cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,072 Documents
PERMASALAHAN DAN ALTERNATIF SOLUSI PEMACUAN STOK IKAN BILIH (Mystacoleucus padangensis) Dl DANAU SINGKARAK, SUMATRA BARAT (KAJIAN SOSIAL EKONOMI DAN KELEMBAGAAN) Sonny Koeshendrajana; Kunto Purnomo; Endi Setiadi Kartamihardja
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5617.82 KB) | DOI: 10.15578/jppi.11.3.2005.51-63

Abstract

Penelitian dengan tujuan mengkaji status dan permasalahan serta peluang solusi terkait dengan aspek sosial ekonomi dan kelembagaan yang mendukung strategi pemacuan stok ikantelah dilakukan di Danau Singkarak Sumatera Barat pada bulan Januari- Desember 2002. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah melode Parcipatory Rural Appraisal (PRA).
KARAKTERISTIK DAN KELAYAKAN LAHAN BUDI DAYATAMBAK DI KECAMATAN SAMPARA, KABUPATEN KENDARI, PROVINSI SULAWESI TENGGARA Akhmad Mustafa; Tarunamulia Tarunamulia; Adi Hanafi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9725.529 KB) | DOI: 10.15578/jppi.10.2.2004.1-13

Abstract

Tujuan studi ini adalah untuk karakteristik dan kelayakan lahan Sampara, Kabupaten Kendari, Provinsi Sulawesi tenggara. Karakteristik lahan yang di amati meliputi kualitas tanah dan air serta vegetasi dominan. Peubah yang digunakan adalah peubah kualitas tanah yang merupakan peubah penting untuk tanah suliat masam dan melalui aplikasi sistem Informasi Geografis (slG) untuk menentukan kelayakan lahan untuk budi daya tambak.
PENGARUH DOSIS PROTEIN DALAM PAKAN TERHADAP PERKEMBANGAN GONAD DAN PEMIJAHAN INDUK TERIPANG PASIR (Holothuria scabra) Made Suastika; Sari Budi Moria; Darmansyah Darmansyah
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2322.827 KB) | DOI: 10.15578/jppi.4.3.1998.37-44

Abstract

Teripang merupakan komoditas ekonomis  penting dan mudah dipasarkan sebagai komoditas ekspor, namun hingga saat ini ekspornya masih tergantung dari hasil tangkapan di alam. Usaha pembudidayaan teripang masih mempunyai kendala dalam penyediaan benih.
PENGAMATAN PEMIJAHAN ALAMI, PERKEMBANGAN EMBRIO DAN LARVA IKAN KERAPU BATIK, Epinephelus microdon DALAM BAK TERKONTROL Bejo Slamet; Tridjoko Tridjoko
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6177.793 KB) | DOI: 10.15578/jppi.3.4.1997.40-50

Abstract

Kerapu batik, Epinehelus microdon telah berhasil dipijahkan di Loka Penelitian Perikanan Pantai Gondol. Wadah pemeliharaan berupa bak beton volume 20 m3 yang diisi 16 ekor induk (4 jantan dan 12 betina) dengan ukuran bobot 1500-2500 gram, pergantian air 400% hari dan pemberian pakan dengan ikan dan cumi-cumi 3-5% biomassa per hari
KELIMPAHAN DAN KOMPOSISI FITOPLANKTON DI ATAS BATANGHARI BAGIAN HILIR, PROPINSI JAMBI Samuel Samuel; Zahri Nasution; Akrimi Akrimi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1803.193 KB) | DOI: 10.15578/jppi.1.2.1995.39-47

Abstract

Suatu pengamatan terhadap fitoplankton telah dilalukan di DAS Batanghari bagianhilir. Tuiuan pengamatan adalah untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan  fitoplankton dihubungkan dengan masalah pencemaran di berbagai habitat baik padakeadaan air surut maupun pasang. pengambilan contoh plankton menggunakan plankton net No.25 di 5 stasion pengamatan pada keadaan air rendah/surut (November1994) dan pada keadaan air tinggi/pasang (Januari 1995).
KOMPETISI PERIKANAN TANGKAP SKALA KECIL DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA (PPN) PRIGI JAWA TIMUR Wahida Kartika Sari; Eko Sri Wiyono; Roza Yusfiandayani
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.981 KB) | DOI: 10.15578/jppi.21.4.2015.221-228

Abstract

Kondisi perikanan tangkap skala kecil yang bersifat multigear dan multispecies menyebabkan meningkatnya tekanan terhadap kondisi sumberdaya ikan. Informasi mengenai status sumberdaya ikan yang ada sangat diperlukan untuk perencanaan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji diversitas hasil tangkapan, tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan, serta pengelompokkan alat tangkap di PPN Prigi. Data diperoleh dari statistik perikanan PPN Prigi periode 2010-2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata indek keragaman hasil tangkapan paling besar adalah pancing ulur yaitu 1,64. Secara umum nilai CPUE menurun setiap tahunnya dengan rata-rata CPUE tertinggi adalah jaring insang yaitu 0,30 ton/trip/tahun. Sedangkan pengelompokkan alat tangkap yang sering terjadi yaitu antara pancing ulur dengan jaring klitik. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh tingkat keragaman hasil tangkapan masing-masing alat tangkap tinggi.Most of small-scale fisheries are multispecies and multi gear so that small-scale fisheries management is very complex. However, information on small-scale fisheries is scarce. Therefore, information on small-scale fisheries is indispensable for sustainable fisheries management planning. This study aims to describe the condition of small-scale fisheries, primarily examine the diversity of the catch, the level of utilization of fish resources, and the grouping of fishing gear in Prigi Fishing Port. Data were analyzed from fisheries statistic data of Prigi fishing port during 2010-2014. The result of this study showed that the greatest diversity of fishing gear ctches occured in handlines is 1,64. In generally, the CPUE deccline annualy by an average of the highest CPUE is a gillnets of 0.30 ton/trip/year. On the other hand, the results of PCA analysis shows that in general, hand lines is often grouped with monofilament gillnet (klitik). The grouping was expected caused by the similarities of target catches between of the fishing gears.
DISTRIBUSI SPASIAL DAN TEMPORAL JUVENIL UDANG DALAM KAITANNYA DENGAN LINGKUNGAN PERAIRAN DI TELUK JAKARTA Adriani Sri Nastiti; Bambang Sumiono; Achmad Fitriyanto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 3 (2012): (September 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1249.754 KB) | DOI: 10.15578/jppi.18.3.2012.157-166

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji distribusi spasial dan temporal juvenil udang dalam kaitannya dengan kondisi lingkungan perairan di Teluk Jakarta. Penelitian dilaksanakan di wilayah timur Teluk Jakarta dengan metode survei, pada bulan April, Juni, Agustus dan Oktober 2010 di 7 lokasi, yaitu: Muara Gembong, Tanjung Gembong, Muara Karawang, Tanjung Karawang, Muara Grobak, Muara Beuting dan Muara Bungin. Hasil penelitian menunjukkan secara temporal kelimpahan juvenil udang mencapai puncak pada bulan Agustus 2010, di Muara Beuting. Secara spasial kelimpahan juvenil udang semakin meningkat ke lokasi luar teluk, yaitu Muara Gerobak, Muara Beuting, Muara Bungin. Juvenil yang ditemukan sebanyak 12 genus dan tertinggi dari genus Acetes  dengan komposisi 59-99%. Kondisi lingkungan yang meliputi kedalaman air, kecerahan, salinitas, suhu air, pH dan oksigen terlarut mendukung pertumbuhan juvenil udang. This study aims to assess the spatial and temporal distribution of juvenile shrimp in relation to environment condition at the Bay of Jakarta. A survey method was conducted in the eastern Bay of Jakarta at 7 locations i.e., Muara Gembong, Tanjung Gembong, Muara Karawang, Tanjung Karawang, Muara Grobak, Muara Beuting and Muara Bungin in April, June, August and October 2010. The results showed that abundance of the juvenile reached it’s peak in August 2010, at Muara Beuting. The abundance of shrimp juvenile increased towards out the bay, located at Muara Gerobak, Muara Beuting, and Muara Bungin. The juvenile found were 12 genus which was dominated by genus of Acetes with composition of 59-99%. Environmental conditions including water depth, transparency, salinity, water temperature, pH and dissolved oxygen are feasible for the growth of shrimp juvenile
PENGARUH PERBEDAAN UMPAN DAN WAKTU SETTING RAWAI TUNA TERHADAP HASIL TANGKAPAN TUNA DI SAMUDERA HINDIA Abram Barata; Andi Bahtiar; Hety Hartaty
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.568 KB) | DOI: 10.15578/jppi.17.2.2011.133-138

Abstract

Rawai tuna merupakan alat tangkap yang efektif untuk menangkap tuna dan ikan pelagis besar lainnya di perairan laut dalam. Pengoperasian rawai tuna bersifat pasif, sehingga tertangkapnya tuna ditentukan oleh tertariknya ikan untuk memakan umpan. Jenis umpan yang sering digunakan adalah lemuru, layang, bandeng dan cumi. Adanya perbedaan waktu setting pada rawai tuna mempengaruhi jenis umpan yang akan digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis umpan yang digunakan pada rawai tuna terhadap hasil tangkapan tuna, pada saat setting pagi dan sore hari. Metode penelitian dengan ujicoba penangkapan selama 2 trip menggunakan KM Putra Jaya 05 di Samudera Hindia. Trip 1 pada tanggal 18 Maret sampai 29 April 2007, sedangkan trip 2 pada tanggal 15 Juli sampai 23 September 2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan jenis umpan layang, lemuru dan cumi pada setting sore hari berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan tuna, sedangkan penggunaan jenis umpan bandeng, lemuru dan cumi pada setting pagi hari tidak berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan tuna. Umpan cumi adalah jenis umpan terbaik yang digunakan untuk setting sore hari pada rawai tuna di Samudera Hindia.Tuna longline is an effective fishing gear to catch tuna and other large pelagic fish in the ocean. As a passive gear, the capture of  tuna is depended on the attraction of fish to bait. The type of baits commonly used are sardine, milkfish, scad and squid. The different in setting time on tuna longline also influences the type of bait to be used. This research aims to determine the influence of bait used in the tuna longline on tuna catch, during setting in the morning and afternoon. Research methods to test the capture for 2 trips using the KM Putra Jaya 05 in Indian Ocean. First trip was on 18 March to 29 April 2007,and second trip was on 15 July to 23 September 2008. The results showed the use of bait type, i.e., scad, sardine and squid on the afternoon setting significantly affect the catch of tuna, while the use type of bait, i.e., milkfish, sardine and squid in the morning setting did not significantly affect the catch of tuna. Squid bait is the best type of bait used for the afternoon setting on tuna longline in the Indian Ocean.
BREAKING STRENGTH JARING POLYAMIDE MULTIFILAMEN 210D/6 PADA PENYIMPANAN DI RUANG TERBUKA DAN TERTUTUP: ASPEK TEKNIS PERIKANAN PAYANG DI TELUK PELABUHAN RATU Andhika Prima Prasetyo; Mokhamad Dahri Iskandar
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 16, No 3 (2010): (September 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.437 KB) | DOI: 10.15578/jppi.16.3.2010.173-183

Abstract

Armada payang merupakan salah satu armada penangkapan yang paling berkembang dalam pemanfaatan sumber daya ikan di Teluk Pelabuhan Ratu. Alat tangkap payang menggunakan sekitar 95% jaring berjenis polyamide dalam pembuatannya. Walaupun polyamide merupakan serat sintetis, polyamide memiliki kelemahan yaitu sangat sensitif terhadap sinar ultra violet. Selain meningkatkan ketahanan dan lama pemakaian nelayan Pelabuhan Ratu menggunakan pengawet reey. Reey merupakan ekstrak dari kulit pohon salam. Perkembangan terakhir diketahui nelayan mulai sulit memperoleh reey, terkait dengan keterbatasan dalam memperoleh bahan baku. Atas dasar itu penelitian ini dilakukan untuk mengkuantifikasi pengaruh penjemuran serta pengaruh perendam (solar, oli, dan aspal) yang diduga berfungsi sebagai pengawet terhadap kekuatan putus jaring polyamide multifilamen 210 D/6. Penelitian ini dilakukan untuk skala laboratorium selama enam bulan (bulan Mei sampai Nopember 2008). Setiap selang waktu satu bulan kekuatan putus jaring diuji dengan menggunakan breaking tester shimadzu autograph AGS-D series. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengaruh perbedaan penyimpanan, perendaman, dan lama penyimpanan berbeda secara nyata terhadap kekuatan putus jaring polyamide (P<0,05). Kekuatan putus jaring yang disimpan di ruang terbuka lebih rendah dibanding jaring yang disimpan di ruang tertutup. Perendaman pada cairan aspal mampu memperlambat laju penurunan kekuatan putus pada penyimpanan di ruang terbuka. Seiring bertambahnya waktu penyimpanan maka kekuatan putus jaring polyamide akan mengalami penurunan. Fishing gear that dominant in Pelabuhan Ratu bay is payang (sein net). Basic material to make payang is netting (95%), netting type that ussualy used is polyamide. Although polyamide is a synthetic fiber, polyamide is very sensitive to ultra violet. In addition to improving the durability and duration, fishermen in Pelabuhan Ratu usually used preservative called reey. Reey is an extract from the bark of Indonesian laurel (syzygium polyanthum). But now fishermen difficult in getting reey, its related to limitations in obtaining raw materials to make reey. This research was conducted to quantify the effect of drying and the influence of soaking (diesel, oil, and asphalt) which suspected to function as a preservative to the breaking strength of polyamide multifilament 210 D/6 netting. This research was conducted for the laboratory scale. Each sample was stored for 6 months (May until November 2008). Breaking strength of netting was tested once per month with breaking tester shimadzu autograph AGS-D series. The experiment was showed that the effect of differences storage, immersed liquid, and storage time significant to breaking strength of polyamide netting (P<0.05). Breaking strength of netting stored at outdoor was lower than netting that was storage at indoor. Soaking with aspalt liquid able to slow the degradation rate of breaking strength at outdoor storage. If storage time is increasing, breaking strength of polyamide netting will decrease.
PERTUMBUHAN, UMUR, DAN MORTALITAS IKAN ENDEMIK BONTI-BONTI (Paratherina striata) DARI DANAU TOWUTI Syahroma Husni Nasution; Ismudi Muschsin; Sulistiono Sulistiono; Dedi Soedharma; Soetikno Wirjoatmodjo
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.885 KB) | DOI: 10.15578/jppi.14.2.2008.205-214

Abstract

Ikan bonti-bonti (Paratherina striata) termasuk ke dalam famili Telmatherinidae, bersifat endemik di Danau Towuti dan Danau Mahalona. Ikan ini tergolong rawan punah (vulnerable species). Penurunan stok ikan tersebut dikhawatirkan terjadi di alam, hal tersebut selain karena tingkat eksploitasi yang meningkat juga karena penurunan kualitas habitat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji parameter pertumbuhan, umur, dan mortalitas ikan bonti-bonti (Paratherina striata) sebagai dasar perumusan dalam pengelolaan. Penelitian ini dilakukan di perairan Danau Towuti. Contoh ikan diperoleh menggunakan jaring insang eksperimental dengan ukuran mata jaring 5/8, 3/4, 1, dan 1 1/4 inci di 5 stasiun dari bulan Mei 2006 sampai dengan April 2007. Penghitungan pertumbuhan, umur, dan mortalitas ikan dilakukan berdasarkan pada frekuensi ukuran panjang total. Data dianalisis menggunakan soft ware FiSAT II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai parameter pertumbuhan pada ikan jantan dan betina masing-masing L¥=20,05 dan 20,45 cm; K=1,70 dan 2,00 per tahun; dan to=-0,02 dan -0,01 tahun. Panjang dan umur ikan jantan dan betina yang tertangkap masing-masing 3,80 sampai dengan 19,78 cm (0,29 sampai dengan 32,44 bulan) dan 4,68 sampai dengan 18,33 cm (0,59 sampai dengan 8,60 bulan). Ukuran ikan jantan dan betina matang gonad dengan peluang 50% adalah 16,78 cm (11,78 bulan) dan 14,61 cm (5,18 bulan). Terdapat 2 kohort ikan bonti-bonti (Paratherina striata) pada bulan Nopember. Puncak pemijahan diperkirakan terjadi pada bulan Nopember. Laju mortalitas total (Z), laju mortalitas alami (M), dan laju mortalitas karena penangkapan (F) pada ikan jantan dan betina masing-masing 6,32 dan 7,32; 2,89 dan 3,20; dan 3,43 dan 4,12 per tahun. Tingkat pemanfaatan stok ikan bonti-bonti (Paratherina striata) di Danau Towuti ada indikasi kelebihan tangkap baik pada ikan jantan (E=0,54) maupun ikan betina (E=0,56). Bonti-bonti (Paratherina striata) that belong to family Telmatherinidae, is an endemic fish species in Lake Towuti and Lake Mahalona. This fish is vulnerable species and its population tend to decrease due to intensive fishing and habitat quality deterioration. This study was aimed to reveal the growth parameters, age, and mortality of bonti bonti (Paratherina striata) as the foundation for its management. The study was conducted in Lake of Towuti, South Sulawesi. Samples were collected using experimental gill net with mesh sized of 5/8, 3/4, 1, and 1 1/4 inches in five stations from May 2006 to April 2007. Growth, age, and fish mortality were calculated based on total length frequency data using FiSAT II software. Result shows that growth parameters value of male and female L¥=20.05 and 20.45 cm; K=1.70 and 2.00 per year; and to=-0.02 and -0.01 year, respectively. Length and age of male and female of fish capture were 3.80 to 19.78 cm (0.29 to 32.44 month) and 4.68 to 18.33 cm (0.59 to 8.60 month). Male and female reached 50% gonad maturity at the size of 16.78 cm (11.78 month) and 14.61 cm (5.18 month). There are two cohorts of bonti-bonti (Paratherina striata) in November. The peak spawning season of the fish was predicted occured in November. Total mortality rate, natural mortality rate, and fishing mortality rate of male and female were 6.32 and 7.32; 2.89 and 3.20; and 3.43 and 4.12 per year, respectively. Exploitation level of bonti-bonti (Paratherina striata) stock in Lake Towuti indicate a situation where over fishing (male E=0.54 and female E=0.56) occur.

Page 94 of 108 | Total Record : 1072


Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026) Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue