cover
Contact Name
Nurjazuli
Contact Email
nurjazulifkmundip@gmail.com
Phone
+6282133023107
Journal Mail Official
jkli@live.undip.ac.id
Editorial Address
Faculty of Public Health, Diponegoro University Jl. Prof. Soedarto, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Central Java, Indonesia 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Lingkungan indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124939     EISSN : 25027085     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia (JKLI, p-ISSN: 1412-4939, e-ISSN:2502-7085, http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli) provides a forum for publishing the original research articles related to: Environmental Health Environmental Epidemiology Environmental Health Risk Assessment Environmental Health Technology Environmental-Based Diseases Environmental Toxicology Water and Sanitation Waste Management Pesticides Exposure Vector Control Food Safety
Articles 478 Documents
Analisis Korelasi Faktor Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Personal Hygiene pada Pengangkut Sampah Motor Viar di Kecamatan Manggala Makassar M. Anas; Nurul Mawaddah Syafitri; Deasi Pratami
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 25, No 3 (2026): Oktober 2026
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.79904

Abstract

Latar belakang: Personal hygiene merupakan aspek penting dalam menjaga kesehatan pekerja, terutama bagi pengangkut sampah yang rentan terhadap paparan limbah dan agen penyakit. Meskipun pengetahuan dan sikap terhadap personal hygiene berperan dalam membentuk perilaku kerja aman, implementasinya masih menghadapi berbagai kendala di lapangan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui korelasi antara faktor pengetahuan, sikap, dan tindakan personal hygiene pada pengangkut sampah motor Viar di Kecamatan Manggala, Makassar.Metode: Penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi sebanyak 79 pekerja pengangkut sampah motor Viar diambil secara total sampling. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Manggala, Makassar Sulawesi Selatan. Waktu penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 9 Juni- 9 Juli 2025. Data dikumpulkan melalui kuesioner, observasi, dan wawancara, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dengan aplikasi Jamovi 2.26.44.Hasil: Mayoritas responden memiliki pengetahuan baik (68,4%) dan sikap baik (64,6%), namun tindakan baik hanya sebesar 49,4%. Terdapat korelasi sangat kuat antara pengetahuan dan sikap (r = 0.861; p < 0.001), namun tidak ditemukan korelasi signifikan antara pengetahuan dan tindakan (r = 0.127; p = 0.263) maupun sikap dan tindakan (r = 0.096; p = 0.398).Simpulan: Pengetahuan dan sikap yang baik tidak serta-merta menghasilkan tindakan personal hygiene yang optimal. Diperlukan pendekatan promotif dan fasilitatif yang lebih intensif untuk menjembatani kesenjangan antara sikap dan perilaku kerja aman.ABSTRACT Correlation Analysis of Knowledge Factors, Attitudes and Personal Hygiene Actions in Viar Motorcycle Waste Carriers in Manggala District Makassar Background: Personal hygiene is an important aspect in maintaining worker health, especially for waste transporters who are vulnerable to exposure to waste and disease agents. Although knowledge and attitude towards personal hygiene play a role in shaping safe work behavior, its implementation still faces various obstacles in the field. The objectives of this research are to determine the correlation between knowledge, attitude, and personal hygiene behavior among Viar motorcycle waste carriers in Manggala Subdistrict, MakassarMethod: Descriptive observational research with a quantitative approach. The population of 79 workers transporting Viar motorcycle waste was taken by total sampling. This research was conducted in Manggala District, Makassar, South Sulawesi. This research was conducted on June 9-July 9, 2025. Data were collected through questionnaires, observations, and interviews, then analyzed using the Pearson correlation test with the Jamovi 2.26.44 application.Result: The majority of respondents had good knowledge (68.4%) and good attitude (64.6%), but only 49.4% had good action. There was a very strong correlation between knowledge and attitude (r = 0.861; p < 0.001), but no significant correlation between knowledge and action (r = 0.127; p = 0.263) or attitude and action (r = 0.096; p = 0.398).Conclusion: Good knowledge and attitude do not necessarily result in optimal personal hygiene actions. A more intensive promotive and facilitative approach is needed to bridge the gap between attitude and safe work behavior.
Hubungan Tingkat Pengetahuan, Sikap, Perilaku, Kemauan Dan Kemampuan Membayar Masyarakat Terhadap Sarana Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Di Desa Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya Tahun 2025 Salbiah K; Susilawati Susilawati; Jaleha Jaleha
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 25, No 3 (2026): Oktober 2026
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.82343

Abstract

Latar belakang: Pengelolaan sampah rumah tangga yang tidak memenuhi syarat dapat meningkatkan pencemaran lingkungan dan risiko penyakit berbasis lingkungan. Secara nasional, timbulan sampah tahun 2023 mencapai 69,7 juta ton; di wilayah kerja Puskesmas Sungai Kakap tahun 2024 dilaporkan 1.124 kasus diare, 36 kasus DBD, dan 4 kasus kolera. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, perilaku, kemauan membayar (WTP), dan kemampuan membayar (ATP) masyarakat dengan kelayakan sarana pengelolaan sampah rumah tangga di Desa Sungai Kakap Tahun 2025.Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional) dilaksanakan Juli–November 2025 pada 99 responden menggunakan proportional systematic random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi, lalu dianalisis univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square serta ditampilkan Odds Ratio (OR) dan CI 95%.Hasil: Responden memiliki pengetahuan baik 55,6%, sikap kurang 56,6%, perilaku kurang 56,6%, WTP rendah 64,6%, dan ATP rendah 64,6%. Pengetahuan tidak berhubungan bermakna dengan kelayakan sarana (p=0,294; OR=1,7; CI 95%: 0,605–5,167). Sikap tidak berhubungan bermakna (p=0,534; OR=1,4; CI 95%: 0,497–3,849). Perilaku tidak berhubungan bermakna (p=0,534; OR=1,4; CI 95%: 0,497–3,849). WTP berhubungan bermakna dengan kelayakan sarana (p<0,001; OR=26,1; CI 95%: 5,501–123,886). ATP juga berhubungan bermakna (p<0,001; OR=26,1; CI 95%: 5,501–123,886).Simpulan: Kelayakan sarana pengelolaan sampah rumah tangga berhubungan bermakna dengan faktor pembiayaan, yaitu Kemauan Membayar (WTP) dan Kemampuan Membayar (ATP).ABSTRAKTitle: Association Of Knowledge, Attitudes, Practices, Willingness To Pay, And Ability To Pay With The Adequacy Of Household Waste Management Facilities In Sungai Kakap Village, 2025Background: Inadequate household waste management facilities may increase environmental pollution and environmental-related diseases. National waste generation in 2023 reached 69.7 million tons; in the Sungai Kakap Primary Health Center service area in 2024, 1,124 diarrhea cases, 36 dengue cases, and 4 cholera cases were reported. This study aimed to examine the association of knowledge, attitudes, practices, willingness to pay (WTP), and ability to pay (ATP) with the adequacy of household waste management facilities in Sungai Kakap Village in 2025.Method: A quantitative cross-sectional study was conducted from July to November 2025 among 99 respondents selected using proportional systematic random sampling. Data were collected using questionnaires and observation, and analyzed using univariate and Chi-square tests, with odds ratios (OR) and 95% confidence intervals (CI) reported.Result: Respondents had good knowledge (55.6%), while poor attitudes (56.6%) and poor practices (56.6%) were predominant; most had low WTP (64.6%) and low ATP (64.6%). Knowledge was not significantly associated with facility adequacy (p=0.294; OR=1.7; 95% CI: 0.605–5.167). Attitude was not significant (p=0.534; OR=1.4; 95% CI: 0.497–3.849). Practice was not significant (p=0.534; OR=1.4; 95% CI: 0.497–3.849). WTP was significantly associated with adequacy (p<0.001; OR=26.1; 95% CI: 5.501–123.886), and ATP was also significant (p<0.001; OR=26.1; 95% CI: 5.501–123.886).Conclusion: Facility adequacy was more strongly associated with financing factors (WTP and ATP) than with knowledge, attitudes, or practices. 
Interaksi Pajanan Timbal dan Nutrisi terhadap Kejadian Anemia pada Remaja Putri di Wilayah Industri Logam, Kabupaten Tegal ika esti anggraeni; Apoina Kartini; Yudhy Dharmawan; Onny Setiani
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 25, No 3 (2026): Oktober 2026
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.84807

Abstract

Latar belakang: Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di kawasan industri logam. Selain defisiensi zat besi, paparan timbal (Pb) diduga berkontribusi terhadap anemia melalui gangguan sintesis hemoglobin. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan asupan zat besi dan kadar timbal darah dengan kejadian anemia pada remaja putri di Kabupaten Tegal.Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional ini melibatkan 83 remaja putri yang dipilih secara purposive sampling. Kadar hemoglobin diperiksa menggunakan hematology analyzer (Mindray BC-5000) dengan metode Sodium Lauryl Sulfate (SLS), sedangkan kadar timbal (Pb) darah dianalisis menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom (AAS) (Shimadzu AA-7000). Asupan zat gizi diukur melalui 24-hour food recall dan dianalisis menggunakan NutriSurvey. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik.Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara asupan zat besi (p = 0,0001) dan kadar timbal dalam darah (p=0,002) dengan kejadian anemia. Berdasarkan analisis multivariat, asupan zat besi merupakan faktor dominan terhadap kejadian anemia (OR = 0,015; IK95% 0,002–0,088; p<0,001). Selain itu, kadar timbal dalam darah juga berhubungan secara signifikan dengan kejadian anemia (OR = 0,260; IK 95%: 0,112–0,600; p = 0,002). Temuan ini mengindikasikan bahwa kadar timbal yang rendah memberikan efek protektif, sehingga remaja dengan paparan timbal tinggi menanggung risiko anemia yang secara substansial lebih besar. Sebaliknya, variabel usia tidak menunjukkan korelasi yang bermakna terhadap kejadian anemia (p > 0,05).Simpulan: Asupan zat besi dan kadar timbal darah berhubungan signifikan dengan kejadian anemia, dengan asupan zat besi sebagai faktor dominan. Oleh karena itu, pencegahan anemia perlu dilakukan melalui peningkatan asupan zat besi dan pengendalian paparan timbal.ABSTRACT Title: The Interaction Between Lead Exposure and Nutritional Status on the Incidence of Anemia Among Adolescent Girls in a Metal Industrial Area of Tegal RegencyBackground: Anemia among adolescent girls remains a public health issue, particularly in industrial metal-processing areas. In addition to iron deficiency, lead (Pb) exposure contributes to anemia by disrupting hemoglobin synthesis. This study aimed to analyze the associations of iron intake and blood lead levels with the prevalence of anemia among adolescent girls in Tegal RegencyMethod: This observational, cross-sectional study involved 83 adolescent girls selected through purposive sampling. Hemoglobin levels were measured using a hematology analyzer (Mindray BC-5000) employing the sodium lauryl sulfate (SLS) method, while blood lead levels were analyzed using atomic absorption spectrophotometry (AAS) (Shimadzu AA-7000). Dietary intake was assessed using a 24-hour recall and analyzed with NutriSurvey software. Data were evaluated using chi-square tests and logistic regression.Result: Bivariate analysis revealed that both iron intake (p < 0.001) and blood lead levels (p = 0.002) were significantly associated with the prevalence of anemia. Multivariate analysis identified iron intake as the primary determinant of anemia (OR = 0.015; 95% CI: 0.002–0.088; p < 0.001). Furthermore, blood lead levels remained significantly associated with the prevalence of anemia (OR = 0.260; 95% CI: 0.112–0.600; p = 0.002). These findings suggest that lower lead levels exert a protective effect, indicating that adolescents with elevated lead exposure face a substantially greater risk of developing anemia. Conversely, age was not significantly associated with the prevalence of anemia (p > 0.05).Conclusion: Both iron intake and blood lead levels are significantly associated with the prevalence of anemia, with iron intake serving as the primary determinant. Consequently, anemia prevention strategies should focus on improving iron intake and controlling environmental lead exposure.
Persepsi Dan Penerimaan Masyarakat Pesisir Terhadap Penggunaan Larva Black Soldier Fly Pada Pengolahan Sampah Organik Erpina Santi Meliana Nadeak; Yuni Fitriani; Zainul Ikhwan; Veronika Amelia Simbolon; Nabila Yasmin Fakhira
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 25, No 3 (2026): Oktober 2026
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.83589

Abstract

Latar belakang: Sebagian besar timbulan sampah global didominasi oleh 44% sampah makanan, yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi. Di antara berbagai upaya pengelolaan sampah, biokonversi dengan larva Black Soldier Fly (BSF) terbukti efektif dalam mengurangi sampah organik dan menghasilkan produk samping yang menguntungkan. Namun, implementasi teknologi ini masih terbatas, sehingga diperlukan kajian mengenai persepsi dan penerimaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan persepsi serta penerimaan masyarakat pesisir pada pengolahan sampah organik rumah tangga menggunakan larva BSF.Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif untuk menyelidiki bagaimana hubungan antara persepsi dan penerimaan masyarakat pesisir terhadap pengolahan sampah organik dari rumah tangga menggunakan larva BSF. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner kepada tiga puluh orang yang dipilih secara acak sederhana. Uji korelasi Rank Spearman digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel. Uji ini dilakukan untuk mengevaluasi kekuatan dan arah hubungan antara indikator persepsi masyarakat dan tingkat penerimaan masyarakat.Hasil: Dengan koefisien korelasi 0,526 dan tingkat signifikansi (p-value) 0,003, hasil analisis bivariat menggunakan uji korelasi Rank Spearman menunjukkan adanya hubungan positif sedang antara persepsi masyarakat dan penerimaan masyarakat. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat persepsi masyarakat, maka semakin besar pula tingkat penerimaan terhadap pengelolaan sampah organik rumah tangga menggunakan larva BSF.Simpulan: Bahwa persepsi masyarakat memiliki korelasi positif sedang yang signifikan dengan tingkat penerimaan masyarakat terhadap pengolahan sampah organik rumah tangga menggunakan larva BSF, yang menunjukkan pentingnya persepsi dalam mendorong praktik pengelolaan sampah yang berkelanjutan. 
Kajian Kondisi dan Kinerja Sarana Sanitasi Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) di Kota Surabaya Meir Diana Kusumawati; Suryo Purwono; Muhammad Sulaiman
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 25, No 3 (2026): Oktober 2026
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.76880

Abstract

Latar belakang: Penyediaan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) merupakan alternatif hunian layak dan berkelanjutan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Pembangunan rusunawa di Kota Surabaya yang terdapat di dua puluh tiga lokasi, salah satu upaya Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh (RSDK). Sementara antrian untuk menempati rusunawa 10.518 kepala keluarga (KK) miskin. Indikator kinerja sarana sanitasi dalam standar pelayanan minimal harus bernilai 100%.  Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkaji ketersediaan, kondisi, dan kinerja sarana sanitasi serta faktor pendukungnya seperti penerapan aspek hunian berkelanjutan, peran kelembagaan dan masyarakat.Metode: Metode penelitan yang digunakan merupakan metode kualitatif. Penelitian didesain secara deskriptif kualitatif berdasarkan regulasi yang berlaku di Indonesia. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan observasi, untuk mengetahui kinerja sarana sanitasi menggunakan analisis laboratorium, pengukuran timbulan sampah rumah tangga, wawancara, dan FGD yang sekaligus untuk mengetahui aspek hunian berkelanjutan, peran kelembagaan, dan perilaku sanitasi penghuni. Rusunawa yang diteliti berjumlah lima yang mewakili bagian wilayah kota Surabaya dan rusunawa yang dibangun sejak 1983 – 2022. Sarana sanitasi sebagai variabel yang diteliti meliputi penyediaan air bersih, pengelolaan air limbah, persampahan, dan drainase. Pada indikator penerapan hunian berkelanjutan sebagai pendukung kinerja sarana sanitasi observasi dilakukan pada dimensi lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya. Penelitian dilakukan pada bulan Maret – Mei 2025.Hasil: Rusunawa Benowo-Pakal merupakan rusunawa terbaru yang dibangun pada tahun 2022 memenuhi 70,175% penerapan ketentuan ketersediaan dan kinerja sarana sanitasi serta 71,79% penerapan ketentuan hunian berkelanjutan, selanjutnya Rusunawa Keputih 65,517%  dan 61,54%, Rusunawa Siwalankerto 63,793% dan 66,67%, Rusunawa Randu 57,143% dan 58,97%, dan Rusunawa Urip Sumoharjo merupakan rusunawa tertua memenuhi ketentuan 46,55% dan 56,41%. UPTD Rusun sebagai lembaga pengelola dan Bidang Permukiman DPRKPP Kota Surabaya mendukung pengoperasian sarana sanitasi, pembangunan, serta pemeliharaannya. Penghuni telah berusaha menerapkan perilaku sanitasi meskipun belum optimal.Simpulan: Setiap rusunawa telah tersedia sarana sanitasi, tetapi kondisi dan kinerja serta permasalahannya berbeda-beda. Untuk mencapai kondisi dan kinerja sarana sanitasi serta ketersediaan pendukung hunian berkelanjutan mencapai 100% sesuai regulasi, dibutuhkan sinergi antara pengelola dan masyarakat. ABSTRACT Title: An Assessment of the Condition and Performance of Sanitation Facilities in Low-Cost Rental Apartments (Rusunawa) in Surabaya CityBackground: Low-Cost Rental Apartments is an alternative to decent and sustainable housing for Low-Income Communities. Rusunawa in Surabaya is located in twenty-three locations, is one of the efforts of Social Rehabilitation of Slum Areas. Surabaya  targets to increase access to safe sanitation in settlements.  Meanwhile, there is a waiting list for occupy 10,518 poor households. The performance indicator for sanitation facilities under the minimum service standards must be 100%. This paper aims to identify and examine the availability, condition, and performance of sanitation facilities, as well as supporting factors such as the implementation of sustainable housing practices and the roles of institutions and the community.Method: The research method used was a qualitative method. The study was designed as a descriptive qualitative study, based on regulations in Indonesia. Data collection procedures were conducted through observation, to assess the performance of sanitation facilities using laboratory analysis, measurement of household waste generation, interviews, and focus group discussions (FGDs), which were also used to examine aspects of sustainable housing, the role of institutions, and residents sanitation behaviors. A total of five Low-Cost Rental Apartments (Rusunawa) were studied, representing different parts of the city of Surabaya and built between 1983 and 2022. The sanitation facilities studied as research variables include clean water supply, wastewater management, solid waste management, and drainage. Regarding indicators of sustainable housing practices that support sanitation facility performance, observations were conducted environmental, social, economic, and cultural dimensions. The research was conducted from March to May 2025.Result: Rusunawa Benowo-Pakal is the newest rusunawa built in 2022 that meets 70.175% of the application of the provisions on the availability and performance of sanitation facilities and 71.79% of the application of sustainable occupancy provisions, then Rusunawa Keputih 65.517% and 61.54%, Rusunawa Siwalankerto 63.793% and 66.67%, Rusunawa Randu 57.143% and 58.97%, and Rusunawa Urip Sumoharjo is the oldest rusunawa that meets the provisions of 46.55% and 56.41%. UPTD Rusun as a management institution and the Settlement Division of DPRKPP Surabaya City support the operation of sanitation facilities, construction, and maintenance. Residents have tried to implement sanitation behavior even though it is not optimal.Conclusion: Each flat has sanitation facilities, but the conditions and performance as well as the problems are different. To achieve the condition and performance of sanitation facilities and the availability of sustainable housing supporters to reach 100% according to regulations, synergy between managers and the community is needed.
Digital Epidemiologi Pencarian Informasi, Penyakit, Gejala, Lingkungan, Perawatan dan Gaya Hidup sebagai Indikator Peringatan Dini Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut Iqbal Ardiansyah; Tri Cahyono; Ratih Lukmitarani; Saumi Anggit Musofi; Hari Rudijanto Indro W; Teguh Budi Prijanto; Rusyda Ihwani Tantia Nova
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 25, No 3 (2026): Oktober 2026
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.83899

Abstract

Latar belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tetap menjadi tantangan morbiditas utama di kawasan urban padat seperti DKI Jakarta, yang diperburuk oleh polusi udara. Studi epidemiologi digital ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan data Google Trends dari berbagai domain kueri sebagai instrumen peringatan dini (early warning system) komplementer untuk memprediksi insiden ISPA, sekaligus menganalisis kekuatan korelasi dan jeda waktu (temporal lag) antara perilaku pencarian informasi spesifik dengan insiden yang terjadi.Metode: Penelitian observasional retrospektif ini membandingkan data mingguan rawat jalan ISPA di Jakarta 2023–2024 dengan Volume Pencarian Relatif (RSV) Google Trends. Kueri diklasifikasikan ke dalam lima domain, di antaranya adalah penyakit, gejala, lingkungan, perawatan dan gaya hidup. Analisis dilakukan menggunakan regresi linier sederhana dan uji korelasi Spearman dengan jeda waktu (time-lag) -3 hingga +3 minggu.Hasil: Kueri spesifik gejala (Batuk) dan pengobatan (Obat Batuk) terbukti bersifat reaktif, memuncak satu minggu setelah lonjakan kasus aktual (Lag +1). Sebaliknya, kueri lingkungan (Air Quality Index, Lag -3) dan proteksi (Air Purifier, Lag -2) bersifat prediktif. Anomali ditemukan pada kueri (PM2.5, Lag 0) dan (Kabut Asap, Lag +3) yang secara signifikan terdistorsi oleh keriuhan media (media clamor) berskala nasional.Simpulan: Pemantauan kueri internet pada domain lingkungan dan proteksi efektif berfungsi sebagai indikator peringatan dini ISPA hingga 2-3 minggu sebelum kasus klinis terjadi. Kendati demikian, data digital rentan terhadap bias media, sehingga integrasinya dengan data klinis konvensional tetap harus dilakukan.ABSTRACT Title: Digital Epidemiology of Information Seeking, Diseases, Symptoms, Environment, Treatment, and Lifestyle as Early Warning Indicators for Acute Respiratory InfectionsBackground: Acute Respiratory Infection (ARI) remains a major morbidity challenge in densely populated urban areas like Jakarta, exacerbated by air pollution. This digital epidemiology study aims to evaluate the feasibility of Google Trends data across various query domains as a complementary early warning system to predict ARI incidence.Method: This retrospective observational time-series study compared weekly outpatient ARI data in Jakarta (2023–2024) with Google Trends Relative Search Volume (RSV). Queries were classified into five domains: disease, symptoms, causes, treatment, and protection. Data were analyzed using simple linear regression and Spearman’s rank correlation with a time-lag of -3 to +3 weeks. Result: Symptom-specific queries (e.g., Batuk) and treatments (Obat Batuk) were reactive, peaking one week after the actual surge in cases (Lag +1). Conversely, environmental (Air Quality Index, Lag -3) and protection queries (Air Purifier, Lag -2) were predictive. Anomalies were found in (PM2.5, Lag 0) and (Kabut Asap, Lag +3) queries, which were significantly distorted by national-scale media clamor.Conclusion: Monitoring internet queries in the environmental and protection domains effectively serves as an early warning indicator for ARI up to 2-3 weeks prior to clinical manifestations. However, digital data are susceptible to media bias, making their integration with conventional clinical data essential.
Penilaian Risiko Pajanan Sulfur Dioksida (SO₂), dan Nitrogen Dioksida (NO₂) pada Pedagang Kaki Lima di Pasar Raya Kota Padang Fida Al Ahrosh; Zyqri Hanena; Tivany Edwin; Resti Ayu Lestari
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 25, No 3 (2026): Oktober 2026
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.83659

Abstract

Latar belakang: Aktivitas transportasi di kawasan Pasar Raya Kota Padang berpotensi menyebabkan pajanan SO₂, dan NO₂ pada pedagang kaki lima. Penelitian ini mengevaluasi konsentrasi ketiga gas, hubungan dengan parameter lingkungan, serta estimasi risiko inhalasi individual dan gabungan.Metode: Penelitian observasional dilakukan di tiga titik lokasi Pasar Raya selama Mei–Juni 2025. Pengambilan sampel gas dilakukan menggunakan impinger selama 8 jam, dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis. Data meteorologi, jumlah kendaraan, serta wawancara terhadap 33 pedagang di setiap titik digunakan sebagai data pendukung. Analisis dilakukan secara deskriptif dan korelasi menggunakan uji Spearman.Hasil: Konsentrasi SO2(8,84–14,94 µg/m³), dan NO2 (16,28–29,38 µg/m³) masih memenuhi baku mutu PP No. 22 Tahun 2021. Faktor jumlah kendaraan berhubungan positif konsentrasi polutan, sementara suhu, kelembapan, tekanan, dan kecepatan angin menunjukkan korelasi negatif. Nilai Hazard Quotient (HQ) SO2 dan NO2baik realtime maupun lifetime menunjukkan nilai < 1. Sementara untuk nilai Hazard Index (HI) lifetime >1 untuk titik 1 dan 2.Simpulan: Pajanan tunggal SO2 dan NO2relatif aman dan tersebut belum berpotensi membahayakan kesehatan para pedagang kaki lima di lokasi studi baik ketika penelitian ini dilakukan maupun jangka panjang. Akan tetapi pajanan secara simultan (NO2 dan SO2) berpotensi menimbulkan gangguan fungsi kesehatan dalam jangka panjang untuk 2 titik lokasi sampling.ABSTRACTTitle: Inhalation Risk Assessment of Carbon Monoxide, Sulfur Dioxide, and Nitrogen Dioxide among Street Vendors in Padang CityBackground: Transportation activities in the Pasar Raya area of Padang City may expose street vendors to SO₂ and NO₂. This study evaluates the concentrations of CO, SO₂, and NO₂, their relationships with environmental parameters, and the individual and combined risks associated with inhalation exposure.Methods: An observational study was conducted at three locations in Pasar Raya, Padang City, from May to June 2025. Gas samples were collected using impingers over an 8-hour period and analyzed using UV–Vis spectrophotometry. Meteorological data, vehicle counts, and interviews with 33 street vendors at each location were used as supporting data. Descriptive and correlation analyses were performed using Spearman’s rank correlation test.Results: SO₂ concentrations (8.84–14.94 µg/m³) and NO₂ concentrations (16.28–29.38 µg/m³) remained below the ambient air quality standards stipulated in Government Regulation No. 22 of 2021. Vehicle counts were positively correlated with pollutant concentrations, whereas temperature, relative humidity, atmospheric pressure, and wind speed showed negative correlations. The hazard quotients (HQs) for SO₂ and NO₂ were below 1 for both real-time and lifetime exposure scenarios. However, the lifetime hazard index (HI) exceeded 1 at Sites 1 and 2.Conclusion: Individual exposure to SO₂ and NO₂ was associated with hazard quotient (HQ) values below 1, indicating no potential non-carcinogenic risk from either pollutant alone under the assessed real-time and lifetime exposure scenarios. However, combined exposure to SO₂ and NO₂ resulted in lifetime hazard index (HI) values exceeding 1 at two sampling sites, indicating the potential for adverse non-carcinogenic health effects from long-term exposure.
Hubungan Praktik Tradisional tidak Menggunakan Alas Kaki terhadap Kejadian Kecacingan pada Anak Usia 5-12 Tahun di SD Negeri 351 Kawasan Ammaota Andi Irhamnia Sakinah; Yasmin Mutiara Mis’yan; Henny Fauziah; Diana Muchsin; Muhammad Shabir Umar
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 25, No 3 (2026): Oktober 2026
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.82342

Abstract

Latar belakang: Infeksi Soil-Transmitted Helminths (STH) adalah salah satu penyakit tropis terabaikan yang masih jadi permasalahan kesehatan masyarakat, terkhusus di daerah dengan sanitasi kurang memadai serta perilaku hidup bersih belum optimal. Infeksi STH, khususnya oleh cacing Hookworm, bisa terjadinya dengan penetrasi larva pada kulit saat individu melaksanakan kontak langsung dengan tanah terkontaminasi, misalnya ketika tidak memakai alas kaki. Pada anak usia sekolah, infeksi ini bisa mengakibatkan anemia, malnutrisi, gangguan pertumbuhan, penurunannya daya tahan tubuh, serta gangguan perkembangannya kognitif yang berdampak pada prestasi belajar. Di komunitas adat Ammatoa Kajang, filosofi Kamase-masea yang mencakup tradisi tidak menggunakan alas kaki merupakan bagian dari nilai budaya yang berpotensi meningkatkan paparan terhadap infeksi Hookworm. Oleh karena itu, diperlukan kajian mengenai hubungan antara praktik budaya tersebut dengan kejadian kecacingan pada anak. Studi ini memiliki tujuan yakni melihat hubungannya antara praktik tradisional tidak menggunakan alas kaki dengan kejadiannya infeksi Soil-Transmitted Helminths (STH), khususnya Hookworm, pada anak usia 5–12 tahun di kawasan Ammatoa.Metode: Studi ini memakai desain observasional analitik dengan pendekatannya cross-sectionala dilaksanakan di SDN 351 Kawasan Ammatoa pada bulan Desember 2025. Sebanyak 60 anak usia 5–12 tahun dipilih sebagai sample memakai teknik purposive sampling. Studi ini menganalisis hubungan antara praktik tradisional tidak menggunakan alas kaki jadi variabel independen dengan kejadian infeksi Soil-Transmitted Helminths (STH) jadi variabel dependen. Data praktik penggunaan alas kaki dikumpulkan menggunakan kuesioner, lalu kejadian infeksi STH ditetapkan dengan pemeriksaannya sampel tinja dengan metodologi direct slide. Datanya kemudian dianalisa memakai pengujian Chi-square serta dilanjutkannya dengan regresi logistik biner multivariat dengan tingkatan kemaknaan p < 0,05.Hasil: Prevalensi infeksi Soil-Transmitted Helminths (STH) pada anak usia 5–12 tahun sebesar 31,7%, dengan Hookworm sebagai spesies yang paling banyak ditemukan (15,0%). Temuan analisa bivariat memakai uji Chi-square memperlihatkan bahwa praktik tidak menggunakan alas kaki berhubungannya secara signifikan dengan kejadiannya infeksi STH (p = 0,012). Akan tetapi, sesudah dilaksanakan analisa regresi logistik biner multivariat dengan mengendalikan variabel perancu, hubungan tersebut tidak lagi bermakna secara statistik. Sebaliknya, pendapatan keluarga adalah faktornya paling dominan berhubungannya dengan kejadiannya infeksi STH (p = 0,008; OR = 0,240).Simpulan: Praktik tradisional tidak memakai alas kaki berhubungan dengan kejadiannya infeksi Soil-Transmitted Helminths (STH) pada analisis bivariat, namun hubungan tersebut tidak lagi signifikan setelah dikontrol terhadap variabel perancu. Pendapatan keluarga adalah faktornya paling dominan berkaitan dengan kejadiannya infeksi STH pada anak usia 5–12 tahun di Kawasan Ammatoa.ABSTRACTTitle: The Relationship Between the "Kamase-masea" Barefoot Tradition and Helminthiasis Incidence in Children of the Ammatoa Indigenous CommunityBackground:  In communities with poor sanitation and substandard clean living behaviours, soil-transmitted helminths (STH) infection remains a neglected tropical illness and a public health hazard. STH infection, particularly by Hookworm worms, can occur through the penetration of larvae into the skin when a person comes into direct contact with contaminated soil, for example when not wearing footwear. In school-age children, this infection can cause anemia, malnutrition, growth disorders, decreased immunity, and impaired cognitive development which has an impact on learning achievement. In the Ammatoa Kajang indigenous community, the Kamase-masea philosophy which includes the tradition of not wearing footwear is part of a cultural value that has the potential to increase exposure to Hookworm infection. This calls for more research into whether or not these cultural behaviours contribute to the high worm prevalence in youngsters. In the Ammatoa region, this research intends to examine the correlation between the prevalence of Soil-Transmitted Helminths (STH) infections, particularly Hookworm, and the traditional practice of not wearing shoes among children aged 5 to 12 years.Methods: This research will be conducted in SDN 351 Ammatoa Area in December 2025 and will employ an analytical observational design with a cross-sectional method. Sixty children, ranging in age from five to twelve, were chosen for the study by means of purposive sampling. The traditional practice of not wearing footwear is used as an independent variable in this research, while the incidence of Soil-Transmitted Helminths (STH) infection is used as the dependent variable. In order to evaluate the incidence of STH infection, we examined faecal samples using the direct slide technique and used questionnaires to gather data on the practice of wearing footwear. Following that, the data were examined using the Chi-square test, and after that, multivariate binary logistics regression was used with a significance threshold of p < 0.05.Results: Among children ages 5 to 12, the most frequent species of soil-transmitted helminths (STH) was hookworm, which affected 15.0% of the population. There was a total of 31.7% infection with STH. Bivariate analysis using the Chi-square test revealed a statistically significant association between the incidence of STH infection and the practice of not wearing footwear (p = 0.012). After adjusting for potential confounding factors in a multivariate binary logistic regression analysis, however, the significance of the connection faded. In contrast, the incidence of STH infection was most strongly correlated with family wealth. (p = 0.008; OR = 0.240).Conclusion: After adjusting for potential confounding factors, the connection between traditional barefoot behaviours and the incidence of Soil-Transmitted Helminths (STH) infection was no longer significant in bivariate analysis. Among children in the Ammatoa Area who are between the ages of 5 and 12, family income is the single most important factor influencing the prevalence of STH infection.

Filter by Year

2002 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 25, No 3 (2026): Oktober 2026 Vol 25, No 2 (2026): Juni 2026 Vol 25, No 1 (2026): Februari 2026 (In process) Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025 Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025 Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025 Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024 Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024 Vol 23, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 22, No 3 (2023): Oktober 2023 Vol 22, No 2 (2023): Juni 2023 Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 21, No 3 (2022): Oktober 2022 Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022 Vol 21, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 20, No 2 (2021): Oktober 2021 Vol 20, No 1 (2021): April 2021 Vol 19, No 2 (2020): Oktober 2020 Vol 19, No 1 (2020): April 2020 Vol 18, No 2 (2019): Oktober 2019 Vol 18, No 1 (2019): April 2019 Vol 17, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 17, No 1 (2018): April 2018 Vol 16, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 16, No 1 (2017): April 2017 Vol 15, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 15, No 1 (2016): April 2016 Vol 14, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 14, No 1 (2015): April 2015 Vol 1, No 2 (2002): OKTOBER 2002 Vol 13, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 13, No 1 (2014): April 2014 Vol 12, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 12, No 1 (2013): April 2013 Vol 11, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 11, No 1 (2012): April 2012 Vol 8, No 2 (2009): Oktober 2009 Vol 8, No 1 (2009): April 2009 Vol 6, No 2 (2007): Oktober 2007 Vol 6, No 1 (2007): APRIL 2007 Vol 5, No 2 (2006): OKTOBER 2006 Vol 5, No 1 (2006): APRIL 2006 Vol 4, No 2 (2005): OKTOBER 2005 Vol 4, No 1 (2005): APRIL 2005 Vol 3, No 2 (2004): OKTOBER 2004 Vol 3, No 1 (2004): APRIL 2004 Vol 2, No 2 (2003): OKTOBER 2003 Vol 2, No 1 (2003): APRIL 2003 Vol 1, No 1 (2002): APRIL 2002 More Issue