cover
Contact Name
Amalia Setiasari
Contact Email
jkpi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jkpi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia
ISSN : 19796366     EISSN : 25026550     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Indonesian Fisheries Policy Journal present an analysis and synthesis of research results, information and ideas in marine and fisheries policies.
Arjuna Subject : -
Articles 198 Documents
EKSISTENSI PEREMPUAN PESISIR MARIND IMBUTI PADA REHABILITASI HUTAN MANGROVE DI PANTAI PAYUM KABUPATEN MERAUKE Astaman Amir; Modesta Ranny Maturbongs; Andrias Steward Samusamu
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 13, No 2 (2021): (November) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.13.2.2021.103-110

Abstract

Pelestarian hutan mangrove masih sering mengalami hambatan yaitu adanya keterbatasan waktu yang dimiliki oleh masyarakat pesisir khususnya kaum pria yang harus membagi waktu untuk bekerja mencari nafkah dan melakukan kegiatan pelestarian hutan mangrove. Melihat kondisi tersebut, ibu rumah tangga di wilayah pesisir mulai menunjukkan eksistensinya dalam mengaktualisasikan peran sosialnya dalam rangka pelestarian hutan mangrove. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat eksistensi wanita pesisir dalam melakukan pelestarian hutan mangrove di pesisir Pantai Payum yang terletak di Kabupaten Merauke. Pengambilan sampel data penelitian menggunakan teknik purposive sampling. Data yang dikumpulkan dengan cara obeservasi langsung di lokasi kajian, wawancara mendalam (deep interview) dengan teknik analisis kualitatif dan Focus Group Discussion (FGD). Eksistensi wanita pesisir Marind Imbuti dalam pengelolaan willayah pesisir telah ditunjukkan pada tahap perencanaan yang secara aktif memberikan masukan dan saran dalam teknis pelaksanaan kegiatan rehabilitasi hutan mangrove Pantai Payum secara berkelanjutan. Dalam pelaksanaanya, peran wanita pesisir tidak terbatas pada penanaman bibit mangrove saja. Wanita pesisir juga berperan dalam menyiapkan konsumsi untuk keluarganya yang terlibat dalam rehabilitasi hutan mangrove. Pada tahapan evaluasi ini wanita Marind Imbuti juga memberikan penilaian terhadap apa yang mereka lihat dan rasakan pada pelaksanaan kegiatan penanaman hutan mangrove. Keterlibatan wanita pesisir Marind Imbuti dalam pengelolaan wilayah pesisir telah memperilihatkan eksistensinya pada tahap perencanaan, pelaksaan dan evaluasi kegiatan rehabilitasi hutan mangrove.The conservation of mangrove forests is still often hampered by the limited time owned by coastal communities, especially men who have to divide their time to work for a living and carry out mangrove forest conservation activities. Based on these conditions, homemakers in coastal areas began to show their existence in actualizing their social roles in the context of mangrove forest rehabilitation. This study examines the presence of coastal women in rehabilitating mangrove forests on the Coast of payum, Merauke Regency. A sampling of research data using the purposive sampling technique. Data were collected utilizing observation and in-depth interviews with qualitative analysis techniques. Marine Imbuti coastal women in the management of coastal areas have been shown at the planning stage to actively provide input and advice in the technical implementation of sustainable rehabilitation of the mangrove forest of pay Coast. In practice, the role of coastal women is not limited to planting mangrove seedlings. Coastal women also play a role in preparing food for their families involved in mangrove forest rehabilitation. At this evaluation stage, Marind Imbuti women also assessed what they saw and felt in implementing mangrove forest planting activities. Marine Imbuti's involvement in coastal area management has shown its existence in the planning, implementation and evaluation stages of mangrove forest rehabilitation activities.
ANALISIS KELEMBAGAAN LOKAL PENGELOLAAN CALON KAWASAN KONSERVASI TAMAN PULAU KOLEPOM KABUPATEN MERAUKE PROVINSI PAPUA Yunus Pajanjan Paulangan; Hendrik Sombo; Pernandes Silaen; Johanis Valentino Fofied
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 14, No 1 (2022): (Mei) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.14.1.2022.25-33

Abstract

Kelembagaan merupakan salah satu aspek yang penting dalam pengelolaan suatu Kawasan konservasi. Tumpang tindih kewenangan berpotensi menimbulkan konflik kepentingan yang dapat mengganggu efektifitas dan efisiensi pengelolaan kawasan konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemangku kepentingan (stakeholder) sebagai lembaga dalam pengelolaan Calon Kawasan Konservasi Taman Pulau Kolepom. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan pengisian kuisioner serta diskusi pakar. Analisis data menggunakan metode (Interpretative Structural Modelling (ISM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa stakeholder yang berperan dalam pengelolaan Calon Kawasan Konservasi Taman Pulau Kolepom, yakni Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Papua, Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (LPSPL) Sorong, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Papua, Pemerintahan Kampung, Pemerintahan Distrik, Lembaga Masyarakat Adat (LMA) wilayah Tabonji, Waan dan Kimaam, dan Lembaga Keagamaan (Gereja) sebagai elemen lembaga kunci dalam pengelolaan Calon Kawasan Konservasi Taman berkelanjutan.Institutional is one of the essential aspects in the management of a conservation area. The overlapping authority can create a potential conflict of interest that can disrupt the conservation area management's effectiveness and efficiency. This study aimed to identify stakeholders as the institution in the direction of the Kolepom Island Park Conservation Proposed Area. Data were collected using interview methods and filling out questionnaires as well as expert discussions—data analysis used with the Interpretative Structural Modeling (ISM) method. The results of the study indicate that the stakeholders who play a role in the management of the Prospective Conservation Area of the Kolepom Island Coastal Park, namely the Development Planning Agency at Sub-National Level Papua Province, Technical Unit of Marine and Coastal Resources Management at Sorong, Ministry of Marine Affairs and the Fisheries Republic of Indonesia, Marine and fisheries services Papua Province, Village Government, District Government, Indigenous Peoples Institutions (Tabonji, Waan & Kimaam) and Religious Institutions (Churches) as some key institutional elements in the sustainable management of the Prospective Park-Conservation Area.
UPAYA KONSERVASI PENYU LEKANG (Lepidochelys olivacea) DI WILAYAH KONSERVASI EDUKASI MANGROVE DAN PENYU PANTAI CEMARA, BANYUWANGI, JAWA TIMUR Dwi Rosalina; Muji Prihajatno
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 14, No 1 (2022): (Mei) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.14.1.2022.1-10

Abstract

Penyu lekang (Lepidochelys olivacea) yang sejenis dengan penyu hijau adalah termasuk ke dalam kategori terancam punah oleh IUCN. Penyu lekang termasuk jenis karnivora yang memakan kepiting, udang dan kerang remis. Tujuan penelitian ini adalah untuk engelolaan konservasi penyu lekang. Makalah ini membahas tentang identifikasi penyu, data pendaratan dan penetasan telur penyu lekang, deskripsi penyu dan proses kegiatan konservasi penyu lekang. Kegiatan ini berlokasi di Pantai Cemara, Banyuwangi, Jawa Timur. Metode yang digunakan yaitu pengamatan secara langsung dengan pengambilan data primer berupa dokumentasi, observasi, wawancara, kegiatan penangkaran, identifikasi jenis penyu dan data sekunder. Hasil kajian menunjukkan bahwa upaya konservasi pada penyu lekang yang dilakukan yaitu Teknis Peneluran Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Kegiatan Monitoring, Proses Penetasan, Penyelamatan dan Relokasi Telur Penyu, Masa Inkubasi, Pemeliharaan Tukik Penyu, Pelepasan Tukik Penyu, dan Edukasi Pengunjung. Koordinasi antara instansi terkait dan masyarakat dalam menangani dan menyelamatkan kepunahan dari penyu lekang saat ini sudah berjalan dengan baik. Diharapkan dengan adanya upaya konservasi penyu tersebut, penyu lekang tetap dapat dilestarikan.The sea turtle (Lepidochelys olivacea), which is similar to the green turtle, is included in the IUCN endangered category. The sea turtle is a carnivorous species that eat crabs, shrimp and mussels. The purpose of this study is to manage the conservation of the turtledove. This paper discusses the discovery of turtles, data, hatching of the turtle eggs, and description and process of the olive ridley turtle. This activity is located at Cemara Beach, Banyuwangi, East Java. The method used is the direct observation by collecting primary data, documentation, observation, interviews, captive activities, turtle species and secondary data. The results showed that the olive ridley turtle (Lepidochelys olivacea) conservation efforts were carried out, monitoring activities, hatching processes, saving and relocating turtle rearing eggs, incubation period, turtle hatchlings, releasing turtle hatchlings, and educating visitors. Coordination between relevant agencies and the community in handling and saving the extinction of the turtledove is currently going well. It is hoped that with these turtle conservation efforts, the turtle can still be preserved.
BEBERAPA ASPEK BIOLOGI UDANG JERBUNG (Penaeus merguiensis) DI PERAIRAN KEPULAUAN ARU DAN SEKITARNYA (LAUT ARAFURA) SEBAGAI DASAR KEBIJAKAN PENGELOLAANNYA SECARA BERKELANJUTAN Ali Suman; Duranta Diandria Kembaren; Muhammad Taufik
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 14, No 1 (2022): (Mei) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.14.1.2022.35-46

Abstract

Pemanfatatan sumber daya udang jerbung (Penaeus merguiensis) di perairan Kepulauan Aru dan sekitarnya sudah berlangsung cukup lama dan dilakukan sangat intensif. Untuk menjaga keberlanjutannya, dibutuhkan opsi pengelolaan agar sumber daya ini dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji status stok dan kemungkinan pengelolaan udang jerbung di perairan Kepulauan Aru dan sekitarnya. Penelitian dilakukan pada periode survei 2013-2017 dengan metode survei dan diperkaya dengan sintesis hasil-hasil penelitian di perairan Kepulauan Aru, Laut Arafura. Hasil analisis menunjukkan bahwa struktur ukuran udang jerbung berkisar antara 16-54 mm dengan perbadingan kelamin didominasi udang betina, sementara pola pertumbuhannya bersifat allometrik negatif. Ukuran udang jerbung yang tertangkap pada umumnya belum memijah. Laju pertumbuhan (K) udang jerbung sebagai 1,3/tahun dengan panjang karapas maksimum (Loo) 60,0 mm. Laju kematian total (Z) dan laju kematian alamiah (M) masing-masing 3,79/tahun dan 1,57/tahun. Laju kematian karena penangkapan (F) sebagai 2,22/tahun dan laju pengusahaan (E) sekitar 0,59/tahun, sementara spawning potential ratio (SPR) adalah 3 %. Dengan demikian status stok udang jerbung sudah berada pada penangkapan berlebih (overfishing). Untuk menjamin keberlanjutannya, maka perlu disusun opsi-opsi pengelolaan meliputi penutupan daerah/musim penangkapan pada bulan Maret, melakukan pengurangan upaya penangkapan sekitar 18 % dari kondisi saat ini dan penetapan ukuran udang jerbung terkecil yang boleh ditangkap yaitu pada ukuran panjang karapas 38,8 mm. The exploitation level of banana prawn (Penaeus merguiensis) resources in Aru Island and surrounding waters has been done very intensive for a long time and until now. To preserve the banana prawn resources, it needs management options to sustain the use of these resources. The aim of this study was to identify the stock status and management of banana prawn in Aru Island and surrounding waters. The research was conducted during 2013 to 2017 using survey methods and supplemented by the synthesis of investigation results from Aru Island waters. Results show that the banana prawn’s size structure ranged between 16-54 mm, the sex ratio was dominated by female and the growth pattern was negative allometric. Most of the banana prawn were caught in immature condition. The growth rate (K) was 1.3/year with maximum carapace length (L∞) of 60.0 mm. Total mortality (Z) and natural mortality (M) was 3.79/year and 1.57/year respectively. The fishing mortality (F) was at 2.22/year and exploitation level (E) was around 0.59/year, while the spawning potential ratio (SPR) was 3 %. Hence the banana prawn stock in Aru Island and surrounding waters is in overfishing condition. Management options are proposed in order to keep the sustainability of the resources, such as: closed area/season in April, reducing effort to 18% from current condition, and legal-size catch limitation at 38,8 mm.
PENGELOLAAN SUMBERDAYA TERIPANG BERBASIS MASYARAKAT DI KAMPUNG MALAUMKARTA, KABUPATEN SORONG, PAPUA BARAT Gulam Arafat; Budhi Gunawan; Iskandar Iskandar
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 14, No 1 (2022): (Mei) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.14.1.2022.47-58

Abstract

Pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan berbasis masyarakat, di berbagai tempat di dunia, dalam skala tertentu dan di tengah keterbatasan negara, telah banyak disebutkan sebagai satu bentuk pengelolaan yang mampu menjamin keberlanjutan sumberdaya alam dan lingkungan yang dikelola. Sejalan dengan gagasan tersebut, artikel ini menguraikan hasil kajian tentang salah satu sistem pengelolaan berbasis masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya perikanan (teripang) pada salah satu komunitas warga yang berada di kawasan pesisir utara Papua yang disebut dengan Egek. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan sistem egek yang dipraktikkan secara kolektif oleh warga masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya perikanan. Selain itu, studi ini juga megumpulkan data perikanan teripang yaitu (1) Distribusi Ukuran Panjang, (2) Kepadatan Populasi dan (3) Keanekaragaman jenis dengan menggunakan metode kuantitatif untuk mengetahui kondisi sumberdaya teripang yang dikelola oleh masyarakat. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sistem pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis masyarakat di Kampung Malaumkarta telah memenuhi unsur pengelolaan yang baik dimana telah terdapat batasan wilayah pengelolaan, sistem aturan dan sanksi, hak pemanfaatan, sistem monitoring dan otoritas kelembagaan. Hal ini tentu berdampak positif terhadap kelestarian sumberdaya perikanan teripang yang merupakan salah satu objek biota egek dimana nilai keanekaragamannya masuk dalam kategori sedang yaitu 1,48 dengan kepadatan populasi masuk kategori baik yaitu 223,2 ind/ha dengan sebaran ukuran individu teripang didominasi pada ukuran dewasa yang sudah layak untuk dipanen yaitu ukuran >30 cm mencapai 68%.Community-based natural resource management, in various places in the world, on a certain scale and in the midst of state limitations, has been widely mentioned as a form of management that is able to ensure the sustainability of the natural resources and the environment being managed. In line with this idea, this article describes the results of a study on a community-based management system in the management of fishery resources (sea cucumbers) in a community of residents in the northern coastal area of Papua called “Egek”. This research uses qualitative and quantitative methods. Qualitative methods are used to describe the egek system that is practiced collectively by community members in the management of fishery resources. In addition, this study also collects data on sea cucumber fisheries, namely (1) Length Size Distribution, (2) Population Density and (3) Species diversity using quantitative methods to determine the condition of sea cucumber resources managed by the community. The results of the study show that, the community-based fisheries resources management system in Malaumkarta village has fulfilled the elements of good management where there are management boundaries, a system of rules and sanctions, utilization rights, monitoring systems and institutional authorities. This certainly has a positive impact on the sustainability of sea cucumber fisheries resources which is one of the objects of “Egek” where the diversity value is in the moderate category, namely 1.48 with a population density in the good category of 223.2 ind/ha with the distribution of individual sea cucumbers being dominated by adult size that are already good for harvesting, i.e. > 30 cm in size reach 68%.
KOMUNIKASI INTERPERSONAL DAN KINERJA BELAJAR TARUNA PROGRAM STUDI PENYULUHAN PERIKANAN POLITEKNIK AUP SELAMA PANDEMI COVID-19 Alvi Nur Yudistira; Pudji Muljono; Andin Taryoto
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 14, No 1 (2022): (Mei) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.14.1.2022.11-23

Abstract

Selama pembelajaran daring akibat pandemi Covid-19 di Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik AUP, tujuh taruna tidak menyelesaikan pendidikan di Semester I. Penelitian sebelumnya menunjukkan hubungan antara kinerja belajar dengan komunikasi interpersonal, tingkat kehadiran, efikasi diri terhadap pembelajaran daring, kemandirian belajar, dan motivasi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara efikasi diri terhadap pembelajaran daring, kemampuan komunikasi interpersonal, kemandirian belajar, motivasi akademik, dan tingkat kehadiran terhadap kinerja belajar. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode sensus. Dari 311 orang taruna, hanya 200 taruna mengisi instrumen penelitian. Kuesioner yang digunakan adalah Interpersonal Communication Competence Inventory, Online Learning Readiness Scale, Online Self-regulated Learning Questionnaire, dan Academic Motivation Scale. Data indeks prestasi, indeks prestasi kumulatif, dan tingkat kehadiran diperoleh dari Bagian Administrasi Akademik dan Ketarunaan Politeknik AUP. Data dianalisis menggunakan Partial Least Square (PLS) dengan hierarchical component models dengan dua tingkatan variabel. Dimensi setiap variabel sebagai tingkat pertama (first order) dan variabel efikasi diri terhadap pembelajaran daring; kemampuan komunikasi interpersonal; kemandirian belajar; motivasi sebagai tingkat kedua (second order). Model pengukuran telah memenuhi validitas dan reliabilitas. Sedangkan model struktural mempunyai koefisien determinasi yang lemah. Model struktural yang dibuat terpisah untuk semester II, semester IV, dan Semester VI dan VIII memperlihatkan nilai koefisien determinasi yang lebih besar dibandingkan dengan gabungan keseluruhan taruna. Hasil pengujian hipotesis memperlihatkan, hanya tingkat kehadiran yang berhubungan nyata dengan kinerja belajar pada seluruh model. Kemampuan komunikasi interpersonal juga berhubungan nyata dengan kinerja belajar pada taruna semester II. The Covid-19 pandemic caused all education activities to shift to online learning. During online learning, seven cadets from the Fisheries Extension Study Program of The Jakarta Technical University of Fisheries were dropped out in the first semester. Previous research has shown a relationship between learning performance and interpersonal communication, attendance level, self-efficacy towards online learning, self-regulated learning, and academic motivation. This study examines the relationship between self-efficacy toward online education, interpersonal communication skills, self-regulated learning, academic motivation, attendance levels, and learning performance. The research sample was obtained through a census. Of 311 cadets, only 200 cadets who fill the questionnaires. The questionnaires used were Interpersonal Communication Competence Inventory, Online Learning Readiness Scale, Online Self-regulated Learning Questionnaire, and Academic Motivation Scale. GPA and attendance level were collected from the Academic Administration of JTFU. Data were analyzed using Partial Least Square (PLS) with hierarchical component models with two levels of variables. Dimensions of each variable in the first order, then self-efficacy towards online learning; interpersonal communication skills; self-regulated learning; academic motivation in the second order. Evaluation of measurement models meets the validity and reliability criteria, but the structural model has a weak coefficient of determination. The structural model made separately for Semester II, Semester IV, and Semester VI and VIII has a more significant resolution coefficient than the total of cadets. Hypothesis testing showed only attendance levels related to learning performances in all models. Interpersonal communication skills are also significantly associated with the learning performance of the second-semester cadets.
MODEL AKTOR DALAM PENGELOLAAN SAMPAH PLASTIK LAUT DI KAWASAN PESISIR JAKARTA Muhammad Danny Sianggaputra; Andi Sagita; Christy Desta Pratama
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 14, No 2 (2022): (November) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.14.2.2022.%p

Abstract

Penggunaan plastik dan produksi sampah plastik di Jakarta setiap tahunnya terus meningkat, pengelolaannya yang tidak tepat menyebabkan kebocoran sampah plastik ke pesisir dan laut. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model aktor dalam pengelolaan sampah plastik laut di kawasan pesisir Jakarta dengan menggunakan metode MACTOR. Penelitian ini bersifat studi kasus dimana pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan, wawancara dan diskusi terfokus dengan ahli. Hasil penelitian menunjukkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah merupakan aktor yang memiliki pengaruh dan ketergantungan yang tinggi terhadap aktor lainnya. Peran aktor dalam pengelolaan sampah plastik di kawasan pesisir Jakarta dikelompokan bedasarkan tingkat pengaruh dan ketergantungan terhadap aktor lainnya. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah berada pada kuadran II dimana aktor tersebut mempunyai peran penting dalam pengelolaan sampah plastik laut di kawasan pesisir Jakarta karena memilik tingkat pengaruh yang tinggi terhadap aktor lainnya. Nelayan, masyarakat pesisir, transportasi laut dan wisatawan berada pada kuadran III dimana memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi dan pengaruh yang rendah terhadap aktor lainnya, sedangkan industri plastik berada pada kuadran I dimana memiliki pengaruh yang tinggi dan ketergantungan yang rendah. Tujuan yang paling didukung oleh semua aktor adalah menghilangkan dampak ekonomi akibat sampah plastik laut di kawasan pesisir Jakarta. Dalam mencapai tujuan tersebut, pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat pesisir dan nelayan memiliki tingkat konvergensi (kerjasama) paling tinggi dibandingkan dengan aktor lainnya, sedangkan tingkat divergensi (potensi konflik) ada pada transportasi laut. Dari hasil tersebut dapat memberikan rekomendasi kebijakan dengan meningkatkan peran antar aktor dalam pengelolaan sampah plastik laut di kawasan pesisir Jakarta.In Jakarta, plastic waste and its use increase yearly, boosting the probability of this material being released to the Jakarta bay and its surrounding sea as a lack of proper waste management. This research aims to formulate an actor model in marine plastic waste management in the coastal area of Jakarta using the MACTOR method. This research is a case study where data collection is carried out by field observations, interviews with resource persons, and Focused Discussions with experts. The results show that the central and local governments are in quadrant II where these actors have an essential role in marine plastic waste management in the coastal areas of Jakarta because they have a high level of influence on other actors. Fishermen, coastal communities, marine transportation, and tourists are in quadrant III, which has a high level of dependence and low influence on other actors, while the plastics industry is in quadrant I, which has a strong and low influence. The goal that all actors most likely support is the economic impact of marine plastic waste in the coastal areas of Jakarta. In achieving this goal, the central government, local governments, coastal communities, and fishermen have the highest level of convergence (cooperation) compared to other actors, while the level of divergence (potential conflict) is in sea transportation. From these results, it can provide policy recommendations by increasing actors' role in managing plastic waste in a coastal area of Jakarta.
KAJIAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA KEPITING BAKAU (SCYLLA SPP) DI INDONESIA Ariani Andayani; Ketut Sugama; Ibnu Rusdi; Estu Sri Luhur; Sulaeman Sulaeman; Rasidi Rasidi; Isti Koesharyani
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 14, No 2 (2022): (November) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.14.2.2022.41-52

Abstract

Nilai ekspor kepiting Indonesia turun drastis mulai tahun 2015, sedikit mengalami peningkatan di tahun 2019 namun masih jauh dibandingkan nilai ekspor tahun 2013 dan 2014. Komoditas kepiting Indonesia memiliki daya saing yang kuat di pasar ekspor ditunjukan dengan nilai RCA (Revealed Comparative Advantage) diatas satu. Data tahun 2019 menunjukkan Indonesia baru menyumbang 1,66% dari total nilai ekspor kepiting dunia. Volume produksi kepiting dari tahun 2015-2017 masih didominasi oleh tangkapan alam sekitar 75-85% sedangkan produksi dari budidaya hanya 15-25%. Dari produksi kepiting budidaya 15-25% tersebut benihnya masih bergantung dari alam. Produksi kepiting Indonesia masih bergantung pada hasil tangkapan alam, sementara pemanfaatan sumber daya kepiting terbatas. Tujuan kajian ini adalah untuk memberikan gambaran kondisi saat ini budidaya kepiting bakau dan merumuskan strategi pengembangan budidaya kepiting yang belum berkembang secara optimal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui study literatur, wawancara dan Focus Group Disscussion (FGD) yang dianalisis secara deskriptif. Permasalahan budidaya kepiting saat ini adalah benih sulit didapatkan pada bulan-bulan tertentu sehingga kegiatan budidaya terganggu. Mengingat pasar yang masih terbuka luas, namun hasil tangkapan mulai berkurang ditandai sulitnya memperoleh benih kepiting dari alam secara kontinyu, maka kegiatan budidaya dari pembenihan harus segera diwujudkan dan ditingkatkan produksinya. Kebutuhan benih untuk kegiatan budidaya sangat besar sehingga diperlukan banyak hatchery.The export value of Indonesian crabs fell drastically starting in 2015, with a slight increase in 2019 but still far from the export values of 2013 and 2014. Indonesian crab commodities have strong competitiveness in the export market as indicated by the RCA (Revealed Comparative Advantage) value above one. Data for 2019 showed Indonesia only contributed 1.66% of the total world crab export value. The volume of crab production from 2015-2017 is still dominated by natural catch, around 75-85%, while production from aquaculture is 15-25%. Of the production of cultivated crabs, 15-25% still depend on natural seeds. Indonesia's crab production still relies on natural catches, while the utilization of crab resources is limited. This study aims to provide an overview of the current condition of mud crab culture and formulate a strategy for developing crab culture that has not developed optimally. The method used in this research is through literature study, interviews and Focus Group Discussion (FGD), which were analyzed descriptively. The problem with crab cultivation today is that seeds are challenging to obtain in certain months, so cultivation activities are disrupted. The market is still wide open, but the catch is starting to decrease, marked by the difficulty of continuously obtaining crab seeds from nature. The cultivation activities from hatcheries must be realized, and production must increase. Seeds for cultivation activities are huge, so many hatcheries are needed.
PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN SUMBER DAYA GENETIK IKAN DI INDONESIA: IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG RI NOMOR 21 TAHUN 2019 Rusdianto Rusdianto; Haryono Haryono; Totong Totong; Jumadi Jumadi; Nur Hayati
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 14, No 2 (2022): (November) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.14.2.2022.1-13

Abstract

Pemerintah telah mengesahkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 yang mengatur tentang karantina hewan, ikan dan Tumbuhan. UU ini merupakan penyempurnaan dari peraturan sebelumnya yang dinilai sudah tidak relevan dengan kondisi terkini terutama terkait penerapan bioteknologi modern yang telah banyak diaplikasikan di bidang perikanan. Salah satu bab penting yang menjadi bagian dalam penyempurnaan UU ini adalah Bab 5 yang membahas tentang pengawasan dan pengendalian produk rekayasa genetik, sumber daya genetik, agensia hayati, jenis asing invasif, tumbuhan dan satwa liar, serta tumbuhan dan satwa langka. Bab 5 dirasa penting dan perlu dikaji lebih mendalam khususnya tentang sumber daya genetika ikan agar petugas di lapangan mampu melaksanakan tugas pengawasan sesui dengan kaidah keilmuwan dan batasan-batasan yang diamanatkan dalam UU No. 21 Tahun 2019. Oleh karena itu di dalam tulisan ini akan diuraikan tentang konsep dan batasan sumberdaya genetik ikan; materi genetik dan konsep keragaman genetik, potensi masalah yang ada.The government has passed Law No. 21 of 2019 which regulates animal, fish and plant quarantine. This law is a refinement of the previous regulation which was deemed irrelevant to current conditions, especially regarding the application of modern biotechnology which has been widely applied in the fisheries sector. One of the important chapters that is part of the improvement of this Law is Chapter 5 which discusses the supervision and control of genetically engineered products, genetic resources, biological agents, invasive alien species, wild plants and animals, and rare plants and animals. Chapter 5 is considered important and needs to be studied more deeply, especially regarding fish genetic resources so that officers in the field are able to carry out their supervisory duties in accordance with the scientific principles and limits mandated in Law no. 21 of 2019. Therefore, in this paper, the concepts and limitations of fish genetic resources and diverisity, genetic material, potential problems that exist are described.
PERSEPSI DAN ADAPTASI PETANI PERIKANAN AIR TAWAR TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DI KECAMATAN PADANG JAYA KABUPATEN BENGKULU UTARA Nyayu Neti Arianti; Rizky Mutiara Bintang; Gita Mulyasari
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 14, No 2 (2022): (November) 2022
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.14.2.2022.%p

Abstract

Kerentanan perikanan air tawar terhadap perubahan iklim menjadi salah satu penyebab menurunnya produktivitas usaha. Intensitas curah hujan yang semakin menurun, musim kemarau yang lebih panjang, dan kekeringan menjadikan ketersediaan air yang diperlukan dalam budidaya ikan air tawar semakin sulit. Tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis persepsi dan adaptasi yang dilakukan petani perikanan air tawar terhadap dampak perubahan iklim. Penelitian ini melibatkan 57 responden yang dipilih dengan simple random sampling dan pengambilan data dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2020. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar petani merasakan dampak buruk perubahan iklim terhadap usaha perikanan air tawar. Petani membersihkan irigasi secara rutin, mengganti varietas yang lebih tahan pada kondisi musim panas dan menyesuaikan waktu tebar benih dengan kondisi iklim sebagai pilihan adaptasi yang dilakukan. Hasil model logit menunjukkan bahwa umur dan lama berusahatani memengaruhi keputusan petani untuk melakukan adaptasi perubahan iklim dalam usaha perikanan air tawar.The vulnerability of freshwater fisheries to climate change is one of the causes of declining productivity. The decreasing rainfall intensity, the long dry season, and the drought make the scarcity of water that extremely neededby fishers. This study aims to analyze perceptions and adaptation of freshwater fishery to climate change. A random survey through interviewing 57 farmers was conducted in Padang Jaya District, Bengkulu Province, from May to July 2020. Perceptions were analyzed using an ordinal scale and descriptive analysis while impact factors were analyzed using logit regression. The results showed that most farmers felt the adverse impact of climate change. Farmers clean irrigation regularly, replace varieties of crops that are more resistant to dry season conditions, and adjusting seedling season as an adaptation options. The logit model results showed that age and experience affect farmers’ decision to adapt to climate change in freshwater fisheries.