cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Gereja dan krisis kebebasan beragama di Indonesia Agustina Raplina Samosir; Reymond Pandapotan Sianturi; Ejodia Kakunsi
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.583

Abstract

In SETARA's account, cases of intolerance against churches in a decade (2007-2016) reached the highest number compared to other houses of worship, namely 186 cases. Unfortunately, the attitude of the church tends to be passive towards this reality. We see that the issue of intolerance to the church does not seem to be a common problem with churches, especially mainstream Protestant churches. On the other hand, especially in Christian-majority areas, the church is repressive towards religious freedom in its environment. To that end, we will first review the church's attitude towards cases of intolerance towards the church. Next, we will analyze these attitudes with Catherine Keller's postcolonial perspective to criticize and even reconstruct the church's idea of transformative religious freedom amid various cases of intolerance in Indonesia. This can be done by dissecting the four main issues we offer, namely the traditional conflict culture, neglect by the state, the rise of Islam, and the indifference of churches to various cases of intolerance in Indonesia.AbstrakDalam catatan SETARA, kasus intoleransi terhadap gereja dalam satu dekade (2007-2016) mencapai angka tertinggi dibanding rumah-rumah ibadah lainnya yakni 186 kasus. Sayangnya, sikap gereja cenderung pasif terhadap realitas ini. Kami melihat bahwa persoalan intoleransi terhadap gereja tampaknya belum menjadi persoalan bersama gereja-gereja terutama gereja Protestan mainstream. Di pihak lain, terutama di wilayah mayoritas Kristen, gereja malah bersikap represif terhadap kebebasan keberagamaan di lingkungannya. Untuk itu, pertama-tama kami akan meninjau sikap gereja terhadap kasus-kasus intoleransi terhadap gereja. Selanjutnya, kami akan menganalisis sikap tersebut dengan perspektif poskolonial Catherine Keller untuk mengkritisi bahkan merekonstruksi gagasan gereja tentang kebebasan beragama yang transformatif di tengah-tengah berbagai kasus intoleransi di Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan membedah empat isu utama yang kami tawarkan yakni budaya konflik tradisional, pembiaran oleh negara, kebangkitan Islam, dan ketidakpedulian gereja-gereja terhadap berbagai kasus intoleransi di Indonesia.
Habitus nir-kekerasan: Sebuah upaya mendialogkan habitus Yesus dan pemikiran Pierre Bourdieu tentang pencegahan kekerasan simbolik Novy Amelia Elisabeth Sine
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.549

Abstract

This paper aims to analyze the meaning and significance of the habitus of Jesus and the habitus proposed by Pierre Bourdieu as an approach to overcoming the occurrence of symbolic violence. Symbolic violence is one form of violence that must be watched out for. Schools are one of the places where symbolic violence takes place. This paper uses a qualitative method by conducting a literature study on the meaning of Jesus??" habit according to the interpretation of Mark 10:13-16 and Bourdieu's thought developed by Nanang Martono. This study shows that attitudes and behaviors that shape a person's habits can overcome the occurrence of various forms of violence in education, including symbolic violence. Therefore, according to Mark 10:13-16, Jesus' habitus is the habitus that empowers the disciples to create non-violent relationships and communities, while the habitus proposed by Pierre Bourdieu helps prevent symbolic violence from occurring.AbstrakTulisan ini bertujuan untuk menganalisis arti dan makna habitus Yesus dan habitus yang dikemukakan oleh Pierre Bourdieu sebagai pendekatan untuk mengatasi terjadinya kekerasan simbolik. Kekerasan simbolik merupakan salah satu bentuk kekerasan yang harus diwaspadai. Sekolah merupakan salah satu tempat berlangsungnya kekerasan simbolik. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif yaitu dengan melakukan studi literatur terhadap makna habitus Yesus menurut tafsiran Markus 10:13-16 dan pemikiran Bourdieu yang dikembangkan oleh Nanang Martono. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sikap dan perilaku yang membentuk habitus seseorang dapat mengatasi terjadinya berbagai bentuk kekerasan di dunia pendidikan, termasuk kekerasan simbolik. Berdasarkan Markus 10:13-16, habitus Yesus memperlihatkan habitus yang memberdayakan para murid untuk menghadirkan relasi dan komunitas yang nir-kekerasan, sedangkan habitus yang dikemukakan oleh Pierre Bourdieu membantu pencegahan terjadinya kekerasan simbolik.
Cinderella pneumatology as an intercultural discussion: personal, church, and theological experience sequence Christar Arstilo Rumbay
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.564

Abstract

Pneumatology shares rich discussion to theology and its brances knowledge. Indeed, intercultural discussion to the account receives attention but has no solid ground, where I borrow Moltmann??" term, pneumatology as cinderalla theology that frequently left behind. Question on why intercultural discussion to pneumatology is one the forgotten question that need more clarification. Futher, its relation to Indonesian context provokes curiosity to the tension. By using qualitative-analysis method, this research attempts to gain knowledge concerning why pneumatological-intercultural discussion. In sum, personal, church, and theological experience encourage pneumatology to open access for intercultural discussion, specifically speaking, in relation to Indonesian context.
Berkhotbah secara naratif dari kitab Rut Sia Kok Sin
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.282

Abstract

Narrative preaching is a preaching form that is rarely used, even for narrative texts. The listener is more familiar with the expository or thematic form of preaching. The author argues that narrative is not only interpreted as a narrative but also should be preached as a narrative sermon. This also applies to the book of Ruth. Therefore, this article will first explain the interpretation of narrative and apply it to the study of the book of Ruth. This article briefly describes four important things in narrative criticism: plot, investigating characters and settings (place and time of scene), and point of view. Second, this article will explain narrative preaching. Narrative sermons can be arranged in the first person or in the third person by paying attention to the plot, character analysis, setting (place and time of the scene), and point of view. Third, this article describes how to structure a narrative sermon from the book of Ruth, both in the first person and third person. Finally, the author concludes that the book of Ruth is a good example of applying narrative interpretation and preparing a narrative sermon.AbstrakBerkhotbah secara naratif merupakan bentuk berkhotbah yang jarang digunakan, bahkan untuk teks-teks narasi. Pendengar sudah terbiasa dengan bentuk khotbah ekspositoris ataupun tematis. Penulis berpendapat bahwa narasi tidak hanya ditafsirkan sebagai suatu narasi, tetapi juga sebaiknya dikhotbahkan secara naratif. Hal ini juga berlaku untuk kitab Rut. Oleh karena itu, artikel ini pertama-tama akan menjelaskan tentang penafsiran narasi dan mengaplikasikannya dalam penyelidikan kitab Rut. Artikel ini menguraikan secara singkat empat hal penting dalam analisa narasi, yaitu alur cerita (plot), penyelidikan karakter dan setting (tempat dan waktu adegan) dan sudut pandang. Keempat hal penting itu juga diaplikasikan dalam menganalisa narasi kitab Rut. Kedua, artikel ini akan menjelaskan tentang berkhotbah secara naratif. Khotbah naratif dapat disusun dalam bentuk orang orang pertama, maupun orang ketiga dengan memperhatikan alur cerita (plot), penyelidikan karakter dan setting (tempat dan waktu adegan) dan sudut pandang. Ketiga, artikel ini memaparkan bagaimana menyusun khotbah secara naratif dari kitab Rut, baik dalam bentuk orang pertama, maupun orang ketiga. Terakhir, penulis menyimpulkan bahwa kitab Rut merupakan contoh yang baik untuk menerapkan penafsiran narasi dan penyusunan khotbah secara naratif.
Manusia sebagai subjek dalam merdeka belajar: Interpretasi atas revolusi kopernikan Immanuel Kant Noh Ibrahim Boiliu; Robby Igusti Chandra; Djoys Anneke Rantung
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.600

Abstract

Independent learning (Merdeka Belajar) provides challenges and opportunities for teachers to develop creativity, capacity, personality, and student needs because they become the main factor in the design of learning activities. To better understand the students as a major in independent learning, Kant's Cognitive Revolution concept of the subject. Initially, philosophers based the assumption of understanding on the reality that the subject directs himself to the object. This assumption continues until Kant proposes an argument that contradicts this assumption, namely that the object directs itself to the subject. Kant's arguments are known through the critique of pure reason, the critique of practical reason, and the critique of judgment. Kant's Copernican revolution had philosophical implications for many methodological and practical disciplines. This article aims to provide an explanation based on Kant's cooperative revolution on educational practices in Indonesia, namely Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), then whether Kant's suitcase revolution focuses on the subject (students) as a center of education and whether Kant's cooperative revolution provides a constructivist philosophical framework for the philosophy of education and in the Indonesian context, as a philosophical basis for MBKM (application in Christian education). Kant's Copernican revolution provides a philosophical framework for education (philosophy of education) that in practice the subject (student) is an autonomous subject who is free to study what is important to him, both at the elementary, secondary, and tertiary levels.AbstrakMerdeka belajar memberikan tantangan dan kesempatan bagi guru untuk mengembangkan kreativitas, kapasitas, kepribadian dan kebutuhan siswa, karena mereka menjadi faktor utama dalam desaian kegiatan pembelajaran. Untuk memahami dengan lebih baik siswa sebagai subjek utama dalam Merdeka belajar maka konsep revolusi kopernikan Kant ditafsirkan. Semula, terdapat asumsi pemahaman atas realitas bahwa subjek mengarahkan diri pada objek. Asumsi ini terus bergulir hingga Kant mengajukan argumentasi yang bertolak belakang dengan asumsi tersebut, yakni objek mengarahkan diri pada subjek. Implikasi revolusi ini mengena berbagai disiplin ilmu baik secara metodologis maupun praktis. Artikel ini bertujuan untuk menesuluri pemahaman berdasarkan revolusi kopernikan Kant dalam kaitannya atas praktik pendidikan di Indonesia, yakni Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Fokus penelusuran adalah apakah revolusi kopernikan Kant berfokus pada subjek (siswa) sebagai pusat pendidikan dan apakah hal ini memberikan kerangka filosofis konstruktivistis bagi filsafat pendidikan dan dalam konteks Indonesia, sebagai dasar filosofis bagi MBKM (aplikasi dalam Pendidikan Agama Kristen)? Hasil penelitian menunjukkan revolusi kopernikan Kant memberikan kerangka kerja filosofis bagi pendidikan (filsafat pendidikan) di Indonesia bahwa dalam praktiknya subjek (siswa) adalah subjek otonom yang bebas untuk mempelajari apa yang penting baginya, baik di tingkat dasar, menengah, hingga perguruan tinggi, sehingga salah satu metode yang efektif digunakan adalah experiential learning.
Analisis konstruktif bibliologis Perjanjian Baru tentang moderasi beragama Samuel Benyamin Hakh
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.526

Abstract

Discussions on religious moderation, which are based on several texts in the New Testament, have been carried out by several authors. However, no articles have constructively discussed the religious moderation of the writings of Jesus' sermon on the Mount, Jesus' conversation with the Samaritan woman, and Paul's letters simultaneously. The question is, is there a theological idea of biblical religious moderation that can be taken from both the Gospels and Paul's writings? The purpose of this paper is to conduct a theologically constructive analysis of religious moderation in several New Testament writings, particularly the Sermon on the Mount, Jesus' Conversation with the Samaritan Woman, and Paul's letters. The author uses qualitative research methods to raise biblical theological ideas about religious moderation in these writings. The results of this study indicate that loving the enemy and living in peace and doing good to all people is a theological idea that can be used to moderate radical teachings and extreme attitudes, which are manifested in the life of Jewish religious leaders, and the problems which resulted of beliefs and perspectives difference inside the church as well as outside.AbstrakPembahasan mengenai moderasi beragama, yang bertolak dari beberapa teks dalam Perjanjian Baru, telah dilakukan oleh beberapa penulis. Namun belum ada penulis yang secara konstruktif teologis membahas moderasi beragama dari tulisan-tulisan khotbah Yesus di Bukit, percakapan Yesus dengan perempuan Samaria dan surat-surat Paulus secara bersamaan. Pertanyaan yang timbul adalah, apakah ada gagasan teologis tentang moderasi beragama yang Alkitabiah bisa diangkat dari tulisan-tulisan, baik dari Injil-injil maupun tulisan-tulisan Paulus? Tujuan tulisan ini adalah melakukan analisis secara konstruktif teologis mengenai moderasai beragama dalam beberapa tulisan Perjanjian Baru, khususnya khotbah di Bukit, Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria, dan surat-surat Paulus. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mengangkat gagasan teologis alkitabiah mengenai moderasi beragama dalam tulisan-tulisan itu. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa mengasihi musuh dan hidup berdamai serta berbuat baik kepada semua orang, merupakan suatu gagasan teologis yang bisa digunakan untuk memoderasi ajaran yang radikal dan sikap yang ekstrim, yang nyata dalam tindakan para pemimpin agama Yahudi dan, persoalan-persoalan yang timbul sebagai akibat dari perbedaan keyakinan serta pandangan di dalam jemaat maupun antara jemaat dengan masyarakat di luarnya.
Gereja menghadapi fenomena Transnasionalisme: Sebuah tawaran konstruksi pendidikan kristiani bagi remaja yang berbasis pada pelestarian budaya lokal Talizaro Tafonao; Yunardi Kristian Zega
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.558

Abstract

In the era of information technology today, ease of access becomes a chance for the phenomenon of transnationalism develops. There??"s concern about Indonesian local cultural values shifted by ideologies from other countries which is inappropriate with the nation's philosophy of life. with the intention of counteracting the negative influence of this transnational ideology, the church is expected to play its actual role, especially for youth people. This study aims to offer the construction of Christian education for youth in the church to deal with the negative effects of this transnational phenomenon. By applying a qualitative approach and using descriptive analysis methods in the literature review, a construction of Christian education based on the preservation of local culture is obtained. This leads to the conclusion that Christian education that preserves local culture can dynamize youth character in dealing with the phenomenon of transnationalism.AbstrakDi era kemajuan teknologi informasi seperti sekarang ini, kemudahan untuk memperoleh akses menjadi peluang berkembangnya fenomena transnasionalisme. Ada kekhawatiran terjadinya pergeseran nilai-nilai budaya lokal Indonesia oleh ideologi dari negara lain yang tidak sesuai dengan falsafah kehidupan bangsa. Dalam rangka menangkal pengaruh negatif ideologi transnasional ini, gereja diharapkan dapat berperan nyata, secara khusus terhadap kaum muda. Penelitian ini bertujuan untuk menawarkan konstruksi pendidikan kristiani bagi remaja di gereja dalam rangka menghadapi pengaruh negatif fenomena transnasional ini. Dengan menerapkan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode analisis deskriptif pada kajian literatur, diperoleh sebuah konstruksi pendidikan kristiani yang berbasis pada pelestarian budaya lokal. Hal ini mengantar pada kesimpulan bahwa pendidikan kristiani yang mampu melestarikan budaya lokal dapat menjadi penyeimbang karakter remaja dalam menghadapi fenomena transnasionalisme.
Analisis teologis dan historis pemahaman tohonan sebagai jabatan dan ordinasi di Huria Kristen Batak Protestan Binsar Jonathan Pakpahan
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.570

Abstract

The Protestant Batak Christian Huria's understanding of the theology of office has received particular attention since the 2002 Church Order and Administration which was made after the Godang Reconciliation Synod. Church office, translated with the word tohonan are wrongly translated as tahbisan or ordination. The inconsistency influences direct or indirect the conclusion that the pastor??"s ordination, one of the offices in HKBP, represents Christ??"s office. By conducting a theological and historical analysis of HKBP??"s church office and ordination, this research will prove that the HKBP's understanding of tohonan is inconsistent. The inconsistency of understanding church offices is influenced by contextual needs that made the church add ecclesiastical offices during the development of the church, mistranslations, and incorrect theological understandings of offices and ordination. To restore the spirit of the royal priesthood that was echoed by the reformer Martin Luther, HKBP must revisit its understanding of the tohonan (office) and the relationship between officeholders.AbstrakPemahaman Huria Kristen Batak Protestan mengenai teologi jabatan mendapat perhatian khusus sejak Tata Gereja dan Tata Laksana 2002 yang dibuat setelah Sinode Godang Rekonsiliasi. Jabatan gereja yang diterjemahkan dengan kata tohonan ternyata diterjemahkan secara inkonsisten sebagai tahbisan atau ordinasi. Perubahan tersebut juga secara tidak langsung mendorong kesimpulan bahwa tohonan pendeta, sebagai salah satu jabatan di HKBP, mencakup semua tohonan Kristus. Melalui penelitian kepustakaan dan analisis historis dan teologis, penelitian menelusuri terminologi mengenai tohonan sebagai jabatan gereja dan ordinasi. Penelitian menunjukkan bahwa pemahaman HKBP mengenai hierarki jabatan disertai oleh pemahaman tohonan tidak konsisten antara jabatan gereja dan ordinasi. Inkonsistensi pemahaman tersebut dipengaruhi oleh kebutuhan kontekstual pelayanan dari masa ke masa yang membuat gereja menambah jabatan gerejawi dengan fungsi khusus. Penambahan jabatan gereja, yang juga diberikan dengan ordinasi. Selain faktor utama tersebut, ada juga kesalahan penerjemahan serta pemahaman teologi yang tidak tepat mengenai jabatan dan ordinasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa HKBP perlu mengembalikan semangat reformasi imamat am yang rajani yang kembali didengungkan oleh Martin Luther.
Mewujudkan sila "Persatuan Indonesia" melalui gerakan ekumenis gereja Wahyuni, Sri; Adithia, Wahyu Prima; Arifianto, Yonatan Alex
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 1: April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.225

Abstract

The solidity of Pancasila as the foundation for the nation's unity continues to be undermined to the present day. The church is required to be able to contribute to realizing national unity through the actualization of Pancasila values. Our thesis is that the actualization of Pancasila values is the spirit contained in the Bible. This study aims to show the results of the analysis of 1 Corinthians 12:12-31 which can be used as a reference in designing the proposed contribution of the church in the actualization of Pancasila. The method used is descriptive and interpretive analysis related to the Corinthian text. The study's results found that according to the concept of one body in 1 Corinthians 12:12-31, the church's real form of participation or contribution in actualizing Pancasila values can be done by forming the church as a "Pancasila body". At least, the church has begun to realize the actualization of Pancasila values through an ecumenical movement that expresses the precepts of "Indonesian Unity". AbstrakKekokohan Pancasila sebagai dasar persatuan dan kesatuan bangsa masih terus mendapatkan rongrongan sampai saat ini. Gereja dituntut untuk dapat berkontribusi mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa melalui pengaktualisasian nilai-nilai Pancasila. Tesis yang kami bangun adalah, bahwa pengaktualisasian nilai Pancasila merupakan spirit yang terkandung dalam Alkitab. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan hasil analisis 1 Korintus 12:12-31 yang dapat dijadikan acuan dalam mendesain usulan kontribusi gereja dalam pengaktualisasian Pancasila. Metode yang dipergunakan adalah analisis deskriptif dan intepretatif terkait teks Korintus yang digunakan. Hasil penelitian mendapatkan, bahwa sesuai konsep satu tubuh dalam 1 Korintus 12:12-31, bentuk partisipasi atau kontribusi nyata gereja dalam mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dapat dilakukan dengan membentuk gereja sebagai “tubuh Pancasila”. Setidaknya, gereja mulai mewujudkan pengaktualisasian nilai Pancasila melalui gerakan ekumenis yang mengekspresikan sila “Persatuan Indonesia”.
Dimensi meta learning dalam transformasi pendidikan kristiani di Indonesia Ana Lestari Uriptiningsih; Yonathan Salmon Efrayim Ngesthi; Carolina Etnasari Anjaya
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.597

Abstract

In the current digital era, life's challenges are increasingly complex, so it needs to be balanced by quality human resources superior to the previous era. In the context of Christian education, this can be realized through transformation efforts to form students who have a strong faith so that they are skilled at dealing with life's problems, can develop themselves into the character of Christ, and have an increasing impact on others and the world. This study aims to describe the importance of transforming Christian education and the gaps in its current implementation. The research method used is descriptive qualitative with a literature study approach to synthesize relevant previous research results. The results of this study indicate that meta-learning is a new "power" that can be developed to close the gap in the transformation of Christian education. Meta-learning is a dimension that goes beyond knowledge, skills, and character, which allows students to practice reflection: learning to adapt learning and behavior towards goals (learning how to learn). Two appropriate approaches were found in its application, namely the action-relational and collaborative approaches.AbstrakDi era digital saat ini tantangan hidup semakin kompleks sehingga perlu diimbangi oleh sumber daya manusia yang berkualitas lebih unggul dari era sebelumnya. Dalam konteks pendidikan Kristiani hal tersebut dapat diwujudkan melalui upaya transformasi untuk membentuk anak didik yang beriman kuat, sehingga terampil mengatasi persoalan hidup, mampu mengembangkan diri, berkarakter Kristus, serta semakin berdam-pak bagi sesama dan dunia. Penelitian ini memiliki tujuan mendeskripsikan tentang pentingnya transformasi pendidikan Kristiani dan kesenjangan dalam pelaksanaanya saat ini. Metode penelitian yang dipergunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka untuk mendapatkan sintesis dari hasil penelitian-penelitian sebelumnya yang relevan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa meta learning merupakan ??Skekuatan? baru yang dapat dikembangkan agar dapat menutup kesenjangan transfor-masi pendidikan kristiani. Meta learning merupakan dimensi yang melam-paui knowledge, skiil, dan karakter, yang memungkinkan anak didik berlatih refleksi: belajar menyesuaikan pembelajaran dan perilaku searah tujuan (learning how to learn). Ditemukan dua pendekatan yang sesuai dalam pene-rapannya, yaitu aksi-relasi dan kolaborasi.