cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,072 Documents
KEBIASAAN MAKAN BEBERAPA JENIS IKAN PELAGIS DI PERAIRAN TELUK TOMINI Suwarso Suwarso; A. Zamrony A. Zamrony; Rahmat Setiawan
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2502.345 KB) | DOI: 10.15578/jppi.11.6.2005.103-113

Abstract

Studi tentang kebiasaan makan ikan pelagis di Teluk Tomini telah dilakukan berdasarkan pada hasil pengamatan terhadap isi lambung ikan contoh yang tertangkap di sekitar rumpon pada bulan Juli sampai dengan Agustus 2003 dan bulan Agustus 2004 di Teluk Tomini.
PENGARUH SUMBER LEMAK PAKAN YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN, RETENSI, SERTA KOEFISIEN KECERNAAN NUTRIEN PAKAN PADA IKAN KERAPU BEBEK, Cromileptes altivelis Naftali Kabangnga; Neltje N. Palinggi; Asda Laining; Daud S. Pongsapan
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4625.708 KB) | DOI: 10.15578/jppi.10.5.2004.71-79

Abstract

Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan sumber lemak hewani dan nabati yang tepat dalam pakan ikan kerapu bebek. lkan kerapu bebek sebagaimana ikan kerapu lain membutuhkanprotein pakan tinggiyang berimplikasi pada tingginya harga pakan dan limpahan limbah nitrogen ke perairan lingkungannya. Salah satu upaya untuk mengurangi kebutuhan protein tersebut adalah dengan mengoptimalkan kebutuhan lemak dengan penggunaan sumber lemak yang tepat.
FERMENTASI ALAMI IKAN KAYU (ARABUSHI) CAKALANG (Katsuwonus pelamis) DAN TONGKOL (Auxis thazard) DALAM DESIKATOR Jamal Basmal; Ninoek Indriati; Nurul Hak; Suyuti Nasran
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6944.388 KB) | DOI: 10.15578/jppi.5.2.1999.58-67

Abstract

Percobaan fermentasi alami ikan kayu (arabushl) cakalrrng (Katsuwonus pelantis) dan tongkol (AtLxis thazard) menjadi lzatsuobu.shi teiah diLakukan di dalam desikator berdiameter 29 cm dan tinggi 26 cm.
PERTUMBUHAN DAN SINTASAN BENIH GURAME DALAM PEMELIHARAAN SISTEM RESIRKULASI DENGAN PEMBERIAN PAKAN BERBEDA Sri Hatimah; Endang Sri Heruwati
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3667.922 KB) | DOI: 10.15578/jppi.3.1.1997.73-79

Abstract

Penelitian pemeliharaan benih gurame (Osphronemus gouramy) menggunakan sistemresirkulasi dengan jenis pakan berbeda telah dilakukan di Banyumas, Jawa Tengah, untuk mengetahui keragaan perlumbuhan dan sintasan larvanya.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN NELAYAN TANJUNGBALAI ASAHAN DALAM MENDUKUNG PERIKANAN YANG BERKELANJUTAN Benardo Nababan; Eko Sri Wiyono; Mustaruddin Mustaruddin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.96 KB) | DOI: 10.15578/jppi.23.1.2017.1-10

Abstract

Pengelolaan  perikanan yang dilakukan pemerintah sudah diarahkan untuk mencapai perikanan yang berkelanjutan, namun upaya yang dilakukan belum mendapat dukungan yang baik dari nelayan di Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara. Hal ini terlihat dari banyaknya nelayan yang tidak mematuhi aturan yang dibuat. Evaluasi terhadap kepatuhan nelayan sangatlah diperlukan karena manajemen perikanan merupakan kegiatan manajemen yang berfokus pada sumberdaya manusia dan aktivitasnya di bidang perikanan. Pengelola harus benar-benar memahami bagaimana nelayan atau stakeholder perikanan merespon segala peraturan yang dibuat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor-fakor yang mempengaruhi kepatuhan nelayan dalam mendukung perikanan yang berkelanjutan ditinjau dari aspek karakteristik sosial-ekonomi dan persepsi. Metode yang digunakan adalah analisis model persamaan struktural. Dalam analisis ini digunakan 4 variabel laten, yaitu karakteristik sosial-ekonomi nelayan, persepsi terhadap kriteria alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan, persepsi terhadap keberadaan sumberdaya perikanan, dan kepatuhan terhadap aturan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan nelayan, antara lain; karakteristik sosial-ekonomi nelayan (organisasi, sosialisasi, investasi, dan pendapatan), persepsi terhadap kriteria alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan, dan persepsi terhadap keberadaan sumberdaya perikanan.
HUBUNGAN KEPADATAN IKAN DENGAN KONDISI LINGKUNGAN PERAIRAN ESTUARI DI KABUPATEN BANYUASIN Aroef Hukmanan Rais; Rupawan Rupawan; Herlan Herlan
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10566.26 KB) | DOI: 10.15578/jppi.23.2.2017.111-122

Abstract

Estuari di wilayah Kabupaten Banyuasin dengan potensi biodiversitas sumber daya ikan yang tinggi, merupakan wilayah penangkapan yang potensial dan berkontribusi besar terhadap poduksi perikanan Provinsi Sumatera Selatan. Distribusi biomassa sumber daya ikan di wilayah estuari sangat dinamis dan dipengaruhi oleh parameter salinitas dan suhu perairan pada suatu lingkungan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kepadatan biomassa ikan dalam hubungannya dengan kondisi lingkungan perairan di wilayah perairan estuari Kabupaten Banyuasin.Pengambilan sampel ikan dilakukan dengan percobaan penangkapan menggunakan alat tangkap trawl mini yang diopeasikan di tiga wilayah estuari yaitu Sungai Banyuasin, Sungai Musi dan Sungai Upang. Pada masing-masing wilayah estuari ditentukan sebanyak empat lokasi sampling. Frekuensi pengambilan sampel dilakukan sebanyak empat kali yaitu pada Maret, Juni, Agustus dan Oktober agar mewakili kondisi musiman.Parameter lingkungan yang dianalisa adalah salinitas, suhu perairan, kecerahan, nitrat, amoniak, total fosfat dan kelimpahan fitoplankton. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 87 spesies ikan telah teridentifikasi. Diperoleh nilai kepadatan biomassa 332,13 – 861,49 kg/km2 di estuari Upang, 590,51 – 2.235,04 kg/km2 di estuari Musi dan 1.296,4 - 33.714,88 kg/km2 di estuari Banyuasin. Spesies ubur-ubur (Aurelia aurita) mendominasi tangkapan pada Agustus hingga Oktober yang mencapai 77,22% dari biomassa total ikan dikarenakan lingkungan yang sesuai untuk keperluan pertumbuhannya. Kepadatan biomassa ikan berkorelasi positif dengan parameter salinitas dan kelimpahan fitoplankton, dan berkorelasi negatif terhadap parameter amoniak. Estuaries of Banyuasin district has a high biodiversity of fish resources and significant contribution to the fisheries production in the South Sumatera Province. The biomass distribution of fish in the estuary fluctuated and probably affected by by salinity and water temperature. This research aims to investigate the correlation between biomass density and environment condition in the estuary of Banyuasin Regency. Sampling was conducted through experimental fishing used a mini trawl that operated in three estuary areas, such as: Banyuasin Rivers, Musi Rivers, and Upang Rivers. Every estuary area was replicated for four sampling sites. Samples were collected during March, June, August and October. The waters parameters analyzed were salinity, water temperature, transparency, nitrate, ammonia, phosphate total, and phytoplankton. The results showed that about 87 species of fish have been identified. The biomass density was 332,13 – 861,49 kg/km2 in estuary Upang, 590,51 – 2.235,04 kg/km2 in estuary Musi and 1.296,4 - 33.714,88 kg/km2 in estuari Banyuasin. A jelly fish (Aurelia aurita) is dominated in August to October, up to 77.22% of total biomass. The biomass density of fish was positively correlated with salinity and phytoplankton abundance, whereas negatively correlated to ammoniac condition.
PEMANFAATAN DAN PENGELOLAAN TUNA NERITIK DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA (WPPNRI) 573 Agustinus Anung Widodo; Ignatius Trihargiyatno; Regi Fiji Anggawangsa; Wudianto Wudianto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.694 KB) | DOI: 10.15578/jppi.26.1.2020.11-20

Abstract

Dalam rangka mendeskripsikan pemanfaatan dan inisiasi pengelolaan perikanan tuna neritik di WPPNRI 573, telah dilakukan penelitian dengan mengambil kasus perikanan tuna neritik berbasis di PPN Prigi-Jawa Timur. Data diperoleh melalui program port sampling pada tahun 2013-2017. Hasil penelitian menunjukkan produksi tuna neritik yaitu tongkol lisong (BLT), tongkol krai (FRI), tongkol komo (KAW), dan tongkol abu-abu (LOT) rata-rata sebesar 8.120 ton per tahun. Dari jumlah tersebut, 99,56% diproduksi melalui perikanan pukat cincin (PS) dan sisanya dari perikanan jaring insang hanyut (dGN), payang (DS), dan pancing tonda-pancing ulur (TR-sHL dan dHL). CPUE nominal PS selama 5 tahun terakhir terus menurun, rata-rata 0,891 ton/hari. Komposisi jenis tangkapan PS meliputi BLT (91,52 %), FRI (6,68 %), KAW (1,78 %) dan LOT (0,01 %). Sebanyak 99% BLT yang tertangkap PS merupakan ikan yuwana, sedangkan FRI, KAW, dan LOT sebagian besar tertangkap pada ukuran dewasa masing sebanyak 73%, 70%, dan 55%. Tuna neritik termasuk spesies peruaya jauh, maka pengelolaannya di WPPNRI 573 harus mengacu pada acuan pengelolaan Indian Ocean Tuna Commission (IOTC). Mengacu hasil Work Party Neritic Tuna (WPNT) IOTC tahun 2016 dan 2018, maka pengelolaan perikanan tuna neritik di WPPNRI 573 berbasis di PPN Prigi adalah sebagai berikut: (1) hingga 2025 jumlah hasil tangkapan BLT dan FRI harus dikendalikan masing-masing pada jumlah 9.818 ton dan 48 ton per tahun; (2) hingga 2023 tangkapan KAW ditetapkan pada jumlah ± 98 ton per tahun (80% jumlah tangkapan tahun 2013); dan (3) hingga tahun 2025 jumlah tangkapan LOT disarankan sama dengan tangkapan 2015 yaitu ± 1.13 ton per tahun. To describe the utilization and management initiation of tuna neritic fisheries in the Indonesian FMA-RI 573, a research has been conducted by taking the case at the Prigi Fishing Port, East Java. Data were obtained through the port sampling program in 2013-2017. Results show that the production of neritic tuna, namely bullet tuna (BLT), frigate tuna (FRI), kawa-kawa (KAW), and longtail tuna (LOT) was 8,120 tons per year on average. 99.56% of the amount were produced by purse seine (PS) fisheries, the rest came from drifting gill nets (dGN), danish-seine (DS), and the combination of trolling line and surface-deep hand line (TR-sHL and dHL) fisheries. The nominal CPUE of PS over the past 5 years has continued to decline, averaging 0.891 tons/day. The composition of PS catches includes BLT (91.52%), FRI (6.68%), KAW (1.78%) and LOT (0.01%). Large numbers (99%) of the BLT caught by PS were juvenile fish, while at the same time FRI, KAW, and LOT were mostly caught at the adult stage. Neritic tuna is a highly migratory species, so its management in the Indonesian FMARI 573 must refer to the Indian Ocean Tuna Commission-IOTC recommendations. Referring to the results of WPNT-IOTC in 2016 and 2018, the management of neritic tuna fisheries in the Indonesian FMA-RI 573 based at Prigi Fishing Port is as follows: (1) up to 2025, the catches of BLT and FRI must be controlled at 9,818 and 48 tons per year, respectively; (2) up to 2023, the catches of KAW are set at ± 98 tons per year (80% of the total catch in 2013); and (3) up to 2025, the catch of LOT is recommended the same as in 2015, which is ± 1.13 tons per year.
RESPONS RAJUNGAN (Portunus pelagicus) TERHADAP WARNA CAHAYA YANG BERBEDA PADA UJI LABORATORIUM Intan Roihatul Jannah Hasly; Roza Yusfiandayani; Wazir Mawardi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.113 KB) | DOI: 10.15578/jppi.25.4.2019.215-224

Abstract

Tingkah laku ikan merupakan salah satu pendekatan dasar dalam mengembangkan teknologi penangkapan ikan. Pengetahuan tentang respons tingkah laku menjadi bagian tidak terpisahkan sebagai akibat dari perlakuan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respons rajungan terhadap berbagai warna cahaya dilihat dari proporsi rajungan mendekati cahaya, waktu kedatangan rajungan menuju area lampu dan lama rajungan bertahan di area lampu. Respons rajungan diketahui dari pembagian area yang telah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu starting area, searching area dan finding area. Analisis statistik deskriptif komparatif digunakan untuk mengetahui adanya perbedaan respons berdasarkan waktu dan jumlah rajungan menuju cahaya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa rajungan memberikan respon untuk menghampiri lampu baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap cahaya. Warna biru, putih dan hijau memberikan respons cepat bagi rajungan untuk datang ke lampu, sementara rajungan bertahan lama dalam cahaya merah, oranye dan ungu. Hasil penelitian ini dapat diterapkan sebagai pertimbangan untuk pengembangan teknologi alat penangkapan rajungan seperti bubu dan jaring insang dasar. Fish behavior is one of the basic approaches in developing fishing technology. Knowledge of responses is a related part of knowing behavior because of the treatment given. This study aims to analyze the response of the blue swimming crab to various colors of light in terms of the proportion of blue swimming crabs that approach light, the time of arrival of the blue swimming crab to the lamp area and the length to survive of blue swimming crab in the area of   the lamp. Crab responses is known from the division of the area that has been divided into three parts, namely the starting area, searching area and finding area. Comparative descriptive statistical analysis is to identify the difference in response based on the time and number of crabs to light. The test results show that the response both directly and indirectly to light. Blue, white and green light color provide the fastest response for crabs to come to the lights, while crabs last long in red, orange light color. The results of this study can be applied as a consideration for the technological development of crab fishing equipment such as traps and bottom gillnet.
DINAMIKA PERIKANAN PAYANG DI PERAIRAN UTARA KARAWANG DAN SEKITARNYA Mohamad Adha Akbar; Mufti Petala Patria
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1069.747 KB) | DOI: 10.15578/jppi.25.4.2019.253-268

Abstract

Perikanan skala kecil terutama perikanan payang merupakan salah satu tulang punggung mata pencaharian masyarakat pesisir di perairan Karawang, Jawa Barat. Peran nyata aktivitas perikanan pada keanekaragaman sumberdaya hayati laut adalah memanfaatkan sumberdaya hayati perairan laut di kawasan pesisir dengan kondisi kelimpahan sumberdaya ikan yang cenderung berfluktuasi pada tingkat yang relatif rendah. Penelitian dilakukan melalui survey lapang pada kurun waktu Agustus – Nopember 2018 dengan basis data hasil tangkapan dan upaya penangkapan pada rentang waktu 2016-2018. Beberapa data lingkungan terkait ragam keadaan cuaca yang digambarkan oleh data curah hujan, arah dan kecepatan angin digunakan untuk menggambarkan siklus adaptasi nelayan untuk mempertahankan mata pencariannya. Aktivitas penangkapan menggunakan perahu dengan tonase <10 GT dan rerata kekuatan mesin sekitar 20 PK, beroperasi dalam skala harian dengan alat penangkapan ikan utama adalah jaring payang. Perkembangan tahunan indeks kelimpahan sumberdaya ikan dengan alat tangkap payang pada kurun waktu 2004-2008 dan 2015-2018 cenderung menurun. Tahun 2004 nilai indeks kelimpahan sumberdaya ikan sebesar 268 kg/trip menjadi 199 kg/trip pada 2008 dan terus menipis menjadi sebesar 115 kg/trip tahun 2018. Hal ini mengindikasikan usaha perikanan cenderung berada pada kondisi tidak berkelanjutan bila tidak dilakukan pengelolaan. Keberlanjutan usaha perikanan masih dapat diharapkan jika dilakukan perubahan terhadap sistem usaha yang lebih bersifat menjadi gabungan individu perahu yang berukuran kecil menjadi usaha kelompok dengan perahu yang berukuran lebih besar diatas 10 GT dengan daerah penangkapan yang lebih jauh.One day pelagic seine (payang) fisheries, is one of the backbones of coastal community livelihoods in North Karawang waters, West Java. The significant role of fisheries activities to harvest small pelagic fish resource in coastal areas indicated that the monthly CPUE tend fluctuated and stabil at low level. The study was conducted through a field survey in the period August - November 2018 with a database of catches and efforts from 2016-2018. Some environmental data related to various weather conditions illustrated by rainfall data, wind direction and speed are used to describe the adaptation cycle of fishermen to maintain their livelihoods. Fishing activities using boat with tonnage <10 GT and average engine strength of around 20 PK, operating on a daily scale with the main fishing gear is payang net. The average annual catch per trip (CPUE) of payang fisheries within period of 2004-2008 to 2015-2018 tend to decrease. In 2004 the CPUE was 268 kg/trip then 2008 at 199 kg / trip, and continue to lower index in 2018 of 115 kg / trip. This indicates that the fishery business is suspected to be in an unsustainable condition if no sustainable management is carried out. Sustainability of the fisheries business can still be expected if changes are made to the business system which is more a combination of individual small-sized boats into group businesses with boats larger than 10 GT with more distant fishing grounds.
ESTIMASI POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBERDAYA LOBSTER PASIR (Panulirus homarus) DI PERAIRAN PRIGI KABUPATEN TRENGGALEK Amula Nurfiarini; Danu Wijaya
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.673 KB) | DOI: 10.15578/jppi.25.3.2019.169-178

Abstract

Spiny lobster atau dikenal dengan sebutan udang karang merupakan komoditas perikanan unggulan yang pemanfaatannya cukup intensif di Teluk Prigi, Kabupaten Trenggalek. Sejauh ini informasi mengenai status stok sebagai dasar pengelolaannya masih sangat terbatas. Salah satu pendekatan untuk menduga status stok yang dapat dilakukan adalah dengan penandaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi sumberdaya lobster pasir dan dinamika pemanfaatanya di Perairan Prigi. Metode penelitian menggunakan pendekatan tandai-lepas-tangkap kembali (Capture-Mark-Recapture/CMR), sedangkan analisis potensi lobster mengacu pada Petersen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perikanan lobster termasuk kategori perikanan artisanal (small scale fisheries) yang dijalankan paruh waktu dan dilakukan secara one day fishing. Alat tangkap yang digunakan meliputi; jaring insang (gillnet), krendet (trap net) dan bubu (trap net). Penyebaran lokasi penangkapan di sepanjang tebing pantai berkarang di pesisir Teluk Prigi. Musim puncak penangkapan terjadi pada bulan Oktober-Maret. Karakteristik hasil tangkapan yang didaratkan masih didominasi oleh ukuran larang tangkap yakni mempunyai panjang karapas < 8 cm atau pada kisaran bobot 200-300 g per ekor yang mana proporsi ini mencapai 84,79% dari total tangkapan. Potensi Lobster Pasir di Teluk Prigi adalah 1,19 ton/th dengan tingkat pemanfaatannya baru sekitar 44,53 %. Spiny lobster is a superior fishery commodity that is utilized quite intensively in Prigi, Trenggalek Regency. However information about the status of stocks as a basis for management is still very limited. One approach to estimating stock status that can be done is by marking. This study aims to determine the potential of spiny lobster resources from type of sand lobster, and the dynamics of its utilization in the Prigi Bay waters. The research method uses the Capture-mark-recapture (CMR) approach, while the analysis of lobster stock potential refers to Petersen. The results showed that lobster fisheries were categorized as artisanal fisheries (small scale fisheries) which were run part-time and carried out one day fishing. The fishing gear used includes; net (gillnet), trap net is called as krendet and bubu. Distribution of fishing location along the rugged coastal cliffs on the coast of Prigi waters. The peak for catching season occurs in October-March. The characteristics of the landed catches are still dominated by the no-take size carapace length <8 cm or in the weight range of 200-300 g per tail which reaches 84,79% of the total catch. Sand Lobster Potential in Prigi is 1.19 tons per year with a new utilization rate of around 44,53%.

Page 95 of 108 | Total Record : 1072


Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026) Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue