cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 872 Documents
Bentuk dan Kelimpahan Mikroplastik pada Ikan Kerapu Muara dan Baronang di Mangrove Denpasar, Bali Rahmadi Prasetijo; Putu Angga Wiradana; I Made Gde Sudyadnyana Sandhika; I Putu Sugiana
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 3 (2025): May 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.3.696-702

Abstract

Mikroplastik merupakan salah satu isu lingkungan yang semakin mengkhawatirkan karena dampaknya terhadap ekosistem laut dan kesehatan manusia. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi bentuk, warna, ukuran, dan jenis polimer mikroplastik yang ditemukan pada ikan kerapu muara (Epinephelus coioides) dan ikan baronang (Siganus sp.) di kawasan Ekowisata Mangrove Batu Lumbang, Denpasar. Sampel ikan diambil dari habitat alami mereka, kemudian dianalisis menggunakan metode destruksi saluran cerna dengan larutan KOH 10%, penyaringan dengan kertas saring Whatman, serta identifikasi menggunakan mikroskop dan spektroskopi FT-IR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah fibers, dengan persentase mencapai 80% pada kedua jenis ikan, diikuti oleh fragmen dan film dalam jumlah yang lebih kecil. Warna mikroplastik yang dominan adalah bening (56-60%), diikuti oleh warna biru, hitam, dan cokelat. Sebagian besar partikel berukuran kecil (≤1 mm), sehingga lebih mudah tertelan dan terakumulasi dalam tubuh ikan. Analisis FT-IR mengidentifikasi polyethylene dan polyacetylene sebagai polimer utama, yang kemungkinan besar berasal dari limbah rumah tangga dan aktivitas manusia seperti perikanan. Penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas manusia, termasuk pembuangan sampah plastik, berkontribusi besar terhadap pencemaran mikroplastik di kawasan mangrove. Hasil ini memberikan gambaran penting untuk pengelolaan limbah plastik yang lebih baik dan upaya mitigasi pencemaran. Dengan langkah-langkah yang tepat, dampak negatif terhadap ekosistem mangrove dan kesehatan masyarakat dapat diminimalkan, mendukung keberlanjutan ekosistem dan kehidupan di wilayah pesisir.
Klasifikasi Kemampuan Lahan sebagai Dasar Arahan Penggunaan Daerah Aliran Sungai Pakerisan Provinsi Bali Ni Wayan Suprianingsih; I Wayan Sandi Adnyana; I Gusti Agung Ananda Putra
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 1 (2026): Januari 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.1.%p

Abstract

DAS Pakerisan memiliki kerentanan terhadap degradasi lingkungan akibat keberadaan lahan kritis dan agak kritis. Dengan demikian, penelitian mengenai analisis kelas kemampuan lahan menjadi penting sebagai dasar perencanaan pemanfaatan lahan secara berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan klasifikasi terhadap kelas kemampuan lahan serta menyusun arahan pemanfaatan yang sesuai untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan Land Capability Classification (LCC) melalui analisis spasial yang mempertimbangkan faktor kemiringan lereng, tekstur tanah, serta tutupan lahan. Proses klasifikasi juga memperhatikan faktor pembatas utama berupa kerentanan erosi yang menjadi karakteristik di DAS Pakerisan. Hasil analisis menunjukkan bahwa klasifikasi kemampuan lahan di wilayah DAS Pakerisan terbagi menjadi enam kelas berbeda. Unit lahan kelas I seluas 1.020,77 ha (11,32%), kelas II 463,59 ha (5,14%), kelas III 995,87 ha (11,05%), kelas IV 2.338,71 ha (25,94%), kelas VI 2.060,62 ha (22,86%), dan kelas VII 2.135,31 ha (23,69%). Arahan penggunaan lahan yang dihasilkan meliputi hutan lindung 137,42 ha (1,52%), kawasan lindung 1.199,69 ha (13,31%), budidaya tanaman tahunan 2.027,62 ha (22,49%), budidaya tanaman semusim 1.355,24 ha (15,03%), serta kawasan penyangga 4.294,97 ha (47,64%). Kelas IV merupakan kelas paling dominan, sedangkan kawasan penyangga menjadi bentuk arahan penggunaan terbesar. Temuan ini menegaskan pentingnya strategi pengelolaan terpadu melalui konservasi biofisik dan keterlibatan sosial-ekonomi masyarakat guna mendukung keberlanjutan DAS.
Continuous Electrocoagulation Process for the Treatment of High Colloidal Clay in Coal Mine Water using Lab Scale Baffle Channel Reactor Muhammad Sonny Abfertiawan; Althaf Gavin Azarya; Syarif Makki Zamani; Mindriany Syafila; Marisa Handajani
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 1 (2026): Januari 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.1.%p

Abstract

The electrocoagulation (EC) process has been extensively studied in recent years for the removal of various contaminants present in wastewater, such as metals, organic materials, dyes, oils, pharmaceutical compounds, and other emerging pollutants. In the mining industry, EC development continues to be conducted for the removal of contaminants in mine water, which is characterized by high acidity and suspended solids. This study aims to develop EC for the removal of suspended solids caused by the presence of colloidal clay from overburden during mining activities. EC was operated using a lab-scale baffle channel reactor with a volume of 15 liters in continuous mode, utilizing monopolar iron and aluminum electrode pairs. To obtain optimal performance, the study focused on the influence of three parameters affecting EC: current density (2 A, 4 A, and 6 A), electrode type (iron and aluminum), and residence time in the reactor (15 minutes, 30 minutes, and 45 minutes, equivalent to flow rates of 0.3, 0.5, and 1 LPM). The results demonstrated that the highest suspended solids removal of 99.66% occurred in the iron electrode reactor with a current strength of 6 amperes and an HRT of 45 minutes or a flow rate of 0.3 liters per minute. The reactor with aluminum electrodes achieved a removal percentage of 99.11% with a current strength of 6 amperes and an HRT of 15 minutes or a flow rate of 1 liter per minute. This research represents an advanced stage of batch operation in efforts to develop field-scale EC for the treatment of mine water with high colloidal clay content.
Kinerja Instalasi Sistem Pengelolaan Air Limbah Terpusat Komunal di Area Urban Mohamad Rangga Sururi; Mochammad Reihan Dastin Ramadhan; Fakhri Jannatan Harits Sungkar; Etih Hartati
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 1 (2026): Januari 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.1.%p

Abstract

Penelitian ini dilakukan pada dua SPALDT komunal, yaitu Balumbang Kulon dan Balumbang Wetan di Kota Cimahi. Balumbang Kulon melayani 56 sambungan rumah (SR) dan 1 sekolah, sedangkan Balumbang Wetan melayani 72 SR, menggunakan jaringan pipa PVC berdiameter 150 mm dan IPAL sistem anaerobik aerobik. Penelitian mencakup evaluasi parameter hidrolis jaringan (kecepatan aliran, debit, dan tinggi muka air dalam pipa) serta analisis kualitas efluen yang dibandingkan dengan baku mutu Peraturan Menteri LHK Nomor 68 Tahun 2016. Parameter yang dianalisis meliputi pH, TSS, amonia, BOD, COD, minyak dan lemak, serta total coliform. Hasil menunjukkan bahwa kecepatan aliran maksimum terjadi pada pagi hari, yaitu 0,45 m/detik di Balumbang Kulon dan 0,61 m/detik di Balumbang Wetan, dengan faktor puncak masing-masing 6,97 dan 5,02. Tinggi aliran dalam pipa mencapai kedalaman berenang (5 cm) hanya pada jam puncak, mengindikasikan diameter pipa relatif lebih besar dari kebutuhan aktual. Dari sisi kualitas efluen, meskipun pH memenuhi baku mutu, sebagian besar parameter pencemar utama masih melebihi standar yang berlaku. Secara keseluruhan, IPAL anaerobik–aerobik yang digunakan belum mampu menghasilkan efluen yang memenuhi baku mutu air limbah domestik secara menyeluruh.
Hubungan Gender dengan Keberhasilan Program Kampung Iklim di Wilayah Pesisir Kelurahan Tugurejo Andhina Putri Heriyanti; Yonika Sindiana Prahmani
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 1 (2026): Januari 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.1.%p

Abstract

Perubahan iklim menimbulkan ancaman serius di wilayah pesisir, ditandai dengan kenaikan muka air laut dan tingginya kejadian bencana hidrometeorologi (mencapai 32.944 kejadian di Indonesia pada tahun 2011-2023). Risiko jangka panjang perubahan iklim berdampak signifikan terhadap ketahanan sumber daya, terutama bagi Perempuan. Oleh karena itu, Program Kampung Iklim (ProKlim) yang berfokus pada pengarusutamaan gender sesuai PermenLHK No.84 Tahun 2016 sangat penting sebagai upaya adaptasi dan mitigasi. Berdasarkan studi terdahulu, program lingkungan berbasis pemberdayaan masyarakat telah dikaji, namun belum sepenuhnya memperhatikan aspek gender dalam ProKlim, Penelitian ini bertujuan menganalisis keberhasilan ProKlim Tingkat Utama di Kelurahan Tugurejo dengan menitikberatkan pada hubungan gender tersebut. Penelitian ini menggunakan metode mix method di wilayah RW 01, RW 04, dan RW 05 Kelurahan Tugurejo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tingkat kesetaraan gender dengan keberhasilan ProKlim dikategorikan cukup setara (47,9%) dan didominasi oleh partisipasi Perempuan. Berdasarkan analisis Chi-Square, ditemukan hubungan yang signifikan antara Karakteristik gender dengan Dukungan Keberlanjutan, Peran gender dengan Mitigasi dan Kesetaraan gender, serta Kesetaraan gender dengan Adaptasi. Meskipun demikian, analisis Spearman menunjukkan korelasi tertinggi justru dimiliki oleh hubungan antara Mitigasi dengan Dukungan Keberlanjutan. Berdasarkan uji normalitas, cut off point keberhasilan ProKlim Kelurahan Tugurejo mencapai 74,3%. Penilitian ini menyimpulkan bahwa tingkat kesetaraan gender yang setara merupakan faktor penentu keberhasilan ProKlim yang responsif gender. Penelitian ini, memiliki implikasi konkret bagi kebijakan untuk menghadapu dampak perubahan iklim secara inklusif, selaras dengan SDG’s nomor 5 dan RPJMN 2020 – 2024 yang memuat indikator peningkatan program pembangunaan berketahanan iklim.
Sustainable Landscape Management Strategies for Urban Parks: Lessons from Pakui Sayang Park, Makassar Nurfaida Nurfaida; Nur Syahraeni; Novaty Eny Dungga; Tigin Dariati; Muhammad Faried
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 1 (2026): Januari 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.1.%p

Abstract

Urban parks play a critical role in supporting ecological balance, enhancing public well-being, and fostering inclusive spaces within rapidly developing cities. This study aims to formulate a sustainable landscape management strategy for Pakui Sayang Park in Makassar, Indonesia, by integrating physical, ecological, managerial, and social considerations. Utilizing a qualitative descriptive approach supported by a SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) framework, the research assesses the park’s infrastructure, maintenance routines, labor effectiveness, and inclusive features through field observation, stakeholder interviews, and secondary data analysis. Results indicate significant management challenges, including limited workforce, underfunding, inadequate facility maintenance, and barriers to accessibility for vulnerable groups. Despite these issues, the park’s strategic location, ecological diversity, and community engagement present considerable opportunities for improvement. The SWOT analysis places the park in the Strength-Opportunity quadrant, suggesting that optimizing existing resources and leveraging external advantages can guide effective interventions. Key strategies include improving maintenance routines, enhancing managerial supervision, and promoting inclusivity through infrastructure upgrades. This research underscores the importance of integrated management that aligns ecological, social, and economic dimensions, offering a replicable model for sustainable urban park governance in comparable metropolitan contexts.
Sintesis dan Karakterisasi Selulosa Ampas Sagu untuk Pembuatan Membran Mikrofilter Nururrahmah Hammado; Desy Nurhasanah Sari
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 1 (2026): Januari 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.1.%p

Abstract

Ampas sagu merupakan limbah padat hasil ekstraksi pati sagu yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber selulosa asetat untuk pembuatan membran mikrofilter ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh selulosa asetat dari ampas sagu dan mengevaluasi karakteristik membran mikrofilter yang dihasilkan. Selulosa asetat diperoleh melalui proses delignifikasi, bleaching, dan asetilasi, kemudian difabrikasi menjadi membran dengan metode inversi fasa menggunakan variasi konsentrasi selulosa asetat 0,5 g, 0,7 g, dan 0,9 g. Penambahan filler rokok untuk memodifikasi dan meningkatkan sifat tertentu dari membran ampas sagu. Karakterisasi dilakukan menggunakan metode Van Soest, Fourier Transform Infrared (FTIR), dan Scanning Electron Microscopy (SEM). Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan yang dilakukan meningkatkan kandungan selulosa hingga 30,50% serta menurunkan kadar lignin menjadi 5,15% dan hemiselulosa menjadi 14,50%. Spektrum FTIR menunjukkan hilangnya puncak lignin pada 1545,06 cm-1dan munculnya puncak karbonil pada 1796,29 cm-1 yang mengindikasikan keberhasilan proses isolasi dan asetilasi selulosa. Analisis SEM memperlihatkan bahwa membran selulosa asetat ampas sagu yang dihasilkan memiliki struktur pori yang lebih terbuka, seragam, dan teratur. Berdasarkan hasil penelitian, ampas sagu berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku selulosa asetat untuk pembuatan membran mikrofilter berbasis biomassa yang ramah lingkungan.
Economic Valuation of Household Waste Transportation in Yogyakarta City, Indonesia: A Contingent Valuation Approach Anggi Rahajeng; Yudistira Hendra Permana; Naufal Mohamad Firdausyan; Sulistyo Handoko
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 1 (2026): Januari 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.1.%p

Abstract

This study examines the economic aspects of solid waste management in Yogyakarta City by comparing households' Ability to Pay (ATP) and Willingness to Pay (WTP). Using survey data and Tobit regression analysis, this research estimates ATP and WTP values and identifies their underlying determinants. The findings reveal a crucial phenomenon: WTP consistently exceeds ATP. This indicates that while citizens highly value waste services and are willing to pay more, they are restricted by their actual financial capacity. Furthermore, demanding physical obligations, such as mandatory sorting for waste banks, significantly reduce WTP because households perceive this manual effort as an added burden. Given that Yogyakarta City currently lacks a standardized tariff system, this study warns that implementing a uniform flat-rate tariff in the future would be highly inequitable. A flat-rate system would severely burden vulnerable groups while disproportionately benefiting wealthy households. Therefore, the government is advised to implement a progressive, tiered tariff system. Through cross-subsidization, wealthier households would pay a premium to subsidize low-income populations. This equitable financing scheme is absolutely necessary to ensure the commercial viability and sustainability of Public-Private Partnership (PPP) projects under the 2022–2031 waste management masterplan.
Assesing Urban Heat Island Impact on Environmental Critically Index in Padang City, Indonesia Yulia Fitri Harahap; Fitra Armando; Edo Nofriadi; Intan Lestari Mulyaning Tyas
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 1 (2026): Januari 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.1.%p

Abstract

Rapid urbanization and vegetation loss significantly intensify the Urban Heat Island (UHI) effect, escalating ecological vulnerability in tropical coastal cities. This study evaluates the spatial relationship between urban warming and environmental degradation in Padang City, Indonesia—a medium-sized tropical coastal city characterized by rapid development and a sharp topographic transition from coastal lowlands to eastern mountains. Utilizing Landsat 8 satellite imagery (January 2023–January 2024) processed via Google Earth Engine (GEE), this research integrates Land Surface Temperature (LST), Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), and built-up indices to map UHI intensity and the Environmental Criticality Index (ECI). The results reveal a stark west-east environmental dichotomy: the highly built-up western coastal lowlands act as intensive urban heat hotspots, exhibiting low NDVI values (down to -0.35), maximum LST values of 33.47°C, and high environmental criticality (covering 6.92% of the total area). Conversely, the eastern mountainous zone naturally mitigates thermal stress due to high forest canopy cover and environmental lapse rate benefits. Statistical analysis confirms a strong positive correlation between ECI and LST (r=0.72), demonstrating that urban overheating directly drives broader environmental degradation. Although limited by a single-year dataset and a lack of in-situ validation, this study provides a novel framework for mapping ecological vulnerability. These findings underscore the urgent need for climate-resilient spatial planning in Padang, including mandatory building-scale blue-green infrastructure (green roofs and walls) in the dense western core and strict enforcement of a minimum 30% green open space (RTH) quota in expanding sub-urban zones.
Pengolahan Air Limbah Industri Kayu Lapis secara Biologi Sistem Pertumbuhan Melekat Menggunakan Media Biogrow dan Kaldness Agnesya Giovani Putri Cendana Kapitarauw; Vincentia Irene Meitiniarti; Chairul Anwar
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 1 (2026): Januari 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.1.%p

Abstract

Industri kayu lapis merupakan sektor manufaktur penting di Indonesia. Namun, proses produksinya menghasilkan limbah cair mengandung bahan organik dan amonia dalam konsentrasi tinggi, yang apabila tidak diolah dengan baik dapat mencemari lingkungan. Selama ini, pengolahan limbah cair industri kayu lapis umumnya dilakukan secara kimiawi, yang meskipun cepat dan efisien dalam jangka pendek, memiliki beberapa kekurangan, seperti tingginya biaya operasional, produksi lumpur kimia yang besar, dan potensi menghasilkan residu berbahaya bagi lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, yaitu pengolahan secara biologis dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi persentase penurunan dua jenis media pertumbuhan melekat, yaitu Biogrow dan Kaldness, dalam menurunkan kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dan amonia pada air limbah industri kayu lapis. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan rancangan acak lengkap, menggunakan sistem sinambung selama 10 hari, dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Proses pengolahan dilakukan dalam skala kecil (miniplan) dengan sistem pertumbuhan melekat, dan persentase penurunan pengolahan dianalisis berdasarkan persentase penurunan COD dan amonia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media Biogrow lebih efisien dibandingkan Kaldness, dengan persentase penurunan penurunan COD mencapai 72,73% dan amonia sebesar 52,23%, sedangkan Kaldness hanya menurunkan COD sebesar 62,57% dan amonia sebesar 39,84%. Persentase penurunan yang lebih tinggi pada Biogrow diduga disebabkan oleh luas permukaan media yang lebih besar serta struktur yang mendukung pertumbuhan biofilm dan aktivitas mikroorganisme. Kesimpulannya, Biogrow lebih unggul dalam meningkatkan persentase penurunan pengolahan air limbah industri kayu lapis secara biologis dibandingkan Kaldness, dan berpotensi menjadi alternatif media pengolahan limbah yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Filter by Year

2011 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2026): Januari 2026 Vol 23, No 6 (2025): November 2025 Vol 23, No 5 (2025): September 2025 Vol 23, No 4 (2025): July 2025 Vol 23, No 3 (2025): May 2025 Vol 23, No 2 (2025): March 2025 Vol 23, No 1 (2025): January 2025 Vol 22, No 6 (2024): November 2024 Vol 22, No 5 (2024): September 2024 Vol 22, No 4 (2024): July 2024 Vol 22, No 3 (2024): May 2024 Vol 22, No 2 (2024): March 2024 Vol 22, No 1 (2024): January 2024 Vol 21, No 4 (2023): October 2023 Vol 21, No 3 (2023): July 2023 Vol 21, No 2 (2023): April 2023 Vol 21, No 1 (2023): January 2023 Vol 20, No 4 (2022): October 2022 Vol 20, No 3 (2022): July 2022 Vol 20, No 2 (2022): April 2022 Vol 20, No 1 (2022): January 2022 Vol 19, No 3 (2021): November 2021 Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 19, No 1 (2021): April 2021 Vol 18, No 3 (2020): November 2020 Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 18, No 1 (2020): April 2020 Vol 17, No 3 (2019): November 2019 Vol 17, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 17, No 1 (2019): April 2019 Vol 16, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 16, No 1 (2018): April 2018 Vol 15, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 15, No 1 (2017): April 2017 Vol 14, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 14, No 1 (2016): April 2016 Vol 13, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 13, No 1 (2015): April 2015 Vol 12, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 12, No 1 (2014): April 2014 Vol 11, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 11, No 1 (2013): April 2013 Vol 10, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 10, No 1 (2012): April 2012 Vol 9, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 9, No 1 (2011): April 2011 More Issue