cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota ternate,
Maluku utara
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil
Published by Universitas Khairun
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 45 Documents
PENINGKATAN AKTIVITAS FAGOSITOSIS PADA IKAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis) DENGAN PEMBERIAN IMUNOSTIMULAN (βGLUCAN )YANG DIEKSTRAK DARI JAMUR TIRAM PUTIH (Plerotus ostreatus) Juharni Juharni; Fatma Muchdar
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.756 KB)

Abstract

Ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) merupakan  jenis ikan laut yang mempunyai prospek bagus dan layak dikembangkan sebagai ikan budidaya laut akan tetapi masih terkendala dengan rentannya penyakit terutama diakibatkan oleh bakteri, hal ini disebabkan karena tingkat  kekebalan masih rendah. sehingga Kerugian yang ditimbulkan sangat besar, Usaha penanggulangan penyakit menggunakan vaksin (antigen) yang memicu produksi antibodi spesifik terhadap satu patogen tertentu, sekelompok senyawa biologi dan sintesis yang disebut imunostimulan dapat meningkatkan pertahanan non-spesifik dan spesifik.  Imunostimulan adalah suatu zat  yang mempunyai kemampuan untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap infeksi. Berbagai jenis imunostimulan dapat digunakan, salah satunya adalah Chromium yeast, yang berfungsi juga untuk mengatasi bakteri.Salah satunya adalah jamur jenis “Shiitake”  atau jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus); Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh ß-glukan  yang diekstrak dari jamur tiram putih (Pleuratus ostratus) terhadap aktifitas fagositosis, dan tingkat kelangsungan hidup ikan kerapu bebek dan untuk mengetahui   dosis yang efektif  penggunaan  ß-glucan untuk meningkatan aktifitas fagositosis pada ikan kerapu bebek, manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dalam usaha  meningkatkan aktifitas fagositosis Ikan Kerapu berupa penggunaan βGlucan sebagai immunostimulan terhadap bakteri Vibrio alginoliticusSel ini berada dalam sirkulasi darah dalam bentuk monosit, kemudian akan meninggalkan sirkulasi, menjadi matang dan menetap di jaringan pengikat sebagai macrophage. Macrophage yang berada di dalam jaringan sering disebut sebagai sel kupffer pada hepar, sel debu pada pulmo, osteoklas pada tulang, dan lain-lain.Jadi  aktivitasfagositosis macrophage meningkat setelah pemberian imunostimulan ekstrak jamur tiram putih  mengandung zat yang dapat berperan sebagai macrophage activating factor.  Sehingga Pemberian β- glucan yang diekstrak dari dinding jamur tiram putih  dapat meningkatkan aktivitas fagositosis dan  β- glucan yang paling efektifdapat meningkatkan respon imun ikan kerapu bebek terdapat pada perlakuan 100 µl/ekor.
IDENTIFIKASI IKAN HASIL TANGKAPAN PADA ALAT TANGKAP SERO DI PESISIR KELURAHAN WAETUO DAN KELURAHAN PALLETTE, KABUPATEN BONE Agus Surachmat; Yasser Arafat; Ali Imran
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.507 KB)

Abstract

Jumlah alat tangkap ikan di Kabupaten Bone meningkat seperti halnya dengan produksi perikanan dan armada penangkap ikan. Hal ini disebabkan karena sektor perikanan membuka peluang yang sebesar-memberikan kesempatan untuk bekerja, sehingga kegiatan mengarah ke sektor ini. Hasil penangkapan sero terutama adalah ikan pantai, tetapi sering juga tertangkap ikan-ikan layaran, atau jenis ikan besar lainnya. Untuk daerah-daerah tertentu sero justru untuk menangkap ikan kembung.Kata kunci: sero, pesisir, Waetuo dan Paletta, Bone
GERAKAN HIJAU DI ARUS POROS MARITIM (REHABILITASI MANGROVE MALUKU UTARA SEBAGAI PILAR EKONOMI BIRU) Muh. Arba’in Mahmud
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.69 KB)

Abstract

Paradigma pembangunan nasional Indonesia pada dekade terakhir ini mulai berpijak pada konsepsi ekonomi biru (blue economy), sebagai bagian integral dari ekonomi hijau (green economy). Jika ekonomi hijau berorientasi pada aspek lingkungan dan ekosistem, maka ekonomi biru lebih fokus kepada sumber daya perairan, penciptaan lapangan kerja, dan lebih peduli pada pengentasan kemiskinan. Rehabilitasi Mangrove merupakan salah satu wujud gerakan hijau Pemerintah dapat menjadi salah satu implementasi konsep ekonomi biru di Maluku Utara (Malut), selain aksi-aksi kepedulian mangrove yang dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat dan elemen sosial lainnya. Rehabilitasi Mangrove tersebut sangat mendukung program Poros Maritim Malut baik secara biofisik maupun sosial, ekonomi dan budaya. Rehabilitasi Mangrove di Malut perlu ditingkatkan pengembangannya karena potensi mangrove Malut relatif berlimpah didukung karakteristik wilayah kepulauan. Rehabilitasi Mangrove Malut dapat menggenapi pengembangan ekonomi pesisir yang bersumber dari produksi perikanan tangkap dan potensi kelautan lainnya.Kata kunci : ekonomi hijau, ekonomi biru, gerakan hijau, poros maritim, rehabilitasi mangrove
KAJIAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN YANG OPTIMAL DI KABUPATEN HALMAHERA TENGAH Fikri Rizky Malik; Bahar Kaidati
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.109 KB)

Abstract

Kabupaten Halmahera Tengah (Kab. Halteng) merupakan salah satu wilayah di Provinsi Maluku Utara yang memiliki potensi perikanan yang sangat menjanjikan. Produk perikanan Halmahera Tengah pada tahun 2013 yang terdiri dari berbagai jenis ikan pelagis, ikan karang dan rumput laut mencapai 11.430,60 ton dengan nilai produksi sebesar Rp.118,2 milyar (Badan Pusat Statistik Halteng, 2013). Wilayah fishing ground Halteng sangat luas, meliputi perairan Teluk Weda, Perairan Patani dan Perairan Pulau Gebe. Informasi yang terkait dengan aspek biologi dan ekonomi perikanan Halteng sangat penting dan diperlukan untuk menghasilkan rujukan kebijakan pengelolaan sumberdaya perikanan yang optimal, sehingga menghasilkan kebijakan pemanfaatan sumberdaya perikanan yang ekonomis dan lestari. Bagian dari informasi penting yang dibutuhkan sebagai indikator dalam pengelolaan sumberdaya perikanan secara optimal adalah koefisien daya tangkap, kapasitas daya dukung lingkungan, tingkat pertumbuhan, harga ikan dan biaya pemanfaatan.. Berdasarkan informasi tersebut kemudian didekati dengan penjabaran model matematik, maka dapat ditentukan besaran alokasi input yang digunakan serta rekomendasi jumlah tangkapan yang ekonomis dan lestari.Kata Kunci : Potensi Perikanan Halteng, Pengeloaan sumberdaya Perikanan Yang Optimal, Jumlah Tangkapan Yang ekonomis Dan Lestari
TEKNIK PEMBENIHAN TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima) Raismin Kotta
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.502 KB)

Abstract

Pengamatan terhadap kerang mutiara (Pinctada sp) telah dilakukan terhadap jenis Pinctada maxima dengan tujuan mengetahui teknik pembenihan dan metoda pemeliharaan dari stadium larva hingga ukuran spat di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Pantai (BPBPP) Sekotong Lombok barat. Guna memperoleh anakan kerang mutiara maka dilakukan melalui proses pemijahan. Metoda pemijahan yang digunakan adalah adalah metoda kejut suhu (Thermal shock) dimana terjadi penaikan dan penurunan suhu secara berangsur-angsur dengan tujuan agar seluruh tiram bisa terangsang untuk memijah (spawning) selanjutnya dipindahkan ke bak pemijahan sekaligus bak penetasan dan pemeliharaan larva. Induk tiram yang digunakan pada pengamatan ini adalah tiram mutiara alam (Natural oyster) dengan ukuran panjang induk betina berkisar antara 17.0 – 22.0 cm dan ukuran panjang induk jantan 17.5 – 22.0 cm dengan Tingkat Kematangan Gonad (TKG) stadia IV. Tahapan kegiatan adalah dimulai dari persiapan wadah,seleksi induk,pemijahan,penetasan telur,perawatan larva,sirkulasi air media,kultur pakan alami fitoplankton jenis Nannochloropsis sp,Pavlova lutheri,Isochrysis galbana dengan dosis pemberian meningkat 10% tiap hari dari dosis awal. Selanjutnya untuk menyuburkan pertumbuhan fitoplankton dalam media kultur digunakan pupuk KW 21.Hasil pengamatan menunjukan bahwa pemijahan tiram mutiara berhasil dilakukan dan berdasarkan hasil sampling, jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 90.000.000 butir dengan Hatching rate 70% yaitu 63.000.000 ekor serta hasil panen spat dengan waktu pemeliharaan dalam bak pembesaran selama 40 hari sebanyak 2,5% (1.575.000 ekor) dari total larva yang menetas. Stadia larva tiram mutiara terdiri dari D- Shape, Umbo 1,Umbo 2,Umbo 3,Planty grade,Spat. Stadia paling rawan pada fase larva tiram mutiara adalah pada stadia Umbo 2, karena pada stadia ini larva mulai bermetamorfosis menuju fase plantygrade dimana akan membentuk rangkaian menggunakan benang-benang yang disekresikan. Fase terakhir di hatchery, sebelum dipelihara di laut adalah fase spat yang akan dicapai pada hari pemeliharaan ke 20. Spat hampir sepenuhnya seperti tiram muda, hanya bentuk engsel yang membedakan yaitu masih belum rata.Pada fase spat,larva tidak lagi bersifat planktonik tetapi menjadi sesil yaitu menetap pada substrat dengan cara mensekresikan benang-benang bisus dari kelenjar bisus untuk menempel.Kata kunci:Budidaya; Pembenihan tiram mutiara (Pinctada maxima)

Filter by Year

2016 2017