cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,072 Documents
PENGARUH TIPE ROTIFER UNTUK PAKAN AWAL EKSIOGEN TERHADAP MUTU BENIH BANDENG (Chanos chanos Forskal) Agus Prijono; Gede Sumiarsa; Ngurah Sedana Yasa
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2606.203 KB) | DOI: 10.15578/jppi.2.2.1996.48-54

Abstract

Rotifer merupakan pakan yang umum dipergunakan dalam pemeliharaan larva ikan bandeng tetapi diketahui terdapat beberapa tipe rotifer yang tersedia untuk paLan larva.Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui tipe rotifer yang cocok untuk meningkatkan mutu benih yang dihasilkan. Penelitian menggunakan wadah kaca serat sebanyak 9 buah ukuran I m3 yang diisi air laut 5O0 liter daa ditebar telur bandeng kepadatan 30 ekor/liter.
KELIMPAHAN chaetoceros sp., Rhizosolenia W. DAN Skeletonema sp. DI PERAIRAN PULAU BINTAN Zaitun Syafara
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2734.86 KB) | DOI: 10.15578/jppi.1.3.1995.131-136

Abstract

Pengamatan kelimpahan chaetoceros sp., Rhizosolenia W. DAN Skeletonema sp. telahdilakukan di perairan Pulau Bintan pada bulan Juli 1994 sampai Maret 1995. Pengambilan sampel dilakukan satu bulan sekali.
KEBERADAAN MADIDIHANG (Thunnus albacares) DI SEKITAR RUMPON Erfind Nurdin; Asep Ma'mun; Muhamad Fedi Alfandi Sondita; Roza Yusfiandayani; Mulyono Baskoro; Mahiswara Mahiswara
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.477 KB) | DOI: 10.15578/jppi.25.1.2019.35-44

Abstract

Armada penangkapan ikan tuna di Indonesia banyak yang menggunakan rumpon sebagai alat bantu penangkapan. Teknologi alat bantu ini menyebabkan sumberdaya ikan tuna semakin rentan terhadap penangkapan. Hal ini berarti jika perikanan berbasis rumpon tidak dikendalikan, keberlanjutan sumberdaya akan terancam. Pengambilan data dilaksanakan pada tanggal 24 November hingga 3 Desember 2015 di perairan selatan Palabuhanratu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lokasi dan periode waktu sebagai daerah penangkapan ikan yang layak. Pengamatan mengunakan teknologi hidroakustik portable scientific echosounder SIMRAD EY60, dengan lintasan perekaman mengelilingi rumpon berbentuk bintang (star survey). Hasil penelitian ini menunjukkan dugaan daerah penangkapan ikan tuna layak tangkap di sekitar rumpon berada pada kedalaman 200 hingga 500 meter dengan puncak keberadaan terjadi pada pagi hari.Most of tuna fishing fleet in Indonesia are using FADs as fishing tools. This technology leads tuna resources to be more susceptible to fishing activity. If the fisheries not well managed, the sustainability of fish resources will be threatened. The study was conducted from November 24th until December 3rd 2015 in south of Pelabuhanratu waters. The aims of this study to determine the location and time period as a suitable fishing areas. The studied through underwater acoustic devices portable scientific echosounder SIMRAD EY60 with star survey patterns around the FAD. This study showed that indication of the existence matured tuna based on acoustic observation around FADs occurred within the depth of 200 until 500 metre peak condition mostly found during the early of day light.
Status dan Perkembangan Perikanan Pukat Cincin di Banda Aceh Tuti Hariati
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 17, No 3 (2011): (September 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.768 KB) | DOI: 10.15578/jppi.17.3.2011.157-167

Abstract

Dalam periode tahun 1995-1998 terdapat dua cara atau metode penangkapan pukat cincin di perairan Banda Aceh. Cara pertama adalah mengejar gerombolan ikan pelagis besar pada siang hari dan cara kedua mengumpulkan kelompok ikan pelagis kecil menggunakan cahaya lampu pada malam hari. Tujuan penelitian pada tahun 2009 adalah untuk memperoleh informasi baru perkembangan perikanan pukat cincin, penambahan cara penangkapan, komposisi hasil tangkapan, indeks kelimpahan, dan puncak hasil tangkapan ikan pelagis yang dominan. Data yang dikumpulkan terdiri atas jumlah kapal, ukuran kapal, ukuran jaring, hasil tangkapan per jenis ikan dan per kapal; jumlah hari operasi tahun 2008 dan 2009, yang diperoleh dari Pelabuhan Perikanan Pantai Lampulo. Data dikelompokkan lalu ditabulasi dibuat grafik serta dianalisis. Hasil menunjukkan, bahwa perikanan pukat cincin mengalami perkembangan baik dalam jumlah dan bobot kapal maupun ukuran jaring. Dalam periode ini cara penangkapan bertambah dengan cara ketiga yaitu menangkap dua kelompok ikan pelagis yang berkumpul di bawah benda-benda terapung (kayu-kayuan dan sampah). Berdasarkan atas menurunnya hasil tangkapan dan catch per unit of effort pukat cincin menggunakan cara dua diduga sumber daya ikan pelagis kecil di perairan ini sudah menipis. Catch per unit of effort ikan pelagis besar yang tertangkap dengan cara satu dan cara tiga juga tidak meningkat, sehingga untuk ketiga cara tersebut diperlukan pengendalian upaya.In the period of 1995-1998, there were two kinds of fishing method in the purse seine fisheries of Banda Aceh. The 1st method is to pursue the large pelagic fishes shooling in the day time, and the 2nd method is to catch small pelagic fishes gathered by light at night. This research in year 2009 was aimed to obtain the new information on the recent development of the fishery, the additional fishing method as well as catch composition, index of abundance and the peak catch of the dominant pelagic fishes. Number of vessel, dimention of vessel and purse seine net, catch by species and by vessel; number of trip, duration of trip during years 2008 and 2009 were collected from Lampulo Fishing Port. These data were grouped to make some tables and graphics. Result shows, number and volume of vessel, and dimention of purse seine net had developed from those in the 1995 1997 period. Also, the fishing methods had increased, 3rd method was operated to catch the fishes gather under the floating object (blogs and garbage). Based on the decreasing catch per unit of effort resulted from the 2nd method, the small pelagic resourses had probably declined, the catch per unit of effort resulted from both the 1st and 2nd method, however, also did not increase. Therefor, the effort number of the three fishing method have to be managed.
KARAKTERISTIK PERIKANAN JARING CUMI DI UTARA JAWA Hufiadi Hufiadi; Mahiswara Mahiswara
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1977.489 KB) | DOI: 10.15578/jppi.13.2.2007.133-144

Abstract

Saat ini, perikanan jaring cumi khusus di Pulau Jawa berkembang pesat, keberadaannya dapat dijumpai terutama di Pelabuhan Perikanan Jakarta (Muara Baru dan Muara Angke), Indramayu, dan Juwana. Tulisan ini didasarkan pada hasil penelitian jaring nus (jaring cumi) di Juwana pada bulan Oktober 2004. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan informasi dasar secara deskriptif mengenai karakteristik perikanan jaring cumi di perairan Laut Jawa meliputi intensitas cahaya lampu, alat tangkap, dan armada, aktivitas penangkapan, komposisi hasil tangkapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapal jaring cumi yang berbasis di Juwana diperoleh kisaran panjang 14,30 sampai dengan 19,10 m; lebar 4,35 sampai dengan 6,60 m; dalam 2,0 sampai dengan 2,5 m. Nelayan jaring cumi Juwana beroperasi di perairan utara Jawa pada posisi 03 04° LS dan 110–114° BT. Dari hasil tangkapan jaring cumi didominasi oleh ikan siro (Ambygaster sirm) mencapai (83,58%). Dari ke-3 titik pengukuran intensitas cahaya (pusat, tengah, dan haluan kapal), diperoleh variasi nilai pemudaran cahaya 0,1028 sampai dengan 0,2566 μmol s-1 m-2 per m.Based on the of used lighting of lamp, stick held dipnet is belong to the light fishing classification. The stick held dipnet fisheries especially in Java grow rapidly, its existence can be met in Jakarta fishery port (Nizam Zahman and Muara Angke), Indramayu, and Juwana. This paper is based on the results of studies and observer on stick held dipnet boat in Juwana at October 2004. The stick held dipnet research was conducted to know of fishing gear, light illumination intensity, fishing activities, catch composition, and body length of dominated catch. The stick held dipnet boats based in Juwana has dimention with range i.e. Length (L) 14,30 to 19,10 m; Broad (B) 4,35 to 6,60 m; Depth (D) 2,0 to 2,5 m. The stick held dipnet Java waters fishing ground was S 03-04° and E 110-114° positions. From the catch of stick held dipnet are dominated by Ambygaster Sirm (83,58%). From third point of measurement of light intensity (center, middle, and ship lower) on boat, it was found the variation of dull light illumination ranging from 0,1028 to 0,2566 μ mole of s- 1 m-2 per m. 
IDENTIFIKASI KELAYAKAN LAHAN BUDI DAYA IKAN DALAM KERAMBA JARING APUNG DENGAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI TELUK PANGPANG, JAWA TIMUR I Nyoman Radiarta; Adang Saputra; Bambang Priono
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4789.402 KB) | DOI: 10.15578/jppi.11.5.2005.31-41

Abstract

Pemilihan lokasi merupakan suatu faktor kunci yang menentukan kesuksesan dan keberlangsungan dalam berbagai macam kegiatan budi daya perikanan. Penelitian ini memanfaatkan teknologi SIG untuk mengidentifikasi kelayakan lahan bagi budi daya KJA. Penelitian telah dilaksanakan diTeluk Pangpang pada bulan Juli dan September 2002. Penentuan stasiun pengamatan dilakukan secara acak dengan teknik sederhana.
EFEKTIVITAS PEMBERIAN SEL UTUH (WHOLE CELL) BAKTERI VIBRIO TERHADAP PENINGKATAN KEKEBALAN TUBUH UDANG WINDU (Penaeus monodon FABR.) DARI SERANGAN WHITE SPOT SYNDROME VIRUS(WSSV) Mun lmah Madeali; Muharijadi Atmomarsono; Ahdiah Hamzah
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9032.959 KB) | DOI: 10.15578/jppi.10.2.2004.59-70

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan lipopolisakarida (bakterin) dan konsentrasi bakterin paling tepat yang dapat memberikan pengaruh terbaik terhadap peningkatan kekebalan tubuh serta sintasan benur windu dari serangan WSSV. Lipopolisakarida yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil ekstraksi dari baktiri Vibrio harueyi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu pemberian bakterin dengan konsentrasi 0 mg/L (A = kontrot), 20 glkg pakan (B), 30 g/kg pakin (cj, dan 40 g/ kg pakan (D). Ulangan dilakukan sebanyak 3 kali untuk tiap perlakuan aan setiap ulangan menggunakan 80 ekor benur windu.
DISTRIBUSI SPASIAL IKAN FAMILI CHAETODONTIDAE DI KEPULAUAN KARIMUNJAWA, JAWA TENGAH Mujiyanto Mujiyanto; Amran Ronny Syam
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.347 KB) | DOI: 10.15578/jppi.20.4.2014.225-234

Abstract

Salah satu spesies ikan yang selama ini digunakan sebagai indikator kesehatan terumbu karang adalah famili Chaetodontidae. Namun keberadaan dan kondisi ikan indikator ini belum banyak diketahui di perairan Karimunjawa. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengamati komposisi jenis dan sebaran ikan dari famili Chaetodontidae di perairan Kepulauan Karimunjawa yang dilaksanakan di 15 stasiun pada April, Juli,  Oktober, dan November 2011 serta Juni, September, dan Desember 2012. Pengamatan dilakukan dengan metode sensus visual Line Intercept Transect (LIT) pada 2 selang kedalaman. Pertama  kedalaman ± 5-6 meter dan kedua ± 10-11 meter dengan jarak penyelaman sepanjang 75 meter. Pada penelitian ini, ditemukan 21 spesies ikan dari famili Chaetodontidae. Kelimpahan spesies tertinggi ditemukan di Pulau Nyamuk dengan nilai 110 ind/ha pada kedalaman ± 5-6 meter dan 100 ind/ha pada kedalaman ± 10-11 meter. Jumlah spesies ikan indikator tercatat sebanyak 21 spesies, yang tersebar di seluruh perairan, dengan perbedaan kehadiran hanya tejadi pada kedalaman. Dari seluruh spesies terdapat  6 spesies yang memiliki perbedaan kehadiran, dua spesies ikan  ditemukan di kedalaman ± 5-6 meter yaitu Chaetodon kleinii dan Chaetodon punctatofasciatus, empat spesies yang tidak ditemukan di kedalaman ± 10-11 meter yaitu Choetodon fasciatus, Chaetodon ephippium, Heniochus varius, dan Sinodus binotatus. Kesamaan spesies ditandai dengan kecenderungan membentuk kelompok yang mengerucut terjadi di perairan Pulau Nyamuk, yang berarti bahwa seluruh spesies yang ditemukan pada seluruh stasiun, terdapat di Pulau Nyamuk.One of the species of fish that had been used as an indicator of the health of coral reefs is the family Chaetodontidae. But the existence and condition of this indicator fish has not been widely known in Karimun waters. This study was conducted to observe the species composition and distribution of fish of the family Chaetodontidae in Karimun Islands waters held at 15 stations in April, July, October, and November 2011 and June, September, and December 2012. Observations were made with the visual census method Line Intercept Transect (LIT) at a depth of 2 hoses. First of ± 5-6 meters depth and the second with a distance of ± 10-11 meters along the 75-meter dive. In this study, found 21 species of fish of the family Chaetodontidae. The highest species richness was found in Nyamuk Island with a value of 110 ind/ ha at a depth of 5-6 meters and ± 100 ind/ha at a depth of ± 10-11 meters. Number of indicator fish species were recorded for 21 species. Spatial distribution of the 21 species, occurs throughout the waters, with the difference only occurs in the presence of depth. Of all species, there are 6 species which have different attendance, two species of fish found in the depths of ± 5-6 meters is Chaetodon kleinii and Chaetodon punctatofasciatus, four species found in depths of ± 10-11 meters is Chaetodon fasciatus, Chaetodon ephippium, Heniochus varius, and Sinodus binotatus. The similarity of species characterized by the tendency to form groups that occur in the conical Nyamuk Island waters, which means that all of the species found in the entire station, located on Nyamuk Island.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS RUMPON CUMI-CUMI MENURUT MUSIM, KEDALAMAN DAN JENIS RUMPON Indra Ambalika Syari; Mujizat Kawaroe; Mulyono S. Baskoro
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1332.084 KB) | DOI: 10.15578/jppi.20.1.2014.63-72

Abstract

Intensitas penangkapan cumi-cumi semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah armada dan modernisasi alat tangkap tanpa adanya program pengkayaan stok cumi-cumi-cumi. Rumpon cumi-cumi merupakan salah satu teknologi tepat guna untuk pengembangan program pengkayaan stok cumi-cumi di masa yang akan datang. Bentuk dan bahan pembuat rumpon cumi-cumi saat ini kurang aplikatif dengan kondisi nelayan kecil dan di daerah terpencil. Oleh karena itu dirancang modifikasi model rumpon cumi-cumi yang lebih sederhana menggunakan bahan yang relatif murah dan mudah diperolah sesuai dengan potensi lokal di daerah. Penelitian ini dilakukan di Perairan Tuing Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Oktober 2012–Juni 2013 dengan menggunakan 12 unit rumpon cumi-cumi. Rumpon cumi-cumi yang digunakan terbagi menjadi dua jenis yaitu bentuk kotak dari bahan kayu dan bentuk silindris dari bahan drum bekas dengan jumlah masing-masing tiap jenis enam unit. Rumpon cumi-cumi ditenggelamkan pada kedalaman 3 meter dan 5 meter dengan pengamatan sebanyak lima kali yaitu pada musim peralihan timur–barat dan musim peralihan barat-timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penempelan telur cumi-cumi lebih efektif pada rumpon bentuk silindris, kedalaman 3 meter dan pada musim peralihan timur–barat. Hasil uji menunjukkan bahwa faktor musim (peralihan timur-barat pada Oktober-Desember) dan jenis rumpon cumi-cumi (bentuk silindris dan bahan drum bekas) berpengaruh nyata terhadap penempelan telur cumi-cumi pada rumpon. Intencity of squid fishing progressively increase as numbers of fleed and fishing gear modernisation without squid stock enrichment program. Squid aggregatee device is one of the efficient technologies for squid stock enrichment program development in the future. Squid aggregate device form and material recently are less applicative for fisherman condition in the remote area. Therefore squid aggregate device model modified to become less complicated by using cheaper and easy to find material based on local potency in the area. This research obtains in Tuing Sea, Bangka Regency, Bangka Belitung Province since October 2012 until June 2013 by using 12 units of squid aggregate device. There are two kind of squid aggregate device in this research which are 6 units square form with wood material and 6 units cylindrical form made from used drum. Squid aggregate device drowned in 3 meter and 5 meter depth and monitored 5 times in east-west transitional season and west-east transitional season. Research result shows that squid eggs attach effectively to cylindrical form Squid aggregatee device, 3 meter depth and in east-west transitional season. Test result show that seasonal faktor (east-west transitional season since October-December) and aggregate device type (cylindrical form made from used drum) are influenced to the squid eggs attachment to aggregatee device.
PENGARUH TINGKAT SALINITAS MEDIA PEMELIHARAAN TERHADAP KUALITAS DAGING IKAN MAS (Cyprinus carpio) Lies Setijaningsih; Kunto Purnomo; Chairulwan Umar
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7670.42 KB) | DOI: 10.15578/jppi.6.3-4.2000.70-82

Abstract

Dalam rangka meningkatkan nilai tambah pada ikan mas, telah dilakukan penelitian mengetahui pengaruh tingkat salinitas terhadap kualitas daging ikan mas. Tingkat salinitas uynatnugk dipakaiadalah 0,6, 8, dan 10 ppt. lkan yang digunakan ukurln 100 g, berasaldari kolam air deras dan keramba jaring apung. Kualitas daging ikin mas ditentukan dengan menggunakan param- eter tekstur daging dan rasa.

Page 92 of 108 | Total Record : 1072


Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026) Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue