cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota ternate,
Maluku utara
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil
Published by Universitas Khairun
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 45 Documents
PENAMBAHAN EKSTRAK KUNYIT ( Curcuma domestica) TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Fatma Muchdar; Juharni Juharni
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.34 KB)

Abstract

Ikan merupakan sumber protein hewani untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.Salah satunya adalah  ikan nila (Oreochromis niloticus). Produksi budidaya dapat ditingkatkan dengan penyediaan  bahan pakan yang berkualitas. Maka perlu ada upaya untuk membuat pakan dengan memanfaatkan bahan alamiagar menjadi murah dan biaya produksi menurun. Pakan yang dibuat dengan komposisi nutrisi sesuai dengan kebutuhan ikan. Bahan baku seperti kunyit yang  memiliki zat-zat minyak,kurkuminoid, protein, fosfor, kalium, besi dan vitamin C dan antibiotik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari perbandingan dosis yang berbeda terhadap nafsu makan dan pertumbuhan ikan nila.Bahan yang digunakan ikan rucah, tulang ikan, dedak, jagung dan kunyit diproses sehingga menjadi tepung.Hewan uji yang digunakan benih ikan nila ukuran 12 cm, dengan jumlah 72 ekor yang dipelihara dalam akuariummasing masing diisi 6 ekor. Kunyit dicampur dalam pakan akan menghasilkan  aroma anyir yang kurang sebagaimana C (1,5 gr kunyit dalam pellet)  memiliki bau yang kurang dibandingkan dengan perlakuanyang lain. Kunyit memberikan efek antimikroba sehingga dapat di manfaatkan sebagai pengawet makanan yang mampu menghambat (bakterisidal) terhadap bakteri golongan Bacillus caerus, Bacillus subtilis, dan Bacillus megetenium dan respon yang berbeda-beda. Laju pertumbuhan bobot harianterbesar (100%). Kualitas air berada pada kisaran layak untuk budidaya. Kata Kunci :Pakan buatan, Ekstrak kunyit,Benih ikan nila,Curkumin
KETERKAITAN SIFAT FISIS DAN DISTRIBUSI NUTRISI DI LAUT MALUKU CONJUNCTION OF PHYSICAL PROPERTIES WITH THE NUTRIENTS DISTRIBUTION OF SEAWATER ACROSS MALUKU SEA-INDONESIA Idha Y Ikhsani; Gerry G Salamena; Johanis Lekalette; Malik S Abdul
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1024.682 KB)

Abstract

Laut Maluku yang berada di bagian timur negara kepulauan Republik Indonesia merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik dan Laut Sulawesi di sebelah utara serta Laut Banda di bagian selatan. Banyak pulau, baik besar maupun kecil mengelilingi wilayah ini, seperti Pulau Sulawesi, Halmahera, Seram dan Buru. Kawasan ini juga merupakan pintu masuk jalur timur arus lintas Indonesia (arlindo), kombinasi tersebut di atas menjadikan Laut Maluku memiliki karakter yang unik. Namun demikian, ulasan dan pembahasan mengenai Laut Maluku masih sangat jarang ditemukan. Pada tulisan ini akan dipaparkan hubungan antara sifat fisis dengan distribusi nutrien (fosfat dan nitrat) di 21 stasiun pengamatan sepanjang Laut Maluku. Penelitian dilakukan dengan kapal riset Baruna Jaya VII. Pengumpulan parameter fisis seperti suhu dan salinitas dilakukan secara in-situ dengan sensor CTD, sedangkan analisis nutrien dilakukan dengan metode spektofotometri. Perangkat lunak Ocean Data View (ODV) digunakan untuk visualisasi data numerik. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa konsentrasi nitrat dan fosfat berkisar antara 0,02–11,42 dan 0,04–12,46 μmol/L, dengan rasio N:P dari 0,01 hingga 47,98. Konsentrasi nutrien yang cenderung rendah di permukaan menunjukkan besarnya konsumsi nutrien pada daerah tersebut. Sedangkan proses regenerasi dan remineralisasi cenderung dominan pada area yang lebih dalam. Berdasarkan profil suhu dan salinitas, diketahui bahwa proses fisis memiliki pengaruh terhadap sebaran nutrien.Kata kunci: Laut Maluku, nitrat, fosfat, proses fisik
KAJIAN GENETIKA KETAM KENARI (Birgus latro) DI KABUPATEN HALMAHERA BARAT DAN PULAU TERNATE, PROVINSI MALUKU UTARA Rugaya H Serosero; Suryani Suryani; Rina Rina
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.997 KB)

Abstract

Maluku Utara merupakan salah satu wilayah distribusi ketam kenari (Birgus latri) di Indonesia. Keberadaanya tidak pada semua daerah di Maluku Utara namun hanya pada beberapa daerah tertentu. Penelitian tentang ketam kenari di Maluku Utara masih jarang dilakukan. Beberapa tahun terakhir ini baru dilakukan penelitian di Kabupaten Halmahera Tengah khususnya di Pulau-Pulau Patani, Yoi, oleh beberapa peneliti namun keberadaan ketam kenari di daerah lainnya di Maluku Utara belum diteliti dan dikaji secara detil. Ketam kenari merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang tergolong langka dan dilindungi serta tergolong sebagai sumberdaya yang kekurangan data. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengungkapkan informasi tentang ketam kenari di Maluku Utara khususnya di Kabupaten Halmahera Barat dan Pulau Ternate yang meliputi kajian ekologi dan biologi serta ganetikanya sehingga dapat dijadikan sebagai informasi dalam kegiatan domestikasinya. Hasil kajian di lokasi studi terlihat bahwa ketam kenari sebagai salah satu sumberdaya yang dilindungi memiliki potensi yang cukup besar di Desa Idamdehe Kabupaten Halmahera Barat dan Kelurahan Takome Pulau Ternate Provinsi Maluku Utara. Secara ekologi, karakteristik habitat di kedua lokasi berbeda tetapi memiliki vegetasi yang sama. Pengamatan parameter biologi yaitu tingkah laku makan dengan kamera CCTV menunjukkan bahwa ketam kenari lebih menyukai kelapa disbanding makanan lainnya namun makanan yang lain tetap dimakan meskipun jumlahnya tidak banyak. Hasil pengamatan juga terlihat bahwa aktivitas ketam kenari aktif di atas jam 18.00 sedangkan di siang hari ketam terlihat beristirahat. Berdasarkan pengamatan isi lambung terlihat bahwa kelapa memiliki frekuensi kejadian 100%. Kelangsungan hidup ketam kenari selama pengamatan adalah 100%. Berdasarkan hasil analisis matriks jarak dan konstruksi pohon filogenetik terlihat bahwa kepiting kelapa antara Desa Idamdehe Kecamatan Jailolo Kabupaten Halmahera Barat dan Desa Takome Pulau Ternate memiliki hubungan kekerabatan yang erat di dalam spesies yang sama.Kata kunci: Ketam kenari, ekologi, biologi, genetika, Idamdehe, Takome
UJI COBA PENERAPAN TEKNOLOGI BUDIDAYA KERANG MUTIARA (Pinctada maxima) DI PERAIRAN TERNATE SELATAN, MALUKU UTARA Safar Dody
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.179 KB)

Abstract

Usaha budidaya kerang mutiara di beberapa tempat di wilayah Indonesia umumnya hanya dapat dilakukan oleh badan usaha yang telah menguasai teknologi budidaya dari hulu sampai ke hilir dengan dukungan modal usaha yang relatif besar. Melalui sistem kemitraan,segmentasi pembesaran anakan kerang mutiara hingga mencapai ukuran layak jual dapat dijadikan sebagai peluang usaha bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan dan tingkat kelolosan hidup anakan (spat) kerang mutiara di perairan Ternate Selatan, Maluku Utara. Informasi yang didapatkan dari hasil penelitian ini sebagai langkah awal untuk pelaksanaan kegiatan budidaya sistem kemitraan antara lembaga riset (LIPI) dan kelompok nelayan pelaksana budidaya serta para pemangku kepentingan (stake holder) di Maluku Utara.Larva kerang mutiara yang telah menempel pada lembaran spat kolektor dipelihara pad kolom air di laut, kemudian dilakukan penjarangan setelah anakan kerang mutiara mencapai ukuran rata-rata15 mm.Pemeliharaan selanjutnya menggunakan metoda tali rentang (long line method)dan pengamatan pertumbuhannya dilakukan setiap bulan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa bahwa pertumbuhan mutlak dan pertumbuhan harianterpanjang terjadi kelompok kerang yang dipelihara pada kedalaman 9 m yakni 28,41 mm dan 0,49 mm/hari. Sintasan terpanjang yang dihasilkan selama pemeliharaan mencapai 72.5 % pada kelompok kerang yang dipelihara pada kedalaman 3 m dan 9 m. Nilai rata-rata parameter perairan setempat berupa suhu adalah 29 oC, salinitas adalah 31o/oo, oksigen terlarut 6,0 ml/l dan pH 7.8.Kata kunci: Kerang mutiara, pembesaran, Maluku Utara
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN SPAT TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima) DI PERAIRAN TERNATE SELATAN PULAU TERNATE Raismin Kotta
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.853 KB)

Abstract

Perairan Pulau Ternate bagian selatan merupakan salah satu lokasi yang potensial untuk melakukan kegiatan budidaya biota laut termasuk tiram mutiara (Pinctada maxima) . Hal ini disebabkan karena ketersediaan pakan alami (Phitoplankton) serta kondisi perairan termasuk arus yang ideal merupakan faktor utama dalam mendukung keberlanjutan usaha tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di perairan ternate selatan (Stasiun Penelitian Lapangan LIPI Kecamatan Sasa Kota Ternate Selatan) selama dua (2) bulan yaitu dari bulan Mei – Juni 2017. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui laju pertumbuhan spat tiram mutiara (Pinctada maxima) pada berbagai tingkat kedalaman serta presentase kelangsungan hidup spat yang dipelihara menggunakan metoda tali rentang (Long line) di perairan ternate selatan pada. Tiram mutiara yang dipelihara dari ukuran spat yang masih menempel pada media kolektor yang terbuat dari serat monofilament sampai dengan ukuran kira-kira 4-5 mm dan ditebar pada kemudian ditebar pada poket spiral dengan kepadatan 75-100 ekor, dibungkus waring dan digantung pada long line, Pengukuran panjang cangkang dilakukan menggunakan penggaris dengan ketelitian 1 mm. Hasil Penelitian menunjukan bahwa selama masa pemeliharaan dua (2) bulan, Laju pertumbuhan spesifik rata-rata panjang cangkang 19,74 mm,sedangkan faktor kualitas air yaitu Suhu berkisar 29,6-30,3 0C,salinitas 33-35 ppt,pH 7,1-7,2 serta kecerahan 10-13 m, serta tingkat mortalitas yang rendah. Dari hasil penelitian ini diperoleh laju pertumbuhan cukup baik pada kedalaman pemeliharaan 2 meter dan diikuti oleh kedalama 6,4 dan 8. Hal ini didukung oleh kondisi perairan yang memadai,Pola arus yang baik dimana msh terdapat terumbu karang dan lamun yang melimpah. maka dapatlah diprediksikan bahwa Perairan ternate selatan masih produktif untuk pemeliharaan tiram mutiara (Pinctada maxima) dan dapat di tingkatkan pemeliharaannya sampai ukuran siap di adakan penyuntikan/Insersi (size 10 – 12 cm) untuk dilakukan tahapan selanjutnya yakni penyuntikan/insersi guna menghasilkan butiran mutiara. Melihat kondisi riel di lokasi penelitian tentang pertumbuhan dan perkembangan tiram mutiara (Pinctada maxima) yang di pelihara memberikan indikasi bahwa budidaya tiram mutiara di perairan ternate selatan harus di dorong dan dapat dijadikan salah satu bidang usaha bagi masyarakat pesisir di wilayah ternate selatan khususnya dan Maluku utara pada umumnya dengan melibatkan pengusaha lokal, pemerintah daerah (Dinas Perikanan Kelautan) serta Lembaga riset (LIPI dan Universitas) dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dari subsektor budidaya laut.Kata kunci: Budidaya, kerang mutiara, pertumbuhan, Pinctada maxima 
STRATEGI PENGELOLAAN SUMBERDAYA KEPITING KELAPA (Birgus latro) DI PULAU LAIGOMA KABUPATEN HALMAHERA SELATAN Supyan Supyan; Suryani Suryani
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (884.545 KB)

Abstract

Kepiting kelapatermasuk salah satu biota penyusun ekosistem pantai yang saat ini mengalami ancaman penurunan populasi.  Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya adalah tingkat eksploitasi yang tinggi, rusaknya habitat alaminya, pembukaan lahan pemukiman, dan pekebunan.  Kepiting kelapaini dilindungi melalui Surat keputusan Menteri Kehutanan No.12/KPTS-II/Um/1987, dan menurut International Union for Conservation of the Nature (IUCN), kepiting kelapasudah dikatagorikan sebagai spesies yang jarang dan terancam punah  ‘’endengared spesies’’ atau tercatat dalam Red Data Book.  Di Indonesia Kepiting kelapa atau kepiting kelapatersebar di bagian timur yakni di pulau-pulau Sulawesi Utara, Kepulauan Togian sampai Kepulauan Talaud, Maluku, Maluku Utara, Irian Jaya dan di bagian timur Nusa tenggara Timur, dan sebagian wilayah Indonesia bagian Utara, dan Timur.  Walaupun hewan ini sudah terancam punah, namun hingga saat ini upaya perlindungan terhadap hewan ini  hanya sebatas penetapan hewan ini sebagai hewan yang dilindungi. Belum ada upaya penetapan suatu daerah atau kawasan konservasi bagi keberlangsungan hidup Kepiting yang jarang ini. Konflik antara kepentingan pelestariaan Kepiting kelapa pada alam asli dan desakan permintaan konsumen menyebabkan populasi kepiting kelapasemakin berkurang. Dengan berbagai kepentingan diatas, maka perlu dilakukan suatu penelitian mengenai perspektif masyarakat dalam pengelolaan dan upaya konservasi kepiting kelapa(Birgus latro).  Penelitian ini dilakukan dari bulan April sampai bulan Oktober 2016 di Pulau Laigoma Kabupaten Halmahera Selatan Propinsi Maluku Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pastipasipasi langsung dilapangan dengan fokus kajian karakteristik populasi kepiting kelapadan perspektif masyarakat terhadap pengelolaan kepiting kenari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat ini kepadatan populasi kepiting kelapa di Pulau Laigoma masih tinggi dengan nilai kepadatan 0.018 m2  atau dapat dikatakan bahwa dalam 57 m2 terdapat 1 ekor individu. Di lokasi penelitian, sebagian besar telah memahami dan menerima bahwa populasi kepiting kelapadi wilayah mereka telah terjadi penurunan. Rendahnya pengatahuan mereka tentang pentingnya mengatur waktu tangkap dan ukuran tangkap terhadap sumberdaya alam ini menjadi penyebab terjadinya over eksploitasi terhadap hewan ini.  Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa pengembangan dan pengelolaan Kepitng kelapa harus diprioritaskan pada peningkatan pemahaman masyarakat mengenai status hukum Kepiting kelapa, melakukan kajian yang komprehensip terhadap aspek bioekologi Kepiting kelapa, proteksi area pemijahan dan pembesaran dengan metode penangkaran untuk menyediakan stok F2, pemantauan secara sistematis terhadap populasi kepiting kelapa yang ada di Pulau Laigoma oleh instansi yang berwenang di bidang lingkungan atau masyarakat sekitar pulau yang peduli dengan kepiting ini.   Kata kunci : Birgus latro, populasi, pengelolaan, persepsi masyarakat, Laigoma
ANALISIS KIMIA IKAN TUNA ASAP PADA BEBERAPA PASAR TRADISIONAL DI TOBELO, KABUPATEN HALMAHERA UTARA Sophia N. M. Fendjalang
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.117 KB)

Abstract

Ikan tuna merupakan salah satu ikan laut yang biasanya dikonsumsi oleh masyarakat dan memiliki kandungan protein tinggi yang baik bagi tubuh manusia. Oleh karena itu ikan tuna asap menjadi salah satu produk industri rumah tangga yang cukup populer. Pengasapan ikan tuna dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan umur simpan ikan tuna. Dalam proses pengasapan, kandungan kimia dalam ikan tuna seperti kadar air, kadar lemak, kadar protein, kadar abu dan kadar histamin akan mengalami perubahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan kimia ikan tuna asap yang dijual di beberapa pasar tradisional ditinjau dari kandungan gizi dan kadar histamin. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis proksimat dan analisis kandungan histamin. Hasil penelitian diperoleh nilai kadar air berkisar dari 57.7% - 64.6%, kadar protein 30.5% - 37.7%, kadar lemak 1.5% – 2.6%, kadar abu 1.6% - 1.9%. Kadar histamin ikan tuna asap dari ketiga pasar berkisar antara 1.9 mg/100 g – 2.46 mg/100 g. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa kadar air dan lemak dari ketiga produk dari masing-masing pasar tradisional sesuai dengan standar SNI. Kadar protein cukup tinggi dengan rata-rata sebesar 33.6%; kadar abu rata-rata 1.8%. Kadar histamin ikan tuna asap pada ketiga pasar tradisional berkisar antara 19 mg/100 g – 24.6 mg/100 g.Kata kunci: histamin, ikan asap, proksimat
ANALISIS STRATEGI PEMASARAN RUMPUT LAUT GRACILARIA SP DI KABUPATEN BONE (STUDI KASUS DI KECAMATAN SIBULUE) Muhammad Syahrir
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.769 KB)

Abstract

ini bertujuan untuk menganalisis bauran pemasaran rumput laut Gracilaria sp, dan strategi pemasaran rumput laut Gracilaria sp di kabupaten Bone. Rumput laut ini menjadi salah satu komoditas utama Kabupaten Bone dari sektor perikanan. Kendala utama yang dihadapi pembudidaya rumput laut adalah pemasaran dan kestabilan harga. Penelitian ini penting sebagai bahan informasi bagi pembudidaya, pengusaha dan pemerintah dalam menggeluti usaha ini. Penelitian dilaksanakan dari bulan Pebruari sampai bulan April 2017, di kecamatan Sibulue, kabupaten Bone. Populasi penelitian adalah semua pembudidaya Gracilaria sp sebanyak 567 orang. Penentuan jumlah sampel menggunakan monogram Harry King dengan jumlah sampel terpilih 90 orang. Untuk mengetahui pembudidaya yang menjadi sampel digunakan teknik sampling acak sederhana. Pengambilan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, kuisener, dan diskusi kelompok terfokus. Analisa data dengan menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan baruan pemasaran rumput laut Gracilaria sp di kabupaten Bone tidak menguntungkan pembudidaya, keuntungan terbesar diperoleh para pedagang. Strategi pemasaran Gracilaria sp yaitu : melakukan kemitraan langsung dengan industri pengolahan dan eksportir, menata distribusi pemasaran yang menguntungkan semua pelaku pasar, meningkatlan kualitas produk sesuai standar pasar, melakukan promosi produk Gracilaria sp, fokus dengan pasar yang sudah ada, serta memperluas jaringan passar baru, membentuk kelompok untuk meningkatkan posisi tawar dalam memasarkan produk Gracilaria sp, dan lebih proaktif mencari informasi pasar.Kata kunci : Strategi, pemasaran, rumput laut, gracilaria
BUDIDAYA RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii BERKELANJUTAN DI PERAIRAN INDARI KECAMATAN BACAN BARAT KABUPATEN HALMAHERA SELATAN PROPINSI MALUKU UTARA M Irfan
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.642 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status keberlanjutan usaha budidaya rumput laut K.alvarezii di perairan Indari Kecamatan Bacan Barat Propinsi Maluku Utara. Pengumpulan data dengan metode observasi dan wawancara yang dilakukan kepada petani rumput laut (sebanyak 30 orang). Data-data keberlanjutan budidaya rumput laut terdiri atas: data dimensi ekologi, dimensi teknis, dimensi ekonomi/kelayakan finansial, dimensi sosial budaya, dan dimensi kelembagaan. Analisis keberlanjutan budidaya rumput laut K.alvarezii dengan menggunakan Rapfish (Rapid Appraissal for Fisheries) untuk mengevaluasi keberlanjutan dari perikanan secara multidisipliner.  Hasil analisis dari RAP-RL menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan pada dimensi ekologi sebesar 82.67% (status berkelanjutan baik), dimensi teknis sebesar 76.36% (berkelanjutan baik), dimensi ekonomi/kelayakan finansial sebesar 44.57% (kurang berkelanjutan), dimensi sosial budaya sebesar 73.19% (berkelanjutan baik), dan dimensi kelembagaan sebesar 55.07% (cukup berkelanjutan). Sedangkan nilai indeks keberlanjutan multidimensi sebesar 50.53% (status cukup berkelanjutan). Kata Kunci: budidaya rumput laut, berkelanjutan
KESESUAIAN LAHAN BUDIDAYA IKAN KERAPU (EPHINEPHELUS SSP) BERDASARKAN PARAMETER FISIK, KIMIA DAN BIOLOGI DI PERAIRAN LANGGE KABUPATEN GORONTALO UTARA Citra Panigoro; Juliana Juliana
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan Kerapu (Ephinephelus sp)  merupakan  komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi, sehingga sangat sesuai untuk dikembangkan sebagai salah satu komoditas perikanan budidaya di Kabupaten Gorontalo Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian lahan untuk pengembangan budidaya ikan kerapu (Ephinephelus spp) berdasarkan parameter fisika, kimia dan biologi perairan. Pengambilan data dilakukan secara langsung pada tiga stasiun penelitian yang telah ditentukan. Data penelitian difokuskan pada 12 parameter perairan yang terdiri dari kedalaman, kecerahan perairan, kecepatan arus, suhu perairan, substrat dasar, pH, oksigen terlarut, salinitas, phospat, nitrat dan kepadatan phytoplankton. Data dianalisa dengan menggunakan indeks kesesuaian berdasarkan skoring dan  matriks kesesuaian budidaya ikan kerapu dan dilanjutkan dengan menggunakan SIG untuk membuat peta kesesuaian. Kesesuaian lahan dikategorikan kedalam tiga kelas yaitu sangat sesuai (S1), sesua (S2) dan tidak sesuai (S3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga stasiun penelitian yang terdapat di perairan Langge termasuk dalam kategori sangat sesuai (S1) untuk dijadikan lokasi pengembangan budidaya laut dengan total nilai indeks kesesuaian antara 86 – 94 berdasarkan skor pada matriks kesesuaian budidaya ikan Kerapu.  Kata Kunci : Ephinephelus sp, Kesesuaian Lahan, Parameter Fisik, Kimia dan biologi Perairan,

Filter by Year

2016 2017