cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 26 Documents
Search results for , issue "Vol. 11 No. 2: Agustus 2025" : 26 Documents clear
Kristus algoritmik: Kecerdasan buatan, teologi digital, dan masa depan diskursus Kristologi Darmadi, Daud
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1432

Abstract

This study investigates the intersection of advances in artificial intelligence technology and contemporary Christology through the concept of the "Algorithmic Christ" as a theological framework. Using a constructive hermeneutic approach that integrates textual studies of classical Christology and contextual interpretations of digital reality, this study analyzes four key aspects: the manifestation of the incarnation in the virtual world; the algorithmic model of consciousness for understanding the duality of Christ's nature; the function of algorithms as a means of divine revelation; and the pastoral impact on the life of faith in the digital age. The results reveal that AI technology does not replace conventional Christology but rather opens a hermeneutical perspective that enriches the concept of the incarnation and the universal presence of Christ. Algorithms are considered a medium of revelation that reveals divine patterns in digital structures while still acknowledging the limitations in representing transcendent mystery. Pastoral implications include the urgency of algorithmic literacy, the rejection of algorithmic bias, and the development of a spirituality that can navigate the complexities of the digital world. The contribution is the development of a "digital theology" that is responsive to the challenges of contemporary technology while maintaining the integrity of the Christian message.   Abstrak Penelitian ini menginvestigasi pertemuan antara kemajuan teknologi kecerdasan buatan dan kristologi masa kini melalui konsep "Kristus Algoritmik" sebagai kerangka teologis. Dengan pendekatan hermeneutika konstruktif yang mengintegrasikan kajian tekstual kristologi klasik dan interpretasi kontekstual realitas digital, studi ini menganalisis empat aspek kunci: manifestasi inkarnasi dalam dunia virtual; model kesadaran algoritmik untuk memahami dualitas kodrat Kristus; fungsi algoritma sebagai sarana wahyu ilahi; serta dampak pastoral dalam kehidupan iman di zaman digital. Hasil penelitian mengungkap bahwa teknologi AI bukan pengganti kristologi konvensional, melainkan membuka perspektif hermeneutis yang memperkaya konsep inkarnasi dan kehadiran universal Kristus. Algoritma dipandang dapat menjadi medium revelasi yang mengungkap pola-pola divine dalam struktur digital, meski tetap mengakui limitasi dalam merepresentasikan misteri transenden. Implikasi pastoral meliputi urgensi literasi algoritmik, penolakan bias algoritma, dan pengembangan spiritualitas yang mampu bernavigasi kompleksitas digital. Kontribusinya adalah pengembangan "teologi digital" yang responsif terhadap tantangan teknologi kontemporer sambil memelihara integritas pesan Kristiani.
Cyber-pneumatology: Diskursus pekerjaan Roh Kudus di ruang siber Hastuti, Ruwi; Soesilo, Yushak
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1436

Abstract

Today's modern humans engage in both physical and digital connections through cyberphysical activities. Activities in cyberspace are no longer a supplement to physical activity but have often become the dominant activity. Cyberspace has become a second world inhabited by homo digitalis. Therefore, this paper aims to contribute to theological discourse in cyberspace through a Pentecostal theological perspective. To achieve this goal, we conduct a hermeneutic study of Psalm 104 and then compare it with Steven M. Studebaker's thoughts on the calling of Pentecostals as citizens of the city. The result of this study suggests that cyberspace must be treated as an arena for the creative work of the Holy Spirit, because cyberspace is the earth for homo digitalis who are called to work creatively within it.   Abstrak Manusia modern saat ini tidak hanya terhubung secara fisik, tetapi juga secara digital di ruang siber (cyberspace). Aktivitas-aktivitas di ruang siber ini bukan lagi sebagai suplemen bagi aktivitas fisik, namun sering telah menjadi aktivitas yang dominan. Ruang siber telah menjadi bumi kedua yang dihuni oleh homo digitalis. Oleh sebab itu, tulisan ini bermaksud untuk menyumbang diskursus teologi di ruang siber melalui perspektif teologi Pentakostal. Untuk mencapai maksud tersebut, kami melakukan kajian hermeneutik atas Mazmur 104 dan kemudian memperjumpakannya dengan pemikiran Steven M. Studebaker tentang panggilan kaum Pentakostal sebagai warga kota. Hasil kajian ini menyatakan bahwa ruang siber haruslah diperlakukan sebagai arena karya kreatif Roh Kudus, karena ruang siber adalah bumi bagi homo digitalis yang dipanggil untuk berkarya secara kreatif di dalamnya.
Melintasi generasi: Analisis model kepemimpinan Yesus dalam kolaborasi baby boomer dan gen z pada konteks demokrasi politik Indonesia Topayung, Semuel Linggi
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1455

Abstract

The generational gap between Baby Boomers and Gen Z in Indonesian political leadership creates significant challenges in leadership regeneration and political organization effectiveness, exacerbated by fundamental differences in leadership paradigms, communication preferences, and decision-making approaches. This study aims to analyze and develop an integrative leadership model based on the principles of Jesus' leadership to bridge the generation gap in the context of Indonesian political democracy. The methodology uses a qualitative approach with comprehensive literature analysis, including biblical studies on Jesus' leadership, academic literature on leadership theory, and generational dynamics. Jesus' leadership model offers a transformative framework that integrates traditional values with contemporary innovations through servant leadership and bridging leadership. The implementation of a collaborative leadership framework has shown significant effectiveness in improving bilateral knowledge transfer, reducing generational polarization, and strengthening multi-generational participation. The study concludes that the contextual adaptation of Jesus' leadership principles can create a sustainable and inclusive leadership model in Indonesia's political democracy.   Abstrak Kesenjangan generasi antara Baby Boomer dan Gen Z dalam kepemimpinan politik Indonesia menciptakan tantangan signifikan dalam regenerasi kepemimpinan dan efektivitas organisasi politik, diperparah oleh perbedaan fundamental dalam paradigma kepemimpinan, preferensi komunikasi, dan pendekatan pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan mengembangkan model kepemimpinan integratif berbasis prinsip-prinsip kepemimpinan Yesus untuk menjembatani kesenjangan generasi dalam konteks demokrasi politik Indonesia. Metodologi menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis literatur komprehensif, meliputi studi Alkitabiah tentang kepemimpinan Yesus, literatur akademik tentang teori kepemimpinan, dan dinamika generasi. Model kepemimpinan Yesus menawarkan kerangka transformatif yang mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dengan inovasi kontemporer melalui kepemimpinan yang melayani dan kepemimpinan yang menjembatani. Implementasi kerangka kerja kepemimpinan kolaboratif menunjukkan efektivitas signifikan dalam meningkatkan transfer pengetahuan bilateral, reduksi polarisasi generasional, dan penguatan partisipasi multi-generasi. Penelitian menyimpulkan bahwa adaptasi kontekstual prinsip kepemimpinan Yesus dapat menciptakan model kepemimpinan berkelanjutan dan inklusif dalam demokrasi politik Indonesia.
Menolak penyeragaman: Tafsir kisah Nabot (1Raj. 21) dalam konteks kemajemukan Kriswanto, Agus
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1471

Abstract

This article interprets the story of Naboth in 1 Kings 21 through the perspective of redaction history within the socio-historical context of Hellenism. Naboth’s refusal to surrender his ancestral land is understood not merely as an agrarian issue but as a symbol of resistance against the Hellenization program that sought to homogenize the cultural and religious identity of the Jewish people at that time. Thus, the text functions as a discourse of resistance against uniformity that sacrifices plurality. Its relevance to the Indonesian context is highly significant, as the nation continues to face challenges of religious intolerance, cultural homogenization, and identity politics that undermine the principle of Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Diversity). Through the story of Naboth, this article emphasizes the importance of preserving plurality as a national strength, rejecting all forms of enforced uniformity, and highlighting the prophetic role of faith communities in nurturing diversity.   Abstrak Artikel ini menafsirkan kisah Nabot dalam 1 Raja-raja 21 melalui perspektif sejarah peredaksian dengan latar sosio-historis zaman Helenisme. Narasi tentang penolakan Nabot untuk menyerahkan tanah warisan leluhurnya dipahami bukan sekadar sebagai isu agraria, melainkan sebagai simbol perlawanan terhadap program Helenisasi yang berupaya menyeragamkan identitas budaya dan agama masyarakat Yahudi pada masa itu. Dengan demikian, teks ini berfungsi sebagai wacana resistensi terhadap uniformitas yang mengorbankan pluralitas. Relevansinya bagi konteks Indonesia sangat signifikan, mengingat bangsa ini terus menghadapi tantangan intoleransi agama, penyeragaman budaya, dan politik identitas yang melemahkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Melalui kisah Nabot, artikel ini menekankan pentingnya mempertahankan pluralitas sebagai kekuatan bangsa, menolak segala bentuk pemaksaan keseragaman, serta mengangkat peran profetis komunitas iman untuk merawat kemajemukan.
Ecclesia atomizada: Kritik teologi komunitarian terhadap individualisme soteriologis dalam praktik bergereja kontemporer di Indonesia Sibarani, Poltak Yuseng P.
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1479

Abstract

Contemporary Indonesian church practices present a fundamental theological paradox: amid confessing faith in the inherently communal Triune God, congregational spirituality becomes increasingly privatized. This research presents a systematic theological critique of soteriological individualism, offering a communitarian ecclesiological reconstruction grounded in Trinitarian theology. Using a critical hermeneutic methodology with triangulation between textual analysis, ethnographic observation, and constructive theological reflection, this study traces the genealogy of individualism and its impact on sacramental understanding and the church's mission. Findings reveal that the uncritical adoption of Western modernity has reduced the church from a community of saints to a spiritual consumer aggregation, obscuring the corporate dimension of salvation. By synthesizing communitarian critique from Hauerwas, MacIntyre, and Volf with Indonesian local wisdom, this research proposes restoring communal formation practices rooted in Trinitarian perichoresis concepts. Without paradigmatic reconstruction from individualism to communitarianism, Indonesian churches will lose their prophetic relevance in an increasingly fragmented society.   Abstrak Fenomena individualisme dalam praktik bergereja kontemporer Indonesia menampilkan paradoks teologis fundamental: di tengah pengakuan iman akan Allah Tritunggal yang esensial komunal, spiritualitas jemaat semakin terprivatisasi. Penelitian ini bertujuan mengkonstruksi kritik teologis terhadap individualisme soteriologis sekaligus menawarkan rekonstruksi eklesiologi komunitarian berdasarkan teologi Trinitarian. Menggunakan metodologi hermeneutika kritis dengan triangulasi analisis tekstual, observasi etnografis, dan refleksi teologis konstruktif, penelitian menelusuri genealogi individualisme hingga dampaknya terhadap sakramen dan misi gereja. Temuan menunjukkan adopsi tanpa kritis terhadap modernitas Barat telah mereduksi gereja dari communio sanctorum menjadi agregasi konsumen spiritual, mengaburkan dimensi korporat keselamatan. Dengan mensintesiskan kritik komunitarian dari Hauerwas, MacIntyre, dan Volf dengan wisdom lokal Indonesia, penelitian mengusulkan pemulihan praktik pembentukan komunal yang berakar pada konsep perichoresis Trinitarian. Tanpa rekonstruksi paradigmatik dari individualisme ke komunitarian, gereja Indonesia akan kehilangan relevansi profetiknya.
Reinterpretasi teologi publik: Kontribusi gerakan ekumenis melalui tritugas panggilan gereja terhadap kohesi sosial masyarakat multikultural Prakosa, Pribadyo
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1480

Abstract

This article examines the reinterpretation of public theology through the ecumenical movement's contribution to social cohesion in multicultural societies, specifically through the implementation of the church's threefold calling: koinonia (fellowship), marturia (witness), and diakonia (service). Using a qualitative approach with hermeneutical analysis, this study examines how the three dimensions of church mission can be reconceptualized as strategic instruments for fostering interfaith dialogue and strengthening social bonds. The findings indicate that the ecumenical movement, when actualized through contextual public theology, significantly contributes to reducing social fragmentation and enhancing mutual understanding among diverse religious communities. This reinterpretation shifts the church's role from an exclusive religious institution to an inclusive social agent that promotes justice, peace, and reconciliation in pluralistic contexts.   Abstrak Artikel ini mengkaji reinterpretasi teologi publik melalui kontribusi gerakan ekumenis terhadap kohesi sosial masyarakat multikultural, khususnya melalui implementasi tritugas panggilan gereja: koinonia (persekutuan), marturia (kesaksian), dan diakonia (pelayanan). Menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis hermeneutis, studi ini mengeksplorasi bagaimana ketiga dimensi misi gereja dapat direkonstruksi sebagai instrumen strategis untuk membangun dialog antaragama dan memperkuat ikatan sosial. Temuan menunjukkan bahwa gerakan ekumenis, ketika diaktualisasikan melalui teologi publik kontekstual, secara signifikan berkontribusi dalam mengurangi fragmentasi sosial dan meningkatkan saling pengertian antar komunitas agama yang beragam. Reinterpretasi ini menggeser peran gereja dari institusi religius eksklusif menjadi agen sosial inklusif yang mempromosikan keadilan, perdamaian, dan rekonsiliasi dalam konteks pluralistik
Metakognisi rohani melalui hypnoteaching berbasis kitab suci: Pendekatan multidisipliner teologi-neurosains pada pembelajaran transformatif Pendidikan Agama Kristen Sugiyanto
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1485

Abstract

This study examines the development of spiritual metacognition through a Scripture-based hypnoteaching method and its influence on transformative learning in Christian Religious Education (CRE). The research employs a multidisciplinary approach integrating theology and neuroscience to understand how biblical suggestion techniques influence neuroplasticity and spiritual-cognitive development. Through literature-based analysis, this study reveals that Scripture-based hypnoteaching creates distinctive metacognitive awareness that transcends conventional educational paradigms. The integration of biblical texts as suggested materials in relaxed consciousness states facilitates deeper spiritual reflection and enhanced retention of theological concepts. Findings suggest that this method simultaneously activates both cognitive and spiritual dimensions, resulting in transformative learning experiences that align with Christian pedagogical objectives. The research demonstrates how neuroscientific understanding of suggestion mechanisms validates traditional Christian practices of meditation and contemplation, offering evidence-based foundations for innovative CRE methodologies. This study contributes to contemporary educational discourse by providing a theologically grounded framework for understanding metacognition within faith-based learning contexts.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi konstruksi metakognisi rohani melalui metode Scripture-based hypnoteaching dan dampaknya terhadap transformative learning dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK). Riset menggunakan pendekatan multidisipliner yang mengintegrasikan teologi dan neurosains untuk memahami bagaimana teknik biblical suggestion mempengaruhi neuroplastisitas dan perkembangan spiritual-kognitif. Melalui analisis berbasis literatur, penelitian ini mengungkap bahwa Scripture-based hypnoteaching menciptakan kesadaran metakognitif yang khas yang melampaui paradigma pendidikan konvensional. Integrasi teks-teks biblical sebagai materi suggestion dalam kondisi kesadaran yang rileks memfasilitasi refleksi spiritual yang lebih mendalam dan peningkatan retensi konsep-konsep teologis. Temuan menunjukkan bahwa metode ini mengaktivasi dimensi kognitif dan spiritual secara simultan, menghasilkan pengalaman transformative learning yang selaras dengan tujuan pedagogis Kristen. Penelitian mendemonstrasikan bagaimana pemahaman neurosaintifik tentang mekanisme suggestion memvalidasi praktik-praktik Kristen tradisional seperti meditasi dan kontemplasi, menawarkan fondasi berbasis bukti untuk metodologi PAK yang inovatif.
Dari "aku" ke "kita" yang terfragmentasi: Studi fenomenologi tentang krisis solidaritas komunal dalam gereja urban di era hiperindividualisme digital Siahaya, Johannis; Dias, Arnold Luther
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1256

Abstract

This article examines the crisis of communal solidarity in Indonesian urban churches during the era of digital hyper-individualism through a phenomenological lens. Drawing on Charles Taylor's theoretical framework of "expressive individualism" and Robert Putnam's concept of "social capital," this research examines how digital technology and the culture of individualism have reshaped the dynamics of ecclesial communion. Through a comprehensive literature analysis, this study finds that the fragmentation of church communities is not only a sociological phenomenon but also a profound theological crisis. The results show that while digital technology offers new opportunities for connectedness, it also fosters "networked individualism," which weakens traditional communal bonds within the church. This article proposes a reconstruction of ecclesiological understanding that integrates contemporary digital challenges with fundamental theological principles of koinonia.   Abstrak Artikel ini menganalisis fenomena krisis solidaritas komunal dalam gereja-gereja urban Indonesia di era hiperindividualisme digital melalui pendekatan fenomenologi. Dengan menggunakan kerangka teoretis dari Charles Taylor tentang "expressive individualism" dan konsep "social capital" dari Robert Putnam, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana teknologi digital dan budaya individualisme telah mengubah dinamika persekutuan gerejawi. Melalui analisis literatur komprehensif, studi ini menemukan bahwa fragmentasi komunitas gereja tidak hanya merupakan fenomena sosiologis tetapi juga krisis teologis yang mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun teknologi digital menawarkan peluang baru untuk keterhubungan, ia juga menciptakan "networked individualism" yang melemahkan ikatan komunal tradisional dalam gereja. Artikel ini mengusulkan rekonstruksi pemahaman eklesiologi yang mengintegrasikan tantangan digital kontemporer dengan prinsip-prinsip teologis fundamental tentang koinonia.
Imago Dei dalam budaya algoritma: Fondasi teologis untuk pendidikan karakter kristiani di era digital Roesmijati
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1502

Abstract

This article examines the crisis of character formation in the digital age from a theological-pedagogical perspective, focusing on the fundamental tension between Imago Dei and algorithmic culture that shapes identity through digital technology. The phenomena of gawai addiction, gaming disorder, and attention fragmentation are not merely behavioral problems but reflect a deeper ontological crisis concerning human nature and purpose. Through a qualitative-conceptual approach using theological-philosophical methods, this article analyzes how algorithmic culture systematically deconstructs Christian understanding of humanity as Imago Dei. The article proposes that Christian Religious Education (CRE) must be reconstructed as counter-cultural pedagogy grounded in Imago Dei theology. CRE should not merely transfer religious knowledge but form character through holistic spiritual formation, integrating spiritual disciplines, authentic community (koinonia), and embodied practices as alternatives to digital liturgies. Practical implications include reorienting CRE curriculum from cognitive-informational to formational-transformational, developing pedagogy emphasizing contemplation and presence, and forming formational ecosystems involving church, school, and family.   Abstrak Artikel ini mengkaji krisis formasi karakter di era digital dari perspektif teologis-pedagogis, dengan fokus pada ketegangan fundamental antara konsep Imago Dei dan budaya algoritma yang membentuk identitas melalui teknologi digital. Fenomena adiksi gawai, gaming disorder, dan fragmentasi perhatian bukan sekadar masalah perilaku, tetapi mencerminkan krisis ontologis yang lebih dalam tentang hakikat dan tujuan manusia. Melalui pendekatan kualitatif-konseptual dengan metode teologis-filosofis, artikel ini menganalisis bagaimana budaya algoritma secara sistematis mendekonstruksi pemahaman Kristen tentang manusia sebagai Imago Dei. Artikel ini mengusulkan bahwa Pendidikan Agama Kristen (PAK) harus direkonstruksi sebagai pedagogi kontra-kultural yang berfondasi pada teologi Imago Dei. PAK tidak sekadar mentransfer pengetahuan religius, tetapi membentuk karakter melalui formasi spiritual yang holistik, mengintegrasikan disiplin rohani, komunitas autentik (koinonia), dan mewujudkan praktik sebagai alternatif terhadap liturgi digital. Implikasi praktis mencakup reorientasi kurikulum PAK dari kognitif-informasional ke formasional-transformasional, pengembangan pedagogi yang menekankan kontemplasi dan kehadiran, serta pembentukan ekosistem formasi yang melibatkan gereja, sekolah, dan keluarga.
Imago Dei sebagai kritik profetis terhadap diskriminasi: Rekonstruksi antropologi-teologis untuk keadilan dan harmoni dalam kebinekaan Indonesia Rumbekwan, George; Mandacan, Yehuda; Randa II, Federans; Damanik, Jon Mister
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1052

Abstract

This article explores the potential of the imago Dei doctrine as a prophetic critique of various forms of discrimination that threaten social harmony in Indonesia's multicultural society. This study employs a constructive-contextual theological approach to reconstruct a theological anthropology based on a relational interpretation of the image of God, thereby establishing an ethical foundation for a just and dignified communal existence. The findings of this study indicate that a relational and democratic understanding of imago Dei provides a strong theological resource for rejecting all forms of degradation of human dignity, while affirming respect for cultural diversity as a manifestation of divine creativity. This reconstruction has implications for the development of an inclusive social ethic grounded in mutual recognition and for strengthening local cultural values that support harmony in diversity.   Abstrak Artikel ini mengeksplorasi potensi doktrin imago Dei sebagai kritik profetis terhadap berbagai bentuk diskriminasi yang mengancam harmoni sosial dalam masyarakat multikultural Indonesia. Melalui pendekatan teologi konstruktif-kontekstual, studi ini merekonstruksi antropologi-teologis yang berakar pada pemahaman relasional tentang gambar Allah untuk membangun fondasi etis bagi kehidupan bersama yang adil dan bermartabat. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman imago Dei secara relasional dan demokratis menyediakan sumber daya teologis yang kuat untuk menolak segala bentuk degradasi martabat manusia, sekaligus menegaskan penghargaan terhadap keberagaman budaya sebagai manifestasi kreativitas Ilahi. Rekonstruksi ini berimplikasi pada pengembangan etika sosial yang inklusif berbasis pengakuan timbal balik dan penguatan nilai-nilai budaya lokal yang mendukung harmoni dalam kebinekaan.

Page 2 of 3 | Total Record : 26