cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,074 Documents
PENGARUH PENGGUNAAN TIPE ROTIFER Braehionus plicatilis YANG BERBEDA TERHADAP LAJU SINTASAN DAN PERKEMBANGAN LARVA KEPITING BAKAU Scylla Serrata Irwan Setyadi; Yunus Yunus; Agus Prijono; Kasprijo Kasprijo
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3461.696 KB) | DOI: 10.15578/jppi.2.3.1996.26-32

Abstract

Rotifer (Brachionus plicatilis) merupakan salah satu jenis makanan alami yang digunakan dalam pemeliharaan larva kepiting bakau. Untuk itu telah dilakukan pemeliharaan larva kepiting bakau (Scala serrata) dengan penggunaan tipe rotifer yang berbeda.
KONTRIBUSI KAUM WANITA DALAM PENGEMBANGAN SISTEM USAHA TANI MINAPADI DI DESA NANGGERANG, BINONG, KABUPATEN SUBANG Mohammad Noor; Khaidir Ahmady Us
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1492.31 KB) | DOI: 10.15578/jppi.1.4.1995.61-70

Abstract

Suatu survei dilakukan untuk mengetehui kontribusi kaum wanita dalampengembangan sistem usaha tani minapadi di Desa Nanggerang, Kecamatan Binong,Kabupeten Subang-Jawa Barat.
PERIKANAN DAN DINAMIKA POPULASI RAJUNGAN (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) DI TELUK JAKARTA Karsono Wagiyo; Tirtadanu Tirtadanu; Tri Ernawati
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5438.597 KB) | DOI: 10.15578/jppi.25.2.2019.79-92

Abstract

Teluk Jakarta merupakan salah satu daerah penangkapan dan habitat rajungan (Portunus pelagicus) di Indonesia. Permintaan pasar yang terus meningkat dan bersamaan dengan penurunan kualitas perairan mengakibatkan stok rajungan mengalami tekanan eksploitasi dan degradasi habitat. Agar pengelolaan sumberdaya rajungan di Teluk Jakarta tetap lestari, maka diperlukan penelitian mengenai perikanan dan dinamika populasi. Tujuan penelitian memperoleh data dan informasi mengenai daerah tangkapan, alat dan musim penangkapan, indeks kelimpahan, produksi dan komposisi, struktur ukuran, nisbah kelamin, kematangan gonad, musim pemijahan, ukuran panjang pertama tertangkap, ukuran panjang pertama matang gonad, laju pertumbuhan, laju kematian dan laju eksploitasi. Data dan informasi diperoleh dengan eksplorasi, observasi, enumerasi, wawancara dan perunutan pada tempat pendaratan ikan dan instansi lain yang terkait dengan perikanan, selama tahun 2016. Hasil penelitian didapatkan karakteritik daerah penangkapan rajungan; substrat lumpur berpasir dengan perairan dasar yang mempunyai salinitas 30,5-32 ppt, oksigen 6,5-6,9 ml/l, pH 7,5-8,01, kecepatan arus 0,08-0,24 m/dt. Alat tangkap utama berupa jaring insang dasar bermata 3-3,5 inchi, musim penangkapan Mei-Agustus dan paceklik November-Januari. CPUE rajungan tahun 2016 sebesar 7,2 kg/tarik/trip/hari dan mengalami penurunan 55,22 % tahun 2007. Rajungan berkontribusi 69,11 % terhadap hasil tangkapan jaring insang dasar, sumberdaya ikan lainnya 30,89 %. Modus lebar karapas 85-90 mmCW, lebar karapas pada perairan dekat pantai 84,3 mm dan kearah lepas pantai 99,4 mm. Rajungan di Teluk Jakarta mempunyai tipe pertumbuhan alometrik negatif. Nisbah kelamin jantan : betina = 1 : 0,83, betina dominan pada perairan kearah lepas pantai dan jantan dominan kearah pantai (salinitas rendah). Musim pemijahan rajungan di Teluk Jakarta sepanjang tahun, mempunyai dua puncak pada bulan Maret dan September dengan pusat sebaran gonad ovigerous di sekitar perairan P. Damar. Rata-rata ukuran pertama tertangkap (Lc) = 93,87 mmCW lebih besar dari rata-rata ukuran pertama matang gonad (Lm) = 68,8 mmCW. Laju pertumbuhan (K) = 1,08 mmCW/tahun dengan lebar karapas maksimal (L”) = 142,5 mmCW. Laju kematian total (Z)= 4,87/tahun, penangkapan (F) = 3,63/tahun, alami (M) = 1,24/tahun dan laju pengusahaan (E) = 0,75/tahun. Jakarta Bay is one of the fishing areas and habitat of blue swimmer crabs (Portunus pelagicus) in Indonesia. Market demand that continues to increase and along with the decline in water quality results in crab stocks experiencing pressure from exploitation and habitat degradation. So that the management of crab resources in the Jakarta Bay remains sustainable, research on fisheries and population dynamics is needed. The purpose of the study was to obtain data and information; fishing ground, fishing season and main gears, abundance index, production and composition of catch, size structure, sex ratio, gonad maturity, spawning season, first length of catch, length of first gonad maturity, growth rate, mortality rate and exploitation rate. Data and information were obtained by exploration, observation, enumeration, interviews and tracing at fish landing sites and other institutions related to fisheries, during 2016. The results of the study obtained the characteristics of the crab fishing ground; sandy mud substrate with bottom waters which have a salinity of 30.5-32 ppt, oxygen 6.5-6.9 ml / l, pH 7.5-8.01, flow velocity 0.08-0.24 m / sec. The main gears are bottom gill nets with mesh size 3-3.5-inch, the fishing season in May-August and famine in the November-January. CPUE of blue swimmer crabs in the 2016 was 7.2 kg / pull / trip / day decreased 55.22% in 2007. The blue swimmer crabs contributed 69.11% to the catch of bottom gill nets, other fish resources 30.89%. Carapace width frequency have mode is 85-90 mmCW, carapace width in waters near the coast is 84.3 mm and offshore is 99.4 mm. The blue swimmer crabs in Jakarta Bay has a negative allometric growth type. Sex ratio male: female = 1: 0.83, female dominant in offshore and male dominant direction towards in shore and (low salinity). The spawning season of blue swimmer crabs in Jakarta Bay has two peaks in March and September with an ovigerous gonad distribution center around the waters of P. Damar. The average size of the length first catch (Lc) = 93.87 mmCW is greater than the average size of the length first gonad maturity (Lm) = 68.8 mmCW. Growth rate (K) = 1.08 mmCW / year with length infinity of carapace width (L”) = 142.5 mmCW. Maturity rate are total (Z) = 4.87/year, capture (F) = 3.63/year, natural (M) = 1.24/year and explotation rate (E) = 0.75/year.
PENGARUH VAKSINASI MATERNAL ANTI-AEROMONAS IIYDROPHIIA TERHADAP BENIH IKAN LELE DUMBO (Clarias sp.) YANG DIHASILKANNYA Taukhid Taukhid; Dayat Bastiawan
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2556.958 KB) | DOI: 10.15578/jppi.1.2.1995.65-76

Abstract

Penelitian vaksinasi maternal pada ikan lele telah dilakukan di panti benih unitPengembangan Budidaya Air Tawar (UPBAT) Cijengkol dan laboratorium penyakit ikanBalai Penelitian Perikanan Air Tawar.
EFEKTIVITAS TALI CUCUT SEBAGAI ALAT TAMBAHAN PADA PENGOPERASIAN RAWAI TUNA DALAM PENANGKAPAN CUCUT Dian Novianto; Abram Barata; Andi Bahtiar
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 16, No 3 (2010): (September 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.287 KB) | DOI: 10.15578/jppi.16.3.2010.251-258

Abstract

Cucut yang pada awalnya merupakan hasil tangkapan sampingan, cenderung berubah menjadi ikan sasaran penangkapan. Perubahan ini seiring dengan semakin tingginya permintaan pasar terhadap ikan cucut. Kondisi ini yang mendorong nelayan rawai tuna mencari upaya untuk dapat meningkatkan hasil tangkapan cucut dengan menggunakan tali cucut sebagai alat tambahan pada pengoperasian rawai tuna. Untuk mengetahui efektivitas penggunaan tali cucut sebagai alat tambahan pada pengoperasian rawai tuna, telah dilakukan penelitian di atas kapal rawai tuna yang beroperasi di Samudera Hindia. Penelitian ini dilakukan sembilan trip observasi mulai tahun 2005-2009 dengan menggunakan kapal-kapal rawai tuna yang berbasis di Pelabuhan Umum Benoa. Jumlah cucut yang tertangkap dengan tali cucut 189 ekor (59%), sedangkan jumlah cucut yang tidak tertangkap pada tali cucut 130 ekor (41%). Hal ini menunjukan penggunaan tali cucut sebagai alat tambahan pada pengoperasian rawai tuna berpengaruh positif terhadap hasil tangkapan cucut. Uji-t perbandingan dua contoh menunjukan, kapal rawai tuna yang menggunakan tali cucut lebih efektif meningkatkan hasil tangkapan cucut daripada kapal rawai tuna yang tidak menggunakan tali cucut. Several kind of shark species were caught as incidental catch during operation of tuna long line in the Indian Ocean. Catch of this group of species tended to increase in the last decade and became a targeted species together with tuna related species due to highly market demands. The objective of this research is to obtain the effectivity of shark line as additional device on operation of tuna long line in Indian Ocean. The research was done based on data collected from the survey between 2005-2009 using tuna long line fishing boat at Benoa Harbor. The presentation of shark caught with shark line were 189 individuals (59%) and number of sharks were not caught with shark line were 130 individuals (41%). These data show that shark lines as additional gear on operation of tuna long line influenced on the catch of shark. Statistically T-test of comparation two samples shows the tuna long line fishing boat that used shark line increased more effectively the catch of shark than tuna long line fishing boat without shark line.
SEBARAN SPASIAL BIOMASSA IKAN PELAGIS DI PERAIRAN SELAT LOMBOK Badrudin Badrudin; I Nyoman Radiarta; Edi Mulyadi Amin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3649.087 KB) | DOI: 10.15578/jppi.5.1.1999.1-6

Abstract

Tersedianya data dan informasi tentang potensi sumber daya ikan pelagis di pelairan Selat Lombok merupakan salah satu dasar bagi pengernbangan dan pernanfaatannya.
PENGENDALIAN Vibrio harveyi SECARA BIOLOGIS PADA LARVA UDANG WINDU (Penaeus monodon): APLIKASI BAKTERI PENGHAMBAT Des Roza; Zafran Zafran
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2104.634 KB) | DOI: 10.15578/jppi.4.2.1998.24-30

Abstract

Suatu penelitian pemanfaatan bakteri sebagai kontrol biologi dalam mengendalikan populasi Vibrio harveyi pada batas aman telah dilakukan di Laboratorium Penyakit Loka Penelitian Perikanan Pantai Gondol, Bali. Penelitian telah menghasilkan dua isolat bakteri penghambat GSB-95030 dan GSB-95033 vang mempunyai daya hambat dan mampu menekan perkembangan populasi V
PENGARUH PEREBUSAN, PENGGARAMAN DAN PENYIMPANAN TERHADAP PENURUNAN KANDUNGAN LISIN YANG TERDAPAT DALAM IKAN PINDANG Jamal Basmal; Bagus S.B. Utomo; K.D.A. Taylor
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4610.275 KB) | DOI: 10.15578/jppi.3.2.1997.54-62

Abstract

Pengamatan penurunan kandungan lisin dalam ikan pindang telah dilakukan terhadapproduk yang disimpan dalam inkubator bersuhu 28oC dengan kelembaban relatif 100%. Bahan pindang adalah ikan sardine beku (Sordrna pilchardusjuv) dari Portugal yang dilelehkan terlebih dahulu sebelum diolah.
PENGARUH PERGANTIAN JARING TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN KERAPU LUMPUR Epinephelus sp. DALAM KERAMBA JARING APUNG Hazmi Yuliansyah; Abdul Khalik
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3726.128 KB) | DOI: 10.15578/jppi.2.4.1996.42-48

Abstract

Budidaya ikan di laut selalu ditempeli oleh aneka jasad air biofouling pada badan jaring sehingga dapat mernpengaruhi sirkulasi dan nrenimbulkan kerusakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi pergantian keranrba jaring apung terhadap pertumbuhan dan sintasan ikan kerapu lumpur Epinephelus sp. Penelitian di]aksanakan selarna tiga bulandengan menerapkan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan tiga ulangan.
KONDISI DAN PRIORITAS UNTUK MENGENDALIKAN PEMANFAATAN IKAN NAPOLEON (Cheilinus undulatus, RÜPPELL, 1835) DI KABUPATEN RAJA AMPAT Hendrik Sombo; Mohammad Mukhlis Kamal; Yusli Wardiatno
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 23, No 3 (2017): (September 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.047 KB) | DOI: 10.15578/jppi.23.3.2017.181-191

Abstract

Hasil survei potensi yang dilakukan IUCN dan LPSPL Sorong menunjukkan nilai kelimpahan ikan napoleon (Cheilinus undulatus) di Kabupaten Raja Ampat termasuk dalam kategori rendah. Walaupun demikian, nelayan tetap menginginkan ada kuota untuk pemanfaatannya karena merupakan salah satu sumber mata pencaharian utama. Aktivitas pemanfaatan harus disertai dengan upaya pengendalian untuk menjaga kelestarian sumberdaya. Penerapan upaya fishing control dan manajemen kebijakan belum dilakukan secara optimal, sehingga diperlukan penetapan berdasarkan skala prioritas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kondisi pemanfaatan dan menentukan skala prioritas upaya untuk mengendalikan pemanfaatan ikan napoleon di Kabupaten Raja Ampat. Penentuan skala prioritas dianalisis dengan model Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan melibatkan pakar di bidang konservasi dalam penilaian. Berdasarkan hasil identifikasi, kondisi pemanfaatan ikan napoleon di Kabupaten Raja Ampat dilakukan belum sesuai dengan ketentuan regulasi yang telah ditetapkan. Hasil penilaian dengan model AHP menunjukkan bahwa kriteria yang paling penting untuk mengendalikan pemanfaatan ikan napoleon adalah sumberdaya ikan lestari, dan urutan prioritas alternatif adalah sosialisasi kepada nelayan/pengusaha (bobot 0,2935), pengawasan (bobot 0,2715), survei kelimpahan secara berkala (bobot 0,2181) dan penerapan lalu lintas perdagangan melalui bandara (bobot 0,2169).The results of potential survey by IUCN and LPSPL Sorong showed the abundance value of napoleon fish (Cheilinus undulatus) in Raja Ampat Regency was low category. Nonetheless, the fisher quota for its utilization because it is one of the main sources of livelihood. The utilization activities should be followed by control of effort to maintain resource sustainability. Implementation of fishing control and management decisions has not been done optimally, therefore it need to be set based on priority scale. The purpose of this study were to identify conditions of utilization and to determine the priority scale to control utilization of napoleon wrasse fishery in Raja Ampat Regency. Determination of priority scale were analyzed with Analytical Hierarchy Process (AHP) model by involving experts in the field of conservation in the assessment. Based on the results of identification, the condition of the utilization of napoleon fish in Raja Ampat Regency was not with the regulation. The results of the assessment with AHP model showed that the most important criteria to control utilization of napoleon wrasse fishery is sustainable fish resources, and alternatives priority order are socialization/awareness program to fishers/live fish buyer (value 0.2935), surveillance (value 0.2715), periodic density surveys (value 0.2181) and implementation of trade air-only (value 0.2169).

Page 62 of 108 | Total Record : 1074


Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026) Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue