cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 821 Documents
Innovative Use of Palm Oil Fly Ash-Based Zeolite for Zinc (II) Removal from Wastewater Darmayanti, Lita; Adawiyah, Rodiah Rabi’ah Al
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1353-1358

Abstract

Zinc (Zn) is a heavy metal commonly found in wastewater, with Zn (II) levels above the threshold causing health problems and environmental pollution. Though zinc is essential, excess zinc can lead to poisoning. Thus, Zn (II) must be removed before releasing water into the environment. The adsorption method is effective for controlling heavy metal pollution, with zeolite based on POFA (palm oil fly ash) as a useful adsorbent. This research aims to analyze the influence of pH, adsorbent dose, contact time, and initial concentration on POFA-based zeolite's ability to remove Zn (II). Experiments were conducted by varying pH (3, 4, 5, 6, 7), adsorbent dosage (1, 1.5, 2, 2.5, 3 g/L), contact time (5, 10, 15, 30, 60, 90, 120, 150, 180 minutes), and initial Zn (II) concentration (2, 4, 6, 8, 10, 15 mg/L). Results showed the highest Zn removal efficiency at pH 6, an adsorbent dose of 2 g/L, and a contact time of 60 minutes, achieving 98.77% removal. The Zn (II) adsorption process fits the Langmuir and Freundlich isotherms, with a maximum adsorption capacity of 28.27 mg/g. The adsorption kinetics followed a pseudo-second-order model with qe 5.04 mg/g and an adsorption rate constant of 0.197 g.mg-1.min-1.
Analisis Kandungan Organik dan Logam Berat pada Tanah di Sekitar Lubang Resapan Biopori Sarminingsih, Anik; Sumiyati, Sri; Syahla, Alkha Nayla; Anggraini, Fanny Ardanti; Prasetyo, Febrianto Ardhi; Rizkita, Lale Tania; Suci, Nadia Maharani Eka; Putri, Wimanda Novita; Rahadianto, Muhammad Arsyad Dwi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1370-1377

Abstract

Salah satu solusi yang dikembangkan untuk mengelola sampah sisa makanan adalah melalui teknologi lubang resapan biopori (LRB) komposter. Proses kerja LRB komposter melibatkan dekomposisi sampah sisa makanan oleh mikroorganisme di dalamnya sehingga menghasilkan kompos. Selain kompos, proses ini juga menghasilkan air lindi yang terbentuk dari rembesan kadar air dalam sampah serta sumber eksternal seperti air hujan, yang melalui lubang biopori. Air lindi yang dihasilkan dari proses komposting tersebut meresap ke dalam tanah dan berpotensi bercampur dengan air tanah di sekitarnya. Kandungan air lindi termasuk logam berat, senyawa nitrogen, garam, dan bahan organik yang dapat mengancam lingkungan. Beberapa polutan utama yang sering ditemukan dalam air lindi meliputi COD, NH3-N, Fe, Cl, serta logam berat seperti As, Cd, Ni, dan Mn. Sementara itu, bahan organik dalam tanah memiliki peran sentral dalam memperbaiki struktur fisik, meningkatkan aktivitas biologis, dan meningkatkan ketersediaan nutrisi bagi tanaman, sehingga berperan penting dalam meningkatkan kesuburan tanah secara keseluruhan. Data diperoleh melalui pengambilan sampel pada LRB 1, LRB 2, dan LRB 3 dengan jarak dan kedalaman yang bervariasi. Dari sampel yang telah diambil dilakukan pengukuran untuk mengetahui logam berat yang terkandung dalam tanah di sekitar LRB.
Tingkat Kontaminasi Tembaga dan Timbal pada Perairan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang Purnomo, Eko; Kusumaningrum, Hermin Pancasakti; Budiharjo, Anto; Lunggani, Arina Tri
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1378-1384

Abstract

ABSTRAKPencemaran polutan logam berat tembaga (Cu) dan timbal (Pb) di perairan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang (PTES), diakibatkan oleh dampak aktivitas pelabuhan, pelayaran, proses industri dan buangan limbah domestik perkotaan. Hal ini berdampak negatif pada keberlanjutan ekosistem akuatik dan masyarakat setempat, sehingga diperlukan kajian terkait pencemaran logam berat tembaga dan timbal di perairan PTES. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan referensi mengenai kondisi terkini terkait tingkat pencemaran logam Cu dan Pb di perairan PTES, serta membandingkan tingkat cemaran terhadap standar kualitas lingkungan. Metode penelitian ini mengukur konsentrasi Cu dan Pb pada lapisan sedimen dan perairan di tiga stasiun sampling. Metode pengukuran logam Cu dan Pb menggunakan metode Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). Data konsentrasi logam berat yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan standar kualitas sedimen (Sediment Quality Guidelines, SQG) dari U.S. Environmental Protection Agency (US EPA) untuk sampel sedimen dan standar PP RI No. 22 Tahun 2021 untuk sampel air, untuk mendapatkan status cemaran Cu dan Pb. Berdasarkan hasil kajian, status cemaran Cu dan Pb di sedimen berada dalam kategori tidak tercemar (SQG US EPA). Dimana konsentrasi logam berat tertinggi berada pada stasiun 1 dengan konsentrasi Cu yaitu 10.99 ppm dan konsentrasi Pb yaitu 0.03 ppm. Sedangkan status cemaran Cu dalam perairan berada dalam kategori aman dengan konsnetrasi Cu pada semua stasiun yaitu 0.01 ppm. Sementara itu, status Pb dalam perairan berada di atas baku mutu dan tercemar berdasarkan PP RI No. 22 Tahun 2021, dengan konsentrasi Pb pada ketiga stasiun yaitu 1.00 ppm, 1.20 ppm dan 1.60 ppm. Konsentrasi logam berat terutama Pb di perairan dapat mempengaruhi ekosistem akuatik, prioritas penanganan dan penelitian lebih lanjut sangat diperlukan untuk mengupayakan teknologi remediasi logam berat di perairan PTES. ABSTRACTThe contamination of heavy metals, particularly copper (Cu) and lead (Pb), in the waters of Tanjung Emas Port, Semarang (PTES), is primarily attributed to maritime operations, industrial processes, and domestic waste. This pollution poses significant threats to the sustainability of aquatic ecosystems and the well-being of surrounding communities. Therefore, an in-depth assessment of Cu and Pb pollution in PTES waters is urgently needed. This study aims to provide an updated reference on the current levels of Cu and Pb contamination in the PTES waters and to compare these concentrations against established environmental quality standards. The research methodology involved measuring Cu and Pb concentrations in both sediment and water samples collected from three stations. The levels of Cu and Pb were determined using AAS. The obtained heavy metal concentration data were compared against the Sediment Quality Guidelines (SQG) set by the US EPA for sediment samples, and the Indonesian Government Regulation (PP R1) No. 22 of 2021 for water samples. The study revealed that the contamination status of Cu and Pb in sediments was classified as "unpolluted" based on the SQG US EPA. The highest concentrations were recorded at Station 1, with Cu at 10.99 ppm and Pb at 0.03 ppm. Copper contamination in water samples from all stations was found to be within safe limits. However, Pb concentrations in water samples exceeded the quality standards set by PP RI No. 22 Tahun 2021, indicating a polluted status. Pb concentrations were recorded at 1.00 ppm, 1.20 ppm, and 1.60 ppm across the three sampling stations, respectively. The elevated levels of Pb in the aquatic environment could significantly impact the local ecosystem, highlighting the urgent need for prioritizing mitigation measures and advancing further research for developing and implementing effective heavy metal remediation technologies in the waters of PTES.
Evaluation of Wastewater Treatment Installations at Kendari City Hospital Rachman, Ranno Marlany; Pidun, Pidun; Talanipa, Romy
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1441-1447

Abstract

Hospitals are public facilities that generate large amounts of waste from various activities, including liquid waste containing hazardous substances that must be treated before discharge into the environment. This study aims to evaluate the performance of the Kendari City Regional Hospital Wastewater Treatment Plant (WWTP) and to determine the quality of wastewater after treatment, in accordance with the Minister of Environment Decree Number 5 of 2014. This study uses a quantitative descriptive method with an observation approach, laboratory testing, and interviews. The results of the survey in August 2023 showed that the Kendari City Regional Hospital WWTP functioned effectively with a significant decrease in several parameters, namely pH by 1.40%, TSS (Total Suspended Solids) by 68.00%, COD (Chemical Oxygen Demand) by 51.10%, and BOD (Biochemical Oxygen Demand) by 86.70%, while the temperature did not change. In December 2023, the wastewater treatment plant's effectiveness was still not optimal, with a pH of 9.38%, TSS of 21.4%, COD of 31.1%, BOD of 32.7%, and a temperature increase of 5.27%. The effluent from Kendari City Hospital in August 2023 met the quality standards set by the Minister of Environment Decree Number 5 of 2014, with a temperature of 28°C, pH of 7.34, TSS of 71 mg/L, COD of 18.70 mg/L, and BOD of 1.50 mg/L. However, in December 2023, although the effluent still met most quality standards—pH 6.76, TSS 22 mg/L, COD 23.8 mg/L, and BOD 10.7 mg/L —the temperature was 31.1°C, exceeding the set quality standard limit of 30°C.
Economic Valuation of Peatland Carbon Sequestration in Kebun Plasma Nutfah, Kedaton Village, Kayuagung District, South Sumatra Province Veronica, Olce; Putri, Eka Intan Kumala; Amanda, Dea; Nuva, Nuva
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1404-1411

Abstract

Peatlands in Indonesia are currently experiencing deforestation and degradation caused by peatland fires. The peatland restoration policy that has been established aims to tackle peatland fires while preventing them from recurring. Peatland restoration is necessary because peatland fires contribute large emissions to the environment, impacting climate change. Kebun Plasma Nutfah located in Ogan Komering Ilir District, South Sumatra Province is one of the pilot projects to restore burnt peat swamp forests. Kebun Plasma Nutfah is a peat swamp forest that burned repeatedly in 1997 and 2006 during the dry season. Kebun Plasma Nutfah was then revegetated with commodities that are adaptive to peatlands. This study aimed to monetize Kebun Plasma Nutfah’s carbon sequestration and define it as the economic value of peat swamp forest with a Tier 2 accuracy. The calculation of the economic value of carbon sequestration was carried out on above-ground and below-ground carbon pools in the 10-hectare peatland in Kebun Plasma Nutfah. The results of this study show that Kebun Plasma Nutfah has a carbon sequestration of 121.606.27 tons, with an economic value of carbon sequestration of Rp 48.216.885.174. The larger the diameter of the tree, the greater the  that the tree can absorb, and the deeper the peat, the higher the carbon stock. Peatland is indeed a carbon stock, but it has the potential to become fuel during the dry season, resulting in large emissions when fires occur. The current condition of the Kebun Plasma Nutfah requires collaborative management to preserve the Kebun Plasma Nutfah and prevent activities that can cause damage to peatlands in Kebun Plasma Nutfah.
Black Soldier Fly Larval Bioconversion of Fruit and Vegetable Waste: Carbon-Nitrogen Conversion and Estimation of Greenhouse Gas Emissions Ursada, Riang; Zuhdi, Ahmed; Bagastyo, Arseto Yekti; Febrianto, Arry
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1412-1422

Abstract

Fruit and vegetable waste accounts for approximately 36% of total food waste in Indonesia. The accumulation of this waste in landfills contributes to increasing greenhouse gas (GHG) emissions and environmental pollution through leachate production. Treatment using Black Soldier Fly (BSF) larvae offers an efficient and sustainable alternative, with lower GHG emissions compared to composting or anaerobic digestion. This study aimed to evaluate the bioconversion efficiency of BSF larvae in reducing fruit and vegetable waste (specifically cabbage, water spinach, spinach, mustard greens, watermelon, melon, banana, and papaya) by analyzing the transformation of carbon (C) and nitrogen (N) into larval biomass and residue. Substrate compositions were varied with vegetable-to-fruit ratios of 90:10, 80:20, 70:30, and 60:40 (w/w), and larval densities of 1, 2, and 4 larvae/cm² were tested. Results showed that carbon and nitrogen conversion into larval biomass ranged from 7.92–17.59% and 4.96–21.69%, respectively, while conversion into residue ranged from 22.53–63.75% for carbon and 18.12–80.78% for nitrogen. The substrate with a 90:10 vegetable-to-fruit ratio produced the highest conversion efficiency. The values of Approximate Digestibility (AD), Efficiency of Conversion of Digested Food (ECD), and Efficiency of Conversion of Ingested Food (ECI) ranged from 32.44–74.71%, 17.68–42.96%, and 8.09–18.64%, respectively. The larval survival rates reached 95.61%. Furthermore, BSF bioconversion generated the lowest GHG emissions among all compared waste treatment methods, with a value of 102.27 g CO₂ eq/kg of waste. These findings demonstrate the significant potential of BSF larvae in managing fruit and vegetable waste while minimizing environmental impact, providing a foundation for further optimization in sustainable waste valorization systems.
A Review: Application of Bioremediation and Phytoremediation Techniques for Heavy Metal Contamination in Mining Areas of Sulawesi, Indonesia Azis, Fitria; Nurfadini, Nurfadini; Ahmad, Ahyar; Febryanti, Amalyah; Sappewali, Sappewali; Ardita R, Dian Fitrah; Asmi, Nur; Karim, Harningsih
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1423-1440

Abstract

Mining has been a practice spanning millennia, leaving behind a legacy of mine waste containing hazardous substances, including various metals in nearly every country. Indonesia is one of the most nickel-rich regions in the world. Some of these resources are located in the Sulawesi and North Maluku regions. Sulawesi includes Central Sulawesi, South Sulawesi and Southeast Sulawesi. Pollutants in the form of mercury metal (Hg), lead metal (Pb), cadmium metal (Cd), and chromium metal (Cr) are considered toxic and difficult to remove due to their stable nature. Effective remediation methods are imperative in response to this issue, among which bioremediation and phytoremediation stand out. Bioremediation employs microorganisms to detoxify the environment of heavy metals, while phytoremediation utilizes plants for the same purpose. Both methods involve intricate interactions among plants, microbes, and their substrates to purify the environment and facilitate further filtration. Bioremediation encompasses two primary approaches: the in-situ method and the ex-situ method. In situ methods include bioventing, biosparging, bioaugmentation, and biostimulation. Ex-situ methods, contaminated soil or water is retrieved from its origin and purified elsewhere by living organisms; this process utilizes bioreactors, aeration, steam regulation, and additional nutrients to increase the rate of pollutant decomposition. The bioremediation mechanism involving microorganisms employs biosorption, bioaccumulation, biotransformation, and bioleaching. Phytoremediation employs several methods, including phytoextraction, phytofiltration, phytovolatilization, phytodegradation, and phytodesalination. Identifying efficient hyperaccumulators is the most direct approach for successful heavy metal phytoremediation. Bioremediation and phytoremediation techniques are economical and suitable solutions to address heavy metal pollution in polluted environments. With a deeper understanding of these techniques, it is hoped that we can more effectively address these complex environmental challenges, particularly in mining areas in Sulawesi, Indonesia.
Kapasitas Adaptasi Sanitasi Masyarakat Lokal di Labuan Bajo dengan Pendekatan Exploratory Factor Analysis dan Segmentasi Masyarakat Sofiyah, Evi Siti; Rahman, Ari; Suryawan, I Wayan Koko
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1549-1565

Abstract

Kapasitas adaptasi sanitasi merupakan aspek krusial dalam memastikan keberlanjutan sistem sanitasi di suatu wilayah, terutama di daerah yang mengalami pertumbuhan pesat seperti Labuan Bajo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor utama yang mempengaruhi kapasitas adaptasi sanitasi masyarakat dengan menggunakan pendekatan Exploratory Factor Analysis (EFA), analisis klaster, dan segmentasi persepsi masyarakat. Hasil EFA mengidentifikasi tiga faktor utama yang berkontribusi terhadap kapasitas adaptasi sanitasi, yaitu kinerja infrastruktur sanitasi, partisipasi masyarakat dalam sanitasi, dan kesadaran sanitasi. Analisis klaster mengelompokkan masyarakat ke dalam klaster rentan dan klaster tahan, dengan klaster rentan memiliki keterbatasan dalam akses sanitasi, partisipasi masyarakat yang rendah, serta kesadaran sanitasi yang terbatas. Hasil segmentasi menunjukkan bahwa jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan berpengaruh signifikan terhadap kapasitas adaptasi sanitasi, di mana perempuan, individu dengan pendidikan rendah, serta pekerja informal lebih rentan terhadap kondisi sanitasi yang buruk. Implementasi kebijakan sanitasi di Labuan Bajo masih menghadapi tantangan dalam penyediaan akses sanitasi yang lebih inklusif dan adaptif, meskipun telah diterapkan berbagai program sanitasi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan Integrated Climate Governance (ICG) untuk meningkatkan keterpaduan kebijakan sanitasi dengan sektor lainnya. Peningkatan infrastruktur sanitasi, pemberdayaan masyarakat, dan edukasi sanitasi menjadi langkah utama untuk memperkuat ketahanan sanitasi masyarakat. Hasil penelitian ini memberikan wawasan penting bagi perumusan kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Labuan Bajo.
Peran Mediasi Green Port terhadap Pengaruh Energi Terbarukan dan Manajemen Limbah terhadap Kinerja Lingkungan Purwanto, f.x Adi; Purwiyanto, Didik
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1500-1508

Abstract

Aktivitas pelabuhan berkontribusi signifikan terhadap degradasi lingkungan, seperti peningkatan emisi karbon, pencemaran air, dan penumpukan limbah. Kondisi ini menjadikan pelabuhan sebagai salah satu sumber tekanan ekologis yang perlu segera ditangani. Konsep Green Port hadir sebagai pendekatan ramah lingkungan dalam pengelolaan pelabuhan, namun implementasinya di Indonesia masih belum merata. Selain itu, kontribusi energi terbarukan dan manajemen limbah terhadap keberhasilan Green Port belum banyak diuji secara empiris. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh energi terbarukan dan manajemen limbah terhadap kinerja lingkungan pelabuhan, baik secara langsung maupun melalui peran mediasi implementasi Green Port. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif eksplanatori, dengan analisis menggunakan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (SEM-PLS). Responden dalam penelitian ini sebanyak 77 pegawai tetap PT Terminal Teluk Lamong Surabaya, yang dipilih melalui simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa energi terbarukan dan manajemen limbah memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap implementasi Green Port dan kinerja lingkungan. Selain itu, Green Port berperan sebagai mediator yang memperkuat hubungan antara variabel-variabel tersebut dan kinerja lingkungan. Temuan ini menekankan pentingnya integrasi kebijakan energi bersih dan sistem pengelolaan limbah dalam upaya mendorong operasional pelabuhan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Daur Ulang Limbah Cair Rumah Makan dengan Kombinasi Metode Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) dan Membran Filtrasi Meliana, Vina
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 6 (2025): November 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.6.1453-1463

Abstract

Limbah cair rumah makan mengandung bahan organik tinggi yang dapat merusak kesehatan, ekosistem, dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi penurunan parameter pencemar BOD, TSS, kekeruhan serta perbaikan pH dan suhu menggunakan dua perlakuan yang berbeda, yaitu metode MBBR dan kombinasi metode MBBR dan membran filtrasi, serta untuk mengetahui pengaruh perlakuan pada pengujian sampel limbah cair sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan metode analisis statistik t-Test. Penelitian ini menggunakan metode pengendapan selama 24 jam, pengolahan MBBR dengan seeding selama 20 hari dan running selama 8 jam, kemudian dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan membran selama 1 jam. Metode statistik t-Test menggunakan software SPSS versi 25.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan limbah dengan MBBR berhasil menurunkan BOD sebesar 90%, TSS sebesar 96%, serta memperbaiki pH dari 6,4 menjadi 7,8. Kombinasi MBBR dan membran filtrasi berhasil menurunkan kekeruhan sebesar 100%, pH dari 6,4 menjadi 7,7 serta menurunkan suhu dari 29,5°C menjadi 28,3°C. Pengolahan limbah dengan MBBR berhasil menurunkan parameter BOD, TSS, dan perbaikan pH sesuai dengan standar baku mutu Permen LHK Nomor 68 Tahun 2016, sementara kombinasi MBBR dan membran filtrasi berhasil menurunkan kekeruhan serta perbaikan pH dan suhu sesuai dengan standar Permenkes Nomor 2 Tahun 2023. Perlakuan MBBR memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan pH, BOD, dan TSS, sementara kombinasi MBBR dan membran filtrasi juga memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan pH dan kekeruhan, tetapi tidak terhadap parameter suhu.

Filter by Year

2011 2025