Dollar. Kegiatan perburuan teripang oleh pelaut Bugis-Makassar di Australia Utara berlangsung sejak pada abad ke-17 dan berakhir pada tahun 1910. Setelah itu, wilayah operasi penangkapannya hanya meliputi perairan Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Pada tahun 2004 volume ekspor teripang Sulawesi Selatan mencapai 1.052,5 ton dengan nilai 94.450.650 US Dollar kemudian mengalami penurunan menjadi 734,0 ton dengan nilai 15.805.120 US Dollar pada tahun 2007. Penurunan produksi teripang ini disebabkan karena populasinya di alam semakin berkurang, sedangkan harga dan permintaan pasar ekspor semakin meningkat. Pada saat ini harga teripang di Sulawesi Selatan mencapai Rp150.000,00-Rp500.000,00/kg. Sedangkan peningkatan produksi melalui usaha budidaya belum bisa berkembang walaupun teknologinya sudah dikuasai dan dukungan sumberdaya lahan yang cukup luas. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan benih yang hanya mengandalkan benih dari alam yang bersifat musiman, sedangkan usaha pembenihan teripang di Indonesia termasuk di Sulawesi Selatan belum dapat berproduksi secara massal. Sehingga untuk memenuhi permintaan pasar ekspor yang semakin meningkat, maka salah satunya jalan yang dapat ditempuh oleh pengusaha teripang di Sulawesi Selatan adalah melakukan penangkapan di laut lepas dengan cara menyelam menggunakan peralatan canggih ataupun dengan menggunakan alat tangkap jaring trawl mini, walaupun hasil yang diperoleh tidak menentu dan kadangkala tidak seimbang dengan biaya operasional yang dikeluarkan.
PENINGKATAN PRODUKSI DAN KUALITAS TELUR INDUK BANDENG (Chanos chanos) DENGAN PENAMBAHAN BAHAN PENGKAYA PADA PAKAN Muhammad Marzuqi; Retno Andamari; Ni Wayan Widia Astuti; Wawan Andriyanto; Nyoman Adiasmara Giri
Media Akuakultur Vol 13, No 1 (2018): (Juni, 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.911 KB) | DOI: 10.15578/ma.13.1.2018.11-19

Abstract

Pakan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap performa reproduksi induk ikan bandeng. Ketersediaan pelet komersial yang spesifik untuk pemeliharaan induk bandeng hingga kini belum ada sehingga perlu dilakukan pengembangan pakan untuk menghasilkan performa reproduksi yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan produksi dan kualitas telur induk bandeng melalui aplikasi bahan pengkaya pada pakan. Penelitian dilakukan di unit pembenihan skala lengkap Desa Banyupoh dan Desa Sanggalangit, Bali Utara. Jumlah induk yang digunakan adalah 165 ekor yang dipelihara dalam dua buah bak volume 100 m3 (di Desa Banyupoh) dan 100 ekor yang dipelihara dalam dua buah bak volume 100 m3 (di Desa Sanggalangit). Perlakuan yang digunakan adalah pakan komersial dengan penambahan bahan pengkaya (pakan uji) dan tanpa penambahan bahan pengkaya pakan (pakan kontrol). Bahan pengkaya berupa emulsi yang terdiri atas lesitin, minyak cumi, minyak ikan, minyak jagung, vitamin E, dan vitamin C yang dicampur dalam pakan dengan dosis sebesar 120 g/kg pakan. Pakan diberikan secara at-satiation dengan frekuensi 2-3 kali sehari. Penelitian berlangsung selama 10 bulan. Parameter yang diamati meliputi frekuensi pemijahan, produksi, dan kualitas telur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahan pengkaya dalam pakan mampu meningkatkan frekuensi pemijahan induk dengan rerata sebanyak lima kali/bulan di unit pembenihan skala lengkap Desa Banyupoh dan empat kali/bulan di unit pembenihan skala lengkap Desa Sanggalangit, serta dapat meningkatkan produksi telur masing-masing sebesar 102% dan 56% dibandingkan pakan kontrol. Teknik penambahan bahan pengkaya pada pakan dapat diterapkan pada pemeliharaan induk bandeng untuk mendukung produksi telur dan frekuensi pemijahan yang baik.Feed is one of the factors affecting the reproduction performance of milkfish broodstock. Hatcheries use mostly commercial pellets to feed broodstock despite that it is not a natural feed for milkfish. Thus, the food has to be enriched to maintain or improve the spawning performance of milkfish broodstock. The purpose of this study was to improve spawning performance of milkfish broodstock through the application of enriched-formulation feed. The study was conducted at two milkfish hatcheries in Banyupoh and Sanggalangit villages, North Bali. The number of broodstock used at Banyupoh village hatchery were 165 ind reared in two 100 m3concrete tanks. In the hatchery at Sanggalangit Village, 100 fish were reared in two 100 m3 concrete tanks. The feed enrichment formulation used a mixture of lecithin, squid oil, fish oil, corn oil, vitamin E, and vitamin C. The feed enrichment formulation was prepared in emulsion form and mixed with 120 g/kg dosage of feed. As a control, the feed used was without enrichment formulation. The feeding frequency was 2-3 times per day to satiation. The experiment was carried out for 10 months. The parameters observed included egg production, egg quality and spawning frequency. The results showed that the enriched feed had increased the spawning frequency of broodstock up to five times/month at the hatchery in Banyupoh and four times/month at Sanggalangit hatchery. Egg production also had increased to 102% (Banyupoh) and 56% (Sanggalangit) compared to the control feed. This feed enrichment formulation has the potential in broodstock milkfish rearing to improve the egg production and spawning frequency.
ANALISIS KEBIJAKAN USAHA BANDENG AIR TAWAR DI KERAMBA JARING APUNG Rudhy Gustiano; Zahri Nasution; Yanti Suryanti
Media Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (877.028 KB) | DOI: 10.15578/ma.1.1.2006.33-39

Abstract

Dalam perkembangan budidaya ikan sistem KJA di perairan waduk. mulai dekade yang lalu telah berkembang pemeliharaan ikan bandeng air payau
KINERJA PRODUKSI PENDEDERAN JUVENIL LOBSTER PASIR Panulirus Homarus MENGGUNAKAN SELTER INDIVIDU Kukuh Adiyana; Amin Pamungkas
Media Akuakultur Vol 12, No 2 (2017): (Desember, 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.713 KB) | DOI: 10.15578/ma.12.2.2017.75-83

Abstract

Kanibalisme yang tinggi adalah salah satu permasalahan utama dalam budidaya lobster. Penggunaan selter individu pada budidaya pendederan lobster dimaksudkan untuk meniadakan kontak langsung antar lobster dalam media budidaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kualitas air dan pengaruh penggunaan selter individu terhadap kinerja produksi pendederan lobster pasir Panulirus homarus dengan sistem resirkulasi. Lobster berukuran 51,29 ± 7,26 g/ekor dipelihara selama 60 hari dengan pemberian pakan 3%-4% sebanyak satu kali per hari. Penelitian dilakukan dengan empat perlakuan dan dua ulangan. Jenis perlakuan yang digunakan, yaitu selter pipa PVC sebagai kontrol (K), selter individu persegi (SI n), selter individu segitiga (SI ), dan selter individu tabung (SI l). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air budidaya menggunakan sistem resirkulasi masih memenuhi syarat untuk budidaya lobster. Penggunaan selter individu berpengaruh positif terhadap respons sintasan, tetapi berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan lobster.High cannibalism was an important issue in lobster rearing. The use of individual shelter in lobster rearing was intended to eliminate a direct contact between lobsters in a rearing media. The purpose of this study was to analyze water quality and the effect of individual shelter on the growth response of spiny lobster (Panulirus homarus) juvenile reared in an aquaculture media equipped with a recirculation system. Lobsters with an average size of 51.29 ± 7.26 g were reared for 60 days and fed with trash fish of 3%-4% of the biomass daily. This study used four treatments with two replications. The treatments consisted of a PVC pipe shelter as control (K), individual square shelter (SI n), individual triangle shelter(SI ), and individual tube shelter (SI l).The results of the study showed that the water quality in the aquaculture media was still within the suitable range for lobster rearing. The use of individual shelter had positive effects on the survival rate but had negative effects on the growth of spiny lobster juvenile.
PERKEMBANGAN REKAYASA GENETIKA DALAM BUDIDAYA IKAN HIAS DI INDONESIA Eni Kusrini
Media Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.395 KB) | DOI: 10.15578/ma.7.2.2012.59-64

Abstract

Teknologi rekayasa genetika transgenesis telah digunakan sejak 1980 dan sekarang berkembang memproduksi makhluk hidup dengan fenotipe yang diinginkan. Di bidang akuakultur, telah dilakukan beberapa metode transgenik antara lain penggunaan vektor yang dinamakan replicationdefective pantropic retroviral (salah satu elemen vektor) untuk menginfeksi sel lines ikan. Perkembangan riset transgenik yang dilakukan sudah sampai tahapan dapat menghasilkan generasi pertama (F-1) yang masih membutuhkan verifikasi untuk mendapatkan keturunan-keturunan transgenik homozigot yang dapat digunakan untuk memproduksi massal ikan transgenik heterozigot hasil perkawinan dengan ikan normal. Teknik rekayasa genetika terus-menerus mengalami perkembangan dan penyempurnaan dari metode-metode sebelumnya. Adapun metode-metode yang telah berhasil diterapkan dalam teknologi transfer gen antara lain adalah mikroinjeksi, elektroporasi, dan transfeksi. Keberhasilan menghasilkan ikan hias transgenik melalui biologi molekuler dengan karakter keunggulan tertentu memberikan harapan baru dalam budidaya ikan khususnya dalam menunjang peningkatan kualitas warna dan bentuk. Meskipun rekayasa genetika bukan segala-galanya, karena adanya keterbatasan dalam menghasilkan ikan transgenik seperti badan yang bengkok, kepala bercabang, dan lain-lain.
MENGENAL RUMPUT LAUT, Kappaphycus alvarezii Andi Parenrengi; Sulaeman Sulaeman
Media Akuakultur Vol 2, No 1 (2007): (Juni 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7827.652 KB) | DOI: 10.15578/ma.2.1.2007.142-146

Abstract

Dua jenis rumput laut yang merupakan komoditas utama budi daya di Indonesia yakni Gracillaria di tambak dan Eucheuma/Kappaphycus di laut. K. alvarezii atau yang lebih populer dengan nama Eucheuma cottonii merupakan salah satu spesies yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia. Peluang pasar yang tinggi menjadikan komo-ditas ini semakin banyak diminati. Indonesia merupakan penghasil rumput laut karaginan terbesar kedua dunia setelah Filipina. Untuk mengenal lebih dekat rumput laut tersebut, makalah ini akan memberikan gambaran secara umum dari karakteristik K. alvarezii yang meliputi taksonomi, morfologi, reproduksi, eko-fisiologi, dan distribusi, serta dilengkapi dengan dukungan hasil riset mengenai pertumbuhan dan analisis genetik antara dua perbedaan warna dari spesies rumput laut tersebut.
AKURASI DALAM APLIKASI TEKNOLOGI STIMULASI HORMON UNTUK PEMIJAHAN IKAN Darti Satyani
Media Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (Juni 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (901.259 KB) | DOI: 10.15578/ma.3.1.2008.49-53

Abstract

Teknologi stimulasi untuk pemijahan ikan menggunakan hormon, khususnya hormon gonadotropin untuk merangsang induk-induk ikan agar dapat ovulasi dan spermiasi. Teknologi ini banyak digunakan orang, terutama pada ikan-ikan yang sulit dipijahkan secara alami. Keberhasilan dalam penggunaan teknologi tersebut cukup baik, namun kegagalan juga masih banyak ditemui oleh para pembudidaya. Hal ini lebih sering disebabkan karena ketidaktepatan atau kurang akurasi dalam setiap proses atau tahapan dalam penerapannya. Mulai dari pemilihan induk, penentuan kadar hormon, cara penyuntikan, pengeluaran telur sampai ke pemijahan atau pembuahan telurnya memang memerlukan kecermatan dalam aplikasinya. Kriteria atau standar yang benar dari setiap proses harus dipatuhi agar teknologi stimulasi dapat memberikan hasil yang maksimal seperti induk harus benar-benar matang gonad, kadar hormon harus tepat, serta cara pemijahan atau pembuahan harus disesuaikan dengan jenis ikannya.