cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Desain Komposter Sampah Pasar sebagai Solusi Persampahan di Negara Berkembang (Studi Kasus: Jakarta, Indonesia) Argiffari Akhmad; Nova - Ulhasanah; Mega Mutiara Sari
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 2 (2022): April 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.2.356-364

Abstract

Tingginya timbulan sampah makanan di negara berkembang seperti Indonesia, membuat komposting menjadi salah satu alternatif pengolahan sampah yang sering dilakukan oleh masyarakat. Disamping prosedurnya yang mudah, biaya pengolahan pun relatif lebih murah dibanding jenis pengolahan lainnya. Namun permasalahan produksi air lindi terutama pada sampah pasar yang memiliki kadar air yang sangat tinggi sering membuat masyarakat menghentikan aktifitas kompostingnya. Bau yang tidak sedap dan terganggunya estetika akibat penggunaan komposter yang tidak sesuai dengan karakteristik sampah juga dialami oleh tempat pengolahan sampah 3R (TPS 3R) di Kelurahan Grogol Selatan, Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk merancang komposter yang dapat menyelesaikan permasalahan air lindi tersebut. Metode penelitian pada studi ini adalah eksperimental, dilakukan pengujian alat rancangan yang berbeda dengan yang telah ada sebelumnya untuk dilakukan komparasi. Komposter dirancang menggunakan drum HDPE 150L dengan pembuatan sekat antara ruangan material sampah dengan ruangan penampungan air lindi (beserta selang indikator air lindi). Ventilasi pasif dari pipa PVC juga dirancang dibagian tengah komposter yang berperan sebagai sirkulasi udara dan pengaduk sehingga pasokan oksigen dapat terjaga dengan baik. Hasil rancangan komposter telah diuji dan menghasilkan kompos berkualitas baik menurut SNI 19-7030-2004. Durasi komposting juga berhasil dipersingkat menjadi 30 hari untuk menghasilkan kompos matang (komposter biasa 40-60 hari).ABSTRACTHigh generation of food waste in developing countries such as Indonesia makes composting an alternative to waste processing that is often done by the communities. Besides the easy procedure, the processing cost is relatively cheaper than other types of processing. However, the problem of leachate production, especially in market waste which has a very high-water content, often makes people stop their composting activities. An unpleasant odor and aesthetic disturbance due to the use of a composter that is not in accordance with the characteristics of the waste are also experienced by 3R waste processing site (TPS 3R) in South Grogol Sub-district, Jakarta. This study aims to design a composter that can solve the leachate problem. The research method in this study is experimental, testing different design tools with previous ones for comparison. The composter is designed using a 150L HDPE drum with the manufacture of a bulkhead between the waste material room and the leachate storage room (along with the leachate indicator hose). Passive ventilation from PVC pipes is also designed in the middle of the composter which acts as air circulation and stirrer so that oxygen supply can be maintained properly. The results of the composter design have been tested and produce good quality compost according to SNI 19-7030-2004. Composting duration was also successfully shortened to 30 days to produce mature compost (ordinary composter 40-60 days).
Keterkaitan Sistem Penyediaan Air Bersih dan Angka Penyakit Diare di Daerah Pesisir Kelurahan Kangkung Esya Desfia Putri; Alfian Zurfi; Endang Setiawati; Yuni Lisafitri
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 1 (2022): January 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.1.158-167

Abstract

Diare merupakan penyakit berbasis lingkungan yang sering dikaitkan dengan kejadian kematian. Kurang baiknya sistem penyediaan air bersih dapat meningkatkan kejadian diare. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi kejadian diare, mengkaji kualitas mikrobiologi sampel air, status sistem yang menyediakan air bersih, dan menganalisis korelasi antara angka penyakit diare dan sistem penyediaan air di daerah pesisir Kangkung, Bandar Lampung. Populasi pada kajian ini adalah seluruh masyarakat di wilayah pesisir Kelurahan Kangkung. Penentuan sampel dengan teknik random sampling. Data penelitian didapatkan melalui kuesioner dan analisis dilakukan dengan uji chi-square, sedangkan total coliform dilakukan dengan metode Most Probable Number. Hasil penelitian menunjukkan proporsi terjadinya diare sebanyak 22,2%, kandungan Coliform pada air PAM 0 MPN/ml, air suteng sebanyak 1100 MPN/ml, dan air sumur sebanyak 1100 MPN/ml. Daerah pesisir kelurahan Kangkung, sistem penyediaan air bersihnya cukup baik karena lebih banyak responden yang masuk dalam katagori memenuhi syarat dibandingkan yang tidak. Namun, hasil analisis menunjukkan tidak ada keterkaitan yang signifikan antara sistem yang menyediakan air bersih dengan kejadian diare di wilayah pesisir Kelurahan Kangkung.ABSTRACTDiarrhea is one of the disease based in environmentally that is often associated with death. Poor system of clean water supply can increase the incidence of diarrhea. The purpose of this research to identify frequency of diarrhea, to examine the microbiological quality of water samples, the status of the system that ptovides clean water, and to analize the correlation between diarrhea disease rate and the water supply system in the coastal areas of Kangkung, Bandar Lampung City. The population in this research were an entire comunity in the coastal area of Kangkung Village. Determination of the sample selection by the random sampling technique. The research data was obtained through a questionnaire and then analyzed was carried out using the chi-square test. Meanwhile, the total coliform test was carried out using the Most Probable Number method. The results showed the proportion of diarrhea was  22.2%, total Coliform in water from drink water company was 0 MPN/ml, Suteng water was 1100 MPN/ml, and well water was 1100 MPN/ml. In the coastal area of the Kangkung, the clean water supply system is quite good because more respondents are included in the eligible category than those who do not. However, the results of the analysis show that there is no significant correlation between the system that provides clean water and the incidence of diarrhea in the coastal area of Kangkung Village.
Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kesadarana Masyarakat Pesisir Terhadap Pengelolaan Sampah di Perairan Teluk Ambon Kota Ambon Marthinus J Saptenno; Lidya BE Saptenno; Natelda R Timisela
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 2 (2022): April 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.2.365-374

Abstract

Penelitian bertujuan menganalisis faktor yang mempengaruhi tingkat kesadaran masyarakat pesisir terhadap pengelolaan sampah di perairan Teluk Ambon Kota Ambon. Penentuan sampel dilakukan secara simple random sampling dengan jumlah responden sebesar 148 orang. Analisis Data penelitian dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis secara kualitatif untuk menjelaskan kesadaran masyarakat terhadap sampah di daerah pesisir sedangkan analisis data secara kuantitatif dilakukan untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah menggunakan analisis SEM-PLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan sampah domestik terutama sampah plastik di Teluk Ambon bagian dalam mengalami peningkatan dalam 20 tahun terkahir. Kesadaran masyarakat yang dilihat dari aspek pengetahuan, sikap dan perilaku menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat rendah terhadap kesadaran dalam pengelolaan sampah. Sikap dan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah baik, namun masih harus ditingkatkan terus kesadaran tentang pentingnya pengelolaan sampah bagi masyarakat pesisir. Model struktural berdasarkan nilai t-value, menunjukkan bahwa konstruk pengetahuan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konstruk perilaku, karena nilai t-nya (t Pengetahuan -> Perilaku =0,472 lebih kecil dari nilai yang disarankan (t-value < 1,96). Pada konstruk perilaku memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konstruk kesadaran, nilai t-nya > 1,96 (t perilakuàkesadaran=3,647). Sementara itu, konstruk sikap memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konstruk perilaku, nilai t-nya (t sikapà perilaku= 6,290) lebih besar dari nilai t yang disarankan (t > 1,96). Nilai R-Square, diperoleh nilai untuk konstruk kesadaran dan perilaku masing-masing sebesar 0,235 dan 0,686. Hal ini dapat dijelaskan bahwa untuk setiap peningkatan sikap dapat memberikan pengaruh terhadap kesadaran dan perilaku masing-masing sebesar 23,5% dan 68,6%. Sedangkan sisanya yaitu masing-masing sebesar 76,5% dan 31,4% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model.ABSTRACTThis study aims to analyze the factors that influence the level of awareness of coastal communities towards waste management in the waters of Ambon Bay, Ambon City. Determination of the sample is done by simple random sampling with the number of respondents amounted to 148 people. Analysis of research data was carried out qualitatively and quantitatively. Qualitative analysis is to explain public awareness of waste in coastal areas, while quantitative data analysis is carried out to analyze factors that influence public awareness of waste management using SEM-PLS analysis. The results showed that the density of domestic waste, especially plastic waste in the inner Ambon Bay, has increased in the last 20 years. Public awareness seen from the aspect of knowledge, attitude and behavior shows that public knowledge is low on awareness in waste management. The attitude and behavior of the community in waste management is good, but awareness must continue to be increased about the importance of waste management for coastal communities. The structural model based on the t-value shows that the knowledge construct does not have a significant effect on the behavioral construct, because its t-value (t Knowledge -> Behavior = 0.472 is smaller than the recommended value (t-value < 1.96). The behavioral construct has a significant effect on the construct of consciousness, the t-value is > 1.96 (t behavioràawareness=3.647). Meanwhile, the attitude construct has a significant influence on the behavioral construct, the t-value (t attitudeàbehavior) = 6.290) which is greater than the recommended t value (t > 1.96). The value of R-Square, obtained values for the constructs of consciousness and behavior of 0.235 and 0.686, respectively. This can be explained that for each increase in attitude can have an effect on awareness and behavior are 23.5% and 68.6%, respectively, while the remaining 76.5% and 31.4% are influenced by other factors outside the model, respectively.
Pengaruh Penambahan Gliserol Mentah Limbah Industri Biodiesel Terhadap Produksi Biogas dari Kotoran Sapi Menggunakan Anaerobic Digester Sistem Batch Nelsy Mariza Syahyuda; Fadjar Goembira; Shinta Silvia
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 3 (2022): July 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.3.465-473

Abstract

Biogas adalah gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik dalam menguraikan bahan organik dengan kandungan utama metana (CH4) dan karbon diokasida (CO2). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh gliserol mentah dengan campuran kotoran sapi dalam memproduksi biogas. Digester menggunakan sistem batch skala laboratorium. Variasi pada penelitian ini adalah campuran kotoran sapi dengan penambahan gliserol mentah sebanyak 0, 4, 8, dan 12%. Semua variasi dengan volume total 350 mL. Pengukuran volume biogas dilakukan setiap hari. Pengukuran konsentrasi CH4 dan CO2 diukur menggunakan alat Geotech Biogas 5000 analyzer. Parameter yang diukur adalah COD, BOD, TS dan VS dan untuk pH diukur di awal serta di akhir proses. Suhu lingkungan diukur setiap hari dengan interval waktu selama 30 menit menggunakan alat Weather Station model PCE-FWS 20. Hasil penelitian menunjukkan lama waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi biogas adalah 14 hari. Volume biogas tertinggi adalah 836 mL, pada variasi penambahan gliserol mentah 12%. Gliserol mentah yang ditambahkan memiliki COD 475,2 mg/L, BOD 133,22 mg/L, TS 20% dan VS 14,8%. Konsentrasi CH4 tertinggi juga didapatkan dari variasi penambahan gliserol mentah 12% yaitu 44,1%. Sedangkan volume biogas terendah adalah 292 mL pada digester tanpa penambahan gliserol mentah. Konsentrasi CH4 terendah didapatkan pada variasi penambahan gliserol mentah 8% yaitu 15,5%. Identifikasi bakteri yang berperan dalam proses produksi biogas berdasarkan uji biokimia dengan Bergey’s manual adalah genus Bacillus. Bakteri ini berperan dalam proses pendegradasi bahan organik yang ada di dalam digester. ABSTRACTBiogas is a gas produced by anaerobic activity in decomposing organic matter with the main content of methane (CH4) and carbon dioxide (CO2). This study aims to analyze the effect of crude glycerol with a mixture of cow dung in producing biogas. The digester used in this research was a laboratory-scale batch system. The variation in this study was a mixture of cow dung with the addition of 0, 4, 8, and 12% crude glycerol. All variations with a total volume of 350 mL. The measurement of the biogas volume was carried out every day. Measurements of CH4 and CO2 concentrations were measured using a Geotech Biogas 5000 analyzer. The COD, BOD, TS, and VS, and pH parameters were measured at the beginning and the end of the process. With parameters COD 475.2 mg/L, BOD 133.22 mg/L, TS 20%, and VS 14.8%. The ambient temperature was measured every 30 minutes using a PCE-FWS 20 Weather Station model. The results showed that the length of time needed to produce biogas was 14 days. The highest biogas volume was 836 mL, when 12% cured glycerol was added. The highest CH4 concentration of 44,1% was also obtained from variations in the addition of 12% crude glycerol. The lowest biogas volume of 292 mL was obtained from the absence of crude glycerol in the reactor. The lowest CH4 concentration was found in the variation of the addition of 8% crude glycerol, namely 15.5%. Identification of bacteria that play a role in the biogas production process based on biochemical tests using Bergey's manual is the Bacillus genus. These bacteria contribute in these bacteria contribute in organic matter degradation inside the digester.
Pengaruh Sistem Aerasi Intermittent terhadap Removal Organik dan Nitrogen pada Pengolahan Air Limbah Domestik Kamar Mandi Umum Afifah Munfaridah; Sri Puji Saraswati; Johan Syafri Mahathir
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 1 (2022): January 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.1.102-114

Abstract

Sebuah instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dibangun untuk mengolah air limbah greywater dan blackwater dari toilet dan kamar mandi umum Wisdom Park UGM yang terletak di Dusun Kuningan, Catur Tunggal, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Unit reaktor proses IPAL tersebut terdiri dari sedimentasi, ekualisasi, aerasi 1, aerasi 2 dan secondary clarifier dengan sistem pengolahan berupa aerasi intermitten dan aerasi kontinyu dengan menggunakan Microbubble Generator (MBG) dan blower. Saat ini belum pernah dilakukan kajian terkait efektivitas sistem proses biologi pada IPAL dalam menurunkan kandungan organik dan nitrogen air limbah. Suatu sistem aerasi intermitten diaplikasikan dengan tujuan untuk mendegradasi kandungan organik dan nitrogen yang terkandung dalam air limbah, juga dapat meningkatkan dan meratakan suplai oksigen sehingga kemampuan penyerapan oksigen menjadi lebih besar. Evaluasi IPAL dilakukan selama 82 hari pengamatan dengan parameter air limbah yang diujikan terdiri dari COD, NH3-N, NO3-N, NO2-N, dan PO4-P yang nantinya akan dibandingkan dengan PerMenLHK No 68 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik. Hasil performa removal kontaminan di tangki aerasi 1 dan tangki aerasi 2 tidak jauh berbeda, sehingga menunjukkan bahwa pengolahan di tangki aerasi 2 tidak begitu efektif. Pada tangki aerasi 1 rerata removal COD sebesar 73,97±17,65%, removal PO4-P sebesar 53,31±13,72%, removal total nitrogen sebesar 1,57±164,29%, efisiensi nitrifikasi sebesar 82,26±16,47% dan efisiensi denitrifikasi sebesar -66,4±373,37%. Sedangkan, total konsumsi energi yang dibutuhkan untuk pengolahan air limbah di IPAL dengan debit rerata 82,06 l/hari sebesar 43,13 kWh/m3 dan biaya sebesar Rp 62.326,00/m3. Dengan konsumsi energi terbesar dihasilkan untuk peyisihan fosfat yaitu 2,99 kWh/gPO4-P, penyisihan total nitrogen sebesar 1,33 kWh/gTN, penyisihan ammonia sebesar 0,88 kWh/gNH3-N, dan penyisihan COD sebesar 0,7 kWh/gCOD. ABSTRACTA wastewater treatment plant (WWTP) was built to treat greywater and blackwater from the public toilets and bathrooms of Wisdom Park UGM located in Dusun Kuningan, Catur Tunggal, Sleman, Special Region of Yogyakarta. The WWTP process reactor unit consists of sedimentation, equalization, aeration 1, aeration 2 and secondary clarifier with a processing system in the form of intermittent aeration and continuous aeration using a Microbubble Generator (MBG) and a blower. Currently, no study has been conducted regarding the effectiveness of the biological process system in WWTPs in reducing the organic and nitrogen content of wastewater. An intermittent aeration system is applied with the aim of degrading organic and nitrogen content contained in wastewater, as well as increasing and leveling oxygen supply so that oxygen absorption capacity becomes greater. The WWTP evaluation was carried out for 82 days of observation with the tested wastewater parameters consisting of COD, NH3-N, NO3-N, NO2-N, and PO4-P which will later be compared with the Minister of Environment and Forestry's Regulation No. 68, 2016 on Domestic Wastewater Quality Standards. The results of the contaminant removal performance in aeration tank 1 and aeration tank 2 were not much different, indicating that the treatment in aeration tank 2 was not very effective. In aeration tank 1 the mean COD removal was 73,97±17,65%, PO4-P removal was 53,31±13,72%, total nitrogen removal was 1,57±164,29%, nitrification efficiency was 82,26±16,47%, and denitrification efficiency was -66,4±373,37% in aeration tank 1. Meanwhile, the total energy consumption required for wastewater treatment at WWTP with an average discharge 82.06 l/day is 43.13 kWh/m3 and a cost of Rp. 62,326.00/m3. Phosphate removal required the most energy, at 2.99 kWh/gPO4-P, followed by total nitrogen removal at 1.33 kWh/gTN, ammonia removal at 0.88 kWh/gNH3-N, and COD removal at 0.7 kWh/gCOD
Analisis Pemanfaatan Sampah Plastik dengan Metode Buang, Pisah, dan Untung Menggunakan Sistem Barcode Dawud Abdullah Azzaki; Dian Rahayu Jati; Aini Sulastri; Robby Irsan; Jumiati Jumiati
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 2 (2022): April 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.2.252-262

Abstract

Sampah yang meningkat tanpa adanya penanganan lebih lanjut akan mengakibatkan permasalahan serius. Penimbunan sampah dapat bertahan dengan waktu yang lama, yang disebabkan oleh lambatnya waktu dekomposisi dari timbunan sampah, khususnya sampah plastik. Penelitian bertujuan mengetahui jumlah sampah plastik yang dihasilkan, keuntungan yang dihasilkan dan keberlanjutan dari penerapan metode Buang, Pisah, Untung (Bungpitung) menggunakan sistem barcode. Penelitian mengambil metode purposive sampling. Pengumpulan data berupa data sekunder harga jual sampah plastik dan data primer timbulan sampah plastik dan wawancara. Penelitian menggunakan analisis metode gabungan (mixed methods) penelitian kuantitatif dan kualitatif. Total timbulan sampah plastik dari semua responden sebesar 136.508 gr dengan rata-rata timbulan sampah plastik 65 gr/orang/hari. Bentuk sampah plastik dominan terbanyak Gelas Bening Sablon (GBS) sebesar 35.526 gr. Bentuk sampah plastik dominan terbanyak dari total seluruh jenis yaitu Botol Bening Biru (BBB) sebesar 40.525 gr. Total keuntungan sampah plastik yang diperoleh dari semua responden sebesar Rp 128.945 dengan rata-rata keuntungan sampah plastik Rp 61,4 /hari. Tingginya nilai timbulan sampah plastik, tingginya nilai keuntungan yang dihasilkan, kontinuitas penerapan metode bungpitung, peningkatan wawasan mengenai pengelolaan sampah plastik, peningkatan perilaku dalam mengelola sampah plastik serta pendapat secara langsung oleh responden mengenai kelayakan metode Bungpitung merupakan bukti metode Bungpitung layak diterapkan pada masyarakat di masa yang akan datang.ABSTRACTIncreased waste without further handling will lead to serious problems. The landfill can last for a long time, which is caused by the slow decomposition time of the landfill, especially plastic waste. This study aims to determine the amount of plastic waste produced, the profits generated from the application of the Dispose, Separate, Profit (Bungpitung) method using a barcode system. The research took the purposive sampling method. Collecting data in the form of secondary data on the selling price of plastic waste and primary data on the generation of plastic waste and interviews. This study uses a combined analysis (mixed methods) of quantitative and qualitative research. The total generation of plastic waste from all respondents is 136,508 grams with an average plastic waste generation of 65 grams/person/day. The dominant form of plastic waste is Screen Printing Clear Plastic Cups (GBS) as much as 35.526 gr. The most common form of plastic waste of all types is Blue Clear Plastic Bottle (BBB) of 40,525 gr. The total profit from plastic waste obtained from all respondents is Rp. 128,945 with an average profit of Rp. 61.4/day for plastic waste. The high value of plastic waste generation, the increase in the value of the profits generated, the continuity of the application of the bungpitung method, increased insight into plastic waste management, increased behavior in managing plastic waste, and direct assessment by respondents about Bungpitung methods suitable for use in the community in the future.
Analisis Hubungan Konstruksi Sumur Gali dan Sanitasi Lingkungan Terhadap Jumlah Bakteri Coliform Dalam Air Sumur Gali (Studi Kasus: Desa PAL IX, Kecamatan Sungai Kakap) Utin Yeni Syafarida; Dian Rahayu Jati; Aini Sulastri
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 3 (2022): July 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.3.437-444

Abstract

Desa Pal IX merupakan wilayah yang terletak di Kecamatan Sungai Kakap yang masih banyak menggunakan sumur gali untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun masih banyak sumur gali yang belum memenuhi persyaratan konstruksi dan sanitasi sesuai dengan SNI 03-2916-2992. Menurut data WHO 2013, diare merupakan satu diantara jenis penyakit yang dapat disebabkan akibat mengkonsumsi air yang telah tercemar oleh bakteri Coliform. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kondisi bakteriologis air sumur gali berdasarkan Permenkes RI No.32 Tahun 2017, hubungan konstruksi sumur gali dan sanitasi lingkungan terhadap jumlah bakteri Coliform dalam air sumur gali. Penelitian ini menggunakan metode observasi dan metode MPN dengan sampel penelitian sebanyak 10 sumur gali. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa 8 dari 10 sampel tidak memenuhi syarat jumlah Coliform. Berdasarkan hasil analisis statistik, didapatkan bahwa ada hubungan antara konstruksi sumur dan sanitasi lingkungan gali terhadap kandungan bakteri Coliform yang ditandai dengan nilai P<0,05. Hubungan sanitasi lingkungan terhadap kandungan bakteri Coliform adalah semakin dekat jarak sumur gali dengan sumber pencemaran, maka semakin tinggi kemungkinan kandungan bakteri Coliform yang terkandung dalam sumur gali. Hubungan konstruksi sumur gali terhadap bakteri Coliform adalah semakin buruk konstruksi sumur gali, maka kandungan bakteri Coliform di dalam air sumur gali akan semakin tinggi. Secara keseluruhan tidak ada sumur gali yang memenuhi persyaratan bakteriologis dan kondisi lingkungan yang terdapat di Desa Pal IX Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya.ABSTRACTPal IX Village is an area located in Sungai Kakap District which still uses many dug wells to meet their daily needs. However, there are still many dug wells that do not meet the construction and sanitation requirements in accordance with SNI 03-2916-2992. According to 2013 WHO data, diarrhea is one of the types of diseases that can be caused by consuming water that has been contaminated with Coliform bacteria. The purpose of this study was to analyze the bacteriological condition of dug well water according to the quality Standars regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia No. 32 year 2017, the relationship of dug well construction and environmental sanitation on the number of Coliform bacteria in dug well water. This study used the observation method and the MPN method with a sample of 10 dug wells. Based on the research that has been done, it is known that 80% of the samples do not meet the requirements for the number of Coliforms. Based on the results of statistical analysis, it was found that there was a relationship between well construction and environmental sanitation on the content of Coliform bacteria which was indicated by a P value <0.05. The relationship between environmental sanitation and Coliform bacteria content is that the closer the dug well is to the source of pollution, the higher the possibility of Coliform bacteria content contained in the dug well. The relationship between dug well construction and Coliform bacteria is that the worse the dug well construction, the higher the Coliform bacteria content in the dug well water. Overall, there are no dug wells that meet the bacteriological requirements and environmental conditions in Pal IX village, Sungai Kakap district, Kubu Raya regency.
Valuasi Ekosistem Mangrove di Pesisir Kayong Utara, Kalimantan Barat Ajeng Apriani; Aji Ali Akbar; Jumiati Jumiati
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 3 (2022): July 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.3.553-562

Abstract

Ekosistem mangrove di pesisir Kayong Utara yang termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Sukadana memiliki luas 1277,5 ha. Ekosistem mangrove sendiri memiliki berbagai fungsi dan manfaat, beberapa diantaranya yaitu manfaat dalam sektor perikanan, pariwisata dan sebagai mitigasi bencana seperti abrasi pantai. Keberadaan mangrove ini dasarnya memiliki nilai yang bisa dinilai dengan mata uang atas dasar manfaat yang diberikan oleh ekosistem ini. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi masyarakat terhadap keberadaan mangrove dan pemanfaatan mangrove oleh masyarakat serta mengestimasikan nilai ekonomi total atas dasar penggunaan ekosistem mangrove. Lokasi penelitian diambil di 7 Desa yang terdapat di pesisir Kayong Utara wilayah administrasi Kecamatan Sukadana. Teknik pengambilan data dilakukan dengan metode observasi lapangan, wawancara dengan kuesioner, pengambilan data instasional dan studi literatur. Metode analisis data yang digunakan yaitu Market Price (MP) untuk mengetahui nilai manfaat langsung ekosistem mangrove dalam perikanan, Travel Cost Method (TCM) untuk mengetahui manfaat langsung dalam sektor pariwisata dan Replacement Cost (RC) untuk mengetahui manfaat tidak langsung sebagai penahan abrasi pantai. Masyarakat memandang pengertian mangrove dalam tiga hal yaitu mangrove adalah tumbuhan bakau, mangrove adalah tempat wisata dan mangrove adalah tumbuhan yang berada di pesisir pantai. Sedangkan untuk manfaat mangrove dalam sudut pandang masyarakat terbagi atas yaitu mangrove untuk memperindah pantai, rumah tinggal ikan, benteng pertahanan pantai dan sisanya tidak atau kurang mengetahui manfaat mangrove. Terdapat sepuluh jenis vegetasi mangrove dan tiga diantaranya umum dimanfaatkan oleh msyarakat setempat yaitu Nypa fruticans, Rhizophora sp. dan Xylocarpus granatum. Kemudian hasil valuasi dengan tiga variabel yang dihitung yaitu nilai manfaat langsung hasil perikanan yaitu sebesar Rp32.573.365.665,00/tahun, nilai manfaat langsung parisiwata Rp8.704.000,00/tahun, nilai manfaat tidak langsung penahan abrasi pantai Rp42.104.162.362,50/tahun. Sehingga nilai ekonomi total ekosistem mangrove di Pesisir Kayong Utara yaitu sebesar Rp74.686.232.027,50/tahun.ABSTRACTThe mangrove ecosystem on the coast of Kayong Utara which is included in the administrative area of Sukadana District has an area of 1277.5 ha. The mangrove ecosystem itself has various functions and benefits, some of which are benefits in the fisheries sector, tourism and as disaster mitigation such as coastal abrasion. The existence of this mangrove basically has a value that can be assessed in currency on the basis of the benefits provided by this ecosystem. So, this study aims to analyze and assess the benefits of mangroves to the community and to estimate the total economic value of the use of mangrove ecosystems. The research locations were taken in 7 villages located on the coast of Kayong Utara the administrative area of Sukadana District. Data collection techniques were carried out using field observations, interviews with questionnaires, institutional data collection and literature studies. The data analysis method used is Market Price (MP) to determine the value of direct benefits of mangrove ecosystems in fisheries, Travel Cost Method (TCM) to determine direct benefits in the tourism sector and Replacement Cost (RC) to determine indirect benefits as a barrier to coastal abrasion. The community views the understanding of mangroves in three ways, namely mangroves are mangrove plants, mangroves are tourist attractions and mangroves are plants that are on the coast. Meanwhile, the benefits of mangroves in the community's point of view are divided into mangroves to beautify the beach, fish houses, coastal fortifications and the rest do not or do not know the benefits of mangroves. There are 10 mangrove vegetation and 3 of them are commonly used by local people, namely Nypa fruticans, Rhizophora sp. and Xylocarpus granatum. Then the results of the valuation with three variables calculated, namely the value of direct benefits of fishery products, which is IDR32,573,365,665.00/year, the value of direct benefits to tourism is IDR8,704,000.00/year and the value of barrier to coastal abrasion is IDR42,104,162,362.50/year. So, the total economic value of the mangrove ecosystem in the Kayong Utara Coast is IDR74,686,232,027.50/year.
Pengaruh Perubahan Tutupan Lahan Terhadap Jasa Ekosistem Pangan Di Taman Nasional Danau Sentarum Hanif Andryannur; Aji Ali Akbar; Aini Sulastri
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 3 (2022): July 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.3.615-627

Abstract

Jasa ekosistem merupakan komponen yang penting dalam perkembangan pengelolaan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS), besar jasa ekosistem bagi masyarakat dapat memicu keterlibatan masyarakat di kawasan Taman Nasional untuk ikut melestarikan ekosistem Taman Nasional Danau Sentarum. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap sebaran kelas jasa ekosistem pangan di kawasan TNDS. Pola sebaran jasa ekosistem Taman Nasional Danau Sentarum pada penelitian ini dikaji dengan pendekatan berbasis data pola perubahan tutupan lahan di Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Peta jasa ekosistem disusun melalui pendapat para ahli terhadap potensi jasa ekosistem pada masing- masing jenis tutupan lahan melalui Analytical Hierarchy Process (AHP) menggunakan metode perhitungan pairwise comparison. Jenis jasa ekosistem yang dianalisis adalah penyedia pangan. Hasil dari perhitungan menunjukkan bahwa nilai indeks jasa ekosistem pangan Taman Nasional Danau Sentarum pada tahun 2020 masih didominasi oleh kelas jasa ekosistem pangan rendah dengan total luasan 71.115 ha dengan tutupan lahan yang mendominasi adalah lahan rawa seluas 51.757 ha. Pada tahun 2020 juga terjadi peningkatan luasan pada kelas jasa ekosistem pangan sedang dengan total luasan 43.325 ha yang didominasi oleh tutupan lahan hutan rawa sekunder dengan total luasan 13.310 ha.ABSTRACTEcosystem services are an important component in the development of the management of Danau Sentarum National Park (DSNP), large ecosystem services for the community can trigger community involvement in the National Park area to participate in conserving the ecosystem of Danau Sentarum National Park This study examines the effect of land cover changes on the distribution of food ecosystem service classes in the DSNP area. The pattern of distribution of ecosystem services in Danau Sentarum National Park in this study was studied using an approach based on data on land cover change patterns in the Danau Sentarum National Park area. Ecosystem service maps are prepared through expert judgment on the potential for ecosystem services in each type of land cover through the Analytical Hierarchy Process (AHP) with the pairwise comparison calculation method. The types of ecosystem services analyzed are food providers. The results of the calculation show that the value of the food ecosystem service index of Danau Sentarum National Park in 2020 is still dominated by the low food ecosystem service class with a total area of 71,115 ha with the dominant land cover being a swamp area of 51,757 ha. In 2020 there was also an increase in the area of the medium food ecosystem service class with a total area of 43,325 ha which was dominated by secondary swamp forest land cover with a total area of 13,310 ha
Pengembangan Wisata Pantai di Kalimantan Timur Berdasarkan Persepsi Pengunjung Ardiyanto Wahyu Nugroho
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 3 (2022): July 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.3.597-608

Abstract

Kontribusi sektor pariwisata terhadap pendapatan daerah di Provinsi Kaltim relatif kecil. Padahal, perkembangan wisata di Kaltim cukup baik dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, sektor pariwisata di Kaltim perlu lebih diperhatikan oleh para pemangku kepentingan agar mampu memberikan dampak positif terhadap daerah dan masyarakat setempat. Untuk mengembangkan sebuah destinasi wisata, informasi mengenai pendapat dari pengunjung diperlukan sebagai bahan masukan untuk pengelolaan dan evaluasi kepada pihak pengelola. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pendapat pengunjung di Pantai Sambera dan sekitarnya serta Pantai Mutiara Indah, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Pengambilan data primer dalam penelitian ini dilakukan dengan metode observasi lapangan, kuesioner serta wawancara. Jumlah pengunjung yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah 41 responden di pantai Mutiara Indah dan 30 responden di pantai Sambera dan Mangrove Sambera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter pengunjung kedua lokasi wisata dalam penelitian ini relatif sama, yaitu pengunjung muda yang berdomisili di kota Samarinda dan Bontang dengan penghasilan per bulan kurang dari Rp 3 juta rupiah. Strategi peningkatan daya tarik wisata pantai dalam penelitian ini dapat dilakukan dengan menjaga dan mempertahankan kebersihan pantai. Kemudian, strategi untuk meningkatkan aspek kenyamanan pengunjung adalah adalah dengan membangun homestay. Untuk meningkatkan aspek aktivitas, pengelola destinasi wisata dapat mengadakan berbagai acara, seperti event olahraga maupun budaya serta melakukan optimalisasi pemanfaatan media sosial.ABSTRACTTourism sector contribution to the East Kalimantan’s regional income has been insignificant although this sector has shown a consistent growth in the last few years. Therfore, stakeholders need to pay more attention to this sector to provide more positive impacts for local areas and local people. To improve a tourist destination, information from visitors’ perceptions is essential to provide input and evaluation for the management of the tourist destination. This study aims to determine perceptions of visitors in two tourist destinations: Sambera Beach and its surrounding areas and Mutiara Indah Beach. Primary data collection in this study was conducted by field observation, questionnaires and interviews. The number of visitors who participated in this study were 41 respondents at Mutiara Indah Beach and 30 respondents at Sambera and Mangrove Sambera Beach. The results showed that the characteristics of visitors at the two tourist sites in this study were relatively the similar: young visitors who lived in the cities of Samarinda and Bontang with a monthly income of less than Rp. 3 million. The strategy to increase the attraction aspect of both destinations in this study can be conducted by maintaining the cleanliness of the beach. Then, a strategy to improve the amenity aspect is to build homestays. To improve the activity aspect, tourist destination managers is to organize various events, such as sporting and cultural events and optimize the use of social media.

Filter by Year

2011 2025