cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Spiritualitas egalitarian dalam pendidikan kristiani Jannes Eduard Sirait
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.157

Abstract

Christian education must demonstrate an egalitarian educational practice, which means treating the education process equally without discriminating against social, economic, or religious backgrounds. This research is a reflective study on various issues of Christian education that have been developed, such as education of hospitality and inclusion or those based on multiculturalism and religious moderation. Following academic discussions to find an ideal picture of Christian education, this research aims to demonstrate an egalitarian spirituality that can serve as a basis for Christian educational practices in church, home, and school. Using a qualitative approach to literature data, this research uses a descriptive method to map the needs of Christian education in this era. In conclusion, Christian education should be able to reflect God's egalitarian work by providing participation opportunities for all learners to express themselves in God's grace.AbstrakPendidikan kristiani harus mampu memperlihatkan sebuah prak-tik pendidikan yang egaliter, artinya memperlakukan proses pendidikan secara setara tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, hingga agama. Penelitian ini adalah sebuah kajian reflektif terhadap berbagai isu pendidikan kristiani yang telah dikembangkan terlebih dahulu, seperti pendidikan hospitalitas dan inklusi, atau yang berbasis pada multikulturan dan moderasi beragama. Mengikuti diskusi akademik untuk menemukan sebuah potret pendidikan kristiani yang ideal, maka penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan spiritualitas egalitarian yang dapat menjadi basis pada praktik pendidikan kristiani, baik di gereja, rumah, dan sekolah. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif pada data literatur, penelitian ini menggunakan metode deksriptif untuk memetakan kebutuhan pendidikan kristiani di era ini. Kesimpulannya, pendidikan kristiani harus dapat mencerminkan karya Allah yang egaliter dengan memberikan ruang partisipasi bagi semua peserta didik dalam mengekspresikan dirinya dalam anugerah Allah.
Gereja dan perlindungan anak: Analisis keberpihakan Gereja Masehi Injili di Halmahera terhadap kasus cyberbullying pada anak Seli, Lifein Nazareth; Ice, Demianus; Petrus, Jerizal
KURIOS Vol. 8 No. 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.538

Abstract

Perlindungan Anak merupakan suatu upaya berkelanjutan untuk membebaskan anak dari berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi. Salah bentuk kekerasan terhadap anak yang sedang marak mengikuti perkembangan teknologi digital adalah kekerasan cyberbullying.  Komunitas gereja tidak dapat terlepas dari penggunaan teknologi digital yang berpotensi menyebabkan mereka menjadi korban maupun pelaku. Keberpihakan gereja dibutuhkan untuk melakukan penanganan yang terfokus, terarah dan memberikan solusi konstruktif dari hulu ke hilir. Penelitian ini https://ej.ejsst.com/ dilakukan untuk menjawab bagaimana GMIH baik secara kelembagaan maupun oleh para pengerja gereja, memahami dan menyikapi cyberbullying dan bagaimana model penanganan yang tepat terhadap kasus ini. Tujuan penelitian ini adalah a) Menganalisis strategi GMIH menangani kasus kekerasan cyberbullying terhadap anak baik sebagai pelaku maupun sebagai korban dan b) Mengumpulkan dan merekonstruksi model perlindungan anak yang tepat untuk menanganai kekerasan cyberbullying terhadap Anak di GMIH. Hasil penelitian menunjukan adanya penetrasi digital yang masif ditandai dengan tingkat kepemilikan dan penggunaan media social yang cukup signifikan, namun disisi lain pemahaman terhadap Perlindungan Anak termasuk cyberbullying belum komprehensif. Sikap-sikap di media sosial yang memenuhi unsur cyberbullying juga semakin marak dialami dan dilakukan. Penangananya pun masih seputar mendoakan, mengedukasi dan memfasilitasi sehingga dibutuhkan suatu konsep penanganan yang strategis, sistematis melibatkan semua sumber daya dan stakeholder gereja.  
Diakonia transformatif sebagai aktualisasi missio dei dalam membangun jemaat Yessy Kenny Jacob
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.264

Abstract

The church must be able to represent, even present, Christ and inherently express His love. The increasingly difficult and complex challenges of the times require transformative church services so that the congregation can grow and develop appropriately as His chosen people. This study aims to describe the principles of transformative diakonia for the church so that it can successfully fulfill its vocation according to the teachings of the Bible. The method used is descriptive qualitative, using a literature study approach and conducting interviews with congregations regarding understanding the Diakonia ministry. The study results found that in the current technological era, transformative diakonia is an absolute for the church to carry out as the actualization of missio Dei. The basic principle of transformative diakonia is fulfilling two main dimensions: the physical-material and spiritual. In its implementation, the church must fulfill its function as the executor of the mission Dei which can be a support and solution for the life of the congregation and the community around the church.AbstrakGereja harus mampu merepresentasikan, bahkan mempresentasikan, Kristus serta menyatakan kasih-Nya secara nyata di dalam dunia. Tantangan zaman yang semakin berat dan kompleks membutuhkan pelayanan gereja yang transformatif agar jemaat mampu bertumbuh dan berkembang secara baik sebagai umat pilihan-Nya. Kajian ini bertujuan menguraikan tentang prinsip diakonia transformatif bagi gereja agar dapat berhasil menunaikan tugas panggilan sesuai ajaran Alkitab. Metode yang dipergunakan adalah deskriptif kualitatif, baik dalam bentuk pendekatan studi pustaka maupun melakukan wawancara kepada jemaat untuk mendapatkan informasi terkait pemahaman pelayanan diakonia. Hasil kajian menemukan bahwa pada era teknologi saat ini, diakonia transformatif menjadi suatu kemutlakan untuk dilakukan gereja sebagai aktualisasi dari missio Dei. Prinsip dasar diakonia transformatif adalah memenuhi dua dimensi utama, yakni fisikal-material dan dimensi spiritual. Dalam implementasinya, gereja dituntut dapat memenuhi fungsinya sebagai eksekutor missio Dei yang dapat menjadi pendukung dan solusi bagi kehidupan jemaat dan mayarakat sekitar gereja
Menjaga relasi manusia dengan alam: Konstruksi ekoteologis pada religi budaya "Allah Dalam Tubuh" Masyarakat Desa Musi, Kecamatan Lirung, Kabupaten Talaud Meily Meiny Wagiu; Jekson Berdame; Subaedah Luma
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.263

Abstract

Awareness of preserving nature and maintaining ecological harmony is essential to address the current environmental issues. This perspective can be seen in one of the local beliefs of the Musi Village community, which is the belief in "God Within the Body" (ADAT). Although ADAT belief is not one of the recognized six religions, it is a cultural heritage or local belief. ADAT's belief in principles and behavior contains ecological values that regulate the relationship between God and humans, humans with each other, and humans with nature. This research aims to reflect an ecoteological This qualitative studywisdom, particularly in Musi Village, Lirung District, Talaud Regency. This qualitative study uses descriptive methods based on literature review, observation, and interview data. The results of this study are expected to construct an ecoteology based on local culture.AbstrakKesadaran menjaga alam dan keselarasan ekosistem sangat perlu demi mengatasi permasalahan ekologis saat ini. Cara pandang ini dapat diihat pada salah satu kepercayaan lokal masyarakat Desa Musi, yaitu kepercayaan "Allah Dalam Tubuh" (ADAT). Sekalipun kepercayaan ADAT tidak termasuk dalam enam agama yang diakui, namun ini adalah aliran kepercayaan yang menjadi warisan budaya atau kepercayaan lokal. Kepercayaan ADAT dalam prinsip dan perilaku hidup mengandung nilai ekologi yang saat baik, yang mengatur hubungan antara Allah dan manusia, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan alam. Penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan sebuah refleksi kajian ekoteologis yang berbasis pada kearifan budaya lokal, khususnya di Desa Musi, Kecamatan Lirung, Kabupaten Talaud. Ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode deskriptif, berbasis pada kajian literatur, yang juga mempergunakan data hasil observasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mengonstruksi sebuah bentuk ekoteologi yang berbasis pada budaya lokal
Polisentris perkembangan Pentakostalisme: Sebuah kajian retrospektif dari gereja abad kuno hingga pertengahan Anggi Maringan Hasiholan
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.592

Abstract

Pentecostals are multiplying in quantity due to the socio-cultural context in which they grow. This development occurred in the Southern part of the world, namely Latin America, Africa, and Asia. The World South displays a unique and different Pentecostal spirituality from the 1906 Azusa Street incident. This difference provokes a search for the roots of Pentecostalism besides Azusa Street. That is why a polycentric approach is needed in tracing the history of the Pentecostal church. This study aims to examine Azusa Street retrospectively from ancient to medieval churches. The research method used is qualitative with a historical approach. The study results show that a spirituality similar to Pentecostalism has spanned from ancient to medieval church history practiced by certain groups and people. However, their influence to become the beginning of the classical Pentecostalism movement was not decisive because the praxis shown did not have a significant effect and did not shake the social life of the community where their spirituality was born. In conclusion, the differences in the praxis of Pentecostalism in Latin America, Africa, and Asia show other roots outside Azusa Street. AbstrakKaum Pentakostal berkembang dengan sangat cepat dalam kuantitas karena konteks sosial-budaya dimana mereka bertumbuh. Perkembangan ini terjadi di dunia bagian Selatan, yaitu Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Dunia Selatan menampilkan spiritualitas Pentakostal yang unik dan berbeda dengan peristiwa Azusa Street 1906. Perbedaan ini memancing penelusuran mengenai akar-akar Pentakostalisme selain Azusa Street. Itu sebabnya, diperlukan pendekatan polisentris dalam menelusuri sejarah gereja Pentakostal. Penelitian ini bertujuan mengkaji retrospektif Azusa Street dari gereja abad kuno hingga abad pertengahan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas yang mirip dengan Pentakostalisme telah terbentang dari sejarah gereja abad kuno hingga pertengahan yang dipraktikkan oleh kelompok dan orang tertentu. Namun, pengaruh mereka untuk menjadi awal pergerakan Pentakostalisme klasik tidak kuat karena praksis yang ditunjukkan tidak berpengaruh besar dan tidak mengguncang kehidupan sosial masyarakat tempat spiritualitas mereka lahir. Kesimpulannya, perbedaan praksis Pentakostalisme di Amerika Latin, Afrika, dan Asia menunjukkan bahwa terdapat akar-akar lain di luar Azusa Street.
Toleransi dalam bingkai moderasi beragama: Sebuah studi kasus pada kampung moderasi di Malang Selatan Teresia Noiman Derung; Hironimus Resi; Intansakti Pius X
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.723

Abstract

The established tolerance in the religiously moderate village of Sidodadi and Gajahrejo in South Malang is a result of the previous conflicts between different community groups regarding the interpretation of sacrificial animal blood and the challenges faced by minority groups of the Protestant faith in constructing places of worship. This article aims to describe the efforts made by the religiously moderate community in preserving and promoting religious tolerance within society. The descriptive qualitative method was employed, utilizing interview, observation, and documentation techniques. The study's findings indicate that tolerance in the religiously moderate village has been established and sustained due to the community's acceptance of religious pluralism, the cultivation of tolerance through formal and informal education, and the preservation of the Bari'an tradition to foster interfaith tolerance. In conclusion, tolerance has become an integral part of the community in the religiously moderate village, as the community works collectively to ensure that tolerance is effectively implemented, thus embodying the values of Pancasila and creating a harmonious and balanced society. AbstrakToleransi yang terjalin sangat baik di kampung moderasi beragama Desa Sidodadi dan Gajahrejo Malang Selatan memiliki latar belakang percekcokan antarkelompok masyarakat terkait perbedaan pemaknaan darah hewan qurban dan kesulitan membangun rumah ibadat bagi kelompok minoritas yang beragama Protestan. Tujuan penulisan artikel ini adalah mendeskripsikan upaya yang dilakukan oleh masyarakat kampung mode-rasi beragama dalam menjaga dan melestarikan toleransi beragama dalam masyarakat. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif, dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil Kajian memperlihatkan bahwa toleransi di kampung moderasi beragama dapat terbangun dan tetap lestari sampai saat ini, karena masyarakat menerima pluralisme agama, menanamkan toleransi dalam pendidikan formal dan informal, dan melestarikan tradisi Bari’an sebagai wadah untuk menjalin toleransi antaragama. Dari Kamian dapat disimpulkan bahwa toleransi telah menjadi bagian integral dalam masyarakat di kampung moderasi beragama, karena masyarakat bahu membahu mengusahakan berbagai cara agar toleransi dapat diimplementasikan dengan baik, untuk  mengejawantahkan nilai Pancasila sehingga tercipta masyarakat yang hidup dalam harmoni dan berimbang.
Utilizing narratives to promote gender equality in the classroom Meicky Shoreamanis Panggabean; Rika Kristyanti Praba Gracia
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.452

Abstract

Sexism is an ongoing issue which happens in many layers of the society, including educational institution such as school. Students witness and experience sexism in daily life may it be inside or outside the school and it may affect them negatively. Students should be guided and facilitated to be aware of sexism as well as to understand gender equality between men and women and its importance. This paper uses descriptive qualitative method to dig deeper about the existence of sexism at school and narrative as a tool to promote gender equality to students. The result shows that there are various forms of sexism that may happen in school and students should be guided to be aware of those sexism forms. Narrative can be an effective tool to promote gender equality to students because it is easier to comprehend, fun, engaging, relatable, and is able to shape people??"s worldviews. For future studies, it is recommended to dig deeper about how effective can narrative be used to promote gender equality. To get a comprehensive evaluation, the analysis of the usage should consider teachers' cultural backgrounds and gender-issues knowledge.
Penguatan Nilai-nilai Kristiani Melalui Interaksi Sosial bagi Peserta Didik Bambang Sujiyono
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 2: Oktober 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i2.203

Abstract

The study aims to analyze the strengthening of students' Christian values through social interaction. Literature methods or literature studies are used to collect and analyze this research data. Research findings reveal that the role of Christian Education teachers is needed in strengthening Christian values for students through social interaction. The form of social interaction that can be used by Christian Education teachers to strengthen Christian values for students is the form of cooperation and accommodation. Strengthening Christian values in schools requires cooperation between Christian Education teachers and students, as well as between students and other students. While the form of accommodation, in instilling Christian values in students, requires the ability to overcome conflicts and, at the same time, the ability to avoid disputes. Both among students as well as students with Christian Education teachers. With this approach, strengthening Christian values for students through social interaction can be created well.AbstrakPenelitian bertujuan untuk menganalisis penguatan nilai-nilai kristiani peserta didik melalui interaksi sosial. Metode literatur atau studi pustaka digunakan untuk mengumpulkan data dan menanalisis data penelitian ini. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa diperlukan peran guru Pendidikan Agama Kristen dalam memperkuat nilai-nilai kristiani bagi peserta didik melalui interaksi sosial. Bentuk interaksi sosial yang dapat digunakan oleh guru Pendidikan Kristen dalam penguatan nilai-nilai kristiani bagi peserta didik yaitu dengan bentuk kerja sama dan akomodasi. Penguatan nilai-nilai kristiani di sekolah diperlukan jalinan kerja sama, baik itu kerja sama antara guru Pendidikan Agama Kristen dengan peserta didik, maupun antara peserta didik dengan peserta didik lainnya. Sedangkan bentuk akomodasi, dalam menanamkan nilai-nilai kristiani kepada peserta didik diperlukan kemampuan dalam mengatasi pertentangan dan sekaligus kemampuan dalam menghindari perselisihan. Baik itu di antara peserta didik, maupun peserta didik dengan guru Pendidikan Agama Kristen. Dengan pendekatan ini, penguatan nilai-nilai kristiani bagi peserta didik melalui interaksi sosial dapat tercipta dengan baik.
"Kemah Allah" sebagai ekspansi akhir Eden dalam langit dan bumi baru Hauw, Andreas; Emmanuella, Widayanti
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.357

Abstract

The aesthetic narrative of the restoration of the cosmic order generally correlates with the human desire for a life without mourning and death. At least, the narrative of the new heavens and the new earth (Rev. 21:1-4) states the same motif. However, the actual depiction of the end times narrated in the culture often excludes the gospel message so that the meaning of human life rests on a permissive public utopia. These narratives convince cognition and captivate the public imagination, including believers. In response to these issues, this paper tries to re-explain the aesthetics narrative of the restoration in the Bible, which is communicated through the metaphor of God’s tabernacle (Rev. 21:3). Along with this presupposition, symbols are lenses for understanding the truth, redemption history is seen as the revelation of the whole meaning of God's tabernacle. For this reason, this article concludes that in light of the redemption history, God’s Tabernacle confirms His presence among the people according to the scheme of the universe's beginning. Thus, life without mourning and death can be understood as a consequence of the fulfillment of God's promise regarding Eden's expansion. In other words, the aesthetic narrative of restoring the cosmic order lies in the relationship between God and man for eternity. Finally, this article is expected to help believers to take responsibility for their faith and to act on it in everyday life. AbstrakEstetika narasi restorasi tatanan kosmis umumnya berkorelasi dengan hasrat manusia akan kehidupan tanpa ratap tangis dan kematian. Setidaknya, narasi langit dan bumi baru (Why. 21:1-4) terlihat menyatakan motif yang senada. Namun, sesungguhnya penggambaran akhir zaman yang dinarasikan dalam budaya kerap mengucilkan berita Injil sehingga makna kehidupan manusia bertumpu pada utopia publik yang permisif. Pasalnya narasi-narasi tersebut tidak hanya menyakinkan kognisi, tetapi menawan imajinasi publik tidak terkecuali orang percaya. Menanggapi hal tersebut, tulisan ini mencoba menguraikan kembali estetika narasi restorasi Alkitab yang dikomunikasikan melalui metafora kemah Allah (Why. 21:3). Bersamaan dengan praanggapan bahwa simbol merupakan lensa untuk memahami kebenaran, sejarah penebusan dinilai menyingkapkan makna inti kemah Allah secara utuh. Untuk itu artikel ini menyimpulkan bahwa dalam terang sejarah penebusan, kemah Allah menegaskan kehadiran Allah di tengah umat sesuai dengan skema awal mula semesta diciptakan. Dengan demikian, kehidupan tanpa ratap tangis dan kematian dapat dipahami sebagai konsekuensi penggenapan janji Allah mengenai ekspansi Eden. Dengan kata lain, estetika narasi restorasi tatanan kosmis terletak pada relasi Allah dan manusia dalam kekekalan. Artikel ini diharapkan dapat menolong orang percaya tatkala mempertanggung jawabkan iman serta mengambil sikap dalam kehidupan sehari-hari.
Kemajemukan Indonesia menurut ajaran Gereja Protestan Maluku dalam perpekstif teologi agama-agama Theophillia Vristya Leatemia; Jhony Christian Ruhulessin; Ricardo Freedom Nanuru
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.605

Abstract

 Plurality, including religious plurality in Indonesia, is an indisputable reality. Many conflicts based on religious plurality still occur in Indonesia today, and all religions in Indonesia must be responsible for them. This article aims to review the religious plurality concept as the face of Indonesia in the form of the Maluku Protestant Church??"s dogma, as a responsibility of the Maluku Protestant Church in contributing to the development of Indonesia. This research uses a content analysis method of the Maluku Protestant Church??"s dogma, with the thoughts of the theology of religions as a basis. This research found 26 (twenty-six) articles about plurality, namely how the Maluku Protestant Church sees other faiths. Based on the objectives of this study, it can be concluded that the belief in Tuhan Yang Maha Kuasa, who works in all the realities of Indonesia, must become a common belief of all religions, including the Maluku Protestant Church, to become a common foothold in building interfaith relations towards beyond pluralism as a theological formulation of religions that is appropriate and relevant to the current context.  AbstrakKemajemukan termasuk kemajemukan agama di Indonesia merupakan kenyataan yang tak terbantahkan. Banyak konflik bertemakan kemajemukan agama yang masih terjadi di Indonesia hingga kini, dan semua agama di Indonesia harus bertanggungjawab atasnya. Artikel ini bertujuan untuk mengulas kemajemukan agama sebagai wajah Indonesia dalam Ajaran Gereja Protestan Maluku, sebagai wujud tanggungjawab Gereja Protestan Maluku dalam berkontribusi bagi perkembangan Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi terhadap Ajaran Gereja Protestan Maluku, dengan teologi agama-agama sebagai pijakannya. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat 26 (dua puluh enam) artikel tentang kemajemukan yakni cara Gereja Protestan Maluku melihat agama-agama lain. Berdasarkan tujuan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa yang adalah Tuhan yang bekerja dalam seluruh realitas Indonesia harus menjadi keyakinan bersama semua agama, termasuk Gereja Protestan Maluku. Hal ini agar menjadi pijakan bersama dalam membangun hubungan antar agama menuju beyond pluralism atau melampaui kemajemukan sebagai rumusan teologi agama-agama yang tepat dan relevan dengan konteks masa kini.