cover
Contact Name
Darwanto
Contact Email
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Bawal : Widya Riset Perikanan Tangkap
ISSN : 19078229     EISSN : 25026410     DOI : -
Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap dipublikasikan oleh Pusat Riset Perikanan yang memiliki p-ISSN 1907-8226; e-ISSN 2502-6410 dengan Nomor Akreditasi RISTEKDIKTI: 21/E/KPT/2018, 9 Juli 2018. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi penerbitan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan April, Agustus, Desember. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap memuat hasil-hasil penelitian bidang “natural history” (parameter populasi, reproduksi, kebiasaan makan dan makanan), lingkungan sumber daya ikan dan biota perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 395 Documents
POTENSI BEBAN PENCEMARAN FOSFOR DI WADUK IR. H. DJUANDA, PURWAKARTA, JAWA BARAT Lismining Pujiyani Astuti; Didik Wahju Handro Tjahjo
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 12, No 1 (2020): (April) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.12.1.2020.41-50

Abstract

Beban pencemaran waduk Ir. H. Djuanda berasal dari dalam (internal sources) dan luar (external source) waduk. Pencemaran yang berasal dari dalam waduk salah satunya adalah kegiatan budidaya ikan dalam karamba jaring apung (KJA), sementara yang berasal dari luar antara lain beban dari pemanfaatan daerah tangkapan air yang masuk melalui aliran sungai yang bermuara di Waduk Ir. H. Djuanda. Fosfor (P) merupakan unsur makro bagi plankton dan tumbuhan akuatik, yang apabila kandungannya berlebih dapat menyebabkan eutrofikasi dan pencemaran air. Beban fosfor yang berlebih dapat menyebabkan ledakan pertumbuhan fitoplankton dan tumbuhan air. Tujuan penelitian untuk mengkaji potensi beban pencemaran fosfor di Waduk Ir. H. Djuanda. Penelitian dilakukan pada bulan Februari dan September 2017. Contoh air diambil dari sungai-sungai yang bermuara ke waduk. Data sekunder diperoleh dari Perum Jasa Tirta II dan Dinas Perikanan dan Peternakan kabupaten Purwakarta. Contoh ikan budidaya untuk analisis fosfor adalah ikan mas dan contoh pakan adalah pelet yang digunakan oleh pembudidaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beban pencemaran fosfor di Waduk Ir. Djuanda dari masukan sungai mencapai 11.091,5 ton/tahun (82%) yaitu jauh lebih tinggi dibandingkan beban dari kegiatan KJA sebesar 2.382,9 ton/tahun (18%); beban pencemaran fosfor dari kedua sumber diperkirakan mencapai 13.474,4 ton/tahun.Pollution load of Ir. H. Djuanda reservoir originated from internal and external sources. Internal source pollution for example is fish farming activities in Floatingnet Cage Culture (FCC), while external source is river input from catchment area into Ir. H. Djuanda reservoir. Phosphorus considered a macro nutrient for phytoplankton and aquatic plants, its excessive amount may cause eutrophication and water pollution, i.e., blooming in the growth of phytoplankton and aquatic plants. The aim of this study was to assess potential of phosphorus loading in the Ir. H. Djuanda reservoir. The study was conducted with stratified surveys. Water sampling was conducted at the input of tributaries into reservoirs. Secondary data was collected from Perum Jasa Tirta II as Reservoir Administrator and Fisheries and Animal Husbandry Services of Purwakarta Regency. Carp as fish samples and fish food used were collected from cultivated cages. The results showed that phosphorus load at the Ir. H. Djuanda reservoir were mostly came from rivers, 11,091.51 tons/year (82%)which is much higher than that from FCC activities i.e., 2,382.9 tons/year (18%). The total phosphorus load from both sources reached 13,474.4 ton/year.
KEBIASAAN MAKANAN IKAN BARONANG (Siganus guttatus, Bloch 1787) DI PERAIRAN SEI CARANG KOTA TANJUNGPINANG Yuri Indriyani; Susiana Susiana; Tri Apriadi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 12, No 2 (2020): (AGUSTUS) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.12.2.2020.51-60

Abstract

Hasil tangkapan nelayan di Perairan Sei Carang Kota Tanjungpinang Kepulauan Riau yaitu ikan baronang (S. guttatus). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rasio panjang usus relatif (RLG), jenis serta komposisi makanan ikan baronang (S. guttatus) di Perairan Sei Carang Kota Tanjungpinang Kepulauan Riau. Penelitian ini menggunakan metode survei. Sampling ikan baronang (S. guttatus) dilakukan dalam waktu 2 bulan sebanyak 1 kali dalam seminggu, sehingga total sampling ikan sebanyak 8 kali. Analisis data untuk mengetahui kebiasaan makanan ikan baronang (S. guttatus) menggunakan indeks bagian terbesar/index of preponderance (IP). Hasil penelitian diketahui bahwa jumlah ikan yang didapatkan sebanyak 43 ekor. Jumlah ikan berdasarkan jenis kelamin didapatkan sebanyak 18 ekor ikan baronang (S. guttatus) jantan dan 25 ekor ikan baronang (S. guttatus) betina. RLG ikan baronang (S. guttatus) betina dan jantan berturut-turut adalah 2,4 dan 2,2. Berdasarkan nilai RLG tersebut, ikan baronang (S. guttatus) tergolong ikan omnivor. Kelompok makanan ikan baronang (S. guttatus) terdiri dari mikroalga, makroalga, protozoa, detritus, dan crustacea. Hasil indeks bagian terbesar/IP diketahui bahwa makanan utama ikan baronang (S. guttatus) di Perairan Sei Carang adalah mikroalga berdasarkan jenis kelamin, bulan penangkapan, dan kelompok ukuran panjang tubuh.The catches of fishermen in Sei Carang Tanjungpinang City, Riau Islands are baronang fish (S. guttatus). The objective of this study was to determine the Relative length of the gut (RLG), type and food composition of baronang fish (S. guttatus, Bloch 1787) in Sei Carang, Tanjungpinang City, Riau Islands. The method used in this research was survey method. Sampling of baronang fish (S. guttatus) was taken once a week in two months, so that the total of the sampling was eight times. The index of preponderance (IP) was used in this research to analyze the data in determining baronang fish (S. guttatus) food habits. The result showed that total fish caught were 43, there were 18 male and 25 female. Relative length of the gut or RLGs female and male baronang fish (S. guttatus) were 2.4 and 2.2 respectively. Based on the RLG value, baronang fish (S. guttatus) was classified as omnivore. Furthermore, the food types of baronang fish (S. guttatus) were a microalgae, macroalgae, protozoa, detritus, and crustaceans. Index of preponderance showed that the main food of baronang fish (S. guttatus) in Sei Carang was microalgae based on sex, month of capture, and body length measurement.
PARAMETER POPULASI, ASPEK REPRODUKSI DAN PENANGKAPAN IKAN KEMBUNG (Rastrelliger brachysoma Bleeker, 1851) DI PERAIRAN TANGERANG Karsono Wagiyo; Heri Widiyastuti; Yoke Hany Restiangsih
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 12, No 2 (2020): (AGUSTUS) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.12.2.2020.91-101

Abstract

Ikan kembung (Rastrelliger brachysoma) mempunyai nilai ekonomi tinggi di Indonesia dan Asia Tenggara. Pemanfaatannya sudah berlangsung lama secara intensif, sehingga memerlukan data dan informasi terkini. Dalam makalah ini mengkaji parameter populasi, aspek reproduksi dan aspek penangkapan sebagai bahan pengelolaan sumberdaya ikan kembung. Penelitian dilakukan di Wilayah Tangerang dengan perolehan data dan informasi melalui enumerator dan observasi pada periode Januari-Desember 2016. Hasil penelitian didapatkan panjang cagak ikan kembung 10,4-20,5 cmFL, rerata15,9 cmFL, panjang pertama kali tertangkap 15,54 cmFL, panjang pertama matang gonad 14,1 cmFL dan panjang asimtotik(L)=21,26 cmFL. Laju pertumbuhan (K) = 1,33/tahun, laju kematian total 6,18/tahun, laju kematian alami (M)=2,37/tahun dan laju kematian karena penangkapan (F) = 3,81/tahun, laju eksploitasi (E)=0,62/tahun. Nisbah kelamin betina berbanding jantan= 1: 1,3. Persentase gonad matang dan indeks kematangan gonad tertinggi terjadi Februari dengan dugaan pemijahan terjadi pada Maret. Indeks kelimpahan (CPUE) tertinggi terjadi Mei dan puncak penangkapan terjadi September. Alat tangkap utama jaring insang dengan kontribusi ikan kembung rerata 23,38 %. Kontribusi produksi ikan kembung terhadap produksi perikanan total cenderung meningkat. Penangkapan ikan kembung dengan jaring insang dapat terus dilakukan dengan tidak menambah upaya.Short mackerel (Rastrelliger brachysoma) has high economic value in Indonesia and Southeast Asia. Intensive exploitation has been going on for a long time, so it requires the latest data and information. This research to study population parameters, reproductive aspects and fishing aspects to support for short mackerel resource management. The research was conducted in the Tangerang area with data and information acquisition through enumerators and observations in the period January-December 2016. The results showed that the fork length of short mackerel was 10.4-20.5 cmFL, the average was 15.9 cmFL, the length of the first caught was 15.54 cmFL, the length of the first mature gonads was 14.1 cmFL and the asymptotic length (L)=21.26 cmFL. Growth rate (K)=1.33/year, total mortality rate 6.18/ year, natural mortality rate (M) = 2.37/year and fishing mortality rate (F) =3.81/year, exploitation rate (E)=0.62/year. Sex ratio of female against male = 1: 1.3. The highest percentage of mature gonads and maturity index of gonads occurred in February, with suspicion that spawning occurred in March. The highest abundance index (CPUE) occurred in May and the peak of fishing occurred in September. The main fishing gear of the gill nets with an average contribution of short mackerel 23.38%. The contribution of short mackerel production to total fishery production tends to increase. Catching short mackerel with gill nets can be continued without increasing effort.
Penentuan Jenis Ikan Layang ( Decapterus spp) Dengan Menggunakan Metode Analisis Morfologi Dan DNA Barcoding Tyani Fitrian; Hawis Madduppa
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 12, No 3 (2020): (Desember) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.12.3.2020.127-135

Abstract

Ikan layang (Decapterus spp) merupakan ikan yang memiliki nilai ekonomis penting di Indoneisa. Ikan pelagis kecil ini menjadi salah satu target utama penangkapan di perairan Indonesia. Ikan layang diimaanfatkan menjadi berbagai olahan ikan yang banyak diminati oleh masyarakat Indoneisa. Tingginya laju eksploitasi ikan layang membuat ikan tersebut mengalami penurunan stok di alam, untuk dapat mengelola pegakjian stok suatu spesies di alam hal mendasar yang perlu dilakukan adalah memastikan jenis ikan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memastikan suatu spesies ikan dengan mengidentifikasi secara morofologi dan teknik DNA barcoding. Hasil analisis morfologi menunjukan sampel ikan yang dianalisis memiliki kemiripan dengan genus Decapterus spp, sedangkan berdasarkan analisis DNA barcoding menunjukan hasil hingga mencapai tingkat spesies yaitu Decapterus macrosoma dengan presentasi kesamaan identifikasi hingga 97%. Kata Kunci : analisis morfologi, DNA barcoding, Decapterus spp.
HUBUNGAN PANJANG-BOBOT DAN FAKTOR KONDISI TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares Bonnaterre, 1788) YANG DIDARATKAN DI PRIGI JAWA TIMUR Maya Agustina; Ririk Kartika Sulistyaningsih; Arief Wujdi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 12, No 3 (2020): (Desember) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.12.3.2020.109-117

Abstract

Tuna sirip kuning (Thunnus albacares Bonnaterre, 1788), Fam Scombridae, merupakan salah satu hasil tangkapan yang cukup tinggi bagi perikanan skala kecil di Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan panjang-bobot dan faktor kondisi tuna sirip kuning untuk melengkapi informasi biologi yang diharapkan dapat mendukung pengelolaan perikanan tuna sirip kuning secara bertanggung jawab. Sampel tuna sirip kuning diperoleh dari Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi, Jawa Timur, pada bulan Januari hingga Desember 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran panjang berkisar antara 21 – 172 cmFL dan bobot berkisar antara 0,15 – 73 kg. Hubungan panjang dan bobot diperoleh persamaan W = 3x10-5FL2,835 mengindikasikan pola pertumbuhan bersifat alometrik negatif. Faktor kondisi relatif bervariasi menurut ukuran kelas panjang dimana faktor kondisi ikan juvenil cenderung lebih tinggi dibandingkan ikan dewasa. Faktor kondisi juga bervariasi secara bulanan atau musiman dimana nilainya cenderung meningkat pada bulan September hingga mencapai puncaknya pada Oktober atau bertepatan dengan musim peralihan II.Yellowfin tuna (Thunnus albacares Bonnaterre, 1788), Fam Scombridae, is one of the high catches for small-scale fisheries at the Prigi Fishing Port. The objectives of this research are to investigate the relationship of length-weight, Growth pattern and condition factors of yellowfin tuna which are expected to complete basic information to support the management of yellowfin tuna fisheries in a responsible manner. Yellowfin Data collection were obtained from Prigi Fishery Port, East Java from January to December 2018. The measurements showed that the length of ranged from 21-172 and weight ranged from 0.2 - 73 kg. Analysis of length-weight relationships was W = 3x10-5FL2,835 indicating that the growth pattern is negative allometric. Relative condition factors vary according to length class size where the condition factor for juvenile fish tends to be higher than that of adult fish. The condition factor also varies on a monthly or seasonal basis where the value tends to increase in September until it reaches its peak in October or coincides with the transition season II.
HUBUNGAN MORFOMETRIK OTOLITH DENGAN UKURAN IKAN LAYANG DELES (Decapterus macrosoma Bleeker, 1851) DI PERAIRAN BALI SELATAN Acacia Zeny Araminta Mourniaty; Meuthia Aula Jabbar; I Nyoman Suyasa; Arief Wujdi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 12, No 3 (2020): (Desember) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.12.3.2020.103-107

Abstract

Ikan layang merupakan komoditas ekonomis penting dari famili Carangidae yang banyak tertangkap di perairan Bali Selatan. Otolith ikan dimanfaatkan secara luas untuk mengaji taksonomi, pertumbuhan, umur dan kekerabatan populasi ikan dari perairan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara morfometrik otolith dan ukuran ikan layang serta ciri-ciri morfologi otolith. Sampel dikumpulkan dari Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kedonganan dan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan, Bali Selatan antara 7 Maret s/d 5 April 2020. Sampel ikan layang deles diambil secara acak (random sampling) dari hasil tangkapan pukat cincin yang beroperasi secara harian. Pengambilan sagittae dilakukan dengan cara “up through the gill”. Secara keseluruhan digunakan 83 pasang sampel otolith sagittae utuh yang berhasil diambil dari bagian kepala ikan layang deles. Hubungan morfometrik otolith dan ukuran ikan dianalisis menggunakan persamaan regresi linear y= ax + b. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara morfometri otolith kiri dan kanan. Ukuran otolith memiliki korelasi isometrik dengan pertumbuhan ikan, dalam arti panjang otolith (OL) menjadi indikator terbaik untuk mengestimasi ukuran individu ikan layang Decapterus macrosoma.Shortfin scad (Decapterus macrosoma) is an important economic commodity from the Carangidae family which is mostly caught in South Bali waters. Fish otoliths are widely used to assess the taxonomy, growth, age, and relationships of fish populations from different waters. This study aims to determine the relationship between otolith morphometrics and the size of the flying fish as well as the morphological characteristics of the otoliths. Samples were collected from the Kedonganan Fish Landing Base (PPI) and Pengambengan Archipelago Fishery Port (PPN), South Bali between March 7 to April 5, 2020. The deles fly fish sample was taken randomly (random sampling) from the catch of ring trawlers that operate in an automated manner. Daily. Sagittae collection is done by "up through the gill". Overall, 83 pairs of intact otolith sagittae samples were used which were successfully taken from the head of the deles flying fish. Otolith morphometric relationships and fish size were analyzed using the linear regression equation y = ax + b. The results showed that there was no significant difference between the morphometry of the left and right otoliths. Otolith size has an isometric correlation with fish growth, in the sense that otolith length (OL) is the best indicator to estimate the individual size of Decapterus macrosoma flying fish.
PENDUGAAN STATUS PERIKANAN TERUBUK (Tenualosa macrura) DI PERAIRAN SELAT BENGKALIS, RIAU Supradianto Nugroho; Supratmi Supratmi; Windi Syahrian; Dewi Megapuspa Nusari; Muhammad Faeyumi; Muhammad Yulianda; Eka Fajri Hadinata
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 12, No 3 (2020): (Desember) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.12.3.2020.119-126

Abstract

Ikan terubuk merupakan jenis ikan pelagis kecil yang memiliki nilai ekonomis penting bagi masyarakat di sekitar Selat Bengkalis. Tingginya harga telur terubuk menyebabkan tekanan penangkapan yang tinggi terhadap ikan ini. Ikan terubuk telah ditetapkan sebagai ikan yang dlindungi secara terbatas, dengan memberlakukan larangan tangkap di hari dan bulan tertentu melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.59 Tahun 2011. Kajian ini bertujuan untuk menduga stok ikan terubuk dengan metode rasio potensi pemijahan (spawning potential ratio/SPR). SPR didefinisikan sebagai rasio potensi memijah suatu stok ikan setelah dieksploitasi terhadap sejumlah tekanan penangkapan. Keunggulan dari metode ini adalah dapat digunakan pada kondisi data terbatas serta dapat memberikan masukan untuk upaya penangkapan tahun berikutnya. Hasil penghitungan parameter pertumbuhan ikan terubuk didapatkan nilai k = 1,5/tahun, L∞ = 39,40 cmSL dan nilai mortalitas alami M = 2,23/ tahun. Nilai SPR perikanan terubuk diestimasi sebesar 15%, yang berarti bahwa status eksploitasi ikan terubuk dalam kondisi over exploited, jauh di bawah batas minimal nilai SPR yang ditetapkan. Untuk mencapai nilai SPR target sebesar 50%, upaya penangkapan ikan terubuk harus dikurangi sekitar 8,36% dari upaya penangkapan tahun sebelumnya.
BIOLOGI REPRODUKSI DAN DINAMIKA POPULASI IKAN KEMBUNG LELAKI (Rastrelliger kanagurta, Cuvier 1817) DI PERAIRAN ARU Moh Fauzi; Suwarso Suwarso; Duranta D. Kembaren; M. Fadli Yahya
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 12, No 3 (2020): (Desember) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.12.3.2020.137-150

Abstract

Peningkatan armada pukat ikan dan pukat udang serta kebijakan relokasi kapal diatas 30 GT dari WPP 712 ke WPP 718 diduga berdampak pada potensi sumberdaya perikanan di WPP 718 termasuk didalamnya wilayah perairan kepulauan Aru. Ikan kembung lelaki merupakan ikan yang mendominasi hasil tangkapan armada pukat cincin yang berbasis di Dobo. Untuk menghindari terjadinya penurunan sumberdaya ikan kembung lelaki (nama lokal: lema) diperlukan informasi dasar tentang biologi perikanannya. Tulisan ini bertujuan mengkaji aspek biologi reproduksi dan dinamika populasi ikan kembung lelaki di perairan kepulauan Aru. Hasil penelitian mennjukkan bahwa puncak pemijahan ikan kembung lelaki terjadi pada bulan Juni dan berlangsung hingga bulan November. Panjang pertama kali matang gonad jantan 20,19 cmFL dan betina 19,96 cmFL. Sebagian besar populasi didominasi oleh ikan dewasa dengan tingkat kematangan gonad (TKG) 3 dan 4. Populasi ikan kembung lelaki di kepulauan Aru terdapat satu kohor utama dan dua kohor minor. Tingkat pemanfaatan ikan kembung lelaki yang telah melebihi nilai optimumnya yakni 0,81 memerlukan kebijakan dalam pengelolaannya. Pembatasan upaya penangkapan baik pada armada utama pemanfaat ikan kembung lelaki maupun pada kapal-kapal di atas 30 GT dari Laut Jawa yang mengeksploitasi perikanan di WPP 718 menjadi salah satu saran pengelolaannya.Inclining of fish and shrimp trawler fleet and relocation policy of vessel higher than 30 GT from FMA 712 to FMA 718 was alleged impact the fishery resources in FMA 718, including Aru Island Sea. The Indian Mackarel Rastelinger kanagurta was dominant species caught by purse seine which based on Dobo. To prevent the declining of R. Kanagurta resources stock, it is needed to collect the basic information on fisheries biology. This study aimed to assess the reproductive biological aspects and population dynamics of R. kanagurta in the Aru Sea. The data were collected from purse seine landing based in Dobo from January to November 2016. The analysis result showed that the spawing season reach its peak from June to November. The length at maturity of males and females were 20,19 cmFL and 19,96 cmFL. The catch was dominated by adult fish which has been reaching the mature stage. The population structure of R kanagurta consisted of one major cohort and two minor cohorts. The exploitation level of this species was greater than its optimum levels (E = 0,81) which indicates that there is needed of management policy in this fishery such as the restriction of the fishing efforrt.
ASPEK BIOLOGI DAN KELIMPAHAN HIU MAKO SIRIP PENDEK (Isurus oxyrinchus) DI SAMUDRA HINDIA BAGIAN TIMUR BERDASARKAN PROGRAM OBSERVER ILMIAH 2015-2019 Arief Wujdi; Benaya M. Simeon; Bram Setyadji; Ririk Kartika Sulistyaningsih
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.1.2021.%p

Abstract

Hiu mako sirip pendek (Isurus oxyrinchus) termasuk kedalam Famili Lamnidae dan banyak dieksploitasi sehingga telah dimasukkan ke dalam daftar merah IUCN serta Apendiks II CITES sejak 2019. Penangkapan dan perdagangannya perlu dipantau secara global untuk menghindari kepunahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji laju tangkap, kelimpahan, dan estimasi ukuran hiu mako yang tertangkap perikanan rawai tuna. Pengumpulan data dilakukan dengan menempatkan tenaga observer ilmiah diatas kapal penangkap ikan yang berbasis di empat pelabuhan utama rawai tuna pada rentang waktu tahun 2015 hingga 2019. Bobot tubuh ikan diestimasi dari ukuran panjang cagaknya berdasarkan persamaan hubungan panjang dan bobot dari penelitian-penelitian sebelumnya. Hasil penelitian mengungkap bahwa terjadi peningkatan upaya rawai tuna seiring dengan peningkatan cakupan sampling. Laju tangkap mencapai puncaknya pada tahun 2017 (0,2 ekor/1000 pancing), kemudian mengalami penurunan seiring dengan peningkatan upaya penangkapan. Secara spasial, hiu mako tersebar di wilayah perairan tropis dan subtropis, khususnya kurang dari 10o Lintang Selatan. Pertumbuhan hiu mako bersifat isometrik dengan ukuran panjang cagak berkisar antara 50-211 cm. Rata-rata ukuran hiu yang tertangkap cenderung semakin besar dari tahun ke tahun sehingga dimungkinkan memiliki implikasi pada upaya pengelolaan dan konservasinya jenis yang terancam punah ini.Shortfin mako shark (Isurus oxyrinchus) belongs to the Family Lamnidae and is widely exploited so it has been included in the IUCN red list as well as Appendix II CITES since 2019. Hence, its capture and trade need to be monitored globally to avoid extinction. This study aimed to investigate the catch rate, abundance, and size estimation of the shortfin mako shark caught by tuna longline. Data collection was conducted through the on-board scientific observer program on the fishing vessel at four main tuna longline ports during the period of 2015 to 2019. The whole-body weight was estimated by its length and weight relationship revealed from previous studies. The results showed that there was an increase in fishing efforts along with an increased sampling coverage. The catch rates peaked in 2017 (0.2 fish/1000 hooks), then, it decreased due to increased fishing efforts. Shortfin mako sharks were distributed spatially in both tropic and subtropic waters, mostly caught in area below than 10-degree South. An isometric growth was identified with the length size ranged between 50-211 cm. The average size of harvested fish tends to rise every year that may have implications to the establishment of management and conservation strategies for the endangered species.
IDENTIFIKASI MOLEKULAR DAN STRUKTUR FILOGENETIK MOLUSKA (GASTROPODA DAN BIVALVIA) DI PERAIRAN BIAK, PAPUA Anna Rejeki Simbolon; Ludi Parwadani Aji
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.1.2021.%p

Abstract

Perairan Biak di wilayah Papua termasuk kawasan segitiga terumbu karang dengan tingkat keanekaragaman spesies yang tinggi, salah satu diantaranya adalah Phylum Moluska, namun lebih dari 90% spesies Moluska belum terdokumentasi secara akurat. Sebagai biota dengan keanekaragaman spesies yang tinggi, kesamaan morfologi cangkang moluska sering ditemukan sehingga menyebabkan kesulitan dalam identifikasi yang tepat. Untuk hal tersebut penanda molecular “DNA mitokondria cytochrome oxidase I” (mt-COI), biasa disebut DNA barcoding , dapat diterapkan untuk identifikasi species. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies Moluska dengan menggunakan DNA barcoding serta menyusun struktur filogenetik Moluska di perairan Biak, Papua. Contoh biologi Moluska diambil dengan metode jelajah di area padang lamun pada saat air surut. Analisis DNA menggunakan primer universal LCO 1490 dan HCO 2198, pengeditan dan pengurutan sekuen DNA dengan program Geneious ver 9 dan program BLAST. Struktur filogenetik dilakukan dengan metode neighbor joining (NJ) pada model Kimura-2. Hasil menunjukkan spesies moluska yang berhasil diidentifikasi secara molecular terdiri dari 23 spesies dengan tingkat kesamaan 97-100%. Pohon filogenetik menunjukkan pengelompokkan spesies berdasarkan ordo, famili hingga genus yang berbeda. Nerita sp. memiliki jarak genetik terendah dan nilai bootstrap yang tinggi serta memiliki kesamaan warna dan pola yang hampir sama sehingga sering terjadi kesalahan identifikasi secara morfologi. Hasil analisis memperlihatkan DNA barcoding dapat digunakan dalam identifikasi spesies moluska dengan cepat dan akurat serta memberikan keragaman spesies yang tinggi. Identifikasi secara molekular dengan menggunakan DNA barcoding dapat dijadikan alat dalam mengidentiifkasi spesies moluska secara lebih tepat sehingga pengelolaan spesies akan tepat sasaran serta bermanfaat bagi kajian pengelolaan selanjutnya.Biak waters in the Papua region are included in the coral reef triangle area with a high level of species diversity, one of which is the Mollusc Phylum, but more than 90% of Mollusc species have not been accurately documented. As a biota with high species diversity, similarity in morphology of mollusk shells is often found, causing difficulties in proper identification. For this reason, the molecular marker “mitochondrial DNA cytochrome oxidase I” (mt-COI), commonly called DNA barcoding , can be applied for species identification. This study aims to identify mollusc species using DNA barcoding and compose the phylogenetic structure of molluscs in the waters of Biak, Papua. Mollusc biology samples were taken by roaming the seagrass area at low tide. DNA analysis using universal primers LCO 1490 and HCO 2198, editing and sequencing DNA with the Geneious ver 9 program and the BLAST program. The phylogenetic structure was carried out using the neighbor joining (NJ) method on the Kimura-2 model. The results show that the mollusk species that have been identified molecularly consist of 23 species with a similarity level of 97-100%. The phylogenetic tree shows the grouping of species based on different orders, families and genera. Nerita sp. has the lowest genetic distance and high bootstrap value and has almost the same color and pattern so that morphological identification errors often occur. The results of the analysis show that DNA barcoding can be used in the identification of mollusk species quickly and accurately and provides high species diversity. Molecular identification using DNA barcoding can be used as a tool in identifying mollusk species more precisely so that species management will be well targeted and useful for further management studies.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 17, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 17, No 1 (2025): April 2025 Vol 16, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 16, No 2 (2024): AGUSTUS 2024 Vol 16, No 1 (2024): (APRIL) 2024 Vol 15, No 3 (2023): (DESEMBER) 2023 Vol 15, No 2 (2023): (AGUSTUS) 2023 Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023 Vol 14, No 3 (2022): (DESEMBER) 2022 Vol 14, No 2 (2022): (Agustus) 2022 Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022 Vol 13, No 3 (2021): (DESEMBER) 2021 Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021 Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021 Vol 12, No 3 (2020): (Desember) 2020 Vol 12, No 2 (2020): (AGUSTUS) 2020 Vol 12, No 1 (2020): (April) 2020 Vol 11, No 3 (2019): (Desember) 2019 Vol 11, No 2 (2019): (Agustus) 2019 Vol 11, No 1 (2019): (April) 2019 Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018 Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018 Vol 10, No 1 (2018): April (2018) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017) Vol 8, No 3 (2016): (Desember, 2016) Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016) Vol 8, No 1 (2016): (April 2016) Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015) Vol 7, No 2 (2015): (Agustus 2015) Vol 7, No 1 (2015): (April 2015) Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 6, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 6, No 1 (2014): (April 2014) Vol 5, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 5, No 1 (2013): (April 2013) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 4, No 1 (2012): (April 2012) Vol 3, No 6 (2011): (Desember 2011) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 4 (2011): (April 2011) Vol 3, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 3, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 3, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009) Vol 2, No 5 (2009): (Agustus 2009) Vol 2, No 4 (2009): (April 2009) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 1 (2008): (April 2008) Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 5 (2007): (Agustus 2007) Vol 1, No 4 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue