cover
Contact Name
Darwanto
Contact Email
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Bawal : Widya Riset Perikanan Tangkap
ISSN : 19078229     EISSN : 25026410     DOI : -
Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap dipublikasikan oleh Pusat Riset Perikanan yang memiliki p-ISSN 1907-8226; e-ISSN 2502-6410 dengan Nomor Akreditasi RISTEKDIKTI: 21/E/KPT/2018, 9 Juli 2018. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi penerbitan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan April, Agustus, Desember. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap memuat hasil-hasil penelitian bidang “natural history” (parameter populasi, reproduksi, kebiasaan makan dan makanan), lingkungan sumber daya ikan dan biota perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 388 Documents
PENGGUNAAN DNA BARCODING DALAM MENGIDENTIFIKASI LARVA GASTROPODA (FAMILY CYMATIIDAE) DI PERAIRAN KEPULAUAN SANGIHE- TALAUD, SULAWESI UTARA Anna Rejeki Simbolon; Medy Ompi; Ernawati Widyastuti; Diah Anggraini Wulandari
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 3 (2021): (DESEMBER) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.3.2021.%p

Abstract

Perairan Kepulauan Sangihe-Talaud merupakan wilayah pemijahan hewan laut, sehingga berbagai jenis larva hewan laut dapat ditemukan di wilayah ini. Identifikasi larva gastropoda secara morfologi sangat sulit dilakukan karena tingginya kesamaan morfologi antar spesies pada fase larva. DNA Barcoding dapat digunakan untuk mengidentifikasi larva berbagai hewan laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi larva gastropoda dari Family Cymatiidae di Perairan Kepulauan Sangihe-Talaud. Sampel larva diambil dengan menggunakan alat Issaac Kid Midwater Tramp (IKMT) di kedalaman 1000 m di bawah permukaan laut pada siang dan malam hari. Barcoding DNA menggunakan primer universal LCO 1490 dan HCO 2198, pengeditan dan alignment sekuen DNA dalam Geneious ver. 9 dan identifikasi menggunakan BLAST di GenBank NCBI. Pohon filogenetik dikonstruksi menggunakan metode neighbor joining (NJ) dan model Kimura-2i dalam MEGA X. Sebanyak 39 spesimen larva Cymatiidae terdiri atas 6 genus yaitu Reticutriton, Monoplex, Turritriton, Cymatium, Gutturnium, dan Ranularia; lima spesies teridentifikasi: Reticutriton pfeifferianus, Monoplex aquatilus, Monoplex comptus, Cymatium cingulatum dan Gutturnium muricinum, dengan tingkat kesamaan 97,32-100%. Berdasarkan pohon filogenetik sebagian sekuen individu termasuk kelompok monofiletik sedangkan genus Monoplex bersifat polifiletik dan mengelompok dalam genus yang berbeda dengan nilai boostrap yang cukup tinggi. Jarak genetik antar spesies berkisar 0,0761-0,1737 dengan jarak genetik antar spesies terendah pada Monoplex comptus dan Reticutricon pfeifferianus. Penelitian ini menyimpulkan DNA barcoding dapat digunakan dalam mengidentifikasi larva Gastropoda khususnya family Cymatiidae. Identifikasi jenis hewan laut secara dini menjadi salah satu kunci penting dalam pengelolaan lestari jenis hewan laut. Identifikasi larva yang tepat akan berguna dalam pengelolaan konservasi suatu wilayah perairan.The seas around the Sangihe-Talaud Islands are a spawning ground for marine animals, so many marine animals' larva can be found in this area. Morphological identification of gastropod larvae is complicated because of the high morphological similarities between species in the larval stage. DNA Barcoding can be used to identify the larvae of various marine animals. This study aims to identify gastropod larvae, especially the family Cymatiidae, in the waters around the Sangihe-Talaud Islands. Larvae samples were collected using an Isaac Kid Midwater Tramp (IKMT) at a depth of 1000m below sea level day and night. DNA barcoding used the universal primers LCO 1490 and HCO 2198. DNA sequences were edited and aligned in Geneious ver nine and identified using the NCBI GenBank BLAST routine. A phylogenetic tree was constructed using the neighbor-joining (NJ) method with the Kimura-2 model. 39 Cymatiidae larvae were identified as belonging to 6 genera: Reticutriton, Monoplex, Turritriton, Cymatium, Gutturnium, and Ranularia; five species were identified: Reticutriton pfeifferianus, Monoplex aquariums, Monoplex computers, Cymatium cingulated and Gutturnium muricinum, with a similarity 97.32-100%. Based on the phylogenetic tree, some of the individual sequences belong to monophyletic groups, while the Monoplex genus is polyphyletic and grouped into several genera with relatively high bootstrap values. The genetic distance between species ranged from 0.0761-to 0.1737 with the lowest inter-species genetic distance between Monoplex computers and Reticutricon pfeifferianus. This study concludes that DNA barcoding can be used to identify gastropod larvae, in particular the family Cymatiidae. Early identification of marine animal species is an important key to the sustainable management of marine animals. Identification of gastropod larvae can support the conservation management of marine waters.
ASPEK BIOLOGI IKAN TEMBANG (Sardinella gibbosa) DI PUSAT PENDARATAN IKAN (PPI) KRONJO KABUPATEN TANGERANG Mario Limbong; Urip Rahmani; Emanuel Duho
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.14.1.2022.47-56

Abstract

Perairan Kronjo memiliki potensi ikan Sardinella gibbosa yang cukup besar dan bernilai ekonomis yang tinggi. Tingginya permintaan ikan tembang menyebabkan semakin meningkatnya upaya penangkapan. Pengawasan penangkapan perlu dilakukan untuk melihat kondisi habitat ikan agar tidak terjadi growth overfishing. Penelitian mengenai aspek biologi ikan tembang untuk menggambarkan kondisi habitat daerah penangkapan ikan di perairan Kabupaten Tangerang masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek biologi ikan tembang serta status habitat ikan tembang di perairan Kronjo. Penelitian dilakukan pada September sampai Desember 2021 di PPI Kronjo. Jumlah ikan yang diukur panjang dan beratnya sekitar 1.188 ekor. Analisis data menggunakan regresi power untuk hubungan panjang berat, uji khi kuadrat untuk menentukan nisbah kelamin, dan fungsi logistik untuk menentukan ukuran pertama kali ikan tertangkap. Ikan S. gibbosa yang ditangkap di perairan Kronjo berukuran 11,6 – 17,2 cm dan berat tubuh ikan berkisar antara 10,7 – 41,8 gr. Ikan S. gibbosa betina lebih dominan tertangkap dengan nisbah kelamin 2,01:1 terhadap ikan jantan. Panjang total S. gibbosa pertama kali tertangkap di perairan Kronjo adalah 14,7 cm dengan pola pertumbuhan bersifat allometrik negatif. Panjang infinity ikan S. gibbosa adalah 18,85 cm sedangkan nilai faktor kondisi sebesar 1,08. Status sumber daya ikan S. gibbosa di perairan Kronjo masih dalam kondisi cukup baik (potensial) dan keberkelanjutan namun diperlukan pengaturan intensitas penangkapan.Kronjo waters have a large potential for Sardinella gibbosa and high economic value. The high demand for S. gibbosa has led to increased fishing efforts. Fishing supervision needs to be carried out to see the condition of the fishing grounds so that growth overfishing does not occur. Research on the biological aspects of S. gibbosa to describe the conditions of fishing grounds in the waters of Tangerang Regency is still very limited. This study aimed to analyze the biological aspects of S. gibbosa and the status of the habitat of S. gibbosa in Kronjo waters. The research was conducted from September to December 2021 at Kronjo fishing base. There were 1,188 fish measured and weighed. Data analysis used power regression for the relationship between length and weight, the chi-square test to determine the sex ratio, and logistic functions to determine the length at first capture. The total length of S. gibbosa ranged from 11.6 – 17.2 cm, and the body weight of fish ranged from 10.7 – 41.8 g. The female S. gibbosa was more dominantly caught with a sex ratio of 2.01:1 to the male fish. Length at first capture in Kronjo waters was 14.7 cm with a negative allometric growth pattern. The infinity length of S. gibbosa is 18.85 cm, while the condition factor value is 1.08. The resource status of S. gibbosa in Kronjo waters is still in reasonably good condition (potential) and sustainable, but it is necessary to regulate fishing intensity.
KARAKTERISTIK SUMBERDAYA HIU DAN PARI YANG DIDARATKAN DI TPI KARANGSONG, INDRAMAYU Puput Fitri Rachmawati; Andrias Steward Samusamu; Priyo Suharsono Sulaiman; Ngurah Nyoman Wiadnyana
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 3 (2021): (DESEMBER) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.3.2021.%p

Abstract

Berbagai spesies ikan hiu dan pari dengan berbagai ukuran telah banyak tertangkap di perairan Laut Jawa, dan didaratkan di beberapa lokasi pendaratan, salah satunya di Indramayu. Pada umumnya, hiu dan pari di Indramayu tertangkap nelayan sebagai hasil tangkapan sampingan kapal jaring insang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sumber daya hiu dan pari beserta dengan beberapa aspek parameter populasi jenis hiu dan pari yang didaratkan di TPI Karangsong, Indramayu. Adapun jenis hiu dan pari yang diteliti meliputi hiu pisang (Rhizoprionodon oligolinx), hiu martil (Sphyrna lewini), pari kikir (Brevitrygon walga), dan pari kekeh/ pari liong bun (Rhynchobatus australiae). Data yang digunakan berupa data produksi tahun 2014-2018 dan data hasil enumerasi. Pengambilan data dilakukan oleh enumerator pada April – September 2019 yang meliputi data harian sebaran panjang dan jenis kelamin. Analisis data yang digunakan berupa analisis komposisi hasil tangkapan, sebaran frekuensi panjang ikan, ukuran pertama kali tertangkap (Lc), dan pendugaan parameter populasi ikan menggunakan bantuan program Electronic Length Frequency Analysis (ELEFAN I) yang dikemas dalam perangkat lunak FAO-ICLARM Stock Assesment Tool II (FiSAT II). Hasil analisis menunjukkan bahwa hiu dan pari yang tertangkap merupakan hasil tangkapan sampingan kapal jaring insang dengan sebaran ukuran panjang yang tertangkap berada pada fase anakan/juvenil dan sub-dewasa (belum matang gonad) (Lc<Lmat). Nilai parameter populasi keempat jenis hiu dan pari cenderung lebih kecil dibandingkan dengan perairan lainnya dengan nilai laju eksploitasi (E) termasuk ke dalam kategori fully exploited (F>M, E>Eopt=0.5).Various species and sizes of sharks and rays have been caught in the Java Sea; one of the landing areas is Indramayu. Sharks and rays landed in Indramayu are by-catch from gill nets. This study aims to analyze the characteristics of shark and ray fisheries along with several aspects of the population parameters of shark and ray species landed at TPI Karangsong, Indramayu. The species are grey sharpnose shark (Rhizoprionodon oligolinx), scalloped hammerhead (Sphyrna lewini), scaly whip ray (Brevitrygon alga), and bottlenose whitefish (Rhynchobatus australiae). The data used are data production for 2014-2018 and enumeration data. Data collection, length and gender were collected by enumerators from April - to September 2019. The data analysis consists of catch composition, length frequency distribution, measurement of first capture (Lc), and estimation of fish population parameters using the Electronic Length Frequency Analysis (ELEFAN I) program, which is packaged in the FAO-ICLARM Stock Assessment Tool II (FiSAT II) software. The result showed that the sharks and rays are bycatch from gill net vessels, with the length distribution being caught in the juvenile and sub-adult (immature gonad) phases (Lc<Lmat). The population parameter values for the four types of sharks and rays tend to be smaller than in other waters, with the exploitation rate (E) included in the fully exploited category (F>M, E>Eopt=0.5).
PARAMETER POPULASI DAN TINGKAT EKSPLOITASI IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) DI KEPULAUAN SPERMONDE SULAWESI SELATAN Ernaningsih Ernaningsih; Muhammad Jamal; Hasnidar Hasnidar; Siti Hadijah
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.14.1.2022.1-9

Abstract

Kepulauan Spermonde merupakan salah satu wilayah tangkapan utama ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) di Sulawesi Selatan. Jika upaya penangkapan terus ditingkatkan tanpa mempertimbangkan potensi dan kondisi populasi, dikhawatirkan dapat menggangu kelestarian sumberdaya kerapu di masa datang. Oleh karena itu diperlukan kajian parameter populasi dan tingkat eksploitasi agar kelestarian sumberdaya kerapu macan tetap terjaga. Penelitian ini bertujuan untuk parameter populasi dan laju eksploitasi ikan kerapu macan (E. fuscogttatus) di Kepulauan Spermonde Sulawesi Selatan. Penelitian dilaksanakan bulan September 2021 – Desember 2021 di Wilayah Kepulauan Spermonde Sulawesi Selatan. Metode penelitian berupa pengukuran panjang total dan berat ikan kerapu macan sebanyak 1.032 ekor dari hasil tangkapan nelayan dan pedagang pengumpul yang didaratkan di PPI Paotere, Makassar. Parameter yang diamati meliputi distribusi ukuran panjang, hubungan panjang bobot, laju pertumbuhan, laju mortalitas total, alami dan penangkapan dan laju eksploitasi yang dianalisis secara deskriptif dan dengan program ELEFAN. Hasil analisis panjang rata-rata ikan kerapu macan (E. fuscoguttatus) di Kepulauan Spermonde berukuran antara ukuran 19,00 cm – 40,00 cm, (N = 1.023). Hubungan panjang bobot allometrik minor, kecepatan. pertumbuhan 0,45/thn, laju kematian penangkapan lebih besar dari laju kematian alami, laju eksploitasi sebesar 0,61 (over eksploitasi).Spermonde Islands is one of the main catchment areas of tiger grouper fish (Epinephelus fuscoguttatus) in South Sulawesi. If arrest efforts continue to be improved without considering the potential and condition of the population, it is feared that it can interfere with the sustainability of grouper resources in the future. Therefore, a study of population parameters and eksploitation rates is needed so the sustainability of tiger grouper resources is maintained. The study aimed at population parameters and the rate of exploitation of tiger grouper fish (E. fuscoguttatus) in the Spermonde Islands of South Sulawesi. The study was conducted from September 2021 to December 2021 in the Spermonde Islands Region of South Sulawesi. The research method in the form of measurements of the total length and weight 1032 catch of tiger grouper fish from the catch of fishermen and collecting traders landed at PPI Paotere, Makassar. The observed parameters include the distribution of length size, weight length relationship, growth rate, total mortality rate, natural and capture and rate of exploitation analyzed descriptively and with the ELEFAN program. The results of the analysis of the average length of tiger grouper fish (E. fuscoguttatus) in the Spermonde Islands measured between the size of 19.00 cm – 40.00 cm, (N = 1,023). Relationship length-weight of minor allometric, growth rate of 0.45/year, arrest death rate greater than natural mortality rate, exploitation rate of 0.61 (over exploitation) 
REPRODUKSI DAN PERTUMBUHAN IKAN LENCAM (Lethrinus atkinsoni Seale, 1910) DI PERAIRAN WAKATOBI, SULAWESI TENGGARA Prihatiningsih Prihatiningsih; Nur’ainun Muchlis; Andina Ramadhani Putri Pane; Herlisman Herlisman; Sri Turni Hartati
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 3 (2021): (DESEMBER) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.3.2021.%p

Abstract

Ikan lencam (Lethrinus atkinsoni) merupakan bagian dari grup ikan demersal yang berasosiasi dengan ikan karang. Ikan lencam termasuk famili Lethrinidae yang bernilai ekonomis tinggi. Ikan lencam tertangkap oleh bubu, jaring muroami, pancing ulur, dan panah. Penelitian ini bertujuan mengkaji biologi reproduksi dan parameter populasi meliputi musim pemijahan, rata-rata ukuran pertama kali tertangkap (Lc) dan pertama kali matang gonad (Lm), pertumbuhan, laju kematian, dan tingkat pemanfaatan ikan lencam. Kegiatan penelitian dilakukan pada April-Desember 2018 di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musim pemijahan ikan lencam terjadi pada September - Desember. Rasio kelamin ikan jantan dan betina adalah tidak seimbang (0,55:1,0). Hubungan panjang-berat ikan lencam adalah isometrik. Nilai pendugaan rata-rata ukuran ikan lencam pertama kali tertangkap (Lc=24,16 cm) lebih kecil dibandingkan nilai rata-rata ukuran ikan pertama kali matang gonad baik jantan maupun betina (Lm jantan=30,7 cm dan Lm betina=27,18 cm). Panjang asimptotik ikan lencam (L∞) adalah 38,2 cm dan kecepatan pertumbuhan (K) adalah 0,20/tahun. Laju kematian alami ikan lencam lebih besar dibandingkan laju kematian karena aktivitas penangkapan (M>F). Tingkat pemanfaatannya dalam kondisi optimal. Implikasi dalam pengelolaan ikan lencam di Wakatobi adalah menentukan ukuran minimal ikan yang boleh ditangkap dan mengurangi penangkapan ikan pada saat musim pemijahan. The pacific yellowtail emperor (Lethrinus Atkinson) is part of a group of demersal fish associated with reef fish. L. Atkinson belongs to the family Lethrinidae which has high economic value. L. Atkinson in Wakatobi waters is caught by traps, Muro Ami nets, hand lines, and spear guns. This study aims to study reproductive biology and population parameters, including the average value of the length at first capture (Lc) and the average height at first mature (Lm), growth, mortality rate and utilization rate of L. Atkinson. The research activity was carried out in April-December 2018 in Wakatobi, Southeast Sulawesi. The results showed that the spawning season for L. Atkinson occurred in September-December. The sex ratio between male and female fish was unbalanced (0.55:1.0). The length-weight relationship of L. Atkinson is isometric. The average value of the length at first capture (Lc=24.16 cm) was smaller than the average value of the measurement at first mature, both male and female (male Lm=30.7 cm and female Lm=27, 18 cm). The asymptotic length of L. Atkinson (L∞) was 38.2 cm, and the growth rate (K) was 0.20/year. The natural mortality rate of L. Atkinson is greater than the fishing mortality rate (M>F). The level of utilization of L. Atkinson in Wakatobi in optimal conditions. The implication of the management of L. Atkinson is to determine the minimum legal size and reduce fishing during the spawning season.
MUSIM PEMIJAHAN TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares) DI SAMUDRA HINDIA SELATAN JAWA-BALI Gussasta Levi Arnenda; Hety Hartaty
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.14.1.2022.11-19

Abstract

Ikan tuna sirip kuning atau yellowfin Tuna (Thunnus albacares) merupakan salah satu jenis komoditas eksport yang penting bagi Indonesia. Pemanfaatan secara intensif tuna sirip kuning di Samudra Hindia diduga telah mengakibatkan keadaan lebih tangkap. Penelitian ini bertujuan untuk menduga musim pemijahan berdasarkan data biologi reproduksi yang nantinya dapat dimanfaatkan dalam saran pengelolaan perikanan yang lestari. Penelitian di lakukan di perusahaan pengolahan, dan observasi di atas kapal long-line yang berbasis di Pelabuhan Benoa. Penelitian dilakukan selama bulan Januari 2019 - April 2020. Sampel biologi tuna sirip kuning yang diperoleh sebanyak 127 ekor. Analisis histologis dilakukan terhadap sampel gonad di Laboratorium Histologi dengan metode parafin dan pewarnaan HE (Harris-Haemotoxilin dan Eosin). Berdasarkan sampel biologi yang diperoleh, populasi ikan Yellow Fin Tuna (YFT) didominasi oleh ikan dewasa matang gonad dengan status reproduktif aktif (spawning capable, spawning, dan regressing). Hasil pengamatan histologis berdasarkan Most Advanced Group of Oocytes (MAGO) dalam gonad menunjukkan YFT memiliki tipe pemijahan berganda (multiple spawner). Perkembangan oosit YFT adalah asynchronous (tidak seragam) yang ditandai oleh munculnya beberapa tingkat perkembangan oosit dalam satu ovarium. Indeks Kematangan Gonad (IKG) berbanding lurus dengan tingkat perkembangan (kematangan) gonadnya. Puncak musim pemijahan terjadi menjelang akhir tahun (bulan Oktober hingga Desember)Yellowfin tuna (YFT) is one of the important export commodities for Indonesia. Intensive fishing of this species in Indian Ocean has likely been nearly overfishing. This study aims to determine the spawning season based on reproductive biology that can be used in sustainable fisheries management. The research was carried out in processing companies, and on board long-line vessels based at Benoa Harbor conducted in January 2019 - April 2020. Samples of yellowfin tuna obtained were 127 tails. Histological analysis was performed in the Histology Laboratory using the paraffin method and HE staining (Harris-Haemotoxilin and Eosin). The sample was surgically removed by taking a pair of gonads and weighed (WG) with grams. The results of histological observations revealed that the Most Advanced Group of Oocytes (MAGO) in YFT gonads varied so that the development of oocyte was asynchronous (non-uniform) which was characterized by the emergence of several levels of oocyte development in one ovary. Gonado somatic index (GSI) was proportional with the level of gonad development. The peak of the spawning season occurs towards the end of the year in October to December.
KARAKTERISTIK MORFOMETRIK DAN MERISTIK IKAN PUTAK (Notopterus notopterus, Pallas 1769) DI WADUK SEI GESEK KABUPATEN BINTAN Ulfa Rianti; Susiana Susiana; Dedy Kurniawan
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 3 (2021): (DESEMBER) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.3.2021.%p

Abstract

Kabupaten Bintan merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau yang memiliki potensi besar akan sumberdaya perikanan. Terdapat Daerah Aliran Sungai di Kabupaten Bintan yaitu Daerah Aliran Sungai Gesek. Waduk Sei Gesek pada awalnya merupakan sungai kecil yang menjadi tempat berbagai biota akuatik hidup. Salah satu jenis biota akuatik yang hidup di Waduk Sei Gesek ini yaitu ikan putak (Notopterus notopterus). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik morfometrik dan meristikikan belida (N. notopterus) di Waduk Sei Gesek Kabupaten Bintan. Penelitian ini menggunakan metode survei. Sampling ikan belida (N. notopterus) dilakukan dalam waktu 3 bulan berdasarkan wilayah tangkapan nelayan. Analisis data untuk mengetahui karakteristik morfometrik menggunakan persamaan regresi linear yang menghasilkan nilai korelasi dan status pertumbuhan. Jumlah sampel yang sebanyak 30 ekor yaitu 16 ekor jantan dan 14 ekor betina. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan karakter morfometrik, ikan betina memiliki ukuran tubuh lebih besar dibanding ikan jantan. Sifat pertumbuhan dapat bersifat allometrik positif, allometrik negatif atau isometrik. Berdasarkan karakter meristik yang diamati (jumlah sisik dan jari-jari sirip) tidak memiliki perbedaan yang signifikan antara ikan jantan dan ikan betina. Karakter meristik ini dimungkinkan akan berubah apabila jumlah sampel ikannya bertambah lebih dari 30 ekor.Bintan Regency is one of the regencies in the Riau Islands Province, which has excellent potential for fishery resources. There is a watershed in Bintan Regency, namely the Gesek Watershed. Sei Gesek Reservoir has initially been a small river where various aquatic biota lives. One aquatic biota that lives in the Sei Gesek Reservoir is belida fish (Notopterus notopterus). The purpose of this study was to determine the morphometric and meristic characteristics of belida fish (N. notopterus) in Sei Gesek Reservoir, Bintan Regency. This study uses a survey method. Based on the fishing area, a sampling of belida fish (N. notopterus) was carried out within 3 months. Data analysis to determine the morphometric characteristics using linear regression equation that produces correlation values and growth status. The number of samples as many as 30 tails, namely 16 males and 14 females. The results of this study indicate differences in morphometric characteristics. The female fish have a larger body size than the male fish. The body growth of belida may be allometric positive, allometric negative or isometric. The observed meristic characters (the scales and spines) show there are no significant differences between the male and female fish. If there are more fish samples, those meristic characters may be changed.
PERKEMBANGAN HISTOLOGI GONAD, FEKUNDITAS DAN PENDUGAAN PEMIJAHAN TONGKOL LISONG (Auxis rochei Risso, 1810) DI PERAIRAN SELATAN BALI Indrastiwi Pramulati; A.A.S.A Sukmaningsih; F.X Sudaryanto
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.14.1.2022.21-37

Abstract

Tongkol lisong (Auxis rochei Risso, 1810) adalah satu jenis ikan tuna neritik yang terdapat di perairan Samudera Hindia selatan Jawa. Tingkat pemanfaatan pada saat ini diduga telah mencapai fully exploited. Penelitian tongkol lisong dilakukan untuk memperoleh data biologi reproduksi meliputi perkembangan gonad betina, fekunditas dan pemijahan di perairan selatan Bali sebagai bahan masukan bagi pengelolaan. Penelitian dilakukan pada bulan Juni-November 2021, melalui pengambilan contoh dari hasil tangkapan yang didaratkan di PPI Kedonganan, Bali. Sebanyak 151 ekor ikan betina dari total sampel 317 ekor (panjang 15-35 cmFL) telah diteliti. Sampel gonad segar difiksasi dan dianalisis secara histologis melalui metode parafin dengan pewarnaan Harris-Haemotoxilin dan Eosin. Tongkol lisong mempunyai tipe pemijahan ganda dengan kematangan oosit tidak seragam, ditandai adanya beberapa tingkat kematangan oosit dalam satu ovarium. Tongkol lisong betina yang belum matang gonad memiliki oosit unyolked dan early yolked berdiameter antara 41-179 µm; gonad ikan betina dewasa memiliki oosit lebih matang yaitu advanced yolked (AY) berdiameter antara 275-328 µm, mempunyai migratory nucleus berdiameter antara 475-514 µm dan hydrated berdiameter sekitar 554 µm. Secara makroskopis tongkol lisong betina berpijah sejak bulan Juli dengan kontribusi 32%. Pengamatan mikroskopis menunjukkan pemijahan telah berlangsung sejak Juni hingga Oktober, puncak pemijahan Juli-Agustus denga kontribusi 52% dari total ikan betina yang diamati. Dugaan fekunditas dengan oosit migratory nucleus dan hydrated yang dikeluarkan berkisar antara 5.062-229.707 butir telur/ekor atau rata-rata 81.351 butir/ekor.Bullet tuna (Auxis rochei) is one of the neritic tuna species in the Indian Ocean south of Java. At present, its exploitation rate of its has reached fully exploited. This study was conducted to obtain the data on reproductive biology related to the gonadal (ovaries) development, fecundity and spawning in the southern waters off Bali as the input for management. The research was conducted from June to November 2021 by biological fish sampling from the catch landed. About 151 females fish from a total of 317 fishes ranging between 15-35 cm FL could be observed. The fresh gonad samples were fixed and analyzed histologically by the paraffin method with Harris-Haemotoxilin and Eosin’s staining. Bullet tuna is a multiple spawner type with asynchronous oocyte development. The immature female fish have an unlocked and early yolked oocytes with 41-179 µm in diameter; the mature ovaries have oocytes in a higher level of maturity, namely advanced yolked (275-328 µm in diameter), migratory nucleus (475-514 µm in diameter), and hydrated oocytes (about 554 µm in diameter). Macroscopically, the female bullet tuna spawned in July, characterized by decreasing GSI value and the presence of ovaries in the maturity stage IV (mature) and V (spent), with a contribution of 32% of total females landed. The microscopic observations during the sampling periods showed that spawning, characterized by the emergence of spawning development classes, took place from June to October. The peak of spawning was around July-August, where 52% of the total females landed—estimating fecundity (number of mature eggs released during spawning) with that migratory nucleus and hydrated oocytes in between 5,062-229,707 eggs/individual with an average of 81,351 eggs/individual.
KERAGAMAN, KEPADATAN STOK DAN HABITAT IKAN PARI DI LAUT ARAFURA Wagiyo, Karsono; Kembaren, Duranta
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 14, No 2 (2022): (Agustus) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.14.2.2022.79-94

Abstract

Nilai ekonomis ikan pari serta pemanfaatannya yang beragam menyebabkan penangkapannya semakin meningkat and rentan terhadap kepunahan. Penelitian bertujuan memperbaharui informasi mengenai keragaman, kepadatan, biomassa, kepadatan stok dan karateristik habitat ikan pari di Laut Arafura. Penelitian dilakukan tahun 2018 secara eksploratif Systematic Cluster Random Sampling. Hasil penelitian didapatkan 6 familia, 24 jenis, di antaranya endemik yaitu Neotrygon annotata, N. leylandi, Maculabatis toshi, Hemitrygon longicauda, Pateobatis hortlei. Ikan pari dominan secara individu adalah N, annotata dan berat didominasi oleh Pastinachus sephen. Sebaran spasial, keragaman dan kepadatan tertinggi ditemukan di Area Barat Papua dan biomassa tertinggi di Timur Aru. Sebaran vertikal; keragaman, kepadatan dan biomassa tertinggi pada kedalaman 10-20 m. Kepadatan stok ikan pari di Laut Arafura 61.382,8 ton dan berkontribusi 21,37 % terhadap stok ikan demersal. Jenis ikan pari yang memiliki terdistribusi luas di Laut Arafura adalah Maculabatis toshi. Kondisi hidrologi habitat ikan pari bervariasi diantara jenis. Habitat terdalam dimiliki oleh Rhinobatus sp. dan terdangkal oleh Pastinachus solocirostris. Suhu tertinggi terdapat pada habitat N. orientalis dan terendah Pateobatis jenkensii. Salinitas tertinggi pada habitat Glaucostegus typus dan terendah pada habitat Pateobatis hortlei. Oksigen terlarut tertinggi pada habitat N. orientalis dan terendah pada habitat Pateobatis jenkinsii. Keasaman tertinggi pada habitat Maculabatis toshi dan terendah pada habitat Pateobatis hortlei. Khlorofil-a tertinggi pada habitat Pateobatis hortlei dan terendah pada habitat Pateobatis jenkinsii.  Turbiditas tertinggi pada habitat Pateobatis hortlei dan terendah pada habitat Aetomylaeus maculatus.Rays have economic value and have a long life, their use varies with increasing intensity, making them vulnerable to extinction. This study aims to determine the diversity, density, biomass, standing stock and habitat characteristics of rays in the Arafura Sea. The research was conducted in 2018 using exploratory Systematic Cluster Random Sampling. The results showed 6 families, 24 species, of which endemic were Neotrygon annotata, N. leylandi, Maculabatis toshi, Hemitrygon longicauda, Pateobatis hortlei. The dominant ray by individual is N. annotata and by weight is Pastinachus sephen. The spatial distribution; the highest diversity and density in the West Papua Area, the highest biomass in the East Aru. Vertical distribution; the highest diversity, density and biomass at a depth 10-20 m. The standing stock of rays in the Arafura Sea is 61,382,761.45 kg and contributes 21.37% to demersal fish stocks. The ray species that has the widest habitat is Maculabatis toshi. The hydrological conditions of the ray habitat vary between species. Deepest habitat is owned by Rhinobatus sp., the shallowest by Pastinachus solocirostris. Highest temperature in N. orientalis habitat, lowest in Pateobatis jenkensii habitat. Salinity highest in the Glaucostegus typus habitat, lowest in the Pateobatis hortlei habitat. Highest dissolved oxygen in the N. orientalis habitat, lowest in the Pateobatis jenkinsii habitat. Acidity highest in the Maculabatis toshi habitat, lowest in the Pateobatis hortlei habitat. Highest chlorophyll-a in the Pateobatis hortlei habitat, lowest in the Pateobatis jenkinsii habitat. Highest turbitdity in the Pateobatis hortlei habitat, lowest in the Aetomylaeus maculatus habitat.
KARAKTERISTIK BIOLOGI IKAN PARI KEKEH (Rhynchobatus spp.) SEBAGAI TANGKAPAN SAMPINGAN DI PERAIRAN ACEH JAYA Rizky Fajar Hermansyah; Taryono Taryono; Zairion Zairion; Luky Adrianto; Andi Zulfikar; Hollie Booth; Muhammad Ichsan
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 14, No 2 (2022): (Agustus) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.14.2.2022.95-103

Abstract

Ikan pari kekeh (Rhynchobatus spp.) adalah salah satu jenis ikan yang dilindungi dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Tingginya harga jual pari kekeh berdampak pada meningkatnya usaha tangkap serta kerusakan habitat pari kekeh yang hidup berasosiasi dengan ikan target nelayan. Informasi terkait aspek biologi sangat berguna bagi pembuat kebijakan dalam memanfaatkan sumberdaya yang berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah memberikan informasi mengenai nisbah jenis kelamin ikan yang tertangkap, sebaran ukuran panjang, dan potensi sumber daya ikan pari kekeh (Rhynchobatus spp.) di perairan Aceh Jaya. Pengumpulan data pendaratan pari kekeh meliputi jenis kelamin, panjang total dan jumlah trip melaut pada periode tahun 2017-2021. Jumlah tangkapan total pari kekeh yang didaratkan sebanyak 191 ekor yang terdiri dari Spesies Rhynchobatus australiae sebanyak 133 ekor (69,63%), Rhynchobatus laevis sebanyak 55 ekor (28,80%) dan Rhynchobatus springeri sebanyak 3 ekor (1,57%). Ukuran pari kekeh yang tertangkap didominasi oleh ikan muda (immature), yaitu berada pada kelas panjang 65-86cm. Nisbah jenis kelamin ikan jantan dan betina 1:2,41 menunjukan hasil yang tidak seimbang. CPUE menunjukan nilai rata-rata yang fluktuatif, hubungan hasil tangkapan dengan upaya yaitu positif signifikan dengan persamaan linear y = 0,6687x + 1,6338 dengan R2 =0,9706 atau r = 0,9852 yang dapat diartikan bahwa setiap peningkatan upaya berbanding lurus dengan peluang pari kekeh yang tertangkap.Wedgefish (Rhynchobatus spp.) is one of the protected fish species that has high economic value. The high selling price of the wedgefish has an impact on increasing fishing efforts and damage to the habitat of the wedgefish that live in association with the target fish of fishermen. Information related to biological aspects is beneficial for policymakers in utilizing sustainable resources. The purpose of this study was to provide information on the sex ratio of wedgefish, length distribution, and potential resources of the wedgefish in the waters of Aceh Jaya. The wedgefish landing data collection included sex, total length, and the number of fishing trips from 2017 to 2021. The total number of wedgefish obtained was 191. The number consisted of 133 fishes from the Rhynchobatus australiae (69.63%), 55 fishes from Rhynchobatus laevis (28.80%), and 3 fishes from Rhynchobatus springeri (1.57%). Most of the wedgefish caught were immature fish with a size of 65-86 cmTL. The sex ratio of male and female fish was 1:2.41, showing unbalanced condition between males and females. CPUE aspect showed a fluctuating average value. The relation between the catch and effort was positive and significant with alinear equation of y = 0.6687x + 1.6338 with R2 = 0.9706 or r = 0.9852, meaning that increasing fishing effort was proportional to the possibility of a wedgefish being caught.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 17, No 1 (2025): April 2025 Vol 16, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 16, No 2 (2024): AGUSTUS 2024 Vol 16, No 1 (2024): (APRIL) 2024 Vol 15, No 3 (2023): (DESEMBER) 2023 Vol 15, No 2 (2023): (AGUSTUS) 2023 Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023 Vol 14, No 3 (2022): (DESEMBER) 2022 Vol 14, No 2 (2022): (Agustus) 2022 Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022 Vol 13, No 3 (2021): (DESEMBER) 2021 Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021 Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021 Vol 12, No 3 (2020): (Desember) 2020 Vol 12, No 2 (2020): (AGUSTUS) 2020 Vol 12, No 1 (2020): (April) 2020 Vol 11, No 3 (2019): (Desember) 2019 Vol 11, No 2 (2019): (Agustus) 2019 Vol 11, No 1 (2019): (April) 2019 Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018 Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018 Vol 10, No 1 (2018): April (2018) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017) Vol 8, No 3 (2016): (Desember, 2016) Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016) Vol 8, No 1 (2016): (April 2016) Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015) Vol 7, No 2 (2015): (Agustus 2015) Vol 7, No 1 (2015): (April 2015) Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 6, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 6, No 1 (2014): (April 2014) Vol 5, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 5, No 1 (2013): (April 2013) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 4, No 1 (2012): (April 2012) Vol 3, No 6 (2011): (Desember 2011) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 4 (2011): (April 2011) Vol 3, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 3, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 3, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009) Vol 2, No 5 (2009): (Agustus 2009) Vol 2, No 4 (2009): (April 2009) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 1 (2008): (April 2008) Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 5 (2007): (Agustus 2007) Vol 1, No 4 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue