cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ma.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sungai Musi Km. 09 Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Akuakultur
ISSN : 19076762     EISSN : 25029460     DOI : 10.15578/ma
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 328 Documents
BUDIDAYA RUMPUT LAUT DALAM UPAYA PENINGKATAN INDUSTRIALISASI PERIKANAN Bambang Priono
Media Akuakultur Vol 8, No 1 (2013): (Juni 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.205 KB) | DOI: 10.15578/ma.8.1.2013.1-8

Abstract

Rumput laut (seaweed) merupakan salah satu komoditas potensial dan dapat dijadikan andalan bagi upaya pengembangan usaha skala kecil dan menengah yang sering disebut sebagai Usaha Kecil Menengah (UKM). Ini terjadi karena rumput laut sangat banyak manfaatnya, baik melalui pengolahan sederhana yang langsung dapat dikonsumsi maupun melalui pengolahan yang lebih kompleks, seperti produk farmasi, kosmetik, dan pangan, serta produk lainnya. Perairan Indonesia yang luasnya sekitar 70% dari wilayah Nusantara mempunyai potensi untuk usaha budidaya laut, termasuk di antaranya budidaya rumput laut. Jenis rumput laut yang mempunyai potensi untuk dibudidayakan adalah Eucheuma sp. dan Gracilaria sp. Upaya mengembangkan budidaya rumput laut jenis ini perlu dilakukan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitasnya, khususnya dalam rangka memenuhi permintaan industri. Tulisan ini membahas mengenai budidaya rumput laut yang sangat erat kaitannya dengan industri pengolahannya menjadi barang setengah jadi, yaitu tepung rumput laut atau biasa disebut “karaginan”, sebagai bahan baku industri produk farmasi dan lain sebagainya.
PROSPEK VAKSIN POLIVALEN UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT POTENSIAL PADA PERIKANAN BUDIDAYA Angela Mariana Lusiastuti; Taukhid Taukhid
Media Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.608 KB) | DOI: 10.15578/ma.4.1.2009.67-72

Abstract

Perkembangan vaksin pada ikan masih dalam tahap penelitian. Rencana strategis untuk pengembangan vaksin oleh peneliti merupakan pola dari riset yang dilakukan. Identifikasi antigen yang bersifat protektif, metode untuk produksi antigen protektif dalam kultur mikroba, metode bagaimana merubah bentuk antigen protektif menjadi bersifat imunogenik, merupakan tiga tahap yang dilakukan dalam riset tentang vaksin. Vaksin polivaleni adalah bentuk vaksin generasi baru yang memberikan perlindungan terhadap dua atau tiga penyakit pada saat yang sama jika dibandingkan dengan aplikasi satu atau dua vaksin secara terpisah. Keuntungan dari strategi ini adalah: sedikit jarum yang diinjeksikan, berkurangnya prosedur tata laksana, dan sumber daya manusia (SDM) yang digunakan. Dalam makalah ini juga dibahas keuntungan dan kerugian penggunaan vaksin polivalen serta tahap-tahap produksi vaksin tersebut.
VARIASI GENETIK IKAN JELAWAT HASIL BUDIDAYA DAN TANGKAPAN ALAM DI PONTIANAK DENGAN MENGGUNAKAN MARKER DNA-RAPD (RANDOM AMPLIFIED POLYMORPHISM DNA) Estu Nugroho; Sri Sundari; Nunung Nur Rachman
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.326 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.115-117

Abstract

Evaluasi variasi genetik ikan jelawat yang dikoleksi dari alam dan kegiatan budidaya telah dilakukan dengan menggunakan marker RAPD. Sampel berupa sirip dari kedua stok tersebut diekstraksi dan diamplifikasi dengan menggunakan primer OPA 1-20. Secara genetik tidak terdapat perbedaan yang nyata antara kedua stok ikan jelawat yang diuji. Tingkat heterozigositas berdasarkan 2 primer RAPD (OPA 2 dan OPA 3) adalah 0,1450 terdapat pada ikan jelawat hasil tangkapan alam sedangkan pada ikan jelawat hasil budidaya adalah 0,1350. Jarak genetik Nei antara keduanya adalah 0,3881.
POTENSI PENGEMBANGAN CACING LAUT (POLYCHAETA) SEBAGAI SUMBER PAKAN INDUK UDANG WINDU DI KABUPATEN BARRU, SULAWESI SELATAN Joni Haryadi; Rasidi Rasidi
Media Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.064 KB) | DOI: 10.15578/ma.7.2.2012.92-98

Abstract

Permintaan terhadap cacing laut sebagai sumber pakan induk terus meningkat. Sementara ketersediaan cacing di habitatnya sudah mulai menurun. Hal ini disebabkan telah rusaknya ekosistem pantai terutama mangrove akibat dikonversi lahan mangrove menjadi lahan budidaya tambak. Untuk itu, kajian potensi terhadap potensi cacing laut di perairan pantai. Kabupaten Barru menjadi hal menarik karena diharapkan dapat memberikan gambaran terhadap kondisi terkini dari populasi dan habitat serta jumlah kebutuhan hatceri terhadap cacing sebagai sumber pakan broodstock udang. Kegiatan ini dilakukan dengan metode survai dengan teknik purposive sampling method dan intervews dengan responden yang terdiri atas pemilik hatcheri, penjual cacing, dan penangkap cacing laut. Survai dilakukan pada tanggal 11-12 April 2012 di Desa Mallawa dan Ujung Labua Kecamatan Mallusetasi Kabupaten Barru. Hasil survai menunjukkan bahwa umumnya hatcheri di Kabupaten Barru menggunakan cacing laut sebagai pakan induk udang. Jumlah populasi cacing sedikit menurun, terutama di kawasan habitat yang berpasir dibandingkan dengan habitat cacing yamg berada di bawah tegakan mangrove.
MONITORING PERIKANAN TAMBAK DENGAN MENGGUNAKAN DATA PENGINDERAAN JAUH DI KABUPATEN KARAWANG, JAWA BARAT I Nyoman Radiarta; Achmad Sudradjat; Lies Emmawati Hadie
Media Akuakultur Vol 2, No 1 (2007): (Juni 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1545.662 KB) | DOI: 10.15578/ma.2.1.2007.189-192

Abstract

Data penginderaan jauh telah digunakan secara efektif pada penelitian ini untuk menampilkan perkembangan perikanan tambak berdasarkan distribusi dan luasannya di kawasan Pantai Utara Jawa, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Distribusi dan perubahan lahan tambak diperoleh dengan cara mendigitasi citra satelit untuk tiga waktu berbeda yaitu tahun 1989, 1999, dan 2004. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa luasan tambak terbesar ditemukan di Kecamatan Batujaya. Sedangkan dari segi perkembangan lahan tambak, Kecamatan Cibuaya merupakan kecamatan yang tergolong pesat untuk perkembangan lahan tambak dengan luasan sekitar 2.358 ha dari tahun 1989 sampai tahun 2004. Secara keseluruhan peningkatan lahan tambak di Kabupaten Karawang dari tahun 1989 sampai tahun 2004 mencapai 8.022 ha.
IKAN HIAS AIR TAWAR EKSPOR INDONESIA Darti Satyani; I Wayan Subamia
Media Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.724 KB) | DOI: 10.15578/ma.4.1.2009.1-17

Abstract

Spesies ikan hias air tawar dari Indonesia yang diekspor oleh para eksportir terutama dari daerah Jabodetabek sangat banyak. Pasar ekspor merupakan pasar terbesar untuk ikan hias Indonesia. Negara tujuan ekspor hampir ke seluruh dunia, mulai dari Eropa, Amerika, Australia, Jepang, Cina, Hongkong, Singapura bahkan Timur Tengah seperti Iran dan Arab Saudi. Nilai ekspor yang tercatat pada tahun 2000 masih sekitar 4 juta dollar namun tahun 2003 sudah mencapai sekitar 15 juta dollar US versi Badan Pengembangan Ekspor Nasional, dan tahun 2006 sudah dicapai 130 juta dollar US. Walaupun demikian menurut versi BPEN pula Indonesia baru mengisi 9% pasar di Eropa dan 6% ke Amerika, sementara Singapura mengisi 25% dan 30%-nya. Ikan ekspor ini terdiri atas spesies-spesies ikan yang berasal dari perairan Indonesia sendiri dan ikan introduksi dari perairan negara lain seperti Amerika Selatan, Afrika, dan AsiaTenggara lainnya. Produk didapatkan dari hasil tangkapan alam maupun dari hasil budidaya. Beberapa merupakan ikan yang di re-ekspor dari negara asal ke negara pengimpor. Data jenis ikan yang telah dibuat dalam bentuk tabulasi didasarkan dari asal ikan didapatkan dari list beberapa eksportir yang berada di daerah Jakarta, Bogor, Bekasi, dan Depok. Dari data tersebut ternyata ikan asli perairan Indonesia masih banyak yang diambil dari alam (tangkapan), dan ikan introduksi yang masuk dan dibudidayakan disini justru lebih banyak.
EKSISTENSI INDUSTRI TEPUNG IKAN DI KOTA TEGAL, JAWA TENGAH Erlania Erlania
Media Akuakultur Vol 7, No 1 (2012): (Juni 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.983 KB) | DOI: 10.15578/ma.7.1.2012.39-43

Abstract

Ketergantungan industri pakan ikan terhadap bahan baku impor, termasuk tepung ikan, menyebabkan harga pakan ikan menjadi mahal, sementara produksi tepung ikan lokal belum dapat memenuhi kebutuhan industri pakan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Kota Tegal, Jawa Tengah merupakan daerah penghasil ikan dengan hasil tangkapan yang masih berlimpah, sehingga di daerah ini industri tepung ikan cukup berkembang walaupun masih dengan teknologi yang sangat sederhana. Industri tepung ikan yang berkembang di kawasan pengolahan ikan di pelabuhan perikanan Kota Tegal ini menggunakan bahan baku yang berasal dari limbah industri fillet berupa kepala, tulang, kulit, sisik, jeroan, dan sisa sisa daging ikan yang menempel pada tulang. Kekurangan dari tepung ikan lokal, termasuk dari Tegal umumnya memiliki kualitas rendah dengan kandungan protein antara 37%-38% dan kadar abu yang cukup tinggi yaitu 42%-44% (tidak memenuhi standar mutu tepung ikan berdasarkan SNI 01-2715-1996/Rev. 92). Hal ini disebabkan karena rendahnya kualitas bahan baku yang digunakan. Agar produk tepung ikan lokal dapat bersaing dengan tepung ikan impor, maka perlu adanya upaya peningkatan kualitas tepung ikan melalui penggunaan bahan baku dan penerapan teknologi yang lebih baik, sehingga dapat mereduksi penggunaan tepung ikan impor khususnya dalam industri pakan ikan.
CAWING HIDUNG, Schismatorhynchos heterorhynchos IKAN ASLI INDONESIA YANG HARUS MENDAPAT PERHATIAN Sudarto Sudarto; Rachmatika Rachmatika
Media Akuakultur Vol 2, No 1 (2007): (Juni 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4677.262 KB) | DOI: 10.15578/ma.2.1.2007.161-163

Abstract

Ikan cawing hidung (Schismatorhynchos heterorhynchos) merupakan ikan asli Indonesia termasuk golongan cyprinidae yang sudah sangat langka dijumpai di daerahnya yaitu pegunungan di Sumatera Selatan. Ikan ini mempunyai ciri bagian mulut dan hidung yang bercabang. Jika ikan ini dapat didomestikasi, maka ikan ini berpotensi untuk dijadikan ikan hias yang dapat dijual dengan nilai yang tinggi karena kekhasan tersebut dan warnanya yang cantik.
SELEKSI KLON BIBIT RUMPUT LAUT, Gracilaria verrucosa Petrus Rani Pong-Masak; Bambang Priono; Irsyaphiani Insan
Media Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (Desember 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3343.731 KB) | DOI: 10.15578/ma.6.1.2011.1-12

Abstract

Upaya peningkatan produksi rumput laut juga tidak terlepas dari permasalahan, yaitu:ketersediaan bibit unggul dalam jumlah yang cukup, adanya serangan  hama dan penyakit, dan faktor pembatas musim tanam. Bibit rumput lautunggul dapat diperoleh dengan menggunakan metode seleksi klon dan   bioteknologi (kultur jaringan dan rekayasa gen). Seleksi klon/massa dapat dilakukan dengan mudah dan dapat menghasilkan varietas bibit unggul dalampertumbuhan relatif cepat, daya tahan terhadap penyakit, dan lingkungan, serta keunggulan spesifik lokasi/kawasan. Keberhasilan budidaya rumput laut sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Karena itu, kegiatan pemilihan bibityang berupa pelaksanaan seleksi klon harus memperhatikan faktor lingkungan perairan. Variasi kondisi lingkungan perairan di Indonesia yang relatif besar, maka pelaksanaan seleksi klon/massa sangat dianjurkan untuk dilakukandi setiap sentra produksi rumput laut. Tujuan seleksi klon ini adalah untuk mendapatkan bibit unggul varietas rumput laut Gracilaria verrucosa yang cepat pertumbuhannya. Sasaran penerapan metode seleksi klon ini adalah penyediaan bibit unggul untuk mendukung target peningkatan produksi. Selain itu, sasaran dari seleksi klon/ massa adalah penyediaan bibit untuk mendukung pengembangan kebun bibit di setiap sentra produksi.
PENGEMBANGAN BIBIT RUMPUT LAUT Gracilaria sp. HASIL KULTUR JARINGAN Sri Redjeki Hesti Mulyaningrum; Rohama Daud
Media Akuakultur Vol 9, No 1 (2014): (Juni 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1440.823 KB) | DOI: 10.15578/ma.9.1.2014.13-18

Abstract

Abstrak lengkap dapat dilihat pada Full PDF Ketersediaan bibit rumput laut untuk menunjang kegiatan budidaya yang berkelanjutan merupakan hal yang tidak dapat diabaikan. Dengan kultur jaringan, penyediaan bibit rumput laut unggul untuk kegiatan budidaya diharapkan dapat dilakukan secara kontinu. Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Maros telah mengembangkan bibit rumput laut hasil kultur jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai potensi pengembangan bibit rumput laut hasil kultur jaringan sehingga dapat digunakan dalam kegiatan budidaya.

Page 4 of 33 | Total Record : 328