cover
Contact Name
Jurnal Bedah Nasional
Contact Email
jurnalbedahnasional@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalbedahnasional@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25485962     EISSN : 2548981X     DOI : -
Core Subject : Health,
JBN (Jurnal Bedah Nasional) is published twice a year in January and July. This journal encompasses original research articles, review articles, and case reports of all fields of surgery medicine, including General Surgery; Digestive Surgery; Oncology Surgery; Pediatric Surgery; Neurosurgery; Cardiothoracic and Vascular Surgery; Vascular and Endovascular Surgery; Orthopedic Surgery; Urology Surgery; Plastic and Reconstruction Surgery; Traumatology and Acute Care Surgery.
Arjuna Subject : -
Articles 84 Documents
Pembedahan Kanker di Masa Pandemi COVID-19 I Wayan Sudarsa
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 4 No 1 (2020): Special Issue COVID-19 - JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.608 KB) | DOI: 10.24843/JBN.2020.v04.is01.p01

Abstract

Secara ringkas, perawatan penderita kanker di masa COVID-19 ini, telah mengubah paradigma antara penderita dan tenaga medis terutama ahli bedah onkologi, untuk bersama-sama melawan COVID-19, maka dari itu diperlukan komunikasi yang baik antara dokter dengan penderita, edukasi penyakit dan tindakan prosedur yang dapat ditunda atau segera dikerjakan berdasarkan guideline terkini, dan persiapan ketersediaan sumber daya yang ada merupakan pertimbangan yang penting, untuk menekan penyebaran COVID-19 bagi tenaga medis terutama ahli bedah onkologi di Indonesia.
Nurse’s Roles in Protecting Cancer Patients During COVID-19 Pandemic Siluh Nyoman Alit Nuryani; Luh Gede Lisnawati
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 4 No 1 (2020): Special Issue COVID-19 - JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.477 KB) | DOI: 10.24843/JBN.2020.v04.is01.p06

Abstract

Nurses during COVID-19 pandemic outbreak will be front line health care worker providing care for all patient including cancer patients. Cancer patients were vulnerable group that need to be prevented from getting COVID-19. This study will describe the roles of nurses to protect cancer patients during this outbreak. The role of nurses preventing transmission in outpatient including conducting medical distancing to reduce number of patient visit health care. This can be done through screening by phone. Chemotherapy unit, nurses can prevent transmission through physical distancing, providing education and surface cleaning more often than usual in between patient. Oncology ward, nurses need to educate patient family regarding no hospital policy visit. This will reduce number of exposure people to people. The use of PPE wisely due to shortage of resources in may hospital facilities by reducing number of team member entering patient’s room, selectively usage of PPE required for certain nursing procedures, and nurses can perform number of procedures at once whenever nurses enter patients’ room. During this crisis, nurses also need to maintain their mental health by managing their stress and anxiety by balancing between work and rest during shifts, eat sufficient food and healthy, and avoid alcohol and tobacco. Stay connected with friends and family through digital media. Hence, nurses can stay healthy so they care for patients during this pandemic.
Tata Laksana Buried Penis di RSUP Sanglah Gede Wirya Diptanala Putra Duarsa; I Nengah Wiadi; Pande Made Wisnu Tirtayasa; Gede Wirya Kusuma Duarsa
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 4 No 1 (2020): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.135 KB) | DOI: 10.24843/JBN.2020.v04.i01.p02

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui tata laksana Buried penis di RSUP Sanglah. Metode: Delapan sampel dengan buried penis yang menjalani operasi rekonstruksi di RSUP Sanglah dikumpulkan dari Januari sampai Desember 2018. Pengumpulan data dilakukan sebelum operasi sampai 3 bulan setelah operasi. Hasil: Delapan pasien yang termasuk dalam penelitian ini memiliki rentang usia dari 5 sampai 15 tahun. Mayoritas berat badan pasien berada diatas persentil 50. Panjang penis sebelum operasi memiliki rentang 0,0-3,0 cm. Dilakukan degloving penis, eksisi lapisan dartos yang inelastis dan penutupan kulit dengan skin flap. Panjang penis setelah operasi meningkat menjadi 4,3-13,5 cm dimana merupakan ukuran penis normal sesuai usia pasien. Pemeriksaan histologi menunjukkan kolagen yang tebal seperti pasien hipospadia dan berbeda dengan pasien normal. Simpulan: Buried penis merupakan suatu abnormalitas penis kongenital. Terdapat pendekatan dan teknik operasi yang bervariasi sesuai kondisi pasien dan keahlian masing-masing dokter bedah. Ukuran penis meningkat setelah rekonstruksi.
Modifikasi Pembelajaran PPDS-1 Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dalam Masa Pandemi COVID-19 I Ketut Wiargitha
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 4 No 1 (2020): Special Issue COVID-19 - JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.682 KB) | DOI: 10.24843/JBN.2020.v04.is01.p02

Abstract

Berdasarkan beberapa instruksi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa seluruh peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) terutama bagian Ilmu Bedah dapat menyesuaikan dan mengikuti seluruh aturan yang berlaku, yaitu menjalankan pola hidup sehat dan mengutamakan kebersihan diri sendiri, menggunakan APD lengkap dalam memberikan pelayanan kesehatan, mengubah pembelajaran melalui tatap muka menjadi pembelajaran dari rumah (online), menjalankan pola hidup sehat dan mengutamakan kebersihan, serta mengurangi penugasan residen untuk stase luar hingga kondisi dan situasi dinyatakan aman untuk dilakukan kegiatan pembelajaran seperti semula.
Dampak Pandemi COVID-19 pada Pelayanan Pasien Kanker di Rumah Sakit Tersier di Indonesia: Serial Kasus Putu Anda Tusta Adiputra
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 4 No 1 (2020): Special Issue COVID-19 - JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.915 KB) | DOI: 10.24843/JBN.2020.v04.is01.p07

Abstract

Latar belakang: Sejak diumumkan pertama kali pada Desember 2019, jumlah penderita COVID-19 terus meningkat. Seiring dengan perkembangan penyakit ini yang begitu pesat, berbagai masalah pun mulai bermunculan. Serial kasus ini ditulis untuk mengangkat pengalaman dalam penanganan pasien keganasan dalam keterbatasannya pada masa pandemi COVID-19. Kasus: Pertama, pasien peripheral T-cell lymphoma yang sudah kemoterapi CHOP 4 siklus di Singapura dan akan melanjutkan siklus selanjutnya bulan April 2020. Kedua, pasien dengan pleomorphic spindle cell sarcoma regio toraks posterior metastasis ke paru dan tulang sudah mendapatkan kemoterapi lini kedua dengan regimen Gemcitabine/Docetaxel di Singapura, dan akan melanjutkan kemoterapi selanjutnya akhir Maret 2020, akan tetapi pasien mengalami neutropenia dan menolak ke rumah sakit untuk injeksi karena takut. Ketiga, pasien dengan karsinoma payudara Her-2 type yang sedang menjalani terapi target Kadcyla di London. Pasien pertama dan ketiga tidak dapat melanjutkan terapi di luar negeri karena pandemi COVID-19. Simpulan: Pandemi COVID-19 secara langsung menyebabkan perubahan besar dalam layanan rumah sakit. Penundaan pengobatan pada pasien kanker yang dapat dilakukan atau melanjutkan pengobatan dengan peningkatan kewaspadaan akan transmisi COVID-19 merupakan opsi yang dapat dilakukan dan dipertimbangkan secara matang oleh klinisi.
Perbandingan Jumlah Sel Mononuklear, Jumlah Sel Fibroblas, Ukuran Fibrosis, dan Perlengketan Klinis Pada Jaringan Peridural Antara Non-Absorbable Mesh dan Absorbable Barrier Mesh Pada Tikus Wistar dengan Cedera Otak Traumatika yang Dilakukan Decompressive Craniectomy Ida Bagus Yudha Prasista; I Wayan Niryana; Nyoman Golden
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 4 No 1 (2020): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.971 KB) | DOI: 10.24843/JBN.2020.v04.i01.p03

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan dua jenis mesh yaitu non-absorbable mesh dan absorbable barrier mesh terhadap sel mononuklear, fibroblas, ketebalan fibrosis dan perlengketan klinis pada jaringan peridural tikus wistar dengan traumatic brain injury. Metode: Studi ini menggunakan model hewan coba dengan desain Randomized post Test-Only Control Group. Penelitian melibatkan dua puluh sampel. Sebanyak sepuluh sampel yang menggunakan non-absorbable mesh masuk dalam kelompok kontrol dan sepuluh sampel yang menggunakan absorbable barrier mesh masuk dalam kelompok perlakuan. Untuk pemeriksaan jumlah sel mononuklear (MN), jumlah sel fibroblas dan ukuran fibrosis, serta perlengketan klinis pemeriksaan dilakukan di laboratorium setelah sebelumnya dilakukan euthanasia setelah hari ke-14. Uji T independen dan uji Mann Whitney dilakukan untuk menguji hipotesa dengan skala data numerik serta uji Fisher’s exact untuk menguji hipotesa dengan skala data kategorik. Hasil: Rerata jumlah sel mononuklear (MN) per lapang pandang (LP) pada kelompok dengan perlakuan lebih rendah daripada kelompok kontrol (10,6±5,6 vs 13,8±5,6 per LP). Jumlah rerata sel fibroblas per LP pada kelompok perlakuan lebih rendah dibandingkan dengan kontrol (13,6±4,3 vs 20,2 ±7,3 per LP). ketebalan ukuran fibrosis juga menunjukkan perbedaan rerata yang signifikan lebih rendah pada kelompok perlakuan (183,4 ± 87,7 vs 458,5±247,1). Resiko relative terjadinya perlengketan klinis pada non-absorbable mesh juga 3 kali lebih besar dibadingkan dengan absorbable barrier mesh. Simpulan: Penggunaan absorbable barrier mesh secara bermakna menyebabkan rerata jumlah sel fibroblas, ukuran fibrosis, dan risiko perlengketan klinis yang lebih rendah paska tindakan decompressive craniectomy.
Strategi Pembedahan di Era Pandemi COVID-19 Ni Gusti Ayu Agung Manik Yuniawaty Wetan; Putu Astri Novianti
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 4 No 1 (2020): Special Issue COVID-19 - JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.338 KB) | DOI: 10.24843/JBN.2020.v04.is01.p03

Abstract

Sebagai simpulan, dengan memperjelas strategi pembedahan dan mengikuti protokol pembedahan yang telah disepakati, akan membantu memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien sekaligus melindungi petugas medis di era pandemi COVID-19 ini.
Studi Pendahuluan Terapi Hiperbarik Terhadap Penyembuhan Ulkus Kaki Diabetik Penderita Diabetes Melitus Tipe-2 dengan Penanda Interleukin 6 dan Skor PEDIS Stianila Woinangin Sedu; Mendy Hatibie Oley; Djony Edward Tjandra; Fima Fredrik Langi
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 4 No 1 (2020): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.563 KB) | DOI: 10.24843/JBN.2020.v04.i01.p04

Abstract

Tujuan: Membuktikan bahwa terapi oksigen hiperbarik (TOHB) dapat mempercepat proses penyembuhan ulkus kaki diabetik (UKD) melalui peningkatan kadar IL 6 serum dan dapat memperkecil ukuran serta kedalaman luka dinilai melalui skor PEDIS. Metode: 20 pasien UKD dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok kontrol menjalani penanganan holistik UKD tanpa TOHB, kemudian dilakukan dua kali pemeriksaan kadar IL 6 serum dengan selisih waktu 1 hari, sedangkan kelompok TOHB menjalani penanganan holistik UKD dengan TOHB dan dilakukan pemeriksaan kadar serum IL 6 dua kali yaitu satu hari sebelum TOHB dan 2 jam sesudah TOHB hari pertama. Hasil: Perubahan kadar IL 6 serum terlihat lebih besar pada pasien dengan TOHB dibandingkan pasien kontrol (b=5,82 pg/mL; p=0,025). Sementara untuk skor PEDIS dan ukuran luka, kelompok TOHB jelas lebih kecil dibanding pasien kontrol; Skor PEDIS (p<0,001) dan ukuran luka (p=0,004). Simpulan: TOHB dapat membantu mempercepat proses penyembuhan luka yang dinilai melalui peningkatan kadar IL 6 serum dan penurunan skor PEDIS.
Penanganan Pasien Kanker dan Risiko Infeksi selama Wabah COVID-19 Hendry Irawan; I Wayan Sudarsa
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 4 No 1 (2020): Special Issue COVID-19 - JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.667 KB) | DOI: 10.24843/JBN.2020.v04.is01.p04

Abstract

Pada kondisi wabah COVID-19, maka perlu adanya perhatian khusus pada pasien kanker. Pasien dengan kanker memiliki risiko tinggi apabila terinfeksi COVID-19, memiliki prognosis buruk, dan lebih cepat memburuk dibandingkan pasien tidak kanker. Tindakan preventif untuk menurunkan risiko infeksi COVID-19 di rumah sakit dan penggunaan terapi anti-kanker menjadi hal yang penting diperhatikan untuk membantu pasien kanker selama wabah.
Diagnosis dan Tatalaksana Ruptur Diafragma pada Fase Akut dan Fase Laten Rizky Amaliah
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 4 No 1 (2020): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.61 KB) | DOI: 10.24843/JBN.2020.v04.i01.p05

Abstract

Latar belakang: Diafragma akan ruptur apabila terjadi trauma akselerasi-deselerasi dengan energi yang tinggi akibat dari peningkatan tekanan intraabdomen yang tiba-tiba meninggi. Diagnosis dan tatalaksana akan berbeda pada kasus ruptur diafragma yang terjadi pada fase akut dan fase laten. Kasus: Kami melaporkan dua kasus ruptur diafragma fase akut dan fase laten dengan dua pendekatan operasi yang berbeda. Kasus pertama adalah laki-laki, 59 tahun, dirujuk dengan riwayat kecelakaan lalu lintas 38 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien datang dengan gejala dispnoe dan foto polos toraks yang memperlihatkan adanya herniasi gaster ke rongga toraks kiri melalui defek pada diafragma. Pasien dilakukan CT scan torakoabdominal dan disimpulkan adanya ruptur diafragma kiri pada bagian posterior dengan herniasi gaster dan mesenterium. Pasien dilakukan laparotomi untuk memperbaiki diafragma dengan interrupted suture menggunakan benang nonabsorbable. Kasus kedua adalah wanita, 46 tahun, datang dengan keluhan dispepsia, mual dan muntah. Nyeri tidak hilang dengan tatalaksana dispepsia. Hasil foto polos toraks memperlihatkan elevasi hemidiafragma kiri. Dengan diagnosis eventratio, pasien direncanakan torakotomi posterolateral kiri. Intraoperatif, ditemukan ruptur diafragma kiri dengan herniasi dan perforasi gaster. Setelah ditelusuri pasien mempunyai riwayat kecelakaan lalu lintas 6 bulan sebelumnya. Pasien dilakukan pula laparotomi untuk melakukan adhesiolisis gaster dan paru yang telah melekat dan memperbaiki diafragma dengan interrupted suture menggunakan benang nonabsorbable serta melakukan jahit primer pada perforasi gaster. Simpulan: Tindakan operasi merupakan tindakan yang wajib dilakukan untuk memperbaiki diafragma. Pendekatan yang dipakai baik laparotomi atau torakotomi tergantung dari kelainan organ lainnya, akut atau laten suatu kasus, stabil atau tidak stabil kondisi pasien serta pengalaman operator.