cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,072 Documents
KARAKTERISTIK PERIKANAN TANGKAP DI KOTA LANGSA, PROVINSI ACEH Muhammad Nur Arkham; Andan Hamdani; Achmad Fahrudin; Nana Anggraini; Yaser Krisnafi; Mathius Tiku; Perdana Putra Kelana; Rangga Bayu Kusuma Haris; Ari Gunawan
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.3.2021.%p

Abstract

Informasi terkait pemanfaatan sumber daya perikanan sangat diperlukan dalam menunjang pengambilan keputusan dan pengelolaan perikanan secara berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan karakteristik pemanfaatan sumber daya perikanan tangkap di Kota Langsa. Penelitian ini dilakukan di Kota Langsa, Provinsi Aceh. Pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan pengarsipan data pendukung. Karakteristik perikanan tangkap yang ada di Kota Langsa didominasi oleh usaha nelayan skala kecil. Alat tangkap yang digunakan adalah mini purse seine, gillnet, trammel net dan pancing, yang dioperasikan dengan kapal berukuran <5 GT. Musim penangkapan sangat dipengaruhi oleh musim barat atau musim timur dan jenis alat penangkapan ikan yang dioperasikan. Persepsi nelayan kecil terkait dengan keberlanjutan aktivitas perikanan tangkap dari aspek sosial cukup baik, hal ini dikarenakan tradisi/budaya nelayan dan peran keluarga memberikan dampak yang positif terhadap usaha perikanan tangkap. Persepsi dari aspek ekonomi menyebutkan kurang mendukung keberlanjutan aktivitas perikanan tangkap diantaranya adalah indikator biaya melaut yang meningkat akan tetapi tidak ada perubahan selama 5 tahun terakhir terkait dengan pendapatan, hasil tangkapan dan keuntungan. Persepsi dalam aspek ekologi menyebutkan keadaan lingkungan perairan yang sudah tidak dapat menampung tingginya upaya penangkapan yang dilakukan oleh nelayan. Kejadian ini dapat dilihat dari indikator jumlah dan ukuran hasil tangkapan ikan yang semakin berkurang/kecil.Information related to the exploitation of fishery resources is needed to support decision-making and sustainable fisheries management. This study describes the utilization of capture fisheries resources in Langsa City. The location of this research is Langsa City, Aceh Province. Collecting data through personal interviews, observation, and archiving supporting data have been conducted. Small-scale fishing businesses dominate the characteristics of capture fisheries in Langsa City. The fishing gear used are mini purse seine, gillnet, trammel net and fishing line, operated using fishing vessels <5GT. The fishing season is strongly influenced by the west or east monsoons and the type of fishing gear operated. The perception of small fishermen related to the sustainability of capture fisheries activities from the social aspect is quite good. This is because the traditions/culture of fishermen and the role of the family have a positive impact on the capture fisheries business. Perceptions from the economic aspect stated that they did not support the sustainability of capture fisheries activities, including indicators of rising fishing costs but no change over the last 5 years related to income, catches, and profits. Perception in the ecological aspect states that the state of the aquatic environment can no longer accommodate the high fishing effort made by fishermen. This incident can be seen from the indicator of the number and size of fish catches decreasing/smaller.
PENGARUH ENSO TERHADAP LINGKUNGAN PERAIRAN DAN PERIKANAN DI PERAIRAN SULAWESI UTARA Reny Puspasari; Setya Triharyuni; Taufiq Alimi; Stuart J. Campbell; Raymond Jakub; Wahid Suherfian; Emilio de la Rosa; Haris Setiawan
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.2.2021.%p

Abstract

Perairan Sulawesi Utara memiliki potensi perikanan yang tinggi dan menjadi lintasan arus lintas Indonesia (arlindo) diduga mendapatkan pengaruh dari kejadian ENSO. Kajian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara fenomena ENSO dengan kondisi perairan dan perikanan di wilayah perairan Sulawesi Utara.  Analisis dilakukan  dengan menggunakan analisis korelasi, regresi berganda model Cob Douglass dengan metode OLS dan WLS.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena ENSO berkorelasi dengan perubahan nilai anomali suhu perairan, salinitas dan konsentrasi klorofil-a.  CPUE ikan karang dan beberapa ikan pelagis kecil naik ketika periode La Nina. Hubungan variabilitas lingkungan dan ENSO pada nilai CPUE ikan pelagis kecil dan ikan karang menunjukkan bahwa variabel salinitas permukaan merupakan variabel yang paling berpengaruh pada nilai CPUE ikan pelagis kecil dengan  hubungan yang positif sedangkan untuk CPUE ikan karang sangat dipengaruhi oleh variabel salinitas kolom air dengan hubungan yang negatif.Sulawesi Sea has a high potency of fisheries, this area has become an entrance of Indonesia through flow (ITF) and has been affected by ENSO. The objective of the study is to analyze the correlation between ENSO and the dynamic of environment conditions and fisheries.  The analysis was conducted by using correlation  and multiple regression analysis of the Cob Douglass model using the OLS and WLS methods. The results showed that the ENSO correlates with the anomaly of subsurface temperature, salinity and chlorophyll-a concentration CPUE of reef fish and several species of small pelagic fish increased when La Nina occurs. Surface salinity is the most influential variable on the CPUE of small pelagic fish with a positive relationship. CPUE of reef fish is strongly influenced by the sub surface salinity variable with a negative relationship.
PEMODELAN SISTEM PEMETAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN CAKALANG DI PERAIRAN PRIGI DENGAN STRUCTURAL EQUATION MODELING Mario Limbong
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.2.2021.%p

Abstract

Penentuan daerah penangkapan ikan (DPI) yang tepat akan meningkatkan efisiensi operasi penangkapan ikan serta tetap menjaga kelestarian sumber daya ikan. Pendugaan peta DPI selama ini masih mengandalkan pada parameter oseanografi saja sehingga tingkat akurasinya masih rendah dan sulit digunakan oleh nelayan kecil. Penentuan peta pendugaan DPI selayaknya mempertimbangkan berbagai aspek yang berpengaruh pada sistem pemetaan DPI. Penelitian ini bertujuan memodelkan sistem pemetaan DPI untuk digunakan nelayan tonda di Perairan Prigi Jawa Timur sehingga mampu melengkapi peta prakiraan DPI yang sudah tersedia. Pemodelan sistem pemetaan DPI dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan Struktural Equation Modeling (SEM). Berdasarkan identifikasi aspek kebutuhan nelayan, penambahan alat, bahan, rumpon dan cahaya memiliki pengaruh yang besar terhadap keberhasilan operasi penangkapan ikan. Elemen teknologi alat penangkapan ikan memiliki pengaruh terhadap hasil tangkapan ikan cakalang di Perairan Prigi sebesar 95 %. Pemodelan sistem pemetaan DPI di Perairan Prigi lebih membutuhkan aspek teknologi alat penangkapan dan alat bantu penangkapan ikan jika dibandingkan dengan aspek oseanografi. Determining the right fishing grounds will increase the efficiency of fishing operations while maintaining the sustainability of fish resources. Estimating fishing grounds maps relies on oceanographic parameters resulting in low accuracy levels and difficulties for small fishers. Determination of fishing grounds estimation maps should take into account various aspects that impact the fishing grounds mapping system. This study aims to create a fishing grounds mapping system model for use by local trolling line fishery in Parigi Waters to complement the existing fishing grounds forecast maps. The fishing grounds mapping system modeling was analyzed descriptively using Structural Equation Modeling (SEM). Aspects of fishermen's needs, the addition of tools, materials, FADs, and light have major influences on the success of fishing operations. Technological elements of fishing gear affect the catch of skipjack in Parigi Waters by 95%. Modeling the fishing grounds mapping system in Parigi Waters requires more technical aspects such as fishing gear and fishing aids compared to oceanographic aspects.
PENANGKAPAN, PARAMETER POPULASI SERTA TINGKAT PEMANFAATAN LOBSTER PASIR (Panulirus homarus) DAN LOBSTER BATU (Panulirus penicillatus) DI PERAIRAN GUNUNG KIDUL DAN SEKITARNYA Ali Suman; Ap&#039;idatul Hasanah; Andina Ramadhani Putri Pane; Anthony Sisco Panggabean
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.25.3.2019.147-160

Abstract

Tingginya permintaan pasar terhadap lobster mengakibatkan aktivitas penangkapannya di perairan Gunung Kidul dan sekitarnya berlangsung terus-menerus sepanjang tahun sehingga mengancam kelestariannya. Penelitian tentang status stok merupakan salah satu dasar utama dalam merumuskan pengelolaan menuju pemanfaatannya secara berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dinamika penangkapan, parameter populasi serta tingkat pemanfaatan lobster pasir (Panulirus homarus) dan lobster batu (Panulirus penicillatus) di perairan Gunung Kidul. Pengumpulan data bulanan dilakukan dengan bantuan enumerator dari bulan Januari sampai dengan Oktober 2016 menggunakan metode survey. Parameter populasi dianalisis dengan program FISAT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat tangkap yang digunakan untuk menangkap lobster adalah jaring lobster dan jaring krendet. Musim penangkapan berlangsung sepanjang tahun dengan puncaknya antara bulan Oktober sampai dengan Desember. Struktur ukuran lobster pasir berkisar antara 35-100 mm (panjang karapas) dan untuk lobster batu berkisar antara 30-110 mm (panjang karapas). Ukuran rata-rata pertama kali tertangkap (Lc) kedua jenis lobster tersebut umumnya lebih kecil dari ukuran rata-rata pertama kali matang kelamin (Lm). Laju pertumbuhan (K) lobster tergolong rendah dan laju kematian karena penangkapan (F) lebih besar dari laju kematian almiah (M). Laju eksploitasi (E) lobster pasir adalah 0,66 per tahun dan untuk lobster batu adalah 0,52 per tahun, dengan demikian status stok lobster sudah berada pada penangkapan berlebih (overfishing). Agar sumber daya lobster terjamin kelestariannya, maka harus dilakukan pengurangan upaya dari jumlah upaya yang ada saat ini.The high market demand for the spiny lobster cause an intensive fishing for its resources efforts in Gunung Kidul and adjacent waters and tend to threatening their sustainability. Studies for spiny lobster stock status are the main foundations for formulating a management for sustainable utilization. The purpose of this study was to determine the fishing dynamic, population parameters and exploitation rate of scalopped spiny lobster (Panulirus homarus) and pronghorn spiny lobster (Panulirus penicillatus) in Gunung Kidul and adjacent waters. Monthly data were collected by enumerators. Study was conducted in Gunung Kidul and adjacent waters from January to October 2016 using a survey method. The results showed that the main fishing gears for spiny lobster were lobster net (bottom gillnet monofilament) and krendet net (hoop net). Fishing season of this lobster occur throughout the yearly with the peak season at October to December. The carapace length range for scalopped and pronghorn spiny lobsters were in the range of 35-100 mm and 30-110 mm, respectively. The length at first capture (Lc) of those spiny lobster were smallert han the length at first maturity (Lm). The growth rate (K) of spiny lobster was low and the fishing mortality rate (F) was higher than natural mortality rate (M). The exploitation rate (E) of scalopped and pronghorn spiny lobster was 0.66 per year and 0.52 per year, respectively. It showed that the exploitation rate of spiny lobster were overfishing. In order to ensure the sustainability of the spiny lobster, there is needed to apply the precautionary approach such as reducing fishing effort by 32 % for scalopped spiny lobster and 4 % for pronghorn spiny lobster from the current situation.
STUDI DAYA DUKUNG SUMBER DAYA IKAN DI WADUK JATIBARANG SEMARANG Aisyah Aisyah; Setiya Triharyuni; Eko Prianto; Rudy Masuswo Purwoko
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.26.1.2020.1-9

Abstract

Waduk Jatibarang merupakan waduk yang belum lama beroperasi dan masih tergolong waduk baru. Kegiatan perikanan yang berkembang didominasi oleh perikanan pancing. Selain penangkapan, peningkatan produksi juga dilakukan dengan penebaran ikan, namun belum didukung kajian daya dukung yang memadai. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui nilai daya dukung sumber daya ikan di waduk Jatibarang. Kegiatan penelitian dilakukan pada Bulan Mei dan Juli 2018 yang meliputi 4 (empat stasiun yang mewakili inlet, tengah dan outlet waduk. Data primer yang dikumpulkan meliputi kualitas air (parameter fisika, kimia dan biologi). Data pendukung penelitian meliputi elevasi muka air, diperoleh dari Balai Besar Wilayah Sungai Pemali-Juana, dan data kedalaman, diperoleh dari akuisisi data GPS Sounder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai daya dukung sumber daya ikan di Waduk Jatibarang berkisar antara 3,57-6,3 ton/tahun. Kedalaman perairan sangat mempengaruhi nilai daya dukung. Nilai daya dukung lebih rendah pada kedalaman perairan lebih dari 20 m dan relatif tinggi pada kedalaman lebih dari 10 m. Selain pengaruh kedalaman juga terdapat pengaruh lain seperti fluktuasi muka air, kelimpahan plankton, kecerahan, dan unsur hara berupa nitrat. Diharapkan kajian terkait potensi produksi dapat dilakukan untuk optimalisasi pemanfaatan perikanan yang berkelanjutan.Jatibarang Reservoir is a new operating reservoir. Existing fishing activities are dominated by handline. Except fishing activities, many fish have been stocked to improve the production, but it has not been supported by adequate carrying capacity studies. The purpose of this research was to determine the value of carrying capacity of fish resources in the Jatibarang Reservoir. The study was conducted in May and July 2018 representing the inlet, center, and outlet of the reservoir. The collected data consisted of physical, chemical, and biological data obtained at 4 (four) research stations representing the inlet, center, and outlet of the reservoir. Supporting data include water level elevation obtained from the Pemali-Juana River Basin Authority and bathymetry data obtained from GPS Sounder data acquisition. The results showed that the value of carrying capacity of fish resources in the Jatibarang Reservoir is 3.57-6.3 tons/year. The depth of the waters greatly affects the value of carrying capacity. The value of smaller carrying capacity occurs at the water depths of more than 20 m, but is relatively high at the depths of more than 10 m. There are also other influences such as water level fluctuations, plankton abundance, water brightness, and nitrates. Furthermore, a study of production potential should be carried out to optimize the sustainable fisheries utilization.
KARAKTERISTIK BIOLOGI DAN TINGKAT PEMANFAATAN UDANG WINDU DI PERAIRAN SEBATIK, KALIMANTAN UTARA Tirtadanu Tirtadanu; Umi Chodrijah
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.25.3.2019.191-202

Abstract

Keterbatasan data dan informasi hasil tangkapan udang windu (Penaeus monodon Fabricius, 1798) yang tidak terlaporkan di Sebatik menyebabkan sulitnya menduga potensi dan status stok udang windu. Upaya yang dapat dilakukan untuk menduga status stok dan strategi pengelolaan udang yang berkelanjutan di perairan Sebatik adalah melalui kajian karakteristik biologi, perikanan seperti parameter populasi dan rasio potensi pemijahan. Sampel udang diperoleh dari hasil tangkapan nelayan di beberapa daerah pendaratan sekitar Tanjung Aru dan pengumpulan data biometrik udang dilakukan selama bulan April Desember 2018. Parameter pertumbuhan diperoleh dari pergeseran modus panjang karapas bulanan berdasarkan model pertumbuhan Von Bertalanffy. Tingkat penangkapan diperoleh dari laju eksploitasi (E) dan estimasi rasio pemijahan berbasis data panjang (Length-based SPR). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata ukuran udang yang tertangkap jaring tiga lapis adalah 46,90±0,14 mmCL pada udang jantan dan 53,40±0,25 mmCL pada udang betina. Sebagian besar udang yang tertangkap belum melakukan pemijahan (Lc=52 mmCL<Lm=55 mmCL) dan udang windu memijah sepanjang tahun dengan puncakya diduga terjadi pada bulan Agustus dan November-Desember. Udang betina memiliki ukuran yang lebih besar (L∞ jantan=66,25 mmCL; L∞ betina=84,50 mmCL) dan laju pertumbuhan yang lebih cepat (K jantan=1,27 tahun-1; K betina=1,39 tahun-1) dibandingkan udang jantan. Laju mortalitas alami udang jantan sama dengan udang betina (M=1,7 tahun-1) sedangkan laju mortalitas penangkapan udang jantan lebih tinggi dibandingkan udang betina (F jantan=2,13 tahun-1; F betina=1,70 tahun-1). Status penangkapan udang windu di perairan Sebatik telah jenuh (fully exploited) (E=0,50-0,56) dan kondisi stoknya tidak berada pada kondisi growth overfishing berdasarkan estimasi rasio potensi pemijahan sebesar 34%. Pengusahaan udang windu di perairan Sebatik dapat terus dilanjutkan dengan menghindari penangkapan yang terpusat di daerah asuhan.The limited data and the unreported information about the yields of giant tiger prawn (Penaeus monodon Fabricius, 1798) in Sebatik caused difficulties in estimating potention and stock status of tiger prawn. The study that could be applied for estimating stock status and management strategy for sustainable shrimp fisheries in Sebatik Waters was the study about fisheries biological characteristics including population parameters and spawning potential ratio. Samples were obtained from the catch of trammel net by fishers in some landing areas in Tanjung Aru and the biometric data has been collected during April-December 2018. The growth parameters were obtained from the movement of the monthly mode of carapace length that were based on the Von Bertalanffy growth model. Exploitation status was obtained from exploitation rate of E and length based SPR. The results showed that the mean size of shrimps that was captured by trammel net was 46,90±0,14 mmCL for male and 53,40±0,25 mmCL for female. Most of shrimps were caught before they spawn (Lc=52 mmCL<Lm=55 mmCL) and tiger prawns spawn throughout the year that the peaks occurred in Agustus dan November-December. Female shrimp has larger size (L∞ jantan=66,25 mmCL; L∞ betina=84,50 mmCL) and faster growth rate ( K male=1,27 year-1; K female=1,39 year-1) than the male. The natural mortality of male shrimp was the same as the female (M=1,70 tahun-1) while the fishing mortality of male was higher than female (F male=2,13 tahun-1; F female=1,7 tahun-1). Exploitation status of tiger prawn in Sebatik Waters was fully exploited (E=0,50-0,56) and the shrimp stock has not been on growth overfishing yet according to spawning potential ratio of 34%. The shrimps fishing in Sebatik Waters could continue by avoiding the fishing on the nursery ground.
LAJU TANGKAP, KARAKTERISTIK BIOLOGI DAN STATUS PEMANFAATAN UDANG JERBUNG (Penaeus merguiensis DE MANN, 1988) DAN UDANG DOGOL (Metapenaeus affinis H. MILNE EDWARDS, 1837) DI PERAIRAN CILACAP Tirtadanu Tirtadanu; Umi Chodrijah
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.26.1.2020.47-58

Abstract

Sumber daya udang jerbung (Penaeus merguiensis) dan udang dogol (Metapenaeus affinis) banyak diminati masyarakat untuk dikonsumsi dan sebagai pemenuhan ekonomi masyarakat. Hal ini menyebabkan penangkapan udang yang intensif di perairan Cilacap, sehingga memerlukan pengelolaan yang lebih mendalam untuk menjaga keberlanjutannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji laju tangkap, karakteristik biologi dan status pemanfaatan udang jerbung dan udang dogol di perairan Cilacap. Penelitian lapangan dilakukan dengan pendataan hasil tangkapan dan pengukuran biometrik udang pada Februari-November 2019. Sampel udang diperoleh dari hasil tangkapan jaring tiga lapis (trammel net). Analisis karakteristik biologi dilakukan dengan model analitik dan status pemanfaatan berdasarkan laju eksploitasi dan rasio potensi pemijahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (i) rata-rata laju tangkap M. affinis lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata laju tangkap P. merguiensis; (ii)alat tangkap jaring tiga lapis lebih selektif dalam menangkap M. affinis berukuran besar dibandingkan P. merguiensis; (iii) puncak proporsi udang betina matang gonad ditemukan pada April untuk P. merguiensis dan Mei untuk M. affinis; dan (iv) status pemanfaatan M. affinis masih tergolong lestari, sedangkan status pemanfaatan P. merguiensis telah lebih tangkap. Dari penelitian ini disarankan agar strategi pengelolaan sebaiknya lebih difokuskan pada jenis P. merguiensis dengan tidak melakukan penambahan produksinya disertai penutupan saat puncak musim pemijahannya pada April hingga diperoleh rasio potensi pemijahan P. merguiensis lebih besar dari 20%.Shrimp resources, banana shrimp (Penaeus merguiensis) and endeavour shrimp (Metapenaeus affinis) are favorable for the people and as the economical need of fishers community. This condition caused the intensive shrimp fishing in Cilacap Waters, so that it needs an appropriate management for its sustainability. The aims of this research was to determine of catch rate, biological characteristics and exploitation status of banana prawn and endeavour shrimp in Cilacap Waters. The research was conducted by catch monitoring and biometric measurements from February to November 2019. The sample was obtained from monthly catch of trammel net operated in Cilacap waters.The data were analyzed using an analytical model and determining the exploitation rate and the spawning potential ratio. The results show that: (i) the catch rate of M. affinis was higher than that of P. merguiensis;); (ii) trammel net was more selective for capturing large M. affinis than large P. merguiensis;(iii) the highest proportion of gonad maturity for female shrimp was found in April for P. merguiensis and in May for M. affinis; and (iv) the exploitation status of M. affinis was still sustainable, however the expoitation status of P. merguiensis was in overfishing condition. The results suggest that the management should be focused on P. merguiensis by not increasing its production following by the fishing closure during the peak of spawning season in April until reaching the spawning potential ratio of P. merguiensis more than 20%.
PENGARUH DURASI SETTING TERHADAP HASIL TANGKAPAN PUKAT CINCIN TERI DI LARANGAN, KABUPATEN TEGAL, JAWA TENGAH Koko Hardito; Chandra Nainggolan; Priyanto Rahardjo
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.2.2021.%p

Abstract

Pemanfaatan sumber daya ikan teri telah menunjukkan tangkap lebih, sehingga perlu dikaji faktor teknis operasional sebagai salah satu unsur keberhasilan operasional pukat cincin teri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan durasi setting pada armada pukat cincin teri berukuran 15 GT, 10 GT, dan 5 GT terhadap jumlah hasil tangkapan. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1 September hingga 30 November 2020 di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Larangan, Kabupaten Tegal. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus. Materi yang digunakan adalah armada pukat cincin teri 15 GT dengan panjang jaring 400 meter, 10 GT dengan panjang jaring 300 meter, 5 GT dengan panjang jaring 200 meter. Pengumpulan data dilakukan dengan mengikuti operasi penangkapan di laut. Dalam pengoperasian pukat cincin teri pada ketiga armada tersebut terdapat pengaruh signifikan antara durasi waktu setting secara serempak terhadap jumlah hasil tangkapannya. Pengaruhnya adalah sebesar 52,3% pada armada 15 GT dengan model persamaan regresi Y = 2.595,163 – 1,166 X1 – 2,564 X2, 33,4% dan pada armada 10 GT dengan model persamaan regresi Y = 2.302,066 – 1,684 X1 – 2,594 X2, serta 48,8% pada armada 5 GT dengan model persamaan regresi Y = 2.236,718 – 4,357 X1 – 2,695 X2. Sedangkan secara parsial, durasi pelingkaran jaring dan durasi penarikan tali kerut berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan pada ketiga kategori armada tersebut pada tingkat kepercayaan 95% dan diperoleh t hitung bernilai negatif, yang berarti semakin lama durasi waktu pelingkaran jaring maupun penarikan tali kerut, maka jumlah hasil tangkapan semakin berkurang. Armada berukuran 10 GT merupakan armada paling ideal untuk mengurung gerombolan teri secara vertikal dan horizontal.Utilization of anchovy resources has shown overfishing, so it is necessary to study operational technical factors as one of the elements of successful operation of anchovy trawlers. The purpose of this study was to analyze the relationship between the duration of setting in anchovy trawl fleets measuring 15 GT, 10 GT, and 5 GT to the number of catches. This research was conducted from September 1 to November 30, 2020 at the Larangan Coastal Fishing Port (PPP), Tegal Regency. The method used is descriptive method with the type of case study research. The material used is an anchovy trawl fleet of 15 GT with a net length of 400 meters, 10 GT with a net length of 300 meters, 5 GT with a net length of 200 meters. Data collection is carried out by following fishing operations at sea. The operation of anchovy trawlers on the three fleets has a significant effect between the duration of setting time simultaneously to the number of catches. The effect is 52.3% on the 15 GT fleet with the regression equation model Y = 2,595,163 – 1,166 X1 – 2,564 X2, 33.4% and on the 10 GT fleet with the regression equation model Y = 2,302,066 – 1,684 X1 – 2,594 X2, and 48.8% in the 5 GT fleet with the regression equation model Y = 2,236.718 – 4,357 X1 – 2,695 X2. While partially, the duration of the setting and the duration of pursing affect the number of catches in the three categories of the fleet at a confidence level of 95% and it is obtained that t count is negative, which means the longer the duration of the setting and the pursing, the higher the total yield catch is decreasing. A fleet of 10 GT is the most ideal fleet for confining anchovies vertically and horizontally.
PENGARUH CELAH PELOLOSAN BUBU LIPAT TERHADAP HASIL TANGKAPAN DAN UKURAN RAJUNGAN DI PERAIRAN UTARA BEKASI Baihaqi Baihaqi; Suharyanto Suharyanto; Erfind Nurdin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.3.2021.145-155

Abstract

Penangkapan rajungan menggunakan alat tangkap bubu lipat banyak dioperasikan di perairan Pantai Utara Jawa, namun memiliki selektifitas yang rendah. Untuk itu selektifitas rajungan yang tertangkap perlu mendapat perhatian hingga tangkapan rajungan memiliki ukuran layak tangkap sesuai peraturan. Penelitian uji coba pengoperasian bubu lipat dengan celah pelolosan berupa pemotongan mata jaring (tanpa frame) dengan mata jaring tanpa pemotongan sebagai kontrol dan pemotongan 2, 3 dan 4 mata jaring (perlakuan), sehingga terbentuk celah pelolosan berbentuk persegi panjang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemotongan mata jaring sebagai celah pelolosan terhadap jumlah dan selektifitas ukuran hasil tangkapan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemotongan mata jaring sebagai celah pelolosan berpengaruh nyata terhadap jumlah tangkapan bubu lipat rajungan. Analisa lanjutan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) menunjukkan hasil tangkapan rajungan bubu lipat dengan celah pelolosan 1 mata jaring (kontrol) sebanyak (8,38 ekor/setting) tidak berbeda nyata dengan celah pelolosan 2 dan 3 mata jaring (6,25 ekor/setting dan 8,63 ekor/setting) dan berbeda nyata dengan penggunaan celah pelolosan 4 mata jaring sebesar (2,25 ekor/setting). Prosentase ukuran lebar karapas (Cw = carapace width) rajungan layak tangkap (>100 mm) dan ukuran rajungan pertama kali tertangkap (Lc) semakin tinggi dengan meningkatnya jumlah mata jaring terpotong. Nilai tertinggi prosentase tangkapan rajungan ukuran besar (CW >100 mm) diperoleh pada bubu lipat dengan pemotongan 3 mata jaring mencapai 82,6% dengan nilai Lc sebesar 105,03 mm serta celah pelolosan 4 mata jaring mencapai 83,3 % dengan nilai Lc sebesar 111,78 mm.Catching blue swimming crab using collapsible traps is operated in the North Java sea but has low selectivity. For this reason, the selectivity of blue swimming crab needs attention so that the catch of blue swimming crab has a legal-size according to the regulations. Trial research on the operation of collapsible traps with an escape gap in the form of cutting mesh (without frame) with the meshes without cutting for control and cutting 2, 3 and 4 meshes (treatment) so that a rectangular escape gap is formed. The research objective was to determine the effect of shortening the mesh as an escape gap on the number and selectivity of the catch. The analysis results showed that cutting the mesh as an escape gap significantly affected the yield of collapsible traps. Further analysis using the Least Significant Difference test (LSD) showed that the catch of collapsible traps with one mesh (control) is (8.38 fishes/setting) was not significantly different from 2 and 3 meshes of escape gaps (6.25 and 8.63 fishes/setting) and substantially different from the use of 4 meshes of escape gap (2.25 fishes/setting). The percentage of carapace width (Cw) of the crab fit to catch (>100 mm) and the size of the crab length of first seen (Lc) was higher with the increasing number of cut mesh. The highest percentage of large crab catch (Cw >100 mm) was found in folding traps with three mesh cutting reached 82.6% with an Lc value of 105.03 mm and a gap of 4 meshes reaching 83.3% with an Lc value of 111.78 mm.
STATUS PEMANFAATAN DAN DINAMIKA PERIKANAN PUKAT CINCIN TERI LAUT JAWA YANG BERBASIS DI TPI PULOLAMPES BREBES JAWA TENGAH Mohamad Adha Akbar; Kamaluddin Kasim; Ria Faizah; Suryanto Suryanto; Nurulludin Nurulludin; Ignatius Tri Hargiyatno
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.4.2021.%p

Abstract

Perikanan Pukat Cincin Teri (PCT) di Laut Jawa, khususnya yang berbasis di Kabupaten Brebes berkontribusi signifikan terhadap total produksi perikanan teri secara nasional. Sebanyak 29% dari total produksi teri di propinsi Jawa Tengah berasal dari Kabupaten Brebes, sedangkan sisanya tersebar di beberapa lokasi pendaratan lainnya seperti Pemalang, Tegal, Kendal dan Larangan. PCT merupakan Alat Penangkapan Ikan (API) paling efektif menangkap teri, namun dikhawatirkan dapat mengganggu keberlanjutan sumberdaya karena daya tangkapnya yang tinggi. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui status pemanfaatan dan dinamika perikanan Pukat Cincin Teri (PCT) di perairan Utara Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks kelimpahan sumberdaya ikan (Catch per Unit Effort/CPUE) menurun secara signifikan selama periode tahun 2018 hingga tahun 2020, dimana hasil tangkapan rata rata per trip turun sebesar 76% hanya dalam kurun waktu tiga tahun.  Total pendapatan nelayan (Total Revenue) juga menurun drastis hingga 99% pada bulan Juni 2020 dibandingkan dengan total penghasilan tertinggi per kapal di bulan Maret 2018. Proses usaha penangkapan PCT yang tidak menguntungkan (namun tidak memungkinkan dilakukan penambahan ukuran kapal karena adanya pembatasan tonase kapal PCT), disiasati oleh nelayan dengan melengkapi dua alat tangkap sekaligus, yang mampu menangkap sumberdaya pelagis lain seperti kembung dan tembang. Dengan demikian, tindakan pengelolaan perikanan berupa pengendalian akses perikanan (pengaturan jumlah armada penangkapan PCT, pembatasan jumlah alat tangkap per kapal, serta pembatasan ijin tambahan bagi armada baru kapal PCT) perlu segera dilakukan untuk menjamin kelestarian sumberdaya teri dan keberlanjutan usaha perikanan.The anchovy purse seiners in the Java Sea contribute significantly to the total national anchovy's landing. Roughly 29% of Central Java's anchovy landings were originated from the Brebes municipality, while the rest came from the adjacent areas such as Pemalang, Tegal, Kendal, and Larangan. The Anchovy Purse Seiner (PCT) is well-known as the most effective and efficient fishing gear that targeted anchovy since they used small mesh sizes (locally known as waring) to catch small fish and other juveniles. However, its high catchability rate but low selectivity becomes a concern since the gear may harm the sustainability of anchovy's stock. This research aims to define the anchovy's utilization status and describes the purse seiners' dynamics. As expressed in CPUE (Catch per Unit Effort) scores, the results show that the stock abundance index (catch per trip) declined dramatically to roughly 76% in three consecutive years from 2018 to 2020. On the other hand, the total revenue calculation shows plummeted revenue per vessel, almost 99% from its peak revenue in June 2020, compared to the income made in March 2018. This poor business, combined with a deadlock to upgrade vessel size to more than 10 GT because of the recent ministerial regulation, has prompted fishers to deploy their vessel with double fishing gears that targeted alternative other pelagics, the mackerel, and scad. This research suggests limiting the fishing access by controlling the number of active PCT vessels entry to the fishery, restricting the number of deployed fishing gears per vessel, and halting the new license issuance to eliminate the fishing pressure. 

Page 99 of 108 | Total Record : 1072


Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026) Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue