cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ma.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sungai Musi Km. 09 Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Akuakultur
ISSN : 19076762     EISSN : 25029460     DOI : 10.15578/ma
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 328 Documents
SURVAI POTENSI, DISTRIBUSI SUMBER DAYA, DAN USAHA IKAN HIAS AIR TAWAR DI BEBERAPA SENTRA PRODUKSI Rudhy Gustiano; Tri Heru Prihadi; Eni Kusrini
Media Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (Juni 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (36.206 KB) | DOI: 10.15578/ma.3.1.2008.77-80

Abstract

Budidaya ikan hias di Indonesia sampai saat ini masih mengalami kendala baik dalam hal pemeliharaan maupun pemasarannya. Berkaitan dengan hal tersebut, perlu adanya evaluasi secara berkesinambungan dan pemecahan masalahmasalah yang ada. Dengan demikian komoditas ikan hias dapat lebih ikut berperan dalam pemulihan perekonomian nasional. Dalam rangka mendukung langkah-langkah pencapaian sasaran tersebut sangat diperlukan riset yang mendukung untuk potensi, distribusi sampai dengan sentra produksi di berbagai provinsi di Indonesia. Berdasarkan survai yang dilakukan, kegiatan budidaya ikan hias masih terkonsentrasi di kota-kota besar dan didominasi tangkapan dari alam.
POLIKULTUR RUMPUT LAUT (Gracilaria verrucosa) DENGAN BANDENG DI KABUPATEN BREBES, JAWA TENGAH Bambang Priono; Septyan Andriyanto; Irsyaphiani Insan
Media Akuakultur Vol 7, No 1 (2012): (Juni 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.097 KB) | DOI: 10.15578/ma.7.1.2012.26-31

Abstract

Rumput laut merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Hampir seluruh perairan pantai Indonesia dapat ditanami rumput laut, termasuk jenis Gracilaria verrucosa yang banyak dibudidayakan di tambak-tambak rakyat yang kurang produktif. Beberapa faktor penyebab produktivitas belum optimal adalah paket teknologi budidayanya yang belum tersosialisasikan dengan baik. Sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai polikultur rumput laut dengan bandeng di tambak untuk mengetahui performan bibit terbaik dari beberapa kultivar berdasarkan lokasi sumber bibit. Penelitian dilakukan di tambak pembudidaya di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah seluas 6 ha dan masing-masing berukuran 0,5-1 ha/petak. Persiapan yang dilakukan meliputi perbaikan saluran inlet, outlet, pematang, pintu air dan pelataran, pemberantasan hama dan biota liar, pemupukkan, serta pengisian air (ketinggian 60 cm). Pada setiap petak dibuat 3 petak pengamatan berbentuk segi empat berukuran 1 m2 (sebagai ulangan). Bibit rumput laut yang ditanam sebanyak 2.200 kg/ha, sedangkan pada petak pengamatan ditanam sebanyak 1 kg/petak. Guna meminimalkan pertumbuhan klekap dan lumut maka pada setiap petak tambak ditebari gelondongan bandeng sebanyak 2.500 ekor/ha. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rumput laut yang ditanam dapat tumbuh mencapai lebih dari 375% selama lebih dari 2 bulan pemeliharaan dan menunjukkan bahwa rumput laut Gracilaria verrucosa dapat dipelihara bersama dengan bandeng.
UJI PERBANDINGAN SKALA LAPANG APLIKASI VAKSIN MONOVALEN DAN BIVALEN UNTUK MENCEGAH PENYAKIT MOTILE AEROMONADS SEPTICEMIA DAN MYCOBACTERIOSIS PADA IKAN GURAMI Desy Sugiani; Otong Zaenal Arifin; Uni Purwaningsih; Asependi Asependi; Edy Farid Wadjdy
Media Akuakultur Vol 11, No 2 (2016): (Desember, 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.853 KB) | DOI: 10.15578/ma.11.2.2016.111-119

Abstract

Pencegahan penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS) dan Mycobacteriosis pada ikan gurami (Osphronemus goramy) melalui pencegahan menggunakan vaksin monovalen maupun vaksin bivalen telah berhasil dilakukan. Setiap jenis vaksin memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi yang terbaik dari kedua jenis vaksin tersebut (bivalen dan monovalen) pada ikan gurami di kolam budidaya. Penelitian dilakukan menggunakan tiga jenis vaksin yaitu bivalen HydrofortiVac, monovalen HydroVac, dan monovalen MycofortyVac, serta kontrol (tanpa vaksin). Uji lapang dilakukan di kolam budidaya di Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat. Ikan gurami yang digunakan adalah benih gurami hibrid dengan bobot 4,33 ± 1,76 g; padat tebar benih adalah 40 ekor/m2; dan masa pemeliharaan sekitar enam bulan. Hasil uji lapang menunjukkan rata-rata sintasan ikan gurami yang divaksin dengan vaksin bivalen HydrofortiVac adalah 52,3%; vaksin monovalen HydroVac sebesar 32,5%; dan monovalen MycofortyVac sebesar 28,5%; sedangkan kontrol tanpa vaksinasi adalah 25,8%. Vaksin bivalen dapat meningkatkan sintasan ikan 19,8%-26,5% lebih tinggi dibanding dengan kelompok ikan yang divaksin menggunakan vaksin monovalen maupun tanpa divaksinasi.Disease prevention of Motile Aeromonas Septicemia (MAS) and Mycobacteriosis in giant gouramy (Osphronemus goramy) use monovalent or bivalent vaccine has been successfully developed. Each type of vaccine has the advantages and disadvantages. This study aims to determine the best potential from both types of vaccines (bivalent and monovalent) for giant gouramy in the field. The study was conducted using three types of vaccines namely bivalent HydrofortiVac, monovalent HydroVac, and monovalent MycofortyVac as wel as control (without vaccine). Field test was conducted in aquaculture ponds in the district of Tasikmalaya and Ciamis Regencies West Java Province. The hybrid giant gouramy fingerlings used had weight of 4.33 ± 1.76 g, and stock density of 40 fish/m2 for about six month culture period. The result showed that the averages of survival rate from vaccinated fish on aquaculture ponds using vaccine bivalent HydrofortiVac, monovalent HydroVac, and monovalent MycofortyVac were 52.3%, 32.5%, and 28.5%, respectively. While, that of the controls was only 25.8%. Bivalent vaccine could increase survival rate of fishesabout 19,8%-26,5% higher than the group of vaccinated fish with monovalent vaccine or without vaccination.
KONDISI TERKINI BUDIDAYA IKAN BANDENG DI KABUPATEN PATI, JAWA TENGAH Septyan Andriyanto
Media Akuakultur Vol 8, No 2 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.061 KB) | DOI: 10.15578/ma.8.2.2013.139-144

Abstract

Ikan bandeng selain berfungsi sebagai komoditas ekspor yang mampu mendatangkan devisa negara, juga berperan penting sebagai penggerak perekonomian rakyat di daerah pesisir. Kabupaten Pati sebagai salah satu sentra produksi ikan bandeng di Provinsi Jawa Tengah, kerap mengalami permasalahan terkait kontinuitas produksi, serta pemasaran hasil budidayanya. Penelitian ini bertujuan untuk menghimpun informasi terkait kondisi terkini budidaya ikan bandeng di Kabupaten Pati yang meliputi: potensi lahan budidaya, status teknis budidaya, produktivitas, dan pemasaran, serta permasalahan dan solusi yang diperlukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi lahan budidaya di Kabupaten Pati yang tersebar cukup luas pada beberapa kecamatan, dan terbagi menjadi lahan budidaya ikan bandeng di tambak air payau dan tambak air tawar. Sedangkan teknologi budidaya yang umum diterapkan oleh pembudidaya ikan bandeng di Kabupaten Pati masih menggunakan pola tradisional dan tradisional plus. Meskipun terjadi kenaikan produksi setiap tahunnya namun belum mampu memenuhi kebutuhan pasar di luar wilayah Kabupaten Pati. Pemasaran produk ikan bandeng hasil budidaya sebagian besar dijual di pasar-pasar lokal untuk memasok pengolah ikan yang berada di sekitar Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Permasalahan yang umum dihadapi para pembudidaya ikan bandeng di Kabupaten Pati meliputi permodalan, teknologi budidaya, harga pakan, pemasaran, serta diversifikasi produk olahan bagi pengolah ikan bandeng. Sehingga beberapa solusi yang bisa dilakukan di antaranya dengan penyediaan Kredit Usaha Kecil Menengah (KUKM), penyempurnaan teknik budidaya, penyediaan dan pembenahan pasar, diversifikasi produk olahan ikan bandeng, serta penyediaan sarana pendukung lainnya. Kondisi terkini budidaya ikan bandeng dilihat dari beberapa aspek budidaya dan peningkatan produksi, serta pemasarannya di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, memerlukan sentuhan teknologi budidaya yang aplikatif disertai kerja sama yang komprehensif antar pemerintah pusat dan daerah dengan masyarakat pembudidaya ikan bandeng.
PERFORMA PERTUMBUHAN IKAN SEPAT RAWA Trichopodus trichopterus (Pallas 1770) ASAL SUMATERA, JAWA, DAN KALIMANTAN Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-thar; Vitas Atmadi Prakoso
Media Akuakultur Vol 9, No 1 (2014): (Juni 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (890.131 KB) | DOI: 10.15578/ma.9.1.2014.1-5

Abstract

Ikan sepat rawa merupakan salah satu ikan lokal potensial. Produksi ikan sepat rawa seluruhnya masih bergantung hasil tangkapan alam. Kondisi tersebut menyebabkan penurunan kelimpahan ikan sepat rawa di beberapa lokasi. Masalah tersebut perlu segera diantisipasi, salah satunya melalui kegiatan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaan pertumbuhan ikan sepat rawa dari beberapa lokasi yaitu Lampung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga ulangan. Parameter yang dianalisis meliputi pertumbuhan mutlak panjang maupun bobot, laju pertumbuhan harian, dan sintasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan membentuk pola yang sama yaitu linier pada semua populasi. Laju pertumbuhan harian, pertumbuhan panjang dan bobot mutlak tertinggi ditunjukkan ikan sepat rawa asal Kalimantan Selatan dan berbeda nyata (P<0,05) dengan populasi ikan sepat rawa asal Lampung, Jawa Barat, dan Kalimantan Barat. Sintasan benih ikan sepat siam rawa tidak berbeda nyata (P>0,05) antar populasi asal Lampung, Jawa Barat, Kalimatan Selatan, dan Kalimantan Barat.
EVALUASI DAN STATUS PERKEMBANGAN USAHA BUDIDAYA IKAN DALAM KERAMBA JARING APUNG DI DANAU MANINJAU, SUMATERA BARAT Rasidi Rasidi; Erlania Erlania; Anjang Bangun Prasetio
Media Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (Juni 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1270.939 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.1.2010.51-56

Abstract

Kegiatan budidaya ikan dalam Keramba Jaring Apung (KJA) di Danau Maninjau, Sumatera Barat sudah berkembang pesat. Kegiatan penelitian telah dilakukan pada tahun 2009 dengan metode Parcipatory Rural Apraisal (PRA). Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengevaluasi dan mengetahui status perkembangan budidaya ikan yang ada di Danau Maninjau dilihat dari aspek teknis budidaya dan kelayakan ekonomis usaha budidayanya. Berdasarkan evaluasi teknis budidaya, sebagian besar ikan yang dipelihara adalah ikan nila dengan sistem KJA tunggal, pemberian pakan dengan sistem pompa, dan nilai FCR rata-rata pada budidaya ikan nila sebesar 1,61. Manajemen budidaya yang diterapkan oleh pembudidaya relatif masih sederhana, yang terlihat dari penempatan KJA yang sebagian besar di pinggir danau dan pemberian pakan yang belum sesuai cara budidaya yang baik dan benar (CBIB). Berdasarkan analisis kelayakan usaha, budidaya ikan dalam KJA tunggal di Danau Maninjau pada saat dilakukan penelitian ini, masih tergolong layak untuk dilakukan. Tetapi tidak disarankan untuk pengembangan kegiatan budidaya dengan sistem KJA tunggal, karena pakan yang terbuang ke perairan relatif lebih banyak sehingga tidak ramah lingkungan. Alternatif kebijakan yang perlu diterapkan oleh pemerintah setempat dalam pengelolaan perikanan budidaya di Danau Maninjau adalah kebijakan yang mengarah kepada penerapan manajemen budidaya yang sesuai kaidah CBIB, pengaturan kembali tata letak KJA, untuk permodalan diperlukan peran serta pemerintah daerah untuk pembentukan koperasi pembudidaya sehingga dapat membantu permodalan dengan memberikan kredit dengan bunga rendah. Opsi-opsi kebijakan tersebut kiranya dapat diterapkan untuk mendukung pengembangan dan keberlanjutan kegiatan budidaya ikan di Danau Maninjau.
TANTANGAN BISNIS IKAN HIAS TIGER CATFISH (Pseudoplatystoma fasciatum) MELALUI PENGUASAAN TEKNOLOGI PEMIJAHAN Eni Kusrini; Agus Priyadi; Anjang Bangun Prasetio
Media Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1132.662 KB) | DOI: 10.15578/ma.10.2.2015.79-83

Abstract

Ikan tiger catfish (Pseudoplatystoma fasciatum) merupakan salah satu ikan hias hasil introduksi yang berasal dari Sungai Amazon Amerika Latin dan mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi terutama untuk komoditas ekspor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi tentang pembenihan ikan tiger catfish secara buatan. Metode yang digunakan untuk pemijahan buatan ikan tiger catfish ini adalah dengan stimulasi hormon gonadotropin. Calon induk ikan hias tiger catfish dapat matang gonad dipelihara dalam kolam beton berukuran 2,5 m x 2,0 m x 0,8 m dengan ke dalaman air antara 50-60 cm dilengkapi dengan sistem sirkulasi. Perbandingan antara jantan dan betina yaitu 1:2. Bobot rata-rata induk yang siap dipijahkan sekitar 2,5 kg dan sudah berumur minimal dua tahun. Jumlah telur yang dihasilkan setiap satu induk dapat mencapai 300.000 butir dengan daya tetas rata-rata 80%. Telur akan menetas semua dalam waktu 15 19 jam pada suhu berkisar antara 26oC-30oC. Larva yang telah menetas tetap dibiarkan dalam akuarium sampai kuning telur yang menempel di tubuh habis termakan. Keberhasilan pembenihan diawali dari pengelolaan induk yang benar untuk dapat matang gonad, sehingga kualitas telur bagus dan akan menghasikan benih-benih yang berkualitas. Teknik pembenihan juga menjadi faktor yang menentukan untuk keberhasilan pembenihan. Teknologi pemijahan buatan dengan menggunakan stimulasi hormon gonadotropin ikan tiger catfish telah dikuasai dan telah berkembang di para breeder ikan hias.
MENELUSURI IDENTITAS IKAN LELE DUMBO Bambang Iswanto
Media Akuakultur Vol 8, No 2 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.813 KB) | DOI: 10.15578/ma.8.2.2013.85-95

Abstract

Lele dumbo merupakan salah satu ikan lele unggul yang budidayanya pernah mengalami perkembangan pesat di Indonesia. Secara umum, ikan lele dumbo dipercaya sebagai ikan lele hibrida hasil hibridisasi antara spesies ikan lele Afrika Clarias gariepinus dengan spesies ikan lele Taiwan C. fuscus. Tetapi, secara morfologis tampaknya ikan lele dumbo tidak berbeda dari strain-strain ikan lele Afrika C. gariepinus yang berikutnya diintroduksi ke Indonesia, sehingga para praktisi perikanan juga menduga bahwa ikan lele dumbo sebenarnya merupakan spesies ikan lele Afrika C. gariepinus. Dengan demikian, identitas ikan lele dumbo tetaplah belum jelas. Hal tersebut dikarenakan belum adanya penelitian yang mengeksplorasi karakteristik ikan lele dumbo secara ilmiah. Makalah ini merupakan ulasan penelusuran identitas ikan lele dumbo berdasarkan publikasi-publikasi yang relevan. Berdasarkan tinjauan terhadap beberapa bukti publikasi dalam ulasan ini, terindikasi bahwa ikan lele dumbo bukanlah ikan lele hibrida hasil hibridisasi antara ikan lele C. gariepinus dengan C. fuscus, tetapi tampaknya lebih merupakan spesies ikan lele Afrika C. gariepinus. Namun demikian, hal tersebut masih merupakan suatu indikasi, sehingga diperlukan penelitian-penelitian lebih lanjut untuk memastikan hal tersebut.
PENGGUNAAN PHENOXY ETHANOL, SUHU DINGIN, DAN KOMBINASI SUHU DINGIN DENGAN PHENOXY DALAM PEMBIUSAN BANDENG UMPAN Suwardi Tahe
Media Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (35.438 KB) | DOI: 10.15578/ma.3.2.2008.133-136

Abstract

Usaha penangkapan tuna dan cakalang semakin berkembang dan penggunaan bandeng umpan hidup kian marak. Kendala dalam penanganan umpan hidup adalah penanganan sewaktu panen dan pengangkutan sampai ke lokasi penangkapan. Untuk itu telah dilakukan pengangkutan bandeng umpan dengan phenoxy ethanol (200 mg/L), suhu dingin (23°C), dan kombinasi suhu dingin dengan phenoxy ethanol dalam berbagai kepadatan yaitu 5, 10, dan 15 ekor/5L yang dirancang dengan acak lengkap pola faktorial masing-masing tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kepadatan yang baik adalah berkisar 5--10 ekor/5L dan pengangkutan dengan suhu dingin dan kombinasi suhu dingin dan phenoxy ethanol dapat diaplikasikan oleh pengguna, karena sintasan didapat antara 90%--100% dengan durasi sedatif 6 jam.
MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS LAHAN SAWAH IRIGASI MELALUI USAHATANI PADI-UDANG GALAH GI MACRO SISTEM TUMPANGSARI Tota Suhendrata
Media Akuakultur Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1824.082 KB) | DOI: 10.15578/ma.1.3.2006.119-124

Abstract

FILE LENGKAP LIHAT DI PDF