cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,072 Documents
STRUKTUR KOMUNITAS IKAN KARANG DI PERAIRAN GOSONG PASIR TANJUNG JUMLAI, KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA, KALIMANTAN TIMUR Niken Financia Gusmawati; Budhi Gunadharma Gautama; Dian Oktaviani
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.3.2021.%p

Abstract

Gosong pasir Tanjung Jumlai merupakan gugusan kawasan yang terletak sekitar 7 mil dari Pelabuhan Semayang di Balikpapan, Kalimantan Timur. Penelitian tentang komunitas ikan karang telah dilakukan di tiga lokasi stasiun pengamatan di daerah terumbu karang Tanjung Jumlai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis, sebaran, kelimpahan, serta struktur komunitas ikan karang di perairan tersebut. Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2019. Pengumpulan data dilakukan dengan metode sensus visual. Selama penelitian tercatat 31 jenis ikan karang termasuk dalam 9 famili, dengan rata-rata nilai kelimpahan ikan karang sebesar 91 individu/stasiun. Komposisi jenis ikan karang terdiri dari 7 jenis ikan target (ikan konsumsi), 5 jenis ikan indikator, dan 19 jenis ikan kelompok lainnya (major grup). Kelompok ikan target sebagai bagian dari aktivitas perikanan tangkap yang dominan adalah jenis Achanturus auranticavus, Pterocaesio pisang, dan Caesio teres. Jenis dominan dari kelompok ikan indikator adalah Chaetodon octofasciatus, dan dari kelompok lainnya yang dominan adalah jenis Thalassoma lunare, Chromis ternatensis, dan Pomacentrus moluccensis. Kelimpahan jenis dan jumlah individu ikan pada masing-masing stasiun pengamatan berkisar antara 15 – 18 jenis per stasiun serta 48 – 129 individu. Indeks keanekaragaman Shanon Wiener (H’ berbasis log) berkisar antar 1,889-2,258, Indeks keseragaman (e) berkisar 0,698-0,881, dan indeks dominansi berkisar 0,127-0,241. Pengelolaan kawasan gosong pasir Tanjung Jumlai yang efektif dibutuhkan untuk meningkatkan tutupan karang hidup, kekayaan jenis dan kelimpahan ikan karang antara lain dapat memberikan manfaat bagi masyarakat perikanan tangkap secara berkelanjutan di kawasan tersebut.Tanjung Jumlai sandbar is an area located about 7 miles from Semayang Harbor in Balikpapan, East Kalimantan. Research on coral fish communities has been carried out at three observation stations in the Tanjung Jumlai reef. This study aims to determine the species composition, distribution, abundance, and community structure of reef fish in these waters. The study was conducted in October 2019. Data collection was carried out by the visual census method. During the study, 31 reef fish species from 9 families were found, with an average coral fish abundance of 91 individuals/station. The composition of reef fish species consists of 7 target fish (edible fish), 5 indicator fish, and 19 major fish species. The dominant target fish groups are Achanturus auranticavus, Pterocaesio banana, and Caesio teres. The dominant type of the indicator fish group is Chaetodon octofasciatus, and the dominant of major groups are Thalassoma lunare, Chromis ternatensis, and Pomacentrus moluccensis species. The abundance of species and number of individual fish at each observation station ranged from 15-18 species per station and –8 - 129 individuals. Shanon Wiener’s diversity index (H log-based) ranged from 1.889 to 2.258, Uniformity index (e) ranged from 0.698 to 0.881, and dominance index ranged from 0.127 to 0.241. Effective management of Tanjung Jumlai sandbank is needed to increase live coral cover, species richness, and abundance of reef fish to bring sustainable benefits for fisheries communities in the area.
MUSIM PENANGKAPAN DAN KELIMPAHAN LAYANG BENGGOL (Decapterus russelli) DI PERAIRAN LAUT JAWA Silvika Ivana Sari Aritonang; Meuthia Aula Jabbar; Ratna Suharti; Priyanto Rahardjo; I Nyoman Suyasa; Dadan Zulkifli; Nunung Sabariyah; Aditya Bramana
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.4.2021.%p

Abstract

Ikan layang benggol (Decapterus russelli) merupakan komoditas utama dan mempunyai nilai ekonomis penting di perairan Laut Jawa. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi mengenai musim penangkapan dan kelimbahan. Data diperoleh dengan metode wawancara dan data hasil tangkapan ikan layang benggol periode 2015 – 2020 didapatkan dari PPN Pekalongan dan PPP Bajomulyo Pati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan layang benggol berdasarkan Indeks musim penangkapan (IMP) melimpah pada periode Juli – November. Nilai CPUE tahunan mengalami fluktuasi, dimana kenaikan CPUE yang cukup signifikan terjadi pada tahun 2020. Dari analisis regresi menunjukan bahwa dengan bertambahnya upaya penangkapan teryata dapat menurunkan nilai CPUE.Scad mackerel (Decapterus russelli) is an essential economic commodity in the northern waters of Central Java. For the management to be carried out properly, information on the season of the fishing and resource abundance is needed to investigate. The data were obtained by interview method, and data on the catch of scad mackerel for the period 2015 – 2020 was obtained from PPN Pekalongan and PPP Bajomulyo Pati. The results showed that scad mackerel based on the fishing season index (IMP) was abundant from July to November. The yearly CPUE value fluctuated, and a significant increase in CPUE occurred in 2020. Using regression analysis resulted from increasing fishing effort give effected to decreasing CPUE.
STATUS PEMANFAATAN DAN ASPEK BIOLOGI IKAN LAYANG DELES DI PERAIRAN SELATAN BALI Acacia Zeny Araminta Mourniaty; Meuthia Aula Jabbar; I Nyoman Suyasa; Arief Wujdi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.3.2021.%p

Abstract

Ikan layang merupakan komoditas ekonomis penting dari famili Carangidae yang banyak tertangkap di perairan Bali Selatan. Upaya penangkapan ikan yang tidak terkontrol terhadap spesies ikan ini dapat mengancam kelestariannya sehingga memerlukan kebijakan pengelolaan perikanan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji status pemanfaatan dan aspek biologi ikan layang deles. Penelitian dilakukan pada 7 Maret – 6 April 2020 di Pusat Pendaratan Ikan (PPI) Kedonganan dan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan. Hasil penelitian menunjukkan pola pertumbuhan ikan layang deles bersifat alometrik negatif. Ukuran pertama kali ikan layang deles yang tertangkap di perairan Bali selatan adalah 17,10 cmFL. Nisbah kelamin jantan : betina adalah 1:1,68 mengindikasikan dominasi ikan betina. Panjang pertama kali matang gonad (Lm) ikan layang deles adalah 18,42 cmFL. Dengan nilai Lc<Lm dapat menyebabkan, terjadinya growth overfishing. Alat tangkap yang digunakan nelayan setempat adalah pukat cincin yang beroperasi secara harian (one day fishing). Kondisi perikanan telah mengalami lebih tangkapan, dimana produksi dan upaya penangkapan telah melebihi level tangkapan dan upaya yang lestari. Hal ini ditunjukkan dengan tren CPUE yang menurun. Pengelolaan yang perlu ditempuh antara lain pengurangan upaya penangkapan dengan cara penutupan area penangkapan pada musim tertentu, dan pembentukan kelembagaan pengelolaan berbasis komunitas.Shortfin Scad (Decapterus macrosoma) is one of the economically crucial pelagic fish belonging to the family of Carangidae, which is caught mainly in South Bali waters. Uncontrolled fishing efforts of this fish species can threaten its sustainability; therefore, sustainable management is needed in this case. This research aims to utilize status and determine the biological of shortfin scad. The study was conducted at PPI Kedonganan and PPN Pengambengan from March 7 to April 6, 2020. The research results showed that the growth pattern of shortfin scad is negative allometric. Length-at-first capture (Lc) of purse seine is 17,10 cmFL. A sex ratio of (M: F) 1:1,68 was observed, which indicates female was dominant. The length at first maturity (Lm) is 18.42 cmFL. The value of Lc<Lm can cause the occurrence of growth overfishing. The fishing gear used by local fishermen is purse seine which is operated in one-day fishing. The fishery condition is already in an overfishing condition in which the production and capture efforts have exceeded the level of catch and sustainable efforts. A downward trend in CPUE indicates this condition. The fishery management that needs to be taken includes reducing fishing effort by covering the fishing area at certain seasons, having a marine festival and establishing a community-based management institution. 
STATUS PENGELOLAAN SUMBERDAYA CUMI - CUMI DI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA SELATAN JAWA BERBASIS DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PRIGI, TRENGGALEK Nurulludin Nurulludin; Rudy Masuswo Purwoko; Mohamad Adha Akbar; Ralph Thomas Mahullete; Agustinus Anung Widodo
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.4.2021.%p

Abstract

Sumber daya cumi-cumi merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor produk perikanan Indonesia setelah udang, tuna dan rumput laut. Penelitian pengelolaan sumber daya cumi-cumi dilaksanakan pada Maret – November 2021 di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji status pengelolaan cumi-cumi di perairan Samudera Hindia Selatan Jawa WPP NRI 573. Analisis data menggunakan pendekatan ekosistem atau Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM). Sumber daya cumi-cumi yang didaratkan merupakan jenis oseanik (Sthenoteuthis oualaniensis) dan jenis neritik (Photololigo duvaucelli). dengan daerah penangkapan di perairan WPP 573. Lokasi penangkapan berada di perairan < 12 mil sebesar 20 %, > 12 mil sebesar 80 %. Hasil rerata aggregat nilai komposit pengelolaan perikanan cumi di WPP 573, khususnya yang mendaratkan tangkapan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi (PPN) sebesar 2,21 dan tergolong kreteria “sedang”. Pemanfaatan sumber daya cumi-cumi di lokasi tersebut perlu kehati-hatian, sehingga produksi dan pengembangan bisnis cumi dapat dilakukan secara optimal dan berkelanjutan.Squid resources are one of the leading export commodities of Indonesian fishery products after shrimp, tuna and seaweed. The research was carried out in March – November 2021 at the Prigi Archipelago Fishery Port (PPN). The purpose of this study was to examine the overall management status of squid using an ecosystem approach (EAFM) in the waters of the South Indian Ocean, Java WPP NRI 573. Data analysis used an ecosystem approach (Ecosystem Approach to Fisheries Management). Sthenoteuthis oualaniensis) and neritic species (Photololigo duvaucelli). The fishing ground for boats that catch squid comes from the waters of WPP 573. The fishing grounds are at the Trenggalek research location with a location < 12 miles by 20%, > 12 miles by 80%. The average result of the composite value of squid fisheries management in WPP 573, Trenggalek Regency is 2.21 (medium). The status of squid resource management at the location needs to be carefully monitored so that the production and development of squid can be optimal and sustainable.
SEBARAN SPASIAL DAN TEMPORAL IKAN SEBELUM DAN SETELAH MORATORIUM DI LAUT ARAFURA BERDASARKAN STUDI SURVEI AKUSTIK Asep Ma&#039;mun; Asep Priatna; Moh Natsir; Hufiadi Hufiadi; Baihaqi Baihaqi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.4.2021.%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pola sebaran spasial-temporal sumberdaya ikan sebelum dan sesudah moratorium perikanan pukat hela di perairan Laut Arafura. Pengamatan dilakukan berdasarkan pendekatan hidroakustik. Penelitian dilaksanakan pada November 2006 (sebelum moratorium dengan wahana riset KR. Bawal Putih I), Oktober 2016 (KR. Baruna Jaya IV) dan November 2018 (setelah moratorium KR Bawal Putih III). Akuisisi data akustik menggunakan echosounder split beam Simrad EK60 dengan frekuensi 120 kHz dan 38 kHz. Analisis deskriptif diterapkan untuk menjelaskan distribusi densitas ikan secara spatio-temporal, hasil analisis data disajikan dalam bentuk grafik dan peta distribusi pada perairan yang diamati. Sebaran temporal ikan pelagis sebelum dan setelah moratorium menunjukkan bahwa kelompok ikan ini cenderung berada di lapisan permukaan pada malam hari (41-75%) dan cenderung turun ke lapisan yang lebih dalam pada siang hari (25-59%). Sedangkan untuk ikan demersal lebih banyak terdapat di dekat dasar perairan pada malam hari (45-81%) daripada siang hari (19-55%). Distribusi dan kelimpahan ikan setelah moratoium lebih banyak ditemukan daripada sebelum moratorium dengan tingkat signifikansi malam (Sig=0.980) , sedangkan siang hari (Sig= 0.986). Distribusi spasial menunjukkan bahwa ikan pelagis maupun demersal tidak tersebar merata pada perairan yang diamati, tapi masing-masing kelompok ikan ditemukan / terdeteksi berada pada lokasi tertentu.This study compared the spatial-temporal distribution pattern of fish resources within a period of pre and post moratorium trawl banned in the Arafura Sea. The observation was carried out based on the hydroacoustic approach. The research was conducted in November 2006 (before moratorium), October 2016, and November 2018 (after suspension), with research vessel RV. Bawal Putih I, RV.Baruna Jaya IV and RV. Bawal Putih III. Acquisition of acoustic population using a Simrad EK60 split-beam echosounder with a frequency of 120 kHz and 38 kHz. Descriptive analysis was applied to explain fish density's spatial and temporal distribution. The results were performed on graphs and distribution maps in the observed area. The temporal distribution of pelagic fish pre and post-moratory shows that this group of fish tends to be in the surface layer at night (41-75%) and tends to descend to a deeper layer during daytime (25-59%). Mean while demersal fish are more abundant near the bottom during night (45-81%) than at day (45-81%). The distribution and abundance of fish after moratorium more than before suspension with a significance level of the night (Sig=0.980), while during daytime (Sig= 0.986). The spatial distribution shows that both pelagic and demersal fish are not evenly distributed in observed waters, but each group of fish detected is in a particular location. 
KARAKTERISTIK HABITAT ASUHAN DAN PARAMETER PERTUMBUHAN IKAN HIU DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN NRI 712 (LAUT JAWA), INDONESIA Andrias Steward Samusamu; Priyo Suharsono Sulaiman; Puput Fitri Rachmawati; Dian Oktaviani; Ngurah N. Wiadnyana
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.3.2021.129-144

Abstract

Keberadaan kelompok ikan hiu di suatu perairan dipengaruhi oleh kondisi oseanografi yang secara langsung dapat mempengaruhi penyebaran ikan, migrasi, agregrasi, pemijahan, persediaan makanan, tingkah laku ikan dan variabilitas hasil tangkapannya. Paper ini bertujuan untuk mengidentifikasi daerah asuhan hiu dan mengetahui karakteristik habitatnya di wilayah perairan Laut Jawa, dan sekaligus untuk mendukung program Kementerian Kelautan dan Peikanan dalam pengembangan Marine Protected Area. Metode yang digunakan adalah enumerasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa habitat asuhan ikan hiu terutama dari jenis Sphryna lewini, Carcharhinus dussumieri, Carcharhinus falciformis, Carcharhinus sorrah, dan Rhizoprionodon oligolinx tersebar pada wilayah yang cukup luas di WPP 712 Laut Jawa dengan cakupan koordinat 3o Lintang Selatan (LS) - 6o LS dan 108o Bujur Timur (BT) - 115o BT dengan rentang kedalaman sekitar 21,60 m hingga 77,85 m, pada suhu rata-rata berkisar 16,66oC-30,35oC dan salinitas rata-rata pada kisaran 25,13 psu-34,56 psu.The existence of shark groups is influenced by oceanographic conditions which can directly affect fish distribution, migration, aggregation, spawning, food supply, fish behavior and variability in their catch. This paper aims to predict nursery ground of shark and determine the characteristics of their habitat in the Java Sea waters, and at the same time to support the Ministry of Marine Affairs and Fisheries program in developing Marine Protected Areas. The methods used were enumeration and interviews. The results showed that the habitat for sharks, especially those of Sphryna lewini, Carcharhinus dussumieri, Carcharhinus falciformis, Carcharhinus sorrah, and Rhizoprionodon oligolinx, is spread over a fairly large area in WPP 712 Java Sea or in the coordinates of -3o to -6o LS and 108o sd. 115o BT with a depth range of about 21.60 m to 77.85 m, at an average temperature ranging from 16.66oC-30.35oC and an average salinity of 25.13psu-34.56psu.
POLA MUSIM PENANGKAPAN IKAN KEMBUNG YANG DIDARATKAN DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI ASEMDOYONG PEMALANG Rizki Wahyuni Batubara; Agus Suherman; Abdul Kohar Mudzakir
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.27.4.2021.%p

Abstract

Alat penangkapan ikan (API) yang digunakan untuk menangkap ikan kembung di perairan Kabupaten Pemalang antara lain pukat cincin mini, jaring insang, cantrang dan payang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai CPUE (Catch per Unit Effort), nilai standardisasi hasil tangkapan ikan kembung (Rastrelliger spp.), dan pola musim penangkapan ikan kembung di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Asemdoyong, Pemalang. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif dengan teknik survey dan menggunakan instrumen kuesioner untuk wawancara responden. Metode pengambilan contoh menggunakan teknik purposive sampling didapatkan 90 orang responden. Metode analisis data untuk mengetahui hasil tangkapan per upaya penangkapan (CPUE) dengan melakukan standardisasi API, sedangkan untuk mengetahui pola musim penangkapan digunakan metode rata-rata bergerak (moving average) dan deret waktu (time series) data). Hasil penelitian menunjukkan bahwa CPUE ikan kembung (Rastrelliger spp.) yang didaratkan di PPP Asemdoyong, Pemalang selama kurun waktu 10 tahun terakhir (2011-2020) berfluktuatif dan cenderung mengalami penurunan dengan nilai rata-rata CPUE sebesar 29,03 kg/trip. Puncak musim penangkapan ikan kembung (Rastrelliger spp.) terjadi pada Maret dengan nilai Indeks Musim Penangkapan (IMP) tertinggi yaitu sebesar 163%.The fishing gear used to catch mackerel in Pemalang Regency waters include mini purse seine, gill net, cantrang and payang. This study aims to analyze the CPUE (Catch per Unit Effort) value, standardization value of mackerel (Rastrelliger sp.), and the pattern of the fishing season at the Coastal Fishery Port (CFP) Asemdoyong, Pemalang. The research method was carried out using descriptive survey techniques and a questionnaire instrument to interview respondents. The sampling method using snowball sampling obtained 90 respondents. The data analysis method to determine the catch per fishing effort is CPUE analysis and standardization of fishing gear. To determine the pattern of the fishing season, moving average and time series data are used. The results showed that the CPUE of mackerel (Rastrelliger sp.) landed at the Coastal Fishery Port (CFP) Asemdoyong, Pemalang during the last ten years (2011-2020) fluctuated and tended to decrease with an average CPUE value of 29.03 kg/trip/year. The peak of the fishing season for mackerel (Rastrelliger sp.) occurred in March, with the highest Fishing Season Index (IMP) of 163%.
PERTUMBUHAN DAN TINGKAT EKSPLOITASI IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) DI PERAIRAN LAUT BANDA, MALUKU TENGAH Amrullah Usemahu; Luky Adrianto; Sugeng Hari Wisudo; Andi Zulfikar
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.1.2022.19-30

Abstract

Penangkapan ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) di Perairan Laut Banda, Maluku Tengah dilakukan secara intensif dalam berbagai ukuran sepanjang tahun oleh berbagai armada penangkapan ikan menjadi ancaman keberlanjutan sumberdaya ikan cakalang kedepan. Informasi ilmiah berkaitan dengan aspek biologi penting disediakan guna penentuan kebijakan pemanfaatan sumberdaya berkelanjutan oleh para pengambil keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan dan tingkat eksploitasi ikan cakalang di perairan Laut Banda. Data dikoleksi dari berbagai industri penangkapan pole and line (huhate) yang melakukan penangkapan ikan cakalang di perairan Laut Banda dan berpangkalan di PT. Aneka Sumber Tata Bahari Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah. Metode pengumpulan data mencakup pengambilan data primer dan sekunder berupa ukuran panjang dan berat ikan dari total 428 sampel. Hasil analisis menunjukkan bahwa ikan cakalang yang tertangkap dengan pole and line memiliki kisaran panjang 31-67 cm, dan ukuran dominan tertangkap berada pada selang kelas 40 - 42 cm menggunakan selang interval kelas 1,2 cm. Pola pertumbuhannya adalah alometrik negatif dengan koefisien pertumbuhan (K) adalah 0,11 dan Tingkat eksploitasi (E) adalah 0,74 yang artinya telah mengalami over fishing. Guna menjamin keberlanjutan ikan cakalang di perairan Laut Banda maka perlu pengurangan upaya penangkapan atau penghentian jenis alat tangkap yang tidak ramah lingkungan.Fishing skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) in the water of Banda Sea, Central Maluku, intensively in various sizes throughout the year by different fishing fleets, poses a threat to the sustainability of skipjack tuna resources in the future. Current scientific information related to critical biological aspects is provided for decision-makers to determine the policy for sustainable resources. This study analyzes the growth and exploitation rate of skipjack tuna in the Banda Sea waters. The data were collected from the pole and line (huhate) fishing industry that practices skipjack tuna fishing in the Banda Sea water and is based in PT. Aneka Sumber Tata Bahari is located in Salahutu District, Central Maluku Regency. Data collection methods include primary and secondary data collection in the form of length and weight of fish from a total of 428 samples. The results showed that skipjack fish caught by pole and line had a length range of 30-67 cm, and the dominant size was seen in the 40-42 cm class with class intervals of 1.2 cm. The growth pattern is negative allometric with a growth coefficient (K) of 0.11. The exploitation rate (E) is 0.74, meaning that it is in a condition of overfishing. To ensure the sustainability of skipjack tuna fisheries in the water of the Banda Sea, it is necessary to reduce fishing efforts or stop the types of fishing gear that are not environmentally friendly.
MUSIM PENANGKAPAN IKAN TUNA SIRIP KUNING (Thunus albacares) MENGGUNAKAN ALAT TANGKAP PANCING ULUR DI PERAIRAN TELUK BONE YANG DIDARATKAN DI KABUPATEN LUWU Femiliani Novitasari; Alfa P Nelwan; Siti Aisjah Farhum
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.1.2022.1-6

Abstract

Teluk Bone merupakan salah satu perairan yang memiliki potensi sumber daya ikan tuna sirip kuning yang tinggi. Hasil tangkapan dapat di tingkatkan apabila dilakukan dengan cara yang efektif. Salah satunya dengan mengetahui musim penangkapan ikan tuna sirip kuning di perairan Teluk Bone Kabupaten Luwu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui musim penangkapan ikan tuna sirip kuning di perairan Teluk Bone Kabupaten Luwu. Data yang digunakan adalah data produksi dan trip penangkapan ikan tuna sirip kuning tahun 2011 – 2017 yang didaratkan di KUB Sumber Laut Kabupaten Luwu. Dari hasil analisis di peroleh CPUE tertinggi terjadi pada tahun 2014 sebesar 0,35 ton /trip dan CPUE terendah terjadi pada tahun 2011 sebesar 0,06 ton /trip. Berdasarkan nilai IMP menunjukkan bahwa musim penangkapan Ikan tuna sirip kuning terjadi pada musim peralihan I yaitu peralihan barat ke timur (Maret – Mei) dan musim peralihan II (September – November) dengan puncak musim penangkapan berada pada musim peralihan I. Bone Bay is one of the waters that have a high potential for yellowfin tuna fish resources. Catch can be increased if conducted in an effective method. One is knowing the fishing season for yellowfin tuna in the waters of Bone Bay, Luwu Regency. This study aims to determine the fishing season for yellowfin tuna in Bone Bay waters, Luwu Regency. The data used are production data and yellowfin tuna fishing trips in 2011 – 2017, which were landed at KUB Sumber Laut, Luwu Regency. The analysis found that the highest CPUE occurred in 2014 at 0.35 tons/trip, and the lowest CPUE occurred in 2012 at 0.06 tons/trip. The IMP value shows that the yellowfin tuna fishing season occurs in the transition monsoon I, namely the west to east transition (March-May) and the transition monsoon II (September – November), with the peak of the fishing season being in the transition monsoon I.
DAMPAK PENGGUNAAN RUMPON PORTABEL TERHADAP PRODUKTIVITAS, DEGRADASI SUMBER DAYA IKAN DAN POTENSI KONFLIK SOSIAL PERIKANAN PANCING ULUR Domu Simbolon; Roza Yusfiandayani; Dandi Rahmad Putra; Mario Limbong
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.28.1.2022.7-17

Abstract

Pancing ulur merupakan salah satu alat tangkap yang dominan digunakan di Kepulauan Seribu, khususnya di Pulau Panggang. Penggunaan rumpon portabel diharapkan dapat mengoptimalkan operasi penangkapan ikan karena rumpon ini dapat mengkonsentrasikan ikan target tangkapan di suatu area yang diinginkan nelayan (catchable area), sehingga terbentuk daerah penangkapan baru (artificial fishing ground) dalam perikanan pancing ulur. Namun demikian, penggunaan rumpon ini diharapkan tidak menimbulkan degradasi sumber daya ikan dan ekosistem laut serta tidak menimbulkan konflik sosial di antara nelayan sebagaimana sering ditemukan dalam penggunaan rumpon konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk (1) membandingkan produktivitas pancing ulur di sekitar pengoperasian rumpon dan tanpa rumpon portabel, (2) membandingkan tingkat kelayaktangkapan ikan di sekitar rumpon dan tanpa rumpon portabel, dan (3) menganalisis dampak pengoperasian rumpon portabel terhadap degradasi daerah penangkapan ikan dan konflik sosial. Metode penelitian dilakukan dengan teknik wawancara dan kegiatan experimental fishing sebanyak 16 trip. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas pancing ulur dengan rumpon portabel tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan tanpa rumpon, namun laju tangkap serta jumlah individu ikan yang tertangkap lebih tinggi dengan menggunakan rumpon portabel. Ikan yang dominan tertangkap pada dua jenis perlakuan (menggunakan rumpon portabel dan tanpa rumpon) relatif sama, dimana hasil tangkapan didominasi oleh ikan kategori layak tangkap, sehingga tidak berpeluang menciptakan degradasi sumber daya ikan di Pulau Panggang. Sebagian besar responden nelayan (94%) memiliki persepsi bahwa rumpon portabel dapat meningkatkan produktivitas tangkapan, namun terdapat juga 60% di antara responden yang beranggapan bahwa penggunaan rumpon portabel berpotensi menciptakan konflik sosial.Handlines are one of the dominant fishing gear used in Pulau Panggang waters. The use of portable FADs is expected to optimize fishing operations because these FADs can concentrate the captured target fish in the catchable area so that a new artificial fishing ground is formed in handlines fisheries. However, it is hoped that using FADs will not cause degradation of fisheries resources and will not cause social conflicts among fishers as is often found in using conventional FADs. This study aimed to (1) compare the productivity of handline catches around FAD operations and without FADs, (2) compare the level of biologically feasible catches around FADs and without FADs, and (3) analyze the impact of portable FAD operations on fishing grounds degradation and social conflict. The research method was carried out using interviews and experimental fishing activities on as many as 16 trips. The results showed that the productivity of handlines using portable FADs was not significant, but the catch rate and the number of individual fish caught were higher using portable FADs. The dominant fish caught in the two types of treatment were relatively similar. Biologically feasible categories dominated the catch, so there was no chance of creating degradation of fish resources in Pulau Panggang waters. Most fishermen respondents have a perception that portable FADs can increase catch productivity. Still, there are also 60% of respondents think that the use of portable FADs has the potential to create social conflict.

Page 100 of 108 | Total Record : 1072


Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026) Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue