cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 851 Documents
Planetscope Imagery Capabilities for Mapping Aboveground Carbon Stock Estimation of Mangroves in Part of Mandeh Area, Pesisir Selatan Regency, West Sumatera Province Eva Purnamasari; Sari Nova; Septiana Vratiwi; Muhamad Faqih Hidayatullah; Al Fath Ramadhan
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1175-1180

Abstract

PlanetScope has a multispectral sensor that can identify and map various land cover types, which play an important role in carbon storage. The purpose of this study was to map the estimated mangrove carbon stock spatially. The research method used was a remote sensing approach using the Difference Vegetation Index (DVI) vegetation index and regression analysis between field carbon values and vegetation index values to produce an estimate of the carbon stock above the mangrove surface. In this study, the dominant species found included Rizophora apiculata and Sonneratia alba with an average tree diameter of 10.84 cm for the Sonneratia alba species, and a tree diameter of 38.82 cm for the Rhizophora apiculata species. The total biomass value at the study location was 147,752 tons/ha with the lowest biomass value of 0.386 tons/ha in the dominant species Sonneratia alba, and the highest being 25.943 tons/ha in the dominant species Rhizophora apiculata. The total value of field carbon stock is 69.443 tons/ha with the lowest carbon value of 0.182 tons/ha and the highest of 12.193 tons/ha from the calculation results using species-based allometry. In comparison, the total estimated value of carbon stock from imagery is 0.080 tons/ha. This study produced an error of 3.163 tons/ha which means it has a good accuracy value. A better level of accuracy is indicated by the lower value obtained from the standard error estimate. Research using remote sensing data can better understand the important role of mangroves in carbon storage and climate change mitigation efforts, as well as support the sustainability of ecosystems that provide many benefits to the environment and society. Mapping mangrove carbon stocks using remote sensing methods not only provides accurate and comprehensive data but also increases our capacity to manage and conserve mangrove ecosystems.
Estimation Of Carbon Footprint Emission Consumption In Electricity From Individual Student: Case Study In Department Of Economics, Universitas Diponegoro Mentari Anggun Djatayu; Indah Susilowati; Aini Nur Furoida; Cici Musliha
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1292-1298

Abstract

This research aims to analyze estimated carbon footprint emissions based on daily electricity consumption, as well as provide strategies aimed at reducing greenhouse gas emissions. The method applies a quantitative approach using descriptive statistics. Data collection was obtained through purposive sampling of economics students at Diponegoro University, with a total sample of 61 students. The CO₂ emissions calculates by multiplying electricity use with the ESDM emission factor based on the 2006 IPCC Guidelines. The result shows that the estimated carbon footprint per category, which presents a comparison of the consumption of electronic goods among upper middle class and lower middle-class students, there are 3 categories: low, medium and high where cross tabulation obtained results in the low category of 93 percent out of a total of 100 percent. Therefore, the students who consume electricity resulting in carbon emissions at Diponegoro University are relatively low, reaching 93 percent and the highest consumption reaches 4.92 percent, which is still below 5 percent of the carbon consumption standard, which is a good achievement in helping to maintain the sustainability of the university's environment.
Kemampuan Filter Biochar Susunan Seri dalam Menyisihkan Detergen dan Fosfat dari Air Limbah Tivany Edwin; Puti Sri Komala; Budhi Primasari; Zulkarnaini Zulkarnaini; Farida Hannum Nasution; Fauzia Arionanda
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1237-1242

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi filter biochar susunan seri dalam menyisihkan detergen dan fosfat dari air limbah artifisial. Filter yang digunakan terdiri atas media biochar dan busa poliuretan dengan perbandingan volume 2:1, disusun dalam dua kolom seri masing-masing setebal 40 cm. Proses filtrasi berlangsung selama 14 hari, dengan konsentrasi awal detergen sebesar 0,701 mg/L dan fosfat sebesar 1,303 mg/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi detergen pada efluen kolom seri 1 dan 2 masing-masing berkisar 0,21-0,43 mg/L dan 0,19–0,33 mg/L, dengan efisiensi penyisihan 39–70% dan 53–72%. Sementara itu, konsentrasi fosfat pada efluen kolom seri 1 berkisar 0,33–0,84 mg/L dengan efisiensi 35–74%, dan pada kolom seri 2 sebesar 0,14–0,66 mg/L dengan efisiensi 49–89%. Penyisihan yang lebih tinggi setelah melewati kolom seri 2 menunjukkan bahwa waktu retensi aliran berperan penting dalam meningkatkan efisiensi penyisihan kontaminan. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa filter berbasis biochar berpotensi sebagai media ramah lingkungan untuk pengolahan air limbah yang mengandung detergen dan fosfat.
Model Pemetaan Geospasial Kerentanan Kekeringan di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Anggit Novian Berlianto; Ferry Hermawan; Muhammad Helmi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1343-1352

Abstract

Bencana kekeringan merupakan kondisi kurangnya ketersediaan air untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari di suatu wilayah. Kerentanan kekeringan menjadi aspek penting dalam mengidentifikasi daerah yang berpotensi mengalami bencana kekeringan. Pemetaan kerentanan kekeringan dapat dilakukan menggunakan beberapa parameter. Kabupaten Wonogiri 7°32’ - 8°15’Lintang Selatan dan 110°41’ - 111°18’ Bujur Timur, pada tahun Kabupaten Wonogiri memiliki daerah sangat rentan kekeringan 64,8 %. Tujuan pada penelitian ini yaitu pemetaan daerah rentan kekeringan di Kabupaten Wonogiri dengan memanfaatkan sistem informasi geografis berdasarkan parameter kerentanan kekeringan. Metode pemetaan menggunakan overlay dan scoring pada setiap parameter yang diklasifikasikan menjadi lima. Parameter kerentanan kekeringan antara lain: curah hujan, jenis tanah, kemiringan lereng, jarak dari sumber air permukaan, ketersediaan vegetasi, dan penggunaan lahan. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa Kabupaten Wonogiri memiliki klasifikasi kerentanan kekeringan sangat tinggi (4.300,33 Ha), tinggi (68.797,76 Ha), sedang (68.386,52 Ha), rendah (43.767,59 Ha), dan sangat rendah (6.579,47 Ha). Kecamatan dengan klasifikasi sangat tinggi terluas berada di Kecamatan Pracimantoro (9.682,07 Ha). Sedangkan, kecamatan dengan klasifikasi rendah paling luas berada di Kecamatan Ngadirojo (6.351,35 Ha). Sebaran daerah dengan potensi mengalami kekeringan tinggi berada pada bagian barat dan selatan kabupaten, sementara sebaran daerah rendah potensi mengalami kekeringan berada di utara kabupaten. Parameter yang sangat mempengaruhi kerentanan kekeringan di Kabupaten Wonogiri mendominasi dengan skor 5 yaitu jenis tanah, jarak dari sumber air permukaan, dan penggunaan lahan. We translated this page to Indonesian Switch back to Shona    AfrikaansAlbanianAmharicArabicArmenianAzerbaijaniBengaliBulgarianCatalanCroatianCzechDanishDutchEnglishEstonianFinnishFrenchGermanGreekGujaratiHaitian CreoleHebrewHindiHungarianIcelandicIndonesianItalianJapaneseKannadaKazakhKhmerKoreanKurdish (Kurmanji)LaoLatvianLithuanianMalagasyMalayMalayalamMalteseMaoriMarathiMyanmar (Burmese)NepaliNorwegianPashtoPersianPolishPortuguesePunjabiRomanianRussianSamoanSimplified ChineseSlovakSlovenianSpanishSwedishTamilTeluguThaiTraditional ChineseTurkishUkrainianUrduVietnameseWelsh Always translate Shona to Indonesian Never translate Shona Never translate ejournal.undip.ac.idTRANSLATE with x EnglishArabicHebrewPolishBulgarianHindiPortugueseCatalanHmong DawRomanianChinese SimplifiedHungarianRussianChinese TraditionalIndonesianSlovakCzechItalianSlovenianDanishJapaneseSpanishDutchKlingonSwedishEnglishKoreanThaiEstonianLatvianTurkishFinnishLithuanianUkrainianFrenchMalayUrduGermanMalteseVietnameseGreekNorwegianWelshHaitian CreolePersian //  TRANSLATE with COPY THE URL BELOW Back EMBED THE SNIPPET BELOW IN YOUR SITE Enable collaborative features and customize widget: Bing Webmaster PortalBack//
The Correlation Between Macrobenthic Mollusk Community Structure, Water Quality, And Sediment For Evaluating The Environmental Status Of The Aquaculture Area In Lake Rawapening Isman Nasik; Sapto Purnomo Putro; Rully Rahadian; Muhammad Choirul
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1181-1189

Abstract

Due to the surge in global food demand, aquaculture in Indonesia has expanded rapidly. Fish farming activities using floating net cages that neglect environmental pollution have become a significant issue in Lake Rawapening. Macrobenthic mollusks serve as valuable bioindicators for assessing disturbances in aquatic ecosystems, as they exhibit sedentary behavior, slow movement, and high sensitivity to fluctuations in water quality. This study aims to assess the structure of macrobenthic mollusk communities, environmental quality, and ecological status in the aquaculture areas of Lake Rawapening. Sediment samples were collected from polyculture, monoculture, and reference sites. A total of 9 species from 2 classes and 7 families were found at all three sites, with a low diversity index (H'), indicating limited community stability. Diversity was higher at polyculture sites compared to monoculture sites. Abiotic analysis showed that environmental parameters (temperature, pH, organic carbon, total nitrogen, phosphate) still met quality standards, although dissolved oxygen (DO) levels were low. The sediment substrate was dominated by clayey silt. Temperature was the abiotic factor most strongly correlated with mollusk abundance (r = 0.612; BIO-ENV, PRIMER 6.1.5). Based on the EWS-3 SWJ software, polyculture and monoculture sites were classified as moderately disturbed, while the reference area showed light to moderate disturbance.
Evaluation of Quicklime Dose, Stirring Speed, and Reaction Time for Coal Mine Acid Water Treatment Veza Azteria; Joko Santoso
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1299-1307

Abstract

Background: If not properly managed, coal mining activities can lead to significant damage to the earth's surface. Acid water, often referred to as acid mine drainage, typically forms during both active and inactive mining operations. This study aims to determine the effectiveness of the acid mine drainage treatment process with a quicklime neutralizing agent and was carried out to assess the reuse of acid mine drainage by the community. Methods: The research was carried out by taking samples of 200 liters of acid mine water released from the mining pit. This research utilized experimental methods to determine the neutralizing dose, stirring speed, and stirring time produced from mine acid. Results: The results of the research indicate that the dose of additional lime required is 0.145 grams of quicklime for 1 liter of acid mine water. It can be interpreted that for 1 m3 of wastewater, 0.145 kg of quicklime isrequired. As a result, with a wastewater flow rate of 700 m3/hour, 101.5 kilograms of quicklime is needed per hour. Processing acid mine drainage requires rapid stirring with a minimum speed of 100 rpm by stirring all the quicklime. Conclusion: The mixing process can be optimized by increasing the length of the acid mine drainage flow when lime is added before entering the settling pond. An analysis of the physical parameters revealed that the wastewater met quality standards.
Pemodelan Spasial Kerawanan Banjir di Kepulauan Nias dan sekitarnya berbasis Sistem Informasi Geografis dan Multi-Criteria Decision Analysis Amati Eltriman Hulu; Dandy Adriansyah R; Mizero Alexis; Ida Arianingsih; Hamka Hamka; Rizky Purnama; Arman Maiwa
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1243-1252

Abstract

Peningkatan kejadian Banjir di Kepulauan Nias dalam dekade terakhir menimbulkan kerugian ekonomi dan sosial yang besar. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model spasial untuk pemetaan tingkat kerawanan banjir di Kepulauan Nias dan Sekitarnya. Metode yang digunakan adalah Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) berbasis Analytical Hierarchy Process (AHP) yang diintegrasikan dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Enam variabel kriteria dianalisis yaitu kemiringan lereng, ketinggian, curah hujan, jenis tanah, tutupan lahan, dan jarak dari sungai. Hasil analisis AHP menunjukkan bahwa ketinggian dan curah hujan merupakan faktor yang paling berpengaruh signifikan terhadap kerawanan banjir. Model yang dibangun kemudian mengklasifikasikan wilayah ke dalam tiga tingkat kerawanan yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Kabupaten Nias Utara dan Nias Barat memiliki proporsi wilayah dengan kerawanan tinggi yang cukup besar. Sebaliknya, Kota Gunungsitoli dan Kabupaten Nias Selatan didominasi oleh wilayah dengan kerawanan rendah. Model spasial ini dapat berfungsi sebagai alat pendukung keputusan yang efektif bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam perencanaan mitigasi bencana, pengembangan tata ruang berbasis kebencanaan, dan pengembangan sistem peringatan dini banjir yang terintegrasi di Kepulauan Nias dan Sekitarnya.
Evaluasi Keberlanjutan Pengelolaan SANIMAS SPALD-T di Kota Bandung Mohammad Arditya Ramdhan; S Withaningsih; Sunardi S
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1190-1204

Abstract

Pada Tahun 2022 Kota Bandung telah mendeklarasikan 100% ODF (Open Defecation Free) sebagaimana telah ditempuh sejak dimulai tahun 2015 melalui sejumlah program yang salah satunya melalui Program Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS), yang saat ini masih menjadi alternatif Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat. Namun demikian tren pembangunan sistem desentralisasi menghadapi isu keberfungsian dan keberlanjutan dari prasarana terbangun. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh status keberlanjutan pengelolaan SANIMAS SPALD-T berdasarkan indikator-indikator keberlanjutan dan untuk merumuskan rekomendasi pengelolaan SANIMAS SPALD-T yang lebih berkelanjutan. Penelitian dilaksanakan di 33 Kelurahan di Kota Bandung. Analisis data dilakukan menggunakan metode MDS RAPFISH, Monte Carlo, dan Leverage, berdasarkan delapan dimensi (teknis, pembiayaan, lingkungan, institusi, sosial, keterlibatan masyarakat, peraturan dan komitmen politik, serta kesehatan lingkungan dan perilaku kesehatan). Hasil penelitian menyimpulkan bahwa terdapat dua dimensi dengan status berkelanjutan, yaitu dimensi teknis (100%) dan dimensi kesehatan lingkungan dan perilaku kesehatan (79,226%). Sementara kondisi cukup berkelanjutan terjadi pada dimensi keterlibatan masyarakat (64,651%). Sedangkan kondisi kurang berkelanjutan terjadi pada empat dimensi yaitu dimensi lingkungan (49,405%), institusi (35,056%), sosial (32,161%), dan dimensi peraturan dan komitmen politik (49,809%). Adapun dimensi yang terkategori tidak berkelanjutan adalah dimensi pembiayaan (0,426%). Peneliti merekomendasikan sejumlah upaya peningkatan keberlanjutan pengelolaan SANIMAS SPALD-T diantaranya melalui : 1). pelibatan aktif kaum perempuan/ibu dalam pengelolaan SANIMAS SPALD-T; 2). Menginisiasi dan memfasilitasi pembentukan asosiasi KPP; 3). menyusun mekanisme perbaikan infrastruktur SANIMAS SPALD-T ataupun pemberian bantuan perbaikan dari Pemerintah.
System Dynamics Modeling for Clean Water Management in the Sleman Regency Widodo Brontowiyono; M. M. Lanny W. Pandjaitan; Lukas Lukas; Lukman Hidayat; Ribut Lupyanto; Kasam Kasam
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1308-1315

Abstract

As the regional organization responsible for fulfilling the community's water demands, the Municipal Waterworks in Indonesia, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), is expected to ensure consistent and equitable distribution of clean water. However, water leaks and other issues in PDAMs tend to reduce the amount of water distributed to the community. An initiative to address water demands at the provincial level has been implemented, placing specific emphasis on the distribution of bulk water across regencies and cities. This initiative is classified as a fundamental service under the Minimum Service Standards (MSS), which aim to improve the availability of water resources. STELLA 9.1.3 software is used in this study to run a policy model simulation and determine the best possible policy scenario for clean water management in Sleman Regency. Sleman Regency is expected to have a water deficit of 144 liters per second in 2035, according to water balance modeling conducted under Business as Usual (BaU) conditions. According to the policy scenario simulation results, show that reducing air leakage by up to 20% and implementing a strategy for maximizing air flow utilization (100%) between districts/cities can increase water availability by 283.72 liters per second.
Analisis Kerawanan Longsor dengan Metode Analytical Hierarchy Process dan Information Value di Kecamatan Lembang–Kabupaten Bandung Barat Agus Jaiz Hamdani; Zulfa Yogi Rahmawati; Pandu Eka Priyana; Revina Fitri Zen; Muhammad Alsamtu Tita Sabila Pratama Suhartono; Ashilah Putri Mandiri; Salma Maya Puspita; Muhammad Bagus Fitriawan; Najmadina Faradiba Ahsan; Fitri Hanifah Setiawan; Muhammad Hafidz Abdul Hanif
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1253-1268

Abstract

Kecamatan Lembang merupakan salah satu daerah yang sering dilanda bencana tanah longsor. Kejadian longsor di daerah tersebut tidak jarang menimbulkan kerugian ekonomi dan korban jiwa. Sejauh ini, belum ada satupun penelitian yang membandingkan metode pemetaan kerawanan tanah longsor, misalnya analytical hierarchy process (AHP) dan information value (IV), di daerah tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan (1) memetakan dan menganalisis distribusi spasial tingkat kerawanan longsor dan (2) membandingkan serta menganalisis metode AHP dan IV untuk kajian kerawanan longsor di Kecamatan Lembang. Sebanyak delapan parameter kerawanan longsor digunakan dalam pemetaan, seperti ketinggian, kemiringan lereng, arah hadap lereng, jarak terhadap patahan, jarak terhadap sungai, jarak terhadap jalan, litologi, dan penggunaan lahan. Semua parameter tersebut kemudian ditumpangsusunkan (overlay) sehingga menghasilkan peta kerawanan tanah longsor. Hasil peta kerawanan tersebut kemudian dibagi menjadi 5 kelas: sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Uji akurasi juga dilakukan terhadap kedua metode pemetaan. Metode IV memiliki akurasi yang lebih tinggi daripada metode AHP dengan nilai 68% berbanding 56%. Pola kelas kerawanan tinggi dan sangat tinggi di kedua peta tersebut berasosiasi dengan hutan dan jaringan sungai. Selain itu, analisis ini juga menunjukkan kualitas data parameter dan ketersediaan basis data kejadian penting untuk menghasilkan peta yang lebih representatif.

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 6 (2025): November 2025 Vol 23, No 5 (2025): September 2025 Vol 23, No 4 (2025): July 2025 Vol 23, No 3 (2025): May 2025 Vol 23, No 2 (2025): March 2025 Vol 23, No 1 (2025): January 2025 Vol 22, No 6 (2024): November 2024 Vol 22, No 5 (2024): September 2024 Vol 22, No 4 (2024): July 2024 Vol 22, No 3 (2024): May 2024 Vol 22, No 2 (2024): March 2024 Vol 22, No 1 (2024): January 2024 Vol 21, No 4 (2023): October 2023 Vol 21, No 3 (2023): July 2023 Vol 21, No 2 (2023): April 2023 Vol 21, No 1 (2023): January 2023 Vol 20, No 4 (2022): October 2022 Vol 20, No 3 (2022): July 2022 Vol 20, No 2 (2022): April 2022 Vol 20, No 1 (2022): January 2022 Vol 19, No 3 (2021): November 2021 Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 19, No 1 (2021): April 2021 Vol 18, No 3 (2020): November 2020 Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 18, No 1 (2020): April 2020 Vol 17, No 3 (2019): November 2019 Vol 17, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 17, No 1 (2019): April 2019 Vol 16, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 16, No 1 (2018): April 2018 Vol 15, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 15, No 1 (2017): April 2017 Vol 14, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 14, No 1 (2016): April 2016 Vol 13, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 13, No 1 (2015): April 2015 Vol 12, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 12, No 1 (2014): April 2014 Vol 11, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 11, No 1 (2013): April 2013 Vol 10, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 10, No 1 (2012): April 2012 Vol 9, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 9, No 1 (2011): April 2011 More Issue