cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Kombongan Masallo' sebagai pemaknaan hakikat gereja dalam konteks bergereja Toraja Tanggulungan, Abraham Sere
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 1: April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i1.534

Abstract

Kombongan Masallo' is a translation into the context of the Toraja church, which shows the Toraja Church's awareness of its culture as a gift and a tool used by God to reveal himself to him. However, the term "Kombongan Masallo" is suspected to be prone to swallowing, even misleading, in the appreciation of the nature of the church if it is not based on the right meaning. Therefore, this study aims to explore the concept of kombongan as an indigenous Toraja term and evaluate it in the light of biblical truth, according to the tradition of the Toraja Church itself, to offer a reconstruction of a new Christian meaning. For this effort, a theoretical approach to the theology of the Bevans-style translation model is used within the framework of developing contextual theology. By using a qualitative descriptive method that explores information sourced from written documents, information from church leaders, and traditional Toraja leaders, it is found that on the one hand, the term Kombongan Masalo' greatly enriches and deepens the theological meaning of the church; however, on the other hand, the meaning of the term needs to be constructively transcended theologically based on the truth of the Bible. This will greatly help the Toraja church members to appreciate the church as a meeting, fellowship, and entity that continues to grow, where each member is subject to prevailing values and norms, lives in a relationship based on sincerity and spaciousness of heart, and is bound to one another by guidance. The Holy Spirit. AbstrakKombongan Masallo’ merupakan salah satu terjemahan ke dalam konteks bergereja Toraja, yang menunjukkan kesadaran Gereja Toraja akan budayanya sebagai anugerah dan alat yang dipakai Allah untuk menyatakan diri kepadanya. Namun, istilah Kombongan Masallo’  diduga rentan mendangkalkan, bahkan menyesatkan, dalam penghayatan hakikat bergereja jika tidak didasarkan pada pemaknaan yang tepat. Sebab itu, penelitian ini bertujuan mengeksplorasi konsep kombongan sebagai term indigenous Toraja, mengevaluasinya dalam terang kebenaran Alkitab, menurut tradisi Gereja Toraja sendiri, guna menawarkan sebuah rekonstruksi pemaknaan baru yang kristiani. Untuk upaya itu, digunakan pendekatan teoretis berteologi model terjemahan ala Bevans dalam kerangka pengembangan teologi kontekstual. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang menggali informasi bersumber pada dokumen tertulis, informasi dari tokoh gereja, maupun tokoh adat Toraja, didapatkan bahwa pada satu sisi, term Kombongan Masalo’ sangat memperkaya dan memperdalam makna teologis gereja; namun, di sisi lain makna istilah tersebut perlu ditransendensi secara konstruktif teologis berlandaskan kebenaran Injil. Hal tersebut akan sangat menolong warga gereja Toraja menghayati gereja sebagai pertemuan, persekutuan, dan entitas yang terus bertumbuh, di mana setiap anggotanya tunduk pada nilai dan norma yang berlaku, hidup dalam relasi yang dilandasi ketulusan dan kelapangan hati, serta terikat satu sama lain oleh tuntunan Roh Kudus.
Partisipasi aktif dalam ibadah online sebagai tanda persekutuan Pakpahan, Binsar Jonathan
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 1: April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i1.467

Abstract

This article aims to explain the differences between the online community and fellowship (church) through the dimensions of active participation in online worship. A fellowship is a community of baptized who confessed their faith and are actively involved in their calling. In a local church, members are united by common culture, language, and history. It is feared that online worship carried out during the Covid-19 pandemic will reduce the meaning of fellowship. Through descriptive qualitative method plus observation, with the theory from Alan Rathe and F. Gerrit Immink regarding active participation, this study found three indicators that could help churches prepare their worship to invite active participation as a sign of fellowship. The three indicators are “in” which refers to the common ground, namely initiation in the Triune God; "with" which refers to the congregation's togetherness to follow and participate both in terms of time and ability to interact; and "by" that is doing something together such as singing and responding to the same ritual. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk menjelaskan perbedaan komunitas dan persekutuan (gereja) online melalui dimensi partisipasi aktif dalam ibadah secara online. Persekutuan adalah komunitas orang-orang yang dibaptis yang memiliki pengakuan iman, dan terlibat aktif dalam tugas panggilannya. Dalam bentuk gereja lokal, anggota diikat oleh kesamaan budaya, bahasa, dan sejarah. Ibadah online yang dilaksanakan dalam masa pandemi Covid-19 dikhawatirkan akan mengurangi makna persekutuan. Melalui metode kualitatif deskriptif ditambah observasi, dengan teori dari Alan Rathe dan F. Gerrit Immink mengenai partisipasi aktif dalam ibadah, penelitian ini menemukan tiga indikator yang mengukur partisipasi jemaat dalam ibadah. Ketiga indikator itu adalah “dalam” yang merujuk kepada kesamaan landasan yaitu inisiasi dalam Allah Tritunggal; “bersama” yang merujuk kepada kebersamaan jemaat mengikuti dan berpartisipasi baik dari sisi waktu maupun kemampuan berinteraksi; dan “dengan cara” yaitu melakukan sesuatu bersama seperti bernyanyi dan merespons tata ibadah yang sama.
Pendidikan kristiani yang inklusif bagi kaum muda berbasis kearifan lokal: Sebuah kajian terhadap budaya Mapalus Rolina Anggereany Ester Kaunang
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.550

Abstract

As the next generation of church and state, young people need to be educated to have a correct understanding of religious pluralism in Indonesia. The digital era that facilitates many human activities, including accessing various information, has helped to form young people who are exclusive, careless, and individualistic because they show many sensitive issues that have the power to divide the nation's unity. The plurality of religions that exist is a challenge in building the inclusive character of young people who uphold harmony and peace together as one family, in Indonesia. This study aims to show that Mapalus as a Minahasa cultural heritage has a wealth of distinctive values that can be a source of learning for young people in the church, specifically in shaping the character of caring for each other, helping each other, respecting each other, and living in harmony together. By using a qualitative-descriptive method, the research adopted the thoughts of Cynthia M. Campbell as an analytical tool to show the study of Christian Education in Mapalus culture. Through this research, two appropriate teaching methods were found to educate young people in the church about pluralism. First, the understanding that humans are equal beings, and second, the awareness that humans are social beings who need each other.AbstrakSebagai generasi penerus gereja dan negara, kaum muda perlu dididik untuk memiliki pemahaman yang benar tentang kemajemukan agama di Indonesia. Era digital yang memudahkan banyak aktivitas manusia termasuk dalam mengakses berbagai informasi, turut membentuk kaum muda yang eksklusif, kurang peduli, dan individualis karena banyak memperlihatkan isu-isu sensitif yang memiliki kekuatan untuk memecah belah persatuan bangsa. Kemajemukan agama yang ada menjadi tantangan tersendiri dalam membangun karakter inklusif kaum muda yang menjunjung tinggi kerukunan dan kedamaian bersama sebagai satu keluarga, Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan bahwa Mapalus sebagai warisan budaya Minahasa memiliki kekayaan nilai-nilai khas yang dapat menjadi sumber belajar bagi kaum muda di gereja, secara khusus dalam membentuk karakter saling peduli, saling tolong menolong, saling menghargai, dan hidup rukun bersama. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode deskriptif, dengan mengadopsi pemikiran Cynthia M. Campbell sebagai pisau analisis untuk memperlihatkan kajian Pendidikan kristiani terhadap budaya Mapalus. Melalui penelitian ini, ditemukan dua metode pengajaran yang tepat untuk mendidik kaum muda di gereja tentang kemajemukan. Pertama, pemahaman bahwa manusia adalah makhluk yang setara, dan kedua, kesadaran bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan.
Pembelajaran jarak jauh yang pedagogis-spiritual: Sebuah tawaran model pembelajaran ramah anak di tengah pandemi Covid-19 Sine, Novy Amelia Elisabeth
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 1: April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i1.448

Abstract

The covid-19 Pandemic has impacted education in Indonesia. It causes the government to issue a policy, namely Distancing Learning. However, students have trouble doing the process of the policy. It is because the learning model is not completely child friendly. This manuscript aims to criticize the model of distancing learning and offer a new learning model that is needed to build the process of child-friendly education. This research uses a qualitative method by constructing the thought of Bell Hooks and Ralph W. Tyler about the curriculum and engaged pedagogy and analyzing the result of the interview with parents and students. The results show that PJJ needs a new learning model, which considers students' spirituality. Moreover, this manuscript points out that pedagogical-spiritual distancing learning is a child-friendly learning model. AbstrakPandemi Covid-19 memberi dampak pada sektor pendidikan di Indonesia yang mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Namun, peserta didik mengalami kendala dalam proses pelaksanaan kebijakan tersebut karena model pembelajaran yang tidak sepenuhnya ramah pada anak. Tulisan ini bertujuan untuk mengkritisi model PJJ dan menawarkan sebuah model pembelajaran yang dibutuhkan untuk membangun proses pendidikan yang ramah anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengkonstruksi pemikiran Bell Hooks dan Ralph W. Tyler mengenai kurikulum dan engaged pedagogy, serta menganalisis hasil wawancara terhadap orang tua dan peserta didik yang menunjukkan perlunya model baru dalam PJJ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PJJ membutuhkan sebuah model pembelajaran yang baru, yang mempertimbangkan aspek spiritualitas peserta didik. Tulisan ini pada akhirnya memperlihatkan bahwa PJJ yang pedagogis-spiritual merupakan sebuah tawaran model pembelajaran yang ramah anak di tengah pandemi Covid-19.
Meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan hidup melalui nyanyian jemaat Tahan Mentria Cambah
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.535

Abstract

The environmental crisis has threatened the world. Natural disasters can cause a wide range of issues. Various efforts have been made to overcome the effects of natural damage. From a Christian perspective, ecological theology has tried to answer the problem of environmental degradation. However, the efforts to raise awareness among the congregation members must not stop. Based on H. Paul Santmire's belief that liturgy related to worship can encourage congregational awareness, this research proposes singing as one of the liturgical elements that can play a role in encouraging concern for environmental crises. This research was pursued with a qualitative approach using literature and observation methods. This study found that congregational singing has a significant role in encouraging the congregation's concern for the environment. This role can be achieved by singing and living the nature-themed songs, supported by a calendar of warnings related to environmental themes.AbstrakKrisis lingkungan hidup telah mengancam dunia. Berbagai persoalan ditimbulkan dari berbagai kerusakan alam. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengatasi akibat dari kerusakan alam. Dalam persfektif kekristenan, teologi ekologi telah berusaha menjawab persoalan kerusakan lingkungan. Namun, usaha penyadaran warga jemaat tidak boleh berhenti. Berlandaskan keyakinan H. Paul Santmire tentang liturgi yang terkait dengan ibadah dapat mendorong kepedulian jemaat, maka penelitian ini mengagas nyanyian jemaat sebagai salah satu unsur liturgi yang dapat berperan mendorong kepedulian terhadap krisis lingkungan hidup. Penelitian ini ditempuh dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode kepustakaan dan observasi. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa nyanyian jemaat memilik peran yang signifikan untuk mendorong kepedulian warga jemaat terhadap lingkungan hidup. Peran itu dapat ditempuh dengan menyanyikan dan menghayati nyanyian yang bertema alam serta didukung oleh kalender peringatan yang berkaitan dengan tema lingkungan hidup.
Ucapan Yesus tentang "Berbahagialah" dalam Matius 5:1-12 sebagai spirit moderasi beragama Siagian, Fereddy
KURIOS Vol. 8 No. 1: April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i1.493

Abstract

Religious moderation is still being discussed in order to present ideas or ideas that are able to build a common life in diversity in Indonesia. This article aims to offer the teachings of Jesus which are summarized in the ??Sblessed? sayings in Matthew 5:1-12 as a component in building religious moderation in a Christian context. This study uses a descriptive method with a literature approach to interpreting the reading of the text of Matthew 5:1-12 in a moderation frame. As a result, some of the Christian characteristics mentioned in the text can be taught as components of building religious moderation in a Christian context. In conclusion, the church can teach the material for Jesus' sermon on the hill, about "blessed" sayings to build a spirit of religious moderation among Christians. AbstrakModerasi beragama masih terus diperbincangkan demi menghadirkan ide atau gagasan yang mampu membangun kehidupan bersama dalam keberagaman di Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk menawarkan ajaran Yesus yang dirangkai dalam ucapan-ucapan ??Sberbahagialah? di Matius 5:1-12 sebagai komponen dalam membangun moderasi beragama dalam konteks Kristen. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan literatur untuk memaknai pembacaan teks Matius 5:1-12 dalam bingkai moderasi. Hasilnya, beberapa karakteristik kristiani yang disebutkan dalam teks tersebut dapat diajarkan sebagai komponen bangunan moderasi beragama dalam konteks Kristen. Kesimpulannya, gereja dapat mengajarkan materi khotbah Yesus di bukit, tentang ucapan ??Sberbahagialah? dalam rangka membangun spirit moderasi beragama di kalangan umat Kristen.
Koreksi prospektif teks 2 Samuel 24 terhadap perilaku Daud bagi rekonstruksi kebijakan publik yang akuntabel Gumulya Djuharto
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.468

Abstract

This article offers another solution from the various solutions that have been offered previously to the problem in 2 Samuel 24 which is more disjunctive rather than conjunctive. In fact, conjunctive understanding using the public theology perspective of Paul Hanson which is analyzed by Oliver Glanz??"s Participant-Reference Shifts Theory has the potency to produce a conjunctive solution in the form of an accountable public policy. This accountable public policy is based upon the correction of David??"s behavior, which should communicate dialogically with God, and consecutively, a dialogical communication with his subordinates through transparent sharing of vision and values. This communication model becomes a preparation key for interaction with less familiar communities that are characterized by mutual respect, and not a compromising attitude, while still promoting togetherness in solving problems that arise in a community.AbstrakArtikel ini menawarkan solusi lain dari berbagai solusi yang pernah ditawarkan sebelumnya terhadap permasalahan dalam 2 Samuel 24 yang lebih bersifat disjungtif dan bukan konjungtif. Padahal, pemahaman secara konjungtif dengan menggunakan perspektif teologi publik dari Paul Hanson yang dianalisis berdasarkan Teori Participant-Reference Shifts dari Oliver Glanz terhadap teks tersebut berpotensi menghasilkan solusi konjungtif berupa suatu kebijakan publik yang akuntabel. Kebijakan publik yang akuntabel tersebut bermuara pada koreksi perilaku Daud yang seharusnya berkomunikasi secara dialogis dengan Tuhan, dan berdampak pada terciptanya komunikasi dialogis dengan para bawahannya melalui sharing visi dan nilai-nilai secara transparan. Model komunikasi tersebut menjadi kunci persiapan menuju interaksi dengan komunitas yang kurang familier yang bercirikan sikap saling menghormati, dan bukan sikap kompromistis, dengan tetap mengedepankan kebersamaan dalam menyelesaikan masalah yang muncul dalam suatu komunitas.
Pendidikan kristiani berbasis kearifan lokal: Sebuah tawaran konstruktif budaya Eseupalaloi di Maluku Novita Loma Sahertian; Benjamin Metekohy
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.609

Abstract

Culture at the practical level regulates the way of life, including education. In Ambon, especially in Allang land, there is a culture of eseupaloloi which is a form of cooperation between communities, both in building houses and making new land for plantations. The aim of the research is to demonstrate the construction of Christian education based on local cultural wisdom, by proposing a cultural eseupaloloi of the Allang community in Ambon. By using a descriptive-qualitative method, both with literature instruments and interviews with several local traditional leaders, an understanding was obtained about the spirit that animates eseupaloloi as a result of the research, namely mutual cooperation, characterized by: common problems/challenges; a mutual will to solve it; grace in problem-solving; common sense to solve problems; sincerity and willingness to lighten the will in solving problems. The conclusion of this study is, eseupaloloi culture contains values that can be the construction of multicultural Christian education.AbstrakKebudayaan pada tataran praksis mengatur cara hidup, termasuk aspek pendidikan. Di Ambon, khususnya di tanah Allang, terdapat budaya eseupaloloi yang merupakan bentuk kerjasama antarmasyarakat, baik dalam membangun rumah, membuat lahan baru untuk perkebunan. Tujuan penelitian untuk menunjukkan sebuah konstruksi pendidikan kristiani yang berbasis pada kearifan budaya lokal, dengan mengusulkan budaya eseupaloloi masyarakat Allang di Ambon. Dengan menggunakan metode deskriptif-kualitatif, baik dengan instrumen literatur maupun wawancara pada beberapa tokoh adat setempat, diperoleh pemahaman tentang semangat yang menjiwai eseupaloloi sebagai hasil penelitian, yakni gotong royong, dengan bercirikan pada: masalah/tantangan bersama; kemauan bersama untuk menyelesaikannya; rahmat dalam pemecahan masalah; akal sehat untuk memecahkan masalah; keikhlasan dan kesediaan untuk meringankan keinginan dalam memecahkan masalah. Kesimpulan dari penelitian ini adalah, budaya eseupaloloi mengandung nilai-nilai yang dapat menjadi bangunan sebuah pendidikan kristiani multikultural.
Sacred and secular: A plea to re-examine the worldview among Myanmar Christians Sang Thein Thang
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.456

Abstract

The Myanmar Christian worldview on sacred and secular is the product of primarily two basic grounds; the Burmanization and Myanmar Christian understanding on Church and State, which eventually lead subjugation of the Church to political authority of the Burman government. As a result, it leads one to seeing political and social actions as secular, and Christians therefore need to be restrained from that sort of things. But anything is secular or sacred depending on the direction being used towards: in obedience or disobedience towards God??"s law and order. The Church as community of God??"s people has responsibility as a voice and witness of God for restoring God??"s standards of life aspects; culture, social activities, politics, business, education, and so on in the fallen community and society.
Liturgi sebagai aksi solidaritas terhadap kaum marginal: Sebuah diskursus teologis berbasis pengalaman perempuan di Sumba Irene Umbu Lolo
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.575

Abstract

The patriarchal culture of society places women as a marginal group. In Sumba, women who are victims of marriage by abduction experience injustice and oppression. The purpose of this paper is to examine the experiences of women victims of marriage byabduction and to show that the liturgy can symbolize the church's alignment to defend marginal groups in society. The data collection and analysis phase was carried out using descriptive-qualitative methods. The perspective of feminist liturgical theology is the lens used to highlight the experiences of women who are victims of intermarriage. This study finds that the church can show compassion and solidarity towards the marginalized, among others, through liturgical actions.AbstrakKultur masyarakat patriarkal menempatkan perempuan sebagai kelompok marginal. Di Sumba, perempuan korban kawin tangkap mengalami ketidakadilan dan penindasan. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengkaji pengalaman perempuan korban kawin tangkap dan menunjukkan bahwa liturgi dapat menjadi simbol keberpihakan gereja untuk membela kelompok marginal dalam masyarakat. Pengumpulan data dan tahap analisis ditempuh dengan menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Perspektif teologi liturgi feminis merupakan lensa yang digunakan dalam rangka menyoroti pengalaman perempuan yang menjadi korban kawin tangkap . Studi ini menemukan bahwa gereja dapat menunjukkan sikap belarasa dan solidaritas terhadap kaum marginal antara lain melalui aksi liturgikal