cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,072 Documents
KELIMPAHAN Acanthaster planci DAN TUTUPAN KARANG HIDUP DI PERAIRAN PULAU SAPARUA, PROVINSI MALUKU Fismatman Ruli; Robert Alik; Dominggus Polnaya; Nurjirana Nurjirana; Sufardin Sufardin; Muhammad Afrisal
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.26.2.2020.125-133

Abstract

Achantaster planci atau Crown-of-thorns starfish merupakan hewan pemangsa karang yang secara langsung dapat menyebabkan degradasi pada ekosistem terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dari A. planci dan kondisi karang di Pulau Saparua. Jumlah lokasi pengamatan sebanyak lima stasiun. Penelitian ini dilaksanakan pada November 2018 di Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Pengamatan tutupan karang hidup dan kelimpahan Achantaster planci dilakukan dengan menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT), pengamatan Acanthaster planci menggunakan metode sabuk (Belt Transect) yang mengikuti garis LIT dengan panjang 70 meter dan lebar 2 meter sehingga luasan area pengamatan sebesar 140 m2. Hasil penelitian menunjukkan kondisi tutupan karang hidup tergolong kedalam kriteria sedang hingga sangat baik (26,5%-89,54%) dan terdapat sepuluh bentuk pertumbuhan yang ditemukan pada lokasi ini. Indeks mortalitas karang tertinggi pada Stasiun (Stn) 2, daerah dimana tidak ditemukan A. planci. Keberadaan A. planci hanya ditemukan pada Stn 1, Stn 4 dan Stn 5, dengan kelimpahan A. planci tertinggi ditemukan pada Stn 1 sebanyak 0,036 ind/m2. Bentuk pertumbuhan karang Acropora mendominasi hampir pada seluruh stasiun dan A. planci ditemukan pada stasiun yang memiliki tutupan karang hidup yang didominasi oleh bentuk pertumbuhan Acropora branching dan coral branching. Korelasi baik tutupan karang dan kelimpahan A. planci maupun karang mati dan A. planci tergolong cukup dan tidak signifikan. Achantaster planci or Crown-of-thorns starfish are coral predators that can directly cause degradation of coral reef ecosystems. This study aims to determine the abundance of A. planci, live coral cover on Saparua Island. The number of observation stations was five locations. This research was conducted in November 2018 on Saparua Island, Central Maluku Regency, Maluku Province. Observations of live coral cover and Achantaster planci abundance were carried out using the Line Intercept Transect (LIT) method, Acanthaster planci observations using the Belt Transect method which followed the LIT with a length of 70 meters and a width of 2 meters so that the area of   the observation area was 140 m2. The results showed the condition of live coral cover was classified as moderate to very good criteria (26.5% -89.54%) and there were ten of coral lifeforms found at this location. The highest coral mortality index was determined in St 2 areas where A. planci was not found. The presence of A. planci was only found in St 1, St 4 and St 5, where the highest abundance of A. planci was found in St 1 by 0.036 ind / m2. Acropora coral growth forms dominate almost all stations and A. planci is found in stations that have live coral cover dominated by Acropora branching and coral branching growth forms. Correlation of both coral cover and abundance of A. planci and dead coral and A. planci is classified as sufficient and not significant.
DINAMIKA POPULASI DAN TINGKAT PEMANFAATAN CUMI-CUMI JAMAK (Photololigo duvaucelii Orbigny, 1848) DI TELUK JAKARTA Karsono Wagiyo; Tirtadanu Tirtadanu; Mohammad Fauzi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.26.4.2020.233-246

Abstract

Pemanfaatan cumi-cumi di Teluk Jakarta terus meningkat dilakukan secara artisanal. Untuk mendukung pengelolaan cumi-cumi di Teluk Jakarta, penelitian ini bertujuan memperoleh data dan informasi mengenai dinamika populasi dan tingkat pemanfaatan cumi-cumi. Data diperoleh melalui sampling secara acak, enumerasi, observasi dan penelusuran data sekunder yang dilakukan di Cilincing-DKI Jakarta dan Cituis-Tangerang tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan cumi-cumi jamak (Photololigo duvaucelii) di Teluk Jakarta mempunyai rerata panjang mantel 8,3 cm dengan berat 24,9 gr dan pertumbuhan alometrik negatif. Nisbah kelamin jantan betina 1:1,1. Persentase gonad matang tertinggi teramati pada Maret sebesar 76,82 %. Rata-rata panjang mantel pertama tertangkap (Lc)= 8,19 cm dan rata-rata ukuran panjang mantel pertama matang gonad (Lm) =9,7 cm. Panjang mantel asimtotis (L) = 19,43 cm dan laju pertumbuhan (K) = 1,2/tahun. Laju kematian total (Z) cukup tinggi yaitu 6,2 /tahun, laju kematian alami (M) = 2,3/tahun) dan laju eksploitasi (E)= 0,63/tahun. Alat tangkap utama adalah cantrang, jaring apolo dan arad dengan kontribusi cumi-cumi jamak hasil tangkapan masing-masing 4,02 %, 13,07 % dan 3,07 %. Hasil tangkapan per unit upaya (CPUE) pada unit penangkapan cantrang, tertinggi terjadi pada Maret yaitu 15 kg/trip/hari. Puncak musim penangkapan terjadi pada bulan Juni. The exploitation of sguid in the Jakarta bay has improved intensity by artisanal fisheries. This research aims to obtain data and information on population dynamics and exploitation rate to support the management of squid resources in Jakarta Bay. Data obtained through random sampling, enumeration, observation and secondary data tracing conducted in landing site; Cilincing-DKI Jakarta and Cituis-Tangerang in 2016. The results of the study of Indian squid (Photololigo duvaucelii) in the Jakarta Bay showed have a mean mantle length of 8.3 cm, weight of 24.9 g and negative allometric growth. The sex ratio of males 1 and females 1.1. The highest prosentase of mature gonad in March was 76.82%. The mantle length of the first catch (Lc)= 8.19 cm and the mantle length of the first gonad maturity (Lm) = 9.7 cm. Asymptotic mantle length (L) = 19.43 cm and growth rate (K) = 1.2/year. High total mortality rate (Z) = 6.2/year, natural mortality rate (M) = 2.3/year and exploitation rate (E) = 0.63/year. The main fishing gear are danish seine, mini trawl and shrimp trawl with indian squid contributions each other are 4.02 %, 13.07% and 3.07%. The highest catch per unit effort (CPUE) of danish seine unit occurred in March 15 kg/trip/day, the peak of the fishing season in June. 
HUBUNGAN ANTARA KOMPOSISI IKAN TARGET DAN PRESENTASE TUTUPAN KARANG HIDUP DI KEPULAUAN KEI KECIL, MALUKU Ana Faricha; Isa Nagib Edrus; Rizkie Satriya Utama; Ahmad R. Dzumalex; Abdullah Salatalohi; Bayu Prayuda
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.26.3.2020.147-157

Abstract

Ikan terumbu karang memiliki peranan penting baik secara ekonomi maupun ekologi, namun kondisi terumbu karang termasuk di perairan Indonesia yang menjadi habitat utama ikan karang mengalami degradasi. Penelitian ikan karang sudah banyak dilakukan, namun di Indonesia kondisi habitat ikan karang memiliki karakter yang berbeda-beda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara komposisi ikan karang target dan tutupan karang hidup. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2019 di Kepulauan Kei Kecil, Maluku. Metode yang digunakan adalah UVC (Underwater Visual Census) untuk data ikan karang dan UPT (Underwater Photo Transect) untuk mengkaji tutupan karang hidup. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat 130 spesies ikan karang target yang mewakili 19 famili, dengan variasi jenis ikan target antar lokasi pengamatan berkisar antara 25-66 spesies. Kepadatan rata-rata ikan karang target sebesar 8.811 ± 4.107 Ind/ha, dan biomassa rata-rata 1.335 ± 899 Kg/ha. Komposisi ikan karang target yang memiliki kedekatan dengan tutupan karang hidup yaitu famili Siganidae, Serranidae, Lutjanidae, Holocentridae, dan Pomacentridae. Akan tetapi hubungan tersebut rendah, dan kemungkinan besar ada faktor lain yang mempengaruhi. Reef fishes have an important economic and ecological values. However, the coral reef of the globe including in the most of the Indonesian waters which is the vital habitat for reef fishes is degraded. Study on the reef fishes is an abundance, while the habitat characteristic of reef fishes in Indonesian waters has a differences. The aim of this study is to determine the relationship between the target reef fishes compositions and the percentage live coral covers. This study was carried out in October 2019 at the Kei Kecil islands, Maluku. The method used in this study is UVC (Underwater Visual Census) for collecting the reef fishes data, and the UPT (Underwater Photo Transect) for assessing the live coral coverage. The result shows that there are about 130 fishes, which representing 19 families, with species variation ranges from 25 to 66 species among the observation sites. The average density of target fishes was about 8.811 ± 4.107 Ind/ha, whereas the average biomass of target fishes was 1,335 ± 899 Kg/ha. The target reef fishes compositions that has relation with live coral covers is family Siganidae, Serranidae, Lutjanidae, Holocentridae, and Pomacentridae. However, this relationship is weak, and may influenced by other factors.
EVALUASI POLA PENGOPERASIAN PUKAT CINCIN MINI DI TEMPAT PELELANGAN IKAN (TPI) UJUNGBATU, JEPARA, JAWA TENGAH Siti Oftafia Wijayanti; Mohammad Imron; Eko Sri Wiyono
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.1.2021.13-22

Abstract

Fluktuasi produktivitas perikanan pukat cincin mini di Jepara yang semakin menurun disebabkan oleh terjadinya padat tangkap dan kelimpahan ikan. Faktor padat tangkap berhubungan dengan jumlah upaya penangkapan sedangkan kelimpahan ikan berhubungan erat dengan fluktuasi musim penangkapannya. Musim penangkapan sangat berpengaruh terhadap efektivitas pengoperasian pukat cincin mini di Jepara. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pola pengoperasian pukat cincin mini di Jepara kaitannya dengan indeks musim penangkapan (IMP) dan pengoperasian (jumlah upaya penangkapan) sesuai hasil tangkapan dominannya serta memberikan rekomendasi musim pengoperasian yang tepat (efektif). Data berupa laporan bulanan TPI Ujungbatu, Kabupaten Jepara selama lima tahun, yaitu mulai dari tahun 2015-2019 yang meliputi data produksi ikan tangkapan dominan dan upaya penangkapan dari pukat cincin mini. Tangkapan dominan pukat cincin mini Jepara berupa ikan kembung (Rastrelliger spp.), layang (Decapterus spp.) dan cumi-cumi (Loligo spp.). Data diolah menjadi CPUE masing-masing ikan dominan dan dianalisis dengan metode rata-rata bergerak untuk memperoleh nilai IMP. Grafik nilai IMP kemudian dioverlay dengan data upaya penangkapan. Pola pengoperasian pukat cincin mini Jepara yang menunjukan respon nelayan berlebih dibanding IMP ikan, yaitu bulan Februari-April, Agustus-September dan November. Kondisi ini disebabkan minimnya informasi musim kelimpahan ikan dan keadaan alam yang sangat dinamis. Pengoperasian pukat cincin mini Jepara yang efektif terjadi pada bulan Februari (cumi-cumi), Juni-Juli (ikan kembung) dan Agustus, Oktober (ikan layang).Because of overfishing and dynamic of the fish abundance, the purse seiners in Jepara decreased sharply. Overfishing relates to effort while the fish abundance is closly linked with the fluctuation of the fishing season. The fishing season greatly affected to the effectiveness of mini purse seine operating in Jepara. The objective of the study was to evaluate pattern of mini purse seine operating in Jepara based on IMP and operating seasons (effort) according to the dominant fish and recommendation for preciseness operating season (effective). The data were created by the TPI Ujungbatu which started in the year 2015-2019, comprising data from the dominant fish production and effort from mini purse seine Jepara. The dominant catch of mini purse seine Jepara are short mackerel, scads and squids. Data were processed into CPUE each of the dominant fish and analysed by moving average methods to get the score of season index (IMP). The diagram of IMP then overlaid with diagram of effort. The result showed that response of mini purse seine fishermen were over than IMP fishes, consist February-April, August-September and November. It was due to shortage of information for the fish abundance season and particularly dynamic state of nature. The effective operation of mini purse seine Jepara occurred in February (squids), June-July (short mackerels) and August, October (scads).
SELEKTIFITAS ALAT PENANGKAPAN RAJUNGAN DAN PENYEBARAN DAERAH PENANGKAPANNYA DI PERAIRAN KABUPATEN BEKASI Baihaqi Baihaqi; Suharyanto Suharyanto; Erfind Nurdin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.1.2021.23-32

Abstract

Pengelolaan rajungan dalam upaya menjaga kelestarian sumberdaya, salah satunya melalui penangkapan yang ramah lingkungan serta pemilihan daerah penangkapannya, hal ini tertuang melalui rencana pengelolaan sumber daya rajungan. Salah satu lokasi sentra penghasil rajungan adalah Kabupaten Bekasi, yang dalam upaya pemanfaatannya banyak dilakukan oleh nelayan baik sebagai hasil tangkapan utama maupun sebagai hasil tangkapan sampingan. Alat tangkap utama untuk menangkap rajungan adalah bubu lipat dan jaring insang, sedangkan untuk sero hasil tangkapan rajungan merupakan hasil tangkapan sampingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui selektifitas alat penangkapan rajungan dan sebaran daerah penangkapannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rajungan pertama kali tertangkap (Lc) bubu lipat terbesar dibandingkan alat penangkapan lain yaitu dengan lebar karapas sebesar 94,57 mm, diikuti oleh jaring sebesar 90,39 mm dan sero sebesar 72,99 mm. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan diperoleh informasi bahwa daerah penangkapan rajungan berada di wilayah perairan Teluk Jakarta yang merupakan daerah pemijahan dan asuhan, sehingga ukuran rajungan yang tertangkap relatif kecil, di bawah ukuran yang diperbolehkan untuk ditangkap.Management of blue swimming crabs for sustainable of resources, one of them through environmentally fishing method and selection of fishing ground, this is stated in the blue swimming crab resource management plan. One of main locations of blue swimming crab landing site located in Bekasi Regency. Blue swimmin crabs (BSC) as main catch or as bycatch by most fishers in this area. The main fishing gears for catching blue swimming crabs are collapsible traps and gill nets, while the set net is caught blue swimming crabs are not tarjet species but as by-catch. This study aims to determine the selectivity of blue swimming crab cught by those fishing gear and the fishing ground distribution. The results showed that the length of first caught (Lc) for collapsible traps had the largest size compared to other fishing gears which carapace width of 94.57 mm, followed by gill nets of 90.39 mm and set net of 72.99 mm. Based on the results of field observations, indicated that the crab fishing ground located in the Jakarta Bay which in this area predicted as a spawning and nursery ground area, so that the size of the crabs that are caught is smaller than legal size.
PERKEMBANGAN STRUKTUR KOMUNITAS IKAN KARANG DI PERAIRAN KARANG TAMAN NASIONAL KEPULAUAN WAKTOBI Isa Nagib Edrus; Rizkie Satriya Utama; Tri Aryono Hadi; Sasanti Retno Suharti; Yosephine Tuti
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.1.2021.43-55

Abstract

Wilayah Taman Nasional Kepulauan Wakatobi (TNKW) telah dikenal sebagai perairan yang terkelola dengan baik sejak 2010an. Namun dalam perjalanan waktu, aktivitas wisata dan perikanan diasumsikan akan mempengaruhi ekosistem terumbu karang dan mengubah sturktur komunitas ikan karang di kawasan tersebut. Pemantauan perkembangan sumberdaya ikan terumbu karang menjadi suatu pendekatan penting untuk mengetahui adanya perubahan tersebut dari 2015 sampai 2019. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perubahan struktur ikan karang di TNKW. Metode yang digunakan adalah sensus visual bawah air pada transek sabuk seluas 350 m2. Unit analisis dalam pemantauan perubahan adalah 7 suku ikan karang karnivora dan herbivora, seperti Serranidae, Lutjanidae, Lethrinidae, Haemulidae, Acanthuridae, Scaridae, Siganidae dan 1 suku obligat karang (Chaetodontidae). Data terkini menunjukkan bahwa terdapat sedikitnya 95 jenis untuk 7 suku ikan karang, dimana pada tahun basis 2015 dijumpai 111 jenis. Kelompok ikan indikator suku Chaetodontidae dijumpai 32 jenis dari semula yang dijumpai 15 jenis. Rata-rata kepadatan ikan target 392 ekor/350 m2. Biomasanya rata-rata 2.224 kg/ha. Kepadatan ikan indikator 294 ekor/350 m2. Jenis-jenis yang mendominasi komunitasnya sejak tahun basis adalah dari suku, Acanthuridae (butana), Scaridae (kakatua) dan Serranidae (kerapu). Jenis koralivora dari suku Chaetodontidae yang mendominasi sejak tahun basis adalah Hemitaurichthys polylepis dan Chaetodon kleinii. Secara umum komunitas ikan karang di perairan Wakatobi berkembang baik dari aspek keragaman, kepadatan dan biomassa ikan karang. The Wakatobi-Archipelago National Park (WANP) has been recognized as good governance management since 2010s. There was asumption that tourism and fishery activities have been going to effluence on reef ecosystems and then altering the reef fish structure communities throughout the times in the area given. Hence, trend assessment for coral reef resources monitoring is an urgent approach to identify the changes of ranging from 2015 to 2019. This study aimed to identify the reef fish structure changes in the area of WANP. An underwater census visual method was used for 350 m2 in area of belt transect. Analysis units used to monitor changes were belong to groups of carnivorous and herbivorous fishes, such as Serranidae, Lutjanidae, Lethrinidae, Haemulidae, Acanthuridae, Scaridae, Siganidae, and belong to coral obligate such as Chaetodontidae.The updating data showed that there were at least 95 species for 7 families of target reef fishes in which before they were pound out 111 species in the basis year of 2015. Meanwhile, indicator fishes of Chaetodontidae were found out 32 species that they before only found out 15 species. The mean of target fish density is 392 individal/350 m2. The mean of their biomassa is 2,224 kg/ha. The indicator fish density was 294 ekor/350 m2. The species dominated their community since the basis year included the families of Acanthuridae (surgionfish), Scaridae (parrotfish) and Serranidae (groupers). Coralivorous species of Chaetodontidae dominated since the basis year, such as: Hemitaurichthys polylepis and Chaetodon kleinii. Generally, the reef fish communities in Wakatobi reef waters get the good trends in regarding to diversity, density and their biomass. 
KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN, LAJU PANCING DAN DAERAH PENANGKAPAN TUNA DI SAMUDRA HINDIA BARAT SUMATRA Budi Nugraha; Bram Setyadji; Irwan Jatmiko; Andrias S Samusamu
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.1.2021.1-11

Abstract

Rawai tuna merupakan salah satu alat tangkap yang efektif untuk menangkap tuna, karena konstruksinya mampu menjangkau kedalaman renang tuna. Informasi tentang komposisi hasil tangkapan, laju pancing dan daerah penangkapan tuna di Samudra Hindia barat Sumatra sangat terbatas dan sangat diperlukan sebagai bahan kajian kebijakan perikanan tuna di Indonesia, khususnya di Samudra Hindia barat Sumatra. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui komposisi hasil tangkapan, laju pancing dan daerah penangkapan tuna di perairan Samudra Hindia barat Sumatra. Data yang digunakan merupakan data hasil observasi langsung di atas kapal rawai tuna yang berbasis di PPS Nizam Zachman selama 22 ulangan operasi penangkapan pada tanggal 11 September – 8 Oktober 2015 di perairan Samudra Hindia barat Sumatra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan utama rawai tuna di perairan Samudra Hindia barat Sumatra didominasi oleh tuna mata besar sebesar 9,74% dari total tangkapan, diikuti oleh madidihang 8,31% dan albakora 4,58%. Sedangkan by-product didominasi oleh ikan gindara sebesar 21,20% dan discard didominasi oleh ikan naga sebesar 33,24%. Nilai laju pancing rata-rata tuna yang diperoleh 0,35 per 100 mata pancing dengan nilai laju pancing albakora 0,07 per 100 mata pancing, madidihang 0,13 per 100 mata pancing dan tuna mata besar 0,15 per 100 mata pancing. Nilai laju pancing yang diperoleh dapat dikategorikan tergolong rendah yang mengindikasikan telah terjadi tekanan penangkapan yang cukup tinggi di perairan Samudra Hindia barat Sumatra. Daerah penangkapan tuna di perairan Samudra Hindia barat Sumatra umumnya berada di luar perairan Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia yang memiliki suhu permukaan laut rata-rata 28,44 – 28,640C dan salinitas rata-rata 34,26 – 34,35 PSU. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Samudra Hindia barat Sumatra merupakan salah satu daerah potensial untuk penangkapan tuna.Tuna longline is one of the most effective fishing gears to catch tuna due to its ability to reach the swimming depth of tuna. Information on catch composition, hook rate, and fishing ground of tuna in the west of Sumatra of Indian Ocean is very limited, even though this description is needed to regulate tuna fisheries policy in Indonesia, especially in the west of Sumatra of Indian Ocean. This study was aimed to determine the catch composition, hook rate, and fishing ground of tuna in the west of Sumatra of Indian Ocean waters. Data used in this study were collected from direct observation on tuna longline vessels based in Nizam Zachman Port for 22 fishing operations from 11 September - 8 October 2015 in the west of Sumatra of Indian Ocean waters. The results showed that the target species of tuna longline in the west of Sumatra of Indian Ocean waters were dominated by bigeye tuna with 9.74% of the total catch, followed by yellowfin tuna 8.31% and albacore 4.58%. While by-product was dominated by escolar 21.20% and discard was dominated by lancetfish 33.24%. The average hook rate for tuna was 0.35 /100 hooks with an albacore hook rate of 0.07/100 hooks, yellowfin tuna 0.13/100 hooks, and bigeye tuna 0.15/100 hooks. The hook rate can be categorized as low, which indicates that has been highly exploitation level in the west of Sumatra of Indian Ocean waters. Generally, tuna fishing ground in the west of Sumatra of Indian Ocean waters is outside the Indonesian Exclusive Economic Zone waters, which have an average sea surface temperature (SST) of 28.44 - 28.640C and average salinity of 34.26 - 34.35 PSU. The research results show that the west of Sumatra of the Indian Ocean is one of the potential areas for tuna fishing.
TINGKAT PEMANFAATAN SUMBER DAYA MADIDIHANG (Thunnus albacares) DI SAMUDRA HINDIA DENGAN PENDEKATAN ANALISIS SPAWNING POTENTIAL RATIO Raymon Rahmanov Zedta; Hawis Madduppa
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.1.2021.33-41

Abstract

Aktivitas penangkapan madidihang telah dilakukan secara terus menerus hingga saat ini karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Sementara tingkat pemanfaatan sumber daya madidihang dalam beberapa tahun terakhir belum dipelajari dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemanfaatan penangkapan madidihang di Indonesia dalam 10 tahun terakhir dan kondisi potensial daerah pemijahan. Analisis dilakukan dengan pendekatan Spawning Potential Ratio (SPR) berdasarkan data panjang cagak madidihang dari berbagai macam alat tangkap. SPR akan dijadikan sebagai titik rujukan biologi dalam memperkirakan tingkat pemanfaatan madidihang. Data panjang cagak yang dianalisis berjumlah 31.735 ekor, dengan panjang minimum 43 cmFL dan maksimum 183 cmF. Rerata panjang madidihang tersebut berkisar 103,7-143,8 cmFL dan terdistribusi secara normal. Madidihang yang tertangkap diasumsikan telah matang secara seksual atau matang gonad (SL50 > Lm). Status perikanan pada 2012, 2007, dan 2006 berdasarkan nilai SPR masuk ke dalam kategori over-exploited (SPR<20%), pada 2011 dan 2013-2018 masuk ke dalam kategori moderate (20% < SPR < 40%), sedangkan pada 2008, 2009, dan 2010 masuk ke dalam kategori under-exploited (SPR > 40%) yang bermakna bahwa pada tahun tersebut potensi pemanfaatan madidihang masih rendah dibandingkan nilai referensi biologi yang dimiliki madidihang.Yellowfin tuna fishing activity has been carried out continuously until now because it has a high economic value. Meanwhile, the level of yellowfin tuna resource utilization in recent years has not been well studied. This study aims to determine the utilization level of yellowfin tuna fishing in Indonesia and the potential conditions of spawning areas. The analysis was conducted using the Spawning Potential Ratio (SPR) approach based on the fork length data of yellowfin tuna from various fishing gears. SPR will be used as a biological reference point in estimating the exploitation rate of yellowfin tuna. The fork length data analyzed were 31,735 individuals, with a minimum length of 43 cmFL and maximum length of 183 cmFL. The mean length of yellowfin tuna ranged from 103.7-143.8 cmFL and normally distributed. Caught yellowfin tuna can be assumed to be sexually mature or gonadal maturity (SL50> Lm). Fishery status in 2012, 2007, and 2006 based on the SPR value was categorized as over-exploited (SPR <20%), in 2011 and 2013-2018 was categorized as moderate (20% <SPR <40%), while in 2008, 2009 and 2010 was categorized as under-exploited (SPR> 40%), which means that in those years, the potential utilization of yellowfin tuna is still low compared to the biological reference value of yellowfin tuna.
HUBUNGAN PANJANG BOBOT PADA IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) DALAM RANGKA PENGELOLAAN PERIKANAN DI PERAIRAN NUSA TENGGARA TIMUR Danu Sudrajat Sudrajat; Sugriwa Husen; Anjar Kristansto Putra
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.2.2021.57-67

Abstract

Penangkapan ikan di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) bersifat terbuka sehingga nelayan sering kali mengabaikan kelestarian sumber daya ikan meskipun sumber daya ini dapat pulih (renewable resources). Nelayan memiliki kecenderungan kapan dan di mana saja dengan bebas melakukan penangkapan termasuk ikan yang masih berukuran belum layak tangkap. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis data biologis ikan cakalang yaitu komposisi ukuran, panjang berat, dan pertumbuhan sebagai referensi dalam menyusun pengelolaan perikanan cakalang di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT). Data biologi yang dikumpulkan adalah data panjang dan berat ikan. Data ini diperoleh dari hasil tangkapan pole and line. Selama penelitian, jumlah sampel ikan yang diukur panjang dan beratnya adalah sebanyak 900 ekor, dengan 10 ekor setiap pemancingan (setting). Model pertumbuhan yang dihasilkan untuk ikan cakalang di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada setiap bulan penangkapan adalah b >3, menunjukkan bahwa pola pertumbuhan ikan cakalang adalah alometrik positif, yang mana pertumbuhan berat lebih cepat dibanding pertumbuhan panjang. Rataan panjang cagak (FL) ikan cakalang yang tertangkap pada setiap bulan menunjukkan kecendrungan yang terus menurun. Nilai FL pada November 2019 sebesar FL 37 cm dengan berat 850 gr, sementara pada Maret 2020 ukuran FL lebih rendah sebesar 33 cm dengan berat 409 gr.Fishing in East Nusa Tenggara (NTT) is open access, so fishers often neglect the preservation of fish resources even though these resources are renewable. Fishers have a tendency whenever and wherever they are free to catch, including undersize fish. This study aimed to analyze biological data tuna, including the size composition, length-weight, and growth as a reference in preparing the skipjack fisheries management in the area of East Nusa Tenggara (NTT). Biological data collected are the length and weight of fish. The data were obtained from the pole and line landing place. During the study, about 900 fish samples was collected, with 10 fish per fishing (setting) to measure the individual length and weight. The growth model for skipjack in East Nusa Tenggara (NTT) on a monthly basis was b> 3, meaning that the pattern of growth of skipjack is positive allometric. The mean fork length (FL) skipjack tends to decline continuously. The parameter of FL indicates this trend to be 37 cm with a weight of 850 grams in November 2019, while in March 2020, it amounted to 33 cm and a lower weight of 409 grams.
PENGARUH PARAMETER FISIKIMIA TERHADAP TUTUPAN KARANG DI PERAIRAN DARUBA, MOROTAI Iswandi Wahab; Kismanto Koroy; Mujais Lukman
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.2.2021.%p

Abstract

Terumbu karang diketahui rentan terhadap perubahan lingkungan, baik parameter fisika maupun parameter kimia. Beberapa parameter kualitas perairan yang berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan karang adalah suhu perairan, kecepatan arus, salinitas, kecerahan perairan, pH, dissolved oxygen (DO), nitrat, fosfat, sulfida, dan TSS. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tutupan terumbu karang dan hubungan parameter  fisiko-kimiawi perairan terhadap persentase tutupan terumbu karang, di perairan  Daruba. Pengambilan data penelitian untuk tutupan karang menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT). Analisis data meliputi analisis persentase tutupan karang dan analisis hubungan parameter perairan dengan tutupan terumbu karang yaitu uji pearson dengan menggunakan software SPSS Ver. 22. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa, parameter lingkungan perairan yang memiliki korelasi terhadap tutupan karang adalah oksigen terlarut (DO) pada Acropora dan arus pada alga dengan nilai Sig. 0,04 dan Sig. 0,013. Sedangkan untuk pH, ammonia, nitrat, fosfat, sulfida dan TSS tidak korelasi secara signifikan terhadap tutupan karang dengan nilai Sig. >0.05. Hasil analisis tutupan karang di perairan Daruba, menunjukkan persentase tertinggi berada distasiun III dengan nilai 46% dan terendah di stasiun I dengan persentase 9,7%, sedangkan pada stasiun IV persentase 0% atau tidak ditemukan terumbu karang. Hasil tutupan bentik yang mendominasi semua stasiun adalah abiotic dengan kisaran 30,3-71,06%. yang termasuk dalam kategori abotik adalah Sand (pasir), Silt (lumpur), dan Rubble (patahan karang).Coral reefs are known to be vulnerable to environmental changes, both physical and chemical parameters. Several water quality parameters that play an important role in increasing coral growth are water temperature, current velocity, salinity, water transparency, pH, dissolved oxygen (DO), nitrate, phosphate, sulfide, and TSS.  The purpose of this study was to analyze the coral reef cover and the relationship between the physical and chemical parameters of the waters to the percentage of coral reef cover in Daruba waters. Data collecting for coral cover was done using the Line Intercept Transect (LIT) method. Data analysis includes analysis of the percentage of coral cover and analysis of the corelation between water parameters and coral reef cover, namely the Pearson test using SPSS Ver software. 22.  Based on the results of the analysis, it was found that the parameters of the aquatic environment that have a correlation with coral cover are dissolved oxygen (DO) in acropora and currents in algae with a Sig. 0.04 and Sig. 0.013. While, pH, ammonia, nitrate, phosphate, sulfide and TSS did not have a significant correlation with coral cover with the Sig. > 0.05. The results of the analysis of coral cover in Daruba waters showed that the highest percentage was at Station III with a value of 46% and the lowest was at Station I with a percentage of 9.7%, while at Station IV the percentage was 0% or no coral reefs were found. The result of benthic coverage which dominates all stations is abiotic with a range of 30.3-71.06%. Included in the abotic category are Sand (sand), Silt (mud), and Rubble (coral fracture).

Page 98 of 108 | Total Record : 1072


Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026) Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue