cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,072 Documents
MODEL PENEBARAN IKAN NILA DI WADUK MALAHAYU, BREBES, JAWA TENGAH Setiya Triharyuni; Dipo Aldila; Aisyah Aisyah; Husnah Samhudi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1088.3 KB) | DOI: 10.15578/jppi.25.3.2019.161-168

Abstract

Waduk Malahayu merupakan salah satu waduk yang dimanfaatkan untuk perikanan. Kegiatan penangkapan di waduk ini telah lama dilakukan baik oleh nelayan sekitar maupun luar daerah. Saat ini telah terjadi indikasi adanya penurunan produksi sebagai akibat adanya degradasi sumber daya ikan dan lingkungan serta intensitas penangkapan yang tinggi. Diperlukan upaya pengelolaan untuk meningkatkan produksi ikan di Waduk Malahayu. Salah satu upaya tersebut adalah dengan melakukan penebaran ikan secara rutin baik oleh instansi pemerintah maupun nelayan setempat. Salah satu faktor keberhasilan penebaran ikan terhadap peningkatan produksi adalah jumlah padat tebar yang memadai. Akan tetapi, kajian mengenai jumlah padat tebar yang memadai melalui pendekatan model matematis belum banyak dilakukan. Model matematis mampu memperhitungkan aspek lain seperti penebaran kembali dan penangkapan ke dalam satu kajian model holistik dan analitik. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi jumlah benih nila yang sebaiknya ditebar. Kondisi populasi ikan nila digambarkan dengan skenario laju pertumbuhan logistik, dengan pertimbangan adanya penebaran dan penangkapan. Hasil menunjukkan bahwa jumlah benih nila untuk ditebar sehingga dapat meningkatkan produksi adalah sekitar 8 ton/tahun atau setara dengan 533.333 ekor/tahun. Hasil dari kajian ini diharapkan bermanfaat bagi pengelolaan sumber daya ikan di Waduk Malahayu melalui pemulihan sumber daya. Fish stocking has been done as an effort to increase fish stock in Malahayu Reservoir. The need to fish stocking is due to the degradation of environment, fish resources and high exploitation either, lead to the decreasing of fish production on those reservoir. Fish stocking that intensively done by local government and community does not yet give an impact to the increasing of fish production. The amount of stocked seeds by using mathematical model approach has not done yet. Mathematical model approach is able to consider other aspects such as restocking activities and fishing into a holistic and analytical study. The current research aimed to estimate the amount of seed of Tilapia that properly stocked in Malahayu Reservoir. Population condition of Tilapia is described by logistic growth rate scenario, taking into account of stocking and fishing. In effort to increase the production, the amount of Tilapia should be stocked about 8 tonnes/year or 533.333 individuals/year. The results obtained in this research are expected to be beneficial for the management of fish resources in Malahayu Reservoir through stock enhancement. 
STRUKTUR UKURAN DAN PARAMETER POPULASI HIU MONYET (Alopias superciliosus Lowe, 1839) DI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA SELATAN JAWA Umi Chodrijah; Prihatiningsih Prihatiningsih; Anthony Sisco Panggabean; Herlisman Herlisman
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.37 KB) | DOI: 10.15578/jppi.26.1.2020.21-28

Abstract

Alopias superciliosus atau Bigeye Thresher Shark atau hiu monyet  merupakan spesies yang bermigrasi sangat tinggi, bersifat oseanik dan hampir selalu ditemukan di laut tropis dan beriklim sedang.  Spesies ini memiliki fekunditas yang rendah dan tingkat kenaikan populasi yang sangat rendah dibandingkan dengan hiu “Thresher” lainnya.  Spesies ini sangat rentan terhadap eksploitasi penangkapan  baik sebagai target maupun hasil tangkapan sampingan.  Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2015 sampai November 2016 di tempat pendaratan Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan struktur ukuran dan parameter populasi sebagai landasan untuk mengetahui status stok pada tingkat pemanfaatan terkini. Metode penelitian yang digunakan melalui pengamatan dan  pengumpulan data oleh enumerator.  Hiu  monyet sebanyak 1437 individu  merupakan hasil tangkapan pancing rawai yang tertangkap di Samudera Hindia Selatan Jawa.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur ukuran hiu monyet (Alopias superciliosus) di perairan Samudera Hindia Selatan Jawa yang didaratkan di Cilacap berkisar antara 50-240 cm FL dengan modus berkisar antara ukuran 150 cmFL.  Hubungan panjang berat hiu monyet jantan menunjukkan pertumbuhan bersifat isometrik (b=3) sedangkan hiu monyet betina bersifat allometrik positif (b>3).  Perbandingan jenis kelamin hiu monyet jantan dan betina mendekati seimbang (0,97 : 1). Persamaan kurva pertumbuhan Von Bertalanffy untuk hiu monyet sebagai ????(????) = 270(1−????^(−0,2(????+0,01665)). Parameter mortalitas untuk hiu monyet, meliputi laju kematian total (Z), laju kematian alamiah (M) dan laju kematian karena penangkapan (F), masing-masing sebesar 0,85/tahun, 0,35/tahun dan 0,50/tahun. Laju eksploitasi (E) hiu monyet sebesar 0,59/tahun. Dengan demikian tingkat pemanfaatan hiu monyet sudah pada tingkat over fishing.
DISTRIBUSI - KELIMPAHAN DAN HASIL TANGKAPAN CUMI-CUMI DI PERAIRAN PAPARAN SUNDA BAGIAN SELATAN: berbasis pada perikanan Jaring Cumi yang mendarat di Muara Angke dan Kejawanan Suwarso Suwarso; Achmad Zamroni; Moh Fauzi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.151 KB) | DOI: 10.15578/jppi.25.4.2019.225-239

Abstract

Perikanan cumi-cumi telah berkembang di Laut Jawa dan Laut Cina Selatan, didukung oleh alat tangkap bouke ami dan cast net dengan armada penangkap skala menengah. Perikanan berkembang sebagai bentuk diversikasi usaha penangkapan beralih target species akibat terjadinya pergeseran trophic level yang berkaitan dengan perubahan ekosistem serta indikasi pergantian populasi dari sumberdaya ‘multi-species’. Kajian distribusi, kelimpahan dan hasil tangkapan Cumi-cumi (Loliginidae) di perairan Paparan Sunda bagian selatan didasarkan pada data monitoring oleh enumerator tahun 2018 terhadap alat penangkap cumi-cumi (bouke ami dan cast net), didukung oleh data pendaratan per kapal di TPI Muara Angke (Jakarta) periode 2012-2018 dan TPI Kejawanan (Cirebon) periode 2008-2018. Observasi lapangan ditujukan untuk mendeskripsikan karakteristik armada, alat tangkap dan aspek operasional penangkapan. Hasil menunjukkan daerah penangkapan cumi-cumi di Paparan Sunda bagian selatan tersebar luas di Laut Jawa dan Laut Cina Selatan, tapi lebih terkonsentrasi di perairan selatan Selat Karimata yang ditunjukkan oleh tingginya intensitas penangkapan (54% dari total trip penangkapan). Namun demikian, secara umum kelimpahan cumi-cumi (ditunjukkan oleh indek kelimpahan CPUE dalam Kg/hari) hampir seragam sekitar 113-133 kg/hari, sedang indek kelimpahan (CPUE) dalam Kg/trip terlihat berbeda. Perbedaan nyata juga terlihat dari total hasil tangkapan cumi-cumi dari Selat Karimata yang mencapai 55% dari total pendaratan cumi-cumi dari paparan tersebut. Secara umum sebagai target species cumi-cumi berkontribusi sebanyak 93% dari total hasil tangkapan pada alat penangkap cumi. Trend kenaikan hasil tangkapan cumi-cumi berlangsung hingga saat ini baik di Muara Angke maupun Kejawanan. Dalam komposisi jenis prosentase cumi-cumi juga menunjukkan semakin tinggi pada hasil tangkapan pukat (cantrang). Hal-hal terkait pengelolaan perikanan cumi sebagai diversifikasi usaha penangkapan dan pengalihan target species juga dibahas.Squids fishery had well developed in the Java Sea and the South China Sea, was supported by the bouke ami and cast net that were using the medium scale boats. The fisheries developed as the fishing diversification over the species target as an impact of the tropic level changes correspond to the ecosystem changes and substitution of fish population from ‘multi-species’ fish resources. Study of distribution, abundance and catch of squid (Loliginidae) in the southern of Sunda Shelf waters was carried out based on daily monitoring data by enumerators (enumeration data) in 2018 of squid fishing gears (bouke ami, cast net and squid fishing) supported by 201 squid landing data at TPI Muara Angke (Jakarta) for the 2012-2018 period and TPI Kejawanan (Cirebon) for the 2008-2018 period. Field observations are intended to describe the characteristics of the fleet, fishing gear and operational aspects of capture. The results showed that the squid fishing area in the southern part of Sunda Shelf was widespread in the Java Sea and the South China Sea, but concentrated in the southern of Karimata Strait as indicated by the high intensity of catch (54% of the total fishing trips). However, in general the abundance of squid (indicated by the CPUE abundance index in kg / day) is almost the same, which is around 113-133 kg / day, while the abundance index (CPUE) in kg / trip looks different. Significant differences were also seen from the total catch of squid from the Karimata Strait which reached 55% of the total squid landings from the Shelf. The catch of squid that occurred until now shows an upward trend, this is as recorded in Muara Angke and Kejawanan. In catch composition, the percentage of squid also showed higher catches on trawlers (cantrang). Matters related to the management of squid fisheries as a diversification of fishing effort and diversion of target species are also discussed.
UPAYA MEMBANGUN KEMBALI DAN PEMULIHAN STOK IKAN PELAGIS KECIL DI LAUT JAWA Suherman Banon Atmaja; Duto Nugroho
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.329 KB) | DOI: 10.15578/jppi.25.3.2019.179-189

Abstract

Tujuan utama makalah ini adalah mengevaluasi kondisi  stok ikan pelagis kecil (dengan ikan layang Decapterus spp. sebagai acuan) sebagai pembangkit ekonomi di pantai Utara Jawa perairan laut Jawa WPPNRI 712. Analisis dilakukan sejalan dengan tren penurunan aktivitas penangkapan kapal pukat cincin yang berpangkalan di Pekalongan Jawa Tengah yang telah berlangsung selama hampir dua dekade. Teori klasik tentang penangkapan ikan mengisyaratkan bahwa pemulihan populasi ikan dapat berlangsung cepat jika penangkapan ikan dihentikan pada rentang waktu tertentu.  Analisis menggunakan pendekatan surplus produksi non-ekuilibrium dengan bantuan perangkat aplikasi ASPIC 7 dan Kobe plot digunakan untuk  memetakan perubahan arah status stok ikan pelagis kecil yang berkaitan langsung dengan perilaku perkembangan perikanan pukat cincin di laut Jawa pada kurun waktu 1976 - 2014.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan drastis baik jumlah armada pukat cincin maupun aktivitas penangkapannya akibat rendahnya peluang keberhasilan dan tingginya investasi operasional hampir dua dekade  telah telah memberikan peluang terhadap pemulihan stok secara alamiah menuju tingkat biomassa optimal.  Pergerakan status biomasa dan mortalitas penangkapan ikan pelagis kecil secara tahunan yang ditampilkan melalui penggunaan Kobe plot memberikan indikasi bahwa kondisi stok ikan setelah tahun 2015 mengarah pada status yang cenderung baik. The main objective of this paper is to evaluate the status and trend of small pelagic fish stocks (Decapterus spp.) as a major driver of economics in north coast of Java correspond to a direct reduction of purse seine fishing activities at around two decades. Classical theory of fishing suggests that rapid population recovery occurs when fishing pressures is reduced. These phenomenons were analyzed by applying non-equilibrium surplus production model incorporate covariance of the programs package of Aspic 7.  Simple Kobe plots were also applied to track the annual trend of stock status directly which presumably related to the course of fisheries development.  The results showed that drastic decline of fishing pressures of both number of purse seine fleet and their activity within the last decade provided an opportunity of stock recovery at optimum biomass levels. Applying simple Kobe plots indicates the stock status and trend in 2015 relatively in rebuilding condition
KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN DAN DAERAH PENANGKAPAN PANCING ULUR TUNA DI PERAIRAN SENDANG BIRU Maya Agustina; Irwan Jatmiko; Ririk Kartika Sulistyaningsih
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.278 KB) | DOI: 10.15578/jppi.25.4.2019.241-251

Abstract

Tuna, cakalang dan tongkol (TCT) merupakan jenis hasil tangkapan ikan yang memiliki nilai ekonomis penting dan masih terdapat peluang untuk dimanfaatkan. Salah satu sentra perikanan tuna, cakalang dan tongkol di kawasan Indonesia Barat yang terbesar adalah di Kabupaten Malang tepatnya di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Pondokdadap Sendang Biru. Jenis alat penangkapan ikan yang digunakan oleh nelayan untuk menangkap tuna di perairan ini adalah pancing ulur (handline) yang dioperasikan dengan menggunakan bantuan rumpon. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui informasi sebaran daerah penangkapan (teritorial, ZEE dan laut lepas) dan bagaimana dinamika hasil tangkapannya khususnya tuna, cakalang dan tongkol. Pancing ulur mendominasi alat penangkapan ikan yang digunakan di PPP Pondokdadap, Sendang Biru tercatat sebanyak 70,42%, sedangkan pukat cincin sebanyak 9,82% dan pancing rawai sebanyak 19,76%. Jenis hasil tangkapan pancing ulur terbanyak adalah cakalang dan juwana tuna. Daerah penangkapan nelayan pancing ulur yang berbasis di PPP Pondokdadap, Sendang Biru menyebar pada kawasan perairan dengan batasan antara 8º – 12º LS dan 108º – 115º BT atau secara geografis berada di dalam perairan teritorial, ZEE dan di laut lepas. Prosentase hasil tangkapan TCT yang tertangkap pancing ulur berdasarkan wilayah perairan seperti berikut: teritorial sebanyak 0,63%, ZEE sebanyak 78,68% dan di luar ZEE (laut lepas) sebanyak 20,69%. Tuna, skipjack and little tuna are economically important and still has the potential to cathed. One of the fisheries centers tuna, skipjack and little tuna landing site in the western part of Indonesia is in Malang located at Pondokdadap Sendang Biru fishing port. The fishing gear commonly used by Sendang Biru fishermen to catch tuna in the Indian Ocean waters is handline which is operated around FADs. The purpose of this study was to find out information the distribution of fishing areas (territorial, EEZ and high seas) and how the dynamics of the catch especially tuna, skipjack and little tuna. The dominant fishing gear in PP Pondokdadap Sendang Biru is the handline with 70.42%, followed by purse seine 9.82% and longlines 19.76%. The dominant catches caught by handline were skipjack and juvenile of yellowfin tuna. Fishing ground of hand line based in PP Pondokdadap located in waters with boundaries between 8º - 12º LS and 108º - 115ºBT or geographically located in the waters territorial, EEZ and on the high seas. Tuna catches precentage caught by handline in territorial, EEZ and high seas, accounting for 0.63%, 78.68% and 20.69%, respectively. 
KARAKTERISTIK PERIKANAN PUKAT CINCIN PELAGIS BESAR DI PERAIRAN SAMUDRA HINDIA (WPPNRI 572 DAN 573) Irwan Jatmiko; Suciadi Catur Nugroho; Zulkarnaen Fahmi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.957 KB) | DOI: 10.15578/jppi.26.1.2020.37-46

Abstract

Pukat cincin merupakan salah satu jenis alat penangkapan ikan yang digunakan oleh nelayan di Indonesia untuk menangkap ikan pelagis termasuk tuna dan cakalang. Cakalang dan madidihang/tuna sirip kuning merupakan komoditas perikanan penting di Indonesia untuk kebutuhan pasar domestik dan ekspor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik alat tangkap pukat cincin pelagis besar terutama yang menangkap cakalang dan madidihang di perairan WPPNRI 572 dan 573 (Samudra Hindia). Pengumpulan data dilakukan selama tiga tahun dari 2016-2018 di 18 pelabuhan perikanan yang armadanya melakukan aktivitas penangkapan di perairan WPPNRI 572 dan 573. Indikasi proporsi ikan yang sudah dan belum matang gonad dihitung dengan membandingkan ukuran ikan dengan ukuran pertama kali matang gonad (Lm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat tangkap pukat cincin sangat dominan dalam mengeksploitasi sumber daya cakalang dan madidihang dengan proporsi mencapai 95% di WPPNRI 572 dan 66% di WPPNRI 573. Kebanyakan ikan yang tertangkap didominasi oleh ikan yang belum matang gonad dengan proporsi sebesar 67% untuk cakalang dan 94% untuk madidihang. Hasil analisis menunjukkan bahwa pukat cincin tidak termasuk alat yang selektif untuk menangkap ikan madidihang. Selanjutnya untuk target ikan cakalang, ukuran mata jaring harus diperbesar untuk mencegah tertangkapnya ikan yang belum matang gonad.Purse seine is one of dominant fishing gears used to catch pelagic species including skipjack and yellowfin tuna. They are two important commercial species in Indonesian as domestic and export commodities. This research aimed to analyze the characteristics of purse seine fishery focusing on skipjack and yellowfin tuna within FMA 572 and 573. All catch-effort data were collected from 18 fishing ports in three years, 2016-2018. All the vessels (purse seiners) were known to be actively fished within FMA 572 and 573. The proportion of mature and immature fish were calculated using the ratio of the fish length to its length at first maturity (Lm). The results showed that purse seine was a dominant gear to catch skipjack tuna and yellowfin tuna covering95% in FMA 572 and 66% in FMA 573, respectively. Most of the catches were dominated by immature fish with a proportion of 67% for skipjack tuna and 94% for yellowfin tuna. The analysis showed that purse seine is not an environmental-friendly gear to catchyellowfin tuna. Furthermore, for targeting skipjack tuna, the mesh-size of the net should  be larger, allowing immature fish to escape from the gear.
BIVALVIA DAN GASTROPODA PERAIRAN TAWAR DI SULAWESI TENGGARA Muhammad Fajar Purnama; Alfi Kusuma Admaja; Haslianti Haslianti
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.046 KB) | DOI: 10.15578/jppi.25.3.2019.203-214

Abstract

Penelitian Bivalvia dan Gastropoda air tawar di Sulawesi Tenggara dilaksanakan pada Januari-Desember 2018 di (delapan) Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Tenggara, meliputi Kota Kendari, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Bombana, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Kolaka Utara, Kabupaten Kolaka Timur, Kabupaten Konawe dan Kabupaten Konawe Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis Gastropoda dan Bivalvia perairan tawar, diharapkan menjadi basis data tentang biodiversitas Gastropoda dan Bivalvia di Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian menggunakan metode purposive randhom sampling. Pengambilan sampel dilakukan secara manual dan diawetkan dengan larutan alkohol 70%. Identifikasi jenis dilakukan di Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo Kendari. Komposisi jenis Bivalvia dan Gastropoda perairan tawar di Sulawesi Tenggara - Klaster Daratan, diperoleh 11 Famili, 19 Genus dan 102 Spesies yang terdiri dari 33 jenis dengan status identified atau teridentifikasi sampai dengan tingkat spesies dan 69 jenis berstatus unidentified atau teridentifikasi hanya sampai ketingkat genus (genus Clithon 42 jenis, genus Septaria 2 Jenis dan genus Melanoides 25 jenis). Bivalvia dan Gastropoda yang berstatus unidentified didominasi oleh famili Neritidae genus Clithon dan famili Thiaridae genus Melanoides. Sedangkan yang berstatus identified juga didominasi oleh famili Neritidae, Thiaridae, Ampullariidae dan Corbicullidae. Disimpulkan bahwa Provinsi Sulawesi Tenggara secara empirik memiliki biodiversitas gastropoda dan bivalvia air tawar yang sangat tinggi. Bivalvia and freshwater Gastropod research in Southeast Sulawesi was conducted in January-December 2018 in (eight) Regencies or municipality in Southeast Sulawesi Province, covering Kendari City, Konawe Selatan District, Bombana Regency, Kolaka Regency, Kolaka Utara Regency, Kolaka Timur Regency, Regency Konawe and Konawe Utara District. This study aims to determine the composition of freshwater gastropods and bivalves in Southeast Sulawesi Province - Mainland Clusters. This study aims to determine the composition of Gastropod and Bivalvia species of freshwater waters, is expected to be a database of Gastropod and Bivalvia biodiversity in Southeast Sulawesi Province. The study used a purposive randhom sampling method. Sampling was done manually and preserved with 70% alcohol solution. Species identification was carried out at the Laboratory of the Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Halu Oleo University, Kendari. The composition of bivalvia and gastropoda in Southeast Sulawesi, were obtained by 11 families, 19 Genus and 102 Species, which consisted of 33 types identified or identified up to species level and 69 unidentified status types or identified only to the genus level (genus Clithon 42 species, genus Septaria 2 Type and genus Melanoides 25 species). bivalves and Gastropods with unidentified status are dominated by the family Neritidae genus Clithon and the Thiaridae family genus Melanoides, while the identified status is also dominated by the families Neritidae, Thiaridae, Ampullariidae and Corbicullidae. It was concluded that Southeast Sulawesi Province empirically has a very high biodiversity of gastropods and freshwater bivalves. 
EFISIENSI FAKTOR PRODUKSI PERIKANAN PUKAT CINCIN DI PELABUHAN PERIKANAN TEGALSARI, KOTA TEGAL, JAWA TENGAH Astrid Wijayanti; Eko Sri Wiyono; Akhmad Solihin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.26.1.2020.29-35

Abstract

Pukat cincin adalah salah satu alat penangkapan ikan yang dominan digunakan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tegalsari, Kota Tegal, Jawa Tengah, yang belum optimal dalam pengoperasiannya. Tujuan penelitian ini adalah menentukan faktor-faktor produksi serta menghitung produktivitas, efisiensi, dan elastisitas faktor produksi kegiatan penangkapan purse seine. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan analisis deskriptif (grafik dan gambar) dan kuantitatif (Cobb-Dougla). Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor produksi yang berpengaruh simultan terhadap produksi hasil tangkapan purse seine adalah ukuran kapal, jumlah BBM, kegiatan penangkapan, dan lama operasi. Rata-rata produktivitas unit penangkapan purse seine tertinggi terjadi pada tahun 2014 sebesar 370.877,22 kg/trip, sedangkan produktivitas unit penangkapan purse seine tahun 2013 dan 2015 berturut-turut sebesar 340.784,86 kg/trip dan 351.956,60 kg/trip. Penggunaan faktor produksi ukuran kapal dan lama operasi sudah tidak efisien yang dapat menurunkan hasil produksi, sedangkan penggunaan jumlah BBM dan kegiatan penangkapan belum efisien yang penambahannya akan menaikkan hasil produksi.Purse seine is one of the dominant fishing gear used in the Beach Fishery Harbor (PPP) Tegalsari, Tegal, Central Java that has not been optimal in operation. The purpose of this study is to determine the factors of production and to calculate the productivity, efficiency, and elasticity of production factors of purse seine fishing activities. The methods used in this research are survey methods with descriptive (graphs and pictures) and quantitative (Cobb-Douglas) analyses. The results showed production factors that simultaneously influence towards the production of purse seine catches are the size of the vessel, the amount of fuel, fishing activities, and the length of operation. The average productivity of purse seine fishing unit was the highest in 2014 amounted to 370,877.22 kg/trip, while the productivity of purse seine fishing unit in 2013 and 2015amounted to 340,784.86 kg/trip and 351,956.60 kg/trip,  respectively. The use of production factors ofthe ship size and the age of ships are already inefficient that can reduce the yield, while the use of the amount of fuel and fishing activities are not efficient yet that the addition will increase the production output.
ESTIMASI PARAMETER POPULASI DAN RASIO POTENSI PEMIJAHAN TONGKOL KOMO (Euthynnus affinis, Cantor 1849) DI PERAIRAN SELATAN LOMBOK Arief Wujdi; Hety Hartaty; Bram Setyadji
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.376 KB) | DOI: 10.15578/jppi.26.2.2020.93-107

Abstract

Tongkol komo (Euthynnus affinis) merupakan salah satu komoditas ekonomis tinggi perikanan tuna neritik, terutama bagi armada tuna skala kecil. Seiring dengan meningkatnya intensitas penangkapan pada satu dekade terakhir, diperlukan kajian kuantitatif terkait keberlangsungan stok. Akan tetapi, minimnya data yang tersedia pada perikanan jenis ini merupakan tantangan terbesar dalam melakukan usaha pengelolaan. Penelitian ini bertujuan untuk menduga parameter populasi dan rasio potensi pemijahan (SPR) berbasis ukuran panjang, sebagai titik acuan biologis kondisi stok dalam menghadapi tekanan penangkapan. Total 1.321 data ukuran panjang dikumpulkan secara acak setiap bulan selama Januari hingga Desember 2016 di Tanjung Luar. Parameter populasi meliputi pertumbuhan, kematian, rekrutmen, dan laju pemanfaatan diestimasi dengan metode ELEFAN. Analisis SPR juga dilakukan dengan melibatkan parameter reproduksi yang disintesis dari penelitian sebelumnya dengan paket LB-SPR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula pertumbuhan von Bertalanffy diekspresikan dengan persamaan Lt = 85,0 (1-e-0,7 (t+0,173)). Meskipun rata-rata sampel tongkol komo diprediksi telah matang gonad/memijah (SL50>L50), namun sumberdaya tongkol komo mengalami tekanan yang tergolong tinggi dan mengganggu rekrutmen individu baru ke dalam stok yang diindikasikan dengan parameter lainnya seperti rasio mortalitas penangkapan relatif (F/M) = 2,15, laju eksploitasi (E) = 0,68, dan SPR = 23%. Oleh karena itu, diperlukan penyusunan pengelolaan yang efektif untuk kelestarian perikanan. Eastern little tuna or commercially known as kawakawa is listed as one of the most economically important species of neritic tuna, especially caught by small-scale tuna fisheries. Increasing fishing pressure in the last decade should be responded by a quantitative analysis on its stock. The problem arises when this typical fishery usually possesses limited time-series data. This study intended to estimate population parameters and spawning potential ratio (SPR) as a biological reference point to state the healthiness of fishery corresponding to the fishing pressure around coastal areas. A total of 1,321 length measurement data were  randomly sampled monthly from January to December 2016 in Tanjung Luar. Population parameters including growth, mortality, recruitment, and exploitation rate were estimated by applying the ELEFAN method. SPR analysis was also carried out by involving reproduction parameters synthesized from previous studies using the LBSPR package. The results showed that the von Bertalanffy growth functions were expressed by the equation Lt = 85.0 (1-e-0.7(t + 0.173)). Although the majority of kawakawa was predicted in maturity as indicated by SL50>L50, high exploitation has occurred to the fishery that can be interfered the recruitment to the stock, as confirmed by other parameters, such as relative fishing mortality (F/M) = 2.15, exploitation rate (E) = 0.68, and SPR = 23%. Hence, the establishment of appropriate management strategies is needed to aim fishery sustainability. 
STRUKTUR KOMUNITAS IKAN KARANG DI PERAIRAN PESISIR KENDARI SULAWESI TENGGARA Isa Nagib Edrus; Tri Aryono Hadi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.26.2.2020.59-73

Abstract

Ekosistem terumbu karang di Kawasan Pesisir Kendari sangat dipengaruhi oleh aktivitas pembangunan di daratan utama seperti sedimentasi yang berkepanjangan. Hal ini dapat berpengaruh pada tutupan karang dan kecerahan air laut, dan sebagai konsekuensinya adalah terjadinya perubahan struktur komunitas ikan karang. Keanekaragaman ikan karang diasumsikan akan menurun ketika terjadi kerusakan yang meluas pada terumbu karang dan dalam waktu yang panjang. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi kondisi sumberdaya ikan karang melalui kajian struktur komunitas ikan karang. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2018 di perairan karang pesisir Kendari, Sulawesi Tenggara. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah sensus visual bawah air dengan transek sabuk pada 10 lokasi penelitian. Hasil penelitian menemukan 195 spesies ikan karang yang terdiri dari 93 spesies kelompok mayor, 89 jenis kelompok ikan target, dan 13 jenis kelompok ikan indikator. Dari 10 lokasi transek, hanya 4 stasiun yang memiliki nilai indeks keanekaragaman antara 3,0 – 3,6, indeks dominansi antara 0,04 – 0,10 dan indeks keseragaman antara 0,8 – 0,9, serta 5 stasiun memiliki indeks kekayaan jenis antara 7,8 hingga 10,5. Keanekaragaman jenis ikan termasuk rendah, komunitas didominasi oleh kelompok ikan mayor, dan kepadatan stok ikan karang tergolong rendah pada semua stasiun. Coral reef ecosystems in Kendari coastal area were affected by mainland development as well as long-term sedimentation.Those activities influencing coral coverage and sea water tranparency lead to the changes in reef fish structure communities. The study objective is to identify the condition of reef-fishes by analyzing theirin terms of a community structures. This study was carried out in September 2018 at the adjacent Kendari’s reef waters, Southeast Sulawesi. The method used in this study was the underwater visual cencus using belt transects at ten study sites. The results of the study successfully identified about 195 species of reef fishes, consisted of 93 species of major-fish group, 89 species of target-fish group, and 13 species of indicator-fish group. Species compositions among the study sites ranged from 39 species to 74 species. Among the 10 transect sites, four sites had fish diversity indices ranging from 3.0 to 3.6, dominance indices ranging from 0.04 – 0.1, and evenness indices ranging from 0.8 to 0.9, whereas 5 transect sites had species richness levels ranging from 7.8 to 10.5. For all study sites, the reef fishes diversities were in low levels, reef fishes communities were dominated by major-fish groups, and the density of fish stocks were classified in low levels.

Page 96 of 108 | Total Record : 1072


Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026) Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue