cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,072 Documents
PERKEMBANGAN DAN POTENSI PRODUKSI PERIKANAN PELAGIS KECIL, SERTA STRATEGI PEMULIHAN SUMBER DAYA IKANNYA DI LAUT JAWA Purwanto Purwanto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.834 KB) | DOI: 10.15578/jppi.21.1.2015.25-36

Abstract

Laut Jawa adalah salah satu daerah penangkapan utama perikanan pelagis kecil di Indonesia. Untuk pengelolaan perikanan tersebut, telah dilakukan pengkajian sumber daya ikannya. Hasil kajian menunjukkan bahwa produksi lestari maksimum (MSY) dari pemanfaatan sumber daya ikan pelagis kecil sekitar 312,1 ribu ton/tahun, yang dihasilkan dari penangkapan dengan upaya optimal (EMSY) setara dengan pengoperasian 996 kapal pukat cincin berukuran 80 GT dengan mesin utama 270 DK. Hasil kajian juga menunjukkan bahwa sumber daya ikan pelagis kecil di Laut Jawa sudah dimanfaatkan secara berlebih sejak 1999. Agar sumber daya ikan menghasilkan produksi pada tingkat MSY perlu dilakukan langkah pemulihannya, yaitu penghentian penangkapan ikan pada tahun pertama; kegiatan penangkapan dimulai kembali pada tahun kedua dari periode pemulihan dengan upaya penangkapan setara 80% dari EMSY dan tahun-tahun sesudahnya setara dengan EMSY. Bila terdapat resistensi kuat terhadap penghentian kegiatan penangkapan, strategi alternatifnya adalah pengendalian upaya penangkapan pada tingkat EMSY sejak tahun pertama periode pemulihan.The Java Sea is one of the main fishing areas for small pelagic fishery in Indonesia. To support the management of that fishery, an assessment of the small pelagic fish stock was conducted. The result shows that the maximum sustainable yield from utilizing small pelagic fish stock in the Java Sea was about 312.1 thousand tons per year, resulting from fishing activity with optimum effort (EMSY) equaling to the operation of 996 purse seiners of 80 GT with the main engine of 270 HP. Unfortunately, fishing effort was higher than EMSY and the fish stock has been over-exploited since 1999. To ensure the optimal sustainable production from utilizing the small pelagic fish stock, it is necessary to recover fish stock by halting fishing activity in the first year of the recovery period; the fishing activity should be started at the second year of the recovery period by controlling fishing effort at 80% of EMSY and at EMSY afterward. If there is strong resistance of fishers to the cessation of fishing activity, an alternative strategy should be controlling fishing effort at EMSY since the first year of the recovery period.
INTERAKSI ANTAR TRAWL DAN RAWAI DASAR PADA PERIKANAN KAKAP MERAH (Lutjanus malabaricus) DI LAUT TIMOR DAN ARAFURA Bambang Sadhotomo; Suprapto Suprapto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.262 KB) | DOI: 10.15578/jppi.19.2.2013.89-95

Abstract

Informasi mengenai biologi populasi ikan kakap yang diduga merupakan stok bersama dan dimanfaatkan oleh Indonesia dan Australia masih sangat minim. Begitu pula informasi mengenai pengaruh interaksi antara alat tangkap terhadap kelangsungan reproduksi ikan kakap. Informasi-informasi tersebut diharapkan dapat menunjang pengelolaan perikanan kakap merah yang dilakukan di Laut Timor dan Arafura terutama dalam hal pengaturan alokasi upaya penangkapan dan jumlah alat tangkap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai pengaruh interaksi dari alat tangkap pukat ikan dan pancing dasar yang memiliki ikan target yang sama yaitu kakap merah. Penelitian ini berbasis pada data komposisi panjang ikan demersal laut dalam yang tertangkap trawl ikan dan rawai pancing dasar vertikal yang beroperasi di Laut Arafura dan Laut Timor. Estimasi parameter biologi dan populasi dilakukan untuk memenuhi masukan bagi analisis yield per recruit. Hasil analisis menunjukkan adanya interaksi antar perikanan pukat ikan dan pancing rawai dasar yang mengeksploitasi ikan demersal di perairan tersebut. Dampak perkembangan perikanan pukat ikan terhadap penurunan produksi dan yield keseluruhan perikanan tangkap terlihat sangat signifikan. Information on the biology of snapper populations which had  possibility as a shared stock utilized by Indonesia and Australia fisheries is still lack. Moreover information on the effect of interactions between fishing gears to the sustainable of the snapper resource. This information is expected to support the management of red snapper in the Timor and Arafura Sea, especially in terms of setting the allocation of effort and number of fishing gear. The objective of this study is to obtain information regarding the interaction effect from two different fishing gears i.e. trawl fishing gear and vertical bottom long line which targeted  red snapper as the main target species. The research was based on length composition data of demersal deep-sea fish caught by fishnet and vertical bottom longline operations in the Arafura Sea and Timor Sea. Estimation of the biology and population parameter was conducted to meet the input for the analysis of yield per recruit. The analysis revealed the existence of interactions between fisheries and other fishnet which exploit demersal fish in these waters. The impact of the development of fishnet to the decline of production and the total fisheries yield was very significant.
PENINGKATAN RESISTENSI LARVA UDANG WINDU ( Penaeus monodon) MELALUI PENAMBAHAN IMUNOSTMULAN PADA PAKAN MIKRO Fris Johnny; Zafran Zafran; Des Roza; Haryanti Haryanti; Ketut Suwirya
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8299.167 KB) | DOI: 10.15578/jppi.7.4.2001.47-51

Abstract

Dalam upaya meningkatkan daya tahan larva udang terhadap serangan penyakit, telah dilakukan percobaan pengaruh imunostimulan terhadap larva udang windu melalui pikan mikro.
RESPONS PENCIUMAN IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) TERHADAP UMPAN BUATAN Mochammad Riyanto; Ari Purbayanto; Budy Wiryawan
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.402 KB) | DOI: 10.15578/jppi.16.1.2010.75-81

Abstract

Penggunaan umpan pada alat tangkap dalam operasi penangkapan ikan berfungsi sebagai pikatan atau stimulasi ikan dengan tujuan untuk meningkatkan efektivitas penangkapan. Studi respons tingkah laku ikan khususnya pada fungsi organ penciuman memiliki peranan penting untuk mengetahui efektivitas umpan. Tujuan penelitian ini adalah formulasi umpan buatan dengan komposisi yang berbeda dan menganalisis respons penciuman ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) terhadap umpan buatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen laboratorium. Formula umpan buatan menunjukan bahwa umpan B (komposisi 35% minyak ikan) memiliki efektivitas tertinggi. Perbedaan umpan buatan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap waktu arousal dan finding, tetapi berbeda nyata pada waktu ikan mencari lokasi umpan (searching). The use of bait in fishing operation attached to a fishing gear has function to attract or stimulate fish, so as to increase the fishing effectiveness. Response study on fish behavior especially for olfactory organ function represents the important roles in order to know the effectiveness of bait. The objectives of this study are to formulate the artificial bait in different composition, and to analysis olfaction response of grouper (Epinephelus fuscogutattus) to artificial baits. The laboratory experiment methods were used in this study. The artificial bait that showed a high effectiveness was the bait of B (composed of 35% fish oil). The effect of different bait indicated insignificantly different to the time of olfaction response for arousal and finding, but significantly different for searching response.
ANALISIS HUBUNGAN KONDISI OSEANOGRAFI DENGAN FLUKTUASI HASIL TANGKAPAN IKAN PELAGIS DI SELAT SUNDA Khairul Amri
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.231 KB) | DOI: 10.15578/jppi.14.1.2008.55-65

Abstract

Tujuan riset ini adalah mengkaji hubungan antara kondisi oseanografi musiman (sebaran suhu permukaan laut, konsentrasi klorofil-a, pola arus, dan salinitas hasil pengukuran in situ dan data penginderaan jauh multi temporal tahun 2000, 2001, 2002, dan 2004) dengan hasil tangkapan ikan pelagis. Analisis dilakukan secara visual dan digital untuk mendapatkan gambaran dinamik kondisi oseanografi musiman perairan Selat Sunda. Hasil menunjukkan, nilai sebaran suhu permukaan laut Selat Sunda bervariasi sepanjang tahun, berkisar 27,0 sampai dengan 30,5°C. Salinitas berkisar 31,0 sampai dengan 33,7‰ dengan nilai terendah (31,0‰) pada musim barat sementara salinitas tertinggi (32,7 sampai dengan 33,7‰) ditemukan pada musim peralihan 2. Sebaran klorofil-a berkisar 0,1 sampai dengan 2,0 mg m 3. Musim barat merupakan musim dengan kandungan klorofil-a terendah (0,1 mg m-3) dan musim timur merupakan musim dengan tingkat kesuburan tertinggi (1,5 sampai dengan 2,0 mg m-3). Diduga peningkatan produktivitas primer yang sangat tinggi pada musim timur, selain akibat aliran massa air yang kaya nutrien dari Laut Jawa juga akibat upwelling pada mulut selat bagian selatan. Terdapat korelasi yang kuat antara peningkatan kosentrasi kesuburan perairan (klorofil-a tinggi 1,0 sampai dengan 1,5 mg m-3) akibat terjadi upwelling pada musim timur yang didukung oleh kondisi suhu permukaan laut hangat (29,0 sampai dengan 30,5°C) dan salinitas tinggi (32,7 sampai dengan 33,7‰) dengan diikuti peningkatan hasil tangkapan ikan. The current research aims to study the dynamic of the seasonal oceanography condition (sea surface temperature, chlorophyll-a concentration, sea surface height anomaly, and salinity by using in situ data and satellite multi temporal images until 2000, 2001, 2002, and 2004) in the Sunda Straits waters. The oceanographic data were analyzed by using visual and digital analyze to find the dynamic features. Results show that sea surface temperature was fluctuated with seasons. The values ranging from 27.0 to 30.5°C were higher than in situ measurement. The Surface salinity varied fluctuated from 31.0 to 33.7‰. Lower salinity (31.0‰) was found on the west monsoon, higher salinity (33.7‰) on the inter monsoon 2. The Concentration of chlorophyll-a ranged between 0.1 to 2.0 mg m-3 of which high abundance occurred with east monsoon. The high concentration of chlorophyll-a in east monsoon might be correlated to the nutrient transport impact from Java Sea and also contribution of upwelling process in southern mouth of Sunda Strait. The result shows that the catch of pelagic fish had strong linear correlation with the primery productivity (chlorophyll-a with high abundance 1.0 to 1.5 mg m-3) on upwelling process in east monsoon near south mouth of Sunda Straits with suported by warm water mass (sea surface temperature 29.0 to 30.5°C) and high salinity (32.7 to 33.7‰).
PARAMETER POPULASI HIU MARTIL (Sphyrna lewini Griffith & Smith, 1834) DI PERAIRAN SELATAN NUSA TENGGARA Agus Arifin Sentosa; Dharmadi Dharmadi; Didik Wahju Hendro Tjahjo
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.288 KB) | DOI: 10.15578/jppi.22.4.2016.253-262

Abstract

Hiu martil (Sphyrna lewini Griffith & Smith, 1834) merupakan salah satu target tangkapan bagi perikanan artisanal di Indonesia. Dengan status konservasi masuk dalam Appendix II CITES, pengelolaan terhadap hiu martil telah menjadi perhatian khusus di bidang perikanan tangkap. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji beberapa aspek parameter populasi hiu martil yang tertangkap di perairan selatan Nusa Tenggara pada periode Januari – Desember 2015. Data ukuran panjang dan jenis kelamin diperoleh di Tempat Pendaratan Ikan Tanjung Luar, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Analisis dilakukan secara deskriptif menggunakan perangkat lunak FiSAT II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 634 ekor hiu martil yang tertangkap didominasi oleh jenis kelamin betina dengan sebaran ukuran panjang total berkisar antara 81 – 320 cm (rerata 211,2 cm) dan jenis kelamin jantan berkisar antara 91 – 310 cm (rerata 176,9 cm). Dominasi kelompok hiu muda yang belum matang kelamin berpotensi terjadinya recruitment overfishing. Hiu martil mampu mencapai panjang asimtot 399 cm. Laju pertumbuhan dan mortalitas jenis hiu jantan lebih tinggi dibandingkan jenis betina. Populasi hiu martil telah mengalami kondisi tangkap lebih sehingga perlu adanya regulasi dan pengelolaan agar pemanfaatannya tetap lestari. The scalloped hammerhead sharks (Sphyrna lewini Griffith & Smith, 1834) is one of the main target fishing for artisanal shark fisheries in Indonesia. By the conservation status of Appendix II CITES, its management had been concerned in capture fisheries. This research aimed to assess some aspects of scalloped hammerhead shark population parameters caught in the southern of Nusa Tenggara in the period from January to December 2015. Fish length and sex was obtained in Tanjung Luar landing site, East Lombok, West Nusa Tenggara. The analysis was done descriptively used FiSAT II software. The results showed that 634 individuals of hammerhead shark caught dominated by female with a total length size distribution ranging between 81-320 cm (mean 211.2 cm) and male ranged between 91-310 cm (mean 176.9 cm). The dominance catch of juvenile sharks with immature was potential to recruitment overfishing. Sphyrna lewini was capable of reaching 399 cm asymptotic length. The growth rate and mortality of male sharks was higher than female. The population of S. lewini had been overfished so that the regulation and management are needed in order to maintain their sustainability of the population.
SEBARAN KEPADATAN AKUSTIK IKAN PELAGIS DI BAWAH PENGARUH CAHAYA LAMPU PADA PERIKANAN PUKAT CINCIN DI LAUT JAWA Mahiswara Mahiswara; Agustinus Anung Wiodo; Asep Priatna
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.541 KB) | DOI: 10.15578/jppi.15.2.2009.151-159

Abstract

Persaingan penggunaan cahaya lampu sebagai alat bantu penangkapan pada perikanan pukat cincin cenderung semakin meningkat. Suatu penelitian untuk mengetahui pola agregasi ikan di bawah pengaruh cahaya lampu telah dilaksanakan pada bulan Juli 2005 di perairan Laut Jawa. Pengamatan terhadap kapal pukat cincin dengan daya lampu 10.000-20.000 watt menggunakan perangkat akustik SIMRAD EY-500 dilakukan untuk mengetahui sebaran ikan di dalam air dan luxmeter tipe Licor LI 250 untuk mengukur intensitas cahaya. Analisis akustik, statistik, dan deskripsi digunakan untuk menjelaskan data dan informasi yang diperoleh. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan lampu fluorocent 20.000 watt diperoleh jumlah kepadatan akustik pada nilai >10 m2/ n.mi2 lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan lampu fluorocent 10.000 dan 15.000 watt. Terdapat hubungan antara jumlah daya lampu yang digunakan dengan hasil tangkapan pada perikanan pukatcincin. The competition on utilization of lights in purse seine fisheries tends to be more increased. A research to obtain fish aggregation pattern under light on purse seiner with 10,000-20,000 watt in power was conducted on July 2005 in Java Sea. SIMRAD EY-500 to observe underwater fish aggregation and luxmeter type LI-250 to measure light intensity was operated during the research result. Data were analyzed with acoustic, statistic and descriptive methods to figure out of the research. The results showed that acoustic density was >10 m2 /n.mi2 on fluorescent lamp by 20,000 watt in power, which was higher than 10,000 and 15,000 watt. There is a correlation between numbers of lights with catches of purseseiner.
IDENTIFIKASI TIGA KELOMPOK IKAN BELIDA (Chitala lopis) DI SUNGAI TULANG BAWANG, KAMPAR, DAN KAPUAS DENGAN PENDEKATAN BIOMETRIK Mas Tri Djoko Sunarno
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (937.611 KB) | DOI: 10.15578/jppi.13.2.2007.87-94

Abstract

Aktivitas penangkapan lebih (over fishing), penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, dan perubahan kondisi lingkungan perairan menyebabkan kelestarian ikan belida (Chitala lopis) menjadi terancam. Untuk itu, diperlukan upaya konservasi yang tepat untuk melestarikan ikan ini. Tahap awal adalah melalui penelitian morfologi. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi keragaman jenis ikan belida di Sungai Tulang Bawang (Lampung), Kampar (Riau), dan Kapuas (Kalimantan Barat) melalui variasi bentuk tubuh dan karakter morfologi pembeda. Penentuan lokasi pengambilan contoh dilakukan secara purposive sampling. Untuk setiap spesies pengambilan contoh per lokasi berkisar antara 10 sampai dengan 30 spesimen. Contoh ditandai (tagging) dituliskan kode spesimen dan lokasi kemudian diawetkan dengan direndam larutan alkohol 75%. Pengukuran spesimen dengan digital kaliper di sisi tubuh sebelah kiri, pada 28 karakter morfologi. Data yang diperoleh distandarisasi, disajikan dalam % SL dan % HL yang merupakan subyek principal component analysis menggunakan Statistik 6.0. Tahap ke-2, menggunakan analysis diskriminan untuk mengisolasi ke tipe spesimen tadi menjadi kelompok yang terpisah, melihat karakter morfologi dominan (factor score coefficient) akhirnya hanya 1 karakter yang paling dominan. Terdapat 3 kelompok ikan belida yang memperlihatkan penampilan morfologi yang berbeda, dari ke-3 lokasi yang diamati. Pembeda ke-3 kelompok ikan belida di 3 sungai tersebut adalah peduncle length (tinggi punguk) (% HL) dan mouth width (lebar mulut) (% SL). Over fishing activities, implementation of unfriendly environmental gears and altered aquatic environment condition have endangered the feather fish (Chitala lopis). Therefore appropriate conservation efforts will be needed and research on morphology variance can be the starting point. The objective of research is to indentify the diversity of feather fish in Tulang Bawang (Lampung), Kampar (Riau), and Kapuas (Kalimantan Barat) rivers through body shape variations and it’s main morphology characters. Sampling station were chosen based on purposive sampling. Whatever possible, the number of samples range between 10 to 30 in every station sampling. Samples were tagged with specimen code and location, and then preserve using alcohol 75%. Measurements were made manually using dial calipers correct to tenth milimetre. Measurements were made on the left side of body, 28 point to point measurements. These characters were standardized, perform in % SL and % HL subject to principal component analysis using Statistica 6.0. Futher analysis using discriminant analysis to isolate 3 type specimens, find out the dominant characters, and finally see the most dominance characters. There are 3 groups of feather fish’s that performed different morphology characters from the sampling site, where as peduncle length (% HL) and mouth width (% SL) were the dominance characters.
KOMPARASI ASPEK TEKNIS DAN FINANSIAL SISTEM PENDINGINAN IKAN UNTUK KAPAL PENGANGKUT Tenny Apriliani; Agus Heri Purnomo
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4849.538 KB) | DOI: 10.15578/jppi.11.3.2005.79-89

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan pada Tahun 2004 dengan tujuan memperbandingkan paket-paket teknologi pendinginan di atas kapal untuk mendukung pengembangan sistem pengangkutanikan di laut. Metode yang diterapkan adalah studi kasus dengan lokasi-lokasi meliputi Cilacap, Juwana dan Pekalongan, dimana nelayan telah melakukan uji coba pengoperasian teknologimesin pembuat es air laut (sea water on board ice maker), sistem pendinginan air laut (refrigerated sea water, RSW), disamping sistem pendinginan yang umum dilakukan yaitu penggunaan es balok sebagai media pendingin.
HUBUNGAN ANTARA BAHAN ORGANIK, TEKSTUR TANAH, DAN KERAGAMAN MAKROBENTOS DI KAWASAN TAMBAK DAN MANGROVE Andi Marsambuana Pirzan; Gunarto Gunarto; Rohama Daud; Burhanuddin Burhanuddin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3604.298 KB) | DOI: 10.15578/jppi.10.2.2004.27-40

Abstract

Penelitian dilakukan di kawasan tambak dan mangrove Kelurahan Bebanga (Ahuni, Kampung Baru) Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Tujuan plnelitian ini adalah menelaah perbedaan jumlah individu, indeks keragaman jenis, indeks dominansi, dan indeks keseragaman makrobentos serta hubungannya dengan kandungan bahan organik dan tekstur(kandungan debu) tanah.

Page 47 of 108 | Total Record : 1072


Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026) Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue