cover
Contact Name
Darwanto
Contact Email
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Bawal : Widya Riset Perikanan Tangkap
ISSN : 19078229     EISSN : 25026410     DOI : -
Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap dipublikasikan oleh Pusat Riset Perikanan yang memiliki p-ISSN 1907-8226; e-ISSN 2502-6410 dengan Nomor Akreditasi RISTEKDIKTI: 21/E/KPT/2018, 9 Juli 2018. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi penerbitan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan April, Agustus, Desember. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap memuat hasil-hasil penelitian bidang “natural history” (parameter populasi, reproduksi, kebiasaan makan dan makanan), lingkungan sumber daya ikan dan biota perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 395 Documents
KARAKTER PANJANG, HUBUNGAN PANJANG-BOBOT DAN KONDISI IKAN NYALIAN BULUH (Rasbora argyrotaenia BLEEKER, 1849) DI CATUR DANU BALI I Nyoman Yoga Parawangsa; Prawira Atmaja Rintar Pandapotan Tampubolon; Nyoman Dati Pertami
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.1.2021.45-55

Abstract

Ikan nyalian buluh (Rasbora argyrotaenia) merupakan spesies ikan yang menyebar di catur danu Bali. Penelitian karakter biologi spesies ikan ini di catur danu Bali masih terbatas. Penelitian ini dilakukan dari Agustus 2017 sampai Juli 2018 dengan tujuan untuk memperoleh hubungan karakter panjang, hubungan panjang-bobot dan dugaan kondisi ikan nyalian buluh di catur danu Bali. Sampling dilakukan dengan metode purposive sampling yang dilakukan secara bergantian setiap bulannya. Hasil menunjukkan hubungan karakter panjang ikan nyalian buluh di catur danu Bali memiliki korelasi kuat untuk tiap tipe pengukuran (R>0,96). Persamaan hubungan panjang-panjang ikan nyalian buluh di Danu Tamblingan, PC = 1,1217PB - 0,9947; PT = 1,1759PB + 3,657; PT = 1,0525PC + 4,5435, di Danu Buyan, PC = 1,091PB + 1,7375; PT = 1,1785PB + 3,029; PT = 1,0742PC + 1,5009, di Danu Beratan, PC = 1,091PB + 2,7818; PT = 1,178PB + 4,8692; PT = 1,0751PC + 2,2718 dan di Danu Batur, PC = 1,105PB + 1,7529; PT = 1,2051PB + 3,3616; PT = 1,0863PC + 1,8183. Ukuran panjang baku (PB) menjadi penduga bobot paling akurat ikan nyalian buluh di catur danu Bali. Pola pertumbuhan panjang-bobot bersifat alometrik positif dan isometrik, serta masih berada dalam kondisi baik dengan nilai faktor kondisi relatif antara 0,62-1,40.Silver rasbora (Rasbora argyrotaenia) is a fish species that inhabits in four lakes in Bali. Research related to biological character for this species is limited in four lakes in Bali. This research was conducted from August 2017 to July 2018 withthe aims of this research was to revealcharacteristic of length, length-weight relationship and condition of silver rasbora in four lakes in Bali. Sampling method is purposive sampling which did alternately every month. The result shown, length-length relationship of silver rasbora in four lakes in Bali has strong correlation (R>0.96) for each measurement method. The equation of length-length relationship silver rasbora in Tamblingan Lake, FL = 1.1217SL - 0.9947; TL = 1.1759SL + 3.657; TL = 1.0525FL + 4.5435, in Buyan Lake, FL = 1.091SL + 1.7375; TL = 1.1785SL + 3.029; TL = 1.0742FL + 1.5009, in Beratan Lake, FL = 1.091SL + 2.7818; TL = 1.178SL + 4.8692; TL = 1.0751FL + 2.2718 andin Batur Lake, FL = 1.105SL + 1.7529; TL = 1.2051SL + 3.3616; TL = 1.0863FL + 1.8183.The standard length (SL) is the most accurate measure in estimating the weight for silver rasbora in four lakes in Bali. The growth patterns of silver rasbora are positive allometric and isometric, andstill in good condition with a relative condition factor value ranging between 0.62-1.40.
STRUKTUR UKURAN, ASPEK REPRODUKSI, PARAMETER POPULASI, KELIMPAHAN DAN DAERAH TANGKAPAN UDANG JERBUNG (Penaeus merguensis) DI SEKITAR TELUK JAKARTA Karsono Wagiyo; Apidatul Hasanah; Tirtadanu Tirtadanu; Ali Suman
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.2.2021.57-70

Abstract

Perairan Teluk Jakarta merupakan area dengan aktiftas tinggi, sehingga sumberdaya ikan didalamnya mengalami tekanan ekploitasi dan degradasi habitat. Udang jerbung (Penaeus merguensis) merupakan salah satu sumberdaya ekonomis penting dari Teluk Jakarta yang perlu dikelola supaya tetap lestari. Pada penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dasar dan informasi terkini mengenai struktur ukuran, aspek reproduksi, parameter populasi, kelimpahan dan daerah tangkapan udang jerbung di sekitar Teluk Jakarta. Pengambilan data melalui observasi dan enumerasi. Hasil penelitian didapatkan udang jerbung dari Teluk Jakarta mempunyai panjang karapas 19 - 64 mmCL dengan modus 30 mmCL, panjang karapas tertinggi di P. Harapan. Hubungan panjang-berat menunjukan sifat pertumbuhan allometrik negatif degan nilai b = 2,3044 dan R2 = 0.8021. Panjang karapas pertama kali tertangkap; jaring arad 33 mmCL, jaring rampus 32 mmCL, jaring cantrang 30 mmCL dan pertama kali matang gonad 34 mmCL. Nisbah kelamin mempunyai rasio jantan : betina = 1 : 1,07. Komposisi gonad matang tertinggi (puncak musim pemijahan) pada bulan Maret dan Oktober. Laju pertumbuhan (K) = 1,33 per tahun dan panjang infinity(L∞) = 54,35 mmCL. Laju kematian total (Z) = 5,89, kematian alami (M)= 1,85/tahun, laju kematian karena penangkapan (F)= 4,04/tahun dan tingkat pengusahaan (E)= 0,69. Indeks kelimpahan/Hasil tangkapan per unit usaha (CPUE) 1,71 - 4,18 kg/trip/hari dengan rerata 2,57 kg/trip/hari. Musim penangkapan pada Februari-Mei dan paceklik pada Juni-Desember. Untuk menjaga kelestarian udang jerbung di Teluk Jakarta perlu meningkatkan lebar mata jaring dan penutupan penangkapan di area pemijahan pada puncak musim pemijahan. Jakarta Bay waters are an area with high activity so that the fish resources in it are under exploitation pressure and habitat degradation. White shrimp (Penaeus merguensis) is one of the important economic resources of Jakarta Bay that needs to be managed to sustain. This study aims to obtain basic data and up-to-date information; size structure, reproductive aspects, population parameter, abundance and fishing ground of white shrimp in around Jakarta Bay. The data were collected through observation and enumeration. The results showed that white shrimp from Jakarta Bay had a carapace length of 19 - 64 mmCL with a mode of 30 mmCL, the highest carapace length in Harapan Island. The length-weight relationship shows negative allometric growth with the values of b = 2.3044 and R2 = 0.8021. The length first captures by of mini bottom trawl 33 mmCL, by gillnet 32 mmCL and by danish seine 30 mmCL and the length first gonad maturity 34 mmCL. The sex ratio has a male : female = 1 : 1,07. The highest ripe gonad (peaks spawning season) was in March and October. The growth rate (K) = 1.33/year and the infinity (L∞) length = 54.35 mmCL. Total mortality rate (Z) = 5.89/year, natural mortality (M) = 1.85/year, fishing mortality (F) = 4.04/year and exploitation rate (E) = 0.69. Catch per unit effort (CPUE) 1.71 - 4.18 kg/trip/day with an average of 2.57 kg/trip/day. The fishing season in February-May and famine in June-December. To maintain the sustainability of white shrimp in Jakarta Bay, it is advisable to increase the width of the mesh size and the closure of fishing in the spawning area at the peak spawning season.
STRUKTUR KOMUNITAS IKAN PADANG LAMUN DI PERAIRAN BOLAANG MONGONDOW, SULAWESI UTARA Putri Sapira Ibrahim; Fione Yukita Yalindua; Ayuningtyas Indrawati; Rikardo Huwae
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.2.2021.71-76

Abstract

Padang lamun Pantai Lolak-Sang Tombolang merupakan ekosistem yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi pada daerah laut dangkal sehingga mampu mendukung potensi sumberdaya yang ada termasuk ikan. Ikan yang berasosiasi dengan ekosistem padang lamun merupakan ikan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, seperti ikan-ikan dari famili Siganidae, Carangidae, Lutjanidae. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis keanekaragaman jenis dan struktur komunitas ikan pada padang lamun di Perairan Lolak-Sang Tombolang Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Metode penangkapan ikan dilakukan dengan swept area pada 5 stasiun berdasarkan persebaran lamun dan tingkat pemanfaatan masyarakat terhadap ekosistem padang lamun. Hasil yang ditemukan sebanyak 642 individu ikan dengan kelimpahan ikan pada setiap stasiun berbeda-beda dan spesies tertinggi yaitu Apogon nigrofasciatus (11,37%), diikuti oleh Halichoeres miniatus (8,26%), Siganus canaliculatus (6,54%), Halichoeres papilionaceus (6,39%), Monacanthus tomentosus (5,61%), Siganus spinus (3,89%), Pomacentrus coelestis (3,74%), Apogon margaritophorus (3,58%), dan Halichoeres argus (3,58%). Keanekaragaman spesies di Pantai Lolak-Sang Tombolang Bolaang Mongondow tergolong sedang dengan stabilitas komunitas berada dalam kondisi stabil, dengan indeks dominansi cenderung rendah.The seagrass meadow of Lolak-Sang Tombolang is an ecosystem with high biodiversity in shallow sea areas to support the potential of existing resources, including fish. Fish associated with seagrass ecosystems have high economic value, such as fish from the families Siganidae, Carangidae, Lutjanidae. This study aimed to determine the structure of the seagrass fish community in Lolak-Sang Tombolang Bolaang Mongondow waters of North Sulawesi. Data collection was carried out using the swept area method at 5 stations based on the distribution of seagrass and the level of community utilization of the seagrass ecosystem. Based on observations, the waters of Lolak-Sang Tombolang, North Sulawesi has seagrass fish species that are still relatively high in diversity. We found 642 individual fish with different fish abundances at each station. The tallest species was Apogon nigrofasciatus (11.37%), followed by Halichoeres miniatus (8.26%), Siganus canaliculatus (6.54%), Halichoeres papilionaceus (6.39%), Monacanthus tomentosus (5.61%), Siganus spinus (3.89%), Pomacentrus coelestis (3.74%), Apogon margaritophorus (3.58%), and Halichoeres argus (3, 58%). The diversity of species at Lolak-Sang Tomnolang Bolaang Mongondow is moderate with community stability in a stable condition and a low dominance index.
SELEKTIVITAS ALAT TANGKAP TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus LINNAEUS, 1758) DI PERAIRAN GEBANG MEKAR , CIREBON Nabilla Shabrina; Dedi Supriadi; Iwang Gumilar; Alexander M. A. Khan
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.1.2021.%p

Abstract

Rajungan (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) merupakan komoditas perikanan memiliki nilai komersial tinggi.Berdasarkan Data Statistik Perikanan tahun 2017, bahwa Kabupaten Cirebon merupakan salah satu pusat produksi rajungan terbesar di Jawa Barat. Jaring kejer (gillnet) dan bubu lipat merupakan alat tangkap yang utama untuk menangkap rajungan. Penelitian di Tempat Pendaratan Ikan Gebang Mekar, Cirebon pada bulan September-Oktober 2019 bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi alat tangkap yang selektif dan efisien untuk menangkap rajungan. Data primer yang digunakan untuk analisis adalah ukuran lebar karapas dan bobot individu rajungan, dilengkapi dengan wawancara dengan nelayan dan informan kunci. Hasil penelitian menunjukkan jaring kejer dengan messize 3,5 inci memiliki selektivitas lebih tinggi dibandingkan bubu lipat. Rajungan hasil tangkapan jaring kejer rata-rata memiliki lebar karapas 14 cm dan bubu lipat pada lebar karapas 13 cm. Hal ini sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia nomor 56/PERMEN-KP/2016, yaitu rajungan yang diperbolehkan ditangkap memiliki lebar karapas lebih dari 10 cm. Pengelolaan perikanan rajungan yang rasional melalui penentuan selektivitas alat tangkap diperlukan untuk menciptakan kondisi perikanan berkelanjutan.Blue swimming crab (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758)/BSC is a critical economically valuable fishery commodity and high commercial value. Based on the Fishery Statistics Data in 2017, Cirebon Regency is one of the largest BSC fishing centers in West Java. Gillnet (locally: jaring kejer) and collapsible crab net are commonly used by fishermen to catch crabs. The research was conducted on September-October 2019 at Fish Landing Place Gebang Mekar Cirebon, aimed to get data and information on fishing gears that are more selective and efficient for catching BSC. Data primarily used in this research were carapace width and individual weight of BSC, and interviews of some fishermen and key informants to complete data and information needed. The result showed that gillnets with a mesh size of 3.5 inches were more selective than collapsible crab traps. A carapace width of 14 cm dominated the mean of BSC caught by gillnet, and a collapsible crab net of 13 cm. This was in accordance with Indonesian Minister of Maritime Affairs and Fisheries Regulation number 56/PERMEN-KP/2016 where catching BSC was allowed with carapace width more than 10 cm. The rational management for BSC through selectivity fishing gear used needed to create better conditions for sustainable fisheries.
KEBIASAAN MAKAN IKAN SIDAT, Anguilla bicolor bicolor, DARI SUNGAI CIKASO DAN RAWA PESISIR CIROYOM, JAWA BARAT Masayu Rahmia anwar Putri; Tati Suryati Syamsudin
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.2.2021.77-84

Abstract

Sungai Cikaso dan Rawa Pesisir Ciroyom, merupakan dua habitat yang dihuni oleh ikan sidat tropis Anguilla bicolor bicolor di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Spesies ini merupakan ikan asli Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Sebagai komoditas ekspor, ikan ini ditangkap pada stadium post larva (glass eel) kemudian dibudidayakan di penangkaran. Informasi kebiasaan makan Anguilla bicolor bicolor dapat digunakan sebagai salah satu bahan dalam perencanaan pengelolaan sidat di alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis makanan dan kebiasaan makan Anguilla bicolor bicolor di Sungai Cikaso dan rawa pesisir Ciroyom, Jawa Barat. Kebiasaan makan 54 sidat tropis Anguilla bicolor bicolor dari aliran utama Sungai Cikaso dan saluran parit rawa pesisir Ciroyom, Jawa Barat, diamati antara bulan Juni dan Desember 2020. Pengambilan sidat menggunakan perangkap dan pancing. Setiap sampel ikan sidat diukur panjangnya. Ikan dibedah dan isi perutnya diawetkan dengan formalin 5%. Sampel dikelompokkan berdasarkan kelas panjang yaitu 20 - 25 cm, 25 - 30 cm, 30 - 35 cm, dan 35 - 40 cm. Index bagian terbesar (Index of preponderance) digunakan untuk mengetahui jenis makanan dan kebiasaan makan Anguilla bicolor bicolor. Dominasi kepiting sebagai makanan ikan sidat menunjukkan bahwa sidat sebagai ikan karnivora. Data yang dikumpulkan dari pengamatan laboratorium menunjukkan beberapa jenis makanan yang dikonsumsi ikan sidat, yaitu; kepiting, udang, serangga, ikan, Annelida, bagian tumbuhan, dan fitoplankton. Makanan utama ikan ini saat berukuran kecil adalah serangga, dan memakan kepiting saat mereka berukuran lebih besar. Cikaso River and Ciroyom Coastal Marsh were two habitats that inhabited by tropical eel, Anguilla bicolor bicolor in Sukabumi Regency, West Java. This species was Indonesia's native fish that had a high economic value. As export commodity, this fish caught in the post larvae stage (glass eel) then grow in captivity. The food habit information of Anguilla bicolor bicolor can be used for management planning of eel in the wild. This study aimed to determine the food and feeding habit of Anguilla bicolor bicolor in Cikaso River and Coastal Swamp of Ciroyom, West Java. The food habits of 54 tropical eels, Anguilla bicolor bicolor, from mainstream of Cikaso River and ditch channels of Ciroyom Coastal Marsh, West Java, were examined between June and December 2020. Eels were collected using traps and hook and line. The length of each fish was measured. The fishes were dissected and the stomach of eels was preserved by formalin 5%. The samples were grouped as 20-25 cm, 25 to 30 cm, 30 to 35 cm, and 35 to 40 cm. Index of preponderance was used to determine the feeding habits of Anguilla bicolor bicolor. The domination of crab as a diet of eel indicates that eel as carnivorous fish. Data collected from laboratory observation showed some foods consumed by eels; crab, shrimp, insect, fish, Annelida, vegetation, and phytoplankton. This fish feed mainly on insects when small and feed mainly on crabs as they grow.
PARAMETER POPULASI DAN SPAWNING POTENTIAL RATIO (SPR) KEPITING MERAH (Scylla olivacea) DI PERAIRAN ASAHAN DAN SEKITARNYA, SUMATERA UTARA Andina Ramadhani Putri Pane; Duranta Diandria Kembaren; Ilham Marasabessy; Ali Suman
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.1.2021.33-43

Abstract

Kepiting bakau merupakan komoditas ekspor yang penangkapannya dilakukan dengan intensif, salah satunya adalah jenis kepiting merah (Scylla olivacea). Pengelolaan dalam pengendalian memerlukan analisa kajian ilmiah tentang ukuran layak tangkap dan spawning potential ratio (SPR) kepiting merah. Kajian ilmiah ini dilakukan terhadap 1.105 ekor kepiting merah di pusat pendaratan kepiting di Desa Silo Baru Kecamatan Silau Laut Kabupaten Asahan, Sumatera Utara selama 28 bulan (April-Oktober 2018, Februari- Desember 2019 dan Maret-Desember 2020). Kepiting yang tertangkap memiliki ukuran 65-170 mm dengan 72,2% sudah dewasa dan telah melakukan pemijahan sebelum tertangkap (CWc< CWm). Hasil penelitian diperoleh bahwa kematian akibat penangkapan (F) lebih tinggi dibandingkan kematian alamiah (M), hal ini menunjukkan tingginya tekanan pemanfaatan (E = 0,54%). Nilai spawning potential ratio (SPR) mengalami peningkatan dari tahun 2018 ke tahun 2020 yaitu 11-17% namun masih dibawah nilai minimal 20%, artinya penambahan individu kepiting merah di perairan Asahan setelah ekspolitasi sudah mengalami penurunan sehingga diperlukan upaya dalam pengelolaan. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan ukuran mesh size jaring dan bubu serta rehabilitasi hutan mangrove.Mud crabs are export commodities that have been harvested intensively; one of which is the red mud crab (Scylla olivacea). Management in controlling its exploitation requires scientific studies on the analysis of the legal size and the potential spawning ratio (SPR) of the crab. In this scientific study, a total of 1,105 red mud crabs were analyzed at the crab landing center in Silo Baru Village, Silau Laut District, Asahan Regency, North Sumatra for 28 months (April–October 2018, February–December 2019, and March–December 2020). The crabs caught were 65–170 mm in size, where 72.2% of which were already adults and had spawned before being caught (CWc < CWm). The results of this study suggested that the fishing mortality (F) was higher than the natural mortality (M), indicating a high exploitation (E = 0.54%). On the other hand, the potential spawning ratio (SPR) from 2018 to 2020 kept increasing, i.e. 11–17% (below the minimum SPR 20%), indicating that the addition of the individual red mud crabs in Asahan waters after exploitation had decreased. Therefore, several efforts are necessary in its management, among others by increasing the mesh size of the nets and the size of the traps as well as rehabilitating mangrove forests.
ASPEK BIOLOGI DAN STATUS PEMANFAATAN LOBSTER BAMBU (Panulirus versicolor) DI PERAIRAN KEPULAUAN ARU, MALUKU Andina Ramadhani Pane; Reza Alnanda; Ilham Marasabessy; Ali Suman
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.2.2021.85-96

Abstract

Lobster adalah komoditas bernilai tinggi yang di perdagangkan hingga ke mancanegara, bahkan dalam kondisi puerulus. Tingginya permintaan ini memacu peningkatan pemanfaatan sehingga diperlukan upaya untuk menjaga kelestarian populasinya. Kajian ini membahas tentang aspek biologi dan status pemanfaatan yang diharapkan menjadi dasar dalam pengelolaan lobster bambu (Panulirus versicolor) sehingga kelestarian dapat berkelanjutan. Pengumpulan data dilakukan Maret sampai dengan Desember 2020, diperoleh sampel sebanyak 2.040 ekor melalui sentra pendaratan ikan di Dobo, Kepulauan Aru. Penghitungan parameter populasi dilakukan melalui analisis secara analitik. Hasil penelitian diperoleh kisaran panjang karapas antara 45-120 mm, sebanyak 40% diantaranya mempunyai ukuran kurang dari 80 mm. Panjang karapas pertama kali lobster tertangkap (CLc) adalah 85,4 mm dengan panjang asimptotiknya (CL∞) adalah 130,85 mm dan laju pertumbuhan (K) = 0,45 per tahun. Tingkat pemanfaatan lobster sudah mencapai E=0,5, artinya sudah dalam status pemanfaatan penuh (fully exploited). Hal ini menyebabkan pemanfaatan lobster harus dilakukan dengan kehati-hatian dan perlu upaya dalam menjaga kelestariannya. Upaya-upaya yang dapat dilakukan mengendalikan penangkapan baik dari segi alat tangkap, waktu dan lokasi penangkapan. Upaya tersebut diharapkan akan memberikan kesempatan bagi lobster untuk mempertahankan kelestarian populasinya. Lobster is a high-value commodity traded to foreign countries, even their puerile. As the high demand for lobsters increases their exploitation, special measures are imperative to preserve their populations. This study discussed the biological aspects and exploitation status, which are expected to be the basis for managing painted spiny lobster (Panulirus versicolor). Data collection was carried out from March to December 2020, which is 2,040 lobsters collected at the landing center at Dobo, Aru Islands. Analytical methods were used to analyze population parameters. The results showed that the carapace length of lobsters landed was between 45–120 mm, where 40% of them were under 80 mm. Their size at first capture (CLc) was 85.4 mmCL, with asymptotic length (CL∞) was 130.85 mmCL and growth rate (K) was 0.45 per year. Their exploitation rate was E was 0.5 (fully exploited exploitation). Therefore, its exploitation has to be carried out with caution, and special measures are required to maintain its sustainability, i.e., by controlling lobster fishing efforts, including fishing gear, time, and location. Such actions are expected to allow lobsters to preserve the sustainability of their populations.
PERKEMBANGAN KONDISI SUMBERDAYA IKAN KARANG DAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI PERAIRAN SUMATERA BARAT SEBAGAI DAMPAK PEMBENTUKAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN TWP P. PIEH Puput Fitri Rachmawati; Regi Fiji Anggawangsa; Reny Puspasari; Rita Rachmawati`; Andi Zulfikar
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.2.2021.%p

Abstract

Pembentukan kawasan konservasi perairan (KKP) berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan untuk menjaga ekosistem, mengelola konflik dalam pemanfaatan sumberdaya, serta memfasilitasi pemanfaatan sumberdaya secara efektif. Adanya KKP memberikan kesempatan bagi ekosistem untuk pulih dan berkembang yang berujung dengan memberikan dampak yang positif untuk perbaikan kondisi ekosistem. Untuk mengetahui adanya dampak dari KKP terhadap kondisi sumberdaya ikan perlu dilakukan berbagai upaya pendekatan baik melalui kelimpahan, biomassa, maupun stok. Kemudian untuk mengetahui dampak KKP terhadap perkembangan ekosistem terumbu karang dilakukan pemetaan citra satelit untuk melihat perubahan dari waktu ke waktu serta perkembangan luasan tutupan terumbu karang. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan kondisi sumber daya ikan karang dan ekosistem terumbu karang di perairan Sumatera Barat sebagai dampak dari pembentukan KKP di TWP P. Pieh. Data yamg digunakan berupa data statistik perikanan serta data citra Landsat 05 (2009-2011) dan Landsat 08 (2014-2019). Perhitungan analisis profil dan analisis non-ekuilibrium model surplus produksi menggunakan alat bantu berupa SPSSTM, Notepad++TM, perangkat lunak ASPIC7TM, dan Kobe Plot I_II version 5TM. Analisis deteksi perubahan luasan terumbu karang menggunakan bantuan perangkat lunak Quantum GIS 3 dan R programming language (versi 4.0.2). Hasil analisis menunjukkan bahwa TWP P. Pieh belum secara maksimal berperan sebagai penyedia stok ikan karang yang dapat menyuplai kebutuhan biomassa ikan karang di perairan Sumatera Barat dan menyeimbangi tekanan penangkapan yang ada. Di sisi lain adanya pengelolaan TWP P. Pieh memberikan peningkatan terhadap kelimpahan dan biomassa ikan karang yang berbanding lurus dengan persentase luasan tutupan karang yang ada di dalam kawasan TWP P. Pieh. The establishment of marine conservation areas (MPA) contributes to sustainable development to maintain ecosystems, manage conflicts in using resources, and effectively facilitate using resources. The existence of MPAs provides an opportunity for ecosystems to recover and develop, which leads to a positive impact on improving ecosystem conditions. To determine the effects of MPA’s on fish resource conditions, various approaches need to be made, such as abundance, biomass, and stock. After that, satellite imagery mapping was carried out to find out the impact of the MPA on the development of coral reef ecosystems and the percentage of the coral cover area from time to time. This study aims to analyze the result of the condition of reef fish resources and coral reef ecosystems around the waters of West Sumatra due to the formation of the MPA in TWP P. Pieh. The data used are fishery statistics (1996-2019) and Landsat 05 (2009-2011), and Landsat 08 (2014-2019) image data. Calculation of profile analysis and non-equilibrium production surplus model using tools such as SPSS, Notepad++TM, ASPIC7TM software, and Kobe Plot I_II version 5TM. Study the detection of coral reef area changes using Quantum GIS 3 software and R programming language (version 4.0.2). The analysis results show that TWP P. Pieh has not optimally played a role as a provider of reef fish stocks that can supply the needs of reef fish biomass and balance the existing fishing pressure in the West Sumatra waters. However, TWP P. Pieh can be seen in the abundance and biomass of reef fishes ecosystems, which positively correlates with the percentage of coral cover area in TWP P. Pieh.
KEBIASAAN MAKANAN IKAN BAUNG (MYSTUS NEMURUS), LAIS BAJI (KRYPTOPTERUS PALEMBANGENSIS) DAN SALUANG BALU (RASBORA ARGYROTAENIA) DI DANAU BATU, KALIMANTAN TENGAH Rosana Elvince; Evi Veronica
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 3 (2021): (DESEMBER) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.3.2021.%p

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Danau Batu, Kalimantan Tengah pada bulan Februari-April 2018. Danau Batu merupakan salah satu danau oxbow yang terdapat di Kalimantan Tengah. Danau tersebut digunakan sebagai lokasi penangkapan ikan yang intensif dengan menggunakan alat tangkap yang tidak selektif oleh masyarakat setempat sehingga dapat menurunkan populasi ikan. Penelitian yang dilakukan tersebut bertujuan untuk mengetahui kebiasaan makanan ikan Baung, Lais Baji dan Saluang Balu. Ikan Baung (Mystus nemurus), Lais Baji (Kryptopterus palembangensis) dan Saluang Balu (Rasbora argyrotaenia). Sampel ikan ditangkap menggunakan jaring insang dengan ukururan, 1, 1,5 dan 2 inchi. Jumlah ikan yang tertangkap selama penelitian berjumlah masing-masing 96 ekor, 139 ekor dan 121 ekor. Berdasarkan nilai Indeks Relatif Penting, jenis makanan ikan Baung adalah didominasi oleh ikan-ikan kecil sebesar 41%; Indeks Relatif Penting makanan ikan Lais Baji adalah udang kecil sebesar 77%; sedangkan jenis makanan ikan Saluang Balu berdasarkan Indeks Relatif Penting didominasi oleh lumut sebesar 80%. Sebagai data pendukung bagi kehidupan ikan, parameter kualitas air seperti pH dengan nilai berkisar antara 5,20-5,90, suhu dengan kisaran nilai 29,00 – 32,20 oC, kecerahan dengan kisaran nilai 22,00–35,50 cm dan nilai oksigen terlarut berkisar antara antara 2,60 – 6,90 mg/l.This research was conducted in Batu Lake in February- April 2018. Batu Lake is one of the oxbow lakes in Central Kalimantan. The lake is generally used as a fishing ground area by local people. The research aimed to investigate the feeding habits of some commercial fish species, namely Baung, Lais Baji and Saluang Balu fishes. Fishes caught by gillnet with the mesh size of 1, 1.5 and 2 inches. Based on the research results, the total fishes caught during the research were 96, 139 and 121, respectively. Those fishes were examined for the Index of Relative Importance. The gut composition of Baung based on the Index of Relative Importance was dominated by small fishes (41%), Lais Baji was dominated by small shrimp (77%), and Saluang Balu was dominated by moss (80%). All water quality parameters such as pH with ranged between 5,20-5,90, temperature with ranged value between 29,00 – 32,20 oC, transparency ranged from 22,00–35,50 cm and dissolved oxygen value ranged from 2,60 – 6,90 mg/l.
KOMPOSISI JENIS DAN INDEK KEANEKARAGAMAN HAYATI IKAN DEMERSAL DI LAUT NATUNA SELATAN Nurulludin Nurulludin; Asep Priatna; Helman Nur Yusuf; Tri Ernawati
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.14.1.2022.39-45

Abstract

Informasi keanekaragaman hayati ikan memiliki peranan penting dalam manjaga ekosistem perairan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menginvetaris jenis-jenis ikan demersal dan pembaruan nilai Indek keragaman hayati spesies ikan demersal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan suatu informasi dalam pengelolaan sumber daya ikan di Laut Natuna Selatan. Penelitian ini lakukan pada bulan November 2017 menggunakan KR. Baruna Jaya IV (1200 GT). Pengambilan data menggunakan metode sapuan dengan alat tangkap pukat ikan. Nilai Indek keanekaragaman (‘H) antara 1,54 – 3,45 dengan tertinggi pada wilayah bagian tengah, sedangkan terendah pada wilayah bagian timur. Indek kekayaan jenis (‘R) diperoleh antara 8,15 – 19,67 dengan tertinggi di wilayah perairan bagian tengah sebesar 19,67 dan terendah pada bagian barat Laut Natuna Selatan 8,15. Indek dominansi (‘C) tertinggi berada pada perairan bagian timur dengan7,08 dan terendah pada perairan bagian tengah dengan 0,06. Indek kemerataan (‘E) tertinggi pada wilayah perairan bagian tengah dengan 0,36 dan terendah pada wilayah perairan bagian timur sebesar 0,15Information on the biodiversity of the fish plays an essential role when it comes to support and manage ecosystem health. This research aims to list the demersal species and update its biodiversity index, as well as its distribution. The results could provide the baseline information on the richness and evenness of the demersal species in South Natuna waters for the management purposes. The swept area method was used by using the trawler net of R.V. Baruna Jaya IV when conducting the swept area surveys in November 2017. The diversity index value ('H) is between 1.54 - 3.45 with the highest in the central region, while the lowest in the eastern region. The species richness index ('R) was obtained between 8.15-19.67 with the highest in the central waters area of 19.67 and the lowest in the western part of the South Natuna Sea 8.15. The highest dominance index ('C) is in the eastern waters with 7.08 and the lowest is in the middle waters with 0.06. The highest evenness index ('E) is in the central waters with 0.36 and the lowest is in the eastern waters at 0.15

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 17, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 17, No 1 (2025): April 2025 Vol 16, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 16, No 2 (2024): AGUSTUS 2024 Vol 16, No 1 (2024): (APRIL) 2024 Vol 15, No 3 (2023): (DESEMBER) 2023 Vol 15, No 2 (2023): (AGUSTUS) 2023 Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023 Vol 14, No 3 (2022): (DESEMBER) 2022 Vol 14, No 2 (2022): (Agustus) 2022 Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022 Vol 13, No 3 (2021): (DESEMBER) 2021 Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021 Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021 Vol 12, No 3 (2020): (Desember) 2020 Vol 12, No 2 (2020): (AGUSTUS) 2020 Vol 12, No 1 (2020): (April) 2020 Vol 11, No 3 (2019): (Desember) 2019 Vol 11, No 2 (2019): (Agustus) 2019 Vol 11, No 1 (2019): (April) 2019 Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018 Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018 Vol 10, No 1 (2018): April (2018) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017) Vol 8, No 3 (2016): (Desember, 2016) Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016) Vol 8, No 1 (2016): (April 2016) Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015) Vol 7, No 2 (2015): (Agustus 2015) Vol 7, No 1 (2015): (April 2015) Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 6, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 6, No 1 (2014): (April 2014) Vol 5, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 5, No 1 (2013): (April 2013) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 4, No 1 (2012): (April 2012) Vol 3, No 6 (2011): (Desember 2011) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 4 (2011): (April 2011) Vol 3, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 3, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 3, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009) Vol 2, No 5 (2009): (Agustus 2009) Vol 2, No 4 (2009): (April 2009) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 1 (2008): (April 2008) Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 5 (2007): (Agustus 2007) Vol 1, No 4 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue