cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ma.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sungai Musi Km. 09 Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Akuakultur
ISSN : 19076762     EISSN : 25029460     DOI : 10.15578/ma
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 328 Documents
PENYEBAB, DAMPAK, DAN MANAJEMEN PENYAKIT KARANG DI EKOSISTEM TERUMBU KARANG Ofri Johan
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.172 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.144-152

Abstract

Penelitian tentang penyakit karang sudah berkembang dan banyak peneliti yang menekuninya di negara asing, namun berbeda dengan di negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan sebagian besar pulaunya memiliki karang, malah belum ada penelitian dan data tentang penyakit karang, kalaupun ada baru dimulai pada 1 atau 2 lokasi dengan peneliti yang menekuni 1 atau 2 orang saja se-Indonesia. Berbagai faktor lingkungan sebagai penyebab terjadinya penyakit karang di antaranya disebabkan oleh faktor abiotik yaitu oleh stres temperatur, sedimentasi, zat kimia, nutrien tidak seimbang, radiasi ultra-violet, dan faktor biotik seperti predasi, kompetisi dengan alga, dan terinfeksi penyakit. Banyak informasi yang akan dibahas pada tulisan ini sebagai pengantar untuk memahami penyakit karang di antaranya tentang faktor penyebab, jenis, dan dampak penyakit, penelitian di Indonesia, dan manajemen serta pengelolaan yang perlu dilakukan apabila terjadi serangan penyakit di suatu ekosistem terumbu karang.
RUMPUT LAUT JENIS CAULERPA DAN PELUANG BUDI DAYANYA DI SULAWESI SELATAN Petrus Rani Pong-Masak; Abdul Mansyur; Rachmansyah Rachmansyah
Media Akuakultur Vol 2, No 2 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9085.858 KB) | DOI: 10.15578/ma.2.2.2007.80-85

Abstract

Caulerpa merupakan salah satu komoditas rumput laut yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat secara langsung sebagai makanan dalam bentuk lalapan dan sayuran. Di Sulawesi Selatan, Caulerpa yang dipanen dari laut sangat digemari bahkan telah diproduksi melalui usaha budi daya pada tambak-tambak terlantar di pinggir pantai. Produksi Caulerpa telah menjadi komoditas yang bernilai ekonomi dan diperjualbelikan di pasarpasar lokal dan telah menjadi sajian menu khas di sejumlah restoran menengah. Studi awal telah dilakukan di wilayah pesisir Sulawesi Selatan, yaitu untuk pengamatan lahan budi daya serta analisis proksimat terhadap spesies Caulerpa lentillifera, Caulerpa recemosa var macrophysa, dan Caulerpa sp. di tambak dan pantai. Terlihat bahwa kandungan air 3,09±1,03; abu 60,67±2,62; lemak 0,39±0,33; protein 7,93±2,32; serat kasar 13,33±8,33; dan BETN 17,67±3,88. Tekstur tanah dengan debu berpasir atau pasir berdebu cocok untuk budi daya Caulerpa, di mana budi daya dengan penerapan metode long-line kurang produktif.
KAJIAN LAPANG BUDIDAYA KERAMBA JARING APUNG IKAN NILA “MANDIRI” DI WADUK CIRATA DAN JATILUHUR Estu Nugroho
Media Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (Desember 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.661 KB) | DOI: 10.15578/ma.6.1.2011.54-58

Abstract

Budidaya ikan nila berkembang sebagai agribisnis yang menguntungkan. Sentra budidaya ikan nila di Jawa Barat terdapat di Waduk Jatiluhur dan Cirata. umumnya budidaya ikan nila dilakukan melalui sistem “kolor” yaitu memelihara ikan nila di bagian bawah KJA sedangkan di atas dipelihara ikan mas (ikan nila tidak diberi pakan langsung). Pada sistem ini ketergantungan budidaya ikan nila terhadap ikan mas sangat besar. Dewasa ini pemeliharaan ikan mas di keramba jaring apung (KJA) semakin berkurang sebagai akibat dari wabah penyakit oleh koi herpesvirus (KHV), keadaan ini juga turut mempengaruhi budidaya ikan nila di bawahnya, di mana petani tidak lagi memelihara ikan nila sebagai ikan “ikutan”. Kajian lapang yang melihat kemungkinan ikan nila dipelihara secara “mandiri” di KJA telah dicoba di Waduk Jatiluhur dan Cirata. Kesinambungan bisnis ikan nila di Waduk Jatiluhur dan Cirata dapat dilakukan dengan menggunakan sistem peme-liharaan model mandiri dengan kepadatan 30 ekor/m2 dengan jaminan harga jual ikan nila di atas Rp 11.000,-/kg
POTENSI TANAMAN MANGROVE DAN ASOSIASINYA SEBAGAI PENGHASIL ANTIOKSIDAN PADA BUDIDAYA PERIKANAN Muliani Muliani; Muharijadi Atmomarsono
Media Akuakultur Vol 9, No 1 (2014): (Juni 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2003.595 KB) | DOI: 10.15578/ma.9.1.2014.49-55

Abstract

Abstrak lengkap dapat dilihat pada Full PDF Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi tanaman mangrove sebagai penghasil bahan antioksidan pada budidaya perikanan.
IDENTIFIKASI DNA DENGAN MENGGUNAKAN PCR: MARKER DNA SEBAGAI ALAT BANTU DALAM PENGELOLAAN STOK INDUK UNTUK KEGIATAN BUDI DAYA DAN KONSERVASI Estu Nugroho
Media Akuakultur Vol 2, No 2 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.512 KB) | DOI: 10.15578/ma.2.2.2007.91-94

Abstract

Metode PCR (Polymerase Chain Reaction) telah banyak digunakan dalam membantu pengelolaan bidang perikanan, baik untuk kegiatan budi daya maupun konservasi. Berdasarkan data yang dihasilkan maka masalah-masalah dalam penge-lolaan suatu stok, depresi inbreeding, variasi genetik suatu populasi maupun penelusuran garis keturunan segera dapat diatasi dengan baik.
SPESIES ASING SEBAGAI SALAH SATU PEMBATAS DALAM BUDIDAYA COPEPODA PADA BAK TERKONTROL Media Fitri Isma Nugraha; Gede Suwarthama Sumiarsa
Media Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.196 KB) | DOI: 10.15578/ma.4.1.2009.45-49

Abstract

Copepoda adalah golongan crustacean yang dapat dijadikan sebagai pakan alami untuk larva ikan. Secara umum copepoda tergolong dalam empat ordo yaitu Calanoida, Cyclopoida, Harpacticoida, dan Monstrilidae. Di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol, Copepoda yang dibudidayakan adalah jenis Harpacticoida yaitu Tisbe sp. yang pemeliharaannya dikerjakan dalam bak terkontrol. Copepod ini diberi pakan berupa fitoplankton, scoot’s emulsion, pelet ikan, dan ragi, serta sedikit penambahan probiotik. Pembatas selama budidaya adalah sulitnya produksi naupli copepoda secara massal, hal ini dikarenakan waktu bertelur yang tidak seragam antara individu copepoda, sehingga tidak bisa ditentukan waktu yang tepat untuk panen nauplii secara besarbesaran. Pembatas kedua adalah lambatnya reproduksi copepoda yaitu 14 hari jika dibandingkan dengan rotifer yang hanya dua hari. Pembatas ketiga adalah adanya spesies asing atau predator yang menyerang copepoda pada kondisi tertentu, seperti tingginya nutrisi pakan pada bak pemeliharaan.
aplikasi protein sel tunggal dan “spent grains” dalam FORMULASI PAKAN untuk pemeliharaan kerapu hibrid (Epinephelus fuscoguttatus x Epinephelus polypekadion) Wawan Andriyanto; Nyoman Adiasmara Giri; Muhammad Marzuqi
Media Akuakultur Vol 13, No 1 (2018): (Juni, 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.642 KB) | DOI: 10.15578/ma.13.1.2018.41-47

Abstract

Sumber protein alternatif berupa protein sel tunggal (PST) dari sisa produksi bumbu penyedap dan “spent grains” dari sisa produksi minuman bir memiliki kandungan protein yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis terbaik dari penggunaan dua sumber bahan tersebut terhadap pertumbuhan dan sintasan ikan kerapu hibrid (kerapu cantik). Empat pakan uji diformulasikan dengan menambahkan kombinasi tepung spent grains dan PST untuk menggantikan protein dari tepung ikan sebesar (A) 0%, (B) 30%, (C) 40%, dan (D) 50%. Uji pakan dilakukan di keramba jaring apung menggunakan 12 jaring berukuran 2 m x 2 m x 2 m. Bobot awal ikan kerapu cantik yang digunakan adalah 63 ± 0,6 g dan ditebar dengan kepadatan 253 ekor/jaring. Pakan uji diberikan dua kali sehari secara satiasi. Data yang diamati adalah pertumbuhan (bobot dan panjang), sintasan, dan konversi pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pakan A (0%) menghasilkan berat akhir sebesar 299,6 ± 27,0 g lebih baik dan berbeda nyata (P<0,05) dari perlakuan C (40%) dan D (50%), namun tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan perlakuan pakan B (30%), yaitu 287,4 ± 5,3 g. Hasil ini menunjukkan bahwa substitusi protein tepung ikan dengan campuran protein dari PST dan spent grains pada pakan pembesaran kerapu hibrid dapat dilakukan sampai level 30%.Single cell protein left-over from seasoning factory and spent grains from brewery waste are potential as high protein sources for animal feed. This study was aimed to obtain an optimal supplementation dose of the two ingredients in relation to the growth and survival rate of hybrid grouper (Cantik grouper). Four test feeds were formulated by mixing different combinations of single cell protein and spent grains to replace fishmeal protein content in the feed at 0%, 30%, 40%, and 50%. The feeding trials were conducted at a floating net cage consisted of 12 netpens sized 2 m x 2 m x 2 m. The initial mean weight of hybrid grouper was 63 ± 0.6 g. The fish were stocked at a density of 253 fish/netpen. Feed treatments were given at satiation two times a day. Parameters of growth (final body weight and length), survival rate, and feed conversion were observed. The results showed that fish in treatment A (0%) gained the final body weight of 299.6 ± 27.01 g which was significantly different (P<0.05) with that of treatment C and D, but not significantly different with fish in treatment B (30%), with the mean weight gain of 287.4 ± 5,3 g. Fish in treatment B (30%) showed better growth response and survival rate than that of treatment C (40%) and D (50%). The result also indicated that fish fed with treatment B feed (30%) had not different a mean final body weight with the control feed. This study suggested that a combination of single cell protein and spent grains to substitute fish meal in grow-out feed for hybrid grouper could be applied up to 30%.
BUDIDAYA UDANG VANAME SISTEM BIOFLOK Brata Pantjara; Agus Nawang; Usman Usman; Rachman Syah
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1507.452 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.93-97

Abstract

Problem utama pada budidaya tambak udang intensif adalah menurunnya kualitas air yang layak selama pemeliharaan udang dan munculnya penyakit. Upaya mengurangi permasalahan tersebut adalah pemanfaatan bioflok di tambak. Bioflok merupakan campuran dari berbagai mikroba, fitoplankton, zooplankton, protozoa, detritus, partikel organik. Teknologi bioflok dapat meningkatkan kualitas air, meminimalkan pergantian air (tanpa pergantian air), efisiensi pakan, dan menghambat berkembangnya penyakit selama budidaya. Budidaya udang vaname intensif sistem bioflok dengan padat penebaran 100 ekor/m2 selama 95 hari diperoleh produksi sebesar 10,375 kg/ha (FCR 1,3) dan tanpa bioflok 9,176 kg/ha (FCR 1,6).
PERFORMANSI INSTALASI PENGOLAH AIR LIMBAH TAMBAK SUPERINTENSIF Rachman Syah; Mat Fahrur; Hidayat Suryanto Suwoyo; Makmur Makmur
Media Akuakultur Vol 12, No 2 (2017): (Desember, 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.745 KB) | DOI: 10.15578/ma.12.2.2017.95-103

Abstract

Pengolahan air buangan tambak superintensif (TSI) adalah usaha untuk mengurangi beban bahan pencemar yang terkandung di dalam air buangan TSI sehingga aman dan tidak membahayakan saat dibuang ke lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi desain dan performansi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dalam memperbaiki kualitas air buangan TSI sebelum dibuang ke badan air. IPAL terdiri atas kolam sedimentasi, dua kolam aerasi, dan satu kolam penampungan. Ke dalam kolam penampungan ditebari ikan mujair serta rumput laut Gracilaria sp. yang dibudidayakan dengan metode long line, berfungsi sebagai biokontrol. Sampel air diambil di bagian inlet IPAL, oulet kolam sedimentasi atau inlet kolam aerasi-1, outlet kolam aerasi-1 atau inlet kolam aerasi-2, outlet kolam aerasi-2 atau inlet kolam penampungan, serta outlet kolam penampungan, setiap dua minggu selama 105 hari pemeliharaan. Parameter yang diukur adalah total padatan tersuspensi (TSS), total amonia nitrogen (TAN), nitrit, nitrat, fosfat, bahan organik terlarut (BOT), dan biological oxygen demand (BOD-5). Spesifikasi teknis IPAL yang diamati meliputi ukuran dan volume IPAL, volume dan waktu tinggal air buangan tambak, dan efisiensi kinerja IPAL, serta rasio volume IPAL dan volume total air tambak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IPAL dapat mengurangi beban bahan pencemar dengan tingkat efisiensi antara 53,1%-99,4%; namun masih diperlukan peningkatan kapasitas dalam mengurangi konsentrasi BOT. IPAL menghasilkan efisiensi yang tinggi terhadap TSS, TAN, nitrit, Total Nitrogen (TN), dan fosfat. Rasio volume IPAL dan volume air tambak 30:70 dengan waktu tinggal minimal lima hari, dapat dijadikan acuan dalam pembangunan IPAL tambak superintensif.A wastewater treatment plant (WTP) in a super-intensive shrimp farm is used to reduce organic matters contained in super-intensive shrimp farm effluent. Through the WTP, the waste water from shrimp facilities can safely and harmlessly be released to the receiving environments. The aims of this study were to evaluate the design and performance of a WTP in reconditioning waste water released from a super-intensive shrimp farm prior to release to water bodies. The WTP was made of a series of sedimentation pond, two aeration ponds, and one reservoir or equalitation pond. The tilapia fish and seaweed, Gracilaria sp., were stocked in the equalitation pond where the seaweed was cultured using long line method; these organisms were used as bio-control. Water samples were collected fortnightly during 105 days of culturing duration from the WTP inlet, outlet of sedimentation pond or at inlet of the first aeration pond; outlet of the first aeration pond or inlet of the second aeration pond, outlet of the second aeration pond or inlet of equalitation pond and the outlet of equalitation pond. The measured variables were total suspended solid (TSS), total ammonia nitrogen (TAN), nitrite, nitrate, phosphate, total organic matters (TOM), and five days biological oxygen demand (BOD5). The evaluated technical performances of the plant were its size and volume; volume and retention time of effluent, efficiency of WTP performance and volume ratios of the WTP and total volume of shrimp pond. The results of the study indicated that the WTP was able to reduce concentrations of nutrients and solids in effluent by 53.1%-99.4% of efficiency. However, its capacity need to be increased due to reducing concentrations of TOM. The WTP was highly efficient in reducing the concentrations of TSS, TAN, nitrite, total N, and phosphate. The volume ratios between the plant and pond waters were 30:70 with minimum retention time five which days could be proposed for wastewater treatment pond for super-intensive shrimp ponds.
PEMANFAATAN TAMBAK UDANG “IDLE” UNTUK PRODUKSI KEPITING CANGKANG LUNAK (soft shell crab) Yohanna R. Widyastuti; Husni Husni
Media Akuakultur Vol 2, No 1 (2007): (Juni 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1408.927 KB) | DOI: 10.15578/ma.2.1.2007.169-172

Abstract

Tambak udang idle (yang diterlantarkan) dapat dimanfaatkan untuk budi daya kepiting bakau (Scylla sp.) untuk memproduksi kepiting cangkang lunak (soft shell crab). Survai dilakukan di tambak milik Balai Budidaya Air Payau, Nangroe Aceh Darussalam (NAD) pada bulan Maret-Juni 2006. Hasil yang diperoleh adalah kepiting cangkang lunak yang permintaannya terus meningkat dapat diproduksi di tambak tersebut dengan cara sederhana dan mudah dilakukan.

Page 6 of 33 | Total Record : 328