cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Adsorption of Lead (Pb2+) Using Biochar Derived from Bamboo Waste Pyrolysis Mufandi, Ilham; Kholis, Muhammad Nur; Hamawi, Mahmudah; Ardani, Much Taufik; Kusuma, Hafidha Ayu
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1205-1212

Abstract

The increasing of industrial activities and urbanization have led to the accumulation of heavy metals, which pose a high risk to human health and ecosystems. Adsorption using biochar from bamboo waste is an alternative solution as an adsorbent. This study evaluated the performance of biochar from pyrolysis of bamboo waste at various temperatures (300–600°C) for adsorption of lead (Pb²⁺) ions. The pyrolysis was conducted under a nitrogen gas atmosphere to prevent oxidation during thermal decomposition. Fourier Transform Infrared (FTIR) analysis revealed an increase in the stability of carbonyl (C=O) and carbon–nitrogen (C–N) functional groups with increasing temperature, which contributed to a stronger affinity for metal ions. Brunauer–Emmett–Teller (BET) analysis showed that biochar produced at 400 °C exhibited the most favorable surface characteristics, with a surface area of 178.56 m²/g, a pore volume of 0.091 cm³/g, and an average pore diameter of 2.05 nm. This sample also demonstrated the highest Pb²⁺ adsorption capacity of 52.4 mg/g. Despite higher porosity, the biochar produced at 600 °C showed diminished adsorption efficiency due to pore structure collapse and decreased carbon content. The findings suggest that biochar synthesized at 400 °C has strong potential for use in environmental remediation applications, particularly in mitigating lead contamination in water systems.
Penyisihan BOD, COD, dan Amonia pada Lindi Menggunakan Spons dan Sumbu Kompor Sebagai Media Biofilter Vidiyanti, Sukma; Jumiati, Jumiati; Simamora, Cico Jhon Karunia; Utomo, Kiki Prio
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1316-1322

Abstract

Lindi mengandung BOD, COD, dan amonia yang dapat diolah menggunakan biofilter. Biofilter merupakan pengolahan yang memanfaatkan proses biologi untuk menyisihkan parameter pencemar menggunakan biofilm yang tumbuh pada media. Spons dan sumbu kompor dapat digunakan menjadi media pertumbuhan biofilm. Penelitian ini bertujuan mengetahui efisiensi dan persentase penurunan terbaik BOD, COD, dan amonia pada lindi menggunakan media spons dan sumbu kompor yang masing masing memiliki 2 kombinasi jarak yaitu 4-2-4 cm dan 4-2 cm.  Pada penelitian ini media dikontakkan dengan lindi di 4 reaktor aerob bersirkulasi melalui proses seeding selama 14 hari dengan komposisi 50% lindi (21 liter), 42,5% air bebas klor (17,85 liter), 7,5% filtrat lumpur TPA (3,15 liter) dan glukosa sebanyak 0,05% dari jumlah lindi (10,5 gram). Setelah itu dilanjutkan dengan proses aklimatisasi selama 7 hari dengan komposisi 75% lindi (31, 5 liter), 25% air tanpa klor (10,5 liter), dan glukosa sebanyak 0,05% dari jumlah lindi (15,75 gram). Kemudian proses running sebanyak 42 liter lindi tanpa penambahan apapun selama 6 hari. Didapati hasil bahwa persentase terbaik terdapat pada reaktor dengan media sumbu kompor berjarak 4-2-4 cm mampu menurunkan BOD hingga 84,38%, dan media spons berjarak 2-4 cm yang mampu menurunkan COD 61,6% dan amonia 98,34%.
Pengaruh Sekat Kanal Terhadap Beberapa Sifat Fisika dan Kimia dalam Air Saluran Drainase Gambut Terdegradasi Dayanti, Erin; Anshari, Gusti Z; Gusmayanti, Evi; Andriyani, Yulita; Barry, Desi Silvani Putri Aulian; Bowen, Jennifer C; Gates, Ruby; Perryman, Clarice R; Hoyt, Alison
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1155-1161

Abstract

Lahan gambut di Indonesia seluas 13,4 juta hektar, dan sekitar 60% degradasi akibat drainase untuk pembangunan pertanian dan hutan tanaman industri. Pembangunan sekat kanal merupakan salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak sekat kanal terhadap beberapa sifat fisika dan kimia air saluran drainase sebelum dan setelah sekat kanal. Penelitian dilakukan pada lima sekat kanal di desa Rasau Jaya Umum, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Metode yang digunakan meliputi survei lapangan, pengambilan dan analisis sampel air. Untuk menganalisis perbedaan beberapa sifat fisika dan kimia sebelum dan setelah sekat kanal. Dilakukan Uji T dengan program Real Statistics. Penyebaran data hasil pengukuran ditampilkan dengan diagram kotak (boxplot). Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah sekat kanal temperature lebih tinggi yaitu 31,28˚C ± 3,00 dibandingkan sebelum sekat kanal 29,54˚C ± 0,93 dan pH air setelah sekat kanal 3,91 ± 0,28 dibandingkan sebelum sekat kanal 3,63 ± 0,18, namun kadar oksigen terlarut setelah sekat kanal lebih rendah yaitu 0,86 mg/l ± 0,37 dibandingkan sebelum sekat kanal 1,25 ± 0,71. Kedalaman air saluran menunjukkan penurunan yang signifikan setelah sekat kanal yaitu 25,20 cm ± 8,32 sedangkan sebelum sekat kanal 49,70 cm ± 11,37. (p sebesar 0,000) menunjukkan bahwa perbedaan ini signifikan secara statistik, yang berarti sekat kanal berpengaruh terhadap kedalaman air saluran. Kedalaman muka air tanah (water level height) menunjukkan penurunan setelah sekat kanal yaitu 30,50 cm dengan standar deviasi 11,63 sedangkan sebelum sekat kanal 36,15 cm dengan standar deviasi 10,99, namun p-value yang lebih besar dari 0,05 (0,093) menunjukkan bahwa perbedaan ini tidak signifikan secara statistik. Konsentrasi besi terlarut lebih rendah setelah sekat kanal yaitu 9,68µM ± 2,66 dibandingkan sebelum sekat kanal, yaitu 13,20µM ± 1,47, yang menunjukkan kondisi oksidatif yang lebih dominan. Sementara itu, karbon organik terlarut (DOC) tidak menunjukkan perbedaan signifikan, meskipun rerata nilai DOC sedikit lebih tinggi sebelum sekat kanal. Temuan ini menunjukkan sekat kanal menyebabkan akumulasi Fe, yang berpengaruh terhadap perombakan bahan organik menjadi emisi gas rumah kaca.
Potensi Pendidikan Keluarga dan Kearifan Lokal dalam Mendukung Promosi Literasi Keuangan Hijau Kurniadi, Romi; Sari, Nurmala; Dwijayanti, Novia Sri
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1269-1279

Abstract

Meskipun dampak industri terhadap lingkungan lebih besar dibandingkan aktivitas rumah tangga, peran keluarga tetap penting dalam mendorong literasi keuangan hijau. Keuangan hijau berkembang sebagai instrumen mendukung pembangunan berkelanjutan melalui investasi yang ramah lingkungan. Penelitian ini menelaah potensi pendidikan keluarga dan kearifan lokal dalam promosi literasi keuangan hijau dengan pendekatan systematic literature review (SLR). SLR dipilih karena kemampuannya menyaring dan menyintesis literatur relevan secara sistematis, sehingga menghadirkan gambaran komprehensif sekaligus mengidentifikasi kesenjangan penelitian. Proses SLR meliputi perumusan pertanyaan penelitian, penelusuran literatur akademik dengan kata kunci “kearifan lokal”, “pendidikan keluarga”, dan “keuangan hijau”, serta pengumpulan data menggunakan aplikasi Publish or Perish. Hasil kajian menunjukkan bahwa praktik kearifan lokal dan nilai keluarga dapat dimobilisasi sebagai media efektif meningkatkan literasi keuangan hijau. Integrasi kearifan lokal dengan pendidikan keluarga berpotensi memperkuat pemahaman keuangan yang selaras dengan prinsip keberlanjutan. Rekomendasi penelitian lebih lanjut menekankan pentingnya studi empiris yang menilai dampak konkret praktik kearifan lokal dalam konteks keluarga terhadap literasi keuangan hijau di berbagai komunitas. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam merumuskan metode yang menggabungkan pengelolaan sumber daya tradisional dan strategi keuangan modern, sehingga tercipta model literasi keuangan hijau yang berkelanjutan dan inklusif.
Analisis Indeks Pencemaran dan Prediksi Distribusi Kualitas Air Sungai Menggunakan Metode Spatial Inverse Distance Weighted (Studi Kasus: Sungai Gentung, Kabupaten Pangkep) Rasyid, Rusman; Nasrul, Nasrul; Qaiyimah, Dinil
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1213-1226

Abstract

Kualitas air sungai memainkan peran yang penting dalam mendukung berbagai ekosistem air dan aktivitas manusia. Namun, Sungai Gentung saat ini mengalami perubahan kondisi yang dapat dilihat secara fisik. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh semakin meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi yang intensif di sepanjang bantaran sungai yang dapat meningkatkan risiko pencemaran air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks pencemaran dan prediksi distribusi kualitas air sungai Gentung, Kabupaten Pangkep. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif dengan menggunakan parameter fisik seperti suhu, Total Suspended Solids (TSS), dan Total Dissolved Solids (TDS) serta parameter kimia yaitu pH, Dissolved Oxygen (DO), Biochemical Oxygen Demand (BOD), dan Chemical Oxygen Demand (COD). Selain itu, Analisis Spatial Inverse Distance Weighted juga dilakukan untuk menggambarkan profil distribusi kualitas air sehingga diperoleh data sebaran kualitas air sungai pada empat titik pengambilan sampel yang dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kualitas air Sungai Gentung, Kabupaten Pangkep dalam keadaan tercemar ringan hingga sedang. Indeks pencemaran titik satu yaitu 5,66 (cemar sedang), titik kedua 5,78 (cemar sedang), titik ketiga 6,04 (cemar sedang), dan titik keempat 2,39 (cemar ringan). Selain itu, hasil Analisis Spatial Inverse Distance Weighted dengan merujuk dari hasil pengujian laboratorium dan perbandingan syarat baku mutu menunjukkan distribusi kualitas air sungai pada tujuh parameter pengujian yang terindikasi tidak memenuhi syarat baku mutu adalah Total Suspended Solids (TSS), Total Dissolved Solids (TDS), Dissolved Oxygen (DO), Biochemical Oxygen Demand (BOD), dan Chemical Oxygen Demand (COD). Penelitian ini dapat menjadi bahan rujukan dan rekomendasi bagi pihak pemangku kepentingan untuk mengambil langkah penanganan permasalahan lingkungan yaitu kualitas air Sungai Gentung, Kabupaten Pangkep.
The Role of Fiscal Incentives in Enhancing the Plastic Recycling Industry: Addressing Waste Generation in Indonesia Aurelianisa, Kayla; Tambunan, Maria R.U.D.
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1323-1332

Abstract

Efforts to address the issue of waste generation in Indonesia are being realized through the application of the circular economy concept in the plastic recycling industry. However, the growth of this industry faces several challenges, such as limited raw material availability and inadequate recycling technology. Therefore, government support in the form of fiscal incentives has become an urgent necessity. This study aims to analyze the urgency of providing fiscal incentives, the challenges in formulating consumption tax incentive policies, and efforts to optimize the utilization of these incentives by plastic recycling industry players. Using a qualitative approach and descriptive research method, data were collected through literature reviews and field studies. The research findings indicate that adequate raw material availability and technology are critical challenges, aside from the need for additional fiscal incentives to overcome these limitations. However, there are also challenges in policy formulation, particularly regarding the alignment of proposed policies with existing regulations. Although fiscal incentives, such as cost reductions for recycling machinery investment, are already available, their utilization remains suboptimal due to insufficient socialization. To address this issue, coordination among policymakers from policy formulation to evaluation stages is necessary, as well as increased outreach efforts regarding the use of fiscal incentives through collaboration with relevant field stakeholders.
Pemetaan Daya Dukung Pangan Kabupaten Malang Menggunakan Sistem Grid Skala Ragam Arysandi, Safira Arum; Santosa, Langgeng Wahyu; Sudrajat, Sudrajat
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1162-1174

Abstract

Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Malang sejalan dengan meningkatnya kebutuhan lahan yang memicu maraknya alih fungsi lahan pertanian dan berdampak pada penurunan produksi pangan. Kondisi ini dapat mengancam ketahanan pangan daerah sehingga diperlukan evaluasi daya dukung pangan. Pendekatan berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan sistem grid skala ragam memungkinkan analisis yang lebih akurat terhadap daya dukung pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status daya dukung pangan beras di Kabupaten Malang serta memodelkan distribusinya dalam peta. Analisis SIG mencakup proses overlay parameter ekoregion, vegetasi alami, tutupan/penggunaan lahan, jenis tanah dan curah hujan yang nilainya diperoleh dari metode simple additive weighting (SAW) sehingga didapatkan nilai koefisien Daya dukung lingkungan dalam penyediaan pangan berbasis jasa ekosistem. Daya dukung pangan direpresentasikan dengan nilai daya dukung pangan beras menggunakan perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan beras. Grid skala ragam resolusi 5”x5” digunakan untuk menyesuaikan variasi data spasial sehingga dapat meningkatkan presisi hasil analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan ketersediaan pangan beras di Kabupaten Malang 312.916,66 ton sedangkan kebutuhan beras total adalah 241.275,90 ton. Sehingga nilai daya dukung pangan di Kabupaten Malang adalah 1,39, maka Kabupaten Malang masuk dalam kategori surplus, artinya produksi beras cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk dan dapat mendistribusikan kelebihan bahan pangan ke wilayah lain yang membutuhkannya.
Estimasi Cadangan Karbon Permukaan Tanah pada Lahan Kering di Kawasan Marine Science Techno Park (MSTP) Teluk Awur, Jepara Jumari, Jumari; Suedy, Sri Widodo Agung; Sugianto, Deny Nugroho; Wisalyakarini, Priscilla Citta Kirana
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1385-1393

Abstract

Pemanasan global menjadi salah satu isu lingkungan yang disebabkan oleh penumpukan gas rumah kaca di atmosfer salah satunya CO2. Pengurangan CO2 dapat dilakukan dengan menanam tumbuhan. Tumbuhan (tumbuhan hidup dan tumbuhan mati) dapat mengolah, menyerap dan menyimpan CO2 yang terbentuk sebagai cadangan karbon. Marine Science Techno Park (MSTP) merupakan kawasan yang dikelola Universitas Diponegoro yang bekerja sama dengan pemerintahan Jepara di Kawasan Teluk Awur dan memiliki area lahan kering. Tujuan penelitian ini menganalisis biomassa pohon, nekromassa, tumbuhan bawah, dan serasah untuk mengestimasi stok karbon di Kawasan MSTP, Teluk Awur. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2022 – Maret 2023. Identifikasi dan penanganan sampel tumbuhan dilakukan di Laboratorium Ekologi dan Biosistematika, Departemen Biologi, Universitas Diponegoro. Metode dilakukan dengan mengambil data biomassa dengan membuat plot 20m x 20m (biomassa pohon), plot 5m x 5m (nekromassa), dan 1m x 1m (tumbuhan bawah dan serasah) pada 3 titik area lahan kering, Kemudian mengukur dan menganalisis estimasi cadangan karbon. Hasil dari kerapatan total pohon adalah 579 ind/ha dengan rata-rata biomassa pohon 291,99 t/ha. Rata-rata biomassa nekromassa 0,55 t/ha, rata-rata biomassa tumbuhan bawah 1,07 t/ha, dan rata-rata biomassa serasah 2,95 t/ha. Total estimasi cadangan karbon adalah 139,13 t/ha, termasuk kategori tinggi dengan kontribusi terbesar dari biomassa batang (>90%).
Prediksi Muka Air Tanah Perkotaan Menggunakan Hybrid ANFIS-PSO: Studi Kasus Kota Semarang Suharyanto, Oasiska Nuhannaning; Helmi, Muhammad; Hidayat, Jafron Wasiq
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1394-1403

Abstract

Prediksi muka air tanah merupakan hal krusial untuk perencanaan pengelolaan sumber daya air tanah yang berkelanjutan, khususnya di daerah urban seperti Kota Semarang yang rentan terhadap penurunan muka air tanah. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model prediksi MAT satu bulan ke depan dengan mengoptimalkan algoritma Adaptive Neuro-Fuzzy Inference System (ANFIS) menggunakan Particle Swarm Optimization (PSO). Data sekunder dari ESDM Jawa Tengah periode Juni 2019 hingga Agustus 2024 dari tujuh sumur pantau dianalisis dengan variabel input muka air tanah bulan sebelumnya (GWL t-1), curah hujan, evapotranspirasi, dan temperatur. Evaluasi kinerja model menggunakan koefisien determinasi (R²) dan Root Mean Square Error (RMSE). Hasilnya menunjukkan akurasi yang bervariasi antar lokasi, dengan R² tertinggi 92,77% (RMSE 19,62%) di SMKN 1 Semarang dan R² terendah 62,71% (RMSE 16,27%) di PT Savana Tirta Makmur. Variasi akurasi ini diduga kuat dipengaruhi oleh karakteristik akuifer dan kondisi lingkungan setempat yang tidak seragam. Secara keseluruhan, model ANFIS-PSO terbukti robust dalam memprediksi fluktuasi muka air tanah non-linier. Model ini dapat dijadikan sebagai alat pendukung keputusan yang berharga bagi para pemangku kebijakan, misalnya untuk memitigasi risiko overdraft air tanah dan menyusun strategi konservasi yang lebih efektif di Kota Semarang.
Kerawanan Banjir pada Permukiman di Kalimantan Barat Ertian, Muhammad Harits; Jati, dian rahayu; Akbar, Aji Ali
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1359-1369

Abstract

Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah yang masih sering dilanda permasalahan banjir. Perubahan tutupan lahan, deforestasi hutan khususnya tipe riparian, dan alih fungsi lahan gambut menjadi permukiman memberikan dampak besar berupa kerusakan siklus hidrologi alami yang mampu meningkatkan kuantitas dan intensitas kejadian banjir. Kondisi lingkungan alami yang rawan terhadap banjir akan diperparah oleh alih fungsi lahan yang tidak tepat menjadi permukiman. Penelitian ini akan mengkaji faktor – faktor apa saja yang mengakibatkan kerawanan banjir di permukiman semakin meningkat di Kalimantan Barat. Upaya mitigasi apa saja yang perlu dilakukan untuk mencegah banjir. Analisis data yang dilakukan berbasis geographic information system (GIS). Metode kajian ini dengan cara tumpang susun dan skoring. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa luas permukiman terbangun di Kalimantan Barat yaitu sebesar 101.149,58 ha. Terindikasi bahwa permukiman terbangun yang rawan banjir sekitar 92.963,76 ha. Artinya, 92% wilayah permukiman di Kalimantan Barat berada di wilayah rawan banjir. Kejadian banjir di Provinsi Kalimantan Barat dalam lima tahun terakhir dari tahun 2018 hingga 2022 sebanyak 139 kejadian banjir dengan pola yang berulang setiap tahunnya. Faktor penyebab terjadinya banjir di Kalimantan Barat umumnya terjadi karena intensitas curah hujan yang tinggi, kemiringan lereng, tinggi elevasi, serta dampak perubahan tutupan lahan hutan menjadi non hutan dalam waktu panjang.

Filter by Year

2011 2025